M.U.A.K

Mudah-mudahan Bang Dodi gak keberatan emailnya di milis alumni TN gue posting di sini. Mungkin bisa jadi penegasan kepada publik, kalau rasa muak itu memang dirasakan banyak orang di berbagai kalangan dan semakin banyak yang semakin tidak tahan dengan rasa muak tersebut.

Kawan-kawan, sebenarnya perasaan ini sudah berkecamuk dalam hati dan jiwa, sejak beberapa tahun silam. Ketika masih berstatus sebagai wartawan, banyak sekali fakta di lapangan yang membuat muak, kesal, sebal,
mangkel dan berujung pada rasa skeptis dan apatis, terhadap kondisi sekitar. Hampir semua sendi kehidupan di negara ini, kacau balau. Terutama dalam hal perilaku korupsi. Semua tingkatan pemerintahan, mulai dari tingkat paling bawah korup. Dan nyaris seluruh tingkatan non pemerintah (swasta) pun korup. Bahkan lembaga
penjaga moral, yaitu departemen pendidikan dan departemen agama, saat itu sempat menduduki peringkat pertama yang paling korup, versi Transparansi Internasional. Satu yang berkecamuk dalam pikiran saat itu, “Pantes negara kita tidak bisa maju…”

Perasaan itu makin menyiksa, karena meski berjiwa bebas, tapi tak bisa berbuat banyak (kalau tak bisa disebut sebagai ‘tak berdaya’ dan ‘tak bisa berbuat apa-apa’). Sebagai wartawan, yang bisa dilakukan hanyalah menjadi wartawan yang baik, berusaha tidak menanggalkan seluruh idealisme dan tidak
terjerumus terlalu dalam pada lingkungan yang busuk.

Namun lama-lama tak tahan juga, sehingga pelan tapi pasti, sejumlah jurus dijalankan untuk segera keluar dari dunia itu. Dunia jurnalistik praktis, yang sebagian besar tak mampu menjadi benar-benar independen dan berpihak kepada publik seperti yang diamanatkan Bill Kovach dalam ‘Sembilan Elemen Jurnalistiknya’. Alhamdulilah, saya kemudian lebih banyak berkecimpung di dunia pendidikan/pelatihan dan tulis menulis buku. Di bidang yang baru ini, relatif sedikit kondisi busuk lingkungan. Secara sadar, saya mengakui, tak mampu bertahan dalam lingkungan yang terlalu busuk. Sulit mengikuti petuah para pamong di kampus dulu yang mengatakan, “Kiprah kita harus bisa memberi pengaruh positif pada lingkungan sekitar, walau lingkungan yang
terkecil sekalipun.” Lingkungan busuk, terlalu kuat untuk dilawan sendirian!

Perasaan tersebut makin menggila akhir-akhir ini, dipuncaki perilaku ‘mulia’ bagi-bagi duit oleh si muka badak Gayus Tambunan, koruptor kelas teri yang punya pengaruh kakap. Kelakuan Gayus dan semua pihak yang terkait, mengoyak hati nurani, membunuh semangat sebagian anak bangsa, dan memadamkan banyak sekali api
harapan. Semua rangkaian cerita memilukan itu (lebih memilukan dibanding bencana alam) dan memalukan, membuat jiwa ini kian tergoncang. Mau dibawa kemana perahu Indonesia ini? Lihatlah tingkah laku dan sikap para pemimpin itu… Mereka tampak biasa saja. Lama-lama, hal paling merendahkan derajat kemanusiaanpun akan dianggap biasa. Sejak tahu korupsi merajalela di Indonesia, saya yakin, Indonesia tidak akan bisa maju, selama korupsi masih dianggap biasa!

Namun saya masih bersyukur, karena di tengah-tengah perasaan galau (kata istri saya, “Kenapa sih? Kamu bukan pejabat, bukan pemerintah,bukan siapa-siapa, kok begitu galaunya?”) masih ada sedikit harapan. Harapan yang mungkin saja berubah juga menjadi kekecewaan. Apakah harapan itu? Saya masih punya kawan, teman dan sahabat
alumni SMA Taruna Nusantara! Sampai saat ini, saya yakin, alumni SMA tempat saya belajar itu, akan memenuhi harapan pada saatnya nanti.

Selama tiga tahun kita digembleng di Lembah Tidar, dengan berbagai kondisi ideal. Meski kondisi bangsa saat itu nyaris sama morat-maritnya seperti sekarang, tapi para pendiri, penyokong, pendidik di sana waktu itu, berharap, bahwa kita tidak ikut serta menambah carut marut itu. Bahkan sebagian dari mereka berharap ebagian kecil dari kita, mampu menjadi orang-orang yang memerbaiki kondisi itu.

Saat ini, banyak sekali alumni SMA Taruna Nusantara yang sudah lumayan mapan berkiprah di bidangnya masing-masing. Baik di sektor formal maupun informal. Dan itu sesungguhnya menjadi modal hebat buat kita, untuk memenuhi sebagian harapan pendiri, penyokong dan pendidik di SMA dulu, untuk TIDAK terperosok ke dalam lingkungan busuk. Syukur-syukur, bisa memengaruhi lingkungan dengan hal positif (Dan itu sudah ditunjukkan oleh sebagian alumni.)

Tapi, sungguh sangat amat menyedihkan jika ada sebagian dari kawan dan sahabat yang justru ikut serta menambah carut marut itu. Sangat mencoreng jiwa, hati dan nurani, jika ternyata ada sebagian kecil dari kita yang meniru Gayus dkk., yang hanya mementingkan dirinya sendiri, tanpa peduli urusan orang lain. Saya berharap, tak ada satupun kawan dan sahabat, yang seperti mereka. Sekali lagi, ini adalah harapan terakhir saya melihat kondisi bangsa yang amburadul.

Semoga!

Kalau ada di antara teman, kawan dan sahabat yang seperti itu, dengan ini saya memproklamirkan diri, untuk menjadi MUSUH Anda yang pertama dan utama, lahir dan bathin, dunia dan akhirat.

Dodi Mawardi

Penulis profesional dan pengajar

(Alumnus SMA Taruna Nusantara Angkatan I)

Saatnya menarik garis yang jelas tentang keberpihakan kita. Meskipun itu berarti berada di sisi yang berbeda dengan teman atau bahkan keluarga kita. Tapi, jangan lupa kalau sejatinya perbuatannyalah yang jadi musuh bersama kita, karena tidak adil jika kita mengabaikan potensi perbaikan yang ada di diri setiap orang (eh ini jangan dicampuradukkan sama keharusan proses hukum ya). Sebagian orang yang memiliki perilaku korup kemungkinan besar sebenarnya mereka yang kalah ketika harus berhadapan dengan sistem yang busuk. System pawns individual every time. Bagian besar dari usaha kita mengubah jadi keadaan justru dengan menjadi support group buat teman dan keluarga kita yang berjuang menjalani kesehariannya sebagai bagian dari sistem yang busuk.

mPedigree : Contoh Sukses Inovasi dari “Pinggir”

Salah satu privelese yang gue rasakan selama di CMU adalah kesempatan untuk mengikuti kuliah tamu dari tokoh2 ternama di bidang IT atau public policy. Kali ini yang gue ingin tulis secara singkat adalah kuliah lewat Skype yang disampaikan Bright Simmons, pendiri mPedigree.

Bright Simmons berasal dari Ghana dan sudah lama berkecimpung sebagai aktivis berbagai lembaga kemanusiaan di sana. Salah satu masalah serius yang menjadi perhatiaannya adalah luas dan bebasnya peredaran obat palsu di pasar. Dibuat dengan kandungan dan melalui proses yang asal, obat palsu ini sangat sulit dibedakan dari yang asli karena bentuk dan kemasannya sangat berhasil meniru penampilan obat asli. Tentu saja ini menjadi masalah serius yang menyangkut hajat hidup orang banyak karena obat yang banyak dipalsukan biasanya adalah obat yang sangat penting dalam menangani permasalahan kesehatan di Afrika seperti obat malaria dan obat demam untuk anak2.

Setelah melakukan riset tentang peredaran obat palsu ini, Bright makin khawatir karena ternyata ini bukan hanya jadi masalah di Ghana, tapi juga terjadi dalam skala besar di negara-negara berkembang di seluruh dunia. Walaupun perusahaan farmasi dan pemerintah juga menyadari bahaya peredaran obat palsu ini, tapi usaha pencegahannya tidak efektif karena hanya berupa razia dan pemusnahan yang sangat tergantung pada inisiatif aparat pemerintah. Di negara-negara berkembang di mana korupsi merajalela, usaha pencegahan macam ini biasanya dilakukan lebih sebagai lip service dan tidak pernah membongkar jaringan obat palsu sampai ke akarnya.

Bright paham bahwa cara efektif untuk menyingkirkan obat palsu dari pasar harus melibatkan partisipasi konsumen, ini satu bagian. Bagian lain dari ide Bright muncul dari pengamatan dia atas sangat luasnya penggunaan ponsel di Ghana, yang bahkan sampai menembus ke pedesaaan. Setelah memikirkan dua bagian ini, Bright akhirnya sampai pada ide yang membawanya mendirikan mPedigree. Idenya sederhana, Bright ingin perusahaan manufaktur obat2an mencantumkan kode rahasia di kemasan obat. Kode kriptografis ini dicetak di kemasan dan dilindungi dengan segel scratch supaya tetap rahasia sampai tangan konsumen. Kemudian, konsumen dapat mengecek kode itu lewat SMS ke nomor bebas pulsa yang tersedia lewat kerjasama dengan operator. Sistem mPedigree akan melakukan verifikasi dan membalas dengan SMS yang berisi info tentang palsu/tidaknya obat lengkap juga dengan tanggal produksi dan kadaluwarsa.

Untuk memastikan idenya efektif, Bright kemudian dengan gigih melobi dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah, perusahaan farmasi, operator telco, dan jaringan distribusi obat. Dengan model ini, mPedigree berhasil menciptakan solusi win-win untuk semua pihak yang terlibat dan menciptakan proses alami yang mengusir obat palsu dari pasaran. Setelah sukses di Ghana, Bright giat berusaha menjalin kerjasama dengan berbagai LSM di negara berkembang lainnya untuk dapat menjalankan model mPedigree di negara-negara tersebut. Potensi luar biasa dari mPedigree untuk keselamatan hidup orang banyak, kesederhanaan teknologi, dan model bisnisnya yang akomodatif membuat mPedigree sukses mendapatkan hadiah USD500 ribu dari kompetisi Global Security Challenge.

Karena sudah lama tertarik dengan topik innovation from the edge dan technology appropriation, di akhir sesi gue bertanya ke Bright tentang bagaimana melembagakan proses kreatif seperti yang dialaminya lewat mPedigree sehingga bisa melahirkan pemanfaatan teknologi yang tepat guna untuk suatu masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jawaban Bright menurut gue sangat inspiratif sekaligus actionable. Menurut dia inti dari pola pikir dan pola tindak seorang social entrepreneur adalah: (1) Kepekaan akan masalah-masalah berdampak luas yang dihadapi secara riil oleh masyarakat. Bright biasa melatih dirinya dengan membuat list masalah sekaligus daftar 5-whys yg membawanya menemukan akar masalah tersebut, (2) Karena LSM tidak memiliki akses ke sumberdaya seperti perusahaan komersial, Bright membiasakan diri dan rekan2nya untuk brainstorm solusi suatu masalah dengan sumberdaya yang dapat diaksesnya. Seperti MacGyver yang menggunakan apa yang dapat dijangkaunya, Bright memaksa otaknya mencari solusi “tiada rotan akar pun jadi”. (3) Untuk mendukung ide brilian butuh model bisnis yang tak kalah briliannya. Bright berusaha mengidentifikasi semua stakeholders yang mungkin terkena dampak idenya, dan kemudian berusaha menghasilkan model bisnis yang memberi insentif kepada semua pihak yang terlibat sehingga mereka mendukung atau setidaknya tidak menghambat.

It just blew my mind. Thanks Bright, for your inspiration

Awan Kelabu Pemberantasan Korupsi

Ini adalah saat-saat yang sangat menyedihkan buat siapapun yang ingin melihat Indonesia bebas dari korupsi. Jika membaca berita di media massa hari ini, maka yang terlihat adalah bagaimana gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia menerima pukulan telak lewat dua kejadian pahit.

Yang pertama, tentu saja berita bagaimana lakon Cicak vs Buaya ternyata benar-benar berujung pada penetapan tersangka dua orang pimpinan KPK. Wajar sih salah satu tugas polisi menetapkan tersangka, tapi yang bikin gundah adalah tidak jelas benar sebenarnya apa kesalahan kedua pimpinan KPK itu. Bagaimanapun polisi berusaha menjelaskan, tulisan-tulisan di media lebih mewakili perasaan publik yang menangkap kesan bahwa polisi sedang memainkan jurus untuk membuat KPK terjerembab mencium tanah.

Sementara, seakan kompak mencederai satu-satunya lembaga pemberantas korupsi, anggota Dewan yang terhormat meloloskan isu krusial seperti pencabutan wewenang penuntutan KPK,keharusan izin penyadapan, dan komposisi hakim korupsi yang ditentukan oleh ketua pengadilan ke dalam RUU Tipikor. Jika tiga isu itu benar-benar disahkan ke dalam UU Tipikor, KPK praktis akan berperang melawan korupsi tanpa senjata-senjata yang dibutuhkannya.

Tentu saja kekhawatiran ini tidak perlu seandainya saja polisi, jaksa, dan pengadilan sudah menunjukkan keberpihakan yang jelas dalam perang melawan korupsi. Sayangnya, justru itu yang belum terbukti. Bahkan, boleh dibilang ketiga institusi ini masih menikmati status untouchable dalam hal pemberantasan korupsi.

Ya Allah, can You give justice a chance ?Please please please…

Image

Lihat, Lawan, Laporkan dengan KPK-OMS

Kabar gembira bagi para whistleblower dan concerned citizens yang ingin menggulung praktik korupsi. KPK baru saja meluncurkan layanan berbasis web yang diberi nama KPK Online Monitoring System (OMS). Layanan yang dapat dicapai melalui sebuah link di situs utama KPK ini memungkinkan masyarakat mengirimkan laporan pengaduan tentang dugaan tindak pidana korupsi yang diketahuinya. Lebih dari itu, layanan ini juga dengan adil memungkinkan masyarakat memberi apresiasi terhadap kinerja layanan publik instansi pemerintah

Salah satu kesan kuat yang terasa saat mencoba layanan ini adalah bagaimana KPK-OMS mendorong dan memfasilitasi anonimitas dalam pelaporan. Dalam formulir pelaporan, berkali-kali ditampilkan peringatan untuk menjaga anonimitas kita dengan tidak memberi bersit informasi yang dapat ditelusuri ke identitas kita.

KPK OMS ini bisa jadi contoh bagus bagaimana Internet dapat menjadi sarana luar biasa untuk mendorong partisipasi publik dalam mengawasi kinerja layanan publik. Tidak ada alasan lagi untuk tidak lihat, lawan, dan laporkan korupsi.

Image
Image

Cerita Alas Kaki

Ada foto menarik di Kompas hari ini*). Obyeknya sederhana saja, rak sepatu istana yang disediakan untuk para pejabat negara yang menghadiri buka bersama rutin dengan SBY. Foto sederhana yang bisa bercerita banyak ketika kita lihat cerita di belakang foto tersebut.

Foto yang sedang kita bicarakan menampilkan perbandingan antara foto yang diambil pada acara buka bareng kemarin sore dengan foto rak sepatu pada acara yang sama minggu lalu. Perbedaan yang mencolok adalah di gambar yang lebih baru seluruh sepatu di rak terbungkus rapi dengan plastik putih. Lho kenapa kok pakai dibungkus2 segala ?

Jawabannya jadi jelas kalau kita sempat membaca Kompas minggu lalu (13/9). Di situ ada artikel singkat berjudul Melongok Alas Kaki Para Pejabat. Bahasannya sih remeh, si wartawan dengan iseng menuliskan laporan pandangan matanya atas sepatu-sepatu pejabat dan keluarganya yang dititipkan di rak sepatu istana. Maka meluncurlah cerita tentang Bally, Ferragamo, Tods, Vincci, dan Lulu.

Ternyata artikel yang sepintas remeh itu membuat tidak nyaman beberapa orang. Buktinya, seminggu kemudian sepatu2 itu sudah dibungkus untuk mencegah wartawan iseng ngelongok2. Mungkin takut melukai hati rakyat yang sedang tersentuh insiden Pasuruan? Ah lagi2 melarikan masalah ke urusan bungkus, padahal bungkus kan tidak mengubah isi.

*)Nuwun sewu, susah sekali mencari foto ini. Ada yang bisa bantu ?

Kapan Ya Kita Bisa Punya Obama ?

ImageMembaca bagaimana puja puji dilontarkan berbagai media tentang acceptance speech Obama di depan Konvensi Partai Demokrat, gue jadi penasaran dengan isi utuh pidato itu.

Di tengah banyaknya president wannabe yang terinspirasi Obama, gue tertarik untuk mengenal yang orisinil. Dan memang setelah membaca pidato Obama tersebut, terang benar apa yang membedakan kualitas seorang Obama dengan para president wannabekita. Sungguh amat disayangkan, yang digembar-gemborkan dan dimirip2kan oleh para president wannabe kita sebatas citra muda, fresh, dan eksis di YouTube n Facebook. Coba kita lihat apa yang dimiliki Obama.

Berjuang untuk nilai dan identitas bangsa. Obama memberi judul pidatonya The American Promise. Selain karena berisi janji kampanye, Obama juga merelasikan pidatonya dengan kegalauannya melihat realitas kekinian semakin jauh dari nilai yang menjadi identitas bangsa Amerika,…. that through hard work and sacrifice, each of us can pursue our individual dreams but still come together as one American family, to ensure that the next generation can pursue their dreams as well. Apa yang mengikat kita sebagai bangsa? Nilai apa yang membedakan Indonesia dan bangsa lain? Rasanya kok belum ada capres yang mengungkapkannya dalam kalimat sederhana yang dapat menjadi titik tolak sekaligus tujuan kepemimpinannya

Paham masalah rakyat.Dalam pidatonya Obama dengan terampil mengangkat masalah-masalah yang dihadapi rakyat Amerika. Walaupun contoh-contohnya sangat personal seperti …a woman in Ohio, on the brink of retirement, finds herself one illness away from disaster after a lifetime of hard work, tapi mewakili kekhawatiran yang saat ini dirasakan banyak orang Amerika. Obama mengerti masalah-masalah rakyatnya karena memang maju untuk menjadi solusi.

Saya dan dia beda. Mungkin karena iklim politik di Amerika hanya didominasi dua parpol, maka pidato Obama terasa sangat agresif. Tapi, yang paling penting menurut gue adalah Obama sukses menunjukkan perbedaan antara dirinya dan rivalnya. Seringkali justru ini yang tidak ditemui di Indonesia, debat pilkada boleh saja menghadirkan tujuh pasang calon, tapi menjemukan karena ketika dihadapkan kepada suatu isu tidak jelas benar perbedaan posisi masing2. Semua justru memilih untuk bersikap hati2, diplomatis, dan menebar smoke screen. Padahal, perbedaan itulah yang jadi salah satu pertimbangan rakyat untuk memilih. Kalau tidak ada bedanya, kenapa saya harus memilih A dan bukan B, atau C ?

Saya sudah berbuat sejak dulu.Tanpa gembar-gembor Hidup adalah Perbuatan pun semua calon pemilih Amerika tahu track record Obama. Kepemimpinan tidak pernah lahir dari ruang hampa, tapi harus sudah pernah menunjukkan kualitasnya dalam berbagai ujian. Obama yang hari itu dielu2kan puluhan ribu orang adalah Obama yang sukses sebagai community organizer, presiden Harvard Law Review, pengacara hak sipil, dan senator yang cemerlang. Obama earned his position in history.

Berjanji dengan angka Lihat bagaimana Obama berjanji tentang pemotongan pajak, mengurangi pengaruh lobbyist, mengakhiri ketergantungan pada minyak TimTeng, efisiensi anggaran, investasi di bidang energi terbarukan, pendidikan, dan health plan. Semua janjinya dilengkapi dengan parameter angka capaian atau kerangka waktu. Berani berjanji dengan angka berarti akuntabilitas.

Merangkul untuk tujuan bersama. Berbeda bukan berarti tak mungkin bekerja sama, apalagi kalau nasib bangsa yang jadi taruhan. So I’ve got news for you, John McCain. We all put our country first…..This too is part of America’s promise – the promise of a democracy where we can find the strength and grace to bridge divides and unite in common effort.

Ada yang bilang pemimpin adalah produk masyarakatnya. Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini pada akhirnya kita2 juga yang dapat menjawabnya. Sebagai masyarakat kita punya tanggung jawab dengan memastikan suara kita mengangkat pemimpin yang benar dan menjatuhkan pemimpin brengsek. Selain itu, sudah saatnya kita mampu membesarkan potensi-potensi kepemimpinan di sekitar kita. Pemimpin-pemimpin yang hidup di tengah keseharian kita, dan selama ini sudah berbuat banyak tanpa dibuat-buat. Mereka yang militan dalam aksi yang terbatas, yang lebih peduli hasil ketimbang citra, yang tak perlu mengatrol nilai diri dengan prestasi orang lain. Pada merekalah harusnya kepemimpinan kita amanahkan.

Menanti Kerja Ikastara 1

Akhirnya hajatan besar itu usai. Setelah melalui proses Munas paling seru sepanjang sejarah Ikastara, Bang Syarif Syahrial terpilih sebagai Ketua Umum Ikastara periode 2008-2011. Mengusung semboyan “Bukan Pemimpi, tetapi Pekerja Keras”, abang satu ini sukses mengambil hati anggota Ikastara yang ikut memilih.

Ada beberapa hal utama yang gue lihat menjadi faktor penentu terpilihnya Bang Syarif. Pertama, solidnya dukungan angkatannya sendiri (TN5), ini terlihat sekali sewaktu Munas dan cukup bikin beda dengan kandidat lainnya. Kedua, semboyan yang diusung Bang Syarif dan cerita perjuangan nostalgik Bang Syarif waktu pertama kali datang ke Magelang sukses membangun citra pekerja keras yang dirindukan untuk mengubah Ikastara. Terakhir, gue lihat Bang Syarif dan timnya berhasil merumuskan program kerja yang menarik, realistis, dan sangat terukur.

Sebagai catatan pribadi, gue ingat ketika Munas tahun 2005 gue diajak pulang bareng Bang Syarif karena kebetulan sama2 menuju Depok. Hal yang paling gue ingat sampai sekarang adalah ketika sepanjang perjalanan Bang Syarif menceritakan hobinya merestorasi mobil tua. Membeli mobil tua yang kondisi mesinnya masih lumayan dengan harga murah untuk kemudian mengembalikan tongkrongannya seperti masa kejayaannya. Menurut Bang Syarif, hobi itu memerlukan ketekunan, kerja keras, dan sentuhan cinta. Sebagai balasan, ada perasaan puas yang tak terkira apabila sebuah proyek restorasi sukses dan si mobil kembali bersinar.

Selamat bekerja Bang Syarif, Ikastara membutuhkan kerja keras Abang. Jangan khawatir, gue yakin banyak yang siap bekerja bersama Abang 🙂 .

Menanti Ikastara 1

Image

Sudah hampir sebulan ini milis dan forum Ikastara lebih ramai dari biasanya. Hal yang tidak biasa ini karena memang dalam waktu dekat Ikastara akan punya hajatan besar. Tanggal 28 Juni ini Munas Ikastara akan digelar, dan salah satu agenda utamanya adalah pemilihan Ketua Umum Ikastara periode 2008-2013.

Nah berbeda dengan pemilihan ketua sebelumnya, pemilihan ketua umum Ikastara kali ini terasa lebih seru. Suasana kampanye begitu terasa di semua saluran yang memungkinkan. Offline, selama masa kampanye ketiga calon dan tim suksesnya berlomba melakukan roadshow untuk mengunjungi kantung2 alumni di berbagai kota. Online justru lebih ramai, atmosfer kompetisi begitu terasa di antara ratusan posting, lengkap dengan “smear campaign”, dan saling klarifikasi. Kadang terasa sangat tajam, tapi biasanya buru2 dilengkapi dengan penegasan bahwa semua dalam kerangka keluarga besar Ikastara.

Dari sisi calon, ada tiga kandidat berkualitas yang menunjukkan bagaimana TN tak pernah kekurangan lulusan hebat. Pasangan kandidat pertama diisi paduan menarik antara Bang Herbert yang obgin dan Bang Deddi yang praktisi akuntasi sektor publik. Kandidat kedua menawarkan sosok Bang Agung Wicaksono yang mantan komandan ITB saat reformasi 98 dan sekarang sudah doktor manajemen. Sementara, kandidat ketiga yang paling muda diisi oleh Bang Syarif dosen, seorang dan peneliti di LPEM FEUI. Masing2 juga didukung barisan tim sukses yang tak kalah mumpuni.

Kalau dilihat dari progker, gue menilai semua kandidat masih menawarkan hal yang kurang lebih sama dalam beberapa issue penting. Kepastian status institusi Ikastara, kemandirian keuangan yang bersumber dari anggota dan unit usaha, memfasilitasi berbagai muyul dan kepentingan anggota Ikastara yang sangat beragam, dan wadah kontribusi alumni buat almamater dan bangsa.

Apakah track record pribadi kandidat dan tawaran progker jadi jaminan bahwa Ikastara akan menunjukkan geliat lagi ?Gue sendiri melihat masalah besar Ikastara sampai saat ini adalah bagaimana menggerakkan potensi alumni TN. Kalau soal apatis, rasanya sih menurut gue ngga bisa dibilang sebagai seluruh sebab. Gue sendiri misalnya, gimana mau dibilang apatis kalau memang secara kegiatan Ikastara hampir vakum. Gue yakin banyak sebenarnya alumni yang menunggu, kegiatan Ikastara mana yang membutuhkan kontribusinya (boleh dong pakai optimistic tone).

Gue ngga sedang bicara kontribusi-kontribusi wah. Yang paling penting adalah siapapun ketua Ikastara yang terpilih, dia harus punya kemampuan dan komitmen untuk membuat visi,misi, dan program kepengurusannya menjadi milik semua alumni TN. Pemimpin yang mampu membuat alumni TN rally di belakangnya dan mendukung penuh kegiatan2 dalam program yang sudah disusunnya. Mungkin tidak langsung akan ada perubahan besar-besaran. Tapi, gue yakin keberhasilan kepengurusan periode ini akan menjadi pondasi yang kukuh untuk kepengurusan berikutnya.

Kita Bisa Asal Kita Mau…

Pagi ini rasa mual setelah menonton acara 100 Tahun Kebangkitan Nasional baru terobati ketika membaca Koran Tempo. Mohon maaf, bukannya gue tidak menghargai keseriusan persiapan acara yang dikemas sedemikian extravagant, tapi justru kemegahan acara itu yang turned me off. Pernyataan “Indonesia Bisa” yang ingin ditampilkan dalam semarak dan gegap gempita justru lebih terasa seperti parade simbol miskin isi. Mungkin ada pembaca yang dapat menjelaskan kenapa sepertinya bangsa kita gemar sekali acara2 simbolik seperti itu, Safari Gong Integritas misalnya sebagai contoh lain. Pengaruh budaya feodalkah ?

Anyway, Koran Tempo hari ini dengan edisi khusus Kebangkitan Nasionalnya jauh lebih sukses memberi roh ke kalimat “Indonesia Bisa”. Menariknya ini dilakukan Koran Tempo bukan dengan memotret kondisi bangsa saat ini, potensi Indonesia, atau capaian pemerintah. Seakan ingin mengingatkan bahwa sejarah Kebangkitan Nasional sejatinya adalah cerita tentang inisiatif dan jiwa merdeka, Koran Tempo mengangkat geliat beberapa lembaga swadaya masyarakat.

Miskin dana, sepi dukungan, miskin popularitas, LSM2 ini biasanya diawali kegelisahan pendirinya melihat “ketidakberesan”. Sejalan dengan dr. Soetomo yang kemudian mendirikan Budi Utomo, para penggiat LSM itu tidak berhenti pada taraf gelisah. Mereka memilih untuk menghadapi sumber kegelisahan itu, dan mulai berbuat dengan sumber daya yang ada di tangan. Yang bisa kita lihat kemudian adalah kerja luar biasa dari LSM2 seperti KKS Melati, 1001buku, Sekolah Qaryah Thayyibah, atau West Java Corruption Watch.

Gue rasa itulah yang harusnya kita lakukan. Ketimbang larut dalam gembar-gembor Indonesia Bisa, lebih berguna kalau kita membuat semboyan itu lebih personal. Gue bisa nyekolahin anak pembantu sampe lulus SD, gue bisa ngajak anak2 remaja di RW latihan futsal supaya ninggalin rokok, gue bisa modalin usaha pertanian organik di lingkungan villa bokap, dan sekian banyak “gue bisa…” lainnya. Jangan menunggu, masa bodo, atau cuma bisa mengumpat, negeri ini butuh sebanyak2nya yang kita bisa.


My hands are small I know
But they’re not yours, they are my own
I am never broken
In the end only kindness matters~My Hands, Jewel

Nada Sambung yang Tidak Merdu

Hari Minggu kemarin gue dikejutkan oleh sebuah sms dari nomor 888 yang mendarat di hp esia gue.”Nada sambung anda telah diaktifkan. Anda telah dikenakan biaya Rp 9000+PPN/bulan…dst”. WTF, gue langsung meriksa talktime gue dan ternyata memang sudah berkurang 9000. WTF karena gue yakin gak pernah sekalipun mendaftar layanan nada sambung dan tiba2 dikasih tahu gue harus membayar untuk layanan itu.

Setelah gue tanya kanan-kiri paling tidak ada lima orang pelanggan Esia yang gue kenal pernah mengalami hal yang sama. Cuma bisa pasrah haknya sebagai konsumen diinjak-injak dengan semena2 oleh operator. Gue makin kesel ketika seperti datangnya yang seperti siluman, cara menghentikan layanan nada sambung ini juga sangat susah dicari. Rupanya memang karena niatnya nilep sengaja dibuat supaya nilepnya bisa kontinu. Padahal kalau mau sedikit sopan setidaknya di akhir sms-nya kan bisa disertakan cara meng-unreg layanan nada sambung itu.

Kalau udah ngalamin hal-hal kayak gini, baru kerasa lemahnya jadi konsumen di Indonesia. Mau ngadu ke siapa, gimana cara ngadunya, kalau sudah ngadu terus apa, akhirnya cuma bisa misuh2 di blog atau surat pembaca. Paling dampaknya cuma bikin cara nilep berubah aja, hari ini begini besok iklan tarif yang bohong. Arrgh…………

~gimana nih unregnya?sumpah lagunya norak banget….

—————————-UPDATE—————————————-

Setelah gue mengirimkan compalint lewat situs Esia, gue menerima email balasan dari Customer Care Esia. Dalam email tersebut, Esia menjelaskan bahwa sesuai prosedur layanan nada sambung trial Esia telah mengirimkan dua buah sms yang berbunyi ““ Semoga anda suka dg NadaSambung ini & akan dikenakan Rp 9000/bln atau Rp 3000/mg sesuai dg talktime anda stlh 27Jan .Utk stop, sms RING UNSUB ke 888” pada tanggal 13 dan 24 Januari 2008. Karena gue tidak melakukan langkan unsub, maka nada sambung trail tersebut otomatis diperpanjang dan gue dikenakan charge.

Nampaknya justru disinilah pangkal masalahnya. Berbeda dengan log aplikasi Esia, gue yakin kalau gue tidak pernah menerima sms tersebut pada tanggal yang disebutkan. Karena sebagai auditor gue lebih percaya log ketimbang perasaan, gue menduga masalah terjadi karena log aplikasi tidak mencatat apakah sms yang dikirim memang delivered ke nomor gue. Dugaan gue penyebab tidak sampainya sms ini karena pada tanggal2 tersebut nomor gue sedang dalam status gogo di Bandung.

Gue menghargai respon yang cepat dari Esia, sambil tetap menyarankan untuk merubah prosedur layanan nada sambung trialnya. Ada baiknya sebelum secara otomatis memberi nada sambung gratis, pelanggan diberi pilihan untuk menerima atau tidak nada sambung gratis itu. Begitu juga pada hari tenggat masa gratis, pelanggan dikirimi lagi sebuah sms sebelum secara otomatis memotong talktime.