Bertahun lamanya kita terpisah. Sudah sejak aku menginjakkan kaki di ruang-ruang yang penuh meja dan kursi yang berjejer, yang jika pagi sampai siang dipenuhi oleh anak-anak manusia dan konon saat malam dipenuhi anak dedemit, kau telah meninggalkanku. Sejenak, aku juga telah lupa. Lupa akan kehadiranmu yang dulu sangat berharga untuk kutunggu. Dulu. Dulu sekali saat aku masih ingusan, dicari-cari ibuku untuk dipopok saat aku bermain denganmu.
Dan aku tak tahu namamu. Dan aku tidak peduli.
Ingatkah engkau? Dulu kita berusaha mengejar sore bersama-sama. Kita patri jingganya di sebuah frame foto yang terbuat dari buluh-buluh bambu. Lalu kita bawa pulang. Dan malamnya aku tertidur, memimpikan angan-angan kita tentang sebuah album foto, agar setiap sore yang kita tangkap dapat kita simpan di sana. Dan kita dapat mengenangnya saat aku berkumis nanti.
Ingatkah engkau? Lumpur menjadi teman kita. Debu menjadi udara yang kita hirup. Dan aku ingat saat engkau selalu terbatuk menghirup udara malam. “Kau seperti kakekku,” kataku dulu, lalu kita tertawa bersama. Saat matahari pagi bangkit dari kedalaman malam, aku dibangunkanmu, lalu kita terbang mencari pagi. Ya, kau selalu mengejekku karena aku tak pernah bisa membawa pagi pulang. Dia selalu berubah menjadi siang.
Mimpiku adalah mengecilkan bulan. Ya, bulan yang besar itu ingin sekali aku buat masuk ke kantongku. Seperti bintang yang selalu kau beri padaku. Aku pernah bertanya. “Mengapa kau belum pernah memberiku bulan?” Kau hanya tersenyum dan menjawab, “Jika bintang kuambil satu, masih ada yang akan menerangi malam, karena mereka sangat banyak. Jika bulan kuberikan padamu, maka malam akan segelap kolong tempat tidurmu.”
Lalu kau melanjutkan. “Jadilah seperti bulan. Satu-satunya. Istimewa, dan dirasakan istimewa. Jadi jika kau pergi, orang-orang akan merasa kehilangan.”
Tak pernah kulupa bagaimana dulu sawah hijau di depan rumah itu menjadi tempat bersua kita. Lihatlah itu di imajinasiku. Aku yang bertelanjang dada, dengan kaki yang masih goyah, tangan yang begitu mungil, dan celana hitam pendek yang begitu penuh lumpur, berusaha mengejarmu di pematang sawah. “Tunggu aku!” kataku. Aku berlari, lalu jatuh, tapi tetap terbahak-bahak. Lihatlah itu laying-layang yang kau terbangkan untukku. Aku tak pernah bisa menerbangkannya, aku ingat. Kau yang selalu membantuku. Oh iya, angin juga. Tak pernah kulupa.
Kau pasti masih ingat, bukan? Aku yang saat itu menangis. Tak bisa kuhentikan air mataku. Dan kau datang, dengan angin, dengan bintang, dengan hijaunya padi yang belum matang, dengan secuil jingganya senja, dan layangan yang telah robek di bagian tengahnya, untuk menghiburku. “Mari bermain, Kawan,” katamu. “Bermain apa?” tanyaku setenga terisak. Kau tidak menjawab. Kau genggam tangan kecilku, menyeka air mataku, lalu menggendongku. “Apa saja,” katamu. “Apa saja yang kau mau.” Lalu aku berteriak suka, dan kau mulai berlari. Menuju masa depanku. Lalu kau turunkan aku di depan bangunan penuh meja dan kursi itu. Dan baru setelah lama, setelah aku bertemu dengan kawan lainnya yang disebut lelaki dan wanita, yang disebut Ibu dan Bapak Guru, juga kucing dan siput di halaman, dan juga lembaran-lembaran angka, aku sadar. Gendonganmu itu adalah yang terakhir. Dan itu adalah perpisahan.
Kau begitu ramah padaku. Kau begitu baik. Dan aku pun merasakan cinta padamu. Tapi, kau pergi. Atau mungkin, justru aku yang meninggalkanmu?
Cintaku yang entah kemana.
Aku sering membaca tentangmu di buku-buku. Itu sedikit banyak mengobati rinduku, Mereka bicara yang baik-baik tentangmu. Ah, ternyata tidak juga. Akhir-akhir ini aku sering mendengar engkau sakit. Benarkah itu? Aku tak percaya. Dulu kau selalu ceria, aku tahu. Aku ingin membuktikannya. Aku ingin menjengukmu, Cinta. Tapi tak pernah bisa aku menemukanmu. Aku tak tahu engkau dimana. Tak seperti dulu, saat aku sangat mudah bertemu denganmu yang tersenyum.
Kutulis surat ini untukmu. Aku rindu, dan akan kusampaikan sendiri tulisan ini padamu. Tak kupercayakan pada orang lain. Karena di amplopnya, ada bintang yang kau beri, senja di frame yang tak sempat kita masukkan ke dalam album foto, secuil pagi yang berusaha kutangkap tadi, semua puisimu untukku, dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya.
Itulah bukit yang pertama aku harus taklukan. Tunggu, apakah itu sebuah bukit? Dahulu saat kita bermain, mereka penuh dengan hijaunya daun, berserakan bintang-bintang hijau di bawahnya. Tapi apakah itu yang sekarang berada di puncaknya? Kokoh angkuh, lantang menentang yang mau membabatnya. Aku tak akan sanggup. Aku tak akan bisa. Hey, angin datang membantuku, membawa ketapel yang kutembakkan pada si angkuh itu. Dan dengan bintang yang selalu kau beri itu, dia roboh.
“Gunakan laying-layangmu,” kata angin. Aku memakainya di punggungku. Kutambal robekannya dengan foto-foto senja. “Apakah aku tak bisa terbang bebas seperti dulu?” tanyaku pada angin. Dia menjawab muram. “Tidak, kini kau membutuhkan bantuan. Kau tak sebebas dahulu. Lihatlah saja hati dan pikiranmu.”
Hati dan pikiranku? Itukah yang membuat aku sulit mencarimu?
Aku tetap terbang bersama angina dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya. Aku menanyakan tentang cintaku pada angin yang kini kurasa sudah berbeda, tapi dia tak menjawab. Sampai suatu saat, malam tiba. Entah sudah berapa lama aku berada di udara. Malam datang tak sendirian. Bersamanya, bukan datang bintang atau bulan. Tapi awan yang penuh dengan halilintar. Hujan mulai membasahi kemejaku. Dasi merah yang aku pakai sudah hilang entah kemana. “Bulan!” aku berteriak. “Bencikah engkau padaku sampai tak mau membantuku?”
“Jangan berteriak-teriak!” seru angin. “Kau masih punya secuil pagi, bukan?” Dan aku pun teringat olehnya. Dengan susah payah, aku tarik amplop surat ini dari saku celana. Tanpa sengaja, pagi yang sudah kutangkap berhamburan. Jatuh ke bumi. Matahari kembali. Awan, hujan, dan halilintar pergi.
Betapa sulit aku mencarimu. Padahal, kini langkahku sudah tegap. Otot dan tulangku tumbuh dipupuk oleh susu dan semangat untuk menemukanmu. Aku tidak lagi dikejar-kejar ibuku untuk memakai popok. Dan seperti yang kau ramalkan dahulu, kini aku mempunyai rambut-rambut tipis di bawah hidungku. Bahkan, rambutku pun sudah ada yang memutih. Tuhan, tolong aku. Aku ingin sekali menemukannya.
“Di sana!” teriak angin. Aku melihat ke arah yang ditujunya. Kuturunkan laying-layangku dan aku hampiri dirimu. Itukah engkau? Tak lagi kukenali dirimu. Kau memang berada di sana. Keindahan dan senyum ramahmu masih ada di wajahmu. Tapi benarkah itu engkau? Engkau sekarang melemah. Terbaring tak berdaya di trotoar jalan. Darahmu mengucur tak henti-henti. Lumpur menghiasi pakaianmu. Keringat membasahi seluruh badanmu. Tuhan, benarkah ini cintaku? Benarkah ini? Mengapa ia menjadi seperti itu?
“Apa yang terjadi?” tanyaku. “Aku susah payah mencarimu, melawan bukit dan badai dan ombak besar di lautan. Tapi mengapa dengan seperti ini kau menyambutku? Tidakkah kau merindukanku?”
Aku menangis. Aku tak tahu apakah tangisanku hanya pura-pura agar cintaku mengangkat tangannya dan menyeka air mataku atau ini memang tangisan pili. Aku tak tahu. Tolong, jangan mati. Lalu aku teringat tentang semua yang aku bawa. Surat itu, dan amplop yang berisi bintang yang kau beri, senja di frame yang tak sempat kita masukkan ke dalam album foto, secuil pagi yang berusaha kutangkap tadi, semua puisimu untukku, dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya. Kubuka amplop itu, tapi yang tersisa hanya suratku dan puisimu.
“Aku membawa surat untukmu,” kataku. Kau tersenyum, tapi terengah-engah. Angin hanya menatap kita dan membelai dengan segala kemampuannya. Luka di sekujur tubuhmu masih tetap mengalirkan darah. Itu, aku tak bisa menyeka keringatmu, bisakah kau membantu dirimu sendiri?
“Bacakan untukku,” katamu lirih.
“Tak bisa, aku harus menulis namamu di suratku agar semuanya lengkap.” Aku mulai menangis melihatmu yang kehabisan nafas. Kau memberikan isyarat untuk memberikanmu penaku. Lalu, kau menulis sebuah kata yang sangat indah, hanya sembilan huruf, tapi mampu membuat air mataku mengalir lebih deras. Lalu, kubacakan suratku untuknya.
Indonesia tanah air beta
pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
tetap dipuja-puja bangsa.
Di sana tempat lahir beta
dibuai dibesarkan bunda
tempat berlindung di hari tua
sampai akhir menutup mata.
Ternyata aku menyanyi diiring siulan angin. Kau tersenyum, lalu berkata. “Aku akan selalu di sini sampai tidak ada lagi yang mencintaiku. Lagumu untukku menunjukkan bahwa ternyata aku masih dicintai. Aku percaya, dengan cinta, kita akan berlari bersama lagi.”
Dan suratku pun lengkap dengan kalimat terakhirku :
Aku cinta Indonesia.










