• Homepage
  • PORTOFOLIO (BOOKS)
  • About Me
Was ist los, Une?

Kesampaian juga! Senengnya!  Berawal dari video kereta panoramic yang memiliki jendela super lebar dan atap terbuka sering mondar-mandir di beranda youtube milikku, aku hanya bisa berharap dalam hati : Kapan ya bisa cobain? Sudah berkeluarga gini pasti repot atur waktu dan lain-lain.

Eits, kalau kamu jadi kaum mendang-mending selamanya tak akan pernah mencoba.
Image

Image
Image

Awal tahun, Januari 2026 waktunya mengambil cuti. Rencana awal ke Bandung ingin wisata kecil-kecilan sambil nengok adik laki-laki sekalian coba jadi mermaid di JAQS (pada postingan sebelumnya), dan tentunya mengajak si kecil yang sebentar lagi berusia 3 tahun ! Harapannya, dia sudah bisa mengingat memori baik yang terjadi, serta bisa belajar banyak mengenal hal baru. Usia 3 tahun otaknya berkembang pesat, mudah meniru dan mempelajari hal yang baru, maka harus kita ajak eksplorasi banyak hal !
Tiket keberangkatan ke Bandung dibeli lewat aplikasi tiket.com, untuk 6 orang (termasuk orang tuaku dan satu pengasuh) dengan tarif tiket masing masing sekitar Rp 500,000 ,- (jika dibandingkan eksekutif Rp 350,000,-). Untuk gerbong panoramic tersedia di KA Pangandaran, tujuan Gambir - Banjar tapi kami turun di Stasiun Kota Bandung. Kami berharap saja cuacanya cerah, sehingga bisa menikmati jalur kereta yang konon paling cantik di Indonesia ini.
Saat hari keberangkatan, paginya hujan deras dan mendung pekat. Aduh, agak sedih rasanya, tapi harus tetap semangat. Setidaknya hujan sedikit reda sehingga bisa menikmati panorama yang ditawarkan tanpa terhalang kaca kereta dengan semburat titik air hujan.
Keberangkatan kami pukul 9 pagi, hujan agak mereda, walau rintik sedikit. Barang bawaan kami cukup banyak karena ketambahan stroller bocil yang cukup menyusahkan jika dibawa, dan sangat menyusahkan jika tidak dibawa (karena bocil hobi tiba-tiba tidur atau mager jalan). Alhasil pak suami kepayahan bawa barang sampai keringatan wkwkkw.😂
Image
Image
Image
Image

Kereta Panoramic sendiri terinspirasi dari kereta panoramic yang sudah ada duluan di Swiss, seperti Glacier Express yang bisa menikmati panorama Zermatt dengan pemandangan 360 derajatnya. Pas awal kami masuk rangkaian gerbong Panoramic yang jumlahnya cuma 1 di rangkaian kereta, wewww kesan luxury langsung dapat dengan melihat interiornya, berasa sultan anyar hahaha. Jendelanya besar banget, kursinya bisa diputar menghadap jendela dan atapnya juga terbuka (namun disediakan tirai penutup jika pengunjung merasa silau). Dan jangan khawatir bakal panas, karena gerbongnya sejuk dan nyaman. Ini sih beneran buat wisata senang-senang, salut buat PT KAI inovasinya yang keren ini. Aku berharap aja sepanjang jalan aman, nggak ada manusia laknat yang lempar sesuatu ke kaca kereta api hingga melukai penumpangnya 💩
Di gerbong panoramic ini, semua penumpang bisa free refill minuman seperti teh, kopi, maupun coklat, dan juga mendapat snack dari XXI café seperti pastry dan popcorn manis.
Image
Image
Toilet di rangkaian Panoramic ini juga cakep banget, wangi, mewah dan Ketika menggunakan closet, pantat agak anget di dudukannya, katrok deh ibu-ibu anak satu ini 😉
Image
Nah, karena ditujukan sebagai wisata, maka Prama/Prami selalu menginfokan panorama atau atraksi apa yang akan dilewati, sehingga penumpang bisa siapkan alat tempur dokumentasinya, seperti terowongan, ataupun areal persawahan cantik. Selain itu mereka juga bisa membantu kami untuk mengubah arah kursi menghadap ke jendela ketika melewati panorama yang cantik. 
Image
Kalau arah Bandung yang bagus duduk disebelah mana? Arah kanan atau kiri sama-sama mendapat panorama yang unik. Jika kiri dominan persawahan cakep, kanan dapat pegunungan dan jembatan terpanjang yang dibangun di jaman penjajahan.
Minusnya apa? Bagiku, minusnya satu aja siih…ada layar televisi, kukira buat menampilkan stasiun yang akan dituju atau perkiraan waktu tiba ke stasiun selanjutnya. Nyatanya nggak update sama sekali…padahal bagiku lebih baik kalau ditampilkan infografis atau informasi mengenai kereta, seperti : kecepatan laju, tujuan stasiun berikutnya, info tempat wisata di masing-masing kota, waktu shalat, atau tampilan kereta saat berjalan (kamera di depan). Masukan ini aja sih…selebihnya untuk service sangat oke !
Yang penting, bocil senang (walaupun bobok dan sempat boring dia), ortu senang, dan didoakan ortu lancar rejekinya bisa mengajak naik kereta panoramic di Swiss !

0
Share



Tahun 2025-2026 menjadi tahun divingku.

Menjadi mermaid mungkin adalah Impian dari Sebagian bocil cewek atau mungkin juga bocil cowok. Namun, dulu aku sama sekali berpikir tak mungkin lah aku bisa berenang seperti putri duyung, toh aku juga nggak bisa renang, masuk air sebentar sudah gelagapan. Boro-boro yakan…

Image

Tapi agaknya mimpi jadi mermaid itu nggak hanya tumbuh di pikiran para bocil, tapi juga baru tumbuh di pikiran bocil lebih 30 tahun ini. Kenapa? Karena sudah punya uang. Yup…mermaiding pun setidaknya harus butuh modal untuk latihan dalam air, setidaknya punya mermaid fins dan ilmu freediving biar lebih aman, karena bagaimanapun juga mermaiding adalah olahraga pengembangan dari freediving.

Image

Melihat Ria Ricis yang mengenakan kostum mermaid dan berlenggak lenggok di air, membuat tanganku gatal untuk membeli sebuah Mahina Mermaid Fins. Awalnya memang agak kesulitan menggunakan fins ini karena belum ngerti sama sekali tentang freediving dan hanya nonton tutorial lewat youtube. Latihan pun sendirian 😔

Entah kenapa video Ria Ricis yang main di Jakarta Aquarium Safari nongol di beranda, aku mikir kayaknya seru ya bisa main disana, tapi bagaimana caranya aku bisa renang di Aquarium, jangan-jangan dia karena aktris, jadi punya privilege bisa jadi ikan disana.

Ternyata enggak dong. Ada komunitas putri duyung Indonesia yang merupakan komunitas mermaid di Indonesia yang digagas oleh Mermaid Pia, menyediakan mermaid experience package di Jakarta Aquarium Safari. Waduh, gatal pengen nyoba rasanya. Tapi pe er lagi buat nyari jadwal ke Jakartanya kapan, apalagi pengen pamer ke si bocil juga.

Setelah curi cari waktu, dapatlah waktu pada awal Januari saat kerjaan masih free di awal tahun. Bisa sekalian bawa bocil, suami dan orang tua buat pamerin skill mermaid bunda/istri/anaknya ini. Segeralah aku kontak admin Putri Duyung Indonesia (PDIN) untuk booking jadwal di hari Sabtu, biar rame pengunjung, walau skill masih kentang yang penting percaya diri dulu.

Jakarta, 16 Januari 2026.

Sedikit galau kemarin, karena admin PDIN menginfokan bahwa JAQs baru pergantian manager, jadi untuk Mermaid Experiencenya menunggu Keputusan manager yang baru. 

“Duh kak, aku udah jauh-jauh dari luar pulau ini kak,” aku merengek melas.

“Loh, kukira dari Jakarta ajaa..maksimal sore ya aku infokan jadwalnya kembali.”

Alhasil hatiku gak tenang selama itu. Namun kabar baiknya, ternyata diijinkan, hore !

Jakarta, 17 Januari 2026.

Hari yang dinanti pun tiba. Dari Bontang aku sudah bawa hijab yang agak berkibar saat dalam air dan outer brokat biar kayak putri duyung beneran. Yang wajib dibawa hanya belt, dan mask. Untuk weight dan skin masuk di paketnya. 

Karena jadwal ‘show’ jam 11 siang, maka setidaknya jam 10 aku sudah berangkat. Tapi sayangnya si bocil malah bobo pulas mulai jam setengah 10. Mood baikku hilang, masa aku show tanpa menghibur bocil? Hiks. Tapi karena sudah bayar, maka harus jadi. Jam setengah 11 (yang ternyata bocil masih pulas, dan terpaksa kutinggal) aku berangkat sama orang tua menuju ke Neo Soho, dan ditengah jalan abang grab malah antri bensin, duh hatiku makin kacau.

“Kak sudah sampai? Kita hanya punya waktu satu jam saja ya karena hari ini ada show.” Kak Pia mengirimku pesan singkat. Aku panik.

“Kak, sebentar, ini abangnya masih beli bensin 😓”

“Oh..ya kak kalau sudah sampai langsung ke main tank saja ya. Minta tolong anter mbak petugasnya, saya masuk duluan karena mermaid satunya sudah datang.”

Hatiku berdebar, duh gimana ya menggambarkannya. Ini pengalaman pertama, telat, bocil nggak ikut. Gimana, apa bisa tenang di dalam air? Apalagi aku jarang Latihan dengan monofins, bisa nggak ya? 

Setibanya disana aku langsung ke JAQs. Antrian mengular, kukira aku bisa langsung masuk ternyata harus antre juga biar dapat gelang pengunjung (walau sudah bayar tiket masuk package). Ya Allah mau nangis deh rasanya, tapi kulihat antrean nggak panjang, mudah-mudahan nggak lama karena sekalian belikan tiket orang tua.

Image

Setelah administrasi, aku diantar masuk sama petugas ke main tank. Untuk orang tuaku kuminta nunggu di main tank untuk lihat anaknya berubah jadi ikan. Hahaha. Setelah masuk main tank, aku bertemu Kak Pia dan satu mermaid lainnya untuk melakukan aksinya hari ini. Hahaha akhirnya.

Ganti kostum sat set, dan segera pemanasan di air. Pokoknya jam 11:25 aku baru siap. Awalnya kami disuruh berenang dengan merfin di aquarium terbesar se Indonesia ini dengan kedalaman 4,5-5 meter ini, kagok sih karena lama banget nggak latihan. Setelah oke, kami disuruh mencoba dan diajarkan berbagai macam pose dan basic mermaid tricks didalam air. Seperti butterfly sommersault dan bubble ring yang aku selalu gagal.  Dan…yang paling ditunggu-tunggu adalah menyapa pengunjung dari dalam aquarium ! Waahh..pengunjung saat itu rame banget nget….dan aku celingukan cari bocil. Itu dia! Dia memang bingung mengenaliku karena saat itu aku pakai mask. Jadi dia ragu untuk tersenyum, hihihi…senyumnya memang mahal.

Image

Image

“Bisa loh kalian lepas mask, biar lebih real. Di JAQS airnya nggak pedih di mata sama sekali, karena airnya tawar, dan kadar salinitasnya disamakan seperti air laut asli (air laut buatan).” Begitu Kak Pia menjelaskan, tapi aku paling lemah kalau lepas mask. Mata selalu perih dan buram rasanya, malah panik. Padahal asyik loh kalau lihat model gak pakai mask, kayak betulan aja gitu mermaidnya.

“Sama satu lagi, jadi mermaid harus bisa pose centil ya, ayo ayo tangannya dimainkan !”

Waduh, ini nih yang paling aku nggak bisa. Pose centil. Takut bablas kecentilan wkwkw😜.

Aku bolak-balik lirik jam, jam 12 lewat 15, bentar lagi disuruh keluar karena mau ada show di main tank. Alhamdulillah, ada extra time gara-gara kecerobohanku hari ini, jadi nggak bentar-bentar amat menikmati pengalaman yang menyenangkan ini, bisa ketemu dengan penghuni aquarium raksasa ini, seperti para ikan hiu, pari, dan penyu Sherly yang tampaknya sudah lansia karena tubuhnya yang besar dan keriputan, hihihi.

Image

Oh ya, untuk mermaiding ini aku Bersama kak Mipa, yang merupakan calon instruktur Mermaid yang berasal dari Bandung, dan Kak Pia (Mermaid Pia) yang merupakan instruktur Mermaid pertma di Indonesia. Cuma aku aja yang belum pernah Pendidikan formal mermaid, tapi menurutku masih cukup lah dengan skill freediving kemarin, selama tidak untuk professional dan komersial.

Image

Jadi..fakta menarik kali ini adalah : Jika kemarin aku belajar freediving dengan instruktur freedive pertama di Indonesia, maka sekarang belajar mermaid dengan Instruktur Mermaid pertama di Indonesia pula.

0
Share


Setelah semalam Anis mengajakku ke pusat keramaian di Pulau Maratua, nongkrong di Soluna Café, melihat acara dan stand kerajinan dan makanan khas dari masing-masing kecamatan di Kabupaten Berau, (salah satunya ada kudapan khas Derawan kepulauan, yaitu ketan bulu babi alias tehe tehe yang creamy enak banget, kata kak Dian  konon rasa sedapnya berasal dari lemak bulu babi), pagi pertamaku ini kami berencana ke Kakaban untuk nengokin stingless jellyfish dan berencana foto dengan lebih estetik. Tapi sebelumnya, pagi-pagi jam 6.30 aku segera bersiap untuk menjelajah Maratua dengan motor PCX rentalan. 

Image
Di Maratua kalau nggak sewa motor, susah untuk berkeliling pulaunya yang sejauh 40 km ini. Kemarin Kak Dian menyarankan, kalau spot sunrise terbaik di Maratua bisa dinikmati dari perkampungan Bohe Silian, 15 menit lah motoran dari kampung Payung-Payung, tempatku menginap. Sedangkan sunset terbaik dapat dinikmati dari kampung Payung-Payung saat senja turun. Karena kesiangan, maka matahari sudah sedikit naik, namun beruntungnya langit masih cerah dan citra pagi itu masih elok untuk diabadikan dengan kamera ponsel seadanya.
Image
Image
Image
Image
Image
Pulau Maratua, sebagian jalannya sudah beraspal mulus, dan pulau ini sudah terlistriki dengan pembangkit Listrik Tenaga Diesel dari PLN. Sebenarnya asyik untuk lari pagi disini, karena selain aman, juga jalannya mulus dan lurus. Tapi, ehm, rasa gatal apa yang tiba-tiba merayapi tenggorokanku ini?
Kucoba menelan ludah berkali-kali, lalu mengusap leherku dengan lembut. Sepertinya aku mau flu.
Aaah, mampus. Moodku yang awalnya jenaka menjadi menguap.
Setengah mati berusaha kuabaikan, namun rasa itu tak kunjung hilang. Sudah kuobati dengan sebungkus nasi kuning lauk ikan tuna merah, tapi malah sedikit menggila karena minyaknya yang menempel di tenggorokanku.
Jangan flu dulu, jangan flu dulu. Aku masih mau nyelem, biaya ke Maratua mahal ya Allah, apalagi nggak ada sponsor.
Kendati tenggorokan mulai terasa gatal, namun hidungku masih lega dan belum berlendir. Tampaknya para virus masih tahap beranak pinak dan menyusun strategi untuk meruntuhkan mental imunku. Tak apa, setidaknya hari ini masih aman.
Image
Image
Image
Image
“Hari ini cerah sekali, laut tenang maksimal, Allah dan Suami merestui perjalanan hari ini,” aku menenangkan diri sambil menatap perairan yang jernih dan menyilaukan. Trip Kakaban hari ini tetap terlaksana, dengan speed, menuju Kakaban hanya perlu 40 menit.
“Kita ke Kakaban yang lama aja ya. Sebenarnya ada yang baru, tapi pasti lebih rame. Kita nyari keestetikan selfie sama ubur-ubur aja kan, maka kita cari yang sepi.” Anis menjelaskan, sembari bersiap-siap.
Image


“Iya, kali ini pokoknya harus bisa sama ubur-ubur. 9 tahun lalu sudah nggak punya kamera underwater, nggak bisa renang pula. Otomatis nggak ada dokumentasi sama sekali.”
Mereka tertawa. Lalu melanjutkan percakapannya dengan Bahasa asli mereka, Bahasa Bajau.
Dermaga Kakaban lama sudah tak terawat sama sekali. Tiada pengunjung yang datang kesana. Jembatan dan tangga sudah koyak, sesekali kami susah payah dan ekstra waspada melewatinya. Tak ramah bagi pengunjung yang membawa bocil ataupun orang tua.
“Kenapa kok gak terawat lagi kak?” selidikku pada Anis dan Kak Dian.
“Biasa, sengketa lahan.”
Image
Wah, tempat wisata pulau tak berpenghuni seperti ini juga ada drama sengketa lahan juga ya?
Aku menatap tempat yang kukunjungi 9 tahun lalu. Alamnya tak banyak berubah, pulau atol dengan cekungan ditengah dan suara deburan ombak.  hanya infrastruktur, dan pengunjungnya. Hari itu sepi sekali, hanya kami bertiga, cuitan burung dan kumpulan ubur-ubur. Awalnya aku masuk dengan percaya diri, dengan pemberat 2 kg di pinggangku. Alhasil badan tiba-tiba tenggelam, aku panik, berusaha menggapai-gapai permukaan dan ditolong ke pinggir oleh Anis dan Kak Dian, lalu aku memutuskan untuk mengapung saja tanpa pemberat, jadinya susah banget mau foto melayang di tengah air, apalagi bouyancyku adalah positif.
Kami berada di danau ubur-ubur hingga Tengah hari, lalu lanjut ke spot freediving kelapa dua, yang merupakan coral indah membentuk dinding. Mengapa dinamakan Kelapa Dua? Karena ada dua pohon kelapa di dekat kami freediving.
“Kemarin yang ada scuba diver meninggal dimana?” tanyaku iseng.
“Ya disini, tuh! Disana, yang ada orang scuba,” Anis menunjuk Lokasi sekitar 50 meter dari tempat kami turun. Aku menelan ludah, pertama turun, arus laut membawaku menjauh. Wih, pengalaman pertama ini ketemu arus. Aku sedikit kagok, ada rasa sedikit panik.
“Udahlah, namanya juga laut ya pasti ada arusnya. Ini masih pelan, santai aja. Apalagi nanti di Barakuda, makin parah arusnya,”
Aku nyengir. Bener saja, kayak gini aja keder, bagaimana kalau freedive ke spot Barakuda? Ckckck.
“Mbak liat kan itu sea fan, turun kebawah ya, nanti dadah-dadah, kami foto.” Anis memberiku instruksi. 
Image
Namun kepalang panik, mask ku malah berembun. Makin panik, akhirnya nggak bisa menyelam dalam. Payah lah, sedih juga sebenarnya hiks. Kemana skill bisa nyelam 13 meterku yang dulu itu? 
“Mbak nggak pede kah, atau biasanya ngolam aja nggak pernah kelaut?”
Aku mengangguk. Mafhum.
“Di Bontang kan banyak laut, sering-sering Latihan open water aja mbak. Nanti biar fotonya bisa estetik hehe. Lama-lama juga terbiasa.”
Aku mengangguk lagi, kali ini dengan rasa kecewa mendalam.
“Sudah jam segini, yuk ke turtle point, keburu pasang, penyunya malah kabur ke tengah laut lagi.” Anis memberi instruksi. Yah setidaknya ada harapan terakhir di turtle point untuk bisa berfoto dengan penyu unyu, dan mensyukuri bahwa pak suami masih memberiku kesempatan untuk bisa memulai petualangan liarku sebatang kara.
Image
Setibanya di turtle point, kecipak sirip penyu sudah menyapaku. Mataku Kembali berbinar menatap penyu beraneka ukuran di turtle traffic siang itu. Aktifitas penyu pun macam-macam, ada yang bobo siang, kejar kejaran, makan rumput laut, dan (sepertinya) menggoda temannya. Sama seperti manusia biasa.
Kak Dian melambaikan tangannya, menginstruksikan untuk mendekat dan menyelam kebawah, ada penyu mager katanya.
Dan…wow! Hasil fotonya keren banget! Air laut saat itu sangat pristine bak kristal dan visibilitasnya jelas. Di turtle point, kalian dapat bertemu dan ikut arisan atau pengajian bersama penyu mulai di kedalaman 3 meter saja. Asyik kan!
Di turtle point ini gairahku tumbuh kembali, walau lautnya sama-sama berarus, tapi bertemu dan mengikuti arisan Bersama penyu unyu membuat semangatku naik lagi.
Image

0
Share
Maratua adalah Impian, sejak aku mengenal Derawan.

Dulu, aku masih cupu menjelajah kepulauan di Indonesia. Belum bisa berenang, masih pakai pelampung oren yang terkadang kainnya sudah lapuk saat menambang di laut. Kesana kemari masih pakai trip harian sharing cost yang waktunya terbatas. Jadi kapan aku bisa menjelajah secara maksimal di satu destinasi?

Dan…renjana tersebut kian menggebu saat aku udah belajar freedive dan berhasil mendapatkan license-nya Agustus lalu. Ehm, waktunya main sama penyu dan makhluk laut lucu lainnya di perairan Maratua!

Trip ini aku jadwalkan dadakan dan senyap, diam-diam yang penting jadi di bulan November. Setiap hari tak henti-hentinya aku memeriksa ramalan cuaca di ponsel, cuacanya kira-kira seperti apa saat aku disana? Jangan sampai cuaca menghancurkan moodku untuk bersenang senang 😑

Aku menghubungi salah seorang warga lokal yang  kebetulan bisa guiding dan licensed freediving juga, Namanya Anis. Alasan lain kenapa aku menghubungi dia untuk akomodasi ke Maratua Adalah karena dia Perempuan, sama juga ibu-ibu beranak satu dan punya kedai yang tentunya dengan harapan bisa menyelamatkan perutku yang sering lapar ini haha. Dan setelah aku menghubunginya, setiap pekan rajin tanyakan terkait kondisi cuaca di Maratua bagaimana, yang kadang berangin kencang, hujan deras, dan memaksaku untuk maju mundur apakah renjana ini bisa ditunaikan atau batal.

Bagi pembaca setia blog ini tahu kan sifatku bagaimana? Pantang menyerah apapun yang terjadi, terutama yang menyangkut acara wisata-wisata seperti ini. Karena kalau batal, susah cari niat dan kesempatan di lain waktu, dengan kata lain batal selamanya.

“Kak, setelah kupikir-pikir, aku tetap gas aja ke Maratua. Toh cuaca di Kaltim saat ini juga gak nentu. Tak akan bisa dapat cuaca yang bagus kalo nggak rejeki,” ujarku saat menghubungi Anis lewat pesan singkat.

“Wah hoke-okee jadinya kapan kesini?”

“Jumat, via pesawat.”

Image

Tiket penerbangan ke Maratua  dan sebaliknya juga sudah aku pesan via whatsapp ke admin maskapai perintis dengan pesawat Cessna Caravan yang melayani perjalanan ini. Sedikit info, saat ini penerbangan perintis dari Samarinda (SRI) ke Maratua (RTU) dilayani oleh penerbangan perintis Smart Aviation dengan tarif antara 780,000 rupiah – 800,000 rupiah sekali perjalanan. Selain Maratua, rute perintis dari Samarinda yang dilayani Adalah Long Apung, Miau Baru Pemesanan tidak bisa jauh-jauh hari seperti maskapai komersial lainnya untuk menghindari praktik calo, jadi pemesanan sekitar seminggu sebelum keberangkatan saja. Jadwal keberangkatan seminggu hanya 3x, dan terkadang dilakukan penyesuaian hari di pekan-pekan setelahnya.

Selain Anis, Po Norma (temenku dari Samarinda yang sering ke Maratua, aku kenal dia pas trip ke Balagbalagan) juga termasuk salah satu narasumber yang memberiku banyak info, dari akses wisata, transportasi, hingga info-info penting lainnya. Dan mantapnya dia nggak pelit info, semua dia jelasin sejelas-jelasnya. Aku berhutang padamu pooo…

Penerbangan dari Samarinda pukul 07.30 pagi, tepat waktu. Durasi penerbangan 1 jam 15 menit, melewati atas rumahku, pertambangan di Sangatta, perbukitan karst, hingga laut lepas. Kursi penumpang hanya muat sekitar 10 orang, dan muatan bagasi penumpang terbatas 10 kg per masing-masing penumpang. Rasanya bagaimana? Goyang-goyang nggak? Ya nggak lah, penumpang bisa mengamati aktivitas pilot secara langsung dan memang berisik, serta terbangnya cukup rendah, jadi kita bisa menikmati pemandangan yang cukup epic, asalkan pintar-pintar milih tempat duduk saja.

Image

Image

Setelah mendarat di Bandara Maratua di kampung Payung-Payung dengan ikon penyunya yang lucu, Anis menjemputku, dan langsung menyusun itinerary dadakan karena aku memang private trip. Pas hari pertama datang, memang sisa-sisa angin kencang masih terasa, jadi laut pun masih terlihat keruh.

Image

“Aku nggak bisa guide dulu hari ini, karena masih flu dan lagi halangan. Mudah-mudahan besok bisa ikut ya.”

“Tapi angin kencang gini, besok gimana ya?”

“Besok perkiraan reda. Kita main di gua dulu saja, ada gua Gumantung dan Halo Tabung. Sama-sama cantiknya,”

“Sama siapa?”

“Sama Kak Dian dulu ya, dia wawasannya tentang Maratua cukup oke, bisa tanya apapun tentang Maratua ke dia. Skill freedive juga lumayan. Eh kamu nginap disini, pas didepan penginapanmu itu turtle point, kalau siang air surut, kita bisa jalan kaki ketengah dan nyelam, kalo siang banyak penyu main disana, nanti kita coba kesana.”

Mataku berbinar senang. Penyu unyu !

Image

Image

Dan…hari itu kami ke Gua Gumantung dahulu, jaraknya lumayan jauh dari kampung Payung-Payung tempatku menginap. Sepanjang jalan, Kak Dian menceritakan beberapa kisah tentang Maratua dan menunjukkanku tempat dan teluk-teluk di Maratua, yang nggak bakal kalian dapatkan kalau open trip biasa. Dia juga menjelaskan kenapa dinamai kampung Payung-Payung, yang ternyata ada batu karang pinggir pantai yang berbentuk seperti payung.

Image

Image

Gua Gumantung, yang ternyata Adalah sebuah ceruk ditengah-tengah karst, diisi oleh air yang cukup jernih, dan ditemani cicitan kelelawar gua. Jika sedang beruntung, kitab isa melihat tetesan air dari dinding gua. Treking menuju Gumantung dari pintu masuk sekitar 300 meter, tapi kondisi jalan sudah bagus, walaupun naik turun.

Image

“Ini ikan asli sini kak?” tanyaku sembari menunjuk ikan berwarna jingga dan belang-belang.

“Bukan, ini habitatnya dilaut, sama orang local diambil dan ditaruh disini. Kasihan kan?”

“Waduh kejam itu kak,” ketusku sambil teringat film Finding Nemo. Duh, ada-ada saja ide kejam manusia untuk membuat suatu tempat jadi lebih menarik.

“Kak, ini airnya asin ya, kalau beruntung dan menyelam agak dalam sedikit bisa lihat kabut lumpur didasar,”

Namun aku nggak melakukannya. Kayaknya masih panik karena keseringan Latihan di kolam, dan sekarang bertemu dengan air gelap bak tak berdasar. Jadi aku hanya menyelam sebisanya sambil bergaya di batang kayu yang rebah. Ditambah lagi airnya dingin, kian gemelutukan dan nggak tenang aku dibuatnya.

Image

“Maaf kak, aku belum biasa. Airnya dingin banget,”

“Iya aman. Tenang aja kak, nggak usah buru-buru.”

Selepas dari Gumantung, Kak Dian menawariku mencoba es campur terenak di Maratua di kedai Victorious. Kedainya langsung menghadap di Teluk di Pulau Maratua, namun saat itu laut sedang surut. Kak Dian juga membawakanku kweni, sejenis mangga local yang sedikit beserabut, dan aromanya cukup menyengat. Nah kan, memang guide terbaik Adalah warga local, banyak bonusnya, termasuk kosakata Bahasa local mereka, Bahasa bajau.

“Bajau kami bahasanya serumpun dengan bajau di Filipina. Tapi beda dengan suku bajau yang di Sulawesi Tengah. Dulu, pas angin kencang, sempat ada nelayan dari Filipina terdampar di Maratua.” Kisahnya.

Image

Image

Puas menikmati es campur, kami menuju gua halo tabung yang dulunya Bernama gua haji mangku. Jujur kalau bagiku, gua halo Tabung lebih menarik hati, karena airnya lebih jernih hingga  tembus kedasar, sayangnya nggak sempat dapat Cahaya Ilahi karena sudah kesorean ke Halo Tabungnya. Spot wajib untuk berfoto di Halo Tabung adalah pintu masuknya, dan jika punya nyali lebih bisa lompat dari atas tebingnya., kalau saya sih mending nyelam hehe.

Gua Halo Tabung, dindingnya juga merupakan batuan kapur (limestone) yang terisi oleh air laut, dan level airnya juga dipengaruhi pasang surut air laut. Airnya adeem dan super jernih! 

Tapi jujur, aku freediving disini lebih enjoy dan lumayan bisa menikmati banyak spot yang terdapat disana, seperti terowongan dengan dua level kedalaman, dan batuan karst yang menawan. Walau airnya lebih dingin, tapi entahah, nafasku terasa lebih Panjang disini. Lain kali aku pasti bawa ekor mermaidku kesini sembari mengejar Cahaya ilahi😊

Image
0
Share
Older Posts Home

AUTHOR

AUTHOR
Seorang wanita yang seperti kera sakti : Tak pernah berhenti, bertindak sesuka hati dan hanya hukuman yang dapat menghentikannya.

Labels

Berkeluarga INFLIGHT ITALY JAWA TENGAH Jambi KALIMANTAN TIMUR KUTAI TIMUR Lumajang NETHERLAND NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR Perancis SULAWESI SELATAN SUMATERA BARAT Sulawesi Utara Yogyakarta deutschland jakarta jawa barat jawa timur kalimantan selatan rusia

Popular Posts

  • Image
    Berbagi Pengalaman Ketika Aku Joinan Tes D3 ITS-PLN
    Oy...sebelumya si Une minta maaf dulu, fotonya dibuat kayak hantu biar gak ada pemalsuan identitas, penghubungan alamat, walaupun aku pun...
  • Image
    ABOUT ME | ÜBER MICH
    "Allah menciptakanku saat sedang tersenyum, begitu pula ibu melahirkanku dengan senyum pula." Terlahir di Surabaya, 20 Juni ...
  • Image
    #1 Babak Kedua Gunung Gergaji : Mengulang Pengembaraan di Barisan Karst Sangkulirang-Mangkalihat
     "Maaf ya, jika pesanmu baru bisa aku balas kira-kira hari Jumat."  Sejenak aku mengetik pesan terakhir padamu sebelum melanjutkan...
  • Image
    Deutschland für Anfänger (Pameran Jerman Untuk Pemula)
    Guten tag Leute :) Sebenarnya jujur, kejadian ini udah berlangsung sekitar sebulan yang lalu, tetapi nggak sempat ceritanya karena bentro...
  • Image
    Merindukan Otot Lelah dan Bau Hutan : Puncak Batu Putih, Kaliorang
    Alasan yang paling kuat untuk menjelajah Kutai Timur sebenarnya sederhana : Pandemi COVID-19. Yang awalnya memiliki rencana untuk terbang ke...
  • Image
    PORTOFOLIO (BOOKS)
    Kategori : Nonfiksi - Travel  Judul : Bekerja, Tidur, dan Berjalan di Kutai Timur Penulis : Unesia Drajadispa Penerbit : Stiletto Indie Book...

INSTAGRAM : @FRAUNESIA

Copyright © 2015 Was ist los, Une?

Created By ThemeXpose

Advertisement