Two thumbs up,,
buat film terbaru Mira Lesmana dan Riri Riza , “Laskar Pelangi”, film yang diadaptasi dari tetralogi yang ditulis Andrea Hirata. Film yang premier 25 September 2008 ini memang dinanti-nantikan. Overall film ini hampir sama dengan novel, tapi ada sedikit penambahan seperti hadirnya tokoh Bakrie. Film dengan setting pertambangan timah di Pulau Belitung ini mampu membawa kita ikut kedalam cerita. Film ini mengisahkan tentang kehidupan anak-anak di Pulau tersebut yang hidup jauh dari kecukupan. Pendidikan di lingkungan yang tidak dianggap penting, hanya segelintir orang saja yang memiliki cukup niat untuk menjalani pendidikan. Dimulai dari perjalanan anak-anak yang ingin bersekolah di sebuah sekolah yang jauh dari kata layak, yang nyaris di tutup karena kekurangan murid, hanya 9 orang yang mendaftar, kurang 1 orang lagi, ada ungkapan “10 orang atau tidak sama sekali”. Akhirnya genap sudah 10 orang dan mereka dapat bersekolah di sana. Selama 5 tahun mereka bersama melewati hari-harinya dengan keterbatasan fasilitas tetapi merekan mampu berkembang dengan baik. 10 orang anak tersebut mendapat julukan Laskar Pelangi dari guru mereka. Lika-liku kehidupan yang mereka jalani, kekuatan akan mimpi dan cita-cita membuat mereka senantiasa bertahan. Cerita, lengkap sampai ending, hampir sama dnegan yang ada pada novel.
Sebenarnya yang ingin dibahas bukanlah ceritanya atau yang melatar belakanginya. Hadirnya Film ini menjadi salah satu alternatif hiburan pada saat liburan lebaran tiba. Film ini jauh lebih baik dari film-film yang ada dan akan tayang di bioskop sekarang. Tema yang diambil, sangat berbeda dengan yang sedang in. Dalam film ini, unsur edukasinya sangat tinggi, dapat dikonsumsi oleh segala usia. Ada feel yang berbeda, yang ditonjolkan adalah sebuah realita kehidupan yang memang didalamnya terdapat nilai-nilai postif yang mampu dikembangkan. Sebagai contoh, kekuatan sebuah mimpi dan cita-cita. Hal yang paling disoroti adalah masalah pendidikan, dimana terdapat kesenjangan yang sangat jauh antara kelas atas dan bawah. Fasilitas antara sekolah yang dihuni oleh kaum elite dengan rakyat yang pekerjaannya sebagai kuli bagaikan langit dan bumi. Sebuah cerminan pendidikan di Indonesia?. Tapi satu yang benar2 menyentuh , semangat dan kemauan yang keras untuk mengejar mimpi tersebut. Dari segi sinematografi, jawara,,setting yang diambil pas, dan terkadang membuat bertanya “wah, ada ya, tempat seperti ini di Indonesia?” . Hal ini membuktikan bahwa di Indonesia masih banyak potensi alam yang belum tereksplor.Benar-benar bisa merasakan juga dalam cerita tersebut, sebuah kondisi riil kehidupan di daerah.
Kalau ingin dibadningkan dengan Film lain, jelas levelnya di atas. Hasil karya Mira Lesmana dan Riri Riza memang tidak pernah mengecewakan, seperti Petualangan Sherina, pada jaman dulu kala Tidak rugi mengeluarkan uang lebih untuk menonton di bioskop . Film ini recommended untuk ditonton, daripada nonton film yang aneh dan tidak ada nilai postif yang bisa diambil. Semoga wajah perfilman di Indonesia bisa berubah dan memberikan hasil yang bermutu seperti ini, daripada hanya menjual film dengan orientasi komersil dan tidak mendidik.

Tanggapan