Ternyata Ini Posting ke-100 :)

Karena kemarin tiba-tiba kabarnya Kiki harus berangkat internship tanggal 5, padahal tanggal 14 awalnya. Setelah mengeprint beberapa berkas yang harus dibawa ke Sambas, kami menyalakan vespa cupu kami. Mengendarainya pelan-pelan ke kota, di sekitar Bundaran Selaparang. Ada warung kopi di sana, belum pernah kami coba.

Sambil menikmati minuman rasa teh hijau dan kopi susu, serta kentang yang digoreng juru masak, beberapa hal tidak penting kami bincangkan. Besok Kiki akan ke Dompu untuk pamitan.

Kami pulang sambil memutar sebentar, membelah kota sampai di Pajang. Kota Mataram telah hening dan lampu-lampu lalu lintas berkedip melulu kuning. Pohon-pohon di Catur Warga, jalan untuk kembali ke barat kota, sudah banyak yang ditebang karena pelebaran jalan. Kita warga kota akan merindukan mereka, pohon-pohon peneduh itu, walau sebentar. Yang kemudian sibuk kembali dengan urusan kita masing-masing: tiada habis-habisnya.

Perumnas Ampenan, pagi hari di 30 September 2015

How many lonely days are there waiting for me? How many seasons will flow over me?” – Daniel Sahuleka

Mencoba Buku Sket Baru

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Palembang

Buku sket saya yang ukuran A5 hilang. Saya berulang kali ke toko buku Gramedia untuk mencari, semoga ada stok buku sket dengan kertas Canson ukuran yang sama. Karena belum ada, saya coba cari di internet, kalau-kalau ada yang menjual buku sket yang bagus. Ketemu, pembuatnya ada di Jogja, Riphy Sketchbook. Saya lalu memesan buku sket dengan kertas Canson 300 gsm ukuran A5 dan dengan kertas hawai ukuran 100 x 190 mm.

Karena bukunya tiba hari Sabtu, saya jemput paketnya di kantor pos. Ternyata, kantor pos hanya terlihat sepi di luar saja, tapi di bagian dalamnya begitu sibuk. Beberapa petugas sibuk memilah-milah tumpukan paket dan menaruhnya di lemari-lemari kayu atau kantung-kantung besar. Seorang Bapak menanyakan dengan bersahabat apa gerangan maksud saya datang. Tidak butuh waktu lama, paket itu ditemukan, dan saya takjub dengan ringan tangannya beliau.

Sebenarnya saya tidak mengerti dengan kertas apa yang terbaik untuk menggambar. Dari artikel di internet yang saya baca, kertas terbaik itu tergantung siapa yang menggambar, mana kertas yang dia rasa paling cocok. Contohnya, Lapin, dia menggambar dengan kertas buku akunting. Gambarnya jangan ditanya bagusnya.

Dari beberapa referensi di internet, kertas yang bagus salah satunya adalah Canson. Buku sket saya yang hilang itu kertasnya bermerek Canson dengan berat 110 gsm. Kertas ini bagus, bersih, halus, dan tidak mengelupas bila menggunakan cat air. Namun, mungkin karena tipis, tinta pena gambar akan merembes, bila goresan pena berhenti sebentar di satu titik. Cat air juga bisa tembus karena memang tidak untuk jenis pewarna itu.

Kata penjual buku sket yang saya pesan, kertas Canson 300 gsm Watercolor adalah yang paling bagus untuk pena gambar dan cat air. Setelah saya coba, saya mesti setuju dengan pendapatnya ini. Awalnya saya sedikit terkejut dengan tebalnya, tapi kinerja kertasnya bisa diandalkan. Tinta pena gambar tidak merembes dan cat air menyerap dengan baik. Bahkan saya coba membuat gambar dengan cat air pada dua sisi di selembar kertasnya, warnanya tidak tembus. Ya, buku sketnya patut menjadi rekomendasi.

Oh ya, saya mulai menggambar tanpa menggunakan pensil sekarang dan langsung menggunakan pena gambar. Sebenarnya, pada beberapa sket saya pernah langsung menggunakan pena gambar, tapi khusus bila waktunya tidak banyak (karena bila menggunakan pensil dan pena, meskipun lebih rapi, namun lebih lama). Nah, saya mencoba konsisten untuk langsung menggunakan pena. Dengan langsung menggunakan pena, kita dipaksa jujur atas goresan yang telah kita buat.

Lama-lama, saya jadi menemukan kesamaan antara akuntansi dan sketching, sama-sama tidak boleh menggunakan pensil! 😀

Palembang, 11 Maret 2014

“Padahal kan laki-laki susah bila harus jujur :D”

Sketching Masjid Agung Palembang

Sketching Masjid Agung Palembang

Sketching Masjid Agung Palembang Sumsel

Sketching Masjid Agung Palembang Sumsel

Jogging Menyusuri Sungai Sekanak

Karena berlari di taman atau tepi jalan sudah terlalu sering, saya berpikir untuk lari menyusuri jalan-jalan kecil di perkampungan atau menyusuri sungai di Kota Palembang. Suasananya pasti berbeda. Nah, di suatu sore saya memilih untuk menyusuri Sungai Sekanak. Sungai Sekanak adalah sebuah sungai kecil yang bermuara di Sungai Musi, terletak dekat dengan kawasan Benteng Kuto Besak dan gedung waterleideng, serta terkenal dengan pasar dan pindangnya. Saya penasaran saja, ke mana saja sungai kecil itu mengalir.

Pertemuan antara Sungai Musi dan Sungai Sekanak

Pertemuan antara Sungai Musi dan Sungai Sekanak

Titik awal adalah di pertemuan Sungai Sekanak dan Sungai Musi, di tepi jalan dari BKB menuju Tanggo Buntung. Di titik itu, air Sungai Sekanak sudah terlihat hitam dan aroma tidak enak menguar di udara. Namun, sepertinya warga yang tinggal di tepi sungai sudah biasa dengan keadaan seperti itu. Mereka beraktivitas biasa saja, seperti umumnya di sore hari, ada yang duduk mengobrol dan bermain layang-layang di tanggul sungai (dengan alat bermain layangan yang lengkap, ada tas selempang dari kulit sistetis untuk menyimpan layangan dan benang gelasan).

Tanggul Sungai Sekana

Tanggul Sungai Sekana

Dari kawasan dekat Gedung Walikota, jalur sungai terus menuju Pasar 26 Ilir, melewati kawasan rumah susun sederhana, Palembang Indah Mall, dan mengalir sejajar Jalan Radial. Di titik Jalan Radial dan Sungai Sekanak berpisah, tanggul tidak bisa dilewati, tapi kita bisa memutari gang kecil samping Ramayana untuk kembali ke tanggul. Ulu sungai berlanjut melintangi Jalan Radial, Jalan Kapten Rivai, di samping kantor DPRD provinsi, dan tembus kawasan kampus. Tidak begitu jauh lagi berlari, di tepi sungai terdapat dinding yang mengelilingi kampus Unsri Bukit. Bila kampus Unsri sudah berdiri di masa kesultanan, keluarga sultan cukup menaiki perahu dari Benteng Kuto Besak bila ingin belajar di sana. 🙂

Tangkul, alat penangkap ikan khas Sumatera Selatan

Tangkul, alat penangkap ikan khas Sumatera Selatan

Jogging menyusuri Sungai Sekanak dari Sungai Musi sampai Demang Lebar Daun kira-kira menempuh waktu satu jam. Seperti umumnya sungai-sungai kecil di kota kita, kondisi sungai cukup memprihatinkan, dengan airnya yang kotor dan berbau, dan rumah-rumah tepi sungai yang terkesan kumuh. Seandainya kondisi airnya bagus, mungkin Sungai Sekanak bisa menjadi pilihan bagus bagi wisatawan untuk disusuri. Wisatawan dapat bertemu dengan penduduk kota, yang menyapa ramah bila kita melempar senyum, atau yang sedang menangkap ikan sepat dengan alat tangkul. Atau kalaupun tidak bagi wisatawan, penduduk kota bisa menjadikannya alternatif untuk berolahraga lari di kala senggang, di tengah berkurangnya lebar trotoar kota.

Palembang, 14 Maret 2014

“Hari menjelang gelap ketika saya tiba di samping Bengkel Pas, Demang Lebar Daun. Saya mampir sebentar di sebuah pom bensin dekat situ dan juga membeli minuman di Rie Mart, sambil memikirkan naik apa untuk pulang ke Kenten. Sebabnya, bis bukit ke Simpang Polda biasanya sudah tidak lewat lagi bila hari telah malam”.  

Enjoy Palembang

Dari segi pariwisata, Palembang sebenarnya termasuk kota yang tidak begitu istimewa. Ini dengan penilaian sederhana, seperti dari jumlah dan macam objek wisata. Wisata keindahan alam tidak banyak di sini, misalnya bila menghitung Pulau Kemaro, Sungai Musi, dan taman Punti Kayu. Bukit Siguntang, Taman Kambang Iwak, dan Taman Purbakala juga bolehlah dimasukkan dalam daftar ini. Selebihnya, ada beberapa objek wisata sejarah, seperti Museum Balaputera Dewa (yang sekarang berubah nama menjadi Museum Sumatera Selatan), Museum dr AK Gani, Museum Tekstil, Benteng Kuto Besak dengan bangunan-bangunan tua di sekitarnya: monpera, rumah burgemeester (walikota) Palembang yang sekarang menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, gedung waterleideng yang sekarang digunakan sebagai kantor walikota, gedung societiet, serta gedung schouburg (keduanya menjadi balai prajurit dan kantor Satpol PP). Selain itu, tentu saja ada Jembatan Ampera sebagai landmark kota (jembatan dan Sungai Musi-nya yang bagi saya selalu indah, meskipun ratusan kali saya lihat).

Bagi penduduk lokal, wisata Palembang adalah wisata belanja. Saban akhir pekan, maka mal-mal ramai sekali dipenuhi pengunjung dari kota Palembang sendiri, juga dari kota-kota lain di Sumatera Selatan. Warga kota dan wisatawan memang tidak punya banyak pilihan tempat dan macam wisata di kota ini, lebih-lebih yang kurang menyukai wisata alam dan wisata sejarah yang ada. Tapi, hal baiknya, Palembang sudah terkenal dengan wisata kuliner. Pempek, makanan terkenal ini, serta beberapa turunannya, sangat mudah sekali ditemukan di kota ini. Di mata saya yang perantau, warga Palembang sangatlah menggemari makanan khas mereka sendiri. Mereka makan pempek nyaris setiap hari, hampir-hampir seperti makan nasi!

Jadi, saat Ronron, teman saya di Stapala, datang ke Palembang kira-kira dua bulan yang lalu bersama seorang teman untuk menghadiri pernikahan teman mereka, saya sampaikan terlebih dahulu bahwa Palembang adalah kota yang biasa. Takutnya di bawah ekspektasi temannya itu (kalau anak Stapala yang memang suka ngebolang sih, saya tidak ambil pusing). Tapi dia bilang, temannya suka traveling dan suka dengan hal-hal tentang budaya dan sejarah. Oke, aman.

Dan setelah bertemu mereka, saya menyadari betapa serba kebetulan hubungan kami bertiga. Ini of the record karena kalau dijelaskan bisa jadi panjang. Tapi ujungnya, kami punya minat dan pandangan yang sama mengenai, misalnya, Sungai Musi sangat indah di malam hari.

Saya masih menyelesaikan pekerjaan di kantor sampai sore, jadi di malam hari baru bisa menjemput Ronron dan Mbak Lanny. Di hari pertama mereka datang, siang hari mereka sampai, langsung mengunjungi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan pergi ke Pulau Kemaro. Dasar traveler. :geleng-geleng

Beberapa tempat yang kami kunjungi, saya buatkan pointer saja, adalah sebagai berikut (aidah, serasa bahasa laporan).

Martabak HAR di depan Masjid Agung

HAR adalah akronim dari nama pemilik usaha martabak india ini, yang didirikan di sekitar tahun 1930-an. Martabak HAR berupa martabak yang berisi dua buah telur ayam atau telur bebek (bisa dipilih), disajikan dengan kuah kari kentang, dan potongan cabai keriting dalam kecap asin. Tidak semua orang setulu’an (bahasa Plembang, artinya cocok) dengan rasa martabak ini. Tapi, kalau ke Palembang, makanan ini wajib dicoba.

Pindang Musi Rawas di Angkatan 45

Pindang di pulau Jawa adalah ikan yang diungkep dalam periuk atau kuali dan biasanya digoreng kembali bila ingin disajikan sebagai lauk. Tapi di Sumatera Selatan, pindang adalah semacam sop ikan. Ikan yang dijadikan pindang seperti ikan patin, ikan baung, ikan gabus salai, dan ikan semah. Tapi tidak saja ikan yang dijadikan bahan utama, bisa juga daging, udang, ayam, burung (seperti di Jejawi), dan bahkan di sebuah lesehan di Kota Pagar Alam, ada pindang kerupuk. Pindang rasanya asem pedas. Di Sumatera Selatan, ada beberapa pindang yang terkenal seperti pindang Sekanak, pindang Pegagan, pindang Meranjat, pindang Rupit, dan pindang Musi Rawas, yang dinamakan seperti nama daerah asalnya.

Kami mengobrol lama di sini, dan yang menyenangkan itu karena keduanya suka dengan citarasa Pindang Musi Rawas. Mbak Lanny orangnya sangat supel dan ramai. Bahkan sebelum kami meninggalkan tempat makan, Mbak Lanny dan Ronron sempat berfoto dengan para pramusaji. Mereka akrab seperti pernah saling kenal sebelumnya. Atau mungkin, para pramusajinya mengira kami awak media yang sedang mengulas kuliner di Palembang. 😀

Bunderan Stadion Jakabaring dan Jembatan Ampera

Malam belumlah begitu larut saat kami mampir di Bunderan Stadion Jakabaring di kawasan Ulu. Bunderan Stadion Jakabaring berupa bunderan kolam, dengan patung daun pohon aren dari alumunium bergaya futuristik, air mancur, rumput dan tanaman hias, serta lampu sorot yang berganti-ganti warna. Bunderan ini baru saja direnovasi untuk menyambut ISG ketiga yang diselengarakan di Palembang. Suasana bunderan ramai dengan warga kota yang datang, serta atlet atau offisial negara luar peserta ISG. Dari kawasan Jakabaring, kami mampir di Jembatan Ampera untuk mengambil foto. Anda tidak perlu bercerita pernah ke Palembang, bila punya foto dengan latar tulisan AMPERA warna hijau pada sebuah jembatan warna merah, kan?

Bunderan Stadion Jakabaring

Bunderan Stadion Jakabaring

Jogging di Taman Kambang Iwak

Pagi hari adalah saat yang tepat untuk menggerakkan badan dan mengisi paru-paru dengan udara segar. Diputuskanlah untuk jogging di Taman Kambang Iwak Besak, tempat biasanya penduduk kota Palembang berolahraga dan bersosialisasi (kata kakak saya yang lulusan arsitektur, taman kota sangatlah diperlukan bagi sebuah kota, agar masyarakat bisa saling kenal dan mencegah konflik horisontal). Taman Kambang Iwak adalah taman yang dibuat mengelilingi kambang (bahasa Plembang, artinya kolam), dengan jogging track dan tempat-tempat bercengkrama. Kolam itu sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari drainase perumahan Talang Semut bikinan Belanda. Di Sabtu pagi itu, Taman Kambang Iwak tidak begitu ramai. Sambil berjalan santai, kami berbincang mengenai kota dan budaya masyarakatnya. Mbak Lanny terlihat mengagumi suasana taman: orang-orang yang senam SKJ, pepohonan yang rindang, termasuk pohon bambu di sebuah kelokan yang tertata rapi.

Museum Sumatera Selatan

Dulunya, Museum Sumatera Selatan bernama Museum Bala Putera Dewa. Museum ini baru saja selesai direnovasi, bagian lobby-nya telah dibuka untuk umum, dengan ukiran relief kehidupan masyarakat Sumatera Selatan, dan lukisan motif bunga matahari pada dinding lainnya.

Ruang display Museum Sumatera Selatan terdiri dari beberapa ruang. Terdapat tiga ruangan besar dengan pembagian per zaman. Ruangan pertama untuk artefak dan fosil di zaman prasejarah. Ruangan kedua untuk masa prasasti dari zaman Sriwijaya (berisi cerita kedatangan Yang Dipertuan Hiyang, doa-doa yang puitis, hingga prasasti berisi kutukan bagi siapa yang berbuat dosa), arca-arca, tulisan dengan aksara Ulu pada bambu dan kulit kayu, kitab undang-undang yang berlaku di masa Kesultanan Palembang Darussalam, hingga senjata pada masa perjuangan kemerdekaan. Ruangan ketiga untuk kehidupan sosial masyarakat Sumatera Selatan, berisi perkakas yang digunakan sehari-hari, berbagai macam songket dan kain tenun, serta pakaian pengantin. Terdapat juga tempat display arca dan patung display di luar ruangan. Oh ya, jangan lupakan dua rumah limas di bagian belakang museum, yang sudah sangat familiar karena tergambar di uang kertas pecahan 10.000 rupiah.

Mbak Lanny bercerita mengenai pengalamannya mengunjungi museum-museum di Jepang, bagaimana di sana kunjungan museum dibuat menarik, seperti menyelesaikan misi, dengan stempel-stempel menarik yang dapat didapatkan pengunjung bila memasuki ruangan dan dapat ditukarkan dengan hadiah di akhir kunjungan. Ide demikian mungkin bisa diterapkan di museum di Indonesia, agar pengunjung (khususnya anak-anak) antusias, yang tentu saja membuat kunjungan museum bukanlah sesuatu yang membosankan lagi.

Museum Sumatera Selatan

Museum Sumatera Selatan. Ruangan display-nya rapi dan nyaman.

Museum Sumatera Selatan

Museum Sumatera Selatan. Ronron dan Mbak Lanny melihat kain songket.

Meseum Sumatera Selatan

Meseum Sumatera Selatan. Rumah Bari, rumah limas khas Palembang, di bagian belakang museum.

 

Hutan Wisata Punti Kayu

Dari Museum Sumatera Selatan, kami mengunjungi Hutan Wisata Punti Kayu. Hutan yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan ini terletak di dalam kota, berisi pohon-pohon cemara, wahana permainan sederhana, dan kebun binatang mini. Kami menikmati suasana hutan kota dengan mengobrol di gazebo sambil menikmati es kelapa muda. Juga berfoto dengan gajah yang dapat dinaiki oleh pengunjung.

Punti Kayu

Punti Kayu. Berfoto bersama gajah. 😀

Mie Celor Pasar 26

Mie celor (bahasa Plembang, celor artinya rebus) adalah mie gemuk-gemuk yang direbus, disajikan dengan siraman kuah gurih, rebusan tauge, dan telur rebus. Kuahnya itu yang biasanya rasanya aneh bagi para pelancong; karena rasanya yang tidak begitu kuat. Seperti Mbak Lanny dan Ronron yang merasa kesulitan untuk mendefinisikan rasa dari mie ini. Tapi percayalah, bila telah lama di Palembang, kita mungkin bisa-bisa menjadi penggemarnya. 😀

Pempek Saga Sudi Mampir

Pempek yang terkenal di luar Palembang ada beberapa, sebut saja Candy, Vico, Nony, dan Beringin, tapi ada satu lagi pempek enak yang jarang sekali disebut. Adalah Pempek Saga Sudi Mampir, yang ada di depan kantor walikota (yang sekarang juga punya outlet baru yang modern di Demang Lebar Daun). Saya sengaja mengajak Mbak Lanny dan Ronron ke sini, agar bisa mencicip pempek yang paling enak di Palembang, menurut saya sih. Mungkin karena pempeknya disajikan selalu hangat. Hanya saja, harga pempek di sini lebih mahal dibandingkan para pesaingnya. Mengenai enaknya pempek ini, sepertinya keduanya setuju, dan belakangan Mbak Lanny memesan beberapa kotak pempek yang dikirim ke Bali dan rumahnya di Jakarta. 😀

Menghadiri Resepsi di Bukit Golf

Tujuan utama kedatangan Mbak Lanny dan Ronron ke Palembang adalah untuk menghadiri pernikahan teman mereka di Palembang. Saya mengantar mereka berdua dan baru menyadari bahwa pengantin laki-lakinya saya kenal namanya dan anak Jurangmangu juga. Ini sebuah kebetulan lagi.

Makan Durian di Rajawali

Setelah acara pernikahan, mobil kami dapat tambahan dua orang tamu. Rencananya kami akan mencari buah durian. Saya menyarankan di Jalan Rajawali, karena pengalaman di sini duriannya bagus-bagus. Sebenarnya ada tempat satu lagi, dengan harga yang lebih murah, yaitu di Pasar Kuto. Tapi karena sudah malam, dipilihlah di Jalan Rajawali saja. Duriannya memang enak-enak, dan kami mengambil beberapa foto yang lucu di antara durian-durian yang digantung pada gerobak.

Pulang

Minggu pagi, tiba saatnya Mbak Lanny dan Ronron untuk pulang ke Jakarta. Saya menyempatkan untuk membeli cindera mata untuk keduanya. Sebenarnya tokonya belum benar-benar dibuka, namun dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin, akhirnya mbak-mbak penjaganya luluh juga (padahal, mbak-mbaknya sebenarnya merasa kasihan :D).

Selama tiga hari mengantarkan mereka berdua, rasanya sebenarnya lumayan capai. Tapi, karena dasarnya saya senang jalan-jalan, tidak begitu terasa jadinya. Apalagi, Mbak Lanny dan Ronron adalah tipe yang bisa merasakan keindahan dan kekhasan kota di balik Kota Palembang yang biasa, seperti teman-teman saya yang pernah datang sebelumnya, pada suasana dan pemandangan kota yang sepertinya biasa.

Mungkin juga karena bukanlah yang paling penting apa yang kita kunjungi, namun dengan siapa kita kunjungi. Seperti halnya bukan apa yang kita makan, tapi dengan siapa kita makan. Ya, begitulah kira-kira.

Palembang, 31 Desember 2013

“Sudah empat tahun di sini, mungkin ini adalah tahun terakhir di kota ini. Harus sudah siap mengangkat ransel dan bertualang lagi”.

Hari terakhir kuliah di Bukit

Kuliah di hari terakhir, bersama teman-teman Palembang yang baik.

Kuliah di hari terakhir, bersama teman-teman Palembang yang baik.

Sudah satu setengah tahun, hari Sabtu saya tersita untuk ini. Mungkin hanya untuk tambahan gelar akademis di belakang nama. Sekedar gaya. Padahal, bertambahlah juga tanggung jawab di tempat bekerja, juga tanggung jawab kepada ilmu pengetahuan. Itu tentu saja bukan hal yang ringan.

Sudah kepalang tanggung saya memasuki dunia akuntansi. Jadi sekalian saja mendaftar di Bukit, mumpung di Palembang ada sekolahnya. Kalaupun sampai di sini, dan beberapa jangka waktu di masa depan, saya merasa akuntansi bukan dunia saya, tidaklah mengapa. Tidaklah ada kata rugi dalam mencari ilmu. Bukankah begitu?

Palembang, 23 Desember 2013, 01:08 WIB, sambil menunggu Derby della Madonnina

“Selamat datang hari-hari Sabtu! Saya merindukan tidur di hari siangmu :D”

Welcome Home, Yvonne!

Sepeda motor saya, Marley alias Yvonne, sekarang sudah sembuh. Setelah direstorasi selama beberapa bulan, Honda C70 bikinan tahun 1980 itu, akhirnya bisa jalan dengan normal. Tidak begitu normal sih sebenarnya, tapi cukuplah untuk ukuran sepeda motor yang sudah lebih 30 tahun lebih umurnya.

Akhirnya ada juga hasilnya, dengan bantuan Pak Kendro (bapak-bapak di kantor yang juga senang sepeda motor tua, terima kasih banyak untuknya), saya menata kembali hati ini, eh, menata si Yvonne. Dimulai dengan mengganti velg dan jeruji, menggosok tromol dan mesin dengan langsol (ini membutuhkan waktu dua minggu), mengecat standar dan foot step, mengganti lampu-lampu, dan memasang spion, legshield, tutup rantai, dan stikernya sebagai pemanis. Sebenarnya, semua itu tidaklah membutuhkan waktu lama. Tapi, setelah dua tahun tidak dipakai, mesinnya benar-benar mati suri. Tidak ada artinya sepeda motor bila mesinnya tidak menyala. Sudah tiga bengkel yang menyerah angkat tangan, bila tetap mempertahankan bentuk asli mesinnya.

Kemudian saya menemukan bengkel dekat Simpang Polda yang bisa memperbaiki. Pemilik sekaligus teknisinya, Pak Darwin, sepertinya cukup paham dengan penyakit motor-motor lama. Cukup dua hari dan biayanya tidak mahal, Si Yvonne sudah bisa dibawa pulang. Lagi, meskipun bangunan bengkelnya kecil dan tidak permanen, kerennya, dia punya kartu nama. Mungkin dia termasuk orang yang menghargai pelanggan dan keahlian yang ia miliki. Saya ingin mengusulkan kepadanya, agar menambah namanya di kartu nama menjadi: Darwin D Fixer.

Berikut ini beberapa foto Yvonne.

Si Yvonne sedang dirawat.

Si Yvonne sedang dirawat.

Yvvone, si Honda C70.

Yvonne, si Honda C70.

Yvonne, si Honda C70.

Yvonne, si Honda C70.

IVON is a four letter word. :)

IVON is a four letter word. 🙂

Sumatera Selatan, 12 November 2013, 22.50 WIB

“Dia boleh dipanggil nama mana saja, Marley atau Yvonne. Yvonne artinya gadis yang cantik.”

Mencari Pempek 10 Ulu

Ini adalah tahun kelima saya merayakan Idul Adha di Sumatera Selatan. Tapi, bila diingat-ingat, belum sekalipun saya salat Id di Masjid Agung Palembang. Jadi, pagi-pagi sekali di hari Idul Adha, saya bersepeda ke masjid tua itu. Udara terasa segar, karena kendaraan bermotor hanya sesekali saja lewat.

Jamaat salat telah mulai memenuhi kawasan masjid, di jalan-jalan, bahkan di atas Jembata Ampera. Walikota dan gubernur membacakan sambutan. Di akhir salat, beberapa keluarga berfoto di depan kolam air mancur masjid. Seorang tukang foto tua mengabadikan gambar mereka, dan langsung dicetak dengan mesin printer portabel, dengan hasil foto yang bagus-penuh pengalaman.

Habis salat, saya biasanya ke kantor untuk memotong-motong daging kurban atau sekedar membantu memasukkannya dalam kantung plastik. Tapi saya jadi ingat dengan tim kami yang penasaran dengan  Pempek 10 Ulu. Beberapa minggu ini, karena ada rekan tim kami yang akan pindah dari Sumatera Selatan, kami rajin mencoba berbagai macam pempek yang terkenal di Palembang, dari Vico, Tince, Eek, juga Saga. Agar bisa bercerita,  setelah meninggalkan Palembang. Hasilnya, pempek-pempek itu enak semua. Ukuran enak mungkin subjektif, tapi bila makanan dari ikan itu kondisinya masih baik dan tidak amis, itu sudah cukup menjadi syarat disebut enak .

Pempek 10 Ulu terkenal enak, tapi tidak seorangpun di antara kami yang pernah mencobanya.  Jadi, di hari Idul Adha itu, dari Masjid Agung sebelum ke kantor, saya mengayuh sepeda ke Seberang Ulu. Seorang ibu-ibu penjual makanan di bawah Jembatan Ampera menunjukkan arah ke 10 Ulu. Saya segera menyusuri jalan yang ditunjukkan, melewati pasar, sambil melihat kiri-kanan, barangkali ada warung pempek yang buka. Tapi, tidak ada sebuah warung pun yang bertuliskan pempek 10 Ulu. Saya terus mengayuh, bahkan sampai 14 Ulu, dan terpaksa kembali karena warungnya tidak ketemu. :’D

Tapi di kawasan Seberang Ulu, banyak bangunan rumah panggung tua. Mereka terlihat masih cantik dan mengagumkan. Itu menjadi pemandangan menarik selama mengayuh sepeda-tanpa-hasil itu.

Sampai kembali di Pasar 10 Ulu, saya kemudian bertanya pada seorang bapak yang baru membuka sebuah toko kelontong. Dia kemudian menunjukkan sebuah warung pempek, di gang samping pasar. Saya kemudian ke sana, memesan beberapa potong pempek, dan mencicipinya. Hasilnya, seperti pempek yang lain, pempek 10 Ulu juga enak. Jadi apa bedanya dengan pempek yang lain? Hampir tidak ada bedanya di lidah saya yang bukan chef ini. Kan, bagi saya, syarat enaknnya sederhana saja. 😀

Sumatera Selatan, di sebuah kabupaten yang dilewati Sungai Komering, 12 November, 22.40 WIB

“Kapan-kapan, ingin menulis tentang directory pempek di Palembang”

beberapa hal lainnya di Medan

Polonia dan Kualanamu

Saya dan Mbak Esty tiba hari Rabu,  yang merupakan hari terakhir Polonia beroperasi, dan kembali ke Palembang hari Sabtu saat Kualanamu beroperasi di hari ketiganya. Kualanamu adalah bandar udara yang baru untuk Sumatera Utara, bergaya modern penuh dengan kaca dan alucopan, terletak di Kabupaten Deli Serdang, kira-kira 30 kilometer dari Kota Medan. Sebenarnya Kualanamu masih dalam tahap finishing, namun telah mulai dipakai. Kereta api menuju ke sana telah beroperasi, tapi stasiunnya yang langsung terhubung dengan bandara masih dikerjakan. Di hari Sabtu itu, banyak pekerja sibuk dengan tugasnya masing-masing, masyarakat yang dibolehkan masuk sampai sebelum ruang tunggu, dan huruf raksasa di bangunan utama bandara yang masih belum lengkap; masih Kualanamu Inter (bukan Kualanamu Internazionale Milan, kan? :D).

Oh ya, tarif kereta api Rp80.000,00 per orang, taksi sekitar Rp160.000,00 sekali jalan, dan bus Rp20.000,00 per orang. Yang menjadi topik yang ramai dibicarakan adalah airport tax sebesar Rp100.000,00 per orang, dan di koran lokal banyak masyarakat yang berpendapat itu terlalu mahal.

Sekali lagi tentang Istana Maimun dan Masjid Almashun

Di jaman masa jayanya, Kesultanan Deli memang menjadi entitas pemerintahan yang makmur. Tanahnya yang luas disewakan kepada perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda, menjadi sumber pemasukan yang luar biasa (ingat kan, tembakau Deli sangat terkenal di Jerman). Walaupun sekarang menjadi cerita kejayaan masa lalu, sejalan dengan hilangnya kekuasaan politik kesultanan dan perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda kemudian dinasionalisasi di era Presiden Soekarno, namun bangunan peninggalan Kesultanan Deli tetap mencatat cerita tersebut. Masjid Al Mashun dikabarkan menghabiskan dana satu juta Gulden untuk pembuatannya. Masjid tersebut bergaya campuran India, Turki, dan Spanyol. Kabarnya, kaca patri di jendela-jendelanya dikirim dari Cina, lampu gantung bikinan Prancis, dan batu marmer diimpor dari Italia. Lantai, dinding, dan tiang-tiang dihiasi dengan motif bunga dan tetumbuhan, khas art nouveau. Saya kagum dengan tiang-tiang di tengah bangunan utama, yang tampaknya dibuat dari dua susun batu marmer dan diukir halus seperti bentuk bunga di ujung atasnya, mihrab yang berbentuk separuh kubah, serta mimbar yang dibuat sebagian besar dari batu marmer. Namun, beberapa bagian bangunan, seperti beberapa kaca patri, telah rusak dan seperti belum diganti dalam waktu yang lama. Mungkin sebabnya, biaya perawatan bangunan semegah itu tentu tidaklah sedikit.

Masjid Al Mashun

Masjid Al Mashun, Medan

Masjid Al Mashun, Medan

Masjid Al Mashun, Medan

Masjid Al Mashun

Masjid Al Mashun, Medan

Sebelas dua belas dengan Masjid Almashun, Istana Maimun juga merupakan bangunan yang cantik. Istana yang berwarna kuning, warna kebesaran Melayu itu, dibuat dengan gabungan bermacam gaya arsitektur. Atapnya bangunan utamanya ceper, dengan jendela kecil-kecil di bagian atas, lengkung-lengkung pada teras dan tangga masuk, dinding yang tebal, jendela dan pintu-pintu utama yang besar, kubah-kubah dengan dasar segi empat, dan lukisan-ukiran corak bunga-tetumbuhan pada ubin lantai, dinding, lubang angin di atas jendela, dan plafon.  Siapapun yang merancang dan membangun istana itu, pasti ingin orang-orang pada kemudian masa tetap dapat melihat keindahan pada bangunan itu.

Istana Maimun, Medan

Istana Maimun, Medan

Istana Maimun

Istana Maimun, Medan

Istana Maimun

Istana Maimun, Medan

Museum Sumatera Utara

Di Sabtu pagi, saya sempat jalan-jalan ke Museum Sumatera Utara. Meskipun di akhir pekan, suasana museum terlihat sepi. Hanya ada beberapa kelompok anak-anak SD yang datang berkunjung. Tidak ada pengunjung umum. Saya saja dikira mahasiswa oleh mbak-mbak penjaganya (Eh iya, saya kan masih berstatus mahasiswa kan? :D).

Tarif memasuki museum adalah Rp1.000,00. Dengan tidak meremehkan nilai uang seribu rupiah, menurut saya, terasa aneh bila memasuki tempat wisata sejarah dengan hanya seribu perak. Akan lebih berarti bila nilainya sedikit lebih besar. Saya pikir,  pengunjung tentu saja tidak akan keberatan, yang mana di lain sisi, karcis bioskop di hari sekarang (yang telah menjadi kebutuhan hiburan hampir wajib orang kota) bisa mencapai Rp50.000,00 untuk satu-dua jam film Holywood.

Ruang display Museum Sumatera Utara dibagi dalam dua lantai. Lantai pertama, di sayap kanan dari depan, diisi dengan benda-benda di zaman prasejarah, kemudian zaman Hindu-Budha, zaman kedatangan dan perkembangan Islam, dan zaman kolonial. Di sayap kiri, dimulai dengan ruang gubernur, yang memajang foto-foto gubernur yang pernah memimpin Sumatera Utara. Kemudian berlanjut pada ruang yang memajang benda-benda dari zaman perjuangan kemerdekaan. Lantai kedua, lebih ke arah budaya masyarakat Sumatera Utara. Di sayap kiri, dipajang alat dan perlengkapan, termasuk pakaian adat, yang digunakan oleh masyarakat Sumatera Utara sehari-hari, dari masa ke masa. Di sayap kanan, terdapat maket-maket rumah adat dari pelbagai suku asli Sumatera Utara, manekin orang Nias, perlengkapan untuk bertani, menangkap ikan, berburu, dan menenun. Di ujung ruangan, terdapat beberapa gambar dan tulisan mengenai suku-suku yang mendiami wilayah Sumatera Utara. Display di ruangan tersebut memperlihatkan kepada pengunjung, bahwa Medan atau Sumatera tidaklah identik dengan Suku Batak. Terdapat bermacam suku dan etnis lain, yang berbeda adat, budaya, bahkan agama. Suku-suku asli terdiri dari Batak, Melayu, Simalungun, Toba, Mandailing, Karo, Pakpak, dan Nias, serta suku-etnis pendatang seperti Jawa, Cina, Arab, dan India.

Kondisi museum cukup terawat dengan baik, kecuali pada beberapa bagian di lantai dua, yang pada salah satu bagian temboknya dipenuhi dengan coretan vandalisme pengunjung. Selain itu, penerangan di lantai dua juga masih kurang. Termasuk juga aroma apek yang tercium yang membuat tidak nyaman. Seorang anak SD berkata ke saya, “Bang, datang sendiri? Kalau naik di atas ngeri, Bang”. Mungkin suasana lantai dua seram bagi mereka.

Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara

Kuliner Medan

Berkunjung ke Medan tentu saja sayang bila tidak mencicip kulinernya yang terkenal, semacam bika ambon, bolu gulung, pancake durian, buah durian, masakan khas etnis Cina, India, dan Arab di Medan. Kami hanya sempat mencicip masakan untuk berbuka di Ramadhan Fair samping Masjid Almashun, dimsum yang ringan-ringan di Resto Nelayan, dan mie aceh Titi Bobrok. Mie aceh kepitingnya enak (dengan satu ekor kepiting) dan tidak sampai menguras kantong karena cukup ditebus dengan uang Rp17.500,00 per porsinya.

Bubur Masjid Raya

Saya sebenarnya tidak begitu suka makan bubur yang tidak manis. Namun, bubur Masjid Raya Medan sudah cukup dikenal dan amat sayang bila tidak mencicipinya. Bubur tersebut merupakan bubur dari beras yang dicampur dengan daging, dilengkapi sayuran semacam urap, dan beberapa buah kurma. Beberapa orang keturunan Arab membuat bubur tersebut dalam belanga yang besar dan mengihidangkan dalam ratusan piring pada meja panjang. Sebelum berbuka, para pengunjung Masjid Raya dapat mengambil bubur tersebut, dengan segelas teh manis, dan berbuka sama-sama pada karpet serta tikar-tikar yang digelar di halaman masjid.

Bubur Masjid Raya

Bubur Masjid Raya

Angkot dan Supir Medan

Supir yang berasal dari Medan sudah terkenal dengan “kepiawaiannya” mengendarai kendaraan umum di kota-kota besar. Bagaimana bila di daerah asal mereka?

Selama di Medan, alat transportasi yang kami gunakan adalah angkot. Menaiki angkot di Medan adalah sebuah horor tersendiri, bagi siapa yang tidak biasa atau yang jantungan. Angkot dikemudikan dengan kecepatan tinggi, menikung tiba-tiba, dan sering kali hampir menyerempet kendaraan lain. Namun kerennya, tidak terjadi sentuhan fisik antar kendaraan (apa ini bahasanya…). Selain itu, sepertinya penumpang juga mesti terbiasa dengan suasana bila supir angkot dan pengendara lain bersitegang di tengah jalan. Namun tenang saja, seperti tipikal orang Medan yang terkenal itu, mereka kadang keras di ucapan saja, tidak sampai main fisik.

Selain angkot, transportasi di Medan ada taksi, bajaj, becak motor (bentor), dan sudako, semacam oplet khas Medan.

Bentor

Bentor

Sudako

Sudako

Teman-kenalan baru

Karena diklat diikuti peserta dari beberapa kantor perwakilan, mau tidak mau tentu saja saya mendapat kenalan dan teman baru. Selama di Medan, seusai diklat di kelas sampai jam lima, mereka menjadi teman jalan-jalan.  Kami biasanya dalam satu kelompok yang bisa membuat angkot atau sudako menjadi penuh dan cepat menjadi akrab.

Palembang, 19 Agustus 2013. Diposting dulu, sebelum lupa.

“Foto-fotonya menyusul ya”

bercerita lagi

Akhir pekan ini rasanya menenangkan sekali. Tugas dua bulan dari kantor sudah selesai, laporannya sudah terbit, dan saya bisa tidur lebih awal setiap hari. Sebenarnya, beberapa pekan belakangan ini tidak perlu begadang, meskipun ada beberapa hari yang mesti dilalui dengan tidur larut malam. Masalahnya, saya masih berusaha keras agar tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Padahal itu seringkali membuat saya menjadi kewalahan bila mendekati deadline serta menjadi jarang makan dan jarang mandi.

Ini pengalaman pertama saya memegang lap*ran keuangan, sesuatu yang biasa saja bagi sarjana akuntansi manapun. Namun, ternyata itu sangat banyak sekali yang mesti dilihat kecocokan angkanya. Bila tidak cocok, saya menjadi penasaran dan akan berpose seperti patung The Thinker, karya Auguste Rodin. Bila ketidakcocokan itu tidak kunjung ditemukan sebabnya, maka rasa penasaran itu berubah menjadi pusing dan ciri fisik lainnya yang menandakan stress ringan. Maka, bila sudah larut malam, saya akan segera tidur dan melupakan semuanya (oh, tentu saja tidak semuanya). Setidaknya itu mengurangi satu masalah, yaitu masalah kantuk. Nah, biasanya setelah tidur, walaupun sebentar, pikiran akan jernih lagi atau setidaknya tubuh menjadi fit kembali. Itu sangat membantu untuk menemukan angka mana gerangan yang membuat semuanya tidak imbang.

Sabtu hari ini tidak ada kelas kuliah karena baru saja ujian semester. Jadi saya ke rumah sakit, yang rencananya sudah lama sekali. Saya menjadi tergugah lagi saat membaca sepotong kisah Christino Ronaldo, yang rela tidak mentato badan karena dia rutin mendonorkan darahnya. Meskipun saya tidak memiliki tato—kecuali bekas imunisasi di lengan kanan—sayapun ingin bisa mendonorkan darah lagi.

Tapi saya datang terlalu siang, jadi saya mencatat nama-nama dokternya saja dan bertanya di mana mereka membuka praktik.

Oh ya, di belakang rumah sakit ada sebuah bangunan lama yang termasuk bagian rumah sakit juga. Saya tidak paham dengan arsitektur, hingga hanya bisa menebak bangunan itu sepertinya bergaya mediteranian. Gayanya seperti bangunan-bangunan di Italy dan Spanyol (seperti di film-film), dengan balkon melengkung dan railing dari besi tempa, jendela yang kecil, serta bagian atas jendela dan pintu yang berbentuk busur. Balkon dan railing itu yang tidak kuku, melengkung cantik dan rapi sekali.

Saya sempat masuk ke dalam, dan menemukan ruang lobby yang tinggi, dengan jendela-jendela kaca yang bisa dibuka tutup dengan tuas-tuas besar, sistemnya semacam cara kerja kaca nako.

Saya tertarik dengan bangunan-bangunan lama. Saya pikir, mereka benar-benar dibuat oleh seniman. Bentuknya indah dan teruji ketahanannya berpuluh tahun. Beberapa bangunan lama yang saya perhatikan, bentuknya selalu rapi dan kokoh. Misalnya, tangga melengkung di Watertoren yang sekarang menjadi Kantor Walikota Palembang, lengkungannya sangat rapi seperti hasil cetakan puding. Itu istimewa sekali, lain dari biasanya. Pasalnya, seringkali bangunan-bangunan publik di masa sekarang, apalagi bila dikerjakan oleh kontraktor lokal, seperti dibuat asal jadi.

Saya kemudian kembali ke tempat parkir, mengeluarkan buku sketch dan alat-alatnya di bagasi sepeda motor saya yang setia, karena selalu diservis dan diganti oli secara rutin. Mereka selalu ada di sana, jadi tidak susah bila memerlukan sewaktu-waktu. Dari pojok halaman di bawah pohon tanjung, saya mulai menggambar. Tapi, saya tidak terlalu betah di situ, karena tempat duduk dari cansteen yang tidak terlalu nyaman. Saya jadi berpikir untuk membeli kursi lipat yang saya lihat di Ac* Hardware. Namun, perlu dipertimbangkan lagi, karena sepertinya itu tidak muat di bagasi Vega Riani, disingkat Vega R, sepeda motor saya. 😀

Seperti di Spanyol kan? :D

Seperti bangunan di Eropa bagian selatan kan? 😀

Bangunan tua di belakang rumah sakit.

Bangunan tua di belakang rumah sakit.

Palembang, 29 Juni 2013, 23:50

“Setelah tulisan ini; saya mungkin akan lebih rutin bercerita. Sekedar menertawakan diri sendiri. Seperti kemarin saya hampir ketinggalan pesawat sewaktu ke Jogja atau hampir kehilangan seluruh data di notebook saya :D”.

kiki ke palembang

Palembang

Monpera, alias Monumen Perjuangan Rakyat

Waktunya bisa tepat seperti itu. Awalnya, jadwal tugas dari kantor mulai di awal pekan, yang mana hari kamisnya adalah hari wisuda. Jadi, saya akan ijin sehari penuh untuk mengikuti seremoni itu. Saat hari-hari (sok) sibuk itupun, tentu saja tidak ada waktu untuk mengajak Kiki jalan-jalan. Jadi, lebih baik rencana mengajak Kiki dibatalkan saja.

Tapi ternyata jadwalnya diundur seminggu, dan itu adalah kabar yang amat baik, meskipun tiket belum di tangan. Saya kemudian mencari tiket di situs-situs maskapai penerbangan dan dapat tiket yang lebih murah separuhnya dibandingkan saat musim lebaran. Voyla!

Kiki tiba dengan kerudung dan koper merah marun, cengar-cengir dengan kawat gigi warna biru, dan logat Mataram. Saya senang sekali melihatnya.

Hari wisuda, kami bermotor ke tempat Mbak Esty, teman kantor sekampus yang juga wisuda. Dari sana, dengan mobil pinjaman Mbak Dewi yang juga menemani Mbak Esty, kami berangkat ke OPI Convention Center. Jalanan ramai, lebih-lebih di Jembatan Ampera, karena hari itu ada dua universitas yang mengadakan seremonial wisudanya di Seberang Ulu.

Acara wisuda berjalan dengan baik. Ada menteri PAN yang hadir dan saya menaruh perhatian akan pesan yang dia sampaikan. Meskipun Kementerian PAN mengurusi masalah aparatur negara, pesannya adalah agar para wisudawan tidak takut untuk menjadi wirausahawan. Pengalamannya yang lulus dari fakultas teknik di sebuah universitas teknik di Bandung dan pulang ke Aceh mendirikan perusahaan konsultan dengan karyawan dua orang mahasiswa saja—yang sekarang tumbuh menjadi ratusan orang—mungkin bisa menjadi inspirasi bagi wisudawan yang hadir.

Selesai acara wisuda, kami istrahat saja, setelah sebelumnya makan siang berempat di seputaran Kambang Iwak. Malam harinya baru kami jalan-jalan, makan martabak HAR di depan Masjid Agung. Malam semakin larut seperti gula dalam air teh panas, tapi bundaran air mancur masih ramai. Lampu-lampu disorot ke arah air mancur dan cahayanya berganti-ganti warna. Kami mampir di sana, dan mengambil beberapa gambar.

Besoknya saya ke kantor terlebih dahulu sampai sore. Habis magrib kami keluar, rencananya mau nonton film. Jadi saya ajak Kiki ke PIM, Palembang Indah Mall. Kami menonton The Raid, film yang sebenarnya tidak mau saya tonton untuk kedua kalinya, karena terlalu banyak adegan berdarah-darah. Tapi mau bagaimana lagi, si Kiki maunya nonton film itu.

Dan, namanya perempuan, entah kenapa tergoda membeli sepatu, padahal sepatunya sudah beberapa pasang. Dua kali kami bolak-balik lantai dua dan lantai tiga karena si Kiki bingung memilih sepatu yang mana. Saya hanya kasih saran dua-duanya bagus, tapi pilih satu saja. Hehe.

Di suatu pagi di hari Sabtu, Kiki ingin sekali melihat markasnya Sriwijaya FC. Komplek Jakabaring Sport City (JSC) sebenarnya bisa dijadikan tempat rekreasi. Selain taman-taman terawat dan jogging track yang bagus, di bagian belakang terdapat danau sebagai wahana olah raga air. Pemandangannya asri, airnya bersih, dan lingkungan disekitarnya juga (masih) terpelihara kebersihannya.

Stadion Gelora Sriwijaya.

Stadion Gelora Sriwijaya. Sama adik ane :D.

Nah, si Kiki diajak ke mana lagi ya? Ke mana lagi ke Palembang, kalau tidak ke Pulau Kemaro!

Setelah dari JSC, dan ke Masjid Agung, kami berjalan kaki menyusuri Benteng Kuto Besak, Monpera, Museum Sultan Badaruddin II, dan mencari perahu di bawah Jembatan Ampera, sambil mengambil-ambil gambar. Setelah sebelumnya melihat kota yang gemerlap dan lalu lintas yang banyak kendaraan mewah, barulah terlihat sisi lain kota di sekitar jembatan, kawasan para pedagang kecil mencari nafkah. Mungkin ini penilaian secara subjektif, tapi kesenjangan ekonomi di kota ini kadang-kadang terlihat dengan kasat mata.

Kami menyewa sebuah perahu getek untuk pergi-pulang Pulau Kemaro dengan tarif Rp60.000,00. Si Kiki kasihan melihat penampilan dan gestur si bapak pengemudi perahu. Dia memang gampang kasihan kepada orang lain. Perjalanan sekitar 30 menit sekali jalan. Getek yang kami tumpangi sesekali terombang-ambing karena perahu lebih besar atau perahu boat lewat dengan begitu kencangnya.

Naik getek di Sungai Musi

Naik getek di Sungai Musi

Di tengah perjalanan, masih di atas sungai, tiba-tiba hujan turun disertai angin. Syukurlah, tidak begitu jauh dari posisi perahu yang kami tumpangi, ada kios bahan bakar terapung. Bapak pengemudi perahu dengan cekatan menambatkan perahunya, menyapa pemilik kios, dan mempersilakan kami agar berteduh di dalam. Saya sebenarnya sedikit waspada—mungkin ini berlebihan—namun saat itu sedang hujan, kami di tengah sungai, dan bisa saja terjadi apa-apa. Namun, pemilik kios hanya penampilannya saja yang seram. Saya sempat berbicara dengannya, dan mengetahui kami dari NTB, dia bercerita bahwa pernah beberapa tahun tinggal dan bekerja di Praya, Lombok Tengah. Terima kasih untuknya, sudah memberi tempat berteduh bagi kami bertiga.

Rumah Rakit, Sungai Musi

Rumah Rakit, Sungai Musi.Tempat kami berteduh sebentar ketika hujan.

Pulau Kemaro adalah sebuah pulau biasa di tengah sungai dengan dermaga kecil. Sepotong ujungnya digunakan sebagai areal wisata, di mana di tempat itu berdiri tempat peribadatan bagi umat Budha, berupa beberapa bangunan wihara dan sebuah pagoda. Terdapat juga satu-dua makam, beberapa patung, dan sebuah pohon beringin yang kabarnya dianggap keramat. Pengunjung biasanya datang untuk menikmati suasana pulau yang sejuk oleh pohon-pohon besar, berfoto di depan pagoda, atau di samping patung panda dan tokoh-tokoh di cerita kera sakti.

Di hari Minggu, hari Kiki kembali ke Mataram, saya sempatkan dia untuk mencoba mie celor. Mie celor yang paling banyak penggemarnya adalah Mie Celor Pasar 26. Pengunjung sangat ramai, dan syukurnya kami mendapat tempat duduk. Tapi, karena banyak sekali yang memesan, mie yang kami pesan tidak kunjung datang. Setelah beberapa kali menanyakan lagi, akhirnya terhidanglah mie celor yang menggugah selera, meskipun hanya sepiring yang dihidangkan dan sepiringnya lagi lupa. Tapi tidak usah cemas, porsi sepiring mie celor bisa untuk dua orang. Dengan mienya yang gemuk, kuah yang kental, dan sebutir telur rebus, itu sangat mengenyangkan bila dimakan sendirian.

Dengan penerbangan jam 10-11 pagi, Kiki pulang ke Mataram. Saya senang bisa sempat mengajaknya berkunjung ke Palembang. Sebentar lagi dia akan lulus kuliah, melanjutkan koasnya, dan mungkin saja tidak lama lagi akan ada yang melamar dia. Kapan lagi saya bisa mengajaknya jalan-jalan ke sini? Meskipun kata si Kiki, Palembang tidak sekeren Mataram; karena tidak ada pantai serta macetnya melelahkan hati dan pikiran bila mau ke mana-mana. 😀

Palembang, 23 Juni 2013
“Tulisan lebih setahun yang lalu. Baru diupload sekarang. :D”