Aku melirik pada jam tangan hitamku, sudah hampir pukul lima sore dan Nadia belum juga muncul seperti janjinya. Aku kembali membuang pandangan pada sekeliling, dimana sebuah taman yang cukup sepi, hanya ada sepasang pria dan wanita yang sedang menikmati sebuah ice cream cone sacara bergantian. Sang pria terlihat merayu wanita dengan pura-pura memberikan suapan ice cream tapi ternyata dia malah menikmatinya sendiri, sang wanita terlihat manyun dan akhirnya ikut tertawa lepas ketika ice cream itu malah mengenai hidung si pria hingga meninggalkan noda. Terlihat norak dimataku!. Ya orang jatuh cinta memang akan selalu terlihat norak.
Sejenak aku melihat sebuah mawar putih dengan pita warna emas serta tulisan “I LOVE U” yang kubawa. Kuselipkan manis di dalam tas ransel agar menjadi sebuah kejutan yang indah nantinya. Aku mulai tersenyum membayangkan wajah Nadia, wanita yang baru ku kenal dua minggu belakangan. Aku sangat ingat, di taman ini, dimana semuanya berawal.
Saat itu aku duduk tepat di kursi taman ini juga, sembari menulis puisi rasa sakit hati. Ya saat itu aku baru saja mengalami goncangan dalam asmara. Kutumpahkan semuanya dalam beberapa lembaran buku catatanku. Aku memaki pada entah kutukan apa, Vera, wanita yang selalu bersamaku, seorang kekasih yang menurutku sangat ideal dan sempurna untuk kujadikan istri nantinya malah memilih laki-laki yang baru saja dikenalinya untuk dijadikan suami. Aku tidak mengerti salahku dimana. Aku memang biasa menulis segala apa yang aku rasakan, karena semuanya akan terasa lebih mudah untuk kuhadapi setelah menuliskannya. Namun tiba-tiba sebuah gumpalan kertas melayang dan tepat mengenai kepalaku. “doh…”
“Maaf… aku gak tau kalau ada orang disana..”
Aku menoleh dan menemukan seorang wanita dengan rambut sebahu dan bando pink, wajahnya sangat tidak asing. Iya, dia sangat mirip dengan Vera. Bahkan senyum dengan lesung pipi itu sangat mirip. Aku tertegun beberapa detik.
“Mas… maaf ya…”
Lamunanku buyar, “eh iya… gak papa kok…” aku memungut kertas yang berbentuk bola hasil remasan tangan itu dan membukanya untuk membaca isi tulisan didalamnya.
“Eit… jangan di bacaaaa….”, wanita itu berlari mendekatiku. Tapi dia malah tersandung dan menimpa tubuhku hingga kami pun terjatuh di rerumputan.
“Aduh…” aku membuka mata dan mendapati wanita itu sudah menindihku. Dia mencoba bangkit dan saat itu secara tidak sengaja mata kami bertemu. Ada keheningan sesaat saat memandang matanya. Ini seperti adegan film-film india yang sering kulihat di televisi.
“Maaf…” wajah wanita itu memerah padam dan langsung mencoba berdiri.
“Aku yang minta maaf…” aku menyodorkan gumpalan kertas darinya yang tidak sempat aku lihat apa isinya.
“namaku Nadia” dia menyodorkan tangannya mengajak untuk berkenalan.
“Aku… Reno Ferdinan”

Aku kembali dari lamunanku, aku melirik jam sudah pukul lima lebih lima belas menit. Belum ada tanda-tanda dari Nadia. Ku buka kembali pesan di Blackberry Masengger-ku siang tadi. Disana terpampang jelas, Nadia mengajak bertemu di tempat ini pukul lima sore. Aku mencoba mengirimiya pesan, namun sepertinya tidak sampai karena tidak ada tanda “delivered” atau “read”. Sinyal sialan.
Nadia memang sering terlambat saat janjian seperti ini, entah sudah berapa kali dalam seminggu ini kami bertemu dan dia selalu saja membuatku menunggu. Tapi di luar itu, dia sangat sempurna, tawa-nya selalu lepas saat aku menceritakan hal yang lucu, dia selalu menyemangatiku disaat aku mengeluh pada hidup, dia bahkan tidak keberatan menjadi tumpahan curhat ku tentang Vera, bagiku Nadia benar-benar anugerah yang diturunkan Tuhan disaat aku benar-benar terpuruk.
Anehnya Nadia terlihat sepintas sangat mirip dengan Vera, entah dari postur tubuhnya, gesture manja saat dia minta ditemani kedalam sebuah toko, Hobinya membaca majalah Gadis, reaksinya saat menemukan horoskop, lalu membaca zodiaq Aries dengan lantang. Semuanya terlihat begitu mirip. Kadang aku berfikir kalau Tuhan terlalu baik dengan memberikan seseorang yang begitu mirip untuk masuk kembali didalam kehidupanku.
Aku jadi teringat beberapa kali berdebat tentang Zodiak, horoskop dan ramalan cinta, Nadia selalu bersikeras kalau yang ditulis dalam majalah itu banyak benarnya. Dan sebagai pria dengan pola pikir logika, aku selalu menentangnya.
“Aries… akan menyadari kalau meninggalkan pasangannya adalah hal yang salah…”
Nadia membaca dengan lantang Zodiak di majalah yang di genggamnya sambil melirik untuk melihat reaksiku.
“Kenapa sih kalau baca Aries harus keras-keras? Penting gak sih…?” Aku sewot dengan gaya mengejeknya.
“Kenapa? Ngambek? Hahahaha…” Nadia menjulurkan lidahnya dengan manja.
“Ah… males… kamu norak mainnya…” Aku berdengus, sambil mengaduk Ice Capucinno dan menyenderkan badan di kursi.
“Aku kan cuman bercanda… Ren…”
“Iya… bercanda sih bercanda, tapi jangan bawa-bawa zodiak si Vera dunk..”
“hahaha… udah… gak lagi deh… tapi senyum dulu dong… kan aku pake Bando warna pink kaya warna kesukaan Vera..” Nadia tersenyum mengejek.
“Nih… Pink…” Aku melemparinya dengan tisuue sambil tertawa kecut.
“Hahahahaha… galau galau… tapi aku heran kenapa sih kamu gak percaya sama ramalan cinta?” Nadia menatapku lama.
“Gak kenapa-kenapa…”
“Tapi kamu percaya kan, kalau Jodoh itu gak akan kemana-mana?”
“Iya.. aku percaya… jodoh ya gak akan kemana-mana” aku masih memasang wajah ngambekku.
“hehe.. biarin si cupid yang atur urusan cinta kita ya…” Nadia mencubit kedua pipiku.
“Isshhh… sakit ah…” Aku berdengus sambil melepaskan diri dari cubitannya.
“Makanya senyum dong…”
Aku tersenyum simpul. Nadia memang selalu bias membuatku tersenyum.

Kali ini sudah kelewatan, Nadia terlambat tiga puluh menit. Ini bukan hal yang biasa. Aku bangkit dari kursi dan melihat ke ruas jalan di seberang. Tidak ada tanda-tanda, hanya ada seorang bapak-bapak yang berlari kecil menyusuri taman.
“Nadia kemana sih…?”
Aku kembali duduk. Sebenarnya kali ini aku ingin jujur pada Nadia bahwa sebenarnya aku masih menyayangi Vera, sepertinya dia juga tau hal itu. Tapi aku juga sepertinya mulai menyukai segala hal yang ada dalam diri Nadia. Aku menarik nafas panjang, mungkin saat ini aku memang belum bisa sepenuhnya melupakan Vera, bahkan kehadiran Nadia seperti mengingatkanku bahwa Vera itu selalu bersamaku.
“Reno….”
Suara seorang wanita tepat di belakang, cukup membuatku kaget dan bangkit dari kursi.
“Reno… aku tau kamu disini…”
Aku terdiam tidak percaya, Vera berdiri tepat didepanku. “Ve… Vera?”
“Ren…” Vera langsung berlari memelukku.
Vera masih menangis dalam pelukanku, dan aku hanya bisa mengelus rambutnya sambil menyuruhnya tenang.
“Sudah… Ver… kenapa?”
Vera melepaskan pelukannya, “Aku kangen kamu Ren, Aku mau nikah sama kamu! Bukan dengan pilihan ibu..”
“Tapi… tapi… bukannya kamu sendiri yang…” belum selesai aku bicara Vera memotongnya.
“Maafkan aku Ren… aku sudah yakin, Cuma kamu yang bias buat aku bahagia.. please.. say “Yes…”..”
Aku terdiam sejenak, aku tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi.
“Ren… Please.. Aku sayang sama kamu…” Vera masih memandangku erat.
Aku pun memeluk Vera, “Iya Ver… aku juga selalu sayang kamu…”
Aku memeluk Vera, perasaan yang lama telah kupendam itu akhirnya terkuak, aku memang masih cinta padanya. Tapi tiba-tiba tak sengaja aku melihat sosok wanita di kejauhan memandangiku… itu Nadia! Aku terdiam memandanginya. Nadia tampak tersenyum dan entah bagimana dia seperti berlari dan menghilang.
Kulepaskan pelukan Vera sejenak. “Tunggu disini sebentar ya Ver…”
Aku pun berlari ke arah sosok Nadia tadi, tetapi rasanya Nadia seperti menghilang begitu saja. Aku terdiam, ada perasaan bersalah bercampur aduk. Hingga akhirnya aku menemukan gumpalan kertas tergeletak tepat di tempat sosok Nadia muncul tadi. Aku membukanya perlahan dan akhirnya membaca tulisan didalamnya.
Dear, Reno.
Aku harus minta maaf karena mengakibatkan semua kisah cintamu berantakan, mungkin kamu tidak akan percaya dengan apa yang aku tulis disini. Namaku bukan Nadia, aku bahkan tidak bernama. Tapi kamu tetep boleh menyebutku “NADIA”. Aku hanya di tugaskan untuk mengatur dan memastikan kisah cinta mu dengan Vera berjalan lancar. Tapi aku malah membuat kesalahan dengan menembakkan anak panah kearah yang berlawanan, sehingga Vera tiba-tiba jatuh hati pada pria lain. Aku tahu efek buruknya bahwa perasaan suka itu akan bertahan selama dua minggu, jadi demi memastikan kamu tidak jatuh hati pada wanita lain, aku pun menyamar menjadi gadis impianmu… dan ternyata itu masih si Vera… aku salut sama kegigihan cintamu…
Sekali lagi maaf…
PS : Cupid itu ada loh… tapi kadang2 dia bisa salah
Your Stupid Cupid… ^_^
Setelah aku membaca tulisan itu, aku terdiam sedikit tidak percaya, “Cupid itu ada?” aku tersenyum lalu tiba-tiba saja kertas itu berubah menjadi butiran keemasan dan hilang tertiup angin.
“Reno… kenapa?” Vera datang menghampiriku.
Aku tersenyum padanya.
“Gak ada apa-apa kok… Cuma.. mau bilang terima kasih sama Cupid yang membawamu kemari…”
“Ish… Bisa aja… aku kesini naek ojek… bukan sama cupid… haha…”
Aku tersenyum sambil menatap butiran keemasan itu terbang tertiup angin.
-END-
PS : posting cerpen biar keliatan keren aja kok *modus*





