Masa-masa organisasi kampus dan aktifitas kampus, buat saya sepertinya akan segera usai dalam waktu dekat ini. hehee.. Doakan ya. Oiya, sedikit berbagi pengalaman saja tentang sebuah kasus. Kasus ini tidak saya alami sendiri tapi merupakan imajinasi saya dan beberapa terinspirasi dari tulisan guru-guru saya. Ceritanya gini, Ada seorang ketua lembaga, sebut saja namanya Joni. Joni termasuk orang yang bisa dikatakan multytasking. Ia bisa melakukan apa saja. Dan mempunyai banyak keahlian dalam berorganisasi. Mulai dari memimpin rapat, public speaking, membuat surat, membuat proposal, membuat pamphlet semuanya bisa dilakukan oleh Joni. Maklumlah, ketika menjadi staff, semua pekerjaannya ditekuni dengan baik. Selain itu, Joni juga termasuk tipe orang yang “nggak teganan”. Joni masih menggunakan pola lama dalam bekerja di organisasi yaitu pola saat ia menjadi staff. Pada suatu hari, seperti biasa Joni mengikuti rapat bersama staff-staff yang lain. Sampai pada saat pembagian tugas, menentukan PJ (penanggung jawab) semua terdiam. Akhirnya Joni mengalah, beberapa tugas yang sebenarnya bisa dilakukan oleh staff, terpaksa harus dilakukan oleh Joni, karena memang ia yang mengajukan diri. Awal menjadi ketua lembaga, Joni masih bisa menghandle semua pekerjaan teknis dan pekerjaannya menjadi ketua lembaga. Lama kelamaan, tugas Joni semakin bertambah. Ia harus mengikuti undangan-undangan dari organisasi lain, undangan dari birokrasi, tugas kuliah pun mulai banayk. Semua kerjaan menjadi berantakan. Jangankan Joni harus memikirkan manajemen organisasi agar organisasi berkembang, untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan teknis saja Joni harus bekerja ekstra keras. Akhirnya Joni segera sadar untuk mendelegasikan tugasnya. Tetapi semua sudah terlambat. Karena pekerjaan tersebut hanya bisa dilakukan oleh Joni. Sebab selama ini, tidak ada yang belajar tentang kemampuan organisasi. Selama ini hanya Joni yang belajar. Semua dilakukan Joni. Staff bingung semua. Bahkan beberapa males dan mencoba mencari kesibukan apapun agar ketika dimintai tolong Joni, ia dalam keadaan sibuk, atau minimal terlihat sibuk sehingga Joni tidak jafi minta tolong. Joni tambah pusing dan akhirnya sakit. Aktifitas organisasipun berhenti total, karena semua pekerjaan hanya bisa dilakukan oleh si Joni. Semua anggota tidak tahu menahu tentang organisasinya. Arah organisasi, semuanya, hanya Joni saja yang tahu, ide kegiatan hanya diketahui Joni. Ditambah lagi, pihak-pihak lain yang pernah berhubungan dengan organisasi tersebut telah kecewa dengan organisasi yang dipimpin Joni, karena semua kesepakatan telah dilanggar oleh Joni, karena saking sibuknya si Joni. Itu hanya kisah fiktif saja tentang manajemen delegasi tugas. Harus belajar berkomunikasi dan teknik kepemimpinan. Dalam mendelegasikan tugas setidaknya peimpin harus melakukan dulu. Ini penting karena untuk menilai sesuatu tahu benar salah-nya sebuah pekerjaan, pemimpin harus paham hal tersebut. Dan cara terbaik untuk memahami sutu hal adalah dengan melakukannya. Berikutnya adalah mulai mempercayakan suatu pekerjaan tanpa dibersamai, tetapi tetap dilakukan pengecekan. Kemudian terakhir adalah langsung didelegasikan tanpa pengecekan, karena memang sudah bisa dipercayakan. Tantangan dalam mendelegasikan tugas adalah bagaimana seorang pemimpin belajar mempercayai orang lain. Dan yang tak kalah penting juga, jangan gunakan pendelegasian tugas untuk menghindari sesuatu. Mentang-mentang menjadi pemimpin organisasi, semua tugas didelegasikan, ini juga berbahaya. Berbahaya terhadap loyalitas anak buah. Pemimpin terlihat hanya sebagai tukang suruh.