Cuap–cuap Risah
8 Mei 2008 21:00 WIB, Risah yang hampir 17 tahun sudah terlahir dari rahim seorang wanita yang mirip sekali dengannya, Ibu. Risah yang hampir 17 tahun menikmati “kontrakannya”, tempat yang disadarinya hanya untuk sekejap mata. Dipertengahan mimpinya, dia mengucap satu kata yang dia senangi, “Alhamdulillah, akhirnya aku bisa merasakan satu detik dalam 17 tahun ku di sini,” harapnya. Risah gadis yang sulit untuk ngambek, yang selalu unjuk giginya, yang percaya diri dalam kehidupannya, yang memiliki sejuta cinta di sini, mensyukuri atas apa yng telah diberikan-Nya hampir selama 17 tahun ini.
Posisi Risah di dunia-Nya yang dinilai amatlah beruntung, lengkap mata kiri dan kanan, telinga kiri dan kanan, tangan kiri dan kanan, dan kaki kiri dan kanan, Ayah dan Ibunya. Risah mengakui bahwa kehidupannya tidaklah sempurna, tidak lengkap karena Risah tidak pernah merasakan satu rasa kasih sayang, belaian, bahkan kecupan dari seorang adik atau kakak. Ya, Risah adalah anak tunggal dari keluarga yang dimilikinya. Ibu Risah sudah dua kali mengalami keguguran, sudah mengusahakan apa yang diminta Risah, seorang adik kecil. Tetapi Yang Maha Kuasa belum memberikannya hingga saat ini.
Mungkin kasih sayangnya bisa disalurkannya untuk anak-anak yang selalu menarik bajunya untuk ikut bemain, yang bernyanyi untuk Risah, bahkan anak-anak yang menunjukkan telapak tangan coklatnya ke atas wajah Risah. “Andai aku memiliki satu diantara mereka, aku tak kan membiarkan mereka seperti ini.” Dari semua itu Risah sangat menyayangi dan menyukai senyum, tawa, bahkan tangis yang dirindukannnya hampir 17 tahun ini.
Risah yang terkadang terlihat muka dan telapak tangannya, selalu ingin menjadi “sesuatu yang sering dipandangnya.” Betapa terlindunginya mereka, dengan memakai kain yang menutupi hampir semua punggungnya, tak satu helai pun rambut yang ditunjukkannya, bahan yang tidak begitu dibentuk, tidak ada belahan, dan dibiarkan panjang hingga menutupi mata kakinya, “Subhanallah,” ucap Risah. Risah selalu membayangkan, “Kapan aku seperti mereka, dan seperti apa ya kalau nanti aku berpakaian seperti mereka?”. Risah yang selalu mencoba mencuri-curi apa saja yang sering dibicarakan mereka. Dan pencuriannya itu menambah sejuta manfaat dan menutupi kekurangan dalam dirinya. Risah yang selalu memandang mereka tanpa terlihat, “Rabb, aku hanya baru bisa membayangkan, mendengar, dan melihatnya, kapan aku bisa melakukannya?” tanya batinnya.
Baca Selengkapnya..
Komentar Terbaru