Parodi jalan raya saat lebaran

Di jalan raya itu ada truk besar, ada ada bus, ada truk agak kecil, ada mobil pribadi, ada motor dan bahkan kadang ada pejalan kaki. Semuanya berperan serta dalam sebuah parody jalan raya. Apalagi di masa lebaran seperti saat ini, dimana banyak yang melaksanakan ritual mudik, yang artinya beramai-ramai melaksanakan mobilitas yang otomatis banyak menggunakan jalan raya. Semuanya berlomba-lomba menggunakan kendaraannya sendiri. Banyak yang naik motor, wajar saja, sekarang dengan beberapa keping uang sudah bisa mbawa pulang motor. Sudah bisa buat uang muka. Yang agak sedikit kaya, berlomba-lomba menaiki mobil. Keren kan, pulang kampong saat idul fitri bawa mobil. Itu kan parameter sukses! Intinya semua orang ingin menggunakan jalan raya secara maksimal. Sampai-sampai warga Jakarta girang di hari raya karena gak macet lagi. Tidak dibutuhkan gubernur cerdas buat mengatasi macet di Jakarta. Cuman butuh lebaran, katanya. Kemacetan ternyata berpindah ke jalan-jalan. Apakah salah warga kita yang tidak senang menggunakan kendaraan umum? Masyarakat mengelak, apakah kendaraan umum kita sudah bisa memenuhi kebutuhan warga kita? Kalau sudah, mengapa banyak yang senang menggunakan kendaraan pribadi? Bukankah akan lebih nyaman jika menggunakan kendaraan umum? Termasuk ada juga pertanyaan, kapankah para raider akan menanggalkan motornya kemudian mau naik kendaraan umum? Semuanya masih laris menjadi pembahasan para pemimpin kita dan menjadi sumber rezeki tersendiri bagi media masa. Sisi lain jalan raya, yaitu tentang keberadaan petugas yang senantiasa memajang  statistik tumbal jalan raya. Menyeramkan sih, tapi ada biaknya juga buat perhatian para pemakai jalan raya agar senantiasa hati-hati.

*ini belum selesai*