Surat Cinta


Bertahun lamanya kita terpisah. Sudah sejak aku menginjakkan kaki di ruang-ruang yang penuh meja dan kursi yang berjejer, yang jika pagi sampai siang dipenuhi oleh anak-anak manusia dan konon saat malam dipenuhi anak dedemit, kau telah meninggalkanku. Sejenak, aku juga telah lupa. Lupa akan kehadiranmu yang dulu sangat berharga untuk kutunggu. Dulu. Dulu sekali saat aku masih ingusan, dicari-cari ibuku untuk dipopok saat aku bermain denganmu.

Dan aku tak tahu namamu. Dan aku tidak peduli.

Ingatkah engkau? Dulu kita berusaha mengejar sore bersama-sama. Kita patri jingganya di sebuah frame foto yang terbuat dari buluh-buluh bambu. Lalu kita bawa pulang. Dan malamnya aku tertidur, memimpikan angan-angan kita tentang sebuah album foto, agar setiap sore yang kita tangkap dapat kita simpan di sana. Dan kita dapat mengenangnya saat aku berkumis nanti.

Ingatkah engkau? Lumpur menjadi teman kita. Debu menjadi udara yang kita hirup. Dan aku ingat saat engkau selalu terbatuk menghirup udara malam. “Kau seperti kakekku,” kataku dulu, lalu kita tertawa bersama. Saat matahari pagi bangkit dari kedalaman malam, aku dibangunkanmu, lalu kita terbang mencari pagi. Ya, kau selalu mengejekku karena aku tak pernah bisa membawa pagi pulang. Dia selalu berubah menjadi siang.

Mimpiku adalah mengecilkan bulan. Ya, bulan yang besar itu ingin sekali aku buat masuk ke kantongku. Seperti bintang yang selalu kau beri padaku. Aku pernah bertanya. “Mengapa kau belum pernah memberiku bulan?” Kau hanya tersenyum dan menjawab, “Jika bintang kuambil satu, masih ada yang akan menerangi malam, karena mereka sangat banyak. Jika bulan kuberikan padamu, maka malam akan segelap kolong tempat tidurmu.”

Lalu kau melanjutkan. “Jadilah seperti bulan. Satu-satunya. Istimewa, dan dirasakan istimewa. Jadi jika kau pergi, orang-orang akan merasa kehilangan.”

Tak pernah kulupa bagaimana dulu sawah hijau di depan rumah itu menjadi tempat bersua kita. Lihatlah itu di imajinasiku. Aku yang bertelanjang dada, dengan kaki yang masih goyah, tangan yang begitu mungil, dan celana hitam pendek yang begitu penuh lumpur, berusaha mengejarmu di pematang sawah. “Tunggu aku!” kataku. Aku berlari, lalu jatuh, tapi tetap terbahak-bahak. Lihatlah itu laying-layang yang kau terbangkan untukku. Aku tak pernah bisa menerbangkannya, aku ingat. Kau yang selalu membantuku. Oh iya, angin juga. Tak pernah kulupa.

Kau pasti masih ingat, bukan? Aku yang saat itu menangis. Tak bisa kuhentikan air mataku. Dan kau datang, dengan angin, dengan bintang, dengan hijaunya padi yang belum matang, dengan secuil jingganya senja, dan layangan yang telah robek di bagian tengahnya, untuk menghiburku. “Mari bermain, Kawan,” katamu. “Bermain apa?” tanyaku setenga terisak. Kau tidak menjawab. Kau genggam tangan kecilku, menyeka air mataku, lalu menggendongku. “Apa saja,” katamu. “Apa saja yang kau mau.” Lalu aku berteriak suka, dan kau mulai berlari. Menuju masa depanku. Lalu kau turunkan aku di depan bangunan penuh meja dan kursi itu. Dan baru setelah lama, setelah aku bertemu dengan kawan lainnya yang disebut lelaki dan wanita, yang disebut Ibu dan Bapak Guru, juga kucing dan siput di halaman, dan juga lembaran-lembaran angka, aku sadar. Gendonganmu itu adalah yang terakhir. Dan itu adalah perpisahan.

Kau begitu ramah padaku. Kau begitu baik. Dan aku pun merasakan cinta padamu. Tapi, kau pergi. Atau mungkin, justru aku yang meninggalkanmu?

Cintaku yang entah kemana.

Aku sering membaca tentangmu di buku-buku. Itu sedikit banyak mengobati rinduku, Mereka bicara yang baik-baik tentangmu. Ah, ternyata tidak juga. Akhir-akhir ini aku sering mendengar engkau sakit. Benarkah itu? Aku tak percaya. Dulu kau selalu ceria, aku tahu. Aku ingin membuktikannya. Aku ingin menjengukmu, Cinta. Tapi tak pernah bisa aku menemukanmu. Aku tak tahu engkau dimana. Tak seperti dulu, saat aku sangat mudah bertemu denganmu yang tersenyum.

Kutulis surat ini untukmu. Aku rindu, dan akan kusampaikan sendiri tulisan ini padamu. Tak kupercayakan pada orang lain. Karena di amplopnya, ada bintang yang kau beri, senja di frame yang tak sempat kita masukkan ke dalam album foto, secuil pagi yang berusaha kutangkap tadi, semua puisimu untukku, dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya.

Itulah bukit yang pertama aku harus taklukan. Tunggu, apakah itu sebuah bukit? Dahulu saat kita bermain, mereka penuh dengan hijaunya daun, berserakan bintang-bintang hijau di bawahnya. Tapi apakah itu yang sekarang berada di puncaknya? Kokoh angkuh, lantang menentang yang mau membabatnya. Aku tak akan sanggup. Aku tak akan bisa. Hey, angin datang membantuku, membawa ketapel yang kutembakkan pada si angkuh itu. Dan dengan bintang yang selalu kau beri itu, dia roboh.

“Gunakan laying-layangmu,” kata angin. Aku memakainya di punggungku. Kutambal robekannya dengan foto-foto senja. “Apakah aku tak bisa terbang bebas seperti dulu?” tanyaku pada angin. Dia menjawab muram. “Tidak, kini kau membutuhkan bantuan. Kau tak sebebas dahulu. Lihatlah saja hati dan pikiranmu.”

Hati dan pikiranku? Itukah yang membuat aku sulit mencarimu?

Aku tetap terbang bersama angina dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya. Aku menanyakan tentang cintaku pada angin yang kini kurasa sudah berbeda, tapi dia tak menjawab. Sampai suatu saat, malam tiba. Entah sudah berapa lama aku berada di udara. Malam datang tak sendirian. Bersamanya, bukan datang bintang atau bulan. Tapi awan yang penuh dengan halilintar. Hujan mulai membasahi kemejaku. Dasi merah yang aku pakai sudah hilang entah kemana. “Bulan!” aku berteriak. “Bencikah engkau padaku sampai tak mau membantuku?”

“Jangan berteriak-teriak!” seru angin. “Kau masih punya secuil pagi, bukan?” Dan aku pun teringat olehnya. Dengan susah payah, aku tarik amplop surat ini dari saku celana. Tanpa sengaja, pagi yang sudah kutangkap berhamburan. Jatuh ke bumi. Matahari kembali. Awan, hujan, dan halilintar pergi.

Betapa sulit aku mencarimu. Padahal, kini langkahku sudah tegap. Otot dan tulangku tumbuh dipupuk oleh susu dan semangat untuk menemukanmu. Aku tidak lagi dikejar-kejar ibuku untuk memakai popok. Dan seperti yang kau ramalkan dahulu, kini aku mempunyai rambut-rambut tipis di bawah hidungku. Bahkan, rambutku pun sudah ada yang memutih. Tuhan, tolong aku. Aku ingin sekali menemukannya.

“Di sana!” teriak angin. Aku melihat ke arah yang ditujunya. Kuturunkan laying-layangku dan aku hampiri dirimu. Itukah engkau? Tak lagi kukenali dirimu. Kau memang berada di sana. Keindahan dan senyum ramahmu masih ada di wajahmu. Tapi benarkah itu engkau? Engkau sekarang melemah. Terbaring tak berdaya di trotoar jalan. Darahmu mengucur tak henti-henti. Lumpur menghiasi pakaianmu. Keringat membasahi seluruh badanmu. Tuhan, benarkah ini cintaku? Benarkah ini? Mengapa ia menjadi seperti itu?

“Apa yang terjadi?” tanyaku. “Aku susah payah mencarimu, melawan bukit dan badai dan ombak besar di lautan. Tapi mengapa dengan seperti ini kau menyambutku? Tidakkah kau merindukanku?”

Aku menangis. Aku tak tahu apakah tangisanku hanya pura-pura agar cintaku mengangkat tangannya dan menyeka air mataku atau ini memang tangisan pili. Aku tak tahu. Tolong, jangan mati. Lalu aku teringat tentang semua yang aku bawa. Surat itu, dan amplop yang berisi bintang yang kau beri, senja di frame yang tak sempat kita masukkan ke dalam album foto, secuil pagi yang berusaha kutangkap tadi, semua puisimu untukku, dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya. Kubuka amplop itu, tapi yang tersisa hanya suratku dan puisimu.

“Aku membawa surat untukmu,” kataku. Kau tersenyum, tapi terengah-engah. Angin hanya menatap kita dan membelai dengan segala kemampuannya. Luka di sekujur tubuhmu masih tetap mengalirkan darah. Itu, aku tak bisa menyeka keringatmu, bisakah kau membantu dirimu sendiri?

“Bacakan untukku,” katamu lirih.

“Tak bisa, aku harus menulis namamu di suratku agar semuanya lengkap.” Aku mulai menangis melihatmu yang kehabisan nafas. Kau memberikan isyarat untuk memberikanmu penaku. Lalu, kau menulis sebuah kata yang sangat indah, hanya sembilan huruf, tapi mampu membuat air mataku mengalir lebih deras. Lalu, kubacakan suratku untuknya.

Indonesia tanah air beta

pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

tetap dipuja-puja bangsa.

 

Di sana tempat lahir beta

dibuai dibesarkan bunda

tempat berlindung di hari tua

sampai akhir menutup mata.

 

Ternyata aku menyanyi diiring siulan angin. Kau tersenyum, lalu berkata. “Aku akan selalu di sini sampai tidak ada lagi yang mencintaiku. Lagumu untukku menunjukkan bahwa ternyata aku masih dicintai. Aku percaya, dengan cinta, kita akan berlari bersama lagi.”

Dan suratku pun lengkap dengan kalimat terakhirku :

Aku cinta Indonesia.

 

Panas Bumi : Inikah Energi Masa Depan Indonesia?


Sudah lebih dari seratus tahun manusia tergantung dengan minyak bumi, gas, dan batu bara. Energi yang dihasilkan oleh sumber tersebut memang masih menjadi primadona sampai sekarang? Tapi sampai kapan sumber daya itu masih bisa bertahan? Ketiga sumber energi itu bukanlahrenewable energy. Bahan bakar fosil tersebut juga mempunyai efek negatif terhadap lingkungan. Jadi, dimanakah energi masa depan kita tersimpan?

Bumi ternyata menyimpan energi yang lain. Terdapat sumber-sumber panas yang dapat dimanfaatkan di berbagai belahan dunia. Sumber panas itu dapat memanaskan air, baik magmatik maupun meteorik, yang terperangkap dalam batuan reservoir. Air tersebut terpanaskan, dapat diproduksi, dan panas dari air tersebut dapat dikonversi menjadi listrik. Itulah energi panas bumi atau geothermal.

Image

Larderello, Italia

Jenis energi ini bukanlah sesuatu yang baru. Italia telah memanfaatkan panas bumi sejak seratus tahun yang lalu. Indonesia juga ternyata tidak kalah dengan Italia. Tahun 1917, pemerintah kolonial Belanda melakukan eksplorasi panas bumi di daerah Kamojang, Garut, Jawa Barat. Sepuluh tahun kemudian, lima sumur eksplorasi dibor dan menghasilkan uap panas. Sampai sekarang, salah satu dari kelima sumur tersebut masih menghasilkan uap, yaitu sumur KMJ-3.

Image

Kamojang, Garut

Kegiatan eksplorasi panas bumi di Indonesia mulai bergeliat lagi pada tahun 1972, saat dimana harga minyak meroket. Dengan bantuan pemerintah Perancis dan New Zealand, dilakukan survei pendahuluan di seantero Nusantara. Hasilnya memberi harapan. Indonesia mempunyai 217 titik yang berprospek menjadi sumber energi panas bumi yang berasosiasi dengan jalur gunung api yang melewati Indonesia, mulai dari pantai barat Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi. Survei selanjutnya menghasilkan penambahan prospek panas bumi Indonesia menjadi 256 lokasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia : Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Potensi listrik yang dapat dihasilkan dari panas bumi tersebut adalah sekitar 28 GW.

Image

Indonesia sering mengalami gempa karena merupakan pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Namun, pertemuan ketiga lempeng tersebut juga ternyata membawa berkah tersendiri. Zona pertemuan lempeng akan menghasilkan aktifitas vulkanisme yang banyak berasosiasi dengan sistem hidrotermal. Itulah mengapa banyak lokasi sumber panas bumi di bumi Nusantara ini.

Di negara yang mempunyai empat musim seperti Italia, Selandia Baru, dan Islandia, panas bumi tidak hanya dimanfaatkan sebagai penghasil listrik semata. Mereka juga memanfaatkan panas bumi dalam kehidupan sehari-hari, seperti pemanas ruangan, sumber panas rumah kaca untuk pertanian, bahkan untuk mencairkan salju di jalan raya. Namun di Indonesia yang sudah mempunyai hawa ‘panas’ hampir setiap tahun, energi panas bumi baru banyak dimanfaatkan sebagai penghasil listrik dan pariwisata.

Panas bumi merupakan penghasil energi yang bersih. Bagaimana tidak, limbah yang dihasilkan hanyalah fluida berupa air, uap, dan sejumlah kecil gas. Uap dan air yang panasnya telah dimanfaatkan menjadi panas pun dapat diinjeksikan kembali ke dalam reservoir di dalam tanah. Energi panas bumi sangat ramah lingkungan. Setelah beberapa lama, air yang diinjeksikan tersebut dapat kembali diproduksi dan dimanfaatkan lagi panasnya. Inilah yang menyebabkan energi panas bumi dikatakan sebagai energi yang berkelanjutan (sustainable energy). Grafik di bawah ini menunjukkan perbandingan emisi CO2 antara sumber energi lain dengan panas bumi. Gambar di bawahnya adalah kondisi kota Reykjavik di Islandia sebelum dan sesudah memanfaatkan energi panas bumi.

ImageImageImage

Pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia belumlah maksimal. Dari potensi sebesar 28 GW, Indonesia baru memanfaatkan 1,196 MW saja. Pemerintah pun mengupayakan untuk terus meningkatkan produksinya. Disebutkan dalam Road Map Pengelolaan Energi Nasional, pemerintah menyebutkan bahwa pada tahun 2014, kapasitas pembangkit listrik dari panas bumi menjadi 4,733 MW dan menjadi 9,5 MW pada tahun 2025.

Tahun 2014 sudah di depan mata. Dalam jangka waktu kurang lebih dua tahun, pemerintah harus meningkatkan kapasitas pembangkit listrik sebesar hampir 3,5 GW jika masih ingin berpegang pada roadmap tersebut. Akankah Indonesia mencapainya?

Masih banyak kendala yang dihadapi dalam pengembangan jenis energi ini. Masalah yang biasanya menghambat adalah lokasi sumber panas bumi yang berada dalam wilayah taman nasional. Bagaimanapun caranya, Indonesia harus mulai bisa menyelsaikan masalah tersebut agar dapat menguntungkan semua pihak. Melihat potensinya, jika dimanfaatkan secara menyeluruh, inilah mungkin jalan Indonesia menuju ketahanan energi di masa depan. Butuh kontribusi semua pihak, baik pemerintah, akademisi, pengembang dan pengusaha, juga masyarakat umum untuk menyukseskan program tersebut. Untuk apa mengaku kaya akan potensi sumber daya jika akhirnya kekayaan tersebut tidak dimanfaatkan?

Sumber :

Click to access Sekilas_tentang_Panas_Bumi.pdf

http://dtwh2.esdm.go.id/dw2007/
http://www.tender-indonesia.com/tender_home/innerNews2.php?id=9121&cat=CT0021
http://www.reuk.co.uk/Larderello-Worlds-First-Geothermal-Power-Station.htm

Maluku


dua belas jam lagi kamu akan sampai di kepulauan Pattimura,

sampaikan salamku padanya,

katakan bahwa sekarang Indonesia telah merdeka,

tapi mungkin dia tak akan terlalu bersuka

karena kita belum sepenuhnya.

adakah kamu tahu kejayaan bangsa mereka dulu?

saat Ternate dan Tidore bersekutu, menjajah kapal-kapal perang Eropa.

dan berkata kapten kapal Ternate,

“Ini negeriku, tak tahu malu kalau kau mencabik rakyatku!”

dan sang Eropa gentar, hingga ke Selatan mereka berlayar.

kini kamu akan ke sana.

sampaikan salamku pada birunya lautan kita.

aku akan menyusulmu,

tidak, aku akan menunggu, dan nanti pergi bersamamu,

ke negeri yang pernah menjelajahi Maluku.

Negeriku Tak Seperti Itu!!!


Image

Yup, negeri saya, negeri Indonesia tidak seperti yang ditulis di atas. Saya berharap yang dimaksud orang yang nulis di truk tersebut bukan negeri ini..^_^

Mungkin, yang bed*bah bukan negerinya..tapi para koruptor dan penjahat negeri yang ga tau malu menguras kekayaan negeri untuk dirinya sendiri. Terkutuklah mereka-mereka itu, yang dengan sengaja, sembunyi-sembunyi, mengobrak-abrik pertahanan mental bangsa dengan hasrat memperkaya diri. Mencoreng harkat dan martabat bangsa, membuat tangis membahana di alam negeri..

TIKUS

aku melihat tikus tadi pagi
mencari keju, mengorek laci
menggigit kayu, mencicit tidak lucu
dan saat akan kutangkap
dia pergi melompat, mencari tempat pengap
dan aku hanya bisa berharap sang tikus terperangkap

aku melihat televisi tadi di siang hari
saat melihat seorang bapak digiring oleh polisi
katanya dia mengambil duit punya negeri
tanpa izin tetapi
dan dia berlari-lari bersembunyi,
berharap tak ditemukan jejak kakinya

lalu, apa bedanya korupsi dan tikus tadi pagi?
mencuri
lari
bersembunyi
untuk perut sendiri.

*gambar diambil dengan kamera hape SE K510i waktu saya dan opan jalan2 ke Depok beberapa waktu lalu..^^

Indonesische Onderwijs (Pendidikan Indonesia)


Salah satu tujuan dari pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia adalah “memanusiakan manusia”. Menjadi manusia seutuhnya, yang tidak hanya peduli terhadap kenyangnya perut sendiri, melainkan juga yang respect terhadap orang di sekelilingnya, mempunyai jiwa empati, mempunyai rasa kekhawatiran juga akan hidup orang lain, dan memiliki integritas yang tinggi dalam bertindak. Tidak hanya membuang muka saat ditanya, tapi mendekati, berani mejawab meski dalam hati. Bersinergi dengan alam, tidak merusaknya dengan kejam. Mengerti bahwa tidak akan ada kehidupan saat alam sudah murka, mengeluarkan semua isinya. Memahami bahwa yang ada di bumi semuanya terhubung dalam satu sistem yang tertata rapi, yang akan sulit kembali seimbang saat ada yang membenci. Ya, pendidikan memang seharusnya memanusiakan manusia. Manusia yang tidak menjadi robot, melahap semua ilmu tanpa mampu mengaplikasikan untuk secercah kesejahteraan. Sudahkah, Indonesia?

Secara teori, setiap institusi pendidikan mengamalkan prinsip itu, Tertulis jelas dalam poster di ruang tamu sekolah bahwa visinya adalah untuk membentuk manusia yang bukan hanya berilmu, tapi jelas berakhlakul karimah, bertindak sesuai dengan rasa kemanusiaan dalam setiap aktivitas. Akan tetapi, dalam prakteknya, ilmu dan akhlak terpuji seolah berjalan di dua gang yang berbeda. Seperti sekuler. Berjalan sendiri, tanpa kenal satu sama lain. Akhlak yang baik hanya tercantum di buku-buku agama, juga kewarganegaraan, tanpa kemasan yang menarik sehingga siswa, untuk menyentuhnya pun merasa enggan. Etika mungkin hanya diajarkan beberapa jam saja dalam satu semester, atau mungkin satu tahun. Kejujuran hanya ada di dalam salah satu bab Kewarganegaraan, itu pun hanya di SD, karena di SMP dan SMA, Kewarganegaraan sudah masuk ke bab yang pure tentang negara. Begitu juga dengan rasa empati, rendah hati, mawas diri, dan sebagainya. Sekolah-sekolah lebih lanjut sepertinya tidak menganggap bahwa itu adalah hal-hal yang penting, menganggap bahwa siswanya sudah dewasa, tahu yang mana hitam, yang mana putih.

Mari kembali pada tujuan pendidikan di atas. Memanusiakan manusia. Sungguh tujuan yang mulia jika kita dapat mengerti maksudnya. Perlu kita garis bawahi kata pendidikan. Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Ya, itulah arti pendidikan secara umum. Ternyata, ilmu tidak bisa dipisahkan dengan ke-spiritual-an.

Tidak sulit untuk mengombinasikan keduanya. Mendidik juga berarti memaksukkan nilai-nilai kehidupan, tidak hanya menyuruh siswa untuk menghirup ilmu-ilmu eksak. Apa gunanya ilmu di tangan orang yang akan menghancurkan dunia? Apa gunanya ilmu di tangan orang yang salah?

Banyak sekali sunnah Rasulullah yang sebenarnya bukan berasal dari perkataan beliau, tapi dari perbuatannya. Seorang teladan akan lebih banyak memberikan contoh daripada berkata tanpa ada isi.Talk less do more. Tidak akan meresap ke dalam hati siswa saat guru banyak berceloteh tentang pembangunan karakter tapi tidak didukung oleh karakter yang baik dari gurunya. Jangan sampai hanya menjadi sekedar motto, kemasan di luar. Atau, saat seorang guru berkata tentang pentingnya kejujuran, tapi saat ulangan, kelas ditinggalkan tanpa pengawasan, padahal sang guru hanya ingin bersantai. Pendidikan butuh waktu, tidak instan. Pendidikan diharapkan memberi bekas jangka panjang, seperti sebuah unsur radioaktif yang meluruh. Bukan masuk ke telinga kanan, lalu keluar secepatnya di telinga kiri. Pendidikan dapat dimulai dari proses melihat sesuatu, berpikir apakah itu pantas dan benar untuk ditiru, lalu berusaha mencari cara untuk menirunya, improvisasi, lalu terciptalah sebuah tindakan yang benar. Proses.

Kemana integritas yang seharusnya menjadi salah satu sifat KEMANUSIAAN yang alami saat ujian nasional berlangsung? Itu hanya satu contoh nyata. Seluruh pihak di sekolah sibuk, ingin siswa-siswanya lulus dengan nilai ajaib, menggembirakan, dan membanggakan dibanding sekolah lainnya. Jalan yang benar-benar singkat pun ditempuh. Jika ada kesempatan mencari kunci jawaban sebelum soal dibagikan, maka itu dianggap sebuah anugerah. Sekolah-sekolah ingin memperlihatkan kepada publik bahwa sekolahnya berstandar baik, walau dengan cara busuk. Akan tetapi, itu hanya sebagian, tidak semua sekolah seperti itu.

Dan sekarang, saat semua sistem pendidikan belum seluruhnya terpenuhi, maksud saya, pendidikan yang memanusiakan manusia, judul-judul SEKOLAH BERSTANDAR INTERNASIONAL muncul seperti cendawan di musim hujan di sekolah-sekolah. Semuanya seolah berlomba memproklamasikan dirinya ke hadapan publik bahwa sekolahnya adalah sekolah yang sudah mampu bersaing dengan dunia luar. Berbagai fasilitas yang menunjang kegiatan belajar mengajar pun dimasukkan ke dalam anggaran belanja sekolah, mulai dari infocus, komputer, meja-meja yang bagus, dll. Dan semua itu, tidak membutuhkan biaya yang sedikit, membuat biaya masuk dan sekolah di sana sangat tidak murah. Biaya bulanan yang harus dikeluarkan oleh orang tua bisa mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan. Lalu, dimana orang miskin bisa sekolah?

Oh, bukannya pemerintah sudah membuat sebuah program hebat, wajib belajar 9 tahun? Program itu membuat sekolah-sekolah dasar dan menengah pertama gratis. Hmm, coba ditilik lebih lanjut. Ke-gratis-an program itu hanya untuk sekolah tak ber-SBI. Jika seperti itu, coba bayangkan jika semua sekolah berlomba-lomba mendapatkan titel SBI, dimana mereka sekolah? Kenapa dengan SBI? Pemerintah menggratiskan sekolah, maka tidak ada lagi kucuran dana dari orang tua yang bisa sekolah minta, karena itulah banyak sekolah yang mencari cara lain, SBI-lah salah satunya.

Zaman kolonial pun, orang miskin sulit untuk sekolah, lalu apa bedanya dengan sekarang? Seperti deja vu, kita kembali ke zaman dulu. Memang ada yang mengatakan bahwa sejarah itu adakalanya berulang, berputar seperti lingkaran di poros yang sama. Zaman dulu, sekolah untuk orang-orang Belanda dan pribumi yang ningrat. Sekarang, pendidikan berkualitas juga untuk orang-orang berduit. Sejarah berulang bukan?

Banyak civitas academica yang menggunakan label itu, padahal kualitas tidak terjaga. Ya, seolah-olah hanya mengikuti pasar penjualan. Ingin menggunakan bahasa asing saat pembelajaran, padahal gurunya sendiri terbata-bata dalam berbahasa inggris. Menambah fasilitas, tetapi fasilitas yang lama terabaikan, dari mulai kelas bocor, bangku yang tidak layak lagi, dan masalah lainnya. Padahal, ada sebuah fakta unik di negeri ini. Tahun ini, yang menjadi JUARA SATU saat Ujian Nasional untuk SD, SMP, dan SMA adalah siswa dari sekolah yang BUKAN berlabel hebat itu. Dia berasal dari sekolah biasa-biasa saja. Dan yang paling penting, sepertinya banyak sekolah yang menganggap bahwa kegiatan ekskul itu tidak terlalu penting lagi.

Ya, study oriented sekali. Birokrasi seperti dipersulit jika siswa ingin mengadakan suatu acara. Kegiatan ekskul dibatasi, begitu juga dananya. Hanya untuk meminjam bangku dari dalam kelas saja, susahnya bukan main, mesti ada surat jauh-jauh hari. Bahkan, ada sekolah yang untuk beberapa waktu di awal tahun pelajaran tidak memperbolehkan adanya kegiatan ekskul. Dan hasilnya mungkin tidak diketahui oleh sekolah. Karena tidak ada penyalur kegiatan, siswa-siswa baru akhirnya hanya nongkrong-nongkrong sepulang sekolah, sambil mencoba beberapa batang obat yang katanya pengobat stres.

Kreatif? TIDAK sama sekali. Pemikiran-pemikiran fresh dari murid baru di-stop. Pengalaman untuk organisasi? Ada, tapi agak terlambat. Sosialitas? Berkurang drastis. Persaudaraan? Apalagi.

Beberapa teman saya mengatakan bahwa, semakin lama, aktivitas siswa sepulang sekolah sudah jarang ditemukan. Kecenderungan siswa adalah belajar di sekolah, lalu les, atau langsung pulang. Organisasi dan pendidikan sosial di masyarakat semakin terlupakan. Padahal, banyak sekali nilai yang didapatkan di kedua aktivitas itu, yang, SAYA YAKIN akan ada manfaatnya di kemudian hari.

Pendidikan Indonesia, memanusiakan manusia. Akankah manusia kita hilang suatu saat nanti, saat setengah dari metode pembelajaran itu menguap entah kemana?

Entah, saya tidak tahu.

Dahsyatnya Krakatau!!!!


Pas kemarin lagi searching2 buat ngerjain tugas bahasa inggris, saya nemu link yang isinya berbagai kesaksian dan cerita di balik meletusnya Krakatau di tahun 1883. Hmm, ceritanya menyeramkan, dunia serasa mau kiamat. Saya ga tau tentang kebenaran cerita dan kesaksian di web ini. Tapi satu hal yang pasti, sebuah gunung meletus saja, atau gempa si suatu daerah saja, atau banjir dan tsunami sekali saja, sudah sangat menakutkan, bagaimana jika semua gunung, bumi, dan laut bergejolak dalam satu waktu yang sama? Satu hari yang sama. Yang dijanjikan Allah Subhanawata’ala. Yup, hari Kiamat.  Kita akan sangat tegas, DAHSYAT MENCEKAM.

Bagi yang mau baca artikel yang saya maksud, klik di sini.

The Legend of Krakatau


Image

Krakatau in General

Indonesia is located between some world plates, like Indo-Australia plate, Eurasia plate, Pacific plate, and Philipine plate. That make Indonesia have a lot of volcanoes. In Sumatera, there are Kerinci, Marapi, and Sibayak. In Java, there are Merapi, Tangkuban Perahu, Merbabu, Kelud, and many more. In Nusa Tenggara, there are Kelimutu, Tambora, and Rinjani. And between Sumatera and Java, on the Sunda Strait, there is a little volcano, but very powerful.

It’s name is Krakatau. Krakatau, or spelled Cracatoa in English is a little island that have a little mountain (also named Krakatau or Rakata) and this mountain is still active until now. In 1883, Krakatau has erupted and that eruption was the biggest in the history.

Indonesia has over 130 active volcanoes, the most of any nation. They make up the axis of the Indonesian island arc system, which was produced by northeastward subduction of the Indo-Australian Plate. A majority of these volcanoes lie along Indonesia’s two largest islands, Java and Sumatra. These two islands are separated by the Sunda Straits, which are located at a bend in the axis of the island arc. Krakatau is located on this strait, between Java and Sumatera and that is directly above the subduction zone of the Eurasian Plate and the Indo-Australian Plate where the plate boundaries make a sharp change of direction, possibly resulting in an unusually weak crust in the region. Just imagine a triangle. If Krakatau is on that triangle, Krakatau is located on the top at that triangle, at the corner.

There are four theory about the origin of the name of this island. The first theory is the name was taken from the imitating voice made by “cockatoos”. But this theory is unlogic because cockatoos live in East Indonesia, like Papua or Maluku. The second theory, Krakatau was taken from Sanskrit name for lobster, karkata. Rakata also means crab in older Javan languge. The third theory, maybe Krakatau was taken from Malay word. The closest Malay word is kelakatu, meaning “white-winged ant”. Furneaux points out that in pre-1883 maps, Krakatau does somewhat resemble an ant seen from above, with Lang and Verlaten lying to the sides like wings.

Van den Berg (1884) recites a story that Krakatau was the result of a linguistic error. According to the legend, a visiting ship’s captain asked a local inhabitant the island’s name, and the latter replied, “Kaga tau” (Aku nggak tau)—a Jakartan/Betawinese slang phrase meaning “I don’t know”.

Before the 1883 eruption, Krakatau comprised three main islands: Lang, Verlaten, which were edge remnants of a previous very large caldera-forming eruption, and Krakatau itself, an island 9 km  long by 5 km wide. Also there was a tree-covered islet near Lang named Poolsche Hoed (“Polish Hat”, apparently because it looked like one from the sea) and several small rocks or banks between Krakatau and Verlaten. There were three volcanic cones on Krakatoa: Rakata, (820 m) to the south; Danan, (450 m) to the north; and Perboewatan, (120 m) to the north (Danan may have been a twin volcano). Look at the picture, as I said before, there is a theory said that Krakatau’s name maybe was taken from Malayan name for white winged ant. Is this picture like an ant?

Pre-1883 History

  1. 416 Event

The Javanese Book of Kings (Pustaka Raja Jawa) records that in the year 338 Saka (416 AD):

“…There was a sound of thunder that boomed from Mount Batuwara. There is also a frightening shock earth, total darkness, thunder and lightning. Then came the wind and rain storm and all the terrible storms, darken the whole world. A big flood came from Mount Batuwara and flows to east to Mount Kamula… When water drown it, the island of Java, separated into two, creating an island of Sumatra…”

But, there is no geological evidence for this eruption.

  1. 535 Event

The scientist said that in 535, Krakatau explode. They said that this explosion caused a global climate change. David Keys, Ken Wohletz, and others have postulated that a violent volcanic eruption, possibly of Krakatoa, in 535 may have been responsible for the global climate changes of 535-536. Keys explores what he believes to be the radical and far-ranging global effects of just such a putative 6th-century eruption in his book Catastrophe: An Investigation into the Origins of the Modern World. Additionally, in recent times, it has been argued that it was this eruption which created the islands of Verlaten, Lang, and the beginnings of Rakata—all indicators of early Krakatoa’s caldera’s size. To date, however, little datable charcoal from that eruption has been found. So, he said that this explosion separated ancient Krakatau island to be three main island.

The other scientist mentions that Krakatoa was known as “The Fire Mountain” during Java’s Sailendra dynasty, with records of seven eruptive events between the 9th and 16th centuries. These have been tentatively dated as 850, 950, 1050, 1150, 1320, and 1530.

  1. 1680

In 1679, Dutch mining engineer, Johann Wilhem Vogel passed through Sunda Strait in his journey to Sumatera and saw that Krakatau Island was very beautiful, green, and healthy. But, when he returned to Java in 1681, he wrote in his diary :

“…I saw with amazement that the island of Cracketovv, on my first trip to Sumatra [June 1679] completely green and healthy with trees, lay completely burnt and barren in front of our eyes and that at four locations was throwing up large chunks of fire. And when I asked the ship’s Captain when the aforementioned island had erupted, he told me that this had happened in May 1680 … He showed me a piece of pumice as big as his fist.”

This diary told us that in 1681, there was an explosion of Krakatau. But we can not know how big the explosion was.

Explosion in 1883

The first activity happened in 1880. Mount Perbuatan producecd lava, but its not exploded. The vulcanic activity stop until 1883. In May 1883, Mount Rakata exploded. This explosion was not so big. But, this was an indication that this island active again and will explode someday. This activity didn’t stop until the big explosion in August.

That prediction was right. In August 27th 1883, Mount Rakata exploded. The explosion was very big and destructive. The blast was the biggest, loudest voice and the most devastating volcanic event in modern human history. Eruptive sound audible to 4600 km from the center of the eruption and can even be heard by 1/8 people of the earth at that time. The Guinness Book of Records recorded the explosion of Krakatau as the most powerful explosion in recorded history.

Krakatoa explosion had thrown rocks of volcanic pumice and ash with a volume of 18 cubic miles. The bursts of volcanic ash reaches 80 km. Hard objects are scattered into the air fell on the plains of Java and Sumatra, even to Sri Lanka, India, Pakistan, Australia and New Zealand. That was very amazing because as we now, the distance between Sumatera and New Zealand is very far. Krakatau explosive force equivalent to 200 megatons of TNT and 13,000 times greater than the Little Boy. Tsunami as high as 40 meters. Tsunami was also felt to Hawaii and the West Coast of America. After the explosion, the earth became dark because sunlight can’t penetrate the volcanic ash. Average global temperatures fell by as much as 1.2 degrees Celsius in the year following the eruption. Weather patterns continued to be chaotic for years and temperatures did not return to normal until 1888.

Image

One hundred sixty five settlements disappeared. One hundred thirty two villages were destroyed. Mount Danan, Mount Perbuatan, and a half of Mount Rakata were destroyed. The official death toll recorded by the Dutch authorities was 36,417, although some sources put the estimate at more than 120,000. Mostly caused by the tsunami. There are numerous documented reports of groups of human skeletons floating across the Indian Ocean on rafts of volcanic pumice and washing up on the east coast of Africa, up to a year after the eruption.

Anak Krakatau

Fourty years after the eruption of Mount Rakata, actually in 1927,  a volcano known as Anak Krakatau emerged. The eruptions were initially of pumice and ash, and that island and the two islands that followed were quickly eroded away by the sea. Eventually a fourth island named Anak Krakatau broke water in August 1930 and produced lava flows faster than the waves could erode them. Of considerable interest to volcanologists, this has been the subject of extensive study.

Every year it be higher around 20 feet and 40 feet wider. This is because the mountain still produces volcanic material, like pumice, ash, even lava. Today the height of Anak Krakatau reach about 300 meters above sea level, while Mount Krakatoa previously had 813 meters high above sea level.

Anak Krakatau has grown at an average rate of five inches (13 cm) per week since the 1950s. This equates to an average growth of 6.8 metres per year; the island is still active, with its most recent eruptive episode having begun in 1994. Quiet periods of a few days have alternated with almost continuous Strombolian eruptions since then, with occasional much larger explosions. The most recent eruption began in April 2008, when hot gases, rocks, and lava were released. Scientists monitoring the volcano have warned people to stay out of a 3 km zone around the island.

Image

Ini tugas kuliah bahasa Inggris saya..

hhe, sumbernya banyak dari wikipedia..

maap kalo b. inggris sayanya jelek..

Ingin Aku Bergabung Denganmu, Pemuda Bangsa!


aku ada di sini.
di negeri yang penuh dengan janji-janji.
dari ibu bapak.
dari kakek nenek.
dari guru dan dosen.
dari mahasiswanya.
dari calon-calon pejabat negeri.
tak ketinggalan dari presiden, orang tertinggi
dan belum tentu semua terpenuhi.

aku berdiri di sini.
di bukit tandus yang penuh dengan duri
melihat ayahku yang bekerja tanpa henti.
dia kumpulkan sebotol, dua botol, tiga botol, sampai tak terhitung botol plastik bekas minum pejabat yang sedang rapat.
ayahku ada di sana.
di bukit subur di seberang bukitku.
tapi tumbuhannya sedikit berbeda, Kawan.
mereka layu dan bermacam-macam.
juga berwarna-warni.
banyak sekali bukit macam itu di negeri ini.
bahkan katanya, beberapa tahun lalu, bukit seperti ini pernah longsor di Cimahi.

Aku masih di bukitku yang kering.
dan kulihat jauh di sana, di negeri yang sama,
ibuku mengantri panjang sekali untuk mendapat seliter nasi.
juga sama dengan ibu kawanku.
ibu kawanku yang satunya.
dan juga tetangga-tetangga.
dan nenekku hampir terinjak-injak demi mendapat 3 lembar kertas merah.
sedang kakekku, dia terbatuk lemas di serambi.
tak kuat lagi membantu kami.

Aku masih belum beranjak.
meratapi nasib kami di atas bukit yang terpecah tanahnya.
lalu kulihat adikku.
dia sangat lucu dan memakai celana merah.
dan kemeja putih.
topinya, yang juga merah menutupi pitak di kepala.
wajahnya begitu cerah, mengangkat pensil murah di tangan kanannya.
tapi dia tak tahu itu murah.
dia hanya ingin sekolah.

Bukitku mungkin bosan melihatku terus terpaku.
tapi aku tak peduli, tetap di sini.
tiga detik aku menangis, aku melihat mobil-mobil melaju di jalan raya, diiringi barisan polisi.
itu mobil para orang tinggi, kataku.
semoga mereka melihat ibu, ayah, kakek, nenek, dan adikku,
juga ibu kawanku,
ibu kawanku yang satunya,
dan juga tetangga-tetangga
sejelas aku melihat semua dari atas sini.
melihat penderitaan kami.
semoga mereka teringat akan kami dan negeri ini saat mereka mau korupsi.
juga ingat tentang mati.

Lalu, saat aku akan pergi,
aku melihat kau, Saudaraku.
menyimak pelajaran di kelas yang kelam.
memperhatikan semua kata dari dosenmu yang tampak tua.
Mencatat setiap nama dari sejarah Fisika.
menghitung semua angka dari Integral dan Diferensial
dan lalu menyatakan aspirasi tentang kemajuan negeri ini pada dosen yang tak punya rasa nasionalisme.
kau membuatku kagum.

Lalu kau berkumpul dengan teman-temanmu.
mengenakan ikat kepala dan mengacungkan tangan, membawa bendera merah putih.
ya, kau meneriakkan nama kami.
nama semua keluargaku.
nama negeri kita.
dan aku terharu saat kau berkata,
“Hidup Rakyat Indonesia!!!”
Ya, ya!!
itu kita, Saudaraku.
kita rakyat Indonesia.
pewaris negeri ini, dari para pahlawan di zaman dulu.
kenapa kau menyebut-nyebut kita?
dan kemudian aku tahu.
kau adalah pemuda bangsa.
calon pemimpin bangsa.

aku akan turun dari bukitku.
aku akan berlari menyongsongmu..
membantumu membangun negeri ini.
negeri kita.
aku ingin kembali pada ibu, ayah, kakek, nenek, dan adikku.
aku ingin bertatap muka denganmu, Saudaraku.
calon pemimpin bangsa!!

Tapi ternyata aku tak bisa.
aku lupa.
kemarin aku baru saja mati.
ditabrak lari.
Tolong jaga adikku.
Bimbing ia agar menjadi sepertimu.

Menjadi INDONESIA !!!


ada yang memar, kagum banggaku
malu membelenggu
ada yang mekar, serupa benalu
tak mau temanimu

lekas,
bangun tidur berkepanjangan
menyatakan mimpimu
cuci muka biar terlihat segar
merapikan wajahmu
masih ada cara menjadi besar

ada yang runtuh, tamah ramahmu
beda teraniaya
ada yang tumbuh, iri dengkimu
cinta pergi kemana?

memudakan tuamu
menjelma dan menjadi indonesia

Efek Rumah Kaca-Menjadi Indonesia

Indonesia adalah negeri penuh pesona. Negeri luas di Asia sebelah tenggara. Membentang dari Aceh di ujung barat sampai ke timur, bumi Papua. Silih mengisi ruang dari Sulawesi di utara, sampai selatan, Nusa Tenggara. Ada ratusan suku bangsa, dan juga bahasa unik mereka yang menjadi masing-masing tanda. Semua terasa bahagia dengan segala harmonisasi yang tercipta. Tidak ada perang antar suku, bentrokan antar ras, kebencian antar daerah, karena ini Indonesia, dengan kesederhanaan dan keramahannya yang selalu terjaga.

peta-indonesia

Hayu ah!!! Kita menjadi pemuda Indonesia yang bukan hanya sekedar pemuda FOLLOWER, tapi juga jadi INSPIRATOR buat yang lain.