Don’t Open That Room | Part 4 | End

Don’t Open That Room
Part 4

Author : min Wonnie

Cast : Jessica
Kriss

Other Cast : Yoona, Siwon, Seohyun, Sulli, n Amber

Genre : Horror, Mystery (?), Romance

Tetep yah ditunggu kritik dan saran nya.

Happy Read >CEKIDOT<

“Yoona” ucap sebuah suara yg datang dengan tiba-tiba dan sedang berdiri didepan pintu..

Jessica dan Kriss menoleh ke arah suara tersebut. Begitu juga dengan hantu yeoja yg bernama Yoona itu.

“Yoona..”

“Yoona. Hentikan.”

“Choi.. Songsaengnim” Ucap Jessica dan Kriss serentak. Namun pria itu tak menghiraukan mereka berdua.

“Yoona..”

“Siwon !!” ucap hantu yeoja bernama Yoona itu lirih. Seketika ia menghentikan aktifitas nya untuk mencekik Jessica dan terus memandang ke arah namja bernama Siwon itu. Ya, Siwon adalah Wali kelas Jessica.

Jessica dan Kriss hanya bisa memperhatikan dua orang itu saling bertukar tatapan.
Tubuh mereka seolah mematung ditempat dan kini mereka hanya bisa terpaku menyaksikan dua orang tersebut.

“Yoona. Kenapa kau lakukan ini, apa kau ingin membalas dendam. Kau boleh membunuh ku sekarang, aku tau kau sakit hati padaku. Sehingga kau bunuh diri.”

“Kau salah Siwon. Kau salah jika mengira aku bunuh diri..” Yoona berjalan mendekati Siwon.

“Apa.. Apa maksud mu ? Bukan kah waktu itu__”

FLASHBACK

10 years ago

Kring Kring..

Bel berbunyi dan semua murid wajib memasuki kelas mereka masing-masing.

Tidak lama songsaengnim pun datang dan membawa seorang siswi, yg kelihatan nya adalah murid baru dikelas tersebut. Siswi dengan rok panjang dan baju yang dimasukkan kedalam. Kacamata tebal yang melingkar menghiasi mata nya, dan rambut yg dikepang dua. *bayangin sendiri*

“Anak-anak. Hari ini kalian kedatangan murid baru. dia adalah siswi penerima beasiswa dari sekolah kita. Silahkan perkenalkan dirimu” ucap songsaengnim kepada murid baru itu.

“Ne.. Annyeong, Nama saya Yoona. Senang bertemu dengan kalian.” ucap Yoona sembari tersenyum dan sedikit membungkuk.

“Silahkan duduk disamping Siwon”
Yoona pun berjalan kearah Siwon.

Brugh!! Tubuh nya jatuh kelantai,

“Ups.. Kenapa tuh lantai dicium, hahaha” ucap seorang yeoja yg sengaja menghalangi kaki Yoona. Seluruh murid dikelas pun dibuat tertawa oleh adegan yang menurut mereka itu “Lucu”.

“Sudah sudah. Kita kembali belajar”
.
.
.

Bel istirahat berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas. Tapi tidak dengan Yoona, ia hanya duduk dikelas dengan membaca buku nya. Ditemani Siwon yg masih duduk disamping nya.

“Hey.. Nama mu siapa tadi” ucap Siwon memulai percakapan diantara mereka.

“Yoo.. Yoona.. Nama ku Yoona” ucap Yoona sedikit gugup karena namja tampan itu bertanya siapa nama nya.

Siwon adalah seorang namja yg sangat populer disekolah, selain dia tampan dia juga pintar dan terkenal sangat ramah dengan semua orang. Tak heran banyak yeoja disekolah itu tertarik untuk mendekati bahkan sekedar mencari perhatian Siwon.

Yoona dan Siwon sedang asyik mengobrol tanpa disadari nya 3 orang yeoja tengah memperhatikan mereka dengan tatapan yang sinis.

“Cih..!! Murid baru itu sungguh menyebalkan” Ucap yeoja dengan rambut pendek.

“Bahkan dengan ku saja Siwon tak pernah seperti itu” Kemudian Yeoja berambut panjang menyahut sambil menatap tajam Siwon dan Yoona yg sedang mengobrol.

“Seohyun, kau tenang saja. Kita akan membalas nya” Ucap yeoja berponi kepada yeoja berambut panjang yg diketahui bernama Seohyun.

“Aku setuju dengan Sulli. Kita harus memberinya pelajaran.” Yeoja berambut pendek itu membenarkan perkataan yeoja berponi yg bernama Sulli.

“Iyadong Amber sayang.” ucap Sulli kepada Amber, yeoja berambut pendek.
.
.
.

Sudah satu minggu Yoona berada di sekolah elit itu, dan dia semakin akrab dengan Siwon. Namun ia tidak menyadari bahwa kedekatan nya dengan Siwon membuat murka Seohyun.

Yoona berjalan menuju kelas nya, entah kenapa hari ini ia berangkat terlalu pagi dan sekarang ia tidak menemukan siapa pun didalam kelas. Ia berjalan menuju meja nya dan alangkah terkejut nya ia saat mendapati keadaan meja nya.

“Omona!!” Yoona menatap meja nya yg kini telah dipenuhi dengan coretan-coretan. “KUTU BUKU” “KAU TIDAK PANTAS DISEKOLAH ELIT INI” “JANGAN PERNAH DEKATI SIWON” “KAU AKAN MATI” bla bla bla
“kenapa ini. siapa yang melakukan nya”

Prok Prok Prok

Terdengar suara tepukan tangan yg sangat keras dan menggema diseluruh ruangan kelas yg sangat sepi itu. Tepukan tangan yg berasal dari Seohyun, Sulli dan Amber.

“Ka.. Kalian..” Ucap Yoona dengan terbata.

“JANGAN PERNAH BERANI MENDEKATI SIWON, ATAU KAU AKAN TAHU AKIBAT NYA” Ucap Seohyun yg kini telah menarik tangan Yoona.

“A-apa maksud mu.. A-aku tidak__”

“Kau kira kami buta hah.. Kami melihat semua kelakuan busukmu itu, kau berusaha menggoda Siwon bukan” kini Sulli ikut menimpal perkataan Seohyun.

“Ka-kalian salah.. A-Aku, Aku tidak___”

PLAKK..!!!

Sebuah tamparan keras dari Seohyun berhasil mendarat dipipi Yoona. Pipi nya memerah seketika, Yoona meringis kesakitan tapi ia tidak berani melawan mereka bertiga.
.
.
.

Yoona masih menundukan kepala nya sambil memegangi pipi nya yg merah karena ditampar Seohyun.

“Yoona.. Apa yg terjadi. Ada apa dengan mejamu.” ucap Siwon yg tiba-tiba datang dan langsung duduk disebelah Yoona. Belum sempat Yoona menjawab kini Siwon telah memalingkan wajah Yoona dan kini menghadap nya. Siwon menyingkirkan tangan Yoona dan ia terkejut saat melihat bekas tamparan dipipi Yoona.

“Ini.. Siapa yg melakukan nya. Katakan pada ku Yoona” Yoona menggeleng. sementara itu Seohyun n Friends terus menatap kearah mereka berdua.

“SIAL!! seperti nya ini belum cukup untuk membuat dia jera” ucap Seohyun dengan wajah yg terlihat sangat marah.

“Tenang saja Seo, dia akan dapat hadiah dari kita.” Amber menyeringai memandang Yoona.
.
.
.

Yoona berjalan kearah taman belakang sekolah. melihat Siwon yg sedang duduk disana Yoona pun segera menghampiri nya.

“Siwon.. Boleh aku duduk disini”

“Ne.”

“Hemm.. Boleh aku mengatakan sesuatu”

“Ne boleh” jawab Siwon singkat

“AKU.. AKU MENCINTAI MU Siwon”

“MWO ?” Siwon langsung menghentikan aktifitas nya dan kini ia sedang menatap Yoona dengan tatapan yang bingung dan heran.

“Aku mencintai mu, maaf kan aku mengatakan ini. Tapi aku sungguh mencintai mu..” Yoona menundukan wajah nya yg memerah karena dia malu, dia terus merutuki dirinya dalam hati. Kenapa ia begitu ceroboh menyatakan perasaan nya pada Siwon.

“Yeoja Bodoh!! Dia berani menyatakan cinta pada Siwon” Ucap Sulli yg diam-diam mengikuti Yoona dan bersembunyi dibelakang pohon.

“Maaf kan aku Yoona.. Aku tidak bisa..”

“Kau tidak menyukai ku.. ”

“Aku menyukaimu.. Tapi__”

“Karena aku Jelek, kutu buku. maka nya kau tidak mau jadi Namja chingu ku.. Benar bukan.”

“Bukan Yoona.. Bukan begitu.. Aku__”

“Lupakan.. Anggap saja aku tidak pernah bicara seperti itu.” Yoona pun segera pergi meninggalkan Siwon disusul dengan Sulli dan segera melapor ke Seohyun..

Ke esokan hari nya. Sekolah digemparkan dengan ditemukan nya seorang siswi yang mati dan diduga bunuh diri. Siwon masuk dan menembus semua kerumunan itu menuju ruang kelas nya yg sangat ramai.

Siwon langsung membelalakkan mata nya begitu melihat siapa siswi yg bunuh diri itu. Yoona, siswi yg kemarin menyatakan perasaan kepada nya. Ditemukan tewas dengan tubuh yg tergantung dan dengan nadi yg teriris.

“Yoona..” Siwon sedikit tak percaya dengan apa yg sedang dilihat nya.

Diduga kuat Yoona mati bunuh diri, karena dimeja nya ditemukan sebuah surat.

To : Siwon

Maafkan aku. Aku terlalu malu karena kau telah menolakku, aku merasa tidak sanggup jika harus bertemu dengan mu.

Selamat Tinggal..

From : Yoona

FLASHBACK END

“Kau salah Siwon. Aku tidak bunuh diri” ucap Yoona yg kini sudah merubah wujud nya menjadi Yoona yg cantik tanpa kacamata dan rambut kepang nya.

“Apa maksud mu.. Surat itu, bukan kah surat itu darimu” Yoona segera menggeleng dan menceritakan kejadian sebenarnya.

FLASHBACK

Sore itu Yoona pulang terlambat karena harus menyelesaikan beberapa tugas yg belum sempat ia kerjakan. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 tapi Yoona masih sibuk dikelas nya.

BRAK!!

Pintu tertutup dengan keras disusul dengan suara langkah kaki. Seohyun, Sulli dan Amber berjalan mendekati Yoona. Yoona pun segera berdiri karena takut, Seohyun terlihat membawa pisau ditangan nya. Yoona berjalan mundur namun dicegah dengan cepat oleh Sulli.

“Kudengar tadi siang kau menyatakan cinta pada Siwon ? Benar kah ? ” ucap Seohyun yg kini tangan nya sedang menggenggam kerah baju Yoona dengan pisau ditangan kiri nya.

“A-aku.. A-aku tidak..”

Brukk!!

Seohyun tiba-tiba mendorong kepala Yoona hingga membentur tembok. Kepala nya berdarah namun tidak banyak, tapi cukup untuk meninggalkan bercak ditembok itu.

“Ja.. Jangann..” ucap Yoona dengan sisa tenaga yg ia punya.

SREEETTT

Seohyun yg kalap langsung mengiris tangan Yoona tepat dipergelangan nya. Memotong nadi nya.

Tes Tes
darah segar mengalir dari tangan Yoona, membasahi seluruh baju dan rok milik nya. Tidak lama Yoona pun tergeletak dilantai.

Sulli dan Amber hanya bisa memandangi tubuh Yoona yg sudah tergeletak tak bernyawa. Sementara Seohyun sedang sibuk memikirkan apa yg harus ia lakukan sekarang.

“Sul.. To-tolong ambilkan tali di gudang.” perintah Seohyun kepada Sulli. Sulli pun mengangguk dan segera mengambil tali di gudang.

“Amber. Bantu aku mengangkat tubuh Yoona ke meja nya”

“Ne.”

Tidak lama, Sulli datang dengan membawa tali tambang dan langsung menyerahkan kepada Seohyun.

“Kita buat dia seolah-olah mati bunuh diri. Sulli, tolong kau buat surat dari Yoona untuk Siwon. Agar ini terlihat seperti bunuh diri sungguhan”

Sulli dan Amber pun mengangguk, dan menuruti semua perintah Seohyun.
Sulli dibantu dengan Amber segera mengangkat tubuh Yoona, sedangkan Seohyun tengah menyiapkan tali untuk menggantung Yoona.

Yoona sudah dalam keadaan tergantung d.atas meja nya sendiri dengan sebuah surat di atas meja nya.

“Beres. Sebaiknya kita pulang sebelum ada yg melihat kita.” ucap Seohyun kepada Sulli dan Amber.

“Ne.” jawab mereka bersamaan

FLASHBACK END

“Jadi.. Kau__” ucapan Jessica kemudian dipotong oleh Siwon

“Kau tidak bunuh diri. Ya Tuhan, kenapa aku tidak curiga waktu menemukan bercak darah di dinding tembok. Dan waktu melihat kepala mu seperti ada bekas benturan” ucap Siwon dengan penuh penyesalan.

“Surat itu, seharus nya aku tau kalau tulisan itu bukan tulisan mu. Mianhae Yoona. Mianhae,,” Timpal Siwon lagi.

“Sudahlah. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang.”

“Seohyun, Sulli dan Amber. Mereka bertiga tewas. Apa__”

Yoona tersenyum kecut mendengar ketiga nama orang yg telah membunuh nya.

“Aku lah yg telah membunuh mereka. Seperti nya waktu ku sudah habis.”

Yoona memandang kearah Jessica dan tersenyum sebelum menghilang untuk selama nya..

Jessica dan Kriss pun terbebas dari keadaan mematung nya. Dan kini mereka telah berdiri disamping Siwon Songsaengnim yg sedang menangis *cengeng lu bang* #Eh

Siwon menghelas nafas nya panjang “Sekarang ayo kita pulang.” ajak Siwon kepada kedua murid nya. Jessica dan Kriss pun mengangguk dan segera keluar dari kelas itu.

“Kriss.. Kenapa kau tau aku disini” tanya Jessica yg masih bingung dengan kedatangan Kriss..

“Hehe.. Aku penasaran dan perasaan ku tidak enak, maka nya diam-diam aku mengikuti mu”

“Dan Songsaengnim kenapa bisa berada disini.” kini Kriss yg bertanya pada Siwon songsaengnim.

“Aku sedang menghirup udara malam, dan tidak sengaja aku melihat mu seperti mengikuti seseorang. Jadi aku juga ikut mengikuti mu.”

Sejak saat itu, kelas kosong tersebut tidak lagi kosong dan digunakan seperti kelas biasa. Kelas ‘angker’ pun sudah tidak ada disekolah tersebut.

1 Year Latter

Sekarang Jessica dan Kriss sudah semakin mend
204 orang dijangkau
ekati Ujian Nasional karena mereka sekarang berada ditingkat 3 SMA tersebut.
Pagi itu kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan seperti biasa, suasana yg hening dan tenang tiba-tiba pecah.

“AAAAAAAAAA” suara teriakan kembali terdengar. Jessica segera memandang k.arah Kriss dan Kriss hanya bisa menelan ludah sambil memandang ke arah Jessica.

END !!

Huwaaaaaa… Akhir nya End juga.. Fiuuhhh *usap keringat*
Ending nya Gaje yah, aneh

Second Chance | OneShoot | Jessicachu Fanfiction

For gue

Second Chance

Author : Dina
Cast :
Jessica
Luhan
Kris
Genre : Romance /Maybe/

Ini ff pertama yoo setelah balik dari hiatus selama 1 tahun penuh Xd /gak nanya/ kali ini nyoba romance dulu. Mungkin masih banyak kurangnya. Mungkin juga selanjutnya saya bakal ngelanjutin ff somplak bertema KUPRET xD yg setia baca ff saya pasti tau itu KUPRET xD

Yodahlah.. daripada banyak colot-colot/? Mending baca aja.. kkk~

*HAPPY READ*

Jika kesempatan itu datang kembali
Kesempatan yang kedua
Jika masih diizinkan, hanya untuk satu kali lagi saja
Bahkan jika itu hanya satu detik
Aku—aku ingin melihatmu sekali lagi.

Siang itu. Derasnya guyuran hujan di bawah naungan langit hitam kota Seoul, hujan pertama dimusim ini. Hari ini Seoul benar-benar seperti kota mati. Semua kendaraan bermotor lebih memilih memarkirkan dirinya di garasi masing-masing. Hanya orang bodoh saja yang berani menantang hujan tak berperasaan ini. Hujan yang seperti ingin melenyapkan semua penduduk, benar-benar hujan pertama yang dahsyat.

Petir dan kilat pun ikut menemani derasnya amukan hujan di sore hari ini. Hanya orang bodoh—orang bodoh yang berjalan tanpa penutup kepala di tengah guyuran hujan sekarang ini, orang bodoh yang berjalan lemah seperti ingin meminta hujan untuk membawanya pergi. Sungguh—orang yang benar-benar bodoh.

Jessica—gadis bodoh itu bernama Jessica. Gadis bodoh yang berjalan di tengah amukan hujan yang teramat deras. Bahkan butiran air yang jatuh itu sudah tidak berbentuk air, melainkan hampir menyerupai batu. Dan gadis itu berjalan tak tentu arah dan tanpa penutup kepala. Tanpa payung dan bahkan tanpa topi jaket yang setidaknya bisa melindungi benda keras bernama kepala itu.

Gadis bodoh itu—Jessica—hanya berjalan lurus tanpa mempedulikan rasa sakit di tubuhnya akibat dentuman hujan yang menimpa dirinya.

Hujan yang mengguyur tubuhnya saat ini, hujan ini pula yang membawa pergi dia—cintanya—masa lalunya. Membawa pergi kenangan masa lalunya. Bagi Jessica, sekejam apapun hujan ini. Ia akan tetap menantangnya—untuk bertemu dengan kesempatan keduanya. Jika itu masih ada.

Hampa dan sendirian di tengah hujan. Kakinya terus saja melangkah tanpa diperintah olehnya, hingga kakinya berhenti dan tiba-tiba saja Jessica berlutut di depan sebuah gereja tua. Tentu saja, Meminta sebuah kesempatan kedua datang kepadanya. Datang untuk ia dan masa lalunya
Jessica terus memanggilnya. Memanggil namanya.

Ia berlutut dengan kedua telapak tangan bersentuhan dengan kerikil-kerikil tajam yang mampu menusuk kulit halusnya.

“Sekali saja Tuhan. Biarkan aku bertemu dengannya. Berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu..” desisnya pelan dengan mendongakkan kepala menghadap langit. Membiarkan butiran kasar air hujan menghantam wajah cantiknya.

“Disini.. aku melepaskannya. Aku menyesal Tuhan. Aku sungguh menyesali semuanya..” sesal Jessica.
kini buliran air hujan itu berlomba untuk mencapai titik terbawah, berlomba dengan derasnya air mata yang dihasilkan oleh manik kecokelatan milik Jessica. Mencoba menghapus sebuah kesalahan yang pernah ia lakukan. Mungkinkah? Hanya dengan meminta ia bisa melakukannya..
.
.
.

Aku mencintanya. Aku sangat mencintainya. aku memang bodoh, melepaskannya hanya karena keegoisanku. Ya. Tepat di depan gereja tua ini. Aku mengumpat dengan kata-kata kasar kepadanya. Aku menyesal. Penyesalan bodoh ini hanya sia-sia. Aku bahkan tidak pantas lagi untuk meminta sebuah kesempatan.

Dan jika aku masih diberi kesempatan itu, aku akan kembali ke waktu itu. Saat dimana aku dengan mudahnya melepaskan dia. Dia yang benar-benar mencintaiku. Dia yang sangat mengerti akan diriku. Dia yang tidak pernah lelah untuk mencintaiku. Dan aku melepaskannya begitu saja.

***8 SECOND CHANCE 8***

“Jess.. benarkah kau tidak ingin aku untuk tetap tinggal disini? Benarkah kau tidak ingin memintaku untuk tetap disini?” tanya seorang laki-laki dengan setelan jas hitam dan sebuah koper besar yang berada di sampingnya. Laki-laki berperawakan tinggi dengan kacamata hitam yang menempel di kedua telinganya. Laki-laki berkulit putih dengan rambut soft brownnya.

“Untuk apa aku memintamu tetap tinggal disini hah. Memangnya siapa kau?” sahut seorang gadis yang berada tepat di depan laki-laki itu, tepatnya gadis itu sedang memberikan punggung kepada laki-laki tersebut.
Laki-laki itu hanya bisa memandangi punggung sang gadis yang tertutup hoodie bergambarkan hello kitty itu. Tanpa bisa bertemu langsung dengan wajahnya.
Baginya, walaupun ia hanya diberikan sebuah punggung. Ia sangat bahagia. Karena ia— sangat mencintainya.
“Aku. Aku adalah Luhan. Orang yang mencintaimu. Sangat mencintaimu Jess. Dan kau tahu itu. Aku adalah Luhan yang tidak pernah lelah untuk mendapatkan balasan cinta dari seorang Jessica. Aku adalah Luhan yang—yang akan pergi. Bukan aku menyerah untukmu, tapi aku hanya pergi untukmu.”

“Pergilah. Dan jangan kembali. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu. Kau hanya parasit antara aku dengan dia.”

Luhan hanya tersenyum.

“Baiklah.. aku pergi untukmu. Bukan untuk mengalah ataupun aku menyerah. Ini semua aku lakukan untukmu. Untuk cintaku.”
Detik demi detik berlalu, hingga Jessica tidak menyadari bahwa laki-laki itu sudah menghilang dari belakang punggungnya. Laki-laki itu—Luhan. Sudah pergi dalam diam- dalam kehancuran yang melanda hatinya.
Tapi ada satu yang ia ketahui. Jessica juga mencintainya. Dan ia tersenyum dalam kepahitannya sekarang.

.
.
.
.
.

Aku menyesali semua perkataanku. Aku menyesali semua kata yang terucap dari mulut bejat ini. Dan Kris- kau benar. Dia bukan orang yang tepat untukku. Sungguh aku merasa seperti orang yang paling bodoh di dunia ini. Aku sudah menyi-nyiakan cinta yang benar-benar tulus untukku.

Cinta dan perhatian yang bahkan tidak pernah aku dapatkan dari siapapun selain dirimu. Cinta dan ketulusan tentang sebuah perasaan. Dan aku hanya mengatakan bahwa ‘Aku Tidak Mencintaimu’. Dan sungguh, saat itu aku memang buta akan perasaanku sendiri.

“Tuhan..”

Menit sudah berganti menjadi hitungan jam. Hingga mendung langit pun sudah berganti menjadi panasnya terik matahari. Ia masih saja bodoh dan tidak menyadari bahwa semua pakaian ditubuhnya kering dibadan. Bahkan ia tidak merasa kedinginan sedikitpun.

Tidak sedikitpun terlintas dibenaknya untuk pergi dari tempat itu, bahkan hanya sekedar untuk menggeser posisinya yang tetap teguh untuk berlutut. Seakan meminta pertolongan. Permohonan yang ia sendiri tidak tahu akan jawabannya.
.
.
.
.
.
Jessica sangat bahagia hari ini, bisa bercengkrama dengan seseorang yang ia sukai. Bukan hanya Jessica- tapi hampir semua gadis di kampus itu menyukai laki-laki tersebut. Dan dengan bangga Jessica duduk di sebelah laki-laki tampan bernama Kris itu. Ia juga terlihat sering mengeluarkan senyum manisnya ketika dekat dengan Kris.
“Ada apa denganmu Jess?” tanya Kris yang sedikit risih dengan kelakuan Jessica hari ini.
“Tidak bisakah kau bersikap wajar di depanku.. kau terlihat aneh dan bukan cantik.” sindir Kris dengan nada yang pelan namun cukup menusuk. Tapi Jessica tidak mau mendengarkannya. Yang ia tahu hanya lak-laki tampan sedang duduk di sebelahnya.
“Jess………………. “ dari jauh terdengar suara teriakan memanggil-manggil nama Jessica. Dan langsung membuat wajah Jessica berbuah drastis. Wajah cantiknya mulai menekuk dan bibirnya mengerucut.
Selang beberapa detik kemudian, laki-laki yang tadi berteriak itu pun sampai di tengah-tengah Jessica dan Kris. Membuat Jessica semakin geram. Dengan wajah tanpa dosa, laki-laki itu duduk di tengah Kris dan Jessica, memaksa Kris untuk melonggarkan posisinya yang menurutnya sangat dekat dengan gadisnya.

“Yaaakkk… apa-apaan kau Xi Luhan!” bentak Jessica dengan kedua tangan yang mengepal sempurna. Ia sangat kesal.
“Apa— apa yang salah denganku?” sahut Luhan masih dengan ekspresi wajahnya yang polos- tanpa merasa bersalah.
“Kau—benar- ben—
“Kris tunggu.. kau mau kemana? Kita belum selesai…” Jessica langsung menhentikan omelannya setelah melihat Kris berdiri dan mulai menjauh.
“Selesaikan dulu masalahmu dengannya, baru kau temui aku lagi..” ucap Kris sambil melambaikan tangannya ke arah Jessica.
”Kris tungguuuu…..” baru saja Jessica hendak berdiri untuk menyusul Kris, Luhan sudah berhasil menahan tangan Jessica untuk tidak beranjak dari sana.
“Krisss…
“Yaaakkk!! Ada apa denganmu hah? Kenapa kau selalu mengacaukan acaraku dengan Kris? Arrgghhhh!!!” kesal Jessica- sekuat tenaga ia menarik nafasnya- menahan amarahnya.

Luhan hanya trkekeh geli melihat Jessica yang benar-benar marah akibat ulahnya.
“Kau sudah tahu Jess.. karena aku menyukaimu.” Bisiknya pelan, tentu saja Jessica tidak mndengarnya. Karena ia sibuk mengatur nafasnya agar ia bisa menahan kekesalannya terhadap laki-laki yang masih menahan tangannya itu.
.
.
.
.
Hari demi hari bergilir begitu cepat, sama seperti kehidupan orang-orang pada umumnya. Begitu juga dengan Jessica. Ia cukup merasa bahagia. Ia tidak perlu lagi berteriak untuk menghentikan ocehan laki-laki yang selalu menghujaninya dengan kata-kata mesra. Ia juga tidak perlu lagi mendengus kesal ketika seseorang terus mengikutinya dan mengacaukan semua rencananya. Dan satu lagi, ia tidak perlu merasa takut kepada seseorang akan kedekatannya dengan laki-laki itu.

Karena laki-laki itu sudah pergi jauh. Tidak untuk selamanya. Ia hanya pergi untuk mengejar pendidikannya yang tidak mungkin ia dapat di Universitas Seoul. Dan ia juga tidak ingin melihat gadis yang ia cintai selalu merasa terbebani akan kehadirannya.

Hari itu sudah tepat satu bulan kepergian Luhan. Awalnya Jessica tidak merasakan apa-apa, bahkan ia merasa bahagia. Tapi—entahlah. Hanya Jessica yang mengetahuinya.

Jessica, gadis yang saat ini sedang menginjak usia 22 tahun, dan sedang menyelesaikan kuliahnya di Universitas Seoul. Universitas yang sama dengan Luhan, pada awalnya.
Dengan beberapa buku di kedua tangannya, Jessica berjalan dengan cepat menuju kampusnya- lebih tepatya ruangan ia mengejar pendidikannya. Seni Vocal- karena Jessica terkenal mempunyai suara yang teramat merdu. Dan itu menjadi salah satu daya tarik Jessica selain wajahnya yang sangat cantik.

Namun sayang, kecantikan paras dan suaranya sama sekali tidak tercermin dengan kepribadiannya. Jessica juga dikenal sebagai gadis yang angkuh dan sombong. Walaupun terkadang ia sangat menggemaskan. Itulah yang membuat Luhan jatuh hati kepadanya.

Setelah satu bulan libur musim panas, Jessica sudah tidak sabar untuk kembali ke Universitasnya- bukan hanya itu. Ia juga tidak sabar untuk bertemu dengan- nya. Dia—yang membuat Jessica akan menyesali keangkuhannya. Dengan angkuh ia berjalan menuju ruang kelasnya, perasaan berdebar tiap kali Ia hendak menuju kesana selalu dirasakannya.

Tak berapa lama- tempat yang ia tuju sudah di depan mata. Tempat dimana ia selalu menumpuk semua imajinasi tentang-nya. Pandangannya sejurus ke depan, dan benar saja. Apa yang ingin untuk ia lihat pertama kali sudah begitu nampak dan jelas. Dengan segera ia bergerak menuju sesuatu yang sejak tadi menyita perhatian matanya.

Tak jauh di depannya, seorang laki-laki dengan tubuh semampai dan rambut coklat yang mungkin dialah objek dari pandangan Jessica bangkit dari tempat duduknya. Ia tidak menghampiri Jessica, melainkan hanya berdiri- menunggu gadis itu datang padanya.

Jelas ia melihat Jessica tersenyum padanya, tapi haruskah ia membalasnya. Haruskah ia mmbalas senyum gadis cantik yang angkuh itu. Tidak—sama sekali tidak ingin ia untuk melakukannya.

“Hai Kris. Lama tidak bertemu. Apa kau merindukanku ? seperti aku juga merindukanmu.?” Celoteh Jessica segera setelah ia berhasil berdiri satu langkah di depan laki-laki itu. Kris namanya.

“Ya. Memang lama, tapi itu hanya satu bulan Jess. Jangan berlebihan.” Sahut Kris dengan nada tidak sukanya.

Bagaimanapun gaya berbicara Kris, ia tetap laki-laki tampan dan sempurna di mata Jessica.

“Bagaimana.. Apa dia sudah pergi?.” Tanya Kris memecah suasana hening yang cukup lama antara mereka. Jessica sedikit terkejut mendengar pertanyaan Kris tersebut.
Jessica mendongak menatap Kris yang sedang tidak menatap dirinya. “Ya. Dan aku bahagia.”
“Benarkah?” sahut Kris lantang. “Kupikir kau bukan gadis seperti itu. Kau cukup senang bila dia mendekatimu.” Sambungnya lagi. Kali ini mengarahkan pandangan meremehkan kepada Jessica.
“Tidak. Kau sudah tahu jawabannya. Aku lebih memilihmu. Dan kau tahu itu.”
“Aku- kenapa harus aku?” pertanyaan bodoh yang jelas Kris sendiri sudah tahu jawabannya.
“Aku lebih menyu__
“Tunggu…” potong Kris cepat sebelum Jessica menyelesaikan semua ucapannya.

Jessica mengkerutkan keningnya sambil memandang penuh tanya kepada Kris. Seolah mengerti, Kris pun mulai melanjutkan apa yang tadi hendak ia sampaikan.

“Aku hanya ingin meluruskan. Aku takut selama ini kau salah paham. Aku—

Jessica semakin dibuat heran dengan kata-kata Kris yang seperti sengaja ia potong-potong.
“Selama ini aku hanya membantumu.” Tegas Kris dengan suara yang cukup nyaring, bahkan beberapa mahasiswa yang ada diruangan yang sama dengan mereka dapat mendengar dan sebagian menoleh ke arah mereka.

“Apa maksudmu? Membantuku?” tanya Jessica yang semakin penasaran.

“Aku tahu kau tidak menyukai dia selalu mendekatimu, jadi aku sengaja membantumu untuk lepas dari Luhan dengan berada selalu di sampingmu. Aku juga berpura-pura marah saat laki-laki itu mulai mendekatimu. Aku hanya membantumu Jess. Jangan kau anggap semua ini serius.” Jelas Kris panjang lebar. Sementara Jessica? Untuk saat ini Jessica hanya diam mematung di tempat ia berdiri. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Aku sudah bertunangan dengan Yoona. Aku dan dia sepakat untuk membantumu. Tanpa memberitahumu bahwa aku dan dia sudah menjalin hubungan cukup lama. Dan ini juga sebagai pelajaran untuk gadis angkuh sepertimu.” Terakhir kali Kris mempertegas ucapannya dan kemudian berlalu pergi tanpa rasa bersalah, meninggalkan Jessica yang masih terdiam dengan keadaan tangan yang mengepal lalu memukul pelan dadanya selepas kepergian Kris dari hadapannya.

Sakit—begitukah rasanya sakit? Bukan karena ia merasa dibodohi oleh laki-laki pengecut itu. Tapi karena ia yang merasa sangat bodoh.
Apakah seperti itu rasanya sakit saat kita dikhianati cinta. Saat cinta tidak menginginkan kita.
Apakah seperti itu rasanya sakit hati saat cinta kita tidak berbalas.
Apakah Luhan merasakan sakit seperti ini.
Tidak—Luhan jauh lebih sakit.

Jessica lemas seketika, lututnya bergetar seakan tidak mampu lagi untuk menopang berat badannya. Saat itulah ia menyadari, betapa berharganya dia. Dia yang sudah ia buang- dia yang sudah ia sia-siakan. Saat itulah ia merasa kehilangan.
.

.

.
“Kris.. Apa aku boleh duduk disini?” tanya Jessica yang terdengar seperti sbuah permintaan, kepada siapa lagi kalau bukan Kris. Laki-laki itu sedang mendengarkan musik di ruang kelas mereka, dengan earphone yang setia menempel di telinganya.”

Kris hanya diam. Tidak menolak dan juga tidak mengiyakan. Ia terlalu asyik dengan musiknya. Sekilas ia memandang ke samping, dimana disana sudah ada Jessica yang duduk manis. Kris mengerutkan keningnya- melepas eraphonenya kemudian.
“Wae?”
“A—tidak. Hanya saja kau terlihat tampan.” Pujinya malu-malu.
“Ck.. yang benar saja, bukankah aku memang tampan dari dulu. Dan kau tahu itu.” Sombong Kris. Sifatnya memang hampir sama dengan Jessica. Sama-sama dingin dan sombong.
“Jess.. disini rupanya. Aku mencarimu..” lagi dan lagi. Seseorang yang tidak pernah diharapkan Jessica datang dan menghancurkan hari bahagianya. Selalu dan selalu saja disaat ia tengah melakukan pendekatan dengan Kris.
“Luhann!!” geram Jessica- merapatkan giginya dengan mata yang melotot ke arah Luhan.
“Apa kau kekasih Jessica? Kenapa kau selalu mengganggunya?” selidik Kris. Sebenarnya ini bukan urusan Kris, tapi ia cukup penasaran.
“Tidak—dia bukan kekasihku—“ sangkal Jessica penuh penekanan dengan kata ‘bukan’
Namun berbeda dengan Luhan.
“Benar. Aku adalah kekasih Jessica. Jadi jangan mendekatinya lagi.. arasseo?” bentak Luhan dengan nada mengancam. Membuat Kris semakin dibuat geli akan ulah Luhan.
“Heyy.. kenapa aku harus mendekatinya, sementara dia yang selalu mendekatiku.” Elak Kris. Memang benar. Jessica lah yang selalu mendekatinya.
“Aku pergi dulu..” ucap Kris yang kemudian pergi meninggalkan Jessica dan Luhan.
“Kau…” Jessica berdiri dengan bibir yang mengatup rapat. Sepertinya akan ada serangan pribadi terhadap Luhan dari Jessica. Dan benar saja, Jessica langsung merutuk kata-kata pedas kepada Luhan. Dan lagi- Luhan hanya menganggap itu sebagai sebuah lantutan lagu romantis.
“ AKU MEMBENCIMU XI LUHAN! TIDAK BISAKAH KAU PERGI DARI HIDUPKU. AKU SANGAT MEMBENCIMU!” kesalnya dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.
“Dan aku menyayangimu..” sahut Luhan dengan penuh harap.
“Bulshit dengan perasaanmu Lu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melihatmu. Aku menyukai Kris. Aku mohon kau pergi. Biarkan aku bersama Kris.” Pinta Jessica lagi. Kali ini bukan dengan cacian, melainkan kata-kata yang cukup halus.

Rupanya, sedari tadi di balik pintu ada seseorang yang menyaksikan mereka. Kris, dia tidak benar-benar pergi. Melainkan mengintip dari balik pintu.
“Baiklah.. kalau begitu aku akan tetap disisimu sampai kau menyadari bahwa kau juga menyukaiku.”

“Heyyy! Kau tidak dengar dia bilang apa. Dia menyukaiku.. bukan kau!” teriak Kris dari balik pintu kemudian mendekati keduanya. Jessica dibuat terkesima dengan aksi Kris bak pahlawan baginya. Begitupun Luhan. Bagaimana bisa, ucapan Kris sangat berbanding terbalik. Padahal baru lima menit yang lalu Kris menyangkalnya.
“Jangan ganggu Jessicaku lagi..” perintah Kris- merangkulkan tangannya di pinggang Jessica. Membawa gadis itu pergi dengannya.

Luhan hanya bisa diam. Apa yang bisa ia perbuat di situasi seperti ini. Sepertinya Jessica memang tidak mengingikannya. Setelah apa yang ia lakukan untuk Jessica. Kata-kata mesra yang ia tulis di kertas dan diselipkan digagang pintu loker milik Jessica. Coklat yang elalu ia taruh di laci meja milik Jessica. Dan hal lain yang di anggap Luhan spesial. Mungkinkah ia akan menyerah? Sementara selama ini, ia tidak apa-apa ketika Jessica merobek kertas itu, ia tidak apa-apa Jessica juga membuang coklat pemberiannya. Tapi kenapa sekarang ia merasa sakit? Saat tangan Kris melingkar di pinggan gadis yang disukainya.
.
.
.
.
.

***8 SECOND CHANCE 8***

Ketika langit biru perlahan menghilang, digantikan dengan langit jingga kemudian gelap dengan warna hitam pekat. Dan Jessica masih menunggu permintaanya di kabulkan. Hanya gadis bodoh yang melakukan itu. Gadis bodoh yang menghabiskan waktu hampir seharian di depan gereja tua yang tidak berfungsi lagi.

Kejadian itu sudah 5 tahun berlalu. Di depan gereja tua ini, tepat di seberang bandara Internasional Seoul. Siapa yang menyangka, selama beberapa tahun terakhir Jessica sering melakukan ini ketika sedang hujan.
.
.
.
.

Malam itu, tepat pukul tujuh waktu Seoul. Seorang laki-laki dengan setelan jas hitam mencoba menghampiri Jessica yang saat ini sudah mulai beranjak dari tempatnya.
Laki-laki itu berdiri tepat di belakang Jessica. Memandang punggung putih yang basah itu. Memandang rambut ikal Jessica yang masih jelas ada sisa-sisa air hujan disana. Memandangi keadaan Jessica yang menyedihkan— Tersenyum pahit.

“Jangan seperti ini lagi..” ucap laki-laki itu dengan suara pelan. Tidak ingin mengejutkan Jessica.

Jessica hanya diam- tidak bergeming sedikitpun.

“Ini sudah sangat lama. Aku mohon jangan lakukan lagi.

“Apa kau sungguh mempunyai dosa yang besar sehingga kau selalu seperti ini ?

“Katakan apa dosamu.. apa kesalahanmu. APA KESALAHANMU JESSICA!?”dengan cepat suara laki-laki itu berubah menjadi seruan. Ia seakan tidak sanggup lagi untuk menahan amarahnya
“katakan apa salahmu..”

Sontak laki-laki itu langsung memeluk tubuh mungil Jessica dari belakang. “Apa kau punya kesalahan dimasa lalu..” tanya laki-laki itu lagi. Kali ini dengan nada yang sangat lembut. Menjaga—menyentuh perasaan Jessica.

Perlahan Jessica mulai meneteskan air matanya. Meresapi apa yang telah dikatakan laki-laki itu. Merasakan hangat pelukan laki-laki itu. Dingin itu mulai merasukinya. Ya—dia memang pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Kesalahan yang tidak pernah bisa ia lupakan. Kesalahan yang terus menghantuinya—kesalahan yang membuat lubang sangat dalam di hatinya. Kesalahan yang mungkin tidak pernah bisa ia maafkan.

“Berhenti seperti ini. Aku mohon.. berhentilah..” laki-laki itu semakin mempererat pelukannya. Menyalurkan segenap kasih sayangnya kepada gadis di depannya. Tidak ingin melepaskannya—lagi.

“Aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu lagi. Aku berjanji..” lirih Jessica dengan bibir yang bergetar.
“Aku berjanji untuk terus mencintaimu.” Jessica kemudian menggenggam kedua tangan laki-laki yang terpaut erat di pinggangnya. Menggenggamnya dengan sekuat tenaga. Seakan ingin memilikinya—selamanya.

Laki-laki itu tersenyum, mendapati reaksi Jessica yang begitu lembut dan sangat menginginkannya.

Jessica menyandarkan kepalanya di dada berbidang laki-laki tersebut dengan tangan yang masih saling menggenggam. Dengan penuh perasaan, laki-laki itu mengecup puncak kepala Jessica. Tak ia pedulikan lagi udara dingin yang semakin menusuk paru-parunya—ia dan Jessica. Masih terhanyut dalam kemesraan mereka.

“Jangan tinggalkan aku lagi..” ucap Jessica disela kemesraan yang mereka ciptakan, di tengah udara malam Seoul yang tentunya sangat amat dingin. Ditambah dengan mulai turunnya salju yang menjadi awal musim dingin tahun ini.
..

.

.

“Jess.. tunggu..” Luhan berlari di depan parkiran kampus. Mendatangi Jessica yang tengah sendirian- tanpa Kris.
“Jess..’ panggil Luhan dengan nafas yang menderu berat.
“Berhenti.. ini yang terakhir.

Terakhir? Dan Jessica langsung menurutinya setalah Luhan mengatakan itu yang terakhir. Namun Jessica masih saja diam. Tidak berbicara sepatah katapun.
“Aku akan menuruti keinginanmu. Besok aku akan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan pendidikanku. Aku tidak akan mengganggumu lagi..
“Besok setelah makan siang aku akan pergi..”

Setelahmengatakan apa yang ingin ia katakan, Luhan segera pergi tanpa menunggu Jessica merespon perkataannya. Baginya tidak penting bagaimana reaksi Jessica. Yang terpenting adalah besok, apakah Jessica akan datang. Atau tidak.

Sementara Jessica hanya memandangi punggung Luhan yang semakin menjauh dari jarak pandangnya. Bagaimana dengan perasaannya sekarang?
.
.
.

.
.

“Jess.. benarkah kau tidak ingin aku untuk tetap tinggal disini? Benarkah kau tidak ingin memintaku untuk tetap disini?” tanya seorang laki-laki dengan setelan jas hitam dan sebuah koper besar yang berada di sampingnya. Laki-laki berperawakan tinggi dengan kacamata hitam yang menempel di kedua telinganya. Laki-laki berkulit putih dengan rambut soft brownnya.

“Untuk apa aku memintamu tetap tinggal disini hah. Memangnya siapa kau?” sahut seorang gadis yang berada tepat di depan laki-laki itu, tepatnya gadis itu sedang memberikan punggung kepada laki-laki tersebut.
Laki-laki itu hanya bisa memandangi punggung sang gadis yang tertutup hoodie bergambarkan hello kitty itu. Tanpa bisa bertemu langsung dengan wajahnya.
Baginya, walaupun ia hanya diberikan sebuah punggung. Ia sangat bahagia. Karena ia— sangat mencintainya.
“Aku. Aku adalah Luhan. Orang yang mencintaimu. Sangat mencintaimu Jess. Dan kau tahu itu. Aku adalah Luhan yang tidak pernah lelah untuk mendapatkan balasan cinta dari seorang Jessica. Aku adalah Luhan yang—yang akan pergi. Bukan aku menyerah untukmu, tapi aku hanya pergi untukmu.”

“Pergilah. Dan jangan kembali. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu. Kau hanya parasit antara aku dengan dia.”

Luhan hanya tersenyum.

“Baiklah.. aku pergi untukmu. Bukan untuk mengalah ataupun aku menyerah. Ini semua aku lakukan untukmu. Untuk cintaku.”
Detik demi detik berlalu, hingga Jessica tidak menyadari bahwa laki-laki itu sudah menghilang dari belakang punggungnya. Laki-laki itu—Luhan. Sudah pergi dalam diam- dalam kehancuran yang melanda hatinya.
Tapi ada satu yang ia ketahui. Jessica juga mencintainya. Dan ia tersenyum dalam kepahitannya sekarang.

***8 SECOND CHANCE 8***

“Andwaeee……………………….” teriakan histeris terdengar dari dalam sebuah kamar bernuansa merah maroon. Seorang gadis terlihat tengah tersengal dengan nafas yang menderu berat. Berapa kali gadis itu menarik nafasnya pelan, namun tetap saja ia tersengal seakan habis berlari marathon.

“Hah.. andwaee..” Gadis itu kembali berteriak setelah matanya bertemu dengan jam dinding berbentuk hello kitty yang membuat hembusan nafasnya semakin berat. Sesegara mungkin ia berdiri dari tempat tidurnya, membersihkan diri dan berlari secepat ia mampu. Menuju suatu tempat.
Hanya dengan menggunakan celana jeans dan kaos biru muda, serta rambut yang diikat kebelakang. Dan jangan lupakan tas selempang coklat tua yang menempel di bagian samping tubuhnya. Ia sudah siap untuk memulainya. Gadis itu berlari dimulai dari kamarnya.
“Yaakk…. kau tidak sarapan dulu.” Teriak seorang wanita paruh baya dari arah dapur, sang eomma yang berteriak karena melihat anaknya berlari seperti dikejar penjahat.

“Nanti saja eommaa..” sahut gadis itu tak kalah berteriak- sambil berlari tentunya.
Sang eomma hanya bisa menggelengkan kepalanya atas kelakuan anak gadisnya yang sangat susah ditebak.

Mungkin, jarak rumah dan jarak tempat yang ditujunya cukup dekat. Sehingga ia tak perlu menggunakan angkutan umum untuk sampai kesana. Ia hanya perlu berlari dan mencetak rekor baru, sampai dalam waktu 10 menit. Karena ia sudah terlambat—hampir terlambat. Sepertinya ada sesuatu terjadi yang membuat gadis itu bersikap seperti ini.

”Shh…” desahnya pelan ditengah aktifitasnya berlari. Menarik nafasnya kuat sebelum melanjutkan berlari.

5 menit, 10 menit. Dan akhirnya kakinya pun berhenti tepat disebuah gereja tua yang berhadapan langsung dengan bandara Internasional Seoul. Kenapa bisa ia kembali ke tempat itu? Tetapi ia bingung—bukan kah seharusnya gereja itu sepi. Kenapa sangat ramai disini?? Ya.. dia melupakan bahwa hari ini adalah hari minggu. Sudah seharusnya gereja tua itu ramai dikunjungi umatnya untuk beribadah.

Gadis itu hanya berdiri di depan gereja, tidak berpikir untuk masuk. Karena ia terlalu malas untuk berdoa. Yah—gadis ini memang benar-benar..
“Apa aku sudah terlambat. Ya Tuhan…” gumamnya pelan- menyaksikan beberapa orang yang berlalu lalang di depannya. “Apa aku harus masuk dan berdoa.” Sambungnya lagi—kali ini dengan menggembungkan kedua pipinya.

“Tidak.. aku akan menunggu disini. Bagaimanapun.. aku tidak ingin mengulanginya.. Yah. Aku memang harus tetap disini.” Tegasnya kepada diri sendiri.
“Akh. Tapi aku tidak ingin terlihat rendah dimatanya..” dalam sekejab ia bisa mematahkan semangatnya sendiri.
“Sudah ku duga kau akan datang.” Ucap seseorang dari arah samping kanan gadis itu. Membuatnya sedikit terkejut—malu. Mungkin. Seorang laki-laki yang sedang terkekeh sekarang.
Langsung saja gadis itu memutar kepalanya. Seketika tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Matanya mengerjap tidak percaya melihat siapa yang ia lihat. Bibirnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ia menahannya.

“Aku belum terlambat..”
“Ne, kau mengatakan sesuatu..”
“A- aniya. Aku hanya—“ sangkal gadis itu dengan terbata-bata. Entahlah, hanya saja sekarang ia merasakan sesuatu yang ganjil. Tidak biasanya ia berkeringat seperti ini. Apa ia terlalu malu untuk mengakui sesuatu?
“Aku senang kau datang..” ucap laki-laki itu lagi. Menarik koper di sampingnya, dan setelan jas itu. Apakah ia akan segera pergi ?
“Tidak—kau jangan senang dulu. Aku kesini bukan untuk menemuimu.” Sangkal gadis itu lagi- hah.. ayolah, gadis bodoh mana yang tetap berbohong dalam situasi seperti sekarang ini.
“Lagi pula, aku bukan orang bodoh yang harus berlari demi untuk menemui—upss… dengan sigap gadis itu menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia memang benar-benar bodoh. Sangat bodoh.
“Pergi saja. Jangan berharap aku akan menahanmu.” Bohong—jelas sekali ia berbohong. Bahkan ia rela berlari untuk sampai tepat waktu, bahkan smpai lebih dulu. Ia juga berbohong- mana mungkin ia datang ke tempat itu jika tujuannya bukan untuk menahannya—laki-laki yang ia.. entah, mungkin gadis itu mulai menyukainya.
Mungkin ia membohongi orang lain, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Yang sebenarnya juga menyukai laki-laki itu- sangat. Tidak bisa untuk saat ini dia mulupakan kebohongannya, berhenti berbohong dan katakan yang sebenarnya tentang perasaanmu!

Laki-laki itu hanya diam, kemudian mengeratkan genggaman tangannya pada gagang koper besar yang ia bawa.
“Aku mengetahuinya. Baiklah, sepertinya aku yang terlalu berharap padamu.. Jessica”

Jessica? Ya. Gadis itu memang Jessica. Gadis angkuh yang terlalu malu untuk mengutarakan perasaannya. Ia juga terlalu malu untuk mengatakan ‘YA’.

“Eum……………
“Aku pamit. Maaf selalu menyusahkanmu. Maaf juga karena aku terlalu menyukaimu, Jess. Mulai sekarang kau tidak perlu lagi marah kepadaku. Dan mulai sekarang kau juga bisa hidup dengan bebas, tanpa ada bayanganku disisimu.” Bohong. Sangat jelas terlihat kata-kata itu keluar dengan paksaan dari mulutnya. Mungkinkah ia menyerah begitu saja? Tidak. Ia tidak menyerah. Ia mengetahui sesuatu, yang terpaksa membuatnya berbohong untuk berkata dramatis.

Laki-laki itu membalikkan badannya membelakangi Jessica. Melangkahkan kaki kanannya untuk pergi dari sana.

“Jangan pergi..” teriak Jessica—bibirnya kembali bergetar. Ada sebuah ketakutan disana.
Lai-laki itu tersenyum. Sesaat ia berhenti, namun kembali berjalan menjauh.
“Aku mohon jangan pergi. Lu..”
Laki-laki itu tetap tidak mau mendengarkannya. Dan memilih untuk tetap pergi.
“Aku berbohong. Ya. Aku memang berbohong. Aku sengaja ke tempat ini untuk menemuimu. Aku berlari kencang juga untuk sampai tepat waktu. Kau lah tujuanku. Aku ke tempat ini karena aku tidak ingin kehilanganmu, untuk kedua kalinya. Aku ingin kau mendengarkanku. Aku—
Ucapannya terhenti, tepat setelah tangannya berhasil mencengkram jas hitam laki-laki tersebut. Memaksa laki-laki itu untuk kembali menghadapnya. Menendang koper dengan sekuat kaki jenjangnya. Kembali memaksa laki-laki itu untuk melepaskan koper besar yang membuat sesak dada Jessica.

Sedetik kemudian- mata mereka saling bertemu. Walaupun Jessica terlihat sangat gugup. Tapi lihat, tidak ada sekecilpun keraguan yang tersembunyi di balik bola mata hitam miliknya. Hanya keyakinan. Yang membuatnya sampai pada tahap yang menurutnya sangat sulit untuk ia lakukan.

“Aku—menyukaimu…….
Dengan susah payah dan dengan tenggorokan yang tercekat. Akhirnya Jessica bisa melakukannya. Karena ia percaya. Ia percaya ini adalah kesempatannya.
“Ini adalah kesemptanku yang kedua. Apa aku terlambat? Untuk menyukaimu, juga……..
Pelan dan lembut. Laki-laki itu mengayunkan kedua tangannya untuk menyapu air mata Jessica yang mulai menetes. Menangkupka kedua tangannya di wajah cantik Jessica.
“Aku tahu kau juga menyukaiku. Dan ini belum terlambat. Karena ia belum dimulai.”
“Kau tahu Jess.. mengapa mutiara itu berharga?
“Karena ia tersembunyi. Ia terperangkap. Dan ia sangat sulit di dapatkan. Kadang kita harus rela menyelam ke dasar laut untuk medapatkannya.
“Seperti itulah dirimu. Kau berharga, sangat berharga. Dan aku rela, jika harus menyelam ke dasar laut untuk mendapatkanmu..”

Laki-laki itu tersenyum manis, sebelum mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Jessica. Mereka terpejam- merasakan lembutnya sentuhan rasa cinta.

“Aku tidak akan pergi.. aku akan berada di sisimu. Sampai aku tak mampu lagi untuk melakukannya. Walaupun kau yang meminta, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Tukas laki-laki itu dengan penuh keyakinan. Membuat Jessica benar-benar akan menyesal apabila ia melepaskan laki-laki di hadapannya ini.

Mereka berdua terlalu larut, sehingga tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi pusat perhatian masyarakat Seoul yang berlalu lalang di tempat itu.

Ya.. laki-laki itu adalah Luhan. Laki-laki yang sebelumnya di ‘cap’ Jessica sebagai parasit. Karena selalu mengganggu hubungannya dengan Kris. Tapi tidak untuk saat ini, dan nanti. Baginya Luhan adalah laki-laki yang bisa ia percaya untuk melindunginya.

Mereka tersenyum malu setelah meluapkan perasaan masing-masing, terlebih Jessica. Gadis angkuh nan cantik itu merasa sangat di rendahkan oleh dirinya sendiri. Tapi tidak masalah, karena ia tidak mau mengalami kejadian seperti yang pernah ia alami.

Jessica berhasil mendapatkan kesempatan kedua. Dan berhasil memanfaatkannya dengan sangat baik. Dan ya- lupakan Kris. Hanya mereka—Jessica dan Luhan.

-PROLOG-

Hari itu, Jessica yang tengah makan siang dengan Kris. Tiba-tiba saja teringat dengan kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Luhan. Itu membuatnya pusing dan tidak berselera untuk menyantap ramen di hadapannya. Jessica mulai bingung dengan perasaannya sekarang, apakah ia harus pergi kesana atau tidak.

“Pergilah……” ucap Kris ditengah acara makannya, seakanmengetahui isi hati dan pikiran Jessica. Tentu saja, Jessica segera pergi dan menyetop sebuah taksi setibanya ia di luar gerbang kampus.
Tepat di depan gereja tua, yang terletak di seberang bandara Internasional Seoul, Jessica bertemu dengan Luhan yang mungkin sebentar lagi akan pergi. Tidak perlu susah payah bagi Jessica untuk menemukannya, karena mereka sudah bertemu. Karena Luhan. Memang menunggu kedatangannya—Jessica.

Huweeeeeeeeeeeee… jelek yah jelek. Maap maap. Tapi nanti saya akan berusaha lagi xD
Salam kecup buat yg udah baca :*
Jan lupa tinggalin jejak, ato uang lah paling gak —

FF Horror | Don’t Open That Room Part 3

Don’t Open That Room
Part 3

Author : Dina aka JessicaChu

Cast : Jessica
Tiffany
Kriss

Genre : Horror, Mystery, (?), Romance

Tetep yah ditunggu kritik dan saran nya. Dan disetiap part akan ada tambahan cast nya..

Happy Read >CEKIDOT<

Bugh!! Jessica mendobrak pintu itu, tapi tidak berhasil. Dia terus berusaha namun hasil nya tetap nihil, pintu itu tidak bisa didobrak.Hingga pada dobrakan kelima pintu itu berhasil terbuka..

“AAAAAAAAA” Jessica berteriak sejadi-jadi nya. Mata nya terbuka lebar menyaksikan pemandangan didepan nya.

Sososok siswi tengah tergantung diatas kloset, lagi dan lagi nadi nya teriris, mata nya terbuka dan senyum mengembang dibibir nya. Tiffany, sahabat satu-satu nya Jessica sekaligus teman sekamar nya di asrama. Tiffany lah siswi yg tergantung itu, siswi yg menemani nya saat menjelajah kelas ‘angker’ itu.

“ANDWAAAEEEEEE” Lagi-lagi teriakan keras dari Jessica kembali menggema di dalam toilet. Ia terus menjerit, dan berteriak sebisa yg ia mampu.

Tubuh Jessica menjadi lemas tak berdaya, seketika ia jatuh tersungkur kelantai, ia menangis. Menangis sejadi-jadi nya menyaksikan sahabat yg dia sayangi tewas akibat perbuatan nya. Jessica tak henti-henti merutuki dirinya sendiri. Kini buliran air mata itu semakin deras membasahi pipi nya.

Entah sejak kapan toilet itu sudah ramai dengan murid-murid dan para songsaenim. Tapi yg ia sadar bahwa sekarang sebuah tangan kekar sedang memeluk dan mencoba menenangkan nya. Kriss, namja itu lah yg sedang memeluk Jessica, mencoba menenangkan nya dan menghapus sisa-sisa air mata dipipi Jessica.

“Gwaenchana.. menangis lah sepuasmu.” Jessica langsung membenamkan kepala nya dipelukan Kriss tanpa menghiraukan kerumunan yg sedang menyaksikan mayat Tiffany tergantung.
.
.
.
.

Jessica membuka mata nya perlahan. Mengedarkan pandangan kesudut ruangan yg tidak asing lagi bagi nya. Ruang Kesehatan.

“Eoh.. Kau sudah bangun ?” ucap Kriss yg sedari tadi menemani Jessica. Jessica hanya diam dan sesekali memegangi kepala nya yg terasa sedikit pusing.

“Tadi kau pingsan, Jess__”

“Tiffany.. Tiffany dimana, aku harus menemui Tiffany” Jessica beranjak dari tempat nya, mencoba berjalan untuk menemui Tiffany yg jelas-jelas sudah tidak ada.
Kriss dengan sigap langsung menarik dan memeluk Jessica. Membiarkan baju nya basah karena ia tau sekarang Jessica sedang menangis.

“Kau harus kuat Jess. Kau harus menerima nya.”

“Ini semua karena kesalahan ku..”

“MWO ?? Apa maksud mu Jess..”

Jessica tidak menjawab dan terus menangis sambil merutuk dirinya sendiri.
.
.
.

Siang itu Kriss berniat untuk mengantar Jessica pulang. Karena kondisi nya tidak memungkinkan untuk ia kembali mengikuti pelajaran. Sebelum pulang Jessica berniat untuk singgah ke perpustakaan sekolah.

“Kriss. Bisa temani aku sebentar ?” pinta Jessica kepada Kriss.

“Kemana ?”

“Perpustakaan. ”

“Perpustakan, untuk apa ?”

“Bukan kah kau bilang penasaran dengan kelas ‘angker’ itu, dan Tiffany pernah bilang bahwa 10 tahun yg lalu ada siswi yang___”

“Iya, aku tau cerita itu. Jadi, sekarang kau mau mencari tau nya dengan buku tahunan.” Jessica mengangguk.
“Baiklah, kajja..”

Mereka berjalan menuju perpustakan, namun langkah Jessica berhenti setelah melewati kelas ‘angker’ itu. Entah kenapa perasaan nya mendadak menjadi tidak enak, dan Jessica merinding seketika.

Mata nya memerintah kan dirinya untuk menengok ke arah dalam kelas tersebut. Jessica pun dengan perlahan memalingkan wajah nya untuk melihat kelas itu.

Sedetik kemudian Jessica langsung terperanjat melihat apa yg berada diujung penglihatan nya. Sesosok hantu yeoja sedang memandang ke arah nya. Tatapan yg sangat menakutkan.

“Jess.. Jessica, kau kenapa ?”
Jessica tidak menjawab dan tetap menatap ke arah hantu itu.

“Kriss.. Kau melihat itu ?” Jessica memberi Kriss isyarat untuk mengikuti kemana arah mata nya. Namun nihil, Kriss tidak melihat apa-apa. Kriss hanya melihat kelas kosong dengan aura yg penuh mistery.

“Dia melihat ke arah ku..”

“Dia.. Dia siapa ?”

Lagi-lagi Jessica tidak menjawab pertanyaan Kriss.

Jessica memejamkan matanya dan menundukkan
kepalanya. ia sangat ketakutan, dikarenakan
hantu itu sedang melihat ke arah Jessica. Saat
Jessica membuka matanya kembali, dan melihat
kearah itu lagi, hantu tersebut sudah tidak ada.

Jessica bergidik ngeri dan langsung mengurungkan niat nya untuk ke perpustakaan. Kriss pun hanya bisa memandang heran ke arah Jessica.
.
.
.
.

“Aku harus mengakhiri semua ini. Aku yg membuka pintu itu dan aku juga yg harus menutup pintu itu untuk selamanya” tekad Jessica yg semakin geram dengan banyak nya kematian disekolah itu termasuk sahabat nya Tiffany.

Malam ini Jessica berniat untuk kesekolah dan masuk kedalam kelas “angker” itu. Jessica ingin mengakhiri semua nya.

Seandainya dia harus jadi korban berikut nya itu tidak akan masalah bagi nya jika setelah itu tidak akan ada lagi siswa yang mati disekolah nya.

Jessica segera keluar dari asrama dan berjalan menuju sekolah nya yg hanya berjarak 50meter dari asrama.

“Jessica.. Tunggu” terdengar sebuah suara berat sedang memanggil nya. Jessica segera menoleh dan menemukan seorang namja berada dibelakang nya. “Kriss”

“Ne. Kau mau kemana malam-malam begini” tanya seseorang yg diketahui bernama Kriss.

“Aku.. Akuu mau ke___” Jessica berpikir sejenak mencari alasan yang tepat agar Kriss tak curiga.

“Gwaenchana.. Aku tidak akan memaksamu. Ya sudah aku jalan dulu” Kriss kemudian berjalan melewati Jessica, dan menghilang dipersimpangan jalan yang lumayan gelap.

Jessica lanjut berjalan dan kini ia sudah sampai didepan gedung sekolah. Jessica masuk dengan mudah kedalam gedung sekolah karena satpam sangat ceroboh tidak mengunci pagar nya.

“Aku harus berani.. Aku pasti bisa menyelesaikan semua nya” Jessica dengan keberanian yang membuncah lalu berjalan menuju ruang kelas tersebut. Ia menarik nafas nya panjang kemudian membuka pintu itu perlahan, masuk dengan sedikit hati-hati dan dengan perasaan takut.

Jessica melangkahkan kaki nya, mulai memasuki ruangan kelas tersebut.

WUSHHHH!!

Entah dari mana angin kencang masuk dan berhasil membuat ruangan kelas itu berantakan. Tubuh Jessica sedikit terguncang dan terhempas kebelakang, rambut nya berantakan dan ia hanya menutup mata nya karena debu yang disebabkan angin sedang berterbangan disekeliling nya. Setelah angin tersebut berhenti, Jessica membuka mata nya perlahan. Melihat keadaan kelas yg sangat berantakan. Meja dan bangku tidak teratur rapi seperti sebelum nya.

Dan kini ia kembali melihat sesosok yeoja yg diyakini nya adalah hantu itu sedang berdiri diatas meja yg penuh dengan coretan-coretan. Wajah nya pucat pasi, rambut dikepang dua dan kacamata tebal melingkar dikuping nya. Dengan tatapan mata yg sangat mengerikan.

“Kau.. Kau yg telah membunuh mereka bukan”

Yeoja itu hanya tersenyum, bukan. Itu bukan senyuman melainkan seringai. Hantu itu sedang menyeringai. Dan dalam sekejap hantu yeoja itu kini telah berada tepat didepan Jessica.

“Aku tidak takut. Sekalipun kau akan membunuhku” Kini Jessica telah berjalan mundur karena hantu itu terus mendekat.

DEG..!!

Detak jantung nya bagaikan berhenti karena ia menemukan jalan buntu_ tembok. Tembok itu menghentikan langkah kaki nya. Sedangkan hantu itu terus mendekat dan semakin mendekat.

Jessica menutup mata nya karena kini hantu itu tengah mengangkat tangan nya dan mengarahkan kewajah Jessica seperti ingin mencekik. *bayangin sendiri* Seketika kuku tangan nya berubah menjadi panjang, tajam dan runcing.

“Andwaeeee.. Andwaeeeee” teriakan berhasil lolos dari mulut Jessica karena keberanian nya kini telah tertutup oleh rasa takut nya sekarang. Namun hantu itu tak peduli dan semakin mendekat, mata nya melotot ke arah Jessica dan terus mendekatkan tangan nya untuk mencekik Jessica.

“Toloooooong…..”

Brakk!!

Seorang lelaki berhasil mendobrak pintu itu. Jessica menoleh dan kaget mendapati lelaki yg tadi bertemu dengan nya dijalan. Kriss, lelaki yg mendobrak pintu itu adalah Kriss.

“Hentikan..” Kriss berteriak, dan mencoba menghentikan hantu yeoja itu untuk mencekik Jessica.

Hantu itu mengibaskan tangan nya dan sedetik kemudian Kriss terpental kebelakang dan tersungkur dilantai.
Hantu itu kembali melirik kearah Jessica dengan menunjukkan seringai nya, tangan nya masih ditujukan untuk mencekik Jessica.

“Yoona” ucap sebuah suara yg datang dengan tiba-tiba dan sedang berdiri didepan pintu..

Jessica dan Kriss menoleh ke arah suara tersebut. Begitu juga dengan hantu yeoja yg bernama Yoona itu.

“Yoona..”

TBC

See U Next Part

The Killer At The School | Horor/?

THE KILLER at the SCHOOL

Author : JessicaChu

Cast :
Han Hyo Ra
Cho Kyuhyun
Jiny
Luna

Genre : Thriller, Murder,

Happy Read >CEKIDOT<

"Hyo Ra tunggu." panggil seseorang dari arah belakang yeoja bernama Hyo Ra itu.

"Eoh. Ne, ada apa Lee Songsaengnim."

"Bisakah kau, Jiny dan Luna membantuku membersihkan ruang perpustakaan yang sangat berantakan. Aku harus pergi sekarang." Lee songsaengnim menatap ke arah Hyo Ra dan dua teman di sampingnya.

Mereka bertiga saling bertatapan, sedikit terpaksa tapi apa boleh buat. Akhirnya mereka bertiga menyetujuinya dan mengurungkan niat untuk segera pulang ke rumah.

@PERPUSTAKAAN

"Aigoo.. Berantakan sekali tempat ini." omel Jiny.

"Aku rasa kita akan memakan banyak waktu disini." sahut Hyo Ra.

"Ne. Dan kenapa harus kita ?" kini Jiny mendelik ke arah Hyo Ra.

"Mungkin karena hanya kita bertiga yang tadi di lihat oleh Lee Songsaenim."

"Aduh. Aku mau ke toilet sebentar, kalian lanjutkan saja." ucap Luna yang kemudian buru-buru pergi ke toilet yang jaraknya lumayan jauh dari perpustakaan.

Luna berjalan melewati satu persatu lorong kelas, sepi. Karena semua murid sudah pulang dan hanya tersisa mereka bertiga.

"Ah.. Itu toiletnya," Luna bergegas memasuki toilet paling depan, agar jika terjadi sesuatu ia bisa dengan cepat meloloskan diri.

Brak

Luna mendengar suara pintu toilet di sampingnya seperti terbuka.

"Eoh.. Siapa disana ?"

Luna segera keluar dari dalam toilet itu, dan membuka satu persatu pintu toilet tersebut.

"Tidak ada apa-apa."

Ia segera beranjak pergi dari toilet, namun sial pintunya terkunci.

"Ada apa ini." gumamnya dalam hati, sambil terus mencoba membuka dan menarik gagang pintu itu namun nihil. Pintu itu terkunci.

"Yaaak… Hyo Ra, Jiny jangan berchanda. Cepat buka pintunya." teriak Luna dari dalam toilet.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah belakangnya, dengan cepat Luna segera menoleh ke belakang.

"K-kau.. Si-siapa ?" ucap Luna terbata-bata saat melihat seorang namja berperawakan tinggi dengan sebuah topeng menyeramkan berdiri di depannya.

"TOLOOOONG.. Siapapun di luar tolong buka pintunyaaaaa..!!"

Luna terus berusaha membuka pintu itu namun tetap tak bisa terbuka, suaranya pun hampir habis untuk berteriak minta tolong.

"Berteriaklah sekeras kau bisa Luna." ucap namja itu yang kini terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik jubah hitamnya. Pisau, pisau lipat kecil yang tajam.

"Kau– kau tahu namaku, si-siapa kau ?"

Perlahan namja itu membuka topengnya dan memperlihatkan wajah aslinya. Wajah yang seperti malaikat namun hatinya bagaikan iblis.

Luna membelalakkan matanya lebar dan menutup mulutnya segera, ia tidak percaya dengan siapa yang di lihatnya sekarang.

Namja itu semakin mendekat ke arah Luna, mencengkram kuat pundak yeoja itu dan

SREEETTT

Namja itu menyayatkan pisau tersebut tepat di pipi sebelah kanan milik Luna.

"AARGH..!!!" pekik Luna kesakitan sambil memegangi pipi kanannya yang berdarah akibat luka sayatan.

SREEETTT SREEETT

Kini pipi sebelah kiri Luna yang menjadi bahan sayatan namja itu.

"Ja-jangan.. Aku mo-mohon, hiks" Luna menangis tertahan akibat perih yang ia rasakan di wajahnya kini.

SREEETTT SREETT SREETTT

Namja itu dengan cepat menyayat seluruh bagian wajah Luna hingga tidak ada yg mampu mengenalinya. Seketika darah bertumpahan merubah warna baju putih Luna menjadi penuh dengan merah darah.

"Am-ampun.. Aaaakh!!"

"Kau lupa. Bagaimana kau selalu mengolok-olokku hah."

JLEBBB

Namja itu segera menancapkan pisau tersebut tepat di leher sebelah kanan Luna. Seketika darah keluar dengan begitu banyaknya dari leher putih milik yeoja itu.

"KYAAAAA….. ARGHHH!!!!!!" Suara teriakan kesakitan Luna menggema di seluruh ruangan toilet yang kedap suara itu. Matanya terbelalak menerima sebuah benda tajam masuk ke dalam tubuhnya.

Tanpa memperdulikan teriakan Luna, namja itu terus memutar pisau tersebut di leher Luna. Menarik ulurnya hingga darah semakin banyak keluar. Namja itu kemudian mengeluarkan pisaunya dari leher Luna dan kembali menyayatkan tepat di leher bagian depan yeoja itu.

SREEETTTT..!!!

"AAAAAAA…." suara teriakan Luna mulai melemah, wajahnya menjadi pucat dan keringat dingin mengalir dengan deras membasahi keningnya.

Luna jatuh terkulai lemas ke lantai dengan tubuh yang penuh bersimbah darah. Dan luka sayatan di pipi serta lehernya yang bolong akibat tusukan pisau itu.
.
.
.
.
.

"Luna kenapa lama sekali." ucap Hyo Ra resah karena sedari tadi Luna belum kembali dari toilet.

"Biar aku menyusulnya ke toilet." usul Jiny yang kemudian segera di balas dengan anggukan oleh Hyo Ra.

"Hati-hati ne." ucap Hyo Ra lagi.

Jiny segera mengangguk dan pergi dari ruang perpustakan untuk menyusul Luna ke toilet.

Ia berjalan dengan tergesa-gesa karena merasa ada seseorang yang mengikutinya, sesekali ia menoleh ke arah belakang namun tidak ada siapapun yang ia lihat.

Sampai ia berjalan mendekati sebuah ruang kelas yang pintunya terbuka dan tiba-tiba ada seseorang yang mendekap mulutnya lalu menyeretnya ke dalam ruang kelas tersebut. Orang itu segera mengunci pintunya dan mendorong tubuh Jiny hingga tersungkur ke lantai putih itu.

"Kau- si-siapa ?" Jiny mendongak dan melihat seseorang dengan jubah hitam dan topeng yang menutupi wajahnya seperti yang tadi di lihat Luna.

"Apa kau sangat ingin tahu siapa aku ?" ucap namja itu berjalan mendekati Jiny yang tersungkur di lantai.

Jiny mencoba berdiri untuk kabur namun dengan cepat ia kembali di dorong oleh namja itu.

"Kau– siapa kau sebenarnya ? Kenapa kau lakukan ini padaku ?" berhasil. Kali ini ia berhasil berdiri dan dengan cepat berlari ke belakang meja guru untuk menghindari namja itu.

"Kau sungguh ingin tahu. Haha, kau lupa dengan apa yang kau lakukan padaku." namja itu kembali berjalan mendekati Jiny dan membuka topengnya dengan perlahan. Wajah yang sama dengan yang tadi telah membunuh Luna di toilet.

"Kau—"

"Kenapa ? Kau terkejut ?" namja itu mengeluarkan sebilah pisau yang penuh darah, pisau yang tadi ia gunakan untuk membunuh Luna.

Jiny memandangi pisau itu dengan tatapan yang sangat menakutkan, ia takut namja itu akan melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya.

Seperti memahami arah pandangan Jiny, namja itu segera membuka suara sambil terus menjilati pisau penuh darah di tangannya itu dengan lidahnya.

"Ini adalah darah temanmu. Kau mau mencobanya ?"

"Te–teman.."

Jiny terus melangkah mundur menjauhi namja itu dengan kaki dan seluruh badannya yang gemetaran.

"Hahaha… Mau kemana kau yeoja bodoh..!!"

Namja itu semakin mempercepat gerakan langkahnya untuk mendekati Jiny, Jiny pun menjerit lalu berlari ke luar kelas.

Namja itu tidak tinggal diam, dia mengejar Jiny, namun sepertinya dia tidak perlu susah payah. Namja itu segera melemparkan pisau di tangannya dan tepat mengenai kepala Jiny yang tengah berlari. Sontak, tubuh yeoja yang sedang berlari itu ambruk di depan pintu kelas yang masih tertutup. Nafasnya yang masih belum beraturan itu harus terhenti ketika namja itu berjalan menghampirinya dan menancapkan sebilah pisau lagi di lehernya. Darah Jiny yang masih sangat segar itu tersemprot kemana-mana. Namja itu tersenyum tersenyum licik dan sepertinya ia sedang berjalan menuju suatu tempat lagi.
.
.
.
.
.
.

"Aigooo… Kemana Luna dan Jiny, tidak mungkin mereka meninggalkanku." gumam Hyo Ra yang masih sibuk merapikan buku di perpustakaan itu.

"Hyo Ra. Sedang apa kau disini ?"

Hyo Ra yang kaget langsung menoleh ke arah asal suara.

"Kyu- Kyuhyun. Kau sendiri sedang apa ? Aku sedang merapikan buku disini."

"Eoh. Aku hanya ingin menemuimu." ucap Kyuhyun sambil mengeluarkan sebuah senyum khasnya.

Hyo Ra masih sibuk merapikan buku-buku yang berantakan, dan Kyuhyun pun mulai ikut membantu. Sesekali ia melirik ke arah Hyo Ra namun yeoja itu tak menyadarinya.

"Kyu— Apa kau melihat kedua temanku ?" tanya Hyo Ra sambil menatap ke arah Kyuhyun yang masih merapikan buku diatas rak.

"Tidak. Aku tidak melihatnya." jawab Kyuhyun santai.

"Eh. Ada apa dengan bajumu. Kenapa ada bercak merah di ujung kerahnya." pertanyaan Hyo Ra sontak membuat Kyuhyun terkejut.

"Oh.. Ini, tadi aku habis makan kentang goreng, mungkin tomatnya menempel disini."

"Emm.. Sudah beres. Kalau begitu aku akan mencari Luna dan Jiny dulu." Hyo Ra segera berjalan menuju pintu keluar namun segera di cegah oleh Kyuhyun.

"Eoh.. Aku ingin mencari dua temanmu. Kenapa kau menghalangiku."

"Dua temanmu sudah tenang disana.."

"Mwo ? Ap– apa maksudmu Kyu ?" tanya Hyo Ra yang masih heran dengan ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun mengeluarkan sebilah pisau yang penuh dengan darah, dan kembali ia menjilati pisau itu dengan penuh nafsu dan tanpa rasa jijik sedikitpun.

"It– itu.. Itu.. Apa yang—"

"Santai saja Hyo, tak usah takut begitu. Aku tidak akan menyakitimu seperti mereka." Kyuhyun berjalan sambil terus mendekati Hyor Ra yang kini dalam keadaan melangkah mundur untuk menghindari Kyuhyun.

"Ap— apa maksudmu Kyu ?"

"Kau lupa. Atau kau pura-pura melupakannya. Kau tidak ingat apa yang telah kedua temanmu lakukan padaku hari ini, juga hari-hari kemarin. Aku sudah cukup bersabar Hyo, tapi kali ini aku sudah muak."

Brak!!

Kyuhyun menggebrak meja di hadapannya dan itu semakin membuat takut Hyo Ra.
.
.

FLASHBACK

Sepi, hanya sepi yang mendominasi ruangan kelas itu, dan nampak semua murid sedang memperhatikan songsaengnim yang sedang berdiri di depan kelas.

"Hey, Hyo Ra.! Kyuhyun dari tadi terus memperhatikanmu" bisik seorang yeoja kepada teman yeoja di sampingnya.

"Eoh.." yeoja itu menoleh ke samping belakangnya, dan benar namja bernama Kyuhyun itu sedang memperhatikannya.

"Ji-Jiny.. Kenapa dia menatapku seperti itu ?" yeoja bernama Hyo Ra itu bertanya kepada temannya yang bernama Jiny, dan Jiny hanya menggelengkan kepalanya pelan.

"Aku rasa si kutu buku itu menyukaimu." bisik teman yeojanya yang duduk di belakang Hyo Ra.

"Andwae.. Kau gila, aku tidak akan mau dengan namja itu." balas Hyo Ra tak kalah berbisik.

Ting Tong

Waktu istirahat telah tiba, semua murid berhambur keluar kelas tak terkecuali dengan Hyo Ra dan dua temannya.

Mereka berjalan menuju kantin di belakang sekolah, dan memakan menu makan siang mereka.
Tanpa mereka sadari seorang namja telah berdiri di hadapan mereka.

"Hyo Ra.. Ini untukmu" namja itu menyerahkan sebuah novel kepada Hyo Ra.

"Eoh.. Mianhae, tapi novel ini aku sudah punya." tolak Hyo Ra halus.

"Hey kutu buku, kau pikir dengan memberikan novel Hyo Ra akan menyukaimu." celetus salah satu teman Hyo Ra.

"Haha.. Luna Luna, kau itu terlalu jujur." Jiny tertawa sambil memegangi perutnya.

"Sudahlah Kyu, bawa saja pergi novelmu. Aku tidak membutuhkannya." tolak Hyo Ra lagi.

"Ups.. Sorry" Kini Jinny sengaja menumpahkan minumannya ke atas novel yang di pegang oleh Kyuhyun.

Namja bernama Kyuhyun itu langsung beranjak pergi dengan raut wajah yang datar dan tanpa ekspresi.

Brakkk

Kali ini Kyuhyun jatuh tersungkur ke lantai karena Luna dengan sengaja menghalangi kaki Kyuhyun.

"Hahaha…" kedua yeoja itu tertawa puas melihat Kyuhyun pergi namun tidak dengan Hyo Ra, ia merasa iba dengan Kyuhyun karena dua temannya selalu membully namja itu.

"Yaak..!! Kalian berdua kenapa selalu membully Kyuhyun eoh ?"

"Karena.. Dia itu Aneh." sahut Luna dan Jiny bersamaan.

Kyuhyun memang namja yang terkenal kutu buku di Sekolah itu. Karena ia selalu menggunakan kaca mata minus miliknya, selalu membaca buku di kelas dan ia terkenal sangat pendiam bahkan tidak pernah berbicara dengan siapapun.
.
.
.
.
.

Jam belajar pun selesai, dan seluruh murid bersiap untuk pulang dan kembali ke rumah masing-masing.

"Besok kan hari libur. Bagaimana kalau kalian menginap di rumah ku ?" ajak Hyo Ra.

"Ide bagus." sahut Luna yang segera di balas anggukan mantap oleh Jiny.

"Eh tunggu, aku punya ide bagus. Aku ingin mengerjai kutu buku itu. Dia masih berada di dalam kelas." ucap Luna.

"Aku setuju, pasti seru." sahut Jiny setuju.

"Jangan.. Kasihan dia, tadi siang dia sudah kalian buat malu di kantin." ujar Hyora.

"Ssst… Kau diamlah Hyo Ra, dan lihat apa yang kami lakukan." ucap Luna yang segera menarik tangan kedua temannya.
.
.

Kyuhyun terlihat keluar dari kelas, ia berjalan dengan cepat mungkin ia harus mengejar sesuatu, di ujung koridor dua orang yeoja sudah bersiap-siap memegang ember berisi air bekas kain pel di
masing-masing tangan mereka. Dan ketika Kyuhyun
sampai,

Byyuurrrrrrr

Kyuhyun basah kuyup dan
berwarna coklat. Gelak tawa dua orang yeoja tadi
semakin membuat Kyuhyun kesal.

"Hey, kau lihat dia. Iyuuuuuhh sangat menjijikkan. Hahaha" kini Luna berjalan mendekati Kyuhyun dan

Plookkk

Ia memecahkan telur di atas kepala Kyuhyun.

"Kalian. Aku tidak akan memaafkan kalian..!!" ucap Kyuhyun geram sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Apa ? Kau tidak terima hah.. Dasar kutu buku."

Bukk

Jiny mendorong tubuh Kyuhyun hingga namja itu jatuh tersungkur sedangkan Hyo Ra hanya mampu memandanginya di balik dinding.

"Sudah. Sekarang kita pulang sebelum ada yang melihat." ajak Hyo Ra dan kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan Kyuhyun yang masih tersungkur di lantai.

Mereka pun berjalan hingga sampai di depan gerbang sekolah.

"Hyo Ra tunggu." panggil seseorang dari arah belakang yeoja bernama Hyo Ra itu.

FLASHBACK END
.
.
.

"Jadi.. Jangan katakan kau telah—"

"Haha.. Mereka sudah MATI !!" Ucap Kyuhyun dengan begitu menekankan kata 'Mati'.

"Kau— aku pikir kau—"

"Sebenarnya aku menyukaimu Hyo Ra, aku tidak tega membunuhmu seperti apa yang telah aku lakukan kepada dua temanmu yang menjijikkan itu. Tapi— aku berubah pikiran, sebaiknya kau harus menyusul mereka dan kalian bersahabatlah di neraka."

Hyo Ra menerobos Kyuhyun dan langsung berlari ke arah
pintu. Sayangnya ia kurang cepat karena Kyuhyun langsung menarik kakinya dan membuat yeoja itu
terjatuh dengan bunyi cukup keras dilantai keramik yang dingin.

"AKKHHH.."

Kyuhyun segera meraih pergelangan kaki Hyo Ra kemudian berjongkok tepat di samping Hyo Ra yang tersungkur. Kyuhyun segera mengarahkan pisau hingga menancap tepat di bahu Hyo Ra dan menyayatnya hingga baju yeoja itu sobek dan mengeluarkan darah.

"Aarghh..!!"

"Itu belum seberapa Hyo Ra, kau tahu betapa sakit hatinya aku."

"Ja– jangan Kyu.. Ku mohon." Hyo Ra bertumpu pada tangannya untuk mundur, namun Kyuhyun mendorongnya hingga Hyo Ra terbaring di lantai keramik itu.

Kyuhyun menempelkan pisaunya di lekukan wajah Hyo Ra, kini nasib yeoja itu ada di tangan Kyuhyun. Kapan saja ia mau maka Hyo Ra akan mati di tangannya.

Pucat, begitulah wajah Hyo Ra sekarang, nafasnya yang tak beraturan dan degupan jantung yang sangat kencang. Bisa ia rasakan pisau itu seakan menancap di wajahnya.

Entah kekuatan darimana, kini Hyo Ra dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Kyuhyun hingga namja itu mencium dinginnya lantai keramik. Ia segera berlari mengelilingi perpustakaan luas itu mencari arah pintu sambil terus memegangi pundaknya yang terluka.

Bagus, itu dia. Batin Hyo Ra saat ia menemukan sebuah balok kayu sisa perbaikan perpustakaan minggu lalu.
Ia segera mengambil balok kayu itu dan bersembunyi di antara rak-rak buku perpustakaan, sementara itu matanya tersu di edarkan untuk mencari keberadaan Kyuhyun.

"Hyo Ra. Kau dimana ? Keluarlah. Aku tidak akan menyakitimu."

Suara langkah kaki Kyuhyun terdengar jelas di teling Hyo Ra, Kyuhyun berjalan dengan menghamburkan buku dari rak-rak tersebut hingga buku itu jatuh berserakan di lantai.

"Kau pikir kau bisa lari dariku. Tidak semudah itu Han Hyo Ra."

Diam-diam Kyuhyun sudah menemukan keberadaan Hyo Ra di balik rak buku yang tadi ia jatuhkan.

"AKHH..!!" Pekik Hyo Ra saat Kyuhyun menjambak dengan kuat rambutnya, Hyo Ra berusaha melepaskan tangan Kyuhyun dari rambutnya namun tenaganya terlalu lemah untuk melawan seorang namja terlebih keadaannya yang sedang terluka.

Hyo Ra menangis kesakitan, namun itu tak membuat Kyuhyun iba. Ia bahkan lebih semangat untuk menarik rambut Hyo Ra dan menyeretnya hingga kini mereka sudah saling berhadapan.

Kesalahan bagi Kyuhyun, ia tak menyadari sebuah balok kayu di tangan kiri Hyo Ra. Ia terus menyeret rambut yeoja itu, sambil terus mencari waktu yang tepat ia terus meronta-ronta untuk melepaskan diri dari Kyuhyun.

"Aku tidak akan membuatmu menahan sakit terlalu lama, aku akan segera mengakhirinya."

Kyuhyun segera melepaskan tangannya dari rambut Hyo Ra dan berniat untuk menancapkan pisaunya di perut yeoja itu dan

JLEEEBBBB

BRUUUKKKK

Tepat saat Kyuhyun menusukkan pisaunya di perut Hyo Ra, yeoja itu pun segera memukul kepala Kyuhyun dengan balok kayu yang sedari tadi di pegangnya.

Setelah tujuannya terpenuhi, kepalanya berdenyut
pusing. Semuanya seolah berputar, Ia berusaha
menjaga pandangannya, sambil memegangi perutnya yang masih tertancap sebuah pisau disana namun hasilnya nihil.

Secara perlahan cahaya itu berkurang, dan
matanya pun turut mengatup erat mengakhiri rasa sakit yang ia rasakan.
.
.
.
.
.
.

"Eungh.."

"Kau sudah sadar."

"Eomma.. Aku dimana ?"

"Kau di rumah sakit sayang, kedua temanmu—"

"Kyuhyun."

"Tenanglah, dia sudah di amankan polisi. Dan sekarang kau tidak perlu takut lagi."

"Jiny dan Luna. Mereka— mereka dimana ?"

"Mereka sudah tiada, nanti kita bersama-sama mengunjungi makamnya."

Yeoja itu, yeoja yang terbaring di rumah sakit adalah Hyo Ra.

FLASHBACK

Lee songsaengnim berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang perpustakaan untuk melihat hasil pekerjaan murid-muridnya.

Saat ia membuka pintu dan berjalan menyusuri perpustakaan itu, tiba-tiba ia melihat dua orang sedang tergeletak di lantai dengan keadaan sang yeoja yang tertancap dengan pisau dan sang namja yang mengeluarkan darah di bagian kepalanya karena hasil pukulan balok kayu.

"KYAAAAAAAAAAAA……" Lee songsaengnim berteriak dan segera berlari meninggalkan perpustakaan itu dan langsung menelepon polisi.

"AAAAAAAAAAAA" Ia kembali berteriak saat melihat sesosok mayat tergeletak tepat di depan pintu kelas yang terbuka.

Polisi pun datang dan sebuah ambulance yang masih dalam perjalanan. Mereka menemukan satu mayat lagi yang ada di dalam toilet.
.
.

FLASHBACK END

Sungguh beruntung nasib Hyo Ra dan Kyuhyun, mereka tidak mati. Hyo Ra dan Kyuhyun langsung di bawa ke rumah sakit, dan Kyuhyun di tetapkan sebagai tersangka dan di hukum se umur hidupnya.

END

Hoho.. FF apa inih, yesungdahlah. Terima amplop buat yang udah mau baca..

See U Next FF :*

FF SOMPLAK | SM. AUDITION

SM AUDITION

Author :JessicaChu

Cast : SM. Ent.

Genre : Gak penting

Ini ff lamaa sebenarnya tpi baru aku share disini.. ff ini hanya untuk hiburan semata..
don’t bash me.. this ff just for fun..

*Kenistaan ada didalam sini, yg gak suka harap singkirkan mata anda. Takutnya akan menodai nantinya..
Oh iye, maap buat semua pemain yang saya nistakan.

Happy Read >CEKIDOT<

Pagi itu, sang pemilik SM alias Sooman yang gak mau dipanggil mbah, maunya di panggil nyai. *maksa banget* lagi sibuk-sibuknya buat nyiapin mental untuk menghadapi para peserta yang akan mengikuti audisi SM nanti.

Sooman : Heyy, anak-anak. Sini cepet.

Warga : Iyeee nyai what the ???

Sooman : Akoooh.. Perlu 5 orang buat nemenin jadi juri di SM Audition nanti. Ada yg mau ?

Eunhyuk : Gue!! *angkat tangan* gak mau. Dih!! Males banget gue ngejuri bareng lu, mending gue #ekhem dikamar sendiri :O

Sooman : Diam kau Tunggul Ametung *hah? Sooman mabok drama Ken Arok –"

Yuri : Yaudah sih ya, lu tinggal pilih aje. Gue yakin mereka semua bakal terpaksa.

Sooman : Baiklah Baiklah. Gue pilih Jessica si es balok, Luna si bantet, Bebek empang alias si Baekhyun, uler Boa sama Laki gue ustadz Siwon.

Siwon langsung mual-mual dan muntah ditempat saat diakui sooman sebagai lakinye.

Yeye : Cut!! Mana ekspresinyaaaaaaa………..

ADEZINGGG!!!

Yesung di pukulin warga ampe tewas. *nyamnyam :v

Sooman pun beserta Jessica, Luna, Baekhyun, Boa dan Siwon yang akan menjadi juri ntar langsung capcus ketempat audisi, yaitu di Jamban City kecamatan Bau Anyir kabupaten Ogah Mampir. *namanya serem bener*

@JAMBAN CITY

Para juri sudah siap berjejer bagaikan jemuran sempak milik Sooman, mereka duduk rapi menunggu para peserta yang mengikuti audisi. *gue jamin pesertanya kagak ada yg beres*

Jeng Jeng satu persatu peserta bermunculan dari balik kelambu hitam :O

¤Peserta pertama

Sooman : Siapa nama kamu ?

Amber : Amber Om, eh Tante, eh Sis, eh Nyai eh.

Sooman : Panggil saya beb. Okeeeh cyynnn *mulai dah kumatnya.

Boa : Kamu mau ngapain sekarang ?

Amber : MAU NGEMIS !! ELAAHH.. YA MAU IKUT AUDISI LAH! LU BEGO BANGET JADI JURI YAH. BERANTEM YOK!! *Baru mulai udah ngajakin berantem aje ni abang tukang ojek.

Siwon : Astaga.. Syudah syudah!! Amber, tunjukan dadamu *Wooyy bang sadar bang sadar.. Amber mana punya dada :O <Author dibakar :v

Amber : Baiklah. Saya akan menyanyikan sebuah lagu berjudul mabok janda.

Amber pun menyanyi dengan begitu merdunya hingga membuat para juri mabok beneran, ditambah lagi dengan gaya amber yang beneran mabok gegara kebanyakan nyium kentutnya sendiri.

Luna : STOOOPP!! Lu mabok apa minta tabok sih. Udah lu di tolak!! Pulang sana!!

Amber : Cih!! Baiklah Kian Santang. Walaupun aku ditolak disini, masih ada audisi Little Miss Jamban :O

Ini acara apa sih sebenernya -_-

¤Peserta kedua

Siwon : Oke. Silahkan perkenalkan siapa nama kamu ?

Tao : Saya Tao pak..

Siwon : Iya saya juga tao, sekarang sebutin siapa nama kamu ?

Tao : Saya Tao pak.

Siwon : Ngeeehh.. Kalo tao ya kasih tao jangan ngomong tao tao aje. Siapa nama lu SETAAANNN!! *sabar bang dari tadi emosi mulu.

Tao : Saya pasrah ya Tuhan.
Serah deh, panggil aja saya Buluk.

Jessica : Kagak enak bener namanya, tapi gak papa lah. Yang penting muka lu ganteng *kedip-kedip.

Boa : Baiklah Buluk, kamu mau Akting, nyanyi, atau jadi presenter.

Tao : Jadi pramugari bisa ?

Sooman : Bisa. Jadi pager jamban juga bisa.

Tao : Ngehh -_- saya mau Wushu pak.

Sooman : Pak pak, sejak kapan gue kawin ama emak lu.. ??

Tao : Ampuni saya Tuhan.

Buk Buk Buk Buk

Tao pun langsung melayangkan tongkat wushu yang ia bawa tepat di wajah Sooman, membuat wajah Sooman menjadi bolong-bolong :v *jan dibayangin pelissss :3

Tao pun pulang dengan tangan hampa karena tongkat wushu nya udah patah jadi debu karena ia layangkan ke wajah Sooman.

¤Peserta ketiga

Boa : Selamat siang, namanya siapa mas ?

Kris : Nama saya Kris bukan mas.

Boa : Iye dah. Serah lu Kris.

Kris : Nah tu tau nama saya Kris, kenapa tadi malah nanya.

Jessica : Bujug dah!! Alamat mules ini. Gue ke toilet dulu yeh, kalo acaranya udah kelar panggil gue lagi. *ciyeee yg ngehindar :v

Boa : Jan kemane-mane Jess. Ntar di cipok Sooman mau ?

Jessica : Naudzubillah.. –"

Kris : Gue disini keless, dikacangin masa *kibas poni*

Baekhyun : Maap maap, silahkan Kris tunjukkan bakatmu.

Kris : Emang saya punya bakat yah ? *Maap yeh Kris disini rada Pea :3

Sooman : Kalo lu gak punya bakat terus kenapa lu kesini.

Kris : Kagak tau, emang saya dimana ?

Baekhyun : Ebuseeet!! Ni orang bikin gue naek darah. Kalo lu kagak punya bakat mending pulang sono. Bikin pala gue pusing aje.

Kris : Ini ada apa an sih ? Kenapa pada banyak orang ? Kalian semua siapa ? TeruS terus kenapa saya bisa ada disini ? Oh iya saya siapa yah ? Saya disini mau ngapain ?

Juri : PULAAAAAAAAANG !!!!

Jessica : Peserta selanjutnyaaaaa!!!!

¤Peserta keenamributujuhratus

Siwon : Nama nama siapa nama ?

Yoona : Ciee abang. Ngebet banget pengen tau nama saya. Naksir yah ? Iya kan ? Iya aja deh. Secara saya kan cewek tercantik disini. *mulai pamer kecantikan*

Siwon : PULAAAAAANG!!!!

Yoona : Yuk bang, sekalian mampir ke KUA.

Siwon : KAMVREEEETTT!!! LO GUE END!!!

Yoona pun lari sambil menangis bombay ala di pilem-pilem india getoh.

¤Peserta ketujuhratusenampuluhribu

Boa : Baiklah. Siapa nama kamu ?

Krystal : Saya Krystal mbak.

Luna : Syukurlah dia waras. *Boa ngomong dalem hati*

Jessica : Kamu punya bakat apa ? Nyanyi, Akting ato modeling.

Krystal : Beeeh.. Bakat saya yeh, melebihi itu semua mbak.

Jessica : Waahh hebat hebat. Silahkan tunjukkan bakatmu.

Krystal : Bisa pinjam dompetnya sebentar gak, saya mau sulap.

Jessica : *ngasih dompet* *senyum-senyum* Tolong ganda.in uang saya yah. #GUBRAAKK

Krystal : Pada mau tau bakat saya kan. ?

Juri : *ngangguk-ngangguk*

Krystal : Inilah bakat saya. LARIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

Krystal ngambil langkah sejuta dan membawa kabur dompet Jessica yang isinya cuma duit goceng.

Jessica : COPEEEEETTTTTTT!!!!

Luna : CEPOOOOOOTTTTT !!

DISYEENG !!

Luna langsung dikasih bogeman mentah sama Jessica sampe-sampe Luna loncer dari bangkunya.

Siwon : Sabar Jess sabar. Sudah ikhlaskan saja.

Boa : Duitnya banyak ya Jess ?

Jessica : Cuma goceng sih.

Baekhyun : Yaelahh goceng doank lu udah kek kecopetan jidat aje. *ni org ngomong apasih :3

Jessica : Bukan masalah duitnyaaaaaa…

Boa : Lalu ??

Jessica : Itu dompet hasil dikasih bang Agung Herculun.

Siwon : Herculessss Jess Herculeeesss… Behhh.. Gue ketekin juga lu! Paku masjid.

Jessica : Ettdaahh… Songong lu Kutu Monyet!!!

Siwon : Apa lu kecebong bunting!!

Jessica : Dih.. Kecoa angus!!

Boa : DIAAAAAMMMMM!!!

Akhirnya semua juri pada pusing sendiri dan Audisi pun resmi dibubarkan dengan paksa tanpa membawa pulang satupun kontestan yg lolos.

SM AUDITION END!!!

#Ngaks ini FF apa an coba…
Yodah dech..

See U Next FF :*

FF Somplak | Kupret |

KUPRET (Kupas Abis Pripasi Selebritis Pret Pret)

Host : Minho

Bintang tamu :
Luhan
Jessica
Donghae

Just For Fun

Happy Read
Selamat subuuhhh penonton tercintaah.. Dimanapun anda bernapas /? Di alam nyata atau pun alam gaib, baik dunia mau pun akhirat. Di planet bumi atau planet ubur-ubur. Dari sabang sampai merauke. Dari kemaren juga dari tadi. Doh!! Gue kagak bisa napas, gue napas dulu yak tunggu yak.

Udah yak.. Ketemu lagi di acara gue, atu-atunya acara yang di laknat sama penontonnya — dimana lagi, betul banget salahnya..
Kebetulan lu lu pada kagak salah, cuma gue disini yang lagi sarap. Ketemu lagi di acara gue KUMPRETT Kumpas Abis Pripasi Selebritis prett prett.

Tetep dengan gue Minho yang kece abis.. Gue punya pantun, dengerin yak dengerin.

Di atas genteng bawa palu
Gue ganteng mau apa lu ???

Udah segitu dulu yak perkenalan gue, ntar kelamaan yang ada gue di kutuk sama penontonnya jadi tambah ganteng bisa berabe pan, ntar pada naksir gue begimane nasib bini gue si Dina di rumah yang tujuh hari tujuh malem kagak makan nungguin gue pulang bawa semen.

Penonton : STOPPP WOOYYY STOPPP!!

Noh, udah di suruh stop aja, padahal gue pan belom jalan yak. Yodah dech, sekian itu aja perkenalan singkat gue. Yang jelas gue ganteng kagak ada tandingannya.

BTW yeh, bintang tamu kita subuh kali ini adalah seorang penyanyi muda, salah satu anggota Boyband. Gak cakep-cakep amat si, tapi yaa lumayan lah untuk ukuran sendal jepit /? Langsung aja kita penggal #eh panggil.. Luhaaaannn……
Tepuk tangan buat Luhan..

Seketika angin bertiup, muncul lah seorang cowok cakep yang standar /? Berjalan dengan lincah ampe keramik pada pecah —

Minho : Nah Luhan silahkan pulang —

Luhan : Anjir!! Gue baru nyampe bro :3

Minho : Haha.. Gue bechanda keles bro, santai aja keles bro. Yo duduk dulu bro, maap kagak ada kursi bro, lu biasa duduk di lantai pan bro, nah silahkan duduk bro.

Luhan : Kamprett — ni orang kesurupan setan apa sih. Udah gue pulang aje, kontrak 1 milyar gue Batal!!

Minho : Eh jangan pulang. Belom juga di tanya-tanya.

Luhan duduk dong di sofa, katanye di studio ntu kagak ada kursi adanya cuma sofa padahal sama aje yak apa bedanya.

Minho : Apa kabar Luhan ?

Luhan : Penting banget ya kabar gue buat Lu ?

Minho : *ngomong dalem ati : SETAN!! Namanya juga basa basi buat buka acara –*
Yasudah.. Gue kaga jadi dah nanya kabar lu.

Luhan : Tapi lu udah keburu nanya tadi, takut lu penasaran jadi gue kasih tau aja deh kabar gue.

Minho : *elus dada*

Luhan : Kabar gue dulunya baik sebelum gue di putusin sama Jumaroh, nah gue pan jadi jomblo yak. Nah sejak itu gue jadi jones dong yak, udah jomblo ngenes pula, nah jadi intinya kabar gue sekarang lagi kurang baik, tapi berkat gue di undang ke acara yang kagak jelas ini gue terpaksa harus bilang baik. Jadi ceritanya kabar gue baik.

Minho : *Kejang-kejang*
Intinya Lu baik udah!! Kagak usah panjang lebar. BACOK NIHH!! *sabar sabar —

Luhan : Pan gue sekalian curhat gitu, kali aja setelah gue curhat banyak cewek yang daptar mau jadi pacar gue.

Minho : Terserah apa kata lu dah. Ngomong-ngomong gue denger katanya lu bakal main film yeh, nah begimane tuh nasib boyband lu yang 3 hurup ntu ?

Luhan : Iyap.. Bener banget, gue di kontrak buat main film horor, boyband gue baik-baik aja. Toh gue syuting filmnya juga tiap malem jum’at, jadi kagak bakal ganggu aktipitas boyband gue yang suka jaga lilin tiap malem jum’at ntu.

Minho : *manggut-manggut*
Kasih bocoran sedikit dong, siapa tau penonton kumpret lovers pengen tau apa judul pilm horor yang lu binatangin.

Penonton : Bintangin nyet bintangin -_-

Luhan : Tapi janji yak jangan kasih tau siapa-siapa yak ??? Judulnya itu horor bingitt, kalau gak kuat angkat tangan aja yak. Gue jamin lu semua bakal ketakutan—

Minho : KAMPRETT!! KASIH TAU CEPETAN!!

Luhan : Oke oke, judulnya itu…

Deg deg

Minho : *gemeteran*

Penonton : *merinding*

Luhan : BERANAK DALAM KARDUSS!! Horor bangettt pann hororr pan..

Gubrakkk!!!

Minho langsung loncer dari sofanya, penonton pada tewas denger judul pilm baru Luhan yang horor bingit katanya.

Minho : Yasudah. Kita lupakan curut yang satu ini, sekarang kita sambit bintang tamu berikutnya. Seorang penyanyi cantik, juga anggota dari girlband. Kalo yang tadi boyband 3 hurup, yg ini kaka kelas nya girlband 4 hurup. Langsung saja kita timpukin Jessica dari SNSD..
Tepuukkk tangaaannnn….

Minho : Waw.. Cantik banget lu subuh ini Jess..

Jessica : Makasih, dan semua manusia juga sudah mengakui kalo gue cantik. *stay cool 8|

Minho : *dalem ati : Nambah lagi calon bintang tamu pe’a*
Duduk dulu Jess,

Jessica : Makasih, Eh ada Luhan.

Luhan : Eh ada Jessica.

Jessica : Ngapain Lu disini ?

Luhan : Biasa. Mungutin botol plastik — ya gue jadi bintang tamu lah, kuprett..

Jessica : Oh!! Gitu!! Waw!!

Luhan : Ngehh -_- jambak-jambakan nyok —

Minho : PULANG LU BEDUA PULANG!!! AKH! SEBEL GUE :3
Ni tamu siapa yang ngundang si, kesel gue lama-lama..

Jessica : Lu kesel sama cewek se cantik gue. Dih!! Iyuh bangett —

Minho : Baiklah. Kita lanjutkan setelah iklan berikut ini.. Iklannya lumayan lama loh, tunggu aja ampe 10 tahun..

#Iklan

Dulu.. Muka saya benjol-benjol
Tapi, setelah perawatan di klinik tongfang
Saya jadi gak punya muka lagi
Hidupp Klinik Tongfang :3

#IklanEnd

Minho : Okee!! Gue jenggotan nunggu tu iklan lama bener kelarnya. Sekarang kita tanya-tanya Jessica lagi.
Kegiatan lu sekarang apa Jess ?

Jessica : Lu ngepens ya sama gue, ampe kegiatan gue lu pengen tau banget kayaknya.

Minho : -_- tobat gue kagak pengen lagi jadi host :3
Nanya ini salah, itu salah, Oh Tuhan! Ampuni lah dosa bintang tamu saya ini —

Jessica : Ini acara apa sih ???

Minho : Sunatan massal. Sekarang giliran lu yang di sunat. <weh lu jangan macam-macam bang, gue talak lu ntar —

Luhan : Yo wes.. Ini acaranya bener-bener di laknat sama penontonnya. Host nya aja kek gitu bentuknya — *Luhan menggerutu*

Minho : Okesip!! Gue mulai panas sekarang. Yooo kita lanjut ke bintang tamu selanjutnya, kalo yg ini juga kagak waras gue bakal pulang..
Kita sambutan /? *Rambutan woy rambutan :3
Salah satu member boyband yang udah tua tapi tetep imut-imut kek junior /?
Donghaeee.. Eh eh gak usah tepuk tangan gak usah.

Donghae : Selamat subuhhh Minho.

Minho : Selamat subuhh..

Donghae : Apa kabar lu Min ?

Minho : Baik..

Donghae : Kegiatan sekarang apa an ?

Minho : Kamprettt!! Ini yang pembawa acara siapa sih -_-

Donghae : Oh mangap mangap. Gue duduk yak,

Minho : Pulang sono pulaaaannggg!!

Donghae : Belom juga di tanya udah di suruh pulang. Dih!! Lawak banget nih kuda lumping —

Minho : Elaah!! Kamprett lu dedemit sawah..

Donghae : Berantem yok!!

Minho : Makan palem bareng peye
Berantem.. Sorry ye bukan lepel gue — *kibas poni*

Donghae : disikut pake kue
Takut ye ngelawan gue..

Minho : disikut pake peye
Takut ? Sorry yee..

Jessica + Luhan : Kita disini kelesss, gak usah berantem disini bisa keless..

Doh!! Ini acara apa an si knapa jadi begindang /? Tu host sama bintang tamu pda kenapa lagi :3

Minho : Yasudah kita lanjutkan setelah iklan berikut ini.

#Iklan

Dulu. Pacar saya batuk-batuk
Tapi setelah minum baygon
Batuk ilang, nyawa melayang.
Terimakasih Baygon -_-

#IklanEND

Minho : Yuhuuu.. Balik lagi di acara Kumprett.. Satu-satunya acara yang di laknat sama penontonnya. Masih bersama cowok paling ganteng di dunia, gue dong Minho.
Nah. Gue mau nanya sama bintang tamu kita yang betiga ni subuh.
Apa kalian udah punya pacar ? Pasti penonton penasaran dong pasti.
Silahkan dari tukang odong-odong dulu. Donghae nyok di jawab..

Donghae : Pacar ? Yang dari timun itu ?

Minho : Itu acar woyy —

Donghae : Acar yang penyakit kulit itu bukan.

Minho : Cacar wooy cacar —

Donghae : Cacar itu bukannya jenis pakaian dalam.

Minho : Sumpreet!! Berantem nyok!! Mati mati dah gue —
Woooy ini tamu sialan siapa yang ngundang si ???? Kurang ajarr!!

Minho lagi berasap palanya, nahan emosi. Kasian :3

Minho : Sekarang cewek tercantik se alam gaib, Jessica. Udah punya pacar ?

Jessica : Emang kenapa ? Lu pengen jadi pacar gue ya. Gue belom punya pacar koq. Kalo lu mau lu boleh jadi pacar gue.

Minho : Gue udah punya bini mpok, jangan godain gue plisss —

Jessica : Kalo gitu lu aja yang godain gue *kedip-kedip*

Minho : *sesak napas*
Lanjut ke Luhan, semoga yang ini cukup waras. Luhan udah punya pacar belom nih ?

Luhan : Kebetulan gue Jones, udah jomblo ngenes pula. Hiks Hiks gue di putusin sama cacar gue.

Minho : Pacar woooyy pacarr!! Beeeh.. Tabok nih —

Luhan : Mulut mulut siapa ? Serah gue dong..

Minho : Errr….. Bubarrr bubaaarrrrr acaranya di apus aja dari daptar kelaknatan —
Gue insap.. Udah gue kagak mau lagi jadi host ni acara —

Akhirnya Minho pulang sebelum acara selesai.

END

FF | Can’t See Your Heart | Chap 2

Can’t See Your Heart
Part 2

Author : Dina aka Choi Rae Won

Cast :
Jung Seoyeon
Jung Soojung
Xi Luhan
Kris Wu

Genre : Romance.

Lenght : Chapter

Happy Read

Seoyeon bermalas-malasan memasuki sebuah museum tua. Hari ini ia mendapat tugas dari dosen Kang untuk meneliti benda-benda bersejarah Seoul. Ini adalah resiko karena Seoyeon mengambil jurusan sejarah di universitasnya. Dan mau tidak mau ia harus melakukannya demi mendapatkan tambahan nilai.

Dengan tas rancel di punggungnya, dan sebuah kamera yang menggantung di lehernya. Tak lupa sebuah note kecil di tangannya. Ia mulai memotret benda-benda tersebut dan mencatat beberapa keterangannya.

“Sepertinya terlalu dekat.” Seoyeon memundurkan langkahnya untuk mendapatkan hasil potretan yang bagus. Ia tidak mau hasilnya terlihat jelek dan itu akan mempengaruhi penilaian dosen Kang.

Buk!!

Seoyeon dapat merasakan punggungnya bertabrakan dengan sesuatu. Untuk sesaat ia diam di tempat, kakinya terasa kaku untuk berpindah dari sana. Sampai suara seorang namja yang cukup familiar di telinganya membangunkannya dari kekakuan.

“Heh!! Kau tidak punya mata eoh ?” ucapan namja itu berhasil membuat Seoyeon membalik badannya.

“Kau!!”
“Kau!!”

“Sedang apa kau disini ? Yeoja aneh!”

“Bukan urusanmu. Dasar kau yang namja aneh.”

“Ternyata Tuhan tidak mengabulkan permintaanku untuk tidak bertemu lagi dengan yeoja aneh sepertimu.”

“Heh. Kau pikir aku senang bertemu namja aneh sepertimu lagi!!” kali ini Seoyeon yang segera angkat kaki dan pergi meninggalkan museum itu. Penelitiannya hari ini GAGAL TOTAL karena namja aneh itu.

——————————

Jessica melamun di dalam kelas, memikirkan penelitiannya yang kemarin gagal gara-gara namja aneh yang membuatnya kesal.

“Seoyeon ? Bagaimana penelitianmu ?” tanya seorang namja yang kini tengah duduk di samping Seoyeon.

“Eoh ? Kris. Gagal.. Penelitianku kemarin gagal. Dan sekarang aku tinggal menunggu hukuman dari dosen Kang.” Jessica menjawab dengan nada lemas sebelum ia menelungkupkan wajahnya di atas meja.

“Gagal ? Bagaimana bisa ?”

“Aku tidak mau membahasnya. Aku kesal karena itu.”

“Arraseo~ biar aku yang mengerjakannya. Aku tidak mau melihat kau dihukum dosen Kang.” Kris tertawa renyah sambil mengacak-acak rambut cokelat terang milik Seoyeon.

“Jinjja ?? Gomawo Kris. Kau memang sahabat terbaikku.” Seoyeon begitu senang mendengar sahabatnya itu mau mengerjakan tugasnya. Ia pun memeluk namja bertubuh jangkung itu sebagai ucapan terimakasih.

“Tapi ini tidak gratis.” ucap Kris di sela-sela pelukan mereka. Seoyeon segera melepaskan pelukannya mendengar itu.

“Huufth!! Ternyata kau—”

“Hehe.. Kau hanya perlu mentraktirku ramen 2 mangkuk.”

“Baiklah. Baby Wu.” Seoyeon mencubit hidung mancung Kris gemas.

“Kau memang Baby Jung terbaik untukku.”

——————————

Soojung melangkahkan kakinya penuh semangat menuju ruang kelasnya. Ia juga kuliah di universitas yang sama dengan Seoyeon. SM University. Hanya saja mereka mengambil jurusan yang berbeda. Soojung memilih fakultas seni, ia memang terkenal memliki suara yang bagus. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa kakaknya ‘Seoyeon’ memiliki suara yang lebih merdu, tapi Seoyeon tidak ingin mengambil jurusan itu. Ia lebih memilih fakultas sejarah.

“Soojung.” Soojung menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.

“Luhan Oppa..”

“Soojung.. Temani aku makan siang nde.”

“Eoh ? Tapi—”

“Hanya sebentar. Lagi pula dosenmu hari ini tidak masuk.”

“Bagaimana Oppa bisa tahu ?” jelas saja Luhan tahu karena Luhan adalah asisten dosen Kim.

“Rahasia. Kau lupa, aku kan asistennya.”

“Ish.. Jahatnya..”

“Kajja.. Aku sudah lapar.”

“Ne..” Soojung pun hanya bisa pasrah saat tangannya sudah berada di dalam genggaman Luhan.

TBC

See U Next Chap :*