Dan Tong pun Berbisik !

Januari 15, 2008

Kau membuatku mengerti hidup ini. Kita terlahir bagai selembar kertas putih, tinggal kulukis dengan tinta pesan damai dan terwujud harmony.

-padi : harmony-

thinktongpost2.jpg

Sebuah senandung maha dahsyat terlintas ditelingaku. Membuka gendang telingaku. Mendenyutkan detak jantungku yang seakan sendiri. Tanpa mimpi, tanpa arah, tanpa teman.Sesaat manusia itupun pergi. Seiring perginya manusia itu senandung itupun lenyap. Kembali kutertelan oleh kesunyian.

Teman terbaikku kini telah pergi. Sampah itu entah menghilang kemana. Sampah bukanlah sebuah metafora. Dia memang sampah yang benar-benar sebuah sampah, teman sejatiku. Tercipta sebagai sebuah tong sampah, siapa lagi lah teman sejati selain sampah. Manusia menyebutnya sebuah sumber masalah, tapi aku menyebutnya seorang sahabat sejati.

Hanya sampah yang rela mengisi rongga tempat ini. Jasadku hanya terisi oleh sampah. Dia rela untuk menemaniku untuk menghabiskan waktunya sampai sang waktu memanggilnya pergi ke sebuah penampungan sampah akhir.

Kau tau bagaimana rasanya sendiri ? sendiri tanpa ditemani seorang teman sejati yang biasanya menemanimu di saat terik matahari terus membakar kulitmu. Di saat hujan mengguyurmu dengan deras. Di saat gelap menyelimuti dunia.

Andai aku punya hati, mungkin aku bisa sakit hati. Andai aku punya air mata, mungkin tinggal setetes air mata yang tertinggal. Tapi aku hanyalah tong sampah tua yang terus berdiri di sini sampai akhirnya seorang petugas kebersihan membawaku pindah ke suatu tempat lain.

Mengapa wahai manusia, engkau memisahkan kami ? apa engkau tak pernah mempunyai teman sejati. Kau buang temanku ditempat yang tak seharusnya. Wahai manusia, tahukah engkau rasanya sudah tidak berguna ? mahluk tak bernyawa inipun dapat merasakan suatu rasa yang kalian sebut dengan sakit.

Setelah lama kesunyian menelanku hingga ke dasar bumi, terdengar sayup-sayup senandung lembut yang mulai mendekat ke arahku.

 Apakah cinta yang membahagaikanmu, sesuatu yang ingin kumiliki ? Belumlah terlambat untuk mengerti dan belum terlambat untuk menumbuhkan cintaku. Selama hidup sepanjang usiaku tak sekalipun pernah kumenyentuh wujudnya. 

Secarik kertas dan sebungkus kotak coklat yang tak berisi jatuh tepat di dalam ronggaku yang menanti sebuah sahabat sejati.

 Hei tong sampah tua, aku tak tau bila engkau merasa sendiri. Kupikir sampah ini hanya membuatmu berbau busuk. Aku tak tau sampah adalah sahabat sejatimu. Tenanglah, aku telah mengirim sebuah sampah untukmu. Ia akan menemanimu tanpa rasa jenuh sedikitpun. *aku pernah merasakan itu semua. Dan aku tak ingin engkau merasa tidak berguna. 

Aku tersenyum membaca itu semua. Kembali senandung itupun menjauh. Sekarang kesunyian itu tak akan pernah menelanku ke jurang kesepian.

 Membayangkan itu akupun mencoba mengerti sedikit tentang perasaan itu. Pernah terkaburkan oleh pilu kepedihan, mungkin aku salah mengartikan itu semua. Belumlah terlambat untuk mengerti dan belum terlambat untuk menumbuhkan cintaku. Selama hidup sepanjang usiaku tak sekalipun pernah kumenyentuh wujudnya.

-padi : belum terlambat-

thinktong !

Januari 11, 2008

thinktong !

tong kosong nyaring bunyinya. Betul Tidak ?

Hello world!

Januari 11, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai