Solusi Dua Negara vs Perampokan Rumah

Hari itu Lestina kedatangan tamu. Kawan lama, Sriwil namanya. Seseorang yang pernah hampir menoreh luka di keluarga buyutnya. Sebagai manusia, Lestina mempersilakan masuk Sriwil. Mereka bercakap dengan penuh antisipasi.

“Apa yang akan dia minta?” pikir Lestina.  

“Apakah dia akan menerima pintaku?” Sriwil sedang mengatur strategi.

Lalu dia pun berdiplomasi, mengungkapkan maksud asli kedatangannya. “Aku sedang butuh tempat tinggal. Aku ditolak dimana-mana. Kau satu-satunya yang masih memanusiakan manusia. Tolong terimalah aku. Aku berjanji tidak akan melangkahi hakmu.”

“Tentu saja kau ditolak! Kau tuh suka berbohong, ingkar janji, berbuat kerusuhan!” gumam nafsu amarah Lestina.

Namun, sebagai manusia yang penuh empati, Lestina tak bisa menolak.

“Baiklah. Kamu boleh tinggal di kamar tamu. Kamar tersebut terletak di depan, sebelah ruang tamu ini. Ada toilet, bath tub, mini kitchen, dan teras kecil di dalamnya. Namun untuk tinggal di sini, kamu harus mengikuti peraturan rumah ini.” tukas Lestina tegas.

“Terima kasih, Lestina! Aku tahu kamu pasti bisa kuandalkan! Sekarang aku akan jemput keluargaku!” Sriwil begitu girang dan lega.

Beberapa hari berlalu dengan tenang. Hingga suatu hari di tengah malam, Sriwil, suami, dan ketiga anaknya mengendap-ngendap keluar kamar. Mereka berniat merebut rumah Lestina.

Di kamar, Lestina sedang tertidur bersama 3 anak perempuannya. Suaminya sedang tidur terpisah di kamar lain menemani 2 anak gantengnya.  

Sriwil membagi tugas. Suami dan 2 anak lelakinya diberi perintah untuk membunuh suami dan 1 anak laki-laki Lestina. Sriwil bersiap mendobrak pintu kamar Lestina.

1..2..3!

“Brak! Brak!”

“Dor!”

“Dor!”

Lestina dan kedua putrinya seketika terbangun. Adam, anak laki-laki Lestina, berlari menghampiri ibunya. Bersimbah darah, Adam menangis kencang. “Mamaaa mereka menembak Papaaa dan Alfa!!” Adam histeris.

Lampu tahu-tahu terasa benderang.

Dua adik perempuan Adam ikut menangis meraung. Antara takut dan terkejut. Belum habis kepanikan yang dirasa, Sriwil dengan ketus berkata, “Serahkan rumah ini padaku!”

 “Ini rumahku. Bukankah kamu adalah tamu? Yang harusnya mematuhi peraturanku?”

‘Dor!” tanpa ba bi bu, Sriwil menembak Amma.

“Apa yang kamu lakukan??!!” teriak Lestina.

“Sekarang ini rumahku. Kamu boleh pergi pergi dari sini. Atau kamu akan kubuat sengsara!” ancam Sriwil.

Lalu Adam ditarik dan dimasukkan ke kamar tengah. Begitu pula Azka, dipisahkan dari ibunya dan dikurung di kamar paling belakang. Lestina dikunci sendirian di kamarnya. Masih termangu. Freeze mode.

Tetangga kanan dan kiri mendengar kegaduhan di rumah Lestina. Mereka datang mengetuk. Pak Sableng, petinggi kampung, memimpin rombongan.

“Selamat Malam!” teriak Pak Sableng.

“Haloo, selamat malam!” jawab suami Sriwil dengan nada biasa.

“Saya mendengar ribut-ribut di sini. Ada apa ya?” tanya Pak Sugeng.

“Saya seperti mendengar suara tembakan!” gegas Bu Ani.

“Oh, bukan apa-apa. Hal biasa itu..”

“Lho, Bu Lestina dan suaminya mana?” Pak Sugeng mencari keberadaan pemilik rumah.

“Oh, ini sekarang rumah kami, Pak. Pak Totok sudah kami urus. Begitu pula Alfa dan Amma. Sekarang Bu Lestina, Adam, dan Azka sudah kami amankan di rumah ini.”

“Hooooo begitu. Ya sudah. Diatur saja ya. Pokoknya rumahnya dibagi. Buat ditinggali berdua. Harus cukup. Ga boleh bertengkar.” Komentar Pak Sugeng.

Menurutmu, apakah Pak Sugeng orang waras?

Apakah kamu merasa gagal produktif ketika menstruasi?

Aku sih iya, dulunya.

Mood swing semasa menstruasi + depresi ini sukses membuatku merasa gagal produktif. Pekerjaan rumah terbengkalai. Anak-anak kurang diajak bermain dan eksplorasi. Makanan terhidang seadanya. Mudah tersinggung dan marah. Belum lagi keluhan fisik seperti lemas dan sakit yang berujung rebahan. Periode PMS yang kuartikan sebagai Pre, Pas, dan Post Menstruasi karena terasa tak kunjung berakhir.

Pesan penting Teteh Psikolog adalah berusaha mengenali dan menerima kondisi diri. Tak lagi mengutuk dan mengkritik diri sendiri.

Eh, bener lho, setelah itu jadi lebih mudah menemukan solusi, misalnya:
karena sakit, masak pun jadi ga fokus. Jadi, pesan katering dulu beberapa hari.

Karena gampang marah, berusaha memenuhi kebutuhan dasar fisik diri sendiri, seperti mandi, makan, dan tidur.

Karena lemas, ga bisa setiap saat menemani anak. Jadi, siapkan permainan mandiri.

Karena mood kacau, jadi pilih kerjaan yg dirasa menyenangkan

Akhirnya aku menemukan bahwa periode menstruasi adalah saat yang tepat untuk menekuni hobi walau hanya di sekitar kasur, seperti:

  • Menonton video yang tertunda
  • Menuntaskan membaca buku yang sudah separuh jalan
  • Menulis review singkat

Aku tak lagi membenci dan meratapi hari-hari menstruasi. Hari-hari menjelangnya menjadi lebih menyenangkan. Sebentar lagi periode itu tiba lagi. Aku menyibukkan diri memilih daftar buku yang akan kutuntaskan dan menyiapkan mainan anak. Aku mengisi kulkas dengan berkotak-kotak salad dan buah potong untuk menjamin asupan makanan sehat. Aku berusaha menyempatkan yoga atau jogging  agar membantu mood di hari M.

Akhirnya aku berusaha paham bahwa rupanya kondisinya semasa menstruasi bukan pertanda kegagalannya sebagai wanita. Hanya pertanda aku perlu istirahat dan mengubah aktivitas. Istirahat bukan berarti berhenti dan menyerah, bukan?

Rania Rengganis

Rania menekan tombol ‘upload’ di layar tablet-nya. Dia sedang menulis opini di sebuah web komunitas emak-emak sebagai kontributor.

Di sampingnya terdengar Musa gelisah, mungkin menagih susu. Rania menarik nafas, berhitung, dan menghela nafasnya. Kemudian dia tersenyum dan mendekap sang calon bidadara surganya.

“I wanna shove him into a soundproof box and just let him cry cry cry all he wants. Or just kill me noooowww god!”

Rania mengetik singkat di Evernote handphone-nya. Dia masukkan tulisan itu ke dalam folder “Unsaid“. Jam dua malam. Musa yang masih berumur 10 bulan mulai tenang dan kembali tertidur. Satu dua jam kemudian dia akan kembali menangis karena apapun, lapar, haus, ingin menyusu, ganti popok, mimpi buruk. Di kamar sebelah, suami dan putri 3 tahunnya terlelap. Rania merasa kesepian harus menghadapi semua kerepotan bayi baru dengan special needs sendirian. “Night time is the worst! Since I have this baby, it is division of labour. No more teamwork like when we had our first child! I’m sick of it!” kutuknya dalam hati.

Rangga adalah suami, ayah, dan pemimpin yang pengertian. Namun, sejak Rania merasa depresi, Rangga pun menjadi dingin dan menjauh. Percakapan mereka hanya sebatas logistik anak dan keluarga. Sudah hampir 2 tahun mereka tidak lagi membahas visi, arah, dan evaluasi keluarga. Mungkin dia pun kebingungan dengan energi negatif yang akhir-akhir ini keluar dari istrinya.

Rania pun merasa dirinya tak seperti dulu sejak melahirkan Musa. Proses Musa tergolong sulit bila dibanding Kristal, anak pertamanya; operasi, HCU, dan rasa sakit yang panjang. Musa pun mengalami prematur, berat badan lahir rendah, henti nafas, sepsis, dan inkubator. Sejak saat itu, Rania tidak lagi menikmati hobinya membaca dan menulis. Ketika senggang sejenak, Rania malah window shopping di marketplace. Kebiasaan baru yang tidak berguna. Menumpuk barang di cart walau tak pernah check out karena tak ingin besar pasak daripada tiang. Tetapi entah mengapa membuatnya merasa sedikit lebih baik.

Malam itu Rania teringat percakapannya dengan dr. Fitri siang tadi,

“Anak Ibu mengalami Global Developmental Delay. Artinya, dia mengalami keterlambatan di lebih dari satu ranah tumbuh kembang. Setelah ini kita akan melakukan beberapa tes untuk mengetahui penyebabnya. Sambil menunggu rangkaian tes ini, kita bisa mulai melakukan intervensi terapi, seperti wicara, sensori integrasi, fisioterapi.” terang dr.Fitri di ruang praktiknya.

Rania hanya terdiam. Kekhawatirannya selama ini menjadi kenyataan. Anak laki-laki yang digadang-gadang untuk menjadi penerus Rangga or even better, rupanya berkebutuhan khusus. Oh the grief no one knows; the lost of the perfect child. Musa dan pengasuhnya sedang memainkan balok-balok busa ditemani terapis.

“Ibu pekerjaannya apa?” tanya dr.Fitri memupus jeritan hati Rania.

“Saya ibu rumah tangga.” jawab Rania singkat.

“Pendidikan terakhir Ibu apa?”

“Sebenarnya S2..” Rania terbayang kembali musim gugur favoritnya di New York.

Merasa ada yang berbeda, dr. Fitri kembali bertanya dengan perlahan, “Apa Ibu baik-baik saja?”

Rania menggeleng.

“Di seberang ruangan saya, ada praktik Psikolog Klinis. Anda bisa ke sana jika butuh bantuan. Dan saya sarankan Anda berkonsultasi. Kesehatan mental Anda sebagai ibu berpengaruh terhadap kondisi keluarga Anda, terutama anak-anak Anda. Minggu depan kita ketemu lagi untuk baca hasil CT Scan otak. Jangan lupa bawa suami Anda ya. Suami Anda harus tahu kondisi Anda dan anaknya.” saran Bu Dokter bijak.

Seketika Rania merasa dimengerti untuk pertama kalinya. Dia menganguk, tersenyum, dan pergi.

Jam tiga malam, Musa kembali menangis. Rania berusaha lebih tegar.

“Nanti pagi, akan kutemui psikolog itu. Aku akan belajar dan berubah. Demi keluargaku. Demi amanah ini.” tekadnya dalam hati sambil tersenyum dan mengecup kening Musa.

Pagi itu udara sejuk memenuhi setiap jengkal ruang di Jatiluwih. Mentari mengintip dari balik bukit dan kabut tipis. Sinarnya yang malu-malu masih belum cukup untuk menghangatkan suhu di bumi Tabanan. Sawah berteras-teras mengitari bukit berselang-seling dengan rumpun pepohonan.

Di sebuah pohon di atas bukit itu, hiduplah keluarga burung gelatik jawa. Mama burung sedang membersihkan sarang. Papa burung baru saja terbang menjauh. Keempat anak mereka Riri, Ori, Ara, dan Rira sedang bercakap di sebatang ranting.

“Sebaiknya kita terbang kemana hari ini?” tanya Riri Si Sulung.

“Barat terlihat menarik. Hamparan sawahnya telah menguning. Mungkin kita bisa menemukan biji terserak atau serangga bertengger di sana.” jawab Ara.

“Boleh. Kemana saja aku mau. Aku sudah mulai lapar. Ori, ikut kita yuk!” sambut Rira.

Ori hanya terdiam. Biasanya ketika ketiga saudaranya pergi, Ori hanya tinggal di sarang menunggu Ibunya membawa makanan untuknya. Selain karena dia bungsu, Ori terlahir dengan paru-paru dan pundi udara yang tidak sekuat burung gelatik pada umumnya. Kata Bu Tabib burung, kondisi Ori akan membaik seiring umur dan latihan terbang.

Ibu dan saudara-saudaranya selalu berusaha mengajak dan mendorong Ori untuk terbang lebih tinggi serta lebih jauh. Namun Ori sering kali menolak. Dia benci ketika dia kehabisan nafas di udara. Tersengal-sengal dan naik turun mencari tempat untuk hinggap beristirahat sangatlah menyakitkan. Meskipun Ibu dan saudara-saudaranya sabar menunggunya mengumpulkan nafas dan tenaga, tetap saja Ori tidak suka menjadi penghambat perjalanan mereka. Alhasil Ori lebih banyak memilih diam di sarang dan jarang berlatih.

Melihat Ori yang tidak menjawab. Kakak-kakaknya hanya mengangkat sayap lalu terbang. “Daaaah Ori, Kita pergi dulu ya. Sampai bertemu sore nanti.” teriak Ara dari atas.

Ibunya mendekati Ori, “Ayo kita latihan terbang di sekitar sini dulu. Ibu akan menjagamu.”

Ori enggan namun tidak enak juga menolak ajakan ibunya yang sudah sangat sabar. Perlahan Ori mengembangkan sayapnya dan terbang. Ibu mengikuti di belakang. Sepanjang perjalanan Ori sibuk dengan kekesalannya sendiri. Dia sibuk merutuki nasibnya yang dirasa malang.

“Ibu, kenapa aku terlahir begini? Tidak seperti kakak-kakakku?” tanya Ori terang-terangan. Apa yang dipendamnya selama ini tak sanggup lagi ia tutupi.

Tak ada jawaban dari ibunya.

“Ah Ibuuu.” teriak Ori sambil menoleh ke belakang. Rupanya Ibunya tidak ada di belakangnya seperti biasa.

“Lho, mana Ibu? Aduh, jangan-jangan ada apa-apa!” pikir Ori.

Dia pun segera berbalik menelusuri jalur terbangnya sembari berdoa akan keselamatan ibunya. Setelah setengah jalan, Ori menemukan ibunya tak sadarkan diri di pohon.”

“Ibu!” teriaknya panik.

Dilanda kebingungan, Ori akhirnya memutuskan untuk pergi meminta bantuan kepada Bu Tabib. Sarang Bu Tabib cukup jauh dari sini. Ori merasa khawatir dia tidak akan sanggup. Namun tak ada pilihan lain. Mengejar kakak-kakaknya ke Barat lebih tidak mungkin lagi. Ori pun menguatkan hati dan terbang.

Setelah menembus hutan seberang dan tiga kali kehabisan nafas, akhirnya sampailah Ori di rumah Bu Tabib dengan peluh dan pucat. “Ori! Ada apa?” Bu Tabib menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

“Bu Tabib, tolong ibu saya tidak sadarkan di pohon magnolia di bukit timur.” ujar Ori sebelum akhirnya dia pingsan.

Mendengar itu Bu Tabib dan dua burung perawat segera pergi menuju arah yang ditunjuk. Ori yang kelelahan dirawat oleh Pak Tabib. Lima jam berlalu. Akhirnya Ori membuka mata. Ketika dia menoleh, dia melihat ibunya sedang tertidur dengan kompres di kepalanya.

“Hei, Ori. Kamu sudah sadar.” tanya Pak Tabib dengan lembut.

“Ibumu kini baik-baik saja. Berkat usahamu, kami jadi bisa menolongnya tepat waktu. Kamu gigih sekali.” terang Bu Tabib.

Ori hanya bisa menangis. Bersyukur karena ibunya selamat. Bersyukur karena dia memiliki kekuatan untuk menempuh jarak sejauh itu.

Ori akhirnya mengerti bahwa dia harus berusaha menjadi lebih kuat dan sehat. Dan itu hanya bisa dicapai dengan berlatih lebih banyak. Ori berjanji untuk meminta obat tanaman kepada Bu Tabib. Sesuatu yang bisa membantunya ketika sesak menyerang sehingga dia bisa pulih lebih cepat. Dengan begitu dia bisa lebih sering berlatih dan tidak perlu khawatir berlebih ketika terbang jauh dari sarangnya. Sehat dan kuat ini bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk keluarga yang menyayanginya dan sangat ia sayangi juga.

Sehat untuk Bersyukur

Sore hari itu aspal jalanan sekitar rumah nampak basah. Hujan baru saja berhenti, menyisakan hawa dingin dan genangan. Sebuah angkot biru telur asin melewati jalanan yang lengang itu. Dari dalam terdengar teriakan, “Kiri, Bang!”. Suara Hasna memberi kode abang sopir untuk berhenti. Hasna turun dan menginjak genangan. “Cprassh!” Kaos kaki dan sepatunya basah. Hatinya malah panas. Dia melamun di depan pagar rumahnya.

Siang itu Hasna dan 3 temannya berkumpul di kafe dekat sekolah untuk menyelesaikan tugas kelompok Biologi sebagai syarat UTS kelas VIII. Hasna ingin memesan Matcha Latte kesukaannya namun di menu tertera harganya 57.000. Hasna enggan mengeluarkan uang sebanyak itu untuk beberapa teguk minuman yang akhirnya juga akan tersekresi dari tubuh. Keputusan Hasna untuk tidak membeli apa-apa menjadi bahan cemoohan sepanjang kerja kelompok.

“Enak lho. Yakin ga mau beli juga?”

“Ah pelit amat sih lo, Na.”

“Sekali-sekali aja kok.”

“Miskin lo.”

Hasna menggelengkan kepalanya berusaha mengusir memori pahit itu. “Bismillah. Aku tidak ingin membawa pikiran buruk itu ke dalam rumahku. Ya Allah, bantu hamba untuk membersihkan hati.” doa Hasna sembari menarik nafas.

Sesampainya di dalam rumah dia mengucap salam dengan pelan lalu berjalan menuju kamarnya, mencuci tangan, dan mengganti bajunya. Hasna keluar kamar mencari para penghuni rumah. Tak ada sepeda motor di halaman pertanda Papa masih di kantor. Sedangkan Mama rupanya sedang berada di kamar Abdurrahman. Terlihat Si Adek yang sedang memainkan ponsel pintar mama dengan jari-jari kecilnya dan Mama yang sedang membungkuk di sebelahnya.

Hasna mendekat dan menyapa memecah sunyi, “Lagi ngapain, Ma?”

“Astagfirullah. Eh, Hasna. Udah pulang.. Ini Mama lagi mau gantiin feeding peg adek. Udah kotor.”

Terlihat barisan tabung gel steril, peg pengganti, tabung suntik 5ml, botol labu larutan NaCl, dan strip pH di samping Mama. Hasna dengan sigap membersihkan tangannya dengan hand sanitizer 75% dan memberikan tabung suntik tanpa jarum. Ketika Mama sedang berkonsentrasi melepas peg lama di perut Adek, Hasna membuka bungkus peg baru dan mengoleskan gel steril ke sekitarnya. Mama mengangguk dan mengambil peg baru yang telah disiapkan. Dengan perlahan Mama memasukkan peg ke lubang kecil beberapa centi di atas pusar Adek. Hasna segera mengisi tabung suntik dengan larutan NaCl dan meletakkannya di samping Mama.

“Yak, sudah terpasang.”

Kemudian Mama memasang extension dan mengeluarkan sedikit cairan lambung Adek untuk di tes di kertas pH.

“Ok. Aman.” kata Mama ketika melihat warna merah di garis teratas.

Hasna membantu dan mengamati dalam diam. Abdurrahman Si 4 tahun hanya diam sepanjang 15 menit proses penggantian itu. Diam karena sibuk dengan gawai sehingga teralih perhatiannya. Dan diam karena dia belum mampu mengucap kata berarti akibat bentuk rahang dan tenggorokannya yang berbeda dengan orang kebanyakan. Bukan hanya tidak mampu berkata, adiknya pun tak mampu mengunyah sehingga untuk asupan nutrisi harus dibantu lewat lubang dan alat di perut. Makanan seenak apapun harus diblender dan dimasukkan ke dalam selang agar bisa masuk ke tubuh Abdurrahman. Hasna ingat suatu ketika Mama menghancurkan saikoro beef, kentang, dan wortel untuk makan malam adiknya.

Mama memandang Hasna dan berterima kasih. “Gimana kerja kelompoknya? Udah beres?” lanjut Mama sambil menengadahkan tangannya ke Abdurrahman untuk meminta gawainya.

“Udah. Alhamdulillah. Eh, Ma, Aku ke kamar dulu ya. Ada yang lupa kukerjain.” Hasna terburu-buru.

Sesampainya di kamar, Hasna duduk dan membuka jurnalnya. Setelah pengalamannya dengan teman-temannya dan adiknya, Hasna tahu apa yang harusnya menjadi fokusnya untuk membersihkan hati dari kejadian tadi siang; bersyukur atas nikmat tubuh yang sehat tanpa perlu alat bantu. Hasna pun mengutip hadits dengan brush pen-nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)