Film Inspirasi “Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap”

Oke guys, kali ini aku postingin sebuah film Indonesia yang pastinya banyak pelajaran yang dapat kalian ambil disini. Di film ini menceritakan perjuangan seorang cowok yang sangat memimpikan seorang model cantik untuk menjadi istrinya, tetapi rintangannya terlalu berat buat si cowok ini karena terlalu banyak perbedaan.

Kisah ini sebnarnya banyak juga yang biasa ngalamin, ketika kalian mencintai seorang wanita tetapi kalian terkadang malu kerna wanitanya terlalu perfect dari pada anda ,dan itu membuat anda jadi minder dan tidak PD untuk mendekati wanita tersebut, namun berbeda dengan si cowok yang di film ini, yang begitu berjuang walaupun harus dihina.

Jadi buat yang biasa mengalamin hal seperti itu saya saranin buat nonton film ini, karena selain ngakak mudah-mudahan anda bisa terinspirasi :D.

Aktor Indonesia Jadi Pemeran Utama Film Mortal Kombat Terbaru

Image

Hampir semua gamer tentu mengenal apa itu Mortal Kombat. Franchise game fighting yang terkenal karena kekejaman dan brutalitasnya ini memang terhitung fenomenal. Popularitas yang terbangun dari kesuksesan serinya di masa lalu bahkan membuat game ini beberapa kali diadaptasi menjadi film Hollywood. Bahkan di tahun 2011 silam, satu seri film pendek diciptakan untuk memperlihatkan sisi MK yang berbeda. Namun siapa yang menyangka, karya yang satu ini ternyata menginspirasi publisher besar – Warner Bros untuk menghidupkan kembali Mortal Kombat ke layar lebar. Percaya atau tidak, rumor yang berkembang menyebutkan bahwa aktor laga Indonesia yang akan dipilih sebagai pemeran karakter utamanya!

Munkin anda pernah mendengar nama aktor pendatang baru “Iko Uwais”. Dia adalah aktor pemeran film yang cukup sukses menarik pemerhati pecinta film laga yaitu Merantau dan The Raid, kedua film yang pernah dibintangi oleh Iko Uwais ini memang genre film action sesuai dengan film yang menurut kabar akan dia bintanginya yakni Mortal Kombat edisi terbarunya yakni Devastation. Iko Uwais kabarnya akan memegang peran sebagai sang tokoh protagonis utama – Liu Kang. Walaupun masih sebatas rumor, informasi ini sendiri mulai masuk ke situs-situs terkemuka seperti IMDb dan Mortal Kombat Wikia

ImageImage

Luar biasa bukan, ini baru aktor Indonesia yang sesungguhnya. Tahu nggak sih?? Sejak kemunculan Iko Uwais sebagai pemain film, saya sendiri sudah kagum dengan peran yang dia lakoninya, lewat aksi-aksinya yang lincah membuat saya tertarik untuk bisa seperti dia, ya setidaknya belajar silat dulu lah.Jadi kita berharap mudah-mudahan Iko Uwais bisa mendapatkan peran ini dan pastinya menunjukkan aksi-aksinya seperti bintang acton lainnya. Kalau di Hongkong punya Jet Lie dan Jacky Chan tapi di Indonesia ada Iko Uwais dan Appy Koe. 😀

 

10 Film Indonesia Terbaik di Tahun 2011

1. Sang Penari

Image

Film garapan sutradara Ifa Isfansyah ini menggambarkan kondisi sosial-politik Indonesia di era 1965. Sebagai film yang mengandung unsur sejarah, ‘Sang Penari’ mengalir dalam gambar-gambar muram yang indah dan enak diikuti. Kisah cinta antara Srintil (Prisia Nasution) si Ronggeng Dukuh Paruk dengan pemuda kampung, Rasus (Oka Antara) pun tak sekedar jadi bumbu pemanis, melainkan menyatu dengan alur sebagai salah satu perspektif.

Film yang diadaptasi dari novel trilogi karya Ahmad Tohari itu berhasil memenangkan Piala Citra Festival Film Indonesia 2011 untuk kategori Film Terbaik. Sekaligus, mengantarkan Prisia meraih piala Aktris Terbaik.

2. The Perfect House

Image

Film yang mampu menghadirkan ketegangan tak melulu harus menampilkan sosok hantu berupa pocong atau kuntilanak. ‘The Perfect House’ garapan sutradara Affandi Abdul Rahman akan membuat degup jantung Anda berdetak lebih cepat lewat cerita dan karakter-karakter yang misterius.

3. Tendangan dari Langit

Image

Bukan Irfan Bachdim yang membuat film ini patut untuk ditonton. Justru bintang utama dalam film garapan sutradara Hanung Bramantyo ini merupakan aktor yang benar-benar minim pengalaman akting.

‘Tendangan dari Langit’ berkisah tentang perjuangan seorang anak yang bercita-cita menjadi pemain sepakbola profesional. Berlatar padang pasir Bromo, film ini menjadi tontonan menarik pada musim libur Lebaran lalu.

4. Masih Bukan Cinta Biasa

Image

Sekuel ‘Bukan Cinta Biasa’ ini masih mampu memikat penonton dengan kisah drama sehari-hari dalam sebuah keluarga yang dibalut komedi segar. Sebagai aktor pendatang baru, Axel Andaviar yang memerankan karakter anak band bengal patut diacungi jempol.

5. The Mirror Never Lies

Image

Film garapan sutradara Kamila Andini ini berhasil meraih dua Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia 2011. Berkisah tentang hubungan ibu dan anak perempuannya dengan latar kehidupan nelayan suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Lewat debutnya ini, Kamila meraih penghargaan khusus Festival Film Indonesia sebagai sutradara pendatang baru terbaik, dan meraih Piala Citra untuk naskah asli terbaik yang ditulisnya.

6. ? (Tanda Tanya)

Image

Satu lagi karya Hanung Bramantyo, kali ini mengangkat isu pluralisme agama yang patut diperjuangkan di tengah masyarakat. Film ini mengisahkan tiga keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Meski sempat diprotes sekelompok orang yang berafiliasi ke ormas tertentu, ‘?’ menjadi salah satu film yang paling banyak ditonton sepanjang 2011.

7. Arisan! 2

Image

Setelah delapan tahun, akhirnya sutradara Nia Dinata membuat sekuel ‘Arisan’. Masih bercerita tentang kehidupan kota metropolitan dengan kalangan sosialita, persahabatan, dan kisah cinta sejenis.

Mengalir tenang dalam spirit yang positif, film ini merupakan perpaduan antara ‘Sex and the City’ dan ‘Eat, Pray, Love’.

8. Serdadu Kumbang

Image

Produksi Alenia Pictures selalu menawarkan dunia yang berbeda. Setelah ‘Denias’ dan ‘King’ inilah persembahan pasangan produser Nia Zurkarnaen-Ari Sihasale. Mengolah latar Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat yang miskin, film ini mengikuti kehidupan Amek, bocah yang menderita bibir sumbing, yang tinggal bersama ibu dan kakak perempuannya, menunggu kedatangan ayahnya yang merantau ke Malaysia.

9. Catatan Harian Si Boy

Image

Tokoh Mas Boy yang diperankan Ongky Alexander adalah idola anak muda era 90-an. Kini film tersebut kembali hadir dengan versi yang lebih modern. ‘Catatan Harian Si Boy’ yang dibintangi Ario Bayu dan Carissa Putri itu menjadi salah satu film terlaris sepanjang 2011.

10. Garuda di Dadaku 2

Image

Cerita tentang perjuangan seorang anak yang ingin menjadi pemain sepakbola profesional memang cukup diminati penikmat film Indonesia. Emir Mahira yang berhasil meraih Piala Citra sebagai Aktor Terbaik FFI 2011, kembali memerankan karakter Bayu.

Namun kini Bayu sudah beranjak remaja. Selain sudah mulai menyukai lawan jenis, penampilan Bayu juga tampak trendy seperti ABG pada umumnya. Dan satu lagi, ia juga memakai behel (kawat gigi). 

Dari semua film terbaik diatas, belum semua saya sudah tonton, tetapi saya yakin film-film diatas adalah film Indonesia yang pantas kita tonton dan memiliki makna yang lebih baik dibanding film yang berbau horror yang tidak mendidik.

The Raid Movie Trailer

Tim SWAT ((special weapons and tactics), atau pasukan khusus tiba di sebuah blok apartemen yang tidak terurus dengan misi menangkap pemiliknya, raja bandar narkotik bernama Tama. Blok ini tidak pernah digerebek oleh polisi sebelumnya. Sebagai tempat yang tidak dijangkau oleh pihak berwajib, gedung tersebut menjadi tempat berlindung para pembunuh, anggota geng, pemerkosa, dan pencuri yang mencari tempat tinggal aman.
Mulai bertindak di pagi buta, kelompok SWAT diam-diam merambah ke dalam gedung dan mengendalikan setiap lantai yang mereka naiki dengan mantap. Tetapi ketika mereka terlihat oleh pengintai Tama, penyerangan mereka terbongkar. Dari penthouse suite-nya, Tama menginstruksikan untuk mengunci gedung apartemen dengan memadamkan lampu dan menutup semua jalan keluar.
Terjebak di lantai 6 tanpa komunikasi dan diserang oleh penghuni apartemen yang diperintahkan oleh Tama, tim SWAT harus berjuang melewati setiap lantai dan setiap ruangan untuk menyelesaikan misi mereka dan bertahan hidup.

 

Inilah Bintang Laga Baru Tanah Air

Image

 Pria ini ahli silat, saat berlakon ia tidak membutuhkan pemeran pengganti dalam adegan-adegan berbahaya. Siapakah sebetulnya Iko Uwais?

Pria bernama asli Uwais Qorny ini memiliki perjalanan panjang dalam silat. Sejak umur 10 tahun Iko sudah berlatih silat di Perguruan Silat Betawi Tiga Berantai. Darah pesilat Iko, ia warisi dari sang kakek, H. Abdul Rohim, seorang guru silat.

Di balik kesederhanannya, Iko mengantongi sederet pretasi bela diri. Seperti, Kejuaraan Nasional Silat di Cibubur (2005), perwakilan Indonesia ke London (2006), Laos dan Kamboja (2007) melalui organisasi Persilat.

Tahun 2008, Iko bertemu dengan Gareth Evans, sutradara film “Merantau”, di perguruan silatnya, Tiga Berantai. Saat itu, sutradara berkebangsaan Inggris tersebut memang sedang berburu atlet silat untuk proyek film dokumenter tentang pencak silat.

Sebelum berjodoh dengan Gareth, Iko adalah supir di sebuah perusahaan telekomunikasi selama dua tahun. “Sekarang saya sudah berhenti (jadi supir). Kebetulan kontrak eksklusif sama film ini (selama) lima tahun,” ujar pria yang digosipkan cinta lokasi dengan lawan mainnya Sisca Jessica itu.

Iko tidak menutupi jati dirinya sama sekali. “Orangtua saya adalah guru ngaji,” ujar anak bungsu dari tiga bersaudara itu. Cita-cita Iko bisa dibilang melenceng dari kemampuannya bertarung. Ia ingin menjadi seorang pemain bola. “Sampai-sampai saya tidur memeluk bola,” kenangnya.

Film Indonesia Raih Penghargaan di Toronto

Image

Indonesia patut berbangga. Salah satu filmnya berhasil memenangkan ajang Festival Film Internasional Toronto (TIFF). Film Serbuan Maut (The Raid) yang dibintangi oleh Iko Uwais, Donny Alamsyah dan Ray Sahetapy ini berhasil memenangkan The Cadillac People’s Choice Midnight Madness Award dalam ajang tersebut.

Seperti dilansir dari tiff.net, film ini merupakan kerja sama kedua antara sutradara Gareth Evans dan Iko Uwais setelah film aksi pertama mereka, ‘Merantau’ yang diluncurkan pada tahun 2009. Kedua film tersebut juga menonjolkan seni bela diri tradisional Indonesia, yaitu pencak silat. Tak hanya  melibatkan sutradara Gareth Evans,  salah satu personel Linkin Park, Mike Shinoda, juga ikut menangani music scoring untuk film ini.

The Raid, diputar secara perdana di Toronto pada tanggal 8 September 2011 lalu dan mendapatkan banyak pujian dari kritikus film dunia. Penghargaan ini merupakan penghargaan pilihan penonton selama acara Midnight Madness TIFF 2011 yang digelar 8-18 September 2011.

Film yang berdurasi 100 menit ini berhasil menyisihkan film lainnya yaitu Kill List, Lovely Molly dan You’re Next. Rencananya film aksi laga ini baru akan ditayangkan di Indonesia pada Januari 2012 mendatang.

WAJAH PERFILMAN TANAH AIR

Apa yang saya tuliskan ini, semua menurut apa yang saya amati dari sisi perfileman di Indonesia. Bukan asal cerita atau pun mengarang, tetapi suatu bentuk kritikan atau keprihatinan saya bagi industri perfileman di tanah air. Sebagai pecinta atau sangat hoby menonton film, tentu saya juga banyak tau tentang bagaimana sih perfileman di Indonesia. Berikut ini saya akan menguraikan beberapa keburukan atau sisi negatif dari perfiileman di tanah air.
Kalau kita menelisik jauh kembali ke masa lampau, tentu disanalah gudangnya film-film Indonesia yang berbau pornografi, meski saya waktu itu masih kecil tapi di usia sekarang saya biasa lihat karena terkadang masih ditayangkan di TV. Istilah film jadul ini tak lepas dari hubungannya dengan adegan-adegan panas ibarat film porno, sungguh ironis melihat wajah perfileman kita. Negara kita yang notabene negara yang terkenal dengan kebudayaannya dan masyarkatnya yang sopan sangat tidak tercermin dalam industri perfileman kita. Bahkan tidak jarang film jadul ini para pemainnya rela memperlihatkan payu dara mereka bahkan bertelanjang, sungguh parah bukan. Ditambah lagi dengan adegan kekerasan yang sangat mengerikan yang tidaklah pantas dikomsumsi oleh masyarakat karena akan berdampak pada beban psikologis seseorang yang menonton, khususnya anak remaja yang sifatnya masih terkadang labil.
Kemudian bagaimana kita lihat perfileman sekarang apakah jauh lebih baik dari yang dulu ?. Tapi sayang menurut saya pribadi semakin berkembangnya teknologi menambah buruk citra perfileman kita. Kita lihat saja, mayoritas film-film yang sekarang banyak di konsumsi masyarkat luas adalah film horror. Kalau dari genre saja kita sudah bisa berfikir, apa gunanya menonton film seperti itu, terserah apakah diangkat dari kisah nyata atau pun tidak, yang jelas menurut saya sama sekali tidak penting. Dan yang lebih parahnya lagi hampir semua film horror yang ada pasti diperankan oleh artis-artis seksi dimana di dalam film tersebut meraka pasti akan berdegan hot, tentunya cara seperti ini dilakukan hanya untuk menarik para konsumen agar mau menonton film tersebut. Dan kita ketahui sendiri, mayoritas yang menjadi konsumennya adalah para pelajar. Apa yang ditampilkan dalam film tentu membawa pengaruh bagi penontonnya, munkin dengan mengikuti gaya pemainnya yang berpakaian seksi bahkan tidak jarang dalam film ada adegan berhubungan seks, jadi apakah pantas film seperti di putar dan ditonton oleh anak-anak generasi penerus bangsa. Meski sudah beberapa ada larangan ataupun pencekalan, namun semuanya masih tak di gubris, dengan alasan menghalangi hasil seni mereka. Sunggu lucu dan membuat saya tertawa. Seni yang dibanggakan mereka adalah seni keseksian, seks, dan lain-lain. Padahal seni seperti itu semua orang bisa jika mereka mau,  tapi mereka sadar bahwa pengaruhnya akan sangat buruk jika seni yang mereka lakukan seperti itu. Bahkan adegan-adegan panas bukan hanya sering di tampilkan dalam film horror tetapi di berbagai film komedi bahkan di film yang bertema perjuangan bangsa sekalipun.
Itulah sedikit mengenai wajah perfileman kita, namun tak semua film itu saja yang ada di Negara kita. Kita patut apresiasi pula film-film yang memberikan pendidikan kepada anak-anak bangsa yang masih peduli dengan generasi-generasi muda kita. Mudah-mudahan film bersifat mendidik yang membangun semangat dan meberikan motivasi kepada para penonton untuk bisa melangkah ke depan untuk maju, melihat kondisi yang terjadi di negara kita saat ini, tingkat kenakalan remaja yang semakin meningkat, banyaknya penyimpangan sosial yang terjadi seperti prostitusi, narkoba, dan lain sebagainya.
Inilah apa yang munkin dapat saya uraikan sedikit mengenai wajah perfileman kita, pastilah ada yang tidak sepakat dengan pendapat saya sendiri, dan saya anggap itu lumrah saja, siapapun bisa berpendapat sesuai apa yang dilihatnya. Mari kita dukung industri perfileman tanah air yang MENDIDIK.
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai