CINTA NADIA


Aku melirik pada jam tangan hitamku, sudah hampir pukul lima sore dan Nadia belum juga muncul seperti janjinya. Aku kembali membuang pandangan pada sekeliling, dimana sebuah taman yang cukup sepi, hanya ada sepasang pria dan wanita yang sedang menikmati sebuah ice cream cone sacara bergantian. Sang pria terlihat merayu wanita dengan pura-pura memberikan suapan ice cream tapi ternyata dia malah menikmatinya sendiri, sang wanita terlihat manyun dan akhirnya ikut tertawa lepas ketika ice cream itu malah mengenai hidung si pria hingga meninggalkan noda. Terlihat norak dimataku!. Ya orang jatuh cinta memang akan selalu terlihat norak.

 

Sejenak aku melihat sebuah mawar putih dengan pita warna emas serta tulisan “I LOVE U” yang kubawa. Kuselipkan manis di dalam tas ransel agar menjadi sebuah kejutan yang indah nantinya. Aku mulai tersenyum membayangkan wajah Nadia, wanita yang baru ku kenal dua minggu belakangan. Aku sangat ingat, di taman ini, dimana semuanya berawal.

 

Saat itu aku duduk tepat di kursi taman ini juga, sembari menulis puisi rasa sakit hati. Ya saat itu aku baru saja mengalami goncangan dalam asmara. Kutumpahkan semuanya dalam beberapa lembaran buku catatanku. Aku memaki pada entah kutukan apa, Vera, wanita yang selalu bersamaku, seorang kekasih yang menurutku sangat ideal dan sempurna untuk kujadikan istri nantinya malah memilih laki-laki yang baru saja dikenalinya untuk dijadikan suami. Aku tidak mengerti salahku dimana. Aku memang biasa menulis segala apa yang aku rasakan, karena semuanya akan terasa lebih mudah untuk kuhadapi setelah menuliskannya. Namun tiba-tiba sebuah gumpalan kertas melayang dan tepat mengenai kepalaku. “doh…”

 

“Maaf… aku gak tau kalau ada orang disana..”

 

Aku menoleh dan menemukan seorang wanita dengan rambut sebahu dan bando pink, wajahnya sangat tidak asing. Iya, dia sangat mirip dengan Vera. Bahkan senyum dengan lesung pipi itu sangat mirip. Aku tertegun beberapa detik.

 

“Mas… maaf ya…”

 

Lamunanku buyar, “eh iya… gak papa kok…” aku memungut kertas yang berbentuk bola hasil remasan tangan itu dan membukanya untuk membaca isi tulisan didalamnya.

 

“Eit… jangan di bacaaaa….”, wanita itu berlari mendekatiku. Tapi dia malah tersandung dan menimpa tubuhku hingga kami pun terjatuh di rerumputan.

 

“Aduh…” aku membuka mata dan mendapati wanita itu sudah menindihku. Dia mencoba bangkit dan saat itu secara tidak sengaja mata kami bertemu. Ada keheningan sesaat saat memandang matanya. Ini seperti adegan film-film india yang sering kulihat di televisi.

 

“Maaf…” wajah wanita itu memerah padam dan langsung mencoba berdiri.

 

“Aku yang minta maaf…” aku menyodorkan gumpalan kertas darinya yang tidak sempat aku lihat apa isinya.

 

“namaku Nadia” dia menyodorkan tangannya mengajak untuk berkenalan.

 

“Aku… Reno Ferdinan”

 

Image

 

 

Aku kembali dari lamunanku, aku melirik jam sudah pukul lima lebih lima belas menit. Belum ada tanda-tanda dari Nadia. Ku buka kembali pesan di Blackberry Masengger-ku siang tadi. Disana terpampang jelas, Nadia mengajak bertemu di tempat ini pukul lima sore. Aku mencoba mengirimiya pesan, namun sepertinya tidak sampai karena tidak ada tanda “delivered” atau “read”. Sinyal sialan.

 

Nadia memang sering terlambat saat janjian seperti ini, entah sudah berapa kali dalam seminggu ini kami bertemu dan dia selalu saja membuatku menunggu. Tapi di luar itu, dia sangat sempurna, tawa-nya selalu lepas saat aku menceritakan hal yang lucu, dia selalu menyemangatiku disaat aku mengeluh pada hidup, dia bahkan tidak keberatan menjadi tumpahan curhat ku tentang Vera, bagiku Nadia benar-benar anugerah yang diturunkan Tuhan disaat aku benar-benar terpuruk.

 

Anehnya Nadia terlihat sepintas sangat mirip dengan Vera, entah dari postur tubuhnya, gesture manja saat dia minta ditemani kedalam sebuah toko, Hobinya membaca majalah Gadis, reaksinya saat menemukan horoskop, lalu membaca zodiaq Aries dengan lantang. Semuanya terlihat begitu mirip. Kadang aku berfikir kalau Tuhan terlalu baik dengan memberikan seseorang yang begitu mirip untuk masuk kembali didalam kehidupanku.

 

Aku jadi teringat beberapa kali berdebat tentang Zodiak, horoskop dan ramalan cinta, Nadia selalu bersikeras kalau yang ditulis dalam majalah itu banyak benarnya. Dan sebagai pria dengan pola pikir logika, aku selalu menentangnya.

 

“Aries… akan menyadari kalau meninggalkan pasangannya adalah hal yang salah…”

Nadia membaca dengan lantang Zodiak di majalah yang di genggamnya sambil melirik untuk melihat reaksiku.

 

“Kenapa sih kalau baca Aries harus keras-keras? Penting gak sih…?” Aku sewot dengan gaya mengejeknya.

 

“Kenapa? Ngambek? Hahahaha…” Nadia menjulurkan lidahnya dengan manja.

 

“Ah… males… kamu norak mainnya…” Aku berdengus, sambil mengaduk Ice Capucinno dan menyenderkan badan di kursi.

 

“Aku kan cuman bercanda… Ren…”

 

“Iya… bercanda sih bercanda, tapi jangan bawa-bawa zodiak si Vera dunk..”

 

“hahaha… udah… gak lagi deh… tapi senyum dulu dong… kan aku pake Bando warna pink kaya warna kesukaan Vera..” Nadia tersenyum mengejek.

 

“Nih… Pink…” Aku melemparinya dengan tisuue sambil tertawa kecut.

 

“Hahahahaha… galau galau… tapi aku heran kenapa sih kamu gak percaya sama ramalan cinta?” Nadia menatapku lama.

 

“Gak kenapa-kenapa…”

 

“Tapi kamu percaya kan, kalau Jodoh itu gak akan kemana-mana?”

 

“Iya.. aku percaya… jodoh ya gak akan kemana-mana” aku masih memasang wajah ngambekku.

 

“hehe.. biarin si cupid yang atur urusan cinta kita ya…” Nadia mencubit kedua pipiku.

 

“Isshhh… sakit ah…” Aku berdengus sambil melepaskan diri dari cubitannya.

 

“Makanya senyum dong…”

 

Aku tersenyum simpul. Nadia memang selalu bias membuatku tersenyum.

 

 

Image

 

 

Kali ini sudah kelewatan, Nadia terlambat tiga puluh menit. Ini bukan hal yang biasa. Aku bangkit dari kursi dan melihat ke ruas jalan di seberang. Tidak ada tanda-tanda, hanya ada seorang bapak-bapak yang berlari kecil menyusuri taman.

 

“Nadia kemana sih…?”

 

Aku kembali duduk. Sebenarnya kali ini aku ingin jujur pada Nadia bahwa sebenarnya aku masih menyayangi Vera, sepertinya dia juga tau hal itu. Tapi aku juga sepertinya mulai menyukai segala hal yang ada dalam diri Nadia. Aku menarik nafas panjang, mungkin saat ini aku memang belum bisa sepenuhnya melupakan Vera, bahkan kehadiran Nadia seperti mengingatkanku bahwa Vera itu selalu bersamaku.

 

“Reno….”

 

Suara seorang wanita tepat di belakang, cukup membuatku kaget dan bangkit dari kursi.

 

“Reno… aku tau kamu disini…”

 

Aku terdiam tidak percaya, Vera berdiri tepat didepanku. “Ve… Vera?”

 

“Ren…” Vera langsung berlari memelukku.

Vera masih menangis dalam pelukanku, dan aku hanya bisa mengelus rambutnya sambil menyuruhnya tenang.

 

“Sudah… Ver… kenapa?”

 

Vera melepaskan pelukannya, “Aku kangen kamu Ren, Aku mau nikah sama kamu! Bukan dengan pilihan ibu..”

 

“Tapi… tapi… bukannya kamu sendiri yang…” belum selesai aku bicara Vera memotongnya.

 

“Maafkan aku Ren… aku sudah yakin, Cuma kamu yang bias buat aku bahagia.. please.. say “Yes…”..”

 

Aku terdiam sejenak, aku tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi.

 

“Ren… Please.. Aku sayang sama kamu…” Vera masih memandangku erat.

 

Aku pun memeluk Vera, “Iya Ver… aku juga selalu sayang kamu…”

 

Aku memeluk Vera, perasaan yang lama telah kupendam itu akhirnya terkuak, aku memang masih cinta padanya. Tapi tiba-tiba tak sengaja aku melihat sosok wanita di kejauhan memandangiku… itu Nadia! Aku terdiam memandanginya. Nadia tampak tersenyum dan entah bagimana dia seperti berlari dan menghilang.

 

Kulepaskan pelukan Vera sejenak. “Tunggu disini sebentar ya Ver…”

 

Aku pun berlari ke arah sosok Nadia tadi, tetapi rasanya Nadia seperti menghilang begitu saja. Aku terdiam, ada perasaan bersalah bercampur aduk. Hingga akhirnya aku menemukan gumpalan kertas tergeletak tepat di tempat sosok Nadia muncul tadi. Aku membukanya perlahan dan akhirnya membaca tulisan didalamnya.

 

Dear, Reno.

 

Aku harus minta maaf karena mengakibatkan semua kisah cintamu berantakan, mungkin kamu tidak akan percaya dengan apa yang aku tulis disini. Namaku bukan Nadia, aku bahkan tidak bernama. Tapi kamu tetep boleh menyebutku “NADIA”. Aku hanya di tugaskan untuk mengatur dan memastikan kisah cinta mu dengan Vera berjalan lancar. Tapi aku malah membuat kesalahan dengan menembakkan anak panah kearah yang berlawanan, sehingga Vera tiba-tiba jatuh hati pada pria lain. Aku tahu efek buruknya bahwa perasaan suka itu akan bertahan selama dua minggu, jadi demi memastikan kamu tidak jatuh hati pada wanita lain, aku pun menyamar menjadi gadis impianmu… dan ternyata itu masih si Vera… aku salut sama kegigihan cintamu…

 

Sekali lagi maaf…

 

PS : Cupid itu ada loh… tapi kadang2 dia bisa salah

 

Your Stupid Cupid… ^_^

 

 

Setelah aku membaca tulisan itu, aku terdiam sedikit tidak percaya, “Cupid itu ada?” aku tersenyum lalu tiba-tiba saja kertas itu berubah menjadi butiran keemasan dan hilang tertiup angin.

 

“Reno… kenapa?” Vera datang menghampiriku.

 

Aku tersenyum padanya.

 

“Gak ada apa-apa kok… Cuma.. mau bilang terima kasih sama Cupid yang membawamu kemari…”

 

“Ish… Bisa aja… aku kesini naek ojek… bukan sama cupid… haha…”

 

Aku tersenyum sambil menatap butiran keemasan itu terbang tertiup angin.

 

 

-END-

 

PS : posting cerpen biar keliatan keren aja kok *modus*

THROUGH THE RAIN


Hujan dengan derasnya membasahi tanah dan rumput hijau didepanku. Aku sendiri tidak terlalu memperdulikan hal itu, bahkan tubuhku yang telah basah sedari tadi aku enyahkan. Aku tidak terlalu ingat kapan terakhir kali menikmati hujan, bukan saat berlarian dan menghindarinya seperti saat ini. Akhirnya aku berdiri dibawah sebuah ruko tua, atapnya mungkin tidak terlalu melindungi, tapi paling tidak atap itu masih berusaha melakukannya pada sang bangunan tua. Jalanan didepan lengang dan sepi untuk sebuah jalan kota, membuatku tersadar kalau tanpa suara kendaraan dan hiruk pikuk suasana terasa jauh lebih hikmat, hingga saat dalam keheningan, kita menjadi jauh lebih peka dan otak kita menjadi jernih untuk berfikir. Dan entah kenapa aku memikirkanmu.

 

Saat memikirkan seseorang yang kita cintai, imajinasi akan jauh lebih hidup. Mungkin itulah sebabnya lagu-lagu terkenal lebih banyak bertema cinta daripada tema sosial lainnya. Aku masih berdiri  mematung, tapi ingatanku bekerja hebat dibantu suara hujan yang menerpa atap dan jalanan, aku mulai memikirkan semua tentangmu, dari awal perjumpaan saat melihatmu menenteng ember plastik, lalu ejekan yang aku lontarkan tentang gaya-mu yang seperti pembantu rumah tangga sampai akhirnya berjabat tangan mengucapkan nama, aku masih ingat semua. Lalu secara perlahan muncul pula ingatan tentang waktu-waktu bersama yang berkesan serta  kebodohan yang aku ciptakan. Saat jalan pertama, yang aku sebut sebagai kencan gagal yang indah, dimana kita menikmati hidangan sunset dan deburan ombak hanya berdua, saat aku dengan bodohnya hanya mengabadikan kaki kita saja dengan kamera Sony Ericsson-ku, hasilnya memang artistik, kakiku keliatan serasi dengan kakimu, aku juga yang bercanda dengan rambutmu yang dulu masih panjang, hingga akhirnya aku sunset menghilang dan aku baru sadar kehilangan kunci motor yang akhirnya tidak bisa mengantarmu pulang. Ya.. kebodohanku masih terekam hingga tanpa sadar membuatku tersenyum.

 

Ingatanku masih menerawang lebih jauh, di saat malam bulan purnama, di tepi kolam. Kamu memelukku erat seperti enggan terlepas. aku memandangmu lekat, wanita yang mungkin nanti bisa merubah hidupku. Aku ingin sekali mengucapkan perasaan di dada, namun entah kenapa tertahan diujung lidah. Aku sejenak melepas pelukanmu, “And I don’t know why, I choose to kissed you there”. Hingga akhirnya kamu berlari menahan malu, bersembunyi di dalam kamarmu. Aku yang merasa bersalah hanya diam mematung menadangi pintu kamarmu yang tertutup rapat. Lalu berjalan gontai ke arah parkiran sambil terus mengutuk diri “what the hell are u doin there! stupid imonck?”. Lagi-lagi sebuah kebodohan. Hingga akhirnya, kebodohan itu menjadi manis saat menerima pesan singkatmu. Dan kita resmi berpacaran.

 

Aku menarik nafas panjang sejenak. Hujan masih setia rupanya. Entah ini rasanya seperti perjalanan menggunakan mesin waktu secara sesaat. Dan kini aku tersadar sudah kembali ke masa depan. Ah… semua berjalan begitu cepat, dua tahun lebih sudah memori itu masih tertanam. Dan kini, aku yang di masa depan menyadari kalau dirimu sudah tumbuh dan menjadi lebih dewasa. Menjadi wanita mandiri yang luar biasa. Dan aku menyadari semakin banyak tekanan hidup yang akhirnya memaksa kita untuk berpisah. Entah kenapa ini terjadi? Biarkan saja, Tuhan selalu punya cara untuk menyadarkan bahwa Dialah sang Maha Mengatur. Sedangkan tugas kita adalah menjalani semuanya sebaik mungkin dan tetap bersyukur.

 

Perhatianku sejenak teralihkan pada dua remaja yang dari seragam mereka kelihatannya masih SMA, berhenti diseberang sana, mereka saling mengejek dan tertawa lepas. Motor yang mereka pakai sepertinya mogok terkena air hujan. Aku memandangi tawa lepas mereka, begitu bahagia, bahkan ketika mereka berdua mencoba mendorong sepedah motor ditengah guyuran hujan deras ini. Dan entah kenapa aku berfikir, Mungkin bagi sebagian orang hujan ini sebuah kesialan, tapi sepertinya bagi mereka berdua, hujan dan motor mereka yang mogok itu tetaplah sesuatu yang pantas untuk di tertawakan. Aku iri.

 

Dua remaja itu telah berlalu, dan hujan masih terlihat deras. Aku memainkan Blackberry-ku untuk membunuh rasa sepi. Status BBM ku ganti dengan “Hujan dan separuh anugerah untuk dinikmati”. Kalimat yang pas. Karena aku memang berusaha untuk tidak menyesali semua dan selalu mencoba menikmatinya. Entah kamu yang begitu indah dan masa lalu-ku yang baik dan buruk. Aku akan tetap berjalan dengan caraku. Aku tidak berusaha melupakanmu, aku hanya berusaha menjalani semua lagi. Menyusun kembali puzzle hati yang sempat terlepas dari bingkainya.

 

Dan pada akhirnya, kita butuh sebuah kemauan dan kesadaran untuk melangkah meninggalkan sesuatu. Aku pun begitu, sepertinya tidak terlalu peduli lagi dengan hujan ini. Aku memilih meninggalkan bangunan tua ini dan berjalan menaiki sepedah motorku, perlahan menyusuri jalanan basah, dan menikmati semuanya.

 

IMONCK

 

Marilyn Monroe – through with love

 

I’m through with love

I’ll never fall again

Said adieu to love

Don’t ever call again

For I must love you or no one

And so I’m through with love

 

I’ve locked my heart

I’ll keep my feelings there

I’ve stocked my heart

With icy, frigid air

And I mean to care for no one

Because I’m through with love

 

Why did you lead me

To think you could care?

You didn’t need me

For you had your share

Of slaves around you

To hound you and swear

With deep emotion and devotion to you

Goodbye to spring and all it meant to me

It can never bring the thing that used to be

For I must have you or no one

And so I’m through with love

I’m through with love

 

Goodbye to spring and all it meant to me

It can never bring the thing that used to be

For I must have you or no one

And so I’m through with love

I’m through with…

Baby I’m through with love…

NO MEANING STORY


Pandanganku kosong pada jalanan sepi didepanku, entah sudah berapa kali aku melalui jalan ini, sampai tidak tersadar lagi dengan pemandangan pantai yang indah khas pulau Lombok. Aku memang suka menghabiskan waktu berfikir dengan menaiki sepedah motor matic biru kesayanganku lalu menumpahkan semua masalah pada jalanan agar tak tersisa lagi saat dirumah nanti. Tapi kali ini berbeda. Aku memeras otak memikirkan letak kesalahanku pada dia. Dia yang kau sebut kekasih 2 tahun belakangan.

 

 

“Maaf ya sayang… hik.. aku gak seperti yang kamu pikirkan..”

Dia menangis menatap mataku yang sedari tadi memancarkan kesdihan, kemarahan dan rasa kecewa yang dalam.

“Dia bukan siapa-siapa, dia hanya teman saja… tidak lebih…” lanjutnya, seraya menggenggam erat tanganku.

 

Aku hanya terdiam memandang wajahnya, wajah yang selalu membuatku berfikir tentang masa depan.

 

“Aku mohon… itu benar-benar tidak seperti yang kamu pikirkan, dia hanya ingin mengantarkanku pulang..”

 

“BAIK! Dia mengantarkanmu pulang, lalu mencium keningmu didepan pintu gerbang! Apa itu bukan apa-apa?” aku menghardik dengan penuh emosi. Tanpa sadar berkelebat semua bayangan saat aku yang menunggunya di ruang tamu untuk memberikan kejutan kedatanganku yang tiba-tiba dengan sebuah oleh-oleh dari kota Malang. Lalu waktu yang membuatku menerima kenyataan pahit, bahwa dia pulang dengan lelaki lain yang tidak pernah aku kenal sebelumnya.

 

“Maafkan aku… please…hiks.. aku sayang kamu.. cuma kamu yang aku benar2 cinta”

Dia berusaha memelukku sambil terus menangis. Tubuhku kaku.

 

“Maaf… tapi pelukanmu sudah tidak sama lagi…”

Aku mendorong tubuhnya perlahan. “Maafkan aku..”

 

Aku keluar dari rumahnya dengan perasaan berkecamuk. Aku terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini.

 

 

Aku membuang sejenak pandangan pada matahari yang segera tenggelam. Semoga sakit hati ini ikut terkubur bersama cahaya kekuningan itu bathinku.

namun tiba-tiba saja.. suara klakson dari sebuah bus kecil menyadarkanku…

 

“ASTAGFIRULLOH…”

Aku menjerit tertahan…

 

Sebuah hantaman hebat dengan suara dahsyat memekakkan telingaku, aku merasa tubuhku terlempar sebelum menghantam tanah dengan keras. Dan tak sadarkan diri.

 

Image

 

Kali ini pandanganku mengabur. “aku dimana?”.

Semua serba putih. Badanku terasa kaku dan tidak bisa digerakkan..

“apa aku sudah….”

 

“Mas… Mas… sudah sadar?”

 

Aku mencari arah suara dan menemukan seorang wanita dengan pakaian serba putih disampingku.

 

“Alhamdulillah…” dia tersenyum.

 

Aku tertegun sejenak memandanginya, wajahnya ayu, sangat manis dan suaranya menghanyutkan.

“A…apa kamu malaikat?” aku berusaha berbicara.

 

Dia lalu tertawa dan tersenyum manis. “Bukan.. aku hanya perawat disini, kamu tidak ingat apa-apa? Ini rumah sakit dan kamu sedang dirawat disini”

 

Sejenak aku terdiam dan mengingat semuanya.

“Sudah berapa lama aku disini?”

 

“Baru kemarin… syukurlah kalau kamu ingat semua-nya…” dia tetap tersenyum sambil mencatat sesuatu pada sebuah lembaran kertas.

 

Aku terdiam lagi. Pikiranku bergelayut. Ah.. aku ingat semuanya, sakit hati ini dan sebagainya. Juga sebuah bus warna putih yang mengahantamku kemarin.

 

“oya.. nama kamu siapa?” aku memandang gadis itu kembali.

 

“Sofia..” jawabnya lembut.

 

“Sofia…” aku mengulang menyebut namanya perlahan.

 

“Kamu ingat kenapa ini semua terjadi?” Sofia mengahmpiriku.

 

“mmm… aku ingat semuanya, aku.. melamun diatas motor..”

 

“melamun? Astaga? Mikirin cewek-nya ya?”

 

“Haha… ha.. iya sih.. tapi..” kalimatku tertahan.

 

“kenapa?”

 

“aku rasa dia telah berkhianat… aku memergokinya jalan dengan pria lain”

 

“maaf.. itu pasti menyakitkan” Sofia terdiam.

 

“tidak masalah.. paling tidak sebuah kenyataan terkuak..”

 

Sofia hanya tersenyum.

 

“Sofia… ka.. kamu enak diajak bicara…”

Tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata itu.

 

“he? Maaf…” dia tersenyum dengan pipi merona lalu bangkit dari kursinya.

 

“aduh… aku yang minta maaf…”

Aku salah tingkah. “mmm… tapi Sofia.. nama yang bagus”

 

Dia tersenyum, “he.. he.. aku tinggal sebentar ya..”

 

Dia lalu berlalu kikuk ke arah pintu keluar. Aku masih bisa melihat rona pipi-nya yang memerah.

 

Aku menyapu pandanganku keseluruh ruangan. Serba putih dan khas rumah sakit. Aku juga masih merasa ada selang oksigen dihidung, perban putih yang meililit kepala dan selimut tebal yang menyelimuti seluruh tubuhku. Badan ini pun masih terasa kaku. Lalu aku teringat Sofia. Sakit hatiku hilang. Sepertinya Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk membuat umat-Nya bahagia.

 

Tunggu dulu. Apa gadis secantik dia masih sendiri? Itu tidak mungkin. Tapi ah… sisi pria-ku bergejolak. Aku seperti menemukan cinta yang hilang. Dan tiba-tiba saja sofia muncul. Dia membawa beberapa peralatan dan sebuah infus baru. Anehnya tanpa sadar wajahku merona, dia pun terlihat kikuk berjalan mendekati tempat tidurku.

 

“Sofia…”

Aku memanggilanya lembut, entah kenapa.

 

“iya..” dia tersenyum kembali seraya tetap bekerja melepas infus yang sepertinya akan habis.

 

“kalau aku sehat nanti kamu mau jalan dengan ku kan? Ke pantai atau kemana saja?”

Aku memberanikan diri. Karena aku yakin pria itu seharusnya menjadi pemeberani.

 

“he…” dia terdiam, wajahnya merona. Manis sekali.

 

“tenang aku sangat pintar bermain gitar, aku akan membuatkanmu lagu yang indah.. sambil menunggu sunset..”

Aku merasa sangat percaya diri.

 

“Pantai Senggigi? Haha…” dia tertawa.

 

“hufft gak romantis ya disana?”

 

“Lumayan… kalau lagi sepi..” dia melirik sambil merapikan beberapa peralatannya.

 

“Berjalan bergandengan tangan.. denganmu.. pasti sebuah anugerah..” aku semakin merancau.

 

“ha… mmm” wajahnya merah padam.

 

“Sofia… Just say u will…” aku tersenyum.

 

“Itu pasti menyenangkan.. seandainya sa… eh.. mm”

Tiba-tiba dia menarik nafas panjang dan terdiam.

 

“kenapa? Kamu sudah punya pacar? Maafkan aku”

Aku menyesal terlalu cepat bertindak.

 

“bukan itu.. a.. aku” dia masih menyimpan senyumnya dengan wajah bingung.

 

“iya… maaf aku tidak tahu diri, aku yang jelek begini mana bisa keluar denganmu yang…” belum selesai aku berbicara dia mendekatiku.

 

“Maaf tapi bukan itu masalahnya… aku tidak punya pacar saat ini… tap maafkan aku…” dia terlihat sedih. Lalu seperti hendak berjalan ke arah luar.

 

“Kamu mau kemana?”

 

“Aku mau pulang.. ini hari terakhir aku magang disini..” dia tersenyum.

 

“Tunggu sebentar…” aku memohon dan ingin bangkit dari tempat tidur. “Boleh aku tau nomer handphone-mu?”

 

Sofia terdiam.

 

Aku melirik ke arah meja yang agak jauh. Disana ada Blackberry putih kesayanganku.

“Aku mohon..” aku sedikit memelas.

 

Sofia masih terdiam memandangku dan juga melirik ke arah handphone-ku diatas meja.

 

“kenapa Sofia…?” tanyaku tertahan.

 

“Aku.. aku…” sofia tampak terbata.

 

“ambil saja hp-ku di meja dan tulis nomormu disana…” aku memelas.

 

Sofia menurut dan berjalan mendekati meja. Dia lalu mengetik beberapa kata dan berjalan mendekatiku. Dia memandangku dalam. Lalu menjulurkan tangannya, dia ingin memberikan HP-ku.

 

Tapi anehnya, tanganku tidak bisa bergerak.

Ada apa ini? Pekikku dalam hati.

 

Sofia menunjukkan kalimat yang di ketikkan ke HP-ku..

Beberapa kata saja…

Dan sepertinya kalimat itu akan merubah hidupku selamanya…

 

“MAAF TAPI TANGAN DAN KAKI-MU TELAH DI AMPUTASI”.

 

 

-I KNOW IS NOT HOW TO HAPPY SHOULD END-

IMONCK

 

*Tulisan sableng ini lahir di kamar kost, 2 September 2012 sembari menunggu jemuran kering.

 

Image

SURGA KECIL


Alhamdulillah… masih pada kuat puasa kan?

Sama.. saya juga masih kuat kok…

 

“trus itu gelas sama piring bekas makan siapa monck?”

 

Mana? Eh.. ini.. ini… itu.. tadi pas sahur lupa diberesin… hehe… gak mungkin saya batalin puasa… nanti pas Buka gak dapet jatah dong.. (^_^i)>

 

Inget! Puasa itu kudu semangat, harus tetep senyum, eksis, kalo perlu jingkrak2 biar tetep seger. Udah gak zaman lagi pasang gaya lemes2, muka ngantuk, trus jalan ke kamar mandi dikit aja udah berasa zombie di film Walking Dead series. Tapi terkadang lucu juga ya, kalau temen2 pada liatin kita seger dikit aja pasti bawaannya curigaan kalau kita gak puasa.

 

“eh… monck, kamu ini lari terus kemana2… gak puasa pasti ne ya??”

 

“eh.. monck, kamu ini dari tadi senyum2 terus, mukanya gak ada capeknya, pasti gak puasa ya..?? ngaku deh… cie cie…”

 

Ato

 

“eh monck, kamu ini daritadi nontonin 3gp-nya miyabi.. gak puasa ya?”

Eh.. kalo nonton film porno mah pasti batal! Ish…

 

Tapi Puasa zaman sekarang juga kayanya gak terlalu terbebani waktu deh, jadinya gak beralasan lagi, kalo puasa dipake buat males-malesan. Karena rasanya waktu berputar jauh lebih cepat dibanding saat masih kecil dulu. Bahkan waktu sahur menuju buka puasa hampir rasanya tidak memiliki jarak. Bukannya bagus ya?. Saya sih merasa bagus2 saja. Tapi bila mengingat beberapa hadist Nabi yang menjelaskan bahwa pada akhir zaman nanti waktu akan terasa lebih singkat. Saya langsung kencing berdiri. (emang selama ini pipis-mu gimana monck?).

 

—-

 

Oya kemarin sempet mudik ke Mataram, puasa jadi lebih nikmat bila berdekatan dengan keluarga. Buka puasa jadi ramainya ngalahin ngantri sembako, trus sahur juga enak tinggal tunggu dibangunin, eh mata melek makanan sudah ada aja kaya sulap. Beda banget kalo bangun di kost-an, mata melek yang nongol juga si Jack dari kamar atas misuh2 gedor2 pintu nyari lauk.

 

Bangun sahur dan bisa lihat Ibu siapin makanan itu rasanya menyenangkan, seperti terlempar ke masa lalu saat semua masih berkumpul dirumah. Biasanya bapak sudah teriak sampe puluhan kali untuk membangunkan ke-empat anaknya yang memang bandel semua. Trus kami perlahan keluar kamar dengan muka lecek, saling sikut karena pengen bareng masuk kamar mandi.

 

Sehabis mencuci muka seadanya kami pun biasanya berbaris rapi di meja makan, terkadang piring sudah tertata rapi. Makanan terlihat hangat masih mengepulkan asap dan pasti sangat lezat. Tapi nafsu makan rupanya lebih sering dikalahkan oleh rasa kantuk yang masih bergelayut. Hingga terkadang melewatkan momment kecil yang sangat manis itu.

 

Terkadang bila Ibu membuat ayam goreng, pasti kami sibuk berburu daging mana yang lebih besar, biasa yang terakhir datang kebagian daging yang lebih sedikit. Kalau ada pepatah rejeki itu turunnya pagi, dan yang bangun kesiangan rejekinya dipatuk ayam. Hal itu benar adanya. :p

 

Tapi yang paling khas saat sahur dirumah adalah wejengan bapak yang terus bergaung ditelinga selama mata kami masih kedap-kedip seperti lampu disko. Bapak memang selalu mencoba menekankan disiplin dimana dan kapan saja.

 

“Masa’ sudah jam segini baru pada bangun, tinggal 15 menit mau imsak baru keluar, sudah dibangunin 10 kali baru keluar”

 

“makan banyak sayur biar tetep seger besok”

 

“minum yang banyak air putih, apalagi deket2 imsak begini”

 

“sudah pada niat puasa kan?”

 

Ato

 

“ayooo pada sikat gigi, sudah mau imsak..”

 

Percaya atau tidak, bahkan sampai saat ini beliau terus melakukan hal itu. Dan saat sahur di kost saya sering merasa suara bapak mengalun di telinga, hingga tanpa sadar melakukan yang beliau katakan.

 

Bapak dan Ibu saya memang juara. Alhamdulillah.. Puji syukur kepada Allah SWT yang telah minitipkan surga kecil di keluarga-ku.

 

Image

 

Momment mudik juga sudah pasti jadi ajang berkumpul dengan teman sepermainan. Karena tidak akan lengkap rasanya hidup bila tidak bertemu dengan orang-orang yang selama ini menggandeng tanganmu saat susah maupun senang. (Cie… cie… bahasa-nya).

 

Begitupun saat membaca BBM singkat dari Zix, “Buka bersama sambil Reunian yuk”. Tawaran menarik yang memang hanya seru dilakukan saat bulan puasa. Walau awalnya sempat ragu karena beberapa teman urung hadir, terutama yang laki-laki.

 

Tapi…

 

Disinilah saya, duduk manis, berhadapan dengan hidangan yang sudah amburadul, serta sekali lagi menjadi saksi hidup kalau bersama sekumpulan wanita itu memang serunya mengalahkan nonton bola. Tidak henti-hentinya Eka Lale, Redi, Lian, Shanti dan Zix saling mengumbar tawa, saling menimpali ejekan, lebih banyak menghina selera makan saya yang buruk, lalu bercerita tentang masa lalu yang tidak pernah habis, sampai menertawakan keadaan sekitar yang memang sangat ramai. Ya tempat itu sangat ramai oleh kerumunan muda-mudi yang juga memiliki acara masing-masing.

 

Menjadi laki-laki sendiri ditengah wanita itu harusnya seperti menjadi Don Juan dengan para selirnya, seperti imam yang harus memimpin jama’ah-nya, atau seperti Jenderal yang memimpin pasukan ke medan perang. Tapi nyatanya saya lebih mirip Nobita di tengah Jaiko 1, Jaiko 2 sampai Jaiko 5. di bully habis.

 

Bahkan dengan pasrah saya digiring ke daerah Udayana yang memang terkenal sebagai tempat primadona berkumpulnya para muda-mudi kota Mataram. Okenya sih saya dapet nyobain pake Vespa tua-nya Zix untuk keliling kota. Sesuatu banget ya?. Setelah merasa cukup keren naek Vespa pinjeman eh.. habis itu malah disuruh jadi supir sepeda gandeng yang lebih mirip odong-odong. Asik juga sih… tapi lama kelamaan goncangannya jadi tambah berat. Oya mereka Jaiko semua jadi beratnya ngalahin stomp beranak.

 

Belum lagi sepedah sialan itu pake acara rantai lepas, dan beberapa kali tangan belepotan memperbaikinya, lebih keren-nya lagi, karena semua penumpangnya perempuan jadi bawaannya jerit-jerit gak jelas kalo sepedahnya mau nabrak atau ketemu pinggiran jalan. Belum lagi beberapa penumpang-nya pada ngibrit nyari kamar mandi di tengah perjalanan. Oh… pengen ikutan jerit

 

“Doraemoooon….”.

 

Image

 

Walaupun begitu, tidak dipungkiri malam itu adalah salah satu malam yang indah, seru dan berwarna. Seperti kembang api air mancur yang menari setelah sebelumnya Lian rada-rada takut membakarnya. Sesaat semua terpaku memandang kilauan cahaya dari beberapa batang kembang api yang berhasil menyala. Sesekali saya mencuri pandang kearah semua, wajah2 letih, bahagia dan sisa dari goresan masa lalu yang biru. Dan sesekali kilatan beberapa wajah di masa lalu ikut bertiup diantara kami yang mungkin kini mereka entah dimana.

 

Ya… semua memang sudah berubah drastis, beberapa sudah menikah dan memilki anak, beberapa lagi sudah tumbuh menjadi pribadi dewasa yang bijak, mungkin hanya beberapa yang terjebak dengan masa kanak2…

 

Huh… lamunanku diatas motor melampaui semua dimensi.. dimana langit diatas selalu sama, hitam bermandikan bintang bulan, dan ketika memandang ke sekitar semua menjadi tumbuh bersama waktu. Sepertinya surga kecil itu juga terus berkembang entah sampai kapan.

 

 

See u on the next journey fella’s..

 

IMONCK

MENCOBA MEMAHAMI YANG GA PAHAM


“Rasanya aneh… ngilu banget pas di bor tadi” Sindu mengeluh sepanjang perjalanan pulang ke arah kost setelah dari Dokter gigi sebelumnya.

 

Aku sendiri hanya tersenyum mendengarnya,

 

“Kalau saja aku anak kecil, tadi pas di bor pasti teriak kueenceng… wong rasanya ngilu banget… cuman karna gengsi aja makanya aku ga tereak hehe…” Sindu masih melanjutkan keluhannya dengan logat medoq khas Jawa.

 

“Gitu ya? Hahaha…”

 

Didalam hati aku sendiri berfikir hal yang mungkin tidak kuhiraukan selama ini, kalau ternyata menjadi seorang anak kecil itu lebih bebas untuk mengeluarkan ekspresi dan emosi. Orang dewasa cenderung berfikir terlalu banyak untuk sekedar berbicara, melakukan sesuatu, atau bahkan sekedar untuk mengekspresikan emosinya. Orang dewasa itu selalu memperhatikan hal-hal kecil, perasaan orang lain, situasi disekitar, dan yang paling penting adalah tanggapan orang lain atas tindakannya.

 

Sepertinya inilah jawaban, kenapa seorang pria dewasa agak sulit mengatakan perasaannya terhadap orang lain secara jujur.

 

 

Image

 

Aku jadi teringat beberapa tahun yang lalu saat masih kuliah, saat itu mencoba mengatakan perasaan cinta pada seorang wanita yang waktu itu sangat dekat denganku. Suasananya begitu mendukung, matahari tenggelam tepat di pinggir pantai yang lumayan sepi dengan menyisakan hanya kami berdua : sepasang remaja dengan hubungan tanpa status. Namun tiba2 saja keringatku mengucur deras, pandanganku mengabur, bahkan pikiranku pun berantakan tak karuan. Aku terlalu takut mengatakan perasaan yang beberapa bulan mendekam di hati. Untuk sekedar menatap matanya saja aku tak mampu. Aku takut dia akan marah, menjauhiku, membenciku atau bahkan hal-hal yang tidak mungkin menjadi ikut terpikirkan, misalnya siapa tau saja dia psikopat, dan langsung ngamuk2 karena tersinggung. Bukan tidak mungkin dia berubah menjadi Hijau dan berotot saat marah.

 

“Kamu kenapa? Kok tumben diem”  dia bertanya sambil menatap dalam pada mataku.

 

“He..? gak… gak ada.. tadi cerita apa hehe..?” aku merancau.

 

“Aku tadi bilang kalau siapapun cowok aku nanti, pasti dia seneng, coz aku orangnya ga neko2… cukup ngajak aku jalan sekali seminggu aja aku udah seneng kok…” dia menjelaskan cerita yang luput gara2 sikapku yang grogi tak tertahankan.

 

“Gitu ya? Hehe… beruntung banget cowokmu nanti” aku mengalihkan pandangan jauh pada lautan biru didepan.

 

“yaa… mungkin hehe.. lah kamu sendiri kok seneng banget jadi jomblo?” dia tersenyum penuh makna padaku.

 

Jomblo? Ah… cuma lagi pengen aja… lum nemu yang pas lagi”

 

“yang pas? Mmm memang harus pas banget?”

 

“mmm.. ya ga yang pas banget juga sih..”

 

“tuh kan…”

 

“lah kamu sendiri kenapa jomblo? Kan banyak tuh temen cowokmu yang keren2?” aku gantian bertanya.

 

cewek tuh nunggu cowok yang serius… aku sih yang penting nyaman sama dia… ga harus keren!” dia membuang pandangannya jauh.

 

“he… mmmm…” aku malah diam tidak tahu harus berbicara apa. Alasanku sederhana, dia cewek type High Class, dengan dandanan dan pergaulan yang elit. Sedangkan aku hanya pria kumel ala gembel dan kere pula. Merasa sangat ga matching.

 

“balik yuk…” dia memecah kesunyian.

 

“cepet banget?”

 

“udah yuk.. ntar di cari mama..” dia berdiri sambil membetulkan baju kaus warna kuning dan celana tiga per empatnya.

 

“ya…”

 

Kalian tau hal tergoblok yang aku lakukan saat itu adalah :

AKU TIDAK MENGATAKAN PERASAANKU YANG SEBENARNYA SAAT DIA MENUNGGU SEBUAH KEJUJURAN. Simple tapi bisa menyakitkan… begitulah sebuah perasaan yang dipendam tapi enggan dimuntahkan di saat yang tepat. Dan tidak heran, sejak kejadian itu dia mulai menjauh lalu menghilang begitu saja. Tidak ada lagi pengharapan yang tertanam. Padahal kalau saja dia menginginkan sebuah hubungan denganku, kenapa dia juga tidak mengatakannya langsung?. Dia tahu lidahku kelu bukan? Lalu mengapa dia tidak menggantikan peranku sebagai “penembak”?. Wanita memang tidak akan bisa di pahami. Atau hanya aku yang memang bodoh?.

Entahlah..

 

 

Sampai saat ini wanita memang mahluk yang sukar untuk dipahami, padahal buku atau forum yang membahas tentang perbedaan pria dan wanita sudah sangat banyak. Tapi herannya pria masih saja dongo untuk memahami wanita, dan itu termasuk aku salah satunya.

 

Contoh nyata perbedaan itu nampak jelas di mataku saat menikmati semangkuk mie ayam disebuah warung yang cukup lenggang bersama bang Joe dan Zoel. Warung itu sebelumnya cukup tenang, karena hanya ada kami bertiga dan beberapa orang yang masih menuggu pesanan tiba. Namun beberapa saat kemudian suasana warung mendadak berubah drastis saat delapan wanita yang kelihatannya masih usia sekolah datang.

 

Mereka semua menggunakan jilbab berwarna warni, mirip kumpulan girl band insyaf yang banting setir menjadi grup qasidah. Mereka duduk dalam satu meja yang paling besar, mereka bahkan menambah jumlah kursi yang tersedia di meja itu agar bisa menampung semua anggotanya. Lalu hal biasa yang selalu terjadi saat ada kumpulan wanita adalah : kebisingan mendadak!. Ya mereka menciptakan kebisingan yang sangat tidak bisa aku dan kaum laki2 mengerti. Karena terlanjur menarik perhatian akupun mencoba menangkap beberapa topik bahasan mereka,

 

“Ihh… ga banget si Dodi itu, pakai punya pacar 2, padahal Ine yang jadi pacarnya duluan masih setiaaaa” Kata si jilbab biru kepada teman2nya, yang lain menimpali dengan cukup heboh.

 

“He… besok ada pelajaran tambahan sehabis jam pulang” kata jilbab merah “jangan lupa bawa makanan lebih” sambut yang lain..

 

“Tugas kelompok yang kita kerjain kemarin kayanya masih kurang materi nih…” Kata si jilbab putih.

 

Begitu terus.. topik yang mereka bicarakan berubah-ubah dengan cepat dan sangat membingungkan. Tapi ada satu kalimat yang sangat menarik dari si jilbab biru lagi.

 

“Kemarin si itu nanya2 kelompok kita saat diskusi, tapi aku ga jawab banyak, kan sesuai nama kelompok kita… NO SPEAKING! Hihi…” lalu diiringi beberapa tawa dan tanggapan membenarkan dari teman2nya.

 

Aku hanya menahan tawa mendengar hal itu sambil bergumam ke Bang Joe. “hahaha… nama gank mereka No Speaking.. harusnya mereka perlu berfikir cepat buat ganti nama gank aja bang wkwkwk… jadi SPEAKING A LOT!”

 

Bang Joe tersenyum.

 

Untungnya hal itu tidak berlangsung lama. Rupanya sang pemilik warung dengan sigap menyiapkan pesanan gank bising itu. Jadilah suara mereka teredam oleh makanan yang telah tersaji. Dunia langsung damai.

 

Image

 

Begitulah, wanita selalu menikmati dunia dengan cara mereka yang luar biasa dan kita kaum pria tetap berusaha mengerti tapi tetap tidak pernah bisa memahami. Pria ga akan bisa sebising itu dalam bercengkrama dan pria juga tidak akan pernah paham pentingnya sebuah penampilan. Pria itu terlalu sibuk memikirkan banyak hal sebelum melakukan sesuatu, walaupun sebenarnya kami ingin selalu berkata jujur tentang perasaan yang kami rasakan tanpa banyak pertimbangan.

 

yang mungkin bener sesuai kata Ryan Adriandhy juara standup comedy Kompas TV :

“Kalau saja semua pemimpin dunia ini perempuan.. pasti ga ada perang! karena semua negara pada sibuk nge-gosip dan who knows markas PBB bakalan jadi tempat buat arisan masal”

 

Lagi lagi entahlah…

 

 

JUST TRY TO BE A RADICAL HONESTY

IMONCK