Mudah-mudahan Bang Dodi gak keberatan emailnya di milis alumni TN gue posting di sini. Mungkin bisa jadi penegasan kepada publik, kalau rasa muak itu memang dirasakan banyak orang di berbagai kalangan dan semakin banyak yang semakin tidak tahan dengan rasa muak tersebut.
Kawan-kawan, sebenarnya perasaan ini sudah berkecamuk dalam hati dan jiwa, sejak beberapa tahun silam. Ketika masih berstatus sebagai wartawan, banyak sekali fakta di lapangan yang membuat muak, kesal, sebal,
mangkel dan berujung pada rasa skeptis dan apatis, terhadap kondisi sekitar. Hampir semua sendi kehidupan di negara ini, kacau balau. Terutama dalam hal perilaku korupsi. Semua tingkatan pemerintahan, mulai dari tingkat paling bawah korup. Dan nyaris seluruh tingkatan non pemerintah (swasta) pun korup. Bahkan lembaga
penjaga moral, yaitu departemen pendidikan dan departemen agama, saat itu sempat menduduki peringkat pertama yang paling korup, versi Transparansi Internasional. Satu yang berkecamuk dalam pikiran saat itu, “Pantes negara kita tidak bisa maju…”
Perasaan itu makin menyiksa, karena meski berjiwa bebas, tapi tak bisa berbuat banyak (kalau tak bisa disebut sebagai ‘tak berdaya’ dan ‘tak bisa berbuat apa-apa’). Sebagai wartawan, yang bisa dilakukan hanyalah menjadi wartawan yang baik, berusaha tidak menanggalkan seluruh idealisme dan tidak
terjerumus terlalu dalam pada lingkungan yang busuk.
Namun lama-lama tak tahan juga, sehingga pelan tapi pasti, sejumlah jurus dijalankan untuk segera keluar dari dunia itu. Dunia jurnalistik praktis, yang sebagian besar tak mampu menjadi benar-benar independen dan berpihak kepada publik seperti yang diamanatkan Bill Kovach dalam ‘Sembilan Elemen Jurnalistiknya’. Alhamdulilah, saya kemudian lebih banyak berkecimpung di dunia pendidikan/pelatihan dan tulis menulis buku. Di bidang yang baru ini, relatif sedikit kondisi busuk lingkungan. Secara sadar, saya mengakui, tak mampu bertahan dalam lingkungan yang terlalu busuk. Sulit mengikuti petuah para pamong di kampus dulu yang mengatakan, “Kiprah kita harus bisa memberi pengaruh positif pada lingkungan sekitar, walau lingkungan yang
terkecil sekalipun.” Lingkungan busuk, terlalu kuat untuk dilawan sendirian!
Perasaan tersebut makin menggila akhir-akhir ini, dipuncaki perilaku ‘mulia’ bagi-bagi duit oleh si muka badak Gayus Tambunan, koruptor kelas teri yang punya pengaruh kakap. Kelakuan Gayus dan semua pihak yang terkait, mengoyak hati nurani, membunuh semangat sebagian anak bangsa, dan memadamkan banyak sekali api
harapan. Semua rangkaian cerita memilukan itu (lebih memilukan dibanding bencana alam) dan memalukan, membuat jiwa ini kian tergoncang. Mau dibawa kemana perahu Indonesia ini? Lihatlah tingkah laku dan sikap para pemimpin itu… Mereka tampak biasa saja. Lama-lama, hal paling merendahkan derajat kemanusiaanpun akan dianggap biasa. Sejak tahu korupsi merajalela di Indonesia, saya yakin, Indonesia tidak akan bisa maju, selama korupsi masih dianggap biasa!
Namun saya masih bersyukur, karena di tengah-tengah perasaan galau (kata istri saya, “Kenapa sih? Kamu bukan pejabat, bukan pemerintah,bukan siapa-siapa, kok begitu galaunya?”) masih ada sedikit harapan. Harapan yang mungkin saja berubah juga menjadi kekecewaan. Apakah harapan itu? Saya masih punya kawan, teman dan sahabat
alumni SMA Taruna Nusantara! Sampai saat ini, saya yakin, alumni SMA tempat saya belajar itu, akan memenuhi harapan pada saatnya nanti.
Selama tiga tahun kita digembleng di Lembah Tidar, dengan berbagai kondisi ideal. Meski kondisi bangsa saat itu nyaris sama morat-maritnya seperti sekarang, tapi para pendiri, penyokong, pendidik di sana waktu itu, berharap, bahwa kita tidak ikut serta menambah carut marut itu. Bahkan sebagian dari mereka berharap ebagian kecil dari kita, mampu menjadi orang-orang yang memerbaiki kondisi itu.
Saat ini, banyak sekali alumni SMA Taruna Nusantara yang sudah lumayan mapan berkiprah di bidangnya masing-masing. Baik di sektor formal maupun informal. Dan itu sesungguhnya menjadi modal hebat buat kita, untuk memenuhi sebagian harapan pendiri, penyokong dan pendidik di SMA dulu, untuk TIDAK terperosok ke dalam lingkungan busuk. Syukur-syukur, bisa memengaruhi lingkungan dengan hal positif (Dan itu sudah ditunjukkan oleh sebagian alumni.)
Tapi, sungguh sangat amat menyedihkan jika ada sebagian dari kawan dan sahabat yang justru ikut serta menambah carut marut itu. Sangat mencoreng jiwa, hati dan nurani, jika ternyata ada sebagian kecil dari kita yang meniru Gayus dkk., yang hanya mementingkan dirinya sendiri, tanpa peduli urusan orang lain. Saya berharap, tak ada satupun kawan dan sahabat, yang seperti mereka. Sekali lagi, ini adalah harapan terakhir saya melihat kondisi bangsa yang amburadul.
Semoga!
Kalau ada di antara teman, kawan dan sahabat yang seperti itu, dengan ini saya memproklamirkan diri, untuk menjadi MUSUH Anda yang pertama dan utama, lahir dan bathin, dunia dan akhirat.
Dodi Mawardi
Penulis profesional dan pengajar
(Alumnus SMA Taruna Nusantara Angkatan I)
Saatnya menarik garis yang jelas tentang keberpihakan kita. Meskipun itu berarti berada di sisi yang berbeda dengan teman atau bahkan keluarga kita. Tapi, jangan lupa kalau sejatinya perbuatannyalah yang jadi musuh bersama kita, karena tidak adil jika kita mengabaikan potensi perbaikan yang ada di diri setiap orang (eh ini jangan dicampuradukkan sama keharusan proses hukum ya). Sebagian orang yang memiliki perilaku korup kemungkinan besar sebenarnya mereka yang kalah ketika harus berhadapan dengan sistem yang busuk. System pawns individual every time. Bagian besar dari usaha kita mengubah jadi keadaan justru dengan menjadi support group buat teman dan keluarga kita yang berjuang menjalani kesehariannya sebagai bagian dari sistem yang busuk.


Membaca bagaimana puja puji dilontarkan berbagai media tentang 