Horeee Dapat Sertifikat PADI
Guys, what makes you here? Why you interested for diving?
“Saya pernah ke Nusa Dua, Trawangan, Meno, Air dan Kepulauan Seribu namun hanya mencicipi permukaan airnya. Snorkeling aja dan ngiri liat orang nenteng-nenteng tabung selam”, jawab saya ke Benneth Shane.
Ya, itulah pertanyaan pertama pak Shane Benneth, seorang dive master PADI (Professional Association of Diving Instructor) saat hari pertama kami di kelas. Sebenarnya ada tujuan lain kenapa akhirnya mengambil sertifikasi Open Water Course. Saya belum mau ke luar negeri sebelum menyelam ke Raja Ampat.
Susah amat mau ke luar negeri harus ada syaratnya? Hahaha.. biarin, meski kebanyakan se-usia saya udah banyak yang ngurus paspor demi backpackeran ke negeri sebelah, saya belum tertarik punya paspor.
Kursus selam Open Water ini relatif singkat. Butuh waktu empat kali pertemuan. Butuh dua weekend, hari sabtu dan minggu. Kelas hanya dibatasi enam murid, pertemuan pertama tes renang 200 meter dan mengapung selama 10 menit. Selanjutnya teori kelas kemudian menggunakan alat selam ke kolam renang.
Besoknya di pertemuan kedua langsung nyemplung ke laut. Kami sudah mahir melepas dan memasang BCD, regulator, weight belt dan tabung selam. Tujuan pertama kali kami ada di South Marker. Kira-kira naik boat selama 45 menit dari Aquatic, Sangatta.
Minggu depannya di pertemuan ketiga adalah ujian teori dengan 50 soal. Jika sampai salah 15 berarti ada ujian ulangan. Nilai saya tertinggi di kelas, yakni salah empat saja. Hehehe.. engineer kok di tantang ujian hitungan!
Pertemuan keempat di hari Minggu kami menyelam di Bengalon Reef, inilah pengalaman selam yang sangat menakjubkan. Kami dibawa oleh Pak Shane menyelam di kedalaman 16 meter. Saya serasa masuk akuarium mahal dengan berbagai flora fauna bawah laut berwarna warni. Saya tidak terlalu hapal dengan jenis ikan, yang saya hafal hanya ikan nemo! Hehe..
Meski tinggal di pedalaman Kaltim, kesempatan untuk menyalurkan hobby masih keturutan. Di tempat saya sekarang, ada club yang menaungi hobby para penyelam. TBDC, yaitu Tanjung Bara Dive Club, komunitas yang berdiri sejak tahun 2000-an.
Terus kapan saya ke Raja Ampat? Suatu saat saya akan memosting perjalanan keliling ke Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo ke blog ini.
Berburu suku Dayak di Borneo
- Wajah khas Dayak, berkulit putih dan bersih turunan dari bangsa Mongol
Bermodal tas backpack, peta Samarinda, kamera digital, dan tentunya modal duit irit. Siapa sangka akhirnya saya bisa juga bertemu dengan suku Dayak asli di pedalaman Kaltim! Sekali lagi perjalanan backpacker saya ini ‘on the show’. Nggak perlu bertele-tele mikir nanti disana naik apa, tersesat atau pikiran bodoh kepelet orang dayak! Hehehe..
Kebetulan saya ini orangnya suka cuek. Tiap ada orang yang duduk di sebelah saya di tempat umum atau dimana saja, saya selalu punya inisiatif untuk berkenalan dulu. Entah basa-basi kata-kata atau ngobrol ngalor-ngidul seputaran berita lokal terkini. Dan, inisiatif saya untuk berkenalan ini berbuah manis. Hari ini saya dapat kenalan seorang security yang akhirnya dia meminjamkan motornya ke saya untuk menuju ke desa Dayak di Pampang ini. Hiyaa..!!
Berangkat dari Samarinda, letak desa Pampang ini sekitar 25 kilometer dari pusat kota. Ikuti saja jalan ke arah Bontang. Desa Pampang ini memang tempat yang dikhususkan untuk daerah wisata adat budaya Dayak. Setiap hari Minggu jam 14.00 rutin diadakan pentas tari Dayak. Penari ini lengkap menggunakan atribut adat Dayak. Dari anak kecil hingga generasi nenek-neneknya tampil all out.
Pampang diisi suku Dayak Kenyah. Cirinya gampang dibedakan dengan suku Dayak lain. Mereka mentato di sepanjang kaki dan tangannya dengan mengeblok kulitnya. Tatonya alami dari getah tumbuhan dan diukir mirip batik jawa. Semua suku Dayak perempuan membiarkan telinganya panjang molor karena beban giwang yang berat.
Andhit, teman saya yang asli suku Dayak bilang bahwa ada sebabnya mereka memanjangkan daun telinganya.
”Dulu bagi kami telinga panjang adalah kecantikan yang harus dimiliki setiap perempuan. Nggak manjangin telinga itu mirip monyet!”, katanya.
Mau nggak mau doktrin ini harus diikuti. Ibarat zaman sekarang doktrin cewek putih itu identik cantik. Padahal menurut saya itu hanya doktrin iklan teve! Goblok banget dah kalo bilang Indah Kalalo itu jelek. Wahai kaum adam berkulit eksotis, jangan buru-buru nanggapin iklan bodoh itu ya.
Selain tarian di desa ini saya disuguhkan cinderamata asli Dayak yang dijual. Ukiran taring hiu, bulu landak, bulu burung Merak, sarang semut, mandau, gantungan kunci kuku beruang hingga kalung batuan asli seharga 3 juta tersedia disini! Glek!
Saya beli kalung bersiung babi hutan. Siung babi hutan ini berdiameter 30 senti-an. Saya dapat harga murah, 30 ribu, padahal di stan sebelah harganya 50 ribu. Ya.. saya tergolong ngeyel-an kalau masalah tawar menawar. Itu tipsnya kalau anda jadi seorang backpacker. Tawar dulu habis-habisan dan tanya harga sebelum membeli.
Pernah suatu ketika saya melakukan perjalanan menggunakan KA eksekutif Jakarta-Surabaya. Ternyata saat itu juga tunjangan makan KA eksekutif di hapus. Tak pelak saya menahan lapar selama 10 jam. Untungnya jam 5 pagi ada ibu penjual pecel masuk di kereta.
Lauknya hanya telor dan sedikit rempeyek. Nasinya dibungkus seadanya dengan daun pisang. Saat tanya harus bayar berapa, ternyata harganya sama saja satu porsi Steak Tenderloin di foodcourt mal. Sigh!
Nah, ngomongin suku Dayak ada temen saya Aris yang punya cerita seru. Dia ini seorang keturunan Jawa tapi lahir di Kalimantan. Kerjanya adalah surveyor topografi logging. Dulu, awal tahun 2000-an Kalimantan terkenal dengan logging kayu Ulin. Harga kayu ini sangatlah mahal. Umur pohonnya sampai bertahan ratusan tahun. Biasanya, orang Kalimantan memakai kayu Ulin ini sebagai bahan dasar rumah panggungnya. Bayangkan, rumah yang terbuat dari kayu Ulin bisa bertahan hingga tiga generasi loh!
Pekerjaan Aris ini menyurvei letak-letak pohon Ulin di hutan pedalaman Berau, Kalimantan Timur. Rombongan survei yang dia bawa ada sekitar 8-orangan. Pekerjaannya bisa dikatakan pasukan terdepan sebelum logging di lakukan. Jadi mereka ini camping hingga satu bulan lamanya. Dan barang yang mereka bawa adalah kebutuhan pokok seperti, beras, mie, rokok, minyak dan makanan kaleng.
Suatu ketika tiba-tiba rombongan Aris di datangi oleh 3 orang wanita dan 2 orang laki-laki dengan dandanan serba primitif. Rambut gondrong, gigi tak beraturan, kulit lusuh, baju seadanya dan ada semacam benjolan ekor di belakang bagian tubuhnya. Senjatanya parang semacam Mandau. Mereka ini tak bisa bahasa Indonesia. Uniknya, mereka membawa segepok pisang dan ubi-ubian.
Dengan memakai bahasa tubuh orang primitif ini seolah-olah meminta barter barang yang mereka bawa dengan rokok dan beras. Alhasilah Aris dan rombongannya gemetar disko. Mereka tak menghiraukan barang mereka diambil atau nggak, yang penting dalam hati Aris ”Jangan makan kami, Kanibal!”
Setelah didekati lima orang suku primitif ini persuasif juga. Ternyata, ransum (bekal makanan) yang selama ini hilang dari rombongan selama ini ditukar oleh mereka. Kata Aris selama tiga hari berturut-turut bekal mereka selalu hilang dan anehnya di sekitar bekal yang hilang selalu ada pisang dan ubi.
Usut punya usut suku primitif yang mendatangi Aris ini adalah salah satu jenis suku Dayak di Kalimantan yang bernama Dayak Punan. Cirinya, orang-orang ini pandai memanjat dan melompat mirip tarzan, dibelakang bagian pantatnya ada semacam ekor kecil.
Kapan ya saya bisa ketemu Dayak Punan ini? Pasti sekarang suku ini juga sudah kenal dengan uang. Karena, pada saat mendatangi Lamin Bioq Pemung Tawai Pampang di Kaltim kemarin saya harus merogoh kocek 20 ribu per jepretan. Totalnya saya mengambil 20 jepretan! Sekali lagi, saya seorang backpacker harus pinter ngeyel masalah harga, jadi saya nggak sampai bayar 400 ribu. Seru kan?!
Belilah Tanah di Kalimantan Tunggulah Jadi Kaya Mendadak
Februari ini bukan Samarinda tujuan kota saya sebenarnya. Saya tidak ada bekal info apapun sebelum keberangkatan dari Jakarta. Biasanya sebelum bepergian di kota yang belum saya kunjungi, minimal sudah pegang peta dan info daerah wisatanya. Saya pun juga tidak tahu kalau sungai Mahakam ternyata ada di kota ini. Berangkat ke Samarinda dengan pengetahuan jelajah nol besar!
Pertama ini juga saya menginjakan di ranah borneo. Yang saya tahu kota Samarinda masih pedalaman dan masih terpelosok. Bayangannya banyak hewan iseng liar dan masih hutan tropis lebat. Tapi, ternyata kota ini jauh maju dari sugesti saya.
Kali ini saya akan menetap selama dua bulan untuk urusan kerja, setidaknya ada waktu saat weekend untuk mengeksplore borneo timur. Pertama saya akan menceritakan situasi ibukota Kaltim.
Berjajar mobil jenis Pajero dan Ford Ranger berseliweran di lalu lintas. Mobil jenis pickup mendominasi daripada jenis sedan. Mobil terkesan ekslusif kalau melintas di jalanan Jakarta. Tapi, di Samarinda mobil ber-cc dua ribuaan ini sudah mirip populasi Metromini di Jakarta. Alasannya memang banyak open pit tambang batubara dimana mobilisasi site di tambang menggunakan jenis semi truk ini.
Kedua, jalan utamanya mudah diingat. Tipikal jalan banyak yang mengikuti aliran sepanjang sungai. Samarinda dibelah oleh sungai terlebar se-Indonesia, namanya Sungai Mahakam. Lebar Sungai ini hampir 1 kiloan meter! Di sana berjejer puluhan kapal pontoon pengangkut Batubara yang mengantri untuk lewat. Pemandangan tak lazim yang baru saya temui.
Ketiga, cuaca disini panas! Siang hari suhu bisa mencapai 40 derajat celsius! Surabaya yang saya pikir kota terpanas, ternyata lewat. Sinar mataharinya menyengat. Jam lima sore panas sinarnya masih kerasa clekit di kulit.
Nah, ada yang unik di kota ini, salah satunya banyak pendatang dari pulau Jawa. Saya bertemu dengan Akmal salah satu penduduk asli Samarinda. Dia ini tinggal di kampung pendatang, bahasa Sundanya fasih banget. Logat sunda halusnya ngecring di telinga saya. Anehnya di tidak pernah ke tanah Sunda di Jawa Barat.
”Orang tua saya transmigran dari Sunda. Kampung ini kami namai Siliwangi. Karena hampir semua warga kami pendatang dari suku Sunda. Nah, percakapan kami sehari-hari memakai bahasa Sunda,” kata Akmal.
Ada juga namanya kampung Madiun. Bisa ditebak kalo warga kampung ini adalah para pendatang dari suku Jawa Timur. Generasi ketiga mereka mirip apa yang dialami Akmal. Bisa menggunakan bahasa Jawa, tapi belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Jawa.
Dan, untuk biaya hidup di Samarinda mahal sekali. Sekali makan, bisa hampir lima puluh persen dari harga makan di Jakarta! Apalagi air mineral. Satu galon air mineral harganya 150 % harga dari Jakarta! Sigh!
Tahu kenapa? Banyak orang kaya mendadak di kota ini. Tanah kosong hutan di Samarinda telah menghasilkan uang kaget para pemilik tanah itu. Mereka mematok-matok tanah hutan di Samarinda jauh hari sebelum batubara di temukan di tanahnya. Ada yang menjual satu patok tanahnya ke perusahaan batubara dengan harga 1 Milyar! Nah, kalau yang di patok ada 10 bidang tanah, berarti udah 10 Milyar di kantong!
Pantesan ada yang saya lihat beberapa orang memarkir mobil super mewah di depan rumahnya. Mobil bermerk Hummer kepanasan di luar pagar rumah. Sedang mobil VW Combie-nya masuk garasi. Ouh wtf!!
13:1
Perlu satu jam untuk melakukan perjalanan dari mess tinggal ke jobsite. Satu jam penyiksaan yang membawa segerombolan tukang tambang di daerah Samarinda pinggiran. Awal awal inilah rotasi pola hidup jadi berubah. Yang biasa bangun jam 6 pagi waktu Jakarta, sekarang saya harus bangun jam 4 pagi waktu Samarinda, artinya rutinitas saya sekarang mulai jam 03.00 waktu Jakarta.
Seru! Dan menantang! Yang saya hadapi sekarang bukan urusan hitungan finite element metode dengan matriks 16 x 16 lagi. Tapi, rooster kerja 13: 1 dengan intensitas total kerja selama 14 jam sehari! Wow! Belum harus berhadapan dengan ilmu tambang, geologi, survey dan produksi. Selama dua bulan ini saya harus mencapai target dengan pembelajaran di semua departemen. Mulai departemen HR (Human Resource), SHE (Safety, Health and Enviromental), Production, Plant dan Engineering.
Ada satu hal yang membuat saya tertantang jadi insinyur tambang ini. Cowok banget! Pakaian lengan panjang khas tambang, celana jeans, rompi orange, helm dan kacamata safety. Pernah lihat iklan teve celana jeans Levi’s di tahun 2000-an awal? Itulah yang saya rasakan.
Setidaknya saya akan berada selama dua bulan di Samarinda ini. Selanjutnya saya akan melanjutkan petualangan di Pulau Sebuku, Kalimantan Selatan. Letak pulau ini berada di paling bawah Pulau Kalimantan, yang harus melewati dua selat!
Dan, inilah pertama kali saya merayakan ulang tahun saya di hutan pinggiran kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
I Love Traveller
Salah Cuaca ke Pulau Seribu
Hahaha… judul ini benar-benar bakal saya inget dan nggak bakal kelupa. Hari Kamis, kemarin baru saja melancong ke Pulau Pramuka, salah satu gugusan kepulauan Seribu. Saya berangkat dari UI Depok pukul 05.00.
Memang rencana ini udah lama, gara-gara udah nggak tahan liburan akhirnya saya berangkat modal file dari unduhan di internet. Modalnya nggak banyak kok, bisa 200 ribuan.
Dari Margonda ke Kampung Rambutan saya naek angkot biru 112, lanjut bus Mayasari P6 warna hijau ke Grogol kemudian saya turun di Grogol dan lanjut angkot B10 warna merah ke Muara Angke. Totalnya 10 ribuan, pas nyampe di tempat pelelangan ikan Angke pukul 06.45.
Selanjutnya yang saya pilih adalah kapal nelayan ke Arah Pulau Pramuka, bayarnya Rp 30 ribu. Kalo pengin seru ambil tempat duduk di luar aja, sekalian berjemur matahari pagi plus sahutan pemandangan biru dan hijaunya pulau-pulau kecil.
Jauh meninggalkan Angke yang saya liat jejeran gedung-gedung Jakarta menyeruakan polusi kelam dan cerobong asap putih. Semakin jauh semakin hilang menyamar.
Dan setelah melewati Pulau Untung Jawa, ombak di laut terasa kencang. Kata nelayannya ini angin Utara, angin yang biasa bertiup bulan Januari dan Februari. Efeknya jangan tanya, mirip wahana kora-kora di Dufan. Rasanya, isi perut di kocok atas bawah terus di lilit tali kemudian di lempar mirip gangsing. Plus dapat cipratan ombaknya. Teles kabeh..
Ini sense nelayan yang di koarkan ke penumpang, baiknya balik lagi ke Pulau Untung Jawa menunggu angin reda. Dan, terpaksa saya menunggu kapal ini dilanjut lagi, padahal 1.5 jam lagi sampe tujuan.
Alhasil, total saya menunggu kapal ini berangkat lagi selama 6 jaman. Wtf…gagal rundown acara yang saya buat. Akhirnya saya gigit jari, 8 jam hilang sia-sia buat snorkeling. Hari pertama saya hanya keliling Pulau Pramuka. Dan malamnya? Saya cukup tidur pulas saja di penginapan seharga 200 ribu/malam karena diluar hujan deras.
Esoknya, ga jauh beda. Awan mendung dengan sedikit hujan. Saya berangkat ke Pulau Karya untuk snorkeling, modal duit Rp 35 ribu satu set alat selama satu hari. Dan, kacau lagi-lagi, arus ternyata kencang juga. Hah.. salah saya datang ke sini bulan ini.
Pengennya stay satu malam lagi disini, dan karena saya mengira di Pulau Pramuka ada ATM dan ternyata tidak ada, mau nggak mau saya harus cabs dari Pramuka. Pelajaran berharga, kalau anda mau ke Pulau ini, bawa duit cash dan lebihin. Sekali anda kekurangan duit, anda tidak bisa mengandalkan ‘kartu duit’.
Saya cabut naek kapal jam 13.00 ke Angke. Meski gagal full snorkeling banyak hal menarik yang saya jumpai selama perjalanan dan di Pramuka. Penginnya bulan April saya comeback ke sana. Tapi, tandeman teman di Pramuka ngajakin ke Bunaken. Haha… oke dude, I will waiting you at Manado…
Ini perincian biaya perjalanan saya kemarin:
1. Margonda – Kampung Rambutan, angkot biru 112 : Rp3.000
2. Kp.Rambutan – Grogol, Bus Mayasari Hijau P6 : Rp 2.500
3. Grogol – Muara Angke, angkot Merah B10 : Rp 3.000
4. Muara Angke – P. Pramuka, ojeg nelayan : Rp 30.000
5. Penginapan Rp200.000/4 orang: Rp 50.000
6. Makan 4 x Rp 7.000 : Rp 21.000
7. Ojeg Kapal ke P. Karya buat snorkleing PP : Rp 6.000
8. Sewa Alat Snorkeling/hari : Rp 35.000
9. Pulang ke Jakarta, P.Pramuka – Angke : Rp 30.000
10. Balik ke Depok (Kebalikan no 1-3): Rp 8.500
11. Biaya Snack+minuman dari Jakarta : 50.000
Total: Rp 239.000
It’s Over Man!
Finnaly, I finished my study. Recent 2.5 years I always stand up to my faith that this time will come to me. Hah.. Balairung UI “the shines boys” will coming. Thanks thanks thanks God Allah SWT, to keep my confidence and shows the straight right to me. I was reject offering from two big companies, for the reason I still finish my study!
And this is the show time, packing-unpacking again. Surely, i like these activities. Almost for 4 years I live at Jakarta, and now the other city wait my arrival. Yes positive I will take off from Jakarta.
The linked of my journey will be adding for my stories. ..
Sampai Jumpa Bromo (9-habis)
Pukul 09.15 kami beranjak dari Gunung Bromo. Kami melanjutkan perjalanan ke Air terjun Madakaripura. Sebelumnya kami mencari sarapan pagi di sekitar kampung warga tengger.
Saya perhatikan rata-rata semua rumah warga tengger selalu berdinding kaca. Bisa saja karena di tempat ini dingin dan membutuhkan cahaya matahari supaya hangat.
Kami meninggalkan bromo dengan terpuaskan sarapan pecel. Saya puas dengan perjalanan kali ini. Semua kenangan telah saya simpan di memori kamera. Kuda – matahari – pasir adalah benang merah dari perjalanan Bromo. Amazing!
Lautan Pasir (8)
Lautan Pasir Bromo – 16 Agustus 2009

Di lokasi ini kawan harus turun dengan kendaraan, tidak mungkin jalan kaki dari Penanjakan tadi. Lumayan Jauh. Rame sekali tempat ini, mungkin gara-gara liburan panjang tempat wisata ini penuh dengan orang.
Tepat jam 07.22 kami sampai di lokasi. Ini adalah lokasi ke dua setelah puncak Penanjakan untuk melihat Sunrise. Bedanya, kami harus berjalan jauh, melewati pasir dan menaiki ratusan anak tangga. Capek memang. Tapi, cukup terbayarkan dengan keindahan pemandangan sekitar.
Kami sebenarnya memutuskan untuk naik kuda.
”Pak, pinten naik kudanya. Kita berlima pak”, tanya saya ke tukang penarik Kuda
”Sampun, seratus mawon mas. Ini murah kok”, balas bapak.
”Kok mahal pak, 75 ribu saget mboten?”, tawar saya.
”Sampun, ngene ae, sampean tambahi 15 ribu. Gimana?”, kilah bapak yang sedang memegang kuda poninya ini.
”Pun, pak kalo mboten purun nggih mboten nopo-nopo. Kami jalan aja pak”, jawab saya.
Karena, menurut kami mahal dan lebih asyik berjalan kami memutuskan untuk berjalan menuju kawah puncak.
Benar saja kawan, ternyata kalau jalan kita lebih bebas untuk memilih rute. Lautan pasir ini tingginya semata kaki orang dewasa. Padahal, kata ibu saya ketika tahun 90-an ke sini, tinggi pasirnya hingga separuh dengkul. Jalannya susah, makanya wisatawan dulu semua naik kuda.
Setelah melewati lautan pasir kita akhirnya berhadapan dengan anak tangga yang lumayan tinggi. Konon setiap wisatawan yang datang kesini, selalu tidak bisa menghitung tepat jumlah anak tangganya.
Setelah saya buktikan dengan teman saya, saya menghitungnya dengan tepat 230 anak tangga. Tapi, teman saya ada bilang 249. Haha… mungkin mitos itu benar. Lha wong, naik aja susah apalagi di sambi menghitung.
Setelah puas di puncak kami berfoto. Mengabadikan gambar untuk dibawa oleh-oleh. Akhirnya, kami turun lagi. Kalau kawan kesini, jangan lupa bawa masker penutup hidung. Pasalnya, banyak debu yang akan kita hirup bersama bau kotoran kuda dimana-mana.
Sunrise (7)
Bromo, 16 Agustus 2009
Sekitar 04.45 langit kuning sudah menyapa saya. Meski matahari masih enggan terbit, sudah terlihat samar-samar digdayanya kuasa Tuhan. Wisatawan sudah sibuk dengan posisi berdiri dan terdepan. Ada yang membawa SLR dengan lensa tele, ada juga yang dengan kamera handphone sekedarnya.
Saya bermodal Nikon D-70 untuk menjepret gugusan awan terpantul sinar matahari. Tepat, pukul 05.30 matahari sudah muncul dari balik awan. Indah sekali! Tak ada yang bisa membandingkan keindahan alam tepat dengan terbitnya Matahari di gunung Bromo.
Gunung Batok di sebelah timur saya terlihat jelas bentuk guratan lekukan pasirnya. Kaldera berasap putih seakan menyombongkan dirinya. Angkuh tapi menawan. Inilah mahakarya tinggi yang dinanti setiap wisatawan yang berkunjung ke Bromo.
Awan berwarna oranye seakan tak kalah pamer. Gumbulan combulus nimbus di satroni sinar mentari seolah berujar, ”Lihatlah aku. Mati rasa instingmu melihat aku”.
Saya menjempret tiap detik metamorfosa matahari kecil ini. Hingga muncul bulat sempurna matahari itu. Oh ya kawan, saya juga mengambil gambar bersama keempat teman saya. Di salah satu bagian tempat ini, terpasang bendera merah putih. Seonggak bambu dibaluti bendera matahari dengan background gunung batok. Saat dilihat hasilnya di kamera mirip lukisan tangan.
Sempurna!
Sekitar empatpuluh menit kami mengambil objek untuk difoto. Hingga akhirnya kami sepakat untuk turun ke lautan pasir yang ada di bawah. Kami tidak jalan kaki, namun kembali ke mobil awal yang membawa kami ke tempat ini.
Berangkat ke Bromo (6)
Mobil Colt, Malang – Probolinggo, 16 Agustus 2009

Ini kedua kali saya ke Bromo, lima tahun yang lalu saya berangkat dari Surabaya. Kali ini berangkat dari Malang. Saya pikir, jalanan ke Bromo akan penuh macet. Ternyata, tidak sama sekali.
Mobil yang kami tumpangi selama 2,5 jam berjalan sendiri. Rute yang kami lewati adalah Malang – Lawang – Pasuruan dan Probolinggo. Lepas dari Lawang dan masuk ke kawasan pasuruan dengan track jalan menanjak, saya melihat sepi amboy jalan ini. Tidak ada lampu penerangan jalan. Sisi kanan kiri ladang dan sepi rumah penduduk.
Saya khawatir saja, saat sopirnya separuh mengantuk. Terhitung tiga kali, mobil yang kami naiki oleng. Yang pertama, ketika ada belokan tajam ke kanan, si sopir melahap jalan ke kiri terlalu banyak. Yang kedua, ketika ada mobil parkir di depan hampir saja di seruduk. Terakhir, lubang jalan berdiameter satu meter di gas aja. Spontan teman-teman di belakang pada bangun.
Saya intip lewat jendela setelah perjalanan satu jam lebih, di setiap tikungan tajam selalu terdapat arca beselendang kuning. Sepertinya, ini patung milik umat Hindu. Phuff, dingin juga ketika saya coba buka jendela samping.
Setelah masuk kawasan Bromo, tepatnya di pertigaan jalan yang menghubungkan dari Surabaya dan Malang, sudah terlihat rame mobil. Kebanyakan adalah mobil jeep hard top. Berarti udah hampir sampai ini.
Kalau kawan ke Bromo, persiapkan dahulu barang wajib yang di bawa. Jaket hangat, celana panjang, sepatu kets, syal, sarung tangan, dan topi. Kalau bisa bawa sebelum berangkat. Jika terpaksa, banyak warga sekitar yang menjual perlengkapan hangat itu. Harganya standar kok. Ada juga yang tidak menjual. Kawan cukup sewa di warga setempat.
Masuk di Bromo, saya membayar lima tiket di pos penjagaan totalnya kurang dari 30 ribu rupiah. Nah, di jalur Penanjakan inilah suasana di sudah mulai rame. Kami sampai di pos penjagaan kira-kira pukul 04.15.
Setelah lewat pos penjagaan kami mengantre masuk bersama mobil-mobil wisata lain. Kebanyakan jeep hard top, hanya sedikit terlihat mobil pribadi. Mungkin, lebih baik parkir di bawah dan sewa hardtop daripada resiko mobil tidak bisa naik dengan track yang naik.
Oke, mobil kami di parkir. Kemudian kami turun. Chezzz… Dingin banget ternyata di luar. Mungkin suhunya sepuluh derajat celsius. Kami naik ke tempat yang disediakan untuk melihat sunrise. Kira-kira 15 menit dari tempat berjalan dari parkir.
Setelah sampai di puncak, ternyata sudah rame dan penuh dengan orang-orang yang datang sebelum kami. Jumlahnya ratusan umumnya bule. Mereka semua sigap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan matahari terbit. Oya kawan, jangan lupa membawa senter untuk mencari tempat duduk di puncak. Karena disini tidak ada penerangan.














