How Do I Pass This Vacation

Sebenarnya lebih tepatnya ini tentang liburan yang dipaksa. Jadi ceritanya jika seseorang telah selesai menjalani operasi pelepasan pen di kaki, maka orang tersebut harus mengistirahatkan kakinya selama sekitar satu bulan. Kalau hasil browsing sih sebenernya 2 minggu sudah boleh digunakan untuk berjalan normal. Tapi kembali ke masing-masing dokter yang ngasih rekomendasi. Dan kebetulan saya direkomendasikan untuk mengistirahatkan kaki selama 1 bulan. Hehe.. Ini pekerjaan yang menantang. Tetapi demi sebuah kesembuhan dan proses menjadi manusia seutuhnya, setelah sebelumnya menjadi Iron Man, ini harus saya lalui.

Total sudah 4 kali saya masuk ruang operasi. Sehingga tidak ada kesan serem sedikitpun ketika lihat ruang operasi. Tapi semoga itu sudah cukup, segitu saja. Orang yang sedang dioperasi itu nggak merasa cemas sedikitpun karena dibius. Tapi yang nungguin itu yang mungkin kadang cemas. Padahal suasana ruang operasi tidak seseram yang dibayangkan. Begitu ramai, malah menurut saya lebih menegangkan suasana tempat servisan motor. hehe.. Lanjutannya begini

Dari Swordless Samurai sampai Potensi Diri

Image from: goodreads.comJujur saya bukan orang yang rajin mbaca. Maksudnya mbaca buku. Satu bulan belum tentu mbaca satu buku. Tapi di suatu saat ada masa dimana kadang satu minggu menghabiskan satu buku. Ini kebiasaan membaca buku yang tidak berpola. Oleh karena itu, momentum sejenis bookfair sangat membantu dalam hal mengingatkan diri untuk rajin membaca buku. Ya walaupun kadang buku hasil berburu di bookfair sebelumnya belum habis dibaca sudah ada bookfair lagi, tapi saya kira ini bukan masalah. Setidaknya sudah ada keinginan untuk beli buku, masalah mbaca, bisa diperjuangkan. Dan perjuangan untuk membaca akan lebih ringan kalau buku sudah ada.
Oke, ini tentang Hideyoshi, Swordless Samurai.  Waktu itu, entah kenapa beberapa hari selalu terlintas buku ini. Nggak di kultwit orang, di status facebook orang, di rak buku tempat kakak. Semuanya seolah menyarankan saya untuk membacanya. Akhirnya ada buku ini di tetangga sebelah. Jadilah saya membacanya. Begini ceritanya

Be Positive, Leader..,

Persiapan_Perang_Khandaq_by_JoemandIni sebenernya cuman refleksi saya saja. Dan sepertinya tidak ada di kitab manapun. hehe… Jadi, scene yang menurut saya cukup keren saat perang khandaq adalah pada  saat dimana Rasulullah memecahkan batu besar. Terkisah waktu itu Rasulullah berbicara tentang Romawi, tentang Konstantinopel dan negeri-negeri lain yang islam akan berjaya di situ. Kalau saya boleh menafsirkan pesan itu seolah mengajak para pasukan untuk senantiasa optimis dan positif dalam menghadapi perang tersebut. Rasulullah sebagai seorang leader waktu itu berperan sebagai kompor pembakar semangat follower-nya. Kitapun mungkin seharusnya demikian. Sebagai seorang pemimpin dalam lingkup apapun, pemimpin diri sendiri, organisasi atau apapun itu, sudah sepatutnya kita bersikap positif. Ini sangat penting karena berpengaruh terhadap perilaku follower kita.

Pendelegasian Tugas

ImageMasa-masa organisasi kampus dan aktifitas kampus, buat saya sepertinya akan segera usai dalam waktu dekat ini. hehee.. Doakan ya. Oiya, sedikit berbagi pengalaman saja tentang sebuah kasus. Kasus ini tidak saya alami sendiri tapi merupakan imajinasi saya dan beberapa terinspirasi dari tulisan guru-guru saya. Ceritanya gini, Ada seorang ketua lembaga, sebut saja namanya Joni. Joni termasuk orang yang bisa dikatakan multytasking. Ia bisa melakukan apa saja. Dan mempunyai banyak keahlian dalam berorganisasi. Mulai dari memimpin rapat, public speaking, membuat surat, membuat proposal, membuat pamphlet semuanya bisa dilakukan oleh Joni. Maklumlah, ketika menjadi staff, semua pekerjaannya ditekuni dengan baik. Selain itu, Joni juga termasuk tipe orang yang “nggak teganan”. Joni masih menggunakan pola lama dalam bekerja di organisasi yaitu pola saat ia menjadi staff. Pada suatu hari, seperti biasa Joni mengikuti rapat bersama staff-staff yang lain. Sampai pada saat pembagian tugas, menentukan PJ (penanggung jawab) semua terdiam. Akhirnya Joni mengalah, beberapa tugas yang sebenarnya bisa dilakukan oleh staff, terpaksa harus dilakukan oleh Joni, karena memang ia yang mengajukan diri. Awal menjadi ketua lembaga, Joni masih bisa menghandle semua pekerjaan teknis dan pekerjaannya menjadi ketua lembaga. Lama kelamaan, tugas Joni semakin bertambah. Ia harus mengikuti undangan-undangan dari organisasi lain, undangan dari birokrasi, tugas kuliah pun mulai banayk. Semua kerjaan menjadi berantakan. Jangankan Joni harus memikirkan manajemen organisasi agar organisasi berkembang, untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan teknis saja Joni harus bekerja ekstra keras. Akhirnya Joni segera sadar untuk mendelegasikan tugasnya. Tetapi semua sudah terlambat. Karena pekerjaan tersebut hanya bisa dilakukan oleh Joni. Sebab selama ini, tidak ada yang belajar tentang kemampuan organisasi. Selama ini hanya Joni yang belajar. Semua dilakukan Joni. Staff bingung semua. Bahkan beberapa males dan mencoba mencari kesibukan apapun agar ketika dimintai tolong Joni, ia dalam keadaan sibuk, atau minimal terlihat sibuk sehingga Joni tidak jafi minta tolong. Joni tambah pusing dan akhirnya sakit. Aktifitas organisasipun berhenti total, karena semua pekerjaan hanya bisa dilakukan oleh si Joni. Semua anggota tidak tahu menahu tentang organisasinya. Arah organisasi, semuanya, hanya Joni saja yang tahu, ide kegiatan hanya diketahui Joni. Ditambah lagi, pihak-pihak lain yang pernah berhubungan dengan organisasi tersebut telah kecewa dengan organisasi yang dipimpin Joni, karena semua kesepakatan telah dilanggar oleh Joni, karena saking sibuknya si Joni. Itu hanya kisah fiktif saja tentang manajemen delegasi tugas. Harus belajar berkomunikasi dan teknik kepemimpinan. Dalam mendelegasikan tugas setidaknya peimpin harus melakukan dulu. Ini penting karena untuk menilai sesuatu tahu benar salah-nya sebuah pekerjaan, pemimpin harus paham hal tersebut. Dan cara terbaik untuk memahami sutu hal adalah dengan melakukannya. Berikutnya adalah mulai mempercayakan suatu pekerjaan tanpa dibersamai, tetapi tetap dilakukan pengecekan. Kemudian terakhir adalah langsung didelegasikan tanpa pengecekan, karena memang sudah bisa dipercayakan. Tantangan dalam mendelegasikan tugas adalah bagaimana seorang pemimpin belajar mempercayai orang lain. Dan yang tak kalah penting juga, jangan gunakan pendelegasian tugas untuk menghindari sesuatu. Mentang-mentang menjadi pemimpin organisasi, semua tugas didelegasikan, ini juga berbahaya. Berbahaya terhadap loyalitas anak buah. Pemimpin terlihat hanya sebagai tukang suruh.

 

Hidup bagai pengamen

Image

Bagi yang hidup di perumahan atau di daerah kota, tentu tidak asing dengan yang namanya pengamen. Bahasa kerennya musisi jalanan. Nah, yang mau saya bahas di sini bukan pengamen yang di dalam bis. Tetapi pengamen yang suka keliling-keliling rumah atau keliling took-toko, warung-warung makan dll. Yang menarik di sini adalah kebiasaan unik dari si pemilik rumah ketika pengamen datang. Secara umum, ketika pengamen dengan gaya mengamen asal-asalan dan gak enak didengarkan, maka si pemilik rumah akan cenderung segera ngasih uang walaupun baru mulai bernyanyi atau kalau yang agak galak bakal langsung mengusirnya tanpa memberikan uang sepeserpun. Berbeda dengan pengamen dengan penampilan yang menarik, skill bermainnya juga bagus, seperti sering latihan, enak didengar. Beberapa orang akan cederung menahan lebih lama pengamen tersebut untuk memainkan lagunya sampai selesai. Bahkan ada yang request untuk nambah lagu. Berarti pengamen yang bagus bakal lebih capek dong? | bisa saja, tapi kemungkinan uang yang ia dapatkan akan lebih dan ada kemungkinan juga pengamen tersebut akan diajak lebih serius dalam bermusik. Bisa saja diajak untuk mengisi di wedding, atau bahkan ada yang berani ngasih modal untuk rekaman. Jadi kesimpulannya pengamen dengan skill bermain bagus, biasanya akan dituntut untuk bernyanyi lebih lama dibanding dengan pengamen asal-asalan yang baru main beberapa menit langsung diusir. Sebenarnya saya ingin menganalogikan ini ke kehidupan kita. Sangat mungkin orang yang dijanjikan derajat lebih tinggi oleh Alloh akan diberi cobaan lebih lama. Kalau ibarat pengamen, pengamen yang bagus akan disuruh menyanyi lebih lama. Jadi, untuk teman-teman yang saat ini sedang dalam cobannya, yakinlah Alloh baal menaikan level kita. Jadi, tetap semangat ya.. 🙂

Pikir-pikir dulu

Waktu itu saya masih kos di daerah gang pete. Sebelum pindah ke IR pusat. Pernah suatu ketika saya berdialog dengan anak bapak kos. Anggap saja namanya Budi (bukan nama sebenarnya, hehe). Dia kelas 3 SD. Kadang menyebalkan karena suka caper. begini kira-kira kronologinya: (A=Arif, B=Budi)
B: “Mas, main PES yuk.” Si Budi rupanya kesepian ditinggal anak-anak kos berangkat kuliah. Hehew..salah siapa anak kecil main sama anak kuliah. Waktu itu saya kebetulan sedang gak ada kuliah.
A: “Gak mau!”. Saya menolak. Hehe.. gengsi lah. kalau kalah.
B:”Ayo lah, satu permainan wis.” Dia masang wajah memelas, tapi saya tetap tidak terperdaya. Hehew..
A: “Enggakk mau” saya tetap berikeras gak mau.
B:” yowislah, tak main sendiri aja.” Sepertinya dia sudah yakin bahwa saya sudah bener2 gak pingin main.
A:”nah, gitu moso cah gedhe dijak main PES” dengan agak bergaya dewasa.
Sebenarnya saya agak kepingin main, hanya saja kebetulan yang ngajak main anak SD. Kalau yang ngajak seumuran saya sih mungkin saya mau. Secara politis begini. Ketika dia kalah mesti gak mau mengakui kekalahannya. Dan kemungkinan kecil saya bakal menang. Lha dia hampir setiap hari main PES. Kalau gak di laptop anak kos, dia main di rental PS. Terlatih banget lah. Lha sementara saya, terakhir kali main waktu SMP, saat peralihan musim dari PS1 ke PS2. Selain itu, kalau dia menang ia juga bakal memberitakan berita kemenangannya kepada semua orang yang ia temui. Hedeh.. dan kalaupun saya yang menang, tidak ada bangga sedikitpun karena lawan saya adalah anak SD dan kalau kalah saya bakal malu. Ini tidak menarik. Hehe.. ibaratkan kita berantem untuk hal-hal yang gak penting. Kalau menang gak untung, tapi kalau kalah bakal rugi besar, dan kalau tidak dilakukan, kita gak rugi. Yo mending tidak dilakukan tho ya. Ini fiqih prioritas versi saya. hehe

Hai, how about your dream?

Karena mimpi yang panjang butuh tidur yang panjang juga. Hedeh.. maksud saya bukan mimpi yang itu. Tapi ini tentang cita-cita. Dulu saya pernah punya cita-cita jadi pilot. Alasannya apa coba? gara-gara liat kondektur bis lagi ngitung uang banyak banget. Saya jadi kepikiran. Ini kondektur bis duitnya sebanyak ini, apalagi kondektur pesawat yang saya tanyakan kepada ibu ternyata namanya pilot. Makanya dulu kalau ada pesawat saya dan beberapa teman saya selalu teriak-teriak gak jelas meminta agar dihujani uang dari pesawat. Haha.. ada-ada saja. Apakah anda seperti saya dan teman-teman saya. Hehe.. baiklah tapi inti pembicaraannya bukan itu. Tentang cita-cita. Saya berpikir dulu setelah ikut training kita tulis cita-cita, terus satu mimpi-mimpi bakal terwujud, dengan melihat kita langsung mendadak semangat. Bagi beberapa orang mungkin bisa berhasil, tapi bagi saya ternyata butuh beberapa turunan lagi. Atau dengan kata lain butuh penjabaran bagaimana pencapaian mimpi tersebut. Bagaimana step by step-nya. Ternyata bagi saya, hal tersebut cukup penting agar progress pencapaian target bisa kita amati. Salah satu buku yang cukup membantu saya adalah bukunya om Jamil Azzaini, Tuhan Inilah Proposal Hidupku. Setidaknya bisa membantu kita untuk mendeskripsikan bagaimana mencapai mimpi-mimpi kita. Buku ini membahasnya lebih teknis. Cocok buat saya yang kadang gak mudengan dengan konsep yang terlalu banyak. Jadi, saya ucapkan selamat menuliskan mimpi-mimpimu, selamat mendeskripsikan menjadi langkah-langkah yang siap dieksekusi. Selamat bermimpi, berdoa, dan beraksi. Dream, action and pray.

Listen with your eyes

Suasana tengah malam senantiasa mendatangkan beberapa inspirasi. Hehe.. baiklah, kali ini kita akan membahas sebuah crita unik, sesuai judul “Listening with your eyes”. Beberapa watu lalu sempat saya jadikan status di FB. Banyak respon, beberapa daintaranya bilang: Listening with your heart, listening with your ear, dan beberapa komentar out of topic (OOT) lainnya. Jadi, sebenarnya saya terinspirasi dari kisah berikut ini. Silakan disimak ya. Sengaja saya tidak translate biar latihan bahasa inggris. *alibi*.

“A little girl came home from school with a drawing she’d made in class. She danced into the kitchen ,where her mother was preparing dinner.

“Mom, guess what ?” she squealed waving the drawing .

her mother never looked up.

“what”? she said ,tending to the pots.

“guess what?” the child repeated ,waving the drawings.

“what?” the mother said , tending to the plates.

“Mom, you’re not listening”

“sweetie, yes I am”

“Mom” the child said “you’re not listening with your EYES”

― Mitch Albom, Have a Little Faith: A True Story

Ya, intinya bercerita tentang seorang anak kecil yang ingin diperhatikan ibunya. Ia protes kepada ibunya karena ibunya tidak mendengar dengan matanya. Sebuah pengingatan bagi kita sebernarnya. Terutama bagi diri saya pribadi. Barangkali dalam kita ber-ukhuwah ada beberapa hal yang belum kita perhatikan. Ada hak saudara-saudara kita yang belum kita penuhi. Kadang kita kurang peka terhadap apa yang sedang mereka alami. Saya akui saya mempunyai kelemahan lama ketika membalas sms. Kadang bahkan sampai menjamur hingga beberapa hari. Itupun kalau tidak lupa. Kadang ada beberapa yang kelupaan sampai-sampai tidak terbalas. Kondisi kadang memang memaksa saya untuk berada dalam kondisi itu. Namun sebenarnya akan luar biasa ketika kita langsung membalasnya bila memunginkan. Saya bisa berkata seperti ini karena saya dalam kondisi selalu siap membalas sms. Hehe.. tapi semoga tulisan ini bisa mengingatkan saya ketika khilaf. Itu baru sms, banyak sebenarnya hal-hal lain yang ternyata bisa memperkuat helai-helai rabithah diantara kita. Halah bahasane. Sekian dan terima kasih semoga menginspirasi. Sudah larut malam ini. J

Kasta orang sakit,

Lhoh, jangan salah. Orang sakit itu punya kasta juga lho. Tapi jangan dianggap serius. Ini hanya istilah saya saja. Hehe.. dan ternyata setiap kasta itu harus saling melihat agar mereka bisa termasuk kedalam orang-orang yang bersyukur. Jadi seperti ini, semakin parah sakit seseorang, saya analogikan bahwa orang tersebut semakin tinggi kastanya. Bukankah Alloh itu mengurangi dosa orang yang sedang sakit? Semoga. Kenapa orang sakit bisa belajar bersyukur dengan mempelajari kasta orang sakit? Jadi seperti ini ceritanya. Kita mulai dari awal. Ketika kita merasa sedih, kurang bersyukur karena sesuatu hal yang terjadi pada kita, cobalah lihat orang-orang yang tidak seberuntung kita. Caranya bisa datang ke panti asuhan, datang ke rumah sakit, atau ke panti jompo juga gak papa. Asal jangan ke panti jomblo. Hehe.. saya ambil contoh di rumah sakit, karena saat ini saya lagi hobi banget ke rumah sakit, biasalah lagi sibuk pemotretan. Hehe. Di rumah sakit itu ada macam-macam orang sakit. Baiklah, kita kelompokkan menjadi beberapa kasta. Orang yang  sakit ringan, misal sakit panu, pegel-pegel, kita masukin aja ke kasta rendah. Orang yang sakit parah missal sakit jantung, komplikasi, pokoknya yang sampai operasi berat kita masukkan ke golongan orang dengan kasta tinggi. Terus jika ada orang yang sakit panu, kok kebanyakan mengeluh, kita suruh lihat yang kakinya pincang, gak bisa jalan normal. Misal yang kakinya gak bisa jalan normal kok mengeluh, kita suruh liat yang tidak bisa jalan dan berbaring. Begitu seterusnya.  Yang cukup menyedihkan ketika saya membayangkan betapa sedihnya orang yang hanya bisa mengedipkan mata untuk berkomunikasi dengan sekitarnya. Semoga setelah melihat itu, kita menjadi orang-orang yang pandai bersyukur dan tidak terlalu sering mengeluh kepada makhluk. jadi, kata para motivator, sebagian orang yang ada di rumah sakit itu gak cuman sakit secara fisik. Tapi ada beberapa yang sakit secara persepsi juga. Hati mereka sedih, inilah yang membuat sakit terasa menyiksa. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur.  Syukur juga bisa berwujud usaha kita untuk selalu menjaga nikmat sehat yang Alloh berikan kepada kita. 🙂

Tentang membaca Al Quran

Belajar membaca al-quran merupakan keharusan bagi ummat islam. Karena kitab suci umat islam ini tidak ditulis dalam bahasa arab. Walaupun memang diterjemahkan ke dalam macam-macam bahasa tetapi tidak merubah isi al-qur’an satu hurufpun. Itulah uniknya. Ngomong-ngomong masalah membaca al qur’an, dibutuhkan waktu tersendiri untuk belajar membaca alqur’an dengan benar sesuai kaidah membaca dalam bahasa arab. Karena di dalam al-qur’an ada huruf yang harus dibaca panjang dan ada huruf yang harus dibaca pendek. Semua harus dibaca sesuai haknya masing-masing. Begitu pentingnya membaca al-qur’an, sampai-sampai waktu saya kecil, para orang tua sangat ketat dalam mengawasi anaknya agar senantiasa belajar membaca al-quran. Ada yang mempercayakan kepada guru ngaji di TPQ yang waktu itu berupa surau atau langgar ataupun mengajarkanya sendiri di rumah. Karena memang bukan hal yang mudah dalam belajar membaca huruf arab, para pengajar kadang memasang peraturan yang ketat dalam pembelajaran. Saya saja selalu mewek ketika belajar membaca al-quran. Walaupun tidak ada pukulan tidak ada cambukan, tapi tetap saja suasana begitu tegang. Hehe.. tapi sekarang saya jadi sadar, seumpama dulu saya dibiarkan berleha-leha, mungkinsekarang keteran belajar membaca al-qur’an. Jadi, untuk para orang tua ataupun calon ayah, calon ibu, biasakan anak-anak belajar membaca al-quran dari mulai usia dini. Lebih cepat mudengnya ketika masih kecil sudah belajar membaca al-quran. Syukur-syukur juga dengan menghafal al-qur’an dan mentadaburi maknanya. Menurut saya, akan lebih baik jika pengajaran al-qur’an dilakukan oleh orang tua sendiri, terutama ibu. Tetapi misalkan itu sulit, bisa diikutkan ke TPQ. Lebih baik jika dua-duanya. Di TPQ iya, terus di rumah juga diingatkan lagi. Orang tua juga tidak hanya bersikeras menyuruh anaknya untuk membaca al-qur’an tapi bersama-sama saling menyemangati. Kan indah seumpama satu keluarga saling mengecek hafalan, ngecek bacaan. Kan ketenangan, kebahagiaan itu letaknya di hati, dan Alloh SWT adalah penguasa hati kita, pemilik hati kita.