Sebuah Karcis parkir terakhir

kisah nyata seorang pelajar Magang 

kmarin adalah hari terakhir gue magang, rasanya cepet banget 2 bulan, gak terasa pas gue pertama kali kesini , ke RTC diponegoro, sewaktu gue masuk lewat depan, gue ditanya tanyain ‘ mas mau cari apa?’ , ‘mas laptop mas’ ‘ mas flaskdisk mas?’ di setiap langkah gue , gue ngerasa kayak tersangka korupsi , seandai nya gue tanya balik ‘ mas disini ada orang jual benang? ‘ , pasti dia langsung mingkem , ada yang salah

dengan sistem promosi di indonesia , customer selalu di manjakan dengan rekomendasi yang berlebihan, tapi itu ada alasan nya, “demi sesuap nasi” , kembali pada saat gue survey tempat magang, waktu itu gue masih cupu kalo berhadapan sama orang lain, masih canggung dan masih deg deg serr. walaupun gue sebelumnya sudah magang instalasi negara yang isi nya manusia manusia pintar, tapi gue masih canggung untuk bersosialisasi, sesampainya di lantai 3 yang biasanya toko toko disana merupakan toko servis hingga jaringan, gue ber tiga bingung mau cari dimana, akhir nya ada seorang pemuda yang terlihat sedikit sudah tua menawar kan gue tempat magang ‘ mau nyarik apa dek?’ tanya pemuda itu ke gue ‘ mau nyari tempat magang mas’ sahut gue, ‘ oooo.. , disini aja magang dek ‘ sahut pemuda itu , ‘ hmm.. bisa ya mas? , nama toko nya apa mas? ‘ gue nanya lagi, ‘ bisa.. bawa aja surat pengantar nya’ , singkat cerita beberapa hari kemudian gue datengin tempat magang tersebut , dengan membawa surat pengantar, berharap ada balasan, dan gue ketemu dengan pegawai nya lagi saru , dia cewek dengan kulit putih rambut menjuntai kedepan dengan mata merah.. , lhoo.. emang kuntilanak, bukan, dia kulit putih, kayak nya masih muda sekitar 20

Baca lebih lanjut

Lingkaran

cerminaku tau ini bukan hal yang baik untuk dibicarakan, tapi apa daya, aku tak tau harus berbicara dengan siapa. aku seperti berdiri di depan cermin kusam, persis seperti aku tampak sebagai gambaran yang tertera dan terpantul sebagai bayangan. aku yang tak tau harus berbicara apa pada diriku sendiri, satu hal yang aku miliki saat ini hanya sebuah keyakinan dimana tak ada harapan dikeyakinan itu. jika kau sedang berdiri diposisiku aku akan bertanya apa yang kau lakukan? , apa bisa kau bergerak diantara dilema pelik yang kau hadapi? ,dan bayangan yang ku sebut itu diriku tidak bisa menjawabnya. aku mungkin bisa saja melarikan diri dari apa yang kuhadapi sekarang tapi aku tidak terbiasa seperti itu, ada dua perasaan manusia yang sedang aku pikirkan, keduanya sama sama wanita. Baca lebih lanjut