WRONG ISLAND
Akhir-akhir ini gue lagi suka berpetualang nih!
Iyeh! Masa kecil kurang bahagia plus sekarang gue lagi galau. Jadi agak-agak riskan kalo di kamar kos sendirian. Bisa-bisa gue main jaelangkung. Hihihi…
Ini dadakan aja sih sebenarnya. Gak ada planning atau apa. Gue malah kepikiran Sabtu pagi itu. Pas bangun dan menyadari kalau sampe Senin gue libur (Senin cuti). Teringat pas Jumat kemarin salah satu security yang suka membual ke gue bilang kalo mereka kemarin abis dari Pulau Kasiak (Pulau Pasir) buat mancing. Pulaunya terletak di depan Teluk Bayur. Dekat dengan pantai dan bersih. Airnya juga jernih. Duh! Gue pengen banget lah!
Pagi itu gue langsung telepon Elizabeth adek gue dan beberapa temen lain yang kemungkinan bisa ikut. Tapi jadinya hanya 3 orang yang pergi. Bang Alizar dari rumah kayu satu lagi. Btw, dia temen gue satu hobi. Menulis. Karena dadakan dan Bang Alizar sedang kerja, jadi jadwal keberangkatan pun ditunda sampai pukul 11 siang. Kami kumpul di kos gue.
Berhubung motor hanya ada satu, jadi gue manggil salah satu ojek dekat kos-an. Oh ya, peraturan pertama kalo mau naik ojek dan tempatnya jauh yah, nawar harga dulu. Gue deal di harga 20ribu dengan jarak kira2 15 menit perjalanan. Gue sama Bang Alizar dan Elizabeth pake ojek.
Satu hal yang terlupakan, gue sama sekali gak tahu dimana naik ke Pulau Kasiak itu. Gue kan cuma denger sambil lalu doang. Akhirnya kami jadi nanya-nanya ke penduduk sekitar yang sebagian besar malah gak tau, muter-muter pasar ikan dan kembali lagi ke tempat awal. Mujur, si tukang ojek sama sekali gak charge lebih. Padahal muter-muter udah ada 15 menit!
Setelah dapat lokasi naik boat ke pulau, masalah baru muncul
Si Ibu yang ada di warung tempat yang kami rasa mungkin untuk start bilang,
“Adek udah bikin janji sama pemilik boat belum? Biasanya orang yang mau ke pulau bikin janji dulu..”
Alamak!
I don’t know about thissssss….this….thiiiiiisss!
Bener-bener deh! Tapi berhubung sudah terlanjur kering ke sini. Gue pun mencoba membujuk Ibu itu agar mau mencarikan kami boat atau perahu sampan pun boleh! Yang penting sampai ke Pulau Kasiak. Sayang sekali, suami si Ibu baru beberapa jam lalu pulang melaut dan sedang mimpi enak sekarang. Gak bisa diganggu. Tetangga juga gak ada. Rata-rata tengah hari gini katanya para nelayan sedang istirahat di rumah masing-masing.
Beruntung, ada beberapa anak-anak SD yang lagi lewat. Gue iming-imingi aja pake duit supaya mereka mau nyariin boat ke pulau. Setengah jam menunggu, akhirnya ada juga perahu nelayan yang mau mengantar. Tarifnya 100.00 buat 3 orang PP. Yeah…. Lazimlah!
Sementara menunggu perahu siap dan beli bensin, Bang Alizar pergi ke warung nasi buat beli makan siang. Nanti kan mau main air dan berenang. Walau gue udah beli banyak cemilan tapi pasti bakalan tetap lapar.
Tepat beberapa menit setelah adzan Dzuhur, perahu berangkat
Mari bernyanyi dengan riang, ‘Nenek moyangku orang pelaut! Tak kenal galau..tiada takut,’ lho..lho? Bukan. Hehehe…
Yang mengemudikan perahu bukan Bapak tadi, tapi dua anak SMP tanggung. Aduh, gue kok berasa was-was. Gimana kalo perahu ini terbalik? Apa mereka bisa jadi rescue time? Iseng-iseng gue nanya cowok berambut cepak berbadan mungil yang jadi kapten.
Gue : “Dek… Nanti kalo ada apa-apa, Abang itu gak bisa berenang, lho! Aman kan?”
Si Adek : “Aman kok, Kak! Nanti kita bantu!”
Gue : “Kelas berapa kamu, Dek?”
Si Adek : “Kelas 2 SMP, Kak!”
Gue : (Manggut-manggut) “Ooooh…. Namamu siapa?”
Si Adek : (Acuh tanpa merasa perlu melihat ke belakang? “Dona Kak!”
Gue : “Ronald?” (Keren nih namanya! Pasti Ayahnya suka sepak bola)
Si Adek : (menggeleng) “Bukan, Kak! Dona!”
Gue : (bingung. Apa gue salah denger? Mungkin saking kencangnya angin dan suara perahu yang berisik, jadi terdengar huruf ‘D’) “Donat?”
Apaan tuh Donat?!
Si Adek : (mengangguk) “Iya! Dona, Kak!”
Hening.
Gue kembali duduk di buritan. Jangan-jangan dia shemale? Atau lady boy! Ah! Sama ajalah! Tapi gue perhatikan dengan sembunyi-sembunyi, si Dona yang diragukan jenis kelaminnya ini, punya bekas tindik di telinga dan lengannya tergolong kecil. Tapi badannya berisi. Atau mungkin dia emang beneran cewek? Siapa tahu dia mirip sepupu gue Ana yang waktu kecil sampe SMP rambutnya dipotong pendeeeek banget mirip cowok. Tomboi banget lah!
Setelah menempuh lebih dari 15 menit perjalanan kami sampai di pulau
Gile. Jauh juga ternyata! Padahal kalau dilihat dari darat kayak macam bisa berenang saja ke sana. Tapi yang membuat gue tercengang adalah, pulaunya sama sekali gak mirip seperti yang diceritakan. Terumbu karang yang elok, ikan bewarna warni dan pasir putih bersih.
PULAUNYA KOTOR!
Itu pulau Kasiak atau TPS sih?! Kenapa ada sampah dimana-mana??? Gue shock! Airnya memang lumayan jernih di pinggir, tapi agak ke tengah tumpahan minyak bercecer. Gue rasa itu dari kapal-kapal tanker yang lewat dan bersandar di pelabuhan. Ini kan teluk! Saran gue, kalau mau berenang disarankan tidak memilih pantai di sekitar pelabuhan.

Sisi depan pulau penuh dengan sampah-sampah yang entah sengaja dibuang di sana ataupun terdampar. Ada banyak kantung sampah besar teronggok dan bahkan ada yang isinya berceceran. Ada lagi ember pecah tempat warna item trus botol-botol minuman plastik. Sampah-sampah plastik paling mendominasi. Bahkan ada bantal guling terdampar. Jangan-jangan ini pulau kapuk?
Gue melenguh kecewa. Tapi mau bagaimana lagi. Toh, sudah kepalang tanggung. Akhirnya kami mencoba memutari pulau yang luasnya gak sampai satu lapangan bola. Sampai bagian belakang pulau lumayanlah… Cukup bersih. Hampir tidak ada sampah kecuali sendal sebelah-sebelah. Gue dan Elizabteh langsung melahap nasi bungkus. Gue mencari pohoh yang agak rendah dan makan dengan duduk di dahannya. Bang Alizar pergi sholat Dzuhur.
Keseluruhan pulau didominasi oleh hutan lebat dan semak. Bagian selatan pulau ada banyak rumpun pandan berduri (gak tau lah apa namanya) dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Namun, sejauh ini gue belum menemukan binatang yang lebih besar dari burung. Siapa tahu aja kan di dalam ada babi hutan. Hehe.. Kata anak-anak itu dulu pulau ini bersih. Dipelihara oleh penjaga yang mendirikan rumah di sana. Entah kenapa, sekarang penjaganya udah pergi. Tetapi sisa-sisa rumah seperti tembok masih ada di dalam, jauh di tengah pulau. Mungkin takut tsunami kali :P. Sayang, saking lebatnya hutan, bagian tengahnya tidak bisa terlihat. Penuh semak dan pohon.
Kegiatan yang kami lakukan di sana hanya bengong…bengong… dan bengong. Yaaa, gak lupa sih foto-foto. Bang Alizar bahkan cosplay Barbie in the Jungle dengan membuat topi dan rok dari daun dan ia sendiri yang mengenakannya. Hahaha… baru kali ini gue lihat ada orang kayak gitu!

Sebenarnya ada beberapa pulau terkenal yang berada tidak jauh dari tempat kami. Pulau Pisang Ketek dan Pisang Gadang terlihat jelas beserta pantainya. Lokasi pulau itu ada di Pantai Air Manis, pas di balik Teluk Bayur. Gue bahkan sudah menawarkan untuk menambah ongkos agar bisa pindah ke sana, tapi sayang, gak bisa. Kata nahkoda2 kecil itu, pulau itu terlalu jauh. Dua kali lebih jauh dari Pulau Kasiak dan bensin mereka gak cukup untuk ke sana. Gak mungkin juga perahu kembali ke Teluk Bayur untuk isi bensin. Padahal gue udah lama pengen banget ke pulau Pisang Gadang. Pulau itu ada di balik Pulau Pisang Ketek yang bisa dilalui dengan berjalan kaki saat laut surut sampai sore. Sedangkan Pulau Pisang Gadang ada di depannya tetapi harus ditempuh dengan perahu. Dari yang gue baca, Pulau Pisang Gadang pantainya lebih bersih, terawat, dan ada kuburan Belanda serta peninggalan sejarah di sana. Turis-turis juga lebih suka ke sana dengan boat sewaan. Lain kali deh, gue ke sana.
Matahari semakin tumbang. Nahkoda2 kecil sudah tiga kali mengajak kami pulang. Pertama jam 3, lalu jam setengah 4 dan kami pun pulang sebelum jam 4. Sebelum ombak besar dan bahaya datang.
Meski begitu, bagian yang paling menyenangkan dari petualangan adalah ‘perjalanan’.

































