Catatan Ramadan Exclusive Hari ke 10 oleh Nouman Ali Khan

Masih melanjutkan ayat sebelumnya…

Revolusi terjadi dalam sejarah, terjadi di mana mana. Namun perhatikan, dengan adanya revolusi, berapa banyak orang menjadi korban. Selanjutnya, setelah terjadi revolusi tersebut, apakah orang orang tetap makan makanan yang sama, suka terhadap hal yang sama. Ekonomi dan sosial memang bisa jadi berganti, namun budaya masih tetap sama. Banyak hal yang tetap sama. Namanya memang revolusi tapi sebenarnya prosesnya terjadi tidak secepat itu. Revolusi selalu didasari pemikiran tertentu yang muncul sudah cukup lama dan mempenetrasi masyarakat melalui novel, kisah, dan literatur literatur abstrak. Pemikir awalnya, mereka bukan aktivis dalam pergerakannya. Namun ada saatnya seseorang mengadopsi pemikiran mereka lalu menjadi tokoh yang mendobrak. Namun pada masa munculnya Islam melalui dakwah Rasulullah, semua aspek kehidupan berubah. Yang mungkin akan  ditanya adalah: apa yang tidak berubah, karena hampir semua aspek berubah. Coba buat dokumen apapun yang bisa mengubah begitu banyak kehidupan manusia dalam jangka waktu hanya 23 tahun. Perubahan yang terjadi bersifat privat (kebiasaan kebiasaan pribadi) dan publik (perekonomian, pemerintahan, dll). Oke silakan kalau ada yang mengaku bisa membuat surah serupa Quran. Tapi apa dampaknya kepada kemanusiaan? Bisa kah serupa Quran? Jika komputer dan media digital lenyap dari muka bumi ini dan seluruh dokumen hard copy penting lenyap dari muka bumi ini, dokumen mana kah yang bisa diadakan kembali dalam waktu 1 malam? Quran jawabannya. Bisakah peniru surah Quran melakukan hal yang serupa?

Manusia begitu terikat kepada sejarah dan budayanya. Begitu sulit untuk mengubahnya, dan memerlukan waktu yang lama, apalagi kondisi di masa lalu tidak ada media komunikasi secanggih saat ini. Kalaupun ada perubahan, biasanya itu karena pengaruh budaya luar. Masyarakat arab, terikat pada budayanya sejak ribuan tahun. Budayanya bisa jadi sedikit berubah antar generasi. Hanya ada satu hal yang tidak berubah dari bangsa Arab, yaitu bahasa dan kebanggaannya terhadap bahasa tersebut. Salah satu wujud kebanggaan bahasa adalah syair. Lalu Islam turun selama 23 tahun dan mengubah seluruh aspek kehidupan manusia, dari segi ekonomi, politik, sosial, dan cara hidup. Perubahan tersebut terjadi hanya dalam jangka waktu 23 tahun. Seiring dengan makin banyaknya orang orang luar masuk Islam, maka penetrasi budaya luar semakin banyak terjadi, bahasa Arab juga terdegradasi. Tidak ada lagi yang membuat syair. Maka, scholars, tabiin, mereka mendatangi desa desa terpencil yang belum mendapatkan pengaruh luar, untuk mempelajari dan mendokumentasikan bahasa Arab klasik dalam syair syair.

Tantangan untuk membuat yang serupa tetap ada hingga sekarang. Karena tidak akan bisa disamai, yang orang lakukan adalah melakukan kritisi di sana sini, mencari kontradiksi dalam Quran.

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka,tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah 34, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (QS. 2:26)

Innallaha laa yastahyii an yadhriba matsalaa maa ba’uudhatan famaa fauqahaa faammaalladziina aamanuu faya’lamuuna annahul haqqu min rabbihim waammaalladziina kafaruu fayaquuluuna maadzaa araadallahhu bihadzaa matsalaa yudhillu bihi katsiiran wayahdii bihii katsiiran wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin

Maa setelah matsala adalah ekspresi untuk memberikan penekanan pada matsala, artinya perumpamaan apapun. Allah tidak ragu memberikan perumpamaan. Allah mengajarkan Quran. Guru akan mengajar muridnya dalam level yang akan dimengerti oleh muridnya. Maka Quran bukanlah buku filosofi yang sulit dimengerti. Allah menjadikan Quran mudah dimengerti, salah satunya dengan menggunakan perumpamaan perumpamaan.

DI terjemahan disebutkan perumpaan ‘semut’, baudhatan. Namun menurut NAK ada kesalahan terjemahan di situ. Semut adalah baqq. Baudhatan adalah sebagian kecil dari semut, atau makhluk terkecil yang bisa terlihat mata. Terjemahan ‘yang lebih rendah dari itu’, maksudnya adalah apapun yang kita mungkin tidak membayangkan itu akan dijadikan perumpamaan.

faammaalladziina aamanuu faya’lamuuna annahul haqqu min rabbihim

Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka

Bentuk kata aamana, di sini bisa berarti juga sebagai orang orang yang beriman dan orang orang yang ingin beriman. Kata benar adalah terjemahan terbatas dari haqq. Dalam ayat ini kita harus memahami makna luas dari haqq. Selain berarti kebenaran, al haqq juga berarti tujuan (purpose). Haqq bisa juga berarti rightful (benar), appropriateness (layak).

Yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb, adalah sikap dalam menjadi pembelajar Quran. Terkadang kita belum mengerti makna sebuah ayat karena Allah memang belum membukakan cakrawala pemikiran terhadap ayat tersebut. Sering kan ketika kita membaca ayat, kita berhenti karena kurang mengerti. Kita bertanya tanya apa artinya. Ketika itu terjadi, maka sikap yang benar adalah memohon kepada Allah untuk membuka hati kita sehingga kita bisa melihat hikmah dan kebijaksanaan dari sebuat ayat. Tetap rendah hati saat membaca Quran. Tidak hanya belajar seperti murid pada umumnya, namun belajar sebagai hamba/budak, untuk menyenangkan tuannya.

waammaalladziina kafaruu fayaquuluuna maadzaa araadallahhu bihadzaa matsalaa 

tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”

Makna kafir di sini adalah kafir terhadap nikmat Allah, tidak mensyukuri betapa Allah ‘went out of his way’ untuk memberikan contoh.

Pada Surat An Nuur 35,  “dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia

maadzaa araadallahhu bihadzaa matsalaa

terjemahannya Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?

Namun maknanya lebih dalam dari itu. Kalau sekedar perumpamaan seharusnya matsal bukan matsalaa.  Kata matsalaa membuat kalimat ini memiliki emosi merendahkan, sinis.

yudhillu bihi katsiiran wayahdii bihii katsiiran wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin

Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Perumpamaan dalam Quran juga bisa menyesatkan orang, jika manusia datang pada Quran dengan sikap dan niatan (attitude) yang salah. Siapakah orang yang menjadi orang orang yang tidak diberi petunjuk dengan Quran?

wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin

Terjemahan sederhananya:  Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Namun maknanya adalah: Tidak ada satupun manusia yang akan disesatkan, kecuali orang yang fasik.

Fasik yaitu orang orang yang berbuat kerusakan sangat parah di hatinya sehingga keburukannya menyebar. Menurut bahasa yang digunakan fuqaha, fasik memiliki arti orang yang berbuat dosa: orang yang kasar terhadap orangtuanya, orang yang bolong bolong shalatnya, dst. Fasik sendiri memiliki level. Namun kata fasik di sini merujuk pada level fasik tertinggi.

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 2:27)

alladziina yanqudhuuna ‘ahda allaahi min ba’di miitsaaqihi

melanggar = violate = melepas ikatan yang kuat. Manusia terikat kuat dan terhubung pada Allah, melalui Quran.

wayaqtha’uuna maa amara allaahu bihi an yuushala wayufsiduuna fii al-ardhi ulaa-ika humu alkhaasiruuna

Setelah melepaskan ikatannya, lalu memutusnya. Allah menciptakan manusia dengan 2 jenis hubungan, yaitu hubungan dengan Allah, dan hubungan dengan sesama manusia. Dengan memutus hubungan dengan Allah, sebagai hasinya, manusia akan mulai memutus juga hubungan dengan sesama manusia, dari keluarga, dari teman. Ini adalah manusia yang tidak memberikan hak hak orang lain: orangtuanya, anak anaknya, tetangga dll. Dalam hidup, kita tidak bisa memilih orang orang yang terhubung dengan kita: saudara, orangtua (kecuali pasangan). Kita tidak bisa memutus hubungan dengan ibu atau saudara. Tapi hubungan tersebut bisa rusak. Kita ada di kondisi di mana kita tidak bisa melepas anak anak kita di luar rumah sendiri, atau kondisi di mana kita ingin segera keluar dari rumah orang tua, atau orang tua yang tinggal jauh dan ketika menelepon itu menjadi hal yang sangat mengganggu. Hubungan hubungan ini sudah menjadi rusak sehingga jaman sekarang orang tidak menganggap penting institusi keluarga. Orang orang ini merasa bebas dengan melepaskan diri dari ikatan ikatan dengan Allah, dan keluarga. Mereka merasa dunia telah terbuka bagi mereka.

ulaa-ika humu alkhaasiruuna

Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan? (QS. 2:28)

kayfa takfuruuna biallaahi wakuntum amwaatan fa-ahyaakum tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum tsumma ilayhi turja’uuna

Tidak ada sesuatu yang mati kecuali sebelumnya hidup. Jadi yang terjadi adalah hidup – mati- hidup – mati – hidup.

Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?”(Al Mu’min: 11)

Hidup yang pertama adalah penciptaan seluruh manusia di semua zaman dalam waaktu dalam bentuk ruh yang terbuat dari cahaya. Semua manusia ada di sisi Allah dan manusia berbicara langsung pada Allah. Percakapan yang diberitahu kepada kita hanya sedikit, yaitu mengenai kesaksian seluruh manusia bahwa Allah adalah Rabb. Ada sebuah hadis: ‘Allah menciptakan Adam dalam bentukNya’ Allah juga memberikan sifat sifatnya pada ruh manusia. Sifat pengasihnya, sifat penyayangnya. Setelah itu ruh ditiupkan ke rahim, lalu lahir sebagai manusia dan tumbuh besar. Seiring dengan pertumbuhannya, manusia juga dikendalikan (preoccupied) oleh jasadnya, namun demikian jauh di dalam dirinya tetap ada ruh yang bersama Allah. Maka manusia memiliki dorongan pada keindahan, kesempurnaan. Manusia memiliki fitrah untuk berpikir menuju kesempurnaan, ber kesenian. Kecenderungan untuk mencari kesempurnaan sebenarnya berakar dari jiwa yang bersama Yang Sempurna. Maka manusia berusaha mengisi kekosongan dirinya dengan (in a material sense) dengan menginginkan kepemilikan yang lebih baik, rumah yang lebih bagus, baju yang lebih bagus tapi tidak pernah puas. Karena tidak ada satupun di dunia ini yang sanggup mengisi ruang kesempurnaan Allah dalam diri kita. Maka ketika orang yang beriman bisa mengembalikan diri pada asalnya, kembali bersama Allah, akhirnya kekosongan itu terpenuhi. Maka kondisi tercukupi ini disebut muthmainn. Tenang.

Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah irji’ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah

“Hai jiwa yang tenang Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai

Mengapa disebut kembali, karena manusia pernah berada di sisi Allah.

Catatan dari Ramadan Exclusive Al Baqarah Hari ke 7 oleh Nouman Ali Khan

 Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat. (QS. 2:17)

Allah berfirman ‘Allamal Quran’, Allah mengajarkan Quran. Saat guru mengajar, guru mempertimbangkan untuk menyempaikan dengan cara yang akan diterima murid, mengulang ulang topik untuk memastikan muridnya mengerti, juga menguji. Hal termudah untuk menjelaskan sesuatu untuk lebih sederhana adalah memberi contoh, apalagi untuk hal hal yang terlalu dalam, terlalu filosofis, terlalu abstrak.

Ayat 2:17 ini adalah salah satu ayat yang memvisualkan suatu kondisi.

 Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api

Jika diterjemahkan secara sederhana ke bahasa Arab; Matsaluhum alladziistauqaada naaran.

Namun Quran menyebut

Matsaluhum kamatsalil ladziistauqada naaran….

Kata “matsa” diulangi 2x dan ditambah “ka”. Kata masta sendiri tidak selalu digunakan pada semua perumpamaan, namun digunakan untuk kondisi yang aneh, bukan hal yang normal.

Ayat ini menggambarkan satu orang yang berada di tengah situasi yang gelap, mencekam, tidak tahu akan adanya bahaya, lalu dia berusaha sekuat tenaga untuk membuat api. Saat apinya menyala, nyala sinarnya sangat menerangi sekitarnya. Namun selanjutnya disebutkan Allah mematikan sinar mereka, SELAMANYA.  Di awal ayat disebutkan satu orang, namun di akhir disebut mereka. Siapa mereka? Ternyata setelah cahayanya menyala, ada banyak orang yang menikmati sinar tersebut.

Maka ketika cahaya sudah hilang dan mereka makin jauh masuk dalam situasi yang gelap, maka biasanya pendengarannya akan menjadi lebih sensitif. Orang yang sudah tidak mampu melihat karena ketiadaan cahaya, maka mereka akan berusaha menyadari apa yang terjadi di sekitarnya, dengan pendengarannya.

Mereka tuli, bisu, dan buta 27, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), (QS. 2:18)

Namun yang terjadi adalah mereka tidak bisa mendengar, mereka tidak bisa didengar, dan tidak bisa melihat lagi. Mereka tidak akan mendapatkan kembali cahaya mereka.

 5672  Jabir b. Abdullah reported Allah’s Messenger (may peace be upon him) as saying. My example and your example is that of a person who lit the fire and insects and moths began to fall in it and he would be making efforts to take them out, and I am going to hold you back from fire, but you are slipping from my hand.

 

Sekarang mari mundur sejenak ke cerita Bani Israil. Bani Israil adalah kaum yang di setiap generasinya ada Nabi, hingga Nabi terakhir mereka adalah Nabi Isa, AS (walaupun kaumnya menolaknya). Lalu setelah Nabi Isa diangkat, generasi demi generasi tidak ada Nabi yang datang. Maka kaum Yahudi pun saat itu benar benar menanti kedatangan Nabi. Maka pada suatu ketika, Kaum Yahudi pindah ke Madinah, karena menurut wahyu yang mereka dapatkan, nabi terakhir akan muncul di Madinah. Mereka membuat surat yang menyatakan sedang menanti kedatangan Rasulullah, dan surat ini diturunkan generasi demi generasi.

Dikaitkan dengan ayat ini, kondisi di mana tidak ada wahyu, adalah kegelapan. Dan adanya wahyu, adalah cahaya. Allah berfirman, “Believe in Allah and His Messenger and the light which He sent down.” [Al-Qur’an 64:8] . Tanpa cahaya, kita tidak bisa mengetahui arah. Hanya dengan cahaya, kita bisa mengetahui petunjuk.

Berbeda dengan Bani Israil, Allah membuat keturunan Ismail begitu lama tanpa adanya wahyu. Wahyu terakhir sebelum Nabi Muhammad SAW adalah melalui Nabi Ismail. Sementara belahan dunia lain sudah maju peradabannya, membuat infrastruktur, jalan, istana, dll, sedangkan di Arab hanya ada gurun dan orang orang Badui. Bayangkan dalam kegelapan sedemikian rupa dan begitu lama, Allah menurunkan seorang Nabi. Wahyu yang turun kepada Muhammad SAW, kelak akan mengubah sejarah di seluruh dunia. Lihat bagaimana pengaruh Islam, secara langsung maupun tidak langsung, hingga kini.

Di saat itu Eropa sudah maju peradabannya dan filsafatnya, Allah menurunkan wahyu di bagian paling ‘gelap’ di muka bumi ini. Namun walaupun demikian, ada satu hal yang masyarakat Arab begitu banggakan, yaitu BAHASAnya. Masyarakat Arab sangat menjaga bahasanya, bangga dengan puisi puisinya, bahkan mereka bisa berperang antar golongan karena mengalahkan syair suku lain. Seorang penyair berkedudukan tinggi dan merupakan orang yang kaya. Ka’bah , selain pusat penyembahan berhala, juga pusat kompetisi syair. Pemenangnya memiliki kesempatan untuk dipajang syairnya di Ka’bah.

Muhammad, SAW, sebelum menjadi nabi, sudah terganggu dengan apa yang ada di sekitarnya: penyembahan berhala, penindasan kaum yang lemah, tidak ada yang peduli dengan kaum miskin. Sebelum kenabian, Muhammad SAW sudah memiliki jiwa humanitarian. Ia begitu frustasi terhadap keadaan yang tidak juga membaik, sehingga pada akhirnya beliau berkontemplasi di gua yang berada di Jabal  Nur. Gunung tersebut sudah disebut Jabal Nur karena saat bulan muncul di langit, cahayanya menerangi gunung itu. Memang tidak ada sumber yang menyebutkan beliau menyalakan api di atas gunung. Namun logikanya tentu demikian.

Ada 2 golongan yang perlu dijelaskan di sini. Pertama adalah Kaun Yahudi di Madinah, yang sedang menanti kedatangan nabi selama 6 abad. Kedua adalah kaum yang begitu bangga akan bahasanya, yaitu orang orang Mekkah. Bagi orang orang Mekkah, mereka adalah orang yang akan tahu pertama kalinya, bahwa apa yang dibawa Muhammad, tidak mungkin berasal dari manusia. Namun nyatanya mereka tidak menerima, demi harga dirinya. Ada narasi yang menyebutkan, top leaders Quraisy seperti Abu Jahal dan Abu Sufyan, beberapa kali mengendap endap ke rumah Rasulullah untuk mendengarkan lantunan Quran. Mereka sendiri ‘kecanduan’ mendengarkan Quran, dan mereka saling menangkap basah satu sama lain sedang bersembunyi. Dan hal ini terulang beberapa kali.

Cerita lain berasal dari Walid bin Mughirah. Dia adalah penyair top di Mekkah. Dia merasa akan bisa mengatasi Quran. Dia merasa mampu mengkritisi Quran. Namun saat ia kembali setelah mendengarkan Quran, begini kesaksiannya:

“Demi Allah, tidak ada satupun orang di antara kalian yang memahami syair lebih daripada aku. Tidak ada yang tahu mengenai tempo, panjang pendek syair, dan sebagainya. Aku bersumpah bahwa ini tidak menyerupai syair apapun yang pernah kudengar. Demi Allah, yang aku dengar, there s a splender dominates, and the high points of it a ll full of fruits, and the low points of it all full of treasure, dan kalimat kalimat ini tidak bisa dikalahkan, justru akan mengalahkan apapun yang di bawahnya”

Dia tahu, bahwa secara rasional tidak mungkin kata kata ini dibuat buat. Maka, karena tujuan Walid mendengar Quran adalah untuk mengalahkannya, maka dia mengada ada saja bahwa semua ini adalah sihir, sihir yang akan membuat semua orang terpesona. Dengan mengatakan ini sihir, maka dia tidak perlu menjelaskan apapun.

Mengapa mereka menolak untuk menyampaikan apa adanya?

Mereka tuli, bisu, dan buta 27, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), (QS. 2:18)

 

Summun. Mereka tuli

Bukmun. Mereka bisu. Mereka tidak bisa menyampaikan apa yang ada di hati mereka.

‘umnyun. Buta. Jika kita ingin mempelajari Quran, maka kita akan terus bertanya. Dan itulah yang selalu dilakukan sahabat. Bertanya. Pertama yang harus dilakukan adalah mendengar, lalu bicara (bertanya) dalam proses belajar. Jika kita berkeinginan untuk menjalani proses belajar tersebut maka itu akan mengubah cara kita melihat sesuatu.

Fahum laa yarji’uun. Dan mereka tidak akan kembali

Mereka tidak akan kembali kepada fitrah yang telah Allah berikan.

Ruh yang Allah berikah kepada manusia sejak bayi, ruh itu juga disebut nur (cahaya) dalam sebuah hadis. Selanjutnya, Quran sendiri, disebut nur. Seharusnya, nur yang Allah berikan sebagai ruh dalam diri manusia, cukup untuk melihat nur dari luar (wahyu Allah). Namun mereka menolak dan menutupi cahaya dari luar itu. Karena manusia menolak, maka Allah mengambil cahaya itu.

Jika kita tidak melatih apa yang Allah telah karuniakan, maka karunia itu akan Allah ambil, dalam hal fisik maupun spiritual. Allah memberikan kemampuan untuk melihat kebenaran. Namun jika tahun demi tahun kita tidak menerimanya, maka Allah akan cabut kemampuan untuk menerima kebenaran.

Inilah yang terjadi pada kaum Yahudi. Mereka telah menanti turunnya wahyu, menanti cahaya itu. Namun ketika cahaya itu datang, mereka menolaknya karena harga diri mereka. Mereka tidak mau menerimanya karena berasal dari golongan yang mereka anggap lebih rendah.

NAK bercerita tentang salah satu gurunya, seorang scholar di bidang bahasa Arab yang mempelajari Yahudi selama beberapa tahun. Dia mengungkapkan bahwa bagi  bangsa Yahudi, anak Ibrahim yang seharusnya dikurbankan adalah Ishaq. Ismail dianggap sebagai anak yang terkutuk, maka keturunannya terkutuk, maka Islam terkutuk. Bab awalnya bercerita tentang taurat dan di mana bagian bagian yang diubah. Misalnya mengenai bukti Shifa dan Maurah (mengubah Shafa dan Marwah) yang di tengahnya ada lembah tandus yang memiliki mata air, dan juga ada kuil Sulaiman. Padahal kenyataannya masa Sulaiman adalah berabad abad setelah itu. Lalu ada penyebutan tempat berkurban yang bernama Sakka (sedikit mengubah Bakkah)

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir 29. (QS. 2:19)

Ayat ini adalah penggambaran yang lebih mendalam daripada ayat yang sebelumnya.

Perumpamaan yang digunakan adalah hujan yang lebat. Bayangkan kita berjalan dalam hutan yang lebat, maka pandangan kita akan terganggu. Dari segi bahasa, ini adalah ekspresi hujan yang asalnya tepat di atas kepala (awan gelap tepat di atas kepala). Jadi ini penggambaran kegelapan yang berlapis lapis, di mana jikapun ada cahaya, maka akan lenyap. Karena hujan yang begitu deras sudah memekakkan dan guruh yang berlangsung terus menerus tiada henti, maka yang mengalaminya akan ketakutan akan mati. Namun mereka tidak mampu berbuat apa apa lalu menutup telinganya dan menyumbatnya hingga rapat. Suasana ini menggambarkan betapa Allah meliputi orang orang yang kafir.

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:20)

 

Dalam situasi yang gelap gulita, lalu muncul kilat menyambar, maka situasi akan terang selama hitungan detik walaupun mereka hanya bisa mengambil 1 langkah kecil dalam terang yang sangat sebentar. Gambaran ini mirip dengan gambaran yang sebelumnya di mana mereka tuli dan bisu. Dalam kondisi seperti ini tentu akan sulit untuk mendengar orang bicara dan juga menyampaikan pesan kepada orang lain. Namun bedanya, pada perumpamaan ini, mereka masih bisa melihat sesekali

Apa bedanya visualisasi ayat 17-18 dan 19-20?  Jika kembali lagi ke pengkategorian kaum sebelumnya, ada kaum kafir yang keras kepala (kafir Quraisy dan pemuka Yahudi yang mendustakan Nabi). Ini adalah yang digambarkan oleh ayat 17-18. Adapun ayat 19-20 menggambarkan kaum yang hendak menuju kepada kebaikan, namun mereka sangat takut, pada  ‘hujan, guntur, dan petir’. Bayangkan selama berabad abad manusia tidak didampingi oleh seorang Nabi, begitu Nabi datang, ada peringatan tentang hari akhir yang penggambarannya mengerikan.  Setiap ayat tentang hari akhir muncul, rasanya seperti petir menyambar. Bahasa Quran tidak lembut saat menggambarkan ini. Guntur dan petir adalah penggambaran terhadap peringatan.

Sebagaimana sudah diceritakan sebelumnya, Yahudi memang banyak menghilangkan bagian hari akhir di Taurat, walaupun masih ada sedikit sisanya disebut di Perjanjian Lama Hebrew Bible. Kalau sekarang kita tanta ke orang Yahudi, maka mereka bisa jadi menjawab mereka tidak yakin dan tidak banyak tahu mengenai hari akhir.

Jika kita membaca terjemah Quran begitu saja, kita pasti sadar bahwa topik topiknya tersebar di mana mana, seperti tidak terstruktur. Namun jika kita melakukan studi yang serius terhadap struktur Quran, maka kita akan menemukan keteraturan yang luar biasa. Ini bukan hal yang ditemukan oleh peneliti muslim, namun juga oleh nonmuslim. Studi tentang struktur dan komposisi Quran juga dilakukan oleh peneliti Barat (nonmuslim) dan beberapa universitas. Ada juga orang orang yang akhirnya masuk Islam karena studi yang mereka lakukan.

Misalnya, ayat 1-5 adalah simetri. Ayat 2 dan 5 bicara tentang petunjuk. Ayat 3 dan 4 bicara tentang mukmin.

Ayat 6-20: ayat tentang orang kafir dan munafik: deniers – hypocrites – confronted – confronted – hypocrites – parables.

 

simetri quran

Catatan dari Ramadhan Exclusive Hari ke 3 oleh Ust. Nouman Ali Khan

2:4. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

 

Jika dirunut secara kronologis, maka urutannya adalah orang orang yang diberi kitab sebelum Rasul, Rasul yang diberi kitab, dan hari akhir. Namun di ayat ini, Quran dicabut dari urutannya dan diletakkan di awal. Hal ini mengindikasikan bahwa apapun latar belakang manusia sebelum mengenal Islam, maka kita harus merombak dasar dasar pemikiran kita dan meletakkan Quran sebagai fondasi pertama.  Orang orang yang masuk Islam dengan latar belakang mempelajari Taurat dan  Injil, maka bisa jadi secara tidak sadar pola pikirnya masih berada dalam kerangka Taurat dan Injil. Ayat ini mengingatkan untuk merombaknya dan menjadikan Quran sebagai sumber primer, dan Taurat /Injil sebagai sumber sekunder yang tetap kita imani. Dengan demikian, kita bisa memfilter kandungan kitab sebelumnya.

Kaya yuuqinun, maksudnya menjadi yakin sepenuhnya. Yaqiina aartinya jg menjadi yakin sepenuhnya.

NAK dulu sempat mempelajari matkul comparative religion. Yang beliau temukan pada Nasrani adalah pertanyaan mengenai apa yang akan terjadi pada manusia sebelum Jesus, karena mereka mempercayai bahwa keselamatan didapatkan melalui Jesus. Maka konsep hari akhir bagi manusia pra Jesus tidak begitu jelas. Begitu pula di Judaism, konsepnya benar benar hampir hilang.

Kita sebagai muslim, bisa saja mengalami perbedaan pendapat mengenai fikih, dasar penentuan awal bulan, dll. Namun ada satu hal yang tidak ada perbedaan pendapat, yaitu apa yang akan terjadi di hari akhir. Penjelasannya begitu jelas dalam Quran, dan inilah topik yang menjadi gap pada kepercayaan sebelumnya.

Ayat 4 ini juga menjadi penjelas bahwa tidak ada utusan lain setelah Nabi Muhammad, karena dijelaskan karakteristik orang yang memperoleh petunjuk yaitu yang mengimani kitab yang diturunkan pada Rasulullah orang orang sebelum Rasulullah. Hanya itu saja. Tidak ada penyebutan ‘apa apa yang akan diturunkan setelahmu’ .

2:5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Muflihuun, orang orang yang beruntung. Muflihuun berasal dari kata falah, yang bisa berarti sukses, dan ‘untuk tetap menjadi’. Maka muflihuun tidak hanya merujuk kepada kesuksesan, namun kesuksesan yang terus menerus. Orang orang beruntung memiliki sifat yang terus menerus, yaitu beruntung hingga di akhirat. Jika dikaitkan kepada arti kata ‘falah’ yang lain yaitu petani, maka bisa diartikan kesuksesan ini adalah sebuah panen, setelah selama beberapa lama melakukan upaya untuk menanam dan memelihara.

Kembali ke beberapa ayat sebelumnya, ada 2 golongan muttaqiin, yaitu (1) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki (2) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Golongan pertama mengindikasikan golongan awam, general public, sedangkan kriteria kedua mengindikasikan golongan yang memiliki akses terhadap ilmu, mengetahui tentang wahyu yang diturunkan sebelum Al Quran.

Pada masa kini, begini contohnya:

Golongan pertama, misalnya seorang supir taksi, bekerja 19 jam sehari, tidak sempat belajar agama, bahasa arab, atau mempelajari hadis. Dia sibuk dan menyempatkan shalat, lalu mencari uang, lalu dia membayar zakatnya.

Golongan kedua, misalnya orang orang yang dikaruniai keleluasaan untuk mempelajari Al Quran, belaar syariat, belajar di kampus hingga menjadi phD di bidang agama.

Kedua golongan ini, tidak dibedakan atau dikatakan satu golongan lebih tinggi dari golongan lainnya, semuanya memiliki kesempatan untuk mendapatkan petunjuk dari Allah.

Jika kita termasuk golongan kedua, yaitu bagi yang  memiliki kesempatan lebih untuk mempelajari agama, maka kita akan memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi orang lain yang tidak memiliki kesempatan, melayani orang orang di sekitar kita.

Lalu sedikit kembali pada ayat 2:2 yang menyebutkan Quran adalah petunjuk bagi orang bertakwa. Pertanyaan mungkin muncul, hanya petunjuk bagi yang bertakwa? Bukankah di ayat lain disebut hudallinnaas (petunjuk bagi manusia)? Sekilas memang kontradiksi. Maka untuk memahami ayat Quran memang perlu perenungan. Ya Quran memang diperuntukkan untuk seluruh manusia. Namun yang akan benar benar mendapatkan manfaatnya tentu adalah orang orang yang memiliki niat untuk mempelajarinya.

2:6. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.

Perhatikan bahwa Quran sangat sensitif terhadap konteks. Ketika kita melihat Quran dengan begitu dangkal, bisa menjadi tragedi. Ketika kita melihat ayat ini sekilas, mungkin banyak yang akan menyimpulkan bahwa orang orang kafir adalah semua non muslim. Apakah benar kita bisa begitu saja menilai bahwa non muslim memang orang orang yang tersesat dan tidak akan beriman? Bukankah setiap hari ada saja orang yang masuk Islam? Jadi siapakah orang orang yang disebut dalam ayat ini sebagai: ‘diberi peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman’.

Maka sesunggunya istilah kafir di sini tidak merujuk kepada semua non muslim, menurut banyak ahli tafsir. Selanjutnya, generalisasi di sini adalah ekspresi kemarahan. Misalnya, ada seorang dosen yang memiliki 2-3 mahasiswa yang malas dan bandel. Jika dosen tersebut sudah merasa marah dan hopeless terhadap sebagian kecil mahasiswa ini, bisa jadi dosen tersebut mengungkapkan ekspresi verbal dengan misalnya, “Mahasiswa emang susah diatur!” Generalisasi biasa digunakan untuk ekspresi frustasi atau kemarahan. Nah, menurut tafsir, ayat ini saat turunnya ditujukan pada pemuka agama Yahudi yang paling depan menolak dan menentang Islam, walaupun dia tahu kebenarannya. Bahkan kaum ini bekerjasama dengan kafir Quraisy untuk menentang Rasulullah. Bahkan sebetulnya kaum ini juga banyak ingkar terhadap ajaran agamanya sendiri.  Adapun orang Quraisy, mereka adalah penerima  pertama Al Quran, yang memiliki kesempatan paling besar daripada seluruh manusia di muka bumi ini, untuk memeluk Islam. Namun tidak demikian. Bahkan ketika Rasulullah kembali ke Mekkah dengan damai dalam rangka perjanjian Hudaibiyah dan haji Wada, tetap saja ada upaya pembunuhan terhadap Rasulullah. Maka menjadi masuk akal ketika ayat 2:6 muncul. Orang orang ini, diberi peringatan atau tidak, mereka tetap tidak akan beriman.

Di Mekkah banyak musuh musuh terburuk Islam, yang menyebabkan Rasulullah terusir, mereka adalah yang mendapatkan wahyu terbanyak, dan merekalah juga orang orang yang pantas diperangi. Namun demikian, saat akan menyerang, Allah menurunkan wahyu. Di Mekkah, di mana banyak orang kafir, bisa jadi ada segelintir orang yang diam diam beriman, percaya pada Allah dan tidak menunjukkannya. Bahkan mereka ini sudah menjadi muslim walaupun mereka tidak menyadarinya. Allah berhak memberikan ampunan, kapanpun Allah mau.

Kembali lagi ke pengertian kafir dalam ayat ini. Kafir di sini, merujuk pada orang orang yang sangat sangat jahat, yang paling keras kepala. Penyebutan kafir di sini adalah sesuatu yang berat.

Ada orang orang yang tertmasuk ‘potential believer’, orang yang bertakwa dan belum terpapar oleh Islam.

Ada pula Nasrani, Yahudi, yang nantinya datang pada Islam. Pada saat berislam, Quran merekam kesaksian mereka dalam Al Qashash: 53:

  1. Dan apabila (Al Quran) dibacakan kepada mereka, mereka berkata, “Kami beriman kepadanya, sesungguhnya (Al Quran) itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami. Sungguh, sebelumnya kami adalah orang muslim.” – Al Qashash : 53

Quran menyatakan, sebelum bersyahadat pun, mereka sudah menjadi muslim, karena mereka adalah potential believer.

Jadi, salah jika kita asal menunjuk non muslim dan berkata: sudahlah, mau dikasih tau atau tidak, mereka tidak akan beriman. Menjadi salah ketika seseorang tidak bisa menyayangi dan menghormati ibunya sendiri karena ibunya belum bersyahadat. Sangat konyol jika hanya karena kita berbeda iman dengan orangtua, maka kita harus memusuhinya.

Refleksikan pada kehidupan Nabi Ibrahim. Dia tetap memiliki harapan terhadap ayahnya. Begitu pula Nabi Nuh, yang tetap menyayangi anaknya, hingga di akhir perjalanannya baru Allah berfirman untuk meninggalkannya. Firman Allah tersebut turun di akhir, bukan sejak awal.

Bagaimana mungkin kita mau menyebarkan Islam, jika kita memutus hubungan dengan orang orang yang belum tahu mengenai keyakinan ini. Rasulullah sendiri berdiri dan hormat ketika ada pemakaman orang Yahudi. Ini adalah wujud penghormatan kepada kemanusiaan, kepada sesama anak Adam.

Inget ngga ada seorang politisi Swiss yang dahulu begitu benci Islam (anti muslim), dan melakukan propaganda anti Islam. Dalam setiap videonya kala itu selalu diikuti komentar kebencian dan kutukan dari muslim. Dalam sesaat kini dia menjadi saudara kita, menjadi muslim.

Nah, pada awal Al Baqarah, 5 ayat didekasikan untuk orang yang beriman. Ayat selanjutnya, ganti topik.

2:7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

 

Khatam: seal, mensegel.Kata ini bisa digunakan untuk segel pada surat dengan menggunakan lilin, di masa lalu. Kita tidak akan mensegel sebuah amplop, sebelum suratnya benar benar selesai.

Maknanya pada ayat ini adalah, seluruh upaya kebaikan sudah dilakukan untuk menyentuh hati seseorang, namun dia tetap saja tidak tergerak. Keras kepala. Allah tidak akan mengunci mati hati seseorang sejak awal, melainkan hingga orang itu menunjukkan sikap keras kepala. Manusia memiliki tanggung jawab penuh terhadap apa yang mereka lakukan terhadap hatinya.

Ada beberapa analogi untuk menggambarkan kondisi ini. Misalnya ada sebuah mobil yang tangki bahan bakarnya diisi minyak goreng dan garam. Ternyata mesinnya tidak mau menyala ketika dinyalakan. Pahami bahwa mobil ini bekerja dengan cara tertentu, sudah ditentukan. Jika mobil tidak menyala karena salah prosedur untuk menyalakan. Bisakah kita mengatakan: “Allah tidak menghendaki mobil ini menyala”. Ya benar, Allah menghendaki mobil ini tidak menyala, karena kebodohan manusianya. Dalam hal kesehatan, kita tidak bisa begitu saja kena penyakit diabetes karena Allah menginjeksikan penyakit diabetes ke dalam tubuh kita. Menjadi salah jika kita tidak pernah olahraga, makan seenaknya, lalu kena penyakit kolesterol namun kita berkata “Qadarallah, ini kehendak Allah, ini cobaan Allah”.

Prinsip yang sama berlaku pada hati. Ketika seseorang tidak melatih hatinya, tidak membuka hati untuk menerima pesan yang baik, maka Allah menutup kesempatannya, karena kesalahan dirinya sendiri. They are closed case because they don’t want to hear it.

Qulub

Ada apa sih di dalam hati? Hati tempatnya cinta. Maka ketika hati dikunci mati, manusia tidak mampu mencintai apa yang seharusnya mereka cintai. Seharusnya mencintai orang beriman, tapi mereka benci. Seharusnya mencintai kebenaran, tapi mereka benci. Seharusnya mencintai keadilan, tapi mereka benci. Orang orang yang terkunci mati hatinya mampu mengatakan dan melakukan hal yang paling kejam. Hati tempatnya rasa syukur. Maka ketika hati dikunci mati, manusia tidak mampu bersyukur dan merasa tidak perlu untuk berterima kasih kepada siapapun. Hati tempatnya rasa takut. Maka ketika hati dikunci mati, manusia tidak takut akan konsekuensi. Hati tempatnya harapan. Ketika hati dikuci mati, manusia tidak memiliki harapan, terhadap hari akhir, terhadap manusia, bahkan terhadap dirinya sendiri. Hati tempatnya rasa bersalah, maka ketika manusia melakukan sesuatu yang salah, nafsu lawwamah muncul, manusia akan merasa bersalah. Ketika hati dikunci mati, manusia bisa melakukan hal yang sangat buruk dan bangga terhadap perbuatannya. Hati tempatnya rasa malu. Maka ketika hati dikunci mati, manusia tidak peduli berkata kata seburuk apapun, berpakaian sevulgar apapun. Hati tempatnya rasa tanggungjawab. Hati tempatnya harga diri.

Maka ketika hati dikunci mati, segala fitrah yang seharusnya dimiliki manusia akan hilang.

Pertama yang dikunci adalah hatinya, lalu pendengarannya, lalu penglihatannya. Maka dalam kondisi ini, manusia tidak mampu melihat petunjuk Allah yang ada di sekitarnya, dan bisa terganggu mendengar hal yang baik.

Hal yang menarik dari ayat ini, adalah bahwa hati dan mata, dijelaskan dengan kata plural (jamak), tapi pendengaran dijelaskan sebagai singular (tunggal). Status hati setiap orang bisa berbeda beda, ada yang sedang bersemangat belajar, ada yang tidak. Sudut pandang setiap orang berbeda beda. Orang yang saat kuliah duduk di barisan depan pojok kanan akan melihat dosennya berbeda dengan yang berada di belakang tengah. Namun dalam hal pendengaran, semua orang akan mendengar hal yang sama. Kita semua bisa mendengar informasi yang sama dari Quran, namun ketika kita semua berusaha memahami ayat yang kita baca dengan hati, maka satu orang bisa jadi akan terinspirasi hal yang berbeda daripada orang yang duduk di sebelahnya.

Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Sesungguhnya, Allah tidak suka menghukum manusia. Allah menciptakan manusia untuk menunjukkan kasih dan ampunan. Namun sekelompok manusia, memang pantas untuk dihukum. Dan hukuman terbesar sebenarnya sudah mereka dapatkan saat Allah mengunci mati hati mereka.

Catatan dari Ramadhan Exclusive Hari ke 2 oleh Ust. Nouman Ali Khan

2:2. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

Hudallil muttaqin (petunjuk bagi mereka yang bertakwa)

Penggunaan kata huda di sini dalam bahwa arab adalah jenis naqirah, diakhiri kasratain, yang memberikan arti penekanan atas sesuatu yang besar. Maka ‘hudan’ di sini be rmakna ultimate guidance, petunjuk yang sangat besar.

Mereka yang bertakwa, sebagaimana dijelaskan di pertemuan lalu, adalah orang orang yang melindungi dirinya dengan sangat hati hati.  Di sini kata bertakwa, dalam sifat bahasa Arabnya,  adalah kata benda.  Sifatnya permanen dan timeless. Maka Al Muttaqin pada ayat ini merujuk pada orang orang yang selalu ada, di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Ada orang dalam quran yang attitude dan kehati hatiannya dijelaskan setelah menjadi muslim, misalnya selalu menjaga shalat, selalu berzakat, dll. Namun sebenarnya, ada taqwa sebelum iman, yaitu orang orang yang tidak berbohong, yang tidak berbuat curang, yang tidak menyakiti hati orang lain, seperti Abu Bakar Shiddiq sebelum menjadi muslim. Iman belum menyentuhnya, namun ia sudah memiliki aspek takwa. Dia tetap berhati hati dan menjaga diri. Maka Al Muttaqiin di sini berarti muslim ataupun nonmuslim, di seluruh penjuru dunia, yang datang pada Quran dengan benar benar bermaksud mencari petunjuk. Jika mereka memiliki kualitas ingin menyelamatkan diri dari hal yang jahat, kesalahan, dan datang pada Quran, mereka akan mendapatkannya.

Namun ada prasayarat lain. Orang tipe bagaimana dari kaum yang berhati hati ini, yang akan mendapat petunjuk. Ayat ini menyebut Hudallil muttaqiin, bukan hudallil muslimiin, bukan hudalil mu’miniin. Syaratnya disebut pada ayat selanjutnya.

2:3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka

Alladziina yu’minuuna bil ghaib (yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib)

Pada masa kini, sesuatu yang disebut benar dan dipercayai adalah data, yang bisa dibuktikan melalui metoda ilmiah, dideteksi oleh alat dan dirasakan oleh kelima indera. Bagaimana dengan tuhan? Neraka, surga, malaikat. Manusia masa kini pola pikirnya terbentuk dengan hard science begitu. Namun, sebenarnya di sekitar kita, banyak hal yang tidak bisa kita buktikan secara ilmiah, namun kita rasakan. Hal seperti cinta, keindahan syair, tidak bisa diukur, hanya bisa dirasakan.

Allah menggunakan present tense untuk iman, yaitu alladziina yu’minu (present), menunjukkan keberlanjutan dan perjuangan terus menerus (belum lengkap dan mencapai tujuan), konteks di ayat ini adalah orang orang yang berjuang menyempurnakan iman, yang merasa imannya belum lengkap, terus menyadari b ahwa imannya kadang naik, kadang turun.

Maka, jika orang memiliki taqwa, bukan berarti mereka sempurna. Imannya akan naik dan turun. Mempercayai hal yang  ghaib, artian umumnya adalah mempercayai Allah, malaikat, hari kiamat, surga, neraka, mu’jizat nabi di masa lalu, dll. Namun selain hal tersebut, ada keghaiban yang lain juga, yaitu melihat realita di masa kini dengan hati, sesuatu yang hanya kita lihat dan pahami dan orang lain tidak lihat walaupun berada pada waktu dan tempat yang sama.

 

Contoh 1: Seseorang yang beriman pada hal ghaib, tidak akan menggunjing orang lain walaupun yang digunjingkan tidak ada. Adapun orang lain, bisa jadi mereka bergunjing tentang keburukan orang lain dan tidak mampu melihat bahwa hal tersebut adalah hal yang buruk. Tidak memiliki gejala fisik. Namun yang memiliki iman akan merasa malu terhadap Allah.  Siapapun bisa saja di lisannya berkata, “ya Aku beriman pada Allah’. Namun pernyataan tersebut tidak membekas di hatinya, tidak membuatnya menjaga diri.

Maka keimanan yang dibicarakan di sini, adalah sebuat perjuangan untuk terus menggenggamnya.

Contoh 2: Jika kita seorang pedagang, dan ada pembeli yang sangat membutuhkan barang dan tidak tahu harga pasar, bisa saja kita menaikkan harga untuk keuntungan sendiri. Namun sejatinya ini adalah bentuk riba juga. Seorang yang beriman akan ridho menjualnya dengan harga yang wajar dan meyakini Allah akan memberi ganjaran yang baik. Jika ada pertanyaan mengenai apakah iman, kita bisa saja menjawab hal yang sama dengan orang lain secara lisan. Namun jika ditelaah dengan lebih dalam dan tidak hanya sekedar definisi, iman lebih dalam dari itu.

Contoh 3: Saat kita merasa sendiri, tidak ada yang menghargai, tidak ada yang mengerti, tidak ada yang menghubungi, namun keyakinan pada yang Ghaib bisa membuat kita berpikir,’ Allah selalu bersamaku, aku tidak pernah sendiri’

Contoh 4: Islam sering diejek sehingga muslim menjadi rendah diri menjadi muslim. Inilah saat untuk mempercayai hal yang ghaib. Allah sendiri tidak berkurang kebesarannya. Rasulullah memiliki harga diri. Umat Islam memiliki harga diri. Kita tidak pernah kehilangan martabat walaupun dihina dan diremehkan. Jika saat ini ada yang meremahkan Islam di depan kita, ingat bahwa Rasulullah pun mengalaminya dengan kondisi yang lebih buruk. Dengan iman, maka muncullah harapan.

Di saat kita merasa umat saat ini dalam keadaan buruk dan makin buruk, membaca berita buruk yang dialami muslim,  pahami satu hal, bahwa Allah sudah memberi janji pada kita dalam Quran, Allah berfirman agar kita tidak menjadi orang orang yang berhati lemah, tidak menjadi orang yang sedih, kita akan menjadi orang orang yang berkedudukan tinggi di sisinya, jika saja kita BENAR BENAR percaya.  Umat ini tidak terkondisikan untuk depresi dan kehilangan harapan. Kita adalah umat yang jika dibacakan firman Allah, maka akan senantiasa mengucap alhamdulillah, yang berati kita selalu melihat sisi baik dari segala hal.

Rasulullah, para sahabat, dan orang shalih yang disebut dalam Quran, hidup dalam masa yang paling gelap, di mana syirik dan keburukan merajalela, dan muslim dalah minoritas yang ditekan seiring dengan perjuangannya.  Dan karena perjuangannya, mereka menjadi kaum yang disebut terhebat sepanjang masa. Maka jika kita hidup pada masa di mana keburukan merajalela, kita memiliki kesempatan untuk menghidupkan kembali semangat dan sprit iman di masa lalu. Those among you, who fight before victory came, are the higher level. Derajatnya lebih tinggi daripada mereka yang berada pada masa saat keadaan mudah

“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi. Tidak sama di antara kamu, orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya, daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya), dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka, (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” – (QS.57:10)

Seseorang yang memiliki iman jika menghadapi masa masa sulit, maka itu adalah kesempatan untuk memaknai rasa syukur.

(Wa aqiimis shalaat) yang Mendirikan Shalat

Allah menyebut mendirikan, bukan melakukan.  Mereka membuat shalat permanen. Asal katanya sama dengan iqomah. Iqomah adalah seruan untuk semua orang untuk berdiri bersama sama dan shalat. Ini adalah indikasi juga untuk selalu berjamaah, selalu dekat dengan orang orang yang mengingat Allah. Pada kenyataannya, memang kita sulit untuk memelihara keimanan, sendirian. Saat kita berhenti pergi ke masjid, saat kita berhenti berada di sekitar muslim yang lain, sehari hari sibuk di kantor dan hang out bersama teman, lalu kembali pulang untuk tidur. Jika ini berlangsung terus menerus, kita akan melihat koneksi yang melemah dengan Allah. Kita akan lebih merasa mudah untuk melakukan dosa.

Namun saat kita kembali ke masjid, untuk melakukan shalat, berdiri bersama yang lain, maka kita akan merasakan perasaan tenang (sakinah). Saat orang orang berkumpul untuk bersama sama mempelajari Kitab Allah, malaikat turun dan mengelilinginya.

Shalat, adalah cara kita untuk terkoneksi pada Allah dan memelihara iman kepada yang ghaib

Dan Menafkahkan Sebahagian Rizki yang Kami Anugerahkan Kepada Mereka

Allah mengaruniai reizki yang berbeda pada setiap orang. Ada orang yang k dikaruniai kesehatan, ada yang dikaruniai kecerdasan, ada yang dikaruniai harta yang banyak, ada yang dikaruniai popularitas, dst. Apapun yang Allah karuniakan kepada kita, maka kita diperintahkan untuk menafkahkan sebagiannya.

Nafkah berasal dari kata nafiqa, artinya lubang kadal. Kadal membuat 2 lubang pada ujung yang berbeda. Maka makna ini bisa juga dikaitkan dengan munafiq, yaitu yang lari dari 1 kondisi dengan masuk ke 1 lubang dan keluar dari lubang lain, keluar ke kondisi manapun yang menguntungkan mereka. Namun nafiqa dalam kata nafkah, berarti memasukkan harta kita pada 1 lubang di dunia ini, dan harta ini akan keluar di lubang yang lain yaitu akhirat. Maka maksud menafkahkan di sini adalah mentransfer dari akun dunia ke akun akhirat. Jika kita mensedekahkan harta, harta tidak hilang. Jika kita memberi pada yatim, sejatinya kita bukan memberi kepada yatim, tapi memberi pada Allah.

Anak kecil memiliki kecenderungan untuk memiliki apapun yang dia senangi. Fitrah nafsu manusia. Jika kita dipinjami sesuatu dan menikmatinya, segera kita lupa bahwa barang tersebut bukan milik kita. Kita berandai andai jika barang tersebut milik kita dan tidak mau menyerahkannya kembali, dan terbiasa menyebut rumahku, mobilku, dompetku, tubuhku, mataku dst. Ketahuilah itu adalah rizki yang “Kami anugerahkan kepada mereka”, maka itu adalah milik Allah, bukan milik kita. Innalilahi wa inna ilaihi raajiun. Semua akan kembali pada Allah.

Dalam rangkaian ayat ini, semua kata kerja menggunakan present tense, kecuali ‘Kami anugerahkan’ yang bersifat lampau. Artinya, kita semua sudah diberi semua rizki di masa lampau, maka kita tidak perlu menunggu apa apa sebelum menafkahkannya. Jadi tidak benar jika ada niatan ‘aku akan bersedekah jika Allah memberi aku”. Semua manusia sudah memiliki sesuatu. Jika kita punya 2 hari, beri Allah 1 hari. Jika kita punya sebuah apel, beri Allah sepotong. Jika kita punya masa muda, bakat, dll, beri Allah sebagian. Allah tidak menilai seberapa banyak yang kita beri, namun menilai kualitasnya.

2:4. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Ayat ini mengenai kelompok orang tertentu, yaitu yang pernah menerima wahyu (nasrani dan yahudi). Ayat 1 adalah untuk siapapun yang mau terkoneksi dengan Allah, mau mencar i kebenaran. “Kepadamu” jelas maksudnya adalah kepada Rasulullah SAW. “yang telah diturunkan sebelummu” maksudnya kepada yang diterima Nasrani dan Yahudi. Kenapa tidak disebut spesifik apa yang dimaksud? Apa yang disampaikan kepada Rasul, bisa dilacak urutannya hingga masa kini. Namun untuk Ahli kitab saat itu, firman yang sampai pada mereka pun tidak bisa dilacak urutannya hingga Nabi yang menyampaikannya. Tapi memang, sebagian wahyu yang,  ada yang bertahan.

Mengenai Nabi Musa dan Taurat

Thaa haa15. “Verily, the Hour is coming and My Will is to keep it hidden that every person may be rewarded for that which he strives.

Firman Allah kepada Musa: Hari pembalasan akan datang dan ketentuan Allah adalah untuk tidak memberi informasi mengenai segala hal tentang ini.

Jauh sebelum Nabi Isa, Umat Yahudi terpecah menjadi 2 golongan, yaitu golongan penjaga tanah suci Yerusalem, yang tidak mempercayai adanya akhirat, dan satu lagi golongan rabi yang mempercayai akhirat, namun yang akan diadili bukan orang per orang melainkan sebagai bangsa. Tidak semua isi Taurat tertulis, ada yang diturunkan melalui lisan, termasuk konsep mengenai hari Akhir. Maka konsep akhirat turun temurun semakin lemah dijelaskan, yang kemudian dikuatkan kembali pada saat diutusnya Nabi Isa.

Sejarah ini memberikan makna pada Al Baqarah 4, yaitu penguatan kembali iman kepada hari akhir bagi yang beriman pada Quran dan kitab sebelum Quran, untuk mengembalikan keyakinan yang hilang pada umat sebelumnya.

Pesan besarnya bagi pembelajar Quran adalah, apapun yang Allah ajarkan, adalah tentang mengantarkan kita bertemu dengan Allah. Kehidupan ini adalah tentang bagaimana bisa dekat dengan Allah, dan kehidupan mendatang adalah goalnya, yaitu kondisi dekat dengan Allah secara mutlak.