Kakiku melangkah cepat menyusuri gang kecil yang kumuh. Sesekali aku merapikan rambutku yang tidak berarturan. Tiga kali udah ditelpon, kenapa ngga diangkat. Ah. Tepat di depan pagar kostnya, gelak tawa anak-anak membuyarkan lamunanku. Aku membuka pagar dan langsung masuk, sejenak mataku bertatap dengan mereka yang tengah duduk di warung depan kost ini. Aku tidak terlalu suka anak-anak, mereka bising dan bau. Apalagi yang bisa mereka lakukan selain menangis dan menyusahkan orang dewasa?
Koridor ini langsung menuju ke arah kamarnya yang terletak di paling ujung. Aku mempercepat langkahku. Saat melihat daun pintunya tampak terbuka, aku berlari kecil kemudian langsung terhenti saat melihat badannya yang sedang membungkuk lesu.
“Sayang,” aku melangkah masuk dan meletakkan beberapa bungkus makanan di atas kasurnya. Ia masih berada di balkon, syukurlah. Pemandangan yang tidak begitu buruk memancingku untuk memeluknya sebentar. “Makan yuk, aku udah lapar dari tugas kampus tadi.”
Tangannya kini merangkul lenganku yang mengalungi lehernya, “Maaf ya masih sering ngerepotin kamu, yuk makan, udah nungguin kamu dari tadi nih.” Ia menolehkan kepalanya dan mengecup pipiku. Ia bangkit kemudian masuk ke kamar sedang aku mengikutinya dari belakang. Kamarnya tidak begitu besar, hanya ada kasur, lemari serta beberapa tumpukan barang di salah satu sudut. Kami duduk dengan beralas kasur.
“Aku bawa mie goreng, nasi sama ini, milkshake kesukaan kamuuuuu,” aku mengeluarkan semua makanan dari plastik, sambil sedikit mencicipi makanan yang tak sengaja menempel di tanganku. “Oh iya, gimana kamu seharian? Maaf ya tadi ngga bisa bales, lagi rapat buat acara penerimaan maba gitu di kampus, jadi pada adu argumen.”
“Di situ dari tadi,” Faris menunjuk ke arah balkon. “Aku sambil cari ide, buat nulis juga.” Faris menjelaskan bahwa dirinya tertarik dengan dunia itu, ia sesekali mengunyah nasi dan mie goreng sambil menggerak-gerakkan tangan menjelaskan sesuatu. “Jadi, aku mungkin bakal nulis cerita dari sudut pandang orang itu, namun disisipin plot yang ngga ketebak.”
“Wah, yang ngga ketebak gimana?”
Ia mengambil milkshake yang masih berada di dalam plastik, “Misalnya nih,” perkataannya terpotong ketika mulutnya mengambil sedotan. “Bentar, yang.”
“Hahahaha, iyaaaa, makanya kamu makan dulu baru cerita. Ntar makanannya tumpah, aku ngga mau bersihin, wek,” aku membersihkan mulutnya yang belepotan. “Bentar ya, kamar mandi dulu.”
Aku bangkit dan menuju kamar mandi. Di kamar mandi hanya ada gayung serta ember untuk menampung air dari keran yang berkarat. Shampo serta sabun tersusun di sebuah rak kecil tepat di depan ember itu. Aku kembali dengan cepat, agar tidak membuat dirinya curiga. Satu bungkus mie goreng serta nasi telah dimakannya, kini ia bersandar ke dinding dengan tatapan ke arah pintu balkon. “Kamu kenapa? Cerita sama aku,” aku duduk tepat di sampingnya, tanganku mengenggam erat tangannya. “Eh iya, tadi gimana ide kamu?”
Faris kini menatap mataku. “Emmm, gini,” ia menegakkan sandarannya kemudian bercerita. “Ada perempuan, dia itu nulis cerita di blognya. Pembacanya pasti mikir itu cerita yang sedih, dan si perempuan juga merasa dikasihani. Terus aku ceritain dari awal, nah pas di akhir cerita, aku ceritain kalo dia itu nulis dengan keadaan senyam senyum, bahkan ditemani sama pacar barunya. Ngerti?”
“Bentar,” mataku menyorot mukanya dengan tajam. “Kamu engga nyepik aku, kan?”
“Ya engga dong, masa iya aku nyepik kamu.” Faris tidak bisa menahan senyumnya. “Nanti aku tulis, terus kasih tunjuk ke kamu. Kamu harus baca.”
“Iyaaaa, tulis yang banyak. Aku mau baca semua cerita kamu,” aku mencubit pipinya. Tiba-tiba raut wajah Faris berubah. “Lah, kenapa? Baru juga senyum tadi. Sakit ya aku cubit? Maafff.”
“Engga, kok, cuman kepikiran besok makan apa kalo kamu ngga ke sini,” ia menoleh ke arahku.
“Hahahaha, itu kode ya?” aku memukul bahunya. “Iya, besok aku ke sini lagi.”
“Maaf ya, aku ngerepotin kamu terus. Harusnya aku yang beliin kamu makanan.”
“Ngga apa-apa sayang, nanti kamu bisa, kok. Yang penting kamu semangat, ya?”
“Iya,” Faris memelukku dengan erat. Kemudian ia bertanya sesuatu yang cukup aneh, “Apa yang membuat kamu kuat sama aku?”
“Hah? Maksudnya?” Aku terpelongo. Dari cerita, kemudian sedih tentang makanan, dan menjadi puitis, anak ini maunya apa?
“Maksudnya, apa yang membuat kamu bertahan sama aku.” Faris mengulang pertanyaannya.
“Apa ya, sama kamu aku seneng. Aku jadi lebih kuat, kaya punya anak tau ngurusin kamu. Ya, itung itung latihan. Anak yang udah gede, jadi engga repot amat ngurusnya. Tinggal kasih makan, eh udah gede aja. Hahaha.”
Faris tersenyum, “Bisa aja kamu.”
“Kalo kamu, apa yang ngebuat bertahan sama aku?” aku berbalik menanyainya. “Hayoo apa?”
“Karena kamu sering ngasih aku makanan,” jawabnya dengan datar.
“APA?! Awas kamu ya,” aku melemparnya dengan sisa bungkus makanan yang tergeletak. “Aku ngambek nih, kamu sih.”
“Bercandaaaa, Nadia,” ia mengelus kepalaku. “Udah pacaran selama tiga tahun, masa iya alasan aku karena makanan doang. Jangan ngambek, ntar aku keluarin lagi nih makanannya.”
“Emang bisa?”
“Bisa dong,” Faris bertingkah seolah ingin memuntahkan makanan.
“JANGAN!” aku menghentikannya, walau berpura-pura, jika dia benar-benar muntah nanti mau tidur di mana. “Janji ya, jangan tinggalin aku?”
Dia menjawab dengan sebuah anggukan. Ia memunguti sisa makanan yang terjatuh di atas kasur dan memasukkannya ke bungkus makanan, kemudian membuangnya ke tong sampah di samping pintu. Aku memandangi kamarnya sejenak. Cat krim yang telah terkelupas di bagian atas, serta bekas paku yang memenuhi setiap sisi dinding. Aku harus bekerja lebih keras. Aku melangkah ke balkon, hembusan angin menusuk pakaianku. Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada, sementara mataku terpaku dengan sebuah gedung tinggi. Dia tidak begitu tinggi, namun yang menjadi daya tarik utama adalah sisinya dilapisi seperti kaca. Awan yang berarak di langit, terpantul bersih di sisi gedung tersebut.
Aku bertaruh, pasti banyak orang yang menatap gedung tersebut dengan waktu yang lama. Mengagumi keindahan serta struktur bangunan. Berapa lama pembangunannya, dan sampai kapan gedung itu dapat berdiri? Ibarat gedung, mungkin aku merupakan gedung tinggi, dengan sejutan korban yang diakibatkan olehnya.
Tanganku meraih handphone di saku flannel hitamku, kemudian mengirim pesan singkat ke nomor di kontakku.
“Udah ditransfer belum? Cepat, ya, aku butuh banget nih.”
Pukul satu malam, mungkin aku akan tidur di sini. “Nad, udah malem, kamu tidur di sini aja, ya?” suara Faris memanggilku untuk masuk ke dalam.
“Iya, aku tidur di sini ngga apa-apa, kan? Besok aku udah balik lagi, hehehe.”
Aku masuk ke kamar kemudian menutup pintu rapat-rapat, layaknya sebuah masa lalu yang kelam. Aku melepas flannel hitamku dan merebahkan diri di kasur yang kecil ini. Hembusan nafas Faris di leherku seolah memberi irama konstan. Ia memelukku, sambil sesekali berbisik tentang masa depan. Aku tersenyum ketika mendengarnya, tentang bagaimana ia masih memiliki mimpi dan impian. Ia memiliki yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Namun sayang, ia juga tidak memiliki apa yang orang lain punya.