Arsip Bulanan: Februari 2015

WRONG ISLAND

WRONG ISLAND

Akhir-akhir ini gue lagi suka berpetualang nih!

C360_2015-02-14-14-21-04-471

Iyeh! Masa kecil kurang bahagia plus sekarang gue lagi galau. Jadi agak-agak riskan kalo di kamar kos sendirian. Bisa-bisa gue main jaelangkung. Hihihi…

Ini dadakan aja sih sebenarnya. Gak ada planning atau apa. Gue malah kepikiran Sabtu pagi itu. Pas bangun dan menyadari kalau sampe Senin gue libur (Senin cuti). Teringat pas Jumat kemarin salah satu security yang suka membual ke gue bilang kalo mereka kemarin abis dari Pulau Kasiak (Pulau Pasir) buat mancing. Pulaunya terletak di depan Teluk Bayur. Dekat dengan pantai dan bersih. Airnya juga jernih. Duh! Gue pengen banget lah!

Pagi itu gue langsung telepon Elizabeth adek gue dan beberapa temen lain yang kemungkinan bisa ikut. Tapi jadinya hanya 3 orang yang pergi. Bang Alizar dari rumah kayu satu lagi. Btw, dia temen gue satu hobi. Menulis. Karena dadakan dan Bang Alizar sedang kerja, jadi jadwal keberangkatan pun ditunda sampai pukul 11 siang. Kami kumpul di kos gue.

Berhubung motor hanya ada satu, jadi gue manggil salah satu ojek dekat kos-an. Oh ya, peraturan pertama kalo mau naik ojek dan tempatnya jauh yah, nawar harga dulu. Gue deal di harga 20ribu dengan jarak kira2 15 menit perjalanan. Gue sama Bang Alizar dan Elizabeth pake ojek.

Satu hal yang terlupakan, gue sama sekali gak tahu dimana naik ke Pulau Kasiak itu. Gue kan cuma denger sambil lalu doang. Akhirnya kami jadi nanya-nanya ke penduduk sekitar yang sebagian besar malah gak tau, muter-muter pasar ikan dan kembali lagi ke tempat awal. Mujur, si tukang ojek sama sekali gak charge lebih. Padahal muter-muter udah ada 15 menit!

Setelah dapat lokasi naik boat ke pulau, masalah baru muncul

Si Ibu yang ada di warung tempat yang kami rasa mungkin untuk start bilang,

“Adek udah bikin janji sama pemilik boat belum? Biasanya orang yang mau ke pulau bikin janji dulu..”

Alamak!

I don’t know about thissssss….this….thiiiiiisss!

Bener-bener deh! Tapi berhubung sudah terlanjur kering ke sini. Gue pun mencoba membujuk Ibu itu agar mau mencarikan kami boat atau perahu sampan pun boleh! Yang penting sampai ke Pulau Kasiak. Sayang sekali, suami si Ibu baru beberapa jam lalu pulang melaut dan sedang mimpi enak sekarang. Gak bisa diganggu. Tetangga juga gak ada. Rata-rata tengah hari gini katanya para nelayan sedang istirahat di rumah masing-masing.

Beruntung, ada beberapa anak-anak SD yang lagi lewat. Gue iming-imingi aja pake duit supaya mereka mau nyariin boat ke pulau. Setengah jam menunggu, akhirnya ada juga perahu nelayan yang mau mengantar. Tarifnya 100.00 buat 3 orang PP. Yeah…. Lazimlah!

Sementara menunggu perahu siap dan beli bensin, Bang Alizar pergi ke warung nasi buat beli makan siang. Nanti kan mau main air dan berenang. Walau gue udah beli banyak cemilan tapi pasti bakalan tetap lapar.

Tepat beberapa menit setelah adzan Dzuhur, perahu berangkat

Mari bernyanyi dengan riang, ‘Nenek moyangku orang pelaut! Tak kenal galau..tiada takut,’ lho..lho? Bukan. Hehehe…

Yang mengemudikan perahu bukan Bapak tadi, tapi dua anak SMP tanggung. Aduh, gue kok berasa was-was. Gimana kalo perahu ini terbalik? Apa mereka bisa jadi rescue time? Iseng-iseng gue nanya cowok berambut cepak berbadan mungil yang jadi kapten.

Gue       : “Dek… Nanti kalo ada apa-apa, Abang itu gak bisa berenang, lho! Aman kan?”

Si Adek : “Aman kok, Kak! Nanti kita bantu!”

Gue       : “Kelas berapa kamu, Dek?”

Si Adek : “Kelas 2 SMP, Kak!”

Gue       : (Manggut-manggut) “Ooooh…. Namamu siapa?”

Si Adek : (Acuh tanpa merasa perlu melihat ke belakang? “Dona Kak!”

Gue       : “Ronald?” (Keren nih namanya! Pasti Ayahnya suka sepak bola)

Si Adek : (menggeleng) “Bukan, Kak! Dona!”

Gue       : (bingung. Apa gue salah denger? Mungkin saking kencangnya angin dan suara perahu yang berisik, jadi terdengar huruf ‘D’) “Donat?”

Apaan tuh Donat?!

Si Adek : (mengangguk) “Iya! Dona, Kak!”

Hening.

Gue kembali duduk di buritan. Jangan-jangan dia shemale? Atau lady boy! Ah! Sama ajalah! Tapi gue perhatikan dengan sembunyi-sembunyi, si Dona yang diragukan jenis kelaminnya ini, punya bekas tindik di telinga dan lengannya tergolong kecil. Tapi badannya berisi. Atau mungkin dia emang beneran cewek? Siapa tahu dia mirip sepupu gue Ana yang waktu kecil sampe SMP rambutnya dipotong pendeeeek banget mirip cowok. Tomboi banget lah!

Setelah menempuh lebih dari 15 menit perjalanan kami sampai di pulau

Gile. Jauh juga ternyata! Padahal kalau dilihat dari darat kayak macam bisa berenang saja ke sana. Tapi yang membuat gue tercengang adalah, pulaunya sama sekali gak mirip seperti yang diceritakan. Terumbu karang yang elok, ikan bewarna warni dan pasir putih bersih.

PULAUNYA KOTOR!

Itu pulau Kasiak atau TPS sih?! Kenapa ada sampah dimana-mana??? Gue shock! Airnya memang lumayan jernih di pinggir, tapi agak ke tengah tumpahan minyak bercecer. Gue rasa itu dari kapal-kapal tanker yang lewat dan bersandar di pelabuhan. Ini kan teluk! Saran gue, kalau mau berenang disarankan tidak memilih pantai di sekitar pelabuhan.

kapal-kapal ini nih, bikin polusi
kapal-kapal ini nih, bikin polusi

Sisi depan pulau penuh dengan sampah-sampah yang entah sengaja dibuang di sana ataupun terdampar. Ada banyak kantung sampah besar teronggok dan bahkan ada yang isinya berceceran. Ada lagi ember pecah tempat warna item trus botol-botol minuman plastik. Sampah-sampah plastik paling mendominasi. Bahkan ada bantal guling terdampar. Jangan-jangan ini pulau kapuk?

Gue melenguh kecewa. Tapi mau bagaimana lagi. Toh, sudah kepalang tanggung. Akhirnya kami mencoba memutari pulau yang luasnya gak sampai satu lapangan bola. Sampai bagian belakang pulau lumayanlah… Cukup bersih. Hampir tidak ada sampah kecuali sendal sebelah-sebelah. Gue dan Elizabteh langsung melahap nasi bungkus. Gue mencari pohoh yang agak rendah dan makan dengan duduk di dahannya. Bang Alizar pergi sholat Dzuhur.

C360_2015-02-14-14-47-29-569

Keseluruhan pulau didominasi oleh hutan lebat dan semak. Bagian selatan pulau ada banyak rumpun pandan berduri (gak tau lah apa namanya) dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Namun, sejauh ini gue belum menemukan binatang yang lebih besar dari burung. Siapa tahu aja kan di dalam ada babi hutan. Hehe.. Kata anak-anak itu dulu pulau ini bersih. Dipelihara oleh penjaga yang mendirikan rumah di sana. Entah kenapa, sekarang penjaganya udah pergi. Tetapi sisa-sisa rumah seperti tembok masih ada di dalam, jauh di tengah pulau. Mungkin takut tsunami kali :P. Sayang, saking lebatnya hutan, bagian tengahnya tidak bisa terlihat. Penuh semak dan pohon.

Kegiatan yang kami lakukan di sana hanya bengong…bengong… dan bengong. Yaaa, gak lupa sih foto-foto. Bang Alizar bahkan cosplay Barbie in the Jungle dengan membuat topi dan rok dari daun dan ia sendiri yang mengenakannya. Hahaha… baru kali ini gue lihat ada orang kayak gitu!

Nih temennya Tinker Bell! Siapa mau kenalan hayooo...hihihi
Nih temennya Tinker Bell! Siapa mau kenalan hayooo…hihihi

Sebenarnya ada beberapa pulau terkenal yang berada tidak jauh dari tempat kami. Pulau Pisang Ketek dan Pisang Gadang terlihat jelas beserta pantainya. Lokasi pulau itu ada di Pantai Air Manis, pas di balik Teluk Bayur. Gue bahkan sudah menawarkan untuk menambah ongkos agar bisa pindah ke sana, tapi sayang, gak bisa. Kata nahkoda2 kecil itu, pulau itu terlalu jauh. Dua kali lebih jauh dari Pulau Kasiak dan bensin mereka gak cukup untuk ke sana. Gak mungkin juga perahu kembali ke Teluk Bayur untuk isi bensin. Padahal gue udah lama pengen banget ke pulau Pisang Gadang. Pulau itu ada di balik Pulau Pisang Ketek yang bisa dilalui dengan berjalan kaki saat laut surut sampai sore. Sedangkan Pulau Pisang Gadang ada di depannya tetapi harus ditempuh dengan perahu. Dari yang gue baca, Pulau Pisang Gadang pantainya lebih bersih, terawat, dan ada kuburan Belanda serta peninggalan sejarah di sana. Turis-turis juga lebih suka ke sana dengan boat sewaan. Lain kali deh, gue ke sana.

Matahari semakin tumbang. Nahkoda2 kecil sudah tiga kali mengajak kami pulang. Pertama jam 3, lalu jam setengah 4 dan kami pun pulang sebelum jam 4. Sebelum ombak besar dan bahaya datang.

Meski begitu, bagian yang paling menyenangkan dari petualangan adalah ‘perjalanan’.

C360_2015-02-14-14-55-06-558

I feel so dummy…

tumblr_mvgm8sdtRj1rtaxnko1_500_zps488edbaaGue ngerasa seperti orang bodoh. Yeah, itu terjemahannya. Why? Sejak mengenal cinta, gue harus merelakan otak gue berhenti berpikir secara maksimal. Mengingkari keadaan dan kenyataan. Gue menjadi emosional dan seperti makhluk before Christ, mematung lama-lama menatap layar ponsel. Berharap, apapun itu yang datang adalah darinya.

I’ve fallen in love for 5 years. Selama itu pula gue berpacaran dengan beberapa laki-laki. And I also fall in love dengan cowok seberang yang notabene tidak akan pernah happy ending. Meski begitu, perasaan gue tetap kembali ke lima tahun yang lalu, silih berganti muncul ke permukaan dengan benci yang menggunung. Benci dengan dia yang sama sekali tidak bisa memberikan kata ‘jelas’ dan benci terhadap diri sendiri yang sama sekali tidak pernah bisa move on. Tetapi, setinggi apapun gunung kebencian itu, setebal apapun karat yang melindunginya, saat ia tersenyum, semuanya lenyap. Bagai debu diterbangkan angin.

Jadi, jelas sudah. Akan gue ceritakan kenapa di umur 25 tahun ini gue belum menikah ataupun punya calon.

  1. Cowok seberang itu tidak akan pernah menikah dengan gue
  2. Perasaan lima tahun itu masih belum berubah
  3. Gue gak kemana-mana. Jadi, gak ketemu siapapun yang akan menjadi karakter baru dalam hidup gue.

Apa ini yang dinamakan si ‘Alang-alang’?

Kalau di Minangkabau, si Alang-alang itu kata Mama gue, adalah saat kita benar-benar sudah sangat kesulitan mendapatkan jodoh. Akibat, kita sering menolak orang lain. Gak. Gue gak merasa sering menolak orang lain, kok. Tentu saja yang gue tolak itu adalah orang-orang yang bermasalah. Untuk calon, gue gak mimpi2 amat sih. Harus kaya dan tampan seperti dalam film Barbie Fairytopia atau terkenal karena sering muncul di DAHSYAT. Yang gue mau itu adalah ‘lelaki’, ‘menghargai gue’ dan ‘belajar menerima gue’.

Ini postingan galau sih sebenarnya…

Ok, behind the scene, sebenarnya gue habis down banget. Nangis berhari-hari sampe capek banget gara-gara disudutkan oleh seseorang. Namanya ‘Psyco Alien’ kalo di ponsel gue. Tingkahnya di mata gue emang kayak Alien.

Btw, tiga tahun yang lewat dia sering masuk postingan blog ini juga. Jadi, yang udah lama ngikutin blog gue pasti tahu lah. Itu orang yang sama. Katanya dia benci sama gue. Sangat marah dan hampir saja dia mejadi Angry Bird. Tapi beruntung, Tuhan masih mengizinkan dia menjadi manusia. J hanya sebagian kecil dari dirinya yang menjadi ‘Angry Bird’ itu. U know lah ya… hahaha.

Katanya dia benci banget sama gue karena beberapa hal ini,

  1. BROTHERHOOD

ANIME-1

Yeah, he is twins. Beberapa tahun lalu gue dinyatakan telah merusak hubungan persaudaraan dia, katanya. Katanya, gue telah membuat kakaknya dan dia jijik banget sama gue. Then, why the hell u went date with me?!! Ceritanya gini. Beberapa tahun yang lalu, saat gue masih mudaaaaa banget dan imut sekale, gue pacaran sama dia. Kemudian semua berubah saat negara api menyerang. Maksud gue, saat gue mengenalkan salah satu temen baik gue ke dia. Dan dia jalan sama temen gue dengan alasan ingin menunjukkan kalo temen gue itu adalah ‘pagar makan ubi jalar’. Trus juga banyak keberatan2 dia lainnya yang membuat hubungan semakin memburuk. Sampai akhirnya dia menghindar dan tiap ketemu selalu memulai percakapan dengan sinar laser yang selalu keluar dari matanya.

Karena gue gak kenal siapa-siapa, temen, ataupun keluarga, bahkan mantannya, gue berusaha mencari tahu ‘Ada Apa Dengan Cinta’. Kebetulan lah, di gue mendapatkan sebuah nama dari salah satu teman dan mencarinya di facebook. Satu tahun lebih gue kenal dengannya, baru saat itulah gue tahu kalau dia punya kembaran. Namanya juga kembar, pasti namanya gak jauh2 beda. Mukanya apalagi. Seperti duren dibelah lima. Gue ketik tuh nama di kolom search facebook and, I found him.

Gue mulai mencoba berkenalan dan berteman sealami mungkin. Yeah, gue memang berniat berteman dan tujuan terbesarnya kan mencari tahu ada apa dengan dia. It’s was success! Kakaknya bahkan sampai curhat masalah cintanya dengan gue. Begitu juga gue, tentu tanpa mengatakan kalau si biang masalah itu adalah adiknya. Gue menerima banyak saran dari Kakaknya yang ternyata baik banget.

Sampai, suatu hari kemudian, Kakaknya mengajak ketemuan (catat! Ini Kakaknya yang ngajak, bukan gue seperti yang sering dia tuduhkan ke gue). Kami ketemuan di Granmed, duduk di café lalu cerita tentang masing-masing tanpa menyebutkan satupun nama.

Beberapa hari setelah itu, Kakaknya tiba-tiba mengirimkan gue pesan pendek yang berisi, “Kenal chi sama d*?”

Gue jawab iya, tapi gak bilang dia itu lah si biang masalah. Gue hanya bilang kalo dia itu senior di SMA dan anak murid gue (kan dia emang pernah les privat sama gue meski itu hanya pura2). Sejak saat itu, dia menghilang.

Beberapa minggu kemudian, Psyco Alien menghubungi gue. Marah-marah. Katanya gue sudah lancang memasuki area terlarang (apaan sih?!).

Kali ini gue yang menghilang…

large

 Proses move on gue sangaaaaat panjang dan tidak sempurna sama sekali. Gue menghabiskan masa tiga bulan dengan nangis2 sambil dengerin lagu ‘sadis’ Afgan. Bener-bener sadis. Setiap mau keluar rumah maupun dalam angkot (sebelum gue beli sepeda), gue selalu memandang ke luar jendela, berharap bisa melihat dia berkeliaran menyerang cewek-cewek bumi. Setahun setelah itu gue bahkan masih membuat beberapa surat yang tidak akan pernah gue kirimkan.

Walau gue pacaran dengan orang setelah itu, atau jatuh cinta lagi dengan cowok seberang yang menerbangkan gue ke Malaysia, perasaan gue tak pernah pudar.

Seseorang, give me ‘rukhiyaaaah!’

Gue bahkan melakukan beberapa hal bodoh agar bisa melupakannya yang sekarang malah jadi penyesalan buat gue.

Sampai sekarang, ternyata gue masih belum bisa move on.

  1. FRIENDS

1319829-bigthumbnailKatanya sih ya, gue ember banget. Guys, menurut kalian, gue nulis ini di blog itu termasuk ember banget atau baskom doang?

Gue punya sahabat walau gak banyak. Jadi, tiap ada masalah berat dan layak diceritakan bahkan layak diangkat jadi layar lebar, akan gue ceritakan. Dan dia mengatakan itu adalah masalah. Coz? Coz gue telah menjelek-jelekkan dia di mata orang lain. Hey, kalo elo emang gak mau terlihat jelek, berhenti mematahkan dan menyakiti orang lain! Siapa yang menabur dia yang menuai. Gak ada asap kalo gak ada api! Saking pengen tahunya siapa2 aja yang tahu mengenai dia, FB gue dia hack. So looser. Gak nyangka juga, dia bisa melakukan hal yang sangat tidak gentleman seperti itu. Gak bermamfaat juga. Kalopun dia tahu, apalagi?! Dia gak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu kalau itu kotak Pandora, tapi mengapa masih membukanya?!

Oh ya, dia paling benci dengan sahabat tersayang gue, Tita (nama disamarkan-red). Dia dan Tita pernah berantem dia FB gara-gara Tita panas melihat gue diolok-olok dan bilang ‘gak usah sok deh! Aku tau gimana keluarga kamu di kampung sana.’

Guys, menurut elo semua itu kalimat penghinaan untuk keluarganya gak sih?!

Katanya IQ dia jauh lebih bagus dari gue yang selalu dia ejek IQ tiarap ini. Tapi masa dia gak ngerti maksud kalimat itu?! Siapapun temen2 gue juga bakalan ngerti kalo maksud Tita adalah ‘jangan merasa hebat karena kamu bukanlah siapa-siapa. Keluargamu juga bukan keluarga Cendana dan Bapakmu bukan juga Bill Gates atau Kakekmu itu Einstein. ‘ Jadi ya, intinya, jangan merendahkan orang lain. U know, gue benar-benar setuju dengan Tita.tumblr_mf1v2xbj5L1s0o2z3o1_500_large

Dan dia juga benci dengan temen cowok gue karena perdebatan mereka di wall gue. Topiknya adalah ‘mengenai sihir’. Si Psyco Alien ini baru di bumi, jadi dia gak tau kalo sejak dahulu kala di bumi sudah ada yang namanya ilmu selain ilmu pengetahuan. Dan temen gue ini mempertahankan pendapatnya dengan bilang sihir sangat terkenal di zaman Nabi Musa (itu ada dalam Al-quran), tapi itu adalah ajaran setan yang dipakai orang2 kafir. Gue membenarkan si F dan si Psyco Alien pun menganggap gue salah satu murid Limbad.

Jadi, kemarin dia mendakwa gue dengan sangat kejam

 Lebih dari suku Bar-bar. Sore itu gue sedang bermain di sungai bareng temen gue Yuri, nyari2 batu yang gue sebut dengan ‘Petualangan Mencari Harta Karun Lubuk Minturun”. Gue sedang di hulu sungai dan dia menelepon gue. Maka, setengah berlari hingga baju gue basah sampai pinggang, gue turun ke hilir dan sampai di dalam mobil, gue menelpon balik.

Katanya dia minta ditemenin ke pesta pernikahan temennya. Gila apa? Ngapain ke pesta jam lima begini? Yang ada, pengantin sudah masuk kamar. Tapi, gue iyakan jugalah.

Gue memaksa Yuri ngebut dan susah bangeeeet! Bypass macet dan gue sampai rumah jam 6. Gue mandi kilat lalu bersiap. Gue bahkan gak berdandan dengan benar.

Lalu dia pun datang. Sebelumnya, sambil menunggu dia datang, dia menyuruh gue membeli amplop di warung depan rumah.

Kami sampai di tempat pesta jam 18.20. mepet banget. Dia ambil makanan dan gue cuma makan pisang. Saat itu, dia bilang, ‘Nanti kalau ada yang nanya siapa nama Chi, bilang aja nama lain yah!”

DEG.

Wajah gue terasa pias. Tapi gue berusaha mengacuhkannya. Setelah bersalaman dengan orang lain, kami pergi. Di mobil, dia bilang,

“Kalo seandainya kita datang tadi siang, pasti ketemu dengan kakakku dan gimana jadinya kalau dia ketemu kamu?!”

Air mata gue serasa ingin tumpah. Untunglah dia gak melanjutkan perkataannya. Trus gue nanya,

“Kalo gitu kenapa gak ajak orang lain aja tadi siang?”

He said, “Iya. Tadi ada sih cewek yang udah aku ajak. Tapi gara-gara nungguin tukang lemari datang, gak jadi deh!”

Gue pun bungkam.

Karena adzan maghrib, dia berhenti untuk sholat di mesjid daerah Pondok. Gue menunggu di dalam mobil. Setelah itu, dia nanya mau kemana lagi abis ini.

Perasaan gue sudah terlanjur gak enak. Gue bahkan pusing harus berpikir apa. Gue minta pulang. Ini pertama kali dalam hidup gue minta pulang saat jalan sama dia. Sebelumnya gak pernah. Sumpah.

Tapi dia keberatan. Katanya terlalu cepat. Dia ingin memastikan gue makan malam baru pulang. Oh ya?! Dengan perasaan dan mood seperti itu gue bisa makan dengan tenang?! Ada juga nasi berasa kayak bubur, tau gak?!

Akhirnya dia mengajak gue duduk di Pantai

Satu jam lamanya dia cuma merokok dan gue diam. Gak enak banget lah.  Gue minta pulang juga dia gak mau. Yah, gue diam aja lagi.

Setelah satu jam setengah, barulah dia ngomong. Bilang kalo dia sengaja datang sore karena ingin menghindari terlihat oleh saudara kembarnya. Bilang kalo bukan gara-gara gue, dia gak perlu serepot ini datang terlambat ke pesta pernikahan temannya.

Akhirnya dia bilang kalau gue sudah merusak hidupnya. Dia kembali menyuruh gue memberi penjelasan atas hal yang gue lakukan dulu. Mendekati saudaranya.

Apa yang gue jawab? Tentu saja yang sebenarnya. Seperti yang gue jelaskan di poin satu. Tapi apakah dia tenang dengan penjelasan itu? Gak. Dia bahkan marah. Bilang kalau itu bukan alasan. Berkali-kali gue minta maaf. Tapi dia bahkan semakin marah. Katanya kata ‘maaf’ adalah hal yang paling tidak berguna. Tidak memperbaiki sesuatu yang sudah rusak dan hancur.

Trus apa lagi?

Dia kira gue Shakespeare atau ahli psikolog apa? Dia ingin jawaban apa?

Satu jam ke depan dia ceramah panjang lebar, memvonis gue karena telah melanggar pasal berat

Dia marah saat gue mulai terisak. Katanya, ‘jangan bikin malu! Banyak orang!’. Bener-bener brengsek deh! Jadi air mata gue hanya bisa menetes-netes keluar kayak hujan. Gak berhenti sampai dia selesai ngomong dan berdiri pulang.

Oh Tuhan, kalo gue memperturutkan hati kecil gue. Udah gue jinjing high heels trus jalan kaki nyeker pulang sambil nyari taksi.

Tapi semua keberanian dan adegan hebat itu cuma ada dalam kepala gue. Mengkhayal doang kalo gue teriak protes, kalo perlu menubruknya sekuat tenaga trus lari deh! Dan matahin SIMcard. Tapi sekali lagi, gue hanya bisa berkhayal. Berkali-kali.

Teksti2-2

Sampai di mobil air mata gue masih netes-netes. Gitu terus. Perut gue bahkan sakit gara-gara masuk angin. Pengen muntah. Bagus banget lah kalo gue muntahin mobilnya! Sekalian ke kakinya! Tapi gak jadi. Semua lagi-lagi Cuma ada dalam kepala gue.

Trus dia mengusap kepala gue. Bilang kalo gue gak usah terlalu memikirkan hal ini, nanti biar dia yang mencari jalan keluar dan menuliskannya di kertas buat gue (dia pikir lagi UAN apa?!). Dia bilang dia sayang sama gue. Dia bilang gue salah satu teman yang tidak bisa dia biarkan. Well, beberapa minggu lalu dia manggil-manggil gue dengan sebutan ‘sahabat!’. Oh ya?! Apa bukan karena lebih sayang diri sendiri tuh? Tega banget lah nyakitin gue. Dia tau gue cengeng, gampang stress. Kalo gitu, kenapa dia gak nyoba bujuk saudaranya itu?!

Gue bahkan ragu kalo Kakaknya sebenci itu sama gue?! Bener tuh?! Kalo iya, harusnya pas ketahuan dulu, Kakaknya marah langsung ke gue! FB gue aja bahkan gak diblokir!

Sampai di rumah gue langsung menghambur masuk kamar. Terlentang memandang langit-langit kamar yang tinggi. Gak sampai lima menit, gue ketiduran.

Gue terbangun jam 1.30 dini hari. Baru sadar kalo gue tidur tanpa cuci muka, sikat gigi, apalagi ganti baju. Gue sholat isya dan mengaktifkan mode blokir biar gak ada satu orangpun yang mengganggu tidur gue. Kan ada yang suka misscall gak jelas tengah malam.

Pagi hari masalah baru timbul

Gue bangun pas musik senam SD sebelah bunyi. Berarti udah jam 7 pagi. Tapi gue capek banget. Jadi, gue terusin tidur. Pas bangun untuk yang ketiga kalinya, gue meraih ponsel. Ragu sih sebenrnya kalau Psyco Alien akan menghubungi gue. Gue buka kode layar,

GOD!

37 missed calls tak terjawab serta 8 pesan dari Psyco Alien. Waduh! Pelan-pelan gue buka satu per satu semua sms itu.

Sms pertama, “ANGKAT TELPON!”

Sms kedua, “@!”

Sms ketiga, “Aku ke kos sekarang ya! Ada perlu!”

Sms keempat, “Tunggu di teras.”

Sms kelima, “Turunlah Chi! Gak Chi hargai aku nih! Aku sudah seperti orang bodoh menunggu di depan! Aku bener-bener tersinggung Chi perlakukan seperti ini! Kurang ajar..”

Sms keenam,”Chi mau menyelesaikan masalah atau menambah masalah? Ya udah! Aku pulang… Seumur hidup aku gak pernah diperlakukan seperti ini! Tidak bisa kumaafkan!”

Dua Sms dari Bang S, “Chi abang udah di GOR nih! Jadi joging gak?!”

Ya ampun! Gue lupa kalo pagi ini menjanjikan Abang S joging bareng! Mana katanya dia udah di sana dari jam 6 tadi malah!

Shit.

Gimana nih? Perasaan senang (karena pertama kalinya membuat dia bener-bener marah), menyesal (karena judulnya masih cinta), dan takut (gimana kalo dia mengamuk lalu menghancurkan kota?!) merayap cepat. Akhirnya aku menelepon.

Persis seperti dugaan. Kata2 pertama dia diawali dengan “Kurang ajar…” lalu serentetan omelan. Gue minta maaf, bilang baru bangun tidur. Trus dia suruh gue cuci muka, sebentar lagi dijemput buat sarapan. Sampai di mobil dia masih marah-marah. Bilang kalo sikap gue tadi sangat kekanakan dan menyuruh gue berjanji agar tidak mengulanginya lagi.

Gue gak bohong! Gue sama sekali gak tau ponsel gue bunyi! Bergetar aja bahkan gak!

Tapi lagi-lagi dia menuduh gue berbohong dan semakin marah.

Yah, demi kedamaian umat, gue akhirnya berbohong, bilang kalo gue sengaja. Padahal gue baru bangun, gak tau apa-apa. Mata masih bengkak, juga…

Terserah kamu sajalah… Yang penting kamu bahagiaaaa! Wououououooooo….!

Ah, leganya akhirnya tulisan ini selesai. Tulisan galau. Hahahha… Tapi gak apa-apa. Gue senang sekaligus lega.

Gue sebenarnya udah gak mau dekat-dekat dia lagi. Rugi. Selalu membuat gue menangis. Kenapa dia harus datang lagi dalam hidup gue sekarang? Sok-sok peduli dengan gue?! Tapi sakitnya seratus kali lipat. Apa dia mengaggap ini semua adalah balas dendam karena sudah merusak ‘brotherhood’? Atau inilah tujuan dia sebenarnya datang ke bumi? Menganiaya perasaan orang lain?