Masih melanjutkan ayat sebelumnya…
Revolusi terjadi dalam sejarah, terjadi di mana mana. Namun perhatikan, dengan adanya revolusi, berapa banyak orang menjadi korban. Selanjutnya, setelah terjadi revolusi tersebut, apakah orang orang tetap makan makanan yang sama, suka terhadap hal yang sama. Ekonomi dan sosial memang bisa jadi berganti, namun budaya masih tetap sama. Banyak hal yang tetap sama. Namanya memang revolusi tapi sebenarnya prosesnya terjadi tidak secepat itu. Revolusi selalu didasari pemikiran tertentu yang muncul sudah cukup lama dan mempenetrasi masyarakat melalui novel, kisah, dan literatur literatur abstrak. Pemikir awalnya, mereka bukan aktivis dalam pergerakannya. Namun ada saatnya seseorang mengadopsi pemikiran mereka lalu menjadi tokoh yang mendobrak. Namun pada masa munculnya Islam melalui dakwah Rasulullah, semua aspek kehidupan berubah. Yang mungkin akan ditanya adalah: apa yang tidak berubah, karena hampir semua aspek berubah. Coba buat dokumen apapun yang bisa mengubah begitu banyak kehidupan manusia dalam jangka waktu hanya 23 tahun. Perubahan yang terjadi bersifat privat (kebiasaan kebiasaan pribadi) dan publik (perekonomian, pemerintahan, dll). Oke silakan kalau ada yang mengaku bisa membuat surah serupa Quran. Tapi apa dampaknya kepada kemanusiaan? Bisa kah serupa Quran? Jika komputer dan media digital lenyap dari muka bumi ini dan seluruh dokumen hard copy penting lenyap dari muka bumi ini, dokumen mana kah yang bisa diadakan kembali dalam waktu 1 malam? Quran jawabannya. Bisakah peniru surah Quran melakukan hal yang serupa?
Manusia begitu terikat kepada sejarah dan budayanya. Begitu sulit untuk mengubahnya, dan memerlukan waktu yang lama, apalagi kondisi di masa lalu tidak ada media komunikasi secanggih saat ini. Kalaupun ada perubahan, biasanya itu karena pengaruh budaya luar. Masyarakat arab, terikat pada budayanya sejak ribuan tahun. Budayanya bisa jadi sedikit berubah antar generasi. Hanya ada satu hal yang tidak berubah dari bangsa Arab, yaitu bahasa dan kebanggaannya terhadap bahasa tersebut. Salah satu wujud kebanggaan bahasa adalah syair. Lalu Islam turun selama 23 tahun dan mengubah seluruh aspek kehidupan manusia, dari segi ekonomi, politik, sosial, dan cara hidup. Perubahan tersebut terjadi hanya dalam jangka waktu 23 tahun. Seiring dengan makin banyaknya orang orang luar masuk Islam, maka penetrasi budaya luar semakin banyak terjadi, bahasa Arab juga terdegradasi. Tidak ada lagi yang membuat syair. Maka, scholars, tabiin, mereka mendatangi desa desa terpencil yang belum mendapatkan pengaruh luar, untuk mempelajari dan mendokumentasikan bahasa Arab klasik dalam syair syair.
Tantangan untuk membuat yang serupa tetap ada hingga sekarang. Karena tidak akan bisa disamai, yang orang lakukan adalah melakukan kritisi di sana sini, mencari kontradiksi dalam Quran.
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka,tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah 34, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (QS. 2:26)
Innallaha laa yastahyii an yadhriba matsalaa maa ba’uudhatan famaa fauqahaa faammaalladziina aamanuu faya’lamuuna annahul haqqu min rabbihim waammaalladziina kafaruu fayaquuluuna maadzaa araadallahhu bihadzaa matsalaa yudhillu bihi katsiiran wayahdii bihii katsiiran wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin
Maa setelah matsala adalah ekspresi untuk memberikan penekanan pada matsala, artinya perumpamaan apapun. Allah tidak ragu memberikan perumpamaan. Allah mengajarkan Quran. Guru akan mengajar muridnya dalam level yang akan dimengerti oleh muridnya. Maka Quran bukanlah buku filosofi yang sulit dimengerti. Allah menjadikan Quran mudah dimengerti, salah satunya dengan menggunakan perumpamaan perumpamaan.
DI terjemahan disebutkan perumpaan ‘semut’, baudhatan. Namun menurut NAK ada kesalahan terjemahan di situ. Semut adalah baqq. Baudhatan adalah sebagian kecil dari semut, atau makhluk terkecil yang bisa terlihat mata. Terjemahan ‘yang lebih rendah dari itu’, maksudnya adalah apapun yang kita mungkin tidak membayangkan itu akan dijadikan perumpamaan.
faammaalladziina aamanuu faya’lamuuna annahul haqqu min rabbihim
Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka
Bentuk kata aamana, di sini bisa berarti juga sebagai orang orang yang beriman dan orang orang yang ingin beriman. Kata benar adalah terjemahan terbatas dari haqq. Dalam ayat ini kita harus memahami makna luas dari haqq. Selain berarti kebenaran, al haqq juga berarti tujuan (purpose). Haqq bisa juga berarti rightful (benar), appropriateness (layak).
Yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb, adalah sikap dalam menjadi pembelajar Quran. Terkadang kita belum mengerti makna sebuah ayat karena Allah memang belum membukakan cakrawala pemikiran terhadap ayat tersebut. Sering kan ketika kita membaca ayat, kita berhenti karena kurang mengerti. Kita bertanya tanya apa artinya. Ketika itu terjadi, maka sikap yang benar adalah memohon kepada Allah untuk membuka hati kita sehingga kita bisa melihat hikmah dan kebijaksanaan dari sebuat ayat. Tetap rendah hati saat membaca Quran. Tidak hanya belajar seperti murid pada umumnya, namun belajar sebagai hamba/budak, untuk menyenangkan tuannya.
waammaalladziina kafaruu fayaquuluuna maadzaa araadallahhu bihadzaa matsalaa
tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”
Makna kafir di sini adalah kafir terhadap nikmat Allah, tidak mensyukuri betapa Allah ‘went out of his way’ untuk memberikan contoh.
Pada Surat An Nuur 35, “dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia
maadzaa araadallahhu bihadzaa matsalaa
terjemahannya Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?
Namun maknanya lebih dalam dari itu. Kalau sekedar perumpamaan seharusnya matsal bukan matsalaa. Kata matsalaa membuat kalimat ini memiliki emosi merendahkan, sinis.
yudhillu bihi katsiiran wayahdii bihii katsiiran wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin
Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,
Perumpamaan dalam Quran juga bisa menyesatkan orang, jika manusia datang pada Quran dengan sikap dan niatan (attitude) yang salah. Siapakah orang yang menjadi orang orang yang tidak diberi petunjuk dengan Quran?
wamaa yudhillu bihi ilaal faasiqiin
Terjemahan sederhananya: Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,
Namun maknanya adalah: Tidak ada satupun manusia yang akan disesatkan, kecuali orang yang fasik.
Fasik yaitu orang orang yang berbuat kerusakan sangat parah di hatinya sehingga keburukannya menyebar. Menurut bahasa yang digunakan fuqaha, fasik memiliki arti orang yang berbuat dosa: orang yang kasar terhadap orangtuanya, orang yang bolong bolong shalatnya, dst. Fasik sendiri memiliki level. Namun kata fasik di sini merujuk pada level fasik tertinggi.
(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 2:27)
alladziina yanqudhuuna ‘ahda allaahi min ba’di miitsaaqihi
melanggar = violate = melepas ikatan yang kuat. Manusia terikat kuat dan terhubung pada Allah, melalui Quran.
wayaqtha’uuna maa amara allaahu bihi an yuushala wayufsiduuna fii al-ardhi ulaa-ika humu alkhaasiruuna
Setelah melepaskan ikatannya, lalu memutusnya. Allah menciptakan manusia dengan 2 jenis hubungan, yaitu hubungan dengan Allah, dan hubungan dengan sesama manusia. Dengan memutus hubungan dengan Allah, sebagai hasinya, manusia akan mulai memutus juga hubungan dengan sesama manusia, dari keluarga, dari teman. Ini adalah manusia yang tidak memberikan hak hak orang lain: orangtuanya, anak anaknya, tetangga dll. Dalam hidup, kita tidak bisa memilih orang orang yang terhubung dengan kita: saudara, orangtua (kecuali pasangan). Kita tidak bisa memutus hubungan dengan ibu atau saudara. Tapi hubungan tersebut bisa rusak. Kita ada di kondisi di mana kita tidak bisa melepas anak anak kita di luar rumah sendiri, atau kondisi di mana kita ingin segera keluar dari rumah orang tua, atau orang tua yang tinggal jauh dan ketika menelepon itu menjadi hal yang sangat mengganggu. Hubungan hubungan ini sudah menjadi rusak sehingga jaman sekarang orang tidak menganggap penting institusi keluarga. Orang orang ini merasa bebas dengan melepaskan diri dari ikatan ikatan dengan Allah, dan keluarga. Mereka merasa dunia telah terbuka bagi mereka.
ulaa-ika humu alkhaasiruuna
Mereka itulah orang-orang yang rugi.
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan? (QS. 2:28)
kayfa takfuruuna biallaahi wakuntum amwaatan fa-ahyaakum tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum tsumma ilayhi turja’uuna
Tidak ada sesuatu yang mati kecuali sebelumnya hidup. Jadi yang terjadi adalah hidup – mati- hidup – mati – hidup.
Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?”(Al Mu’min: 11)
Hidup yang pertama adalah penciptaan seluruh manusia di semua zaman dalam waaktu dalam bentuk ruh yang terbuat dari cahaya. Semua manusia ada di sisi Allah dan manusia berbicara langsung pada Allah. Percakapan yang diberitahu kepada kita hanya sedikit, yaitu mengenai kesaksian seluruh manusia bahwa Allah adalah Rabb. Ada sebuah hadis: ‘Allah menciptakan Adam dalam bentukNya’ Allah juga memberikan sifat sifatnya pada ruh manusia. Sifat pengasihnya, sifat penyayangnya. Setelah itu ruh ditiupkan ke rahim, lalu lahir sebagai manusia dan tumbuh besar. Seiring dengan pertumbuhannya, manusia juga dikendalikan (preoccupied) oleh jasadnya, namun demikian jauh di dalam dirinya tetap ada ruh yang bersama Allah. Maka manusia memiliki dorongan pada keindahan, kesempurnaan. Manusia memiliki fitrah untuk berpikir menuju kesempurnaan, ber kesenian. Kecenderungan untuk mencari kesempurnaan sebenarnya berakar dari jiwa yang bersama Yang Sempurna. Maka manusia berusaha mengisi kekosongan dirinya dengan (in a material sense) dengan menginginkan kepemilikan yang lebih baik, rumah yang lebih bagus, baju yang lebih bagus tapi tidak pernah puas. Karena tidak ada satupun di dunia ini yang sanggup mengisi ruang kesempurnaan Allah dalam diri kita. Maka ketika orang yang beriman bisa mengembalikan diri pada asalnya, kembali bersama Allah, akhirnya kekosongan itu terpenuhi. Maka kondisi tercukupi ini disebut muthmainn. Tenang.
Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah irji’ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah
“Hai jiwa yang tenang Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai
Mengapa disebut kembali, karena manusia pernah berada di sisi Allah.
