<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Luqman Mohammad on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Luqman Mohammad on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@recentlyfinished?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*r7Q4k_HiqlVJFD6oG61VNg.png</url>
            <title>Stories by Luqman Mohammad on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@recentlyfinished?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Tue, 28 Jul 2026 16:41:51 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@recentlyfinished/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[McConaissance ala eleventwelfth]]></title>
            <link>https://medium.com/sua-suara/mcconaissance-ala-eleventwelfth-6ab6fe62b2ff?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6ab6fe62b2ff</guid>
            <category><![CDATA[musik]]></category>
            <category><![CDATA[music-review]]></category>
            <category><![CDATA[music]]></category>
            <category><![CDATA[ulasan-musik]]></category>
            <category><![CDATA[sua-suara]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luqman Mohammad]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 04 Jul 2026 12:54:12 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-07-04T12:54:12.600Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Semangat renaissance ala Matthew McConaughey yang muncul pada album sophomore dari eleventwelfth, “11”</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*tpolxwatX6ZaNkSN94pk_Q.jpeg" /><figcaption><a href="https://x.com/eleventwelfth/status/2066477577842422247?s=20">Cover album eleventwelfth, “11”</a></figcaption></figure><p>Walau tidak terkait secara langsung, ada similaritas antara <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Matthew_McConaughey">Matthew McConaughey</a> dan <a href="https://www.instagram.com/eleventwelfth/">eleventwelfth</a>.</p><p>Medio 2011 hingga 2014, publik pernah melihat <em>renaissance</em> karir yang paripurna dari McConaughey. Puluhan judul film sudah ia bintangi, dan banyak diantaranya merupakan film dengan jutaan penonton, meski kebanyakan punya genre yang sama: komedi romantis. Film-film yang berpakem kisah cinta dengan alur yang cukup mudah ditebak. Walau genre tersebut adalah sumber uang yang mudah dan cepat, tapi itu tak membuatnya puas: <a href="https://www.indiewire.com/features/general/matthew-mcconaughey-mcconaissance-interview-exaggeration-1201979445/">ia memutuskan mengambil peran-peran yang fokus pada sisi artistiknya, untuk membuatnya menjadi aktor yang <em>really commit to the craft</em>.</a></p><p>McConaughey kemudian kembali dengan film dan serial yang berkebalikan 180 derajat dengan peran-peran sebelumnya: <strong><em>Mud</em></strong>, <strong><em>Dallas Buyers Club</em></strong>, <strong><em>True Detective</em></strong>, hingga <strong><em>Interstellar</em></strong>. Tiga judul terakhir kemudian membuktikan perjudiannya berhasil, dengan kualitas akting yang layak diganjar Academy Awards dan Emmy Awards. Atas kebangkitan karirnya tersebut, Hollywood pun menelurkan frasa baru: <em>McConaissance</em>.</p><p>Selayaknya McConaughey, eleventwelfth juga mengalami problem pre <em>renaissance </em>yang mereka dapatkan. Sejak debut, musik mereka sudah diklasifikasikan dan dikategorikan masuk dalam genre midwest emo. Mendengar musiknya, tentu tak salah. Yang kemudian jadi soal adalah labeling tersebut entah bagaimana bermutasi dan merambah frasa <em>“wong kalahan”</em>. Sebuah istilah malas yang mereduksi identitas musik mereka.</p><p>Hal inilah yang nampaknya coba dibongkar oleh rilisnya album <em>sophomore</em> milik Eleventwelfth, <strong><em>11</em></strong>, yang dirilis di akhir Juni 2026 kemarin. <a href="https://x.com/eleventwelfth/status/2066477577842422247?s=20">Album ini adalah sebuah proyek ambisius sebagai bagian pembuka dari dobel album yang bagian selanjutnya akan rilis pada akhir 2026.</a></p><p><em>Sonically</em>, <strong><em>11</em></strong> masih berangkat dari nafas yang dipakai pada lagu-lagu yang sudah mereka telurkan sebelumnya: <em>math rock</em>. Yang membuatnya jadi berbeda adalah bumbu tambahan secara sound yang dihadirkan, sehingga formula album ini tak hanya mengandalkan lick-lick gitar yang kompleks nan <em>twinkly</em> khas <em>math rock</em> semata.</p><p>Nuansa produksi elektronik terdengar padat dengan <em>samples</em>, <em>loop</em>, hingga <em>autotune</em> pada vocal dimunculkan, dan ditambah riff-riff gitar dan <em>scream vocal</em> yang diadopsi dari post-hardcore juga saling berpadu. Formula ini yang ditonjolkan pada <em>lead single</em> yang sudah dirilis sebelumnya: <strong><em>ascending faster than before — ACT I : The Beginning</em></strong>.</p><iframe src="https://cdn.embedly.com/widgets/media.html?src=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fembed%2FobszYR_LW58%3Ffeature%3Doembed&amp;display_name=YouTube&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3DobszYR_LW58&amp;image=https%3A%2F%2Fi.ytimg.com%2Fvi%2FobszYR_LW58%2Fhqdefault.jpg&amp;type=text%2Fhtml&amp;schema=youtube" width="854" height="480" frameborder="0" scrolling="no"><a href="https://medium.com/media/eeefb7151a58691ebb3f6dc51fae6f75/href">https://medium.com/media/eeefb7151a58691ebb3f6dc51fae6f75/href</a></iframe><p>Yang paling menarik justru adalah nuansa complextro yang biasanya terdengar pada lagu-lagu the Postal Service dan Porter Robinson muncul pada lagu <a href="https://youtu.be/4QVJUK_mSZQ?si=_wGPbQfrz8ELDEVh"><strong><em>to fathom the throes — ACT III : The End</em></strong></a>, serta kolaborasi dengan <a href="https://www.instagram.com/officialbirubaru/">Biru Baru</a> pada <a href="https://youtu.be/kpYHZefFOII?si=IpoSfoYvkqr20f7p"><strong><em>navigate — ACT II : The Middle</em></strong></a>; seolah mendengarkan alter-ego eleventwelfth apabila mereka terlahir pada universe EDM, dengan drum elektronik dan bass sound yang mendominasi.</p><p><a href="https://x.com/eleventwelfth/status/2067215237011616063?s=20">Dalam rilis resminya</a>, tema besar album <strong><em>11</em></strong> menurut eleventwelfth merupakan dialog tentang mimpi-mimpi, pengorbanan, dan proses “melepaskan” antara sang protagonis dan kesadaran <em>subconscious</em>nya, melalui metafora <em>aviation</em> sebagai perantara. Terbukti dalam beberapa lagu terdapat kosakata metafora yang cukup kompleks dan harus dipahami dengan membuka kamus terlebih dahulu.</p><p>Walau begitu, secara harfiah, frasa <em>“wong kalahan”</em> yang selama ini dilekatkan kepada eleventwelfth juga secara <em>subconsciously</em> coba mereka lawan. Salah satunya terbukti dari bagaimana <strong><em>far away from here — ACT I : The Setup</em></strong> dibuka: <em>“As the sun goes down / I plead for my life to be turned around / Watch me as I rise / Up to the velvet skies / Drift between the lines / As it passes by”</em>. Lirik bernuansa positif ini tentu tidak akan muncul dari pemikiran <em>“wong kalahan”</em> yang cenderung <em>nrimo</em> dan meromantisasi keadaan sulit yang mereka hadapi.</p><iframe src="https://cdn.embedly.com/widgets/media.html?src=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fembed%2FKrVdFrJf6Iw%3Ffeature%3Doembed&amp;display_name=YouTube&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3DKrVdFrJf6Iw&amp;image=https%3A%2F%2Fi.ytimg.com%2Fvi%2FKrVdFrJf6Iw%2Fhqdefault.jpg&amp;type=text%2Fhtml&amp;schema=youtube" width="854" height="480" frameborder="0" scrolling="no"><a href="https://medium.com/media/6112c319b730a264d0f96416f9b0ab33/href">https://medium.com/media/6112c319b730a264d0f96416f9b0ab33/href</a></iframe><p>Satu hal lain yang membuat album <strong><em>11</em></strong> ini menarik adalah adanya <em>instrumental tracks</em> layaknya EP dan album perdana eleventwelfth. Kali ini, track instrumental paling menarik adalah <a href="https://youtu.be/ZLZZ-2yT-n4?si=dWlBqwFgC3f8VfTq"><strong><em>turbulence — ACT I : The Departure</em></strong></a>, track instrumental yang padat dengan ketukan drum khas <em>math rock</em>, isian gitar yang <em>twinkly</em> berdistorsi, dan dilapisi <em>electronic synth</em> dengan <em>glitch</em>, yang seolah merepresentasikan benang merah album <strong><em>11</em></strong> seutuhnya. Dan album ini kemudian ditutup dengan <a href="https://youtu.be/Bd93UBkHQxw?si=DPutKrWGUYlIy6c-"><strong><em>communicate — END CREDITS : The Cliffhanger</em></strong></a>, dimana choir vocal pada sepertiga akhir lagu menutup album ini dengan megah.</p><p>Secara pencapaian jika kita melihat bagaimana eleventwelfth mencoba lepas dari tag <em>midwest emo</em> dan <em>“wong kalahan”</em>, tentu bisa dibilang ini adalah hasil yang cukup sukses. Bagaimana mereka mencoba keluar dari zona nyaman dan melepas label yang melekat, seperti yang dilakukan oleh McConaughey sebelumnya. Meski tak akan ada yang salah jika mereka mencoba <em>play it safe</em>, tetap berjalan pada pakem dan formula itu-itu saja yang membentuk mereka <em>in the first place</em>, namun sedikit keberanian untuk mencoba hal baru nyatanya mampu mengeluarkan dimensi berbeda yang sebelumnya mungkin tidak terbayangkan.</p><iframe src="https://cdn.embedly.com/widgets/media.html?src=https%3A%2F%2Fopen.spotify.com%2Fembed%2Falbum%2F3Wpl5sQURlpSfRKkU4K8Oh%3Futm_source%3Doembed&amp;display_name=Spotify&amp;url=https%3A%2F%2Fopen.spotify.com%2Falbum%2F3Wpl5sQURlpSfRKkU4K8Oh&amp;image=https%3A%2F%2Fimage-cdn-fa.spotifycdn.com%2Fimage%2Fab67616d00001e0282b2819454f2e9d7e8421601&amp;type=text%2Fhtml&amp;schema=spotify" width="456" height="352" frameborder="0" scrolling="no"><a href="https://medium.com/media/ec0757364f1a3e778f489a13498af3f2/href">https://medium.com/media/ec0757364f1a3e778f489a13498af3f2/href</a></iframe><p><strong><em>Suka dengan apa yang kamu baca di atas?</em></strong></p><p><em>Kalau kamu tertarik, saya juga menulis tentang sepakbola yang kamu bisa baca </em><a href="https://substack.com/@recentlyfinishd"><em>lewat tautan berikut</em></a><em>. Atau, kamu juga bisa dukung saya dengan traktir cendol </em><a href="https://trakteer.id/recentlyfinishd/tip"><em>disini</em></a><em>.</em></p><p><strong><em>Terima kasih telah membaca sampai akhir!</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6ab6fe62b2ff" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/sua-suara/mcconaissance-ala-eleventwelfth-6ab6fe62b2ff">McConaissance ala eleventwelfth</a> was originally published in <a href="https://medium.com/sua-suara">Sua Suara</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[On the Edge of Yearning]]></title>
            <link>https://medium.com/maratonton/on-the-edge-of-yearning-e4b2743e0a15?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e4b2743e0a15</guid>
            <category><![CDATA[movie-review]]></category>
            <category><![CDATA[maratonton]]></category>
            <category><![CDATA[film-reviews]]></category>
            <category><![CDATA[ulasan-film]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luqman Mohammad]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 15 Jun 2026 02:58:49 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-06-15T02:58:49.842Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Ulasan In the Mood for Love (2000): Magnum Opus Milik Wong Kar-wai</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1000/1*5rs-qH_kJgQO6Kt62Yrbbw.jpeg" /><figcaption><a href="https://letterboxd.com/film/in-the-mood-for-love/">In the Mood for Love promotional poster (Letterboxd)</a></figcaption></figure><blockquote><strong>Chow Mo-wan</strong>: In the old days, if someone had a secret they didn’t want to share… you know what they did?<br><strong>Ah Ping</strong>: Have no idea.<br><strong>Chow Mo-wan</strong>: They went up a mountain, found a tree, carved a hole in it, and whispered the secret into the hole. Then they covered it with mud. And leave the secret there forever.</blockquote><p>Sejatinya, manusia tak pernah benar-benar sendirian. Sejak masih berbentuk fetus dalam kandungan, manusia sudah menjalin kedekatan dengan manusia lain. Kedekatan dan kebutuhan atas manusia lain tersebut terbawa hingga lahir dan berlanjut tak berhenti hingga ajal tiba.</p><p>Maka tak heran apabila dikatakan bahwa hakikat manusia adalah selalu membutuhkan kehadiran manusia lain. Makhluk sosial, katanya. Karena tak pernah ada manusia yang pernah mampu untuk bertahan sendirian dalam rentang usia hidupnya.</p><p>Atas poin diatas, maka bisa dikatakan bahwa kesepian adalah bentuk antitesis dari hakikat eksistensi manusia. Kesepian, kesunyian, dan kesendirian, adalah bentuk siksaan paling rendah yang bisa dirasakan manusia. Maka wajar bila naluri pertama manusia yang kesepian adalah mencari manusia lain, lebih lagi bila yang ditemukan adalah seseorang yang merasakan hal yang sama, dengan luka yang serupa.</p><p><em>In the Mood for Love</em> berbicara tepat tentang hal itu. Tak lebih, tak kurang. Dan bukan tanpa alasan.</p><p>Secara cerita, <em>In the Mood for Love</em> membawa kita bertemu dua orang karaker utama dalam film: Mr. Chow (Tony Leung) dan Mrs. Chan (Maggie Cheung). Keduanya sudah menikah, dengan pasangannya masing-masing. Keduanya juga secara kebetulan tinggal dalam satu komplek apartemen yang sama.</p><p>Rutinitas mereka juga nampak tak jauh berbeda. Bekerja hingga larut malam. Pasangan mereka pun sama-sama sibuk hingga jarang bertemu. Komunikasi dilakukan lewat telepon. Pun Mr. Chow dan Mrs. Chan tak banyak berbaur dengan penghuni apartemen lainnya, dan banyak menghabiskan waktu mereka sendiri-sendiri.</p><p>Hingga pada akhirnya hubungan Chow dan Chan menjadi dekat setelah mereka mengetahui fakta bahwa selama ini pasangan mereka telah berselingkuh satu sama lain. Walau demikian, satu perselingkuhan tidak dibalas perselingkuhan lainnya. Hubungan Chow dan Chan tetap bersifat platonis berdasarkan keinginan untuk menghilangkan kesendirian, tanpa adanya keinginan atas perasaan kasih sayang.</p><p>Namun hubungan platonis antara Chow dan Chan ini bukan berarti hubungan yang dingin. Kita bisa melihat mereka hangat namun tetap menjaga jarak karena intensi mereka adalah tidak menjadi apa yang mereka benci: perselingkuhan. Ada juga keinginan-keinginan yang tidak diucapkan lewat dialog. Bahkan scene yang terasa intim hadir dalam suasana hening, seperti adegan di dalam taksi, dimana tidak ada kalimat romantis dan tanpa sentuhan dramatis, namun kedekatannya terasa sampai jauh.</p><p>Seperti film-film Wong Kar-wai lainnya, tema besar dalam <em>In the Mood for Love</em> adalah <em>yearning</em>. Sebuah kerinduan yang tak bertuan, kerinduan atas perasaan yang tak bisa dikatakan. Sehingga yang dirasakan ketika film ini selesai, adalah kepuasan dalam ketidakpuasan atas perasaan tersebut.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1000/1*n2Q-thh7cAmxVEaX6fBXZg.jpeg" /><figcaption><a href="https://www.imdb.com/title/tt0118694/mediaviewer/rm3016559873/">Cr. IMDb</a></figcaption></figure><p>Adalah benar salah satu komentar di internet yang menyatakan bahwa menonton <em>In the Mood for Love</em> terasa seperti <em>“edging it</em>” karena sepanjang film kita digiring, melewati sesuatu yang hampir terjadi, lalu ditarik kembali sebelum klimaks. Bukan karena sengaja dibiarkan tidak tuntas, tetapi rasanya memang begitulah Wong Kar-wai menerjemahkan kesepian dan kesendirian. Wajar jika akhirnya tak ada <em>happy ending</em> pada film ini. Teramat wajar, karena <em>In the Mood for Love</em> bukanlah film romantis.</p><p>Hal lain yang menarik — kali ini, secara sinematografis — adalah betapa repetitifnya film ini. Bagaimana tiap <em>shot</em> punya <em>frame</em> dalam <em>frame</em>, berulang hingga akhir. Bagaimana tiap <em>shot</em> tentang Chow dan Chan ketika bersama selalu memiliki penghalang dalam <em>frame</em>, seolah menyatakan bahwa momen mereka berdua selalu diawasi. Juga set cerita yang itu-itu saja hadir berulang namun membawa makna berbeda.</p><iframe src="https://cdn.embedly.com/widgets/media.html?src=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fembed%2Fx2IYc576nbo%3Ffeature%3Doembed&amp;display_name=YouTube&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3Dx2IYc576nbo&amp;image=https%3A%2F%2Fi.ytimg.com%2Fvi%2Fx2IYc576nbo%2Fhqdefault.jpg&amp;type=text%2Fhtml&amp;schema=youtube" width="640" height="480" frameborder="0" scrolling="no"><a href="https://medium.com/media/e8a280144a50875a03b11d57b58bc1de/href">https://medium.com/media/e8a280144a50875a03b11d57b58bc1de/href</a></iframe><p>Ditambah lagi soundtrack yang berulang: Nat King Cole menghadirkan Cubano dalam <em>Quizas, Quizas, Quizas</em>, serta <em>Yumeji’s Theme</em> milik Shigeru Umibayashi, yang diulang entah berapa kali sepanjang durasi. Bagi sutradara lain, ini bisa jadi titik lemah dalam filmnya. Namun bagi Wong Kar-wai, ini adalah level yang berbeda. Repetisi yang dihadirkan dengan presisi seolah membuktikan bahwa hal tersebut bukannya membosankan, malah menjadi salah satu bentuk keindahan.</p><p>Dan mungkin di situlah inti dari <em>In the Mood for Love</em>. Banyak orang yang menonton film ini merasakan kesepian yang aneh. Tidak kosong dan hampa, tetapi hangat meski menyakitkan. Membuktikan bahwa kita sebagai manusia rela untuk menjadi monoton dan repetitif dengan orang yang kita bisa pahami, dibandingkan sepi sendirian dan menginginkan sesuatu yang tak pernah bisa digapai.</p><p><strong><em>Suka dengan apa yang kamu baca di atas?</em></strong></p><p><em>Kalau kamu tertarik, saya juga menulis tentang sepakbola yang kamu bisa baca </em><a href="https://substack.com/@recentlyfinishd"><em>lewat tautan berikut</em></a><em>. Atau, kamu juga bisa dukung saya dengan traktir cendol </em><a href="https://trakteer.id/recentlyfinishd/tip"><em>disini</em></a><em>.</em></p><p><strong><em>Terima kasih telah membaca sampai akhir!</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e4b2743e0a15" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/maratonton/on-the-edge-of-yearning-e4b2743e0a15">On the Edge of Yearning</a> was originally published in <a href="https://medium.com/maratonton">Maratonton</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Tentang Mimpi Berkecukupan]]></title>
            <link>https://medium.com/maratonton/tentang-mimpi-berkecukupan-5430ec47a206?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5430ec47a206</guid>
            <category><![CDATA[film]]></category>
            <category><![CDATA[netflix]]></category>
            <category><![CDATA[movie-review]]></category>
            <category><![CDATA[maratonton]]></category>
            <category><![CDATA[ulasan-film]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luqman Mohammad]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 03 Jun 2026 01:01:32 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-06-03T01:01:32.195Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Ulasan Film Once We Were Us (2025): Film “Anjing” yang Tidak Menampilkan Anjing</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*qi5WkN6KXPNC-KyvhN1Z3g.jpeg" /><figcaption><a href="https://asianwiki.com/Once_We_Were_Us">Image Source: AsianWiki</a></figcaption></figure><p>Kalau anda adalah orang yang sering <em>doomscrolling</em> pada platform X — atau Twitter — rasanya anda akan cukup familiar dengan istilah “film anjing”. Kalau tak familiar, tak usah kuatir, karena frasa “film anjing” ini bukan seperti yang anda pikirkan.</p><p>“Film anjing” ini bukan film seperti <a href="https://www.imdb.com/title/tt1028532/"><em>Hachiko</em></a>, bukan pula <a href="https://www.imdb.com/title/tt0118570/"><em>Air Bud</em></a>, atau juga <a href="https://www.imdb.com/title/tt36958999/"><em>Gohan</em> </a>dari Thailand yang sempat tayang di bioskop Indonesia beberapa waktu lalu. Kita tidak sedang membicarakan film-film yang secara literal punya anjing sebagai tokoh utama.</p><p>Yang dimaksud sebagai “film anjing” disini adalah film-film yang mempermainkan emosi dan mengeluarkan air mata, ditambah bikin trenyuh hati ketika layar sudah mati. Mayoritas film-film tersebut berpusat pada hubungan antara manusia sebagai pasangan, dan mayoritas pula punya formula serupa: <em>sad ending</em> sebagai penutup cerita.</p><p>Pola “film anjing” inilah yang muncul juga pada film rilisan Netflix Korea Selatan tahun 2025, <em>Once We Were Us</em>, yang dibintangi oleh Koo Kyo-hwan dan Moon Ga-young. Film ini sendiri diadaptasi dari film China rilisan tahun 2018 berjudul <em>Us &amp; Them</em> yang dibintangi oleh Jing Boran dan Zhou Dongyu.</p><p>Lewat perannya dalam adaptasi ini, Moon Ga-young diganjar penghargaan Best Actress pada penganugerahan Baeksang Art Awards pada tahun 2026, sementara Koo Kyo-hwan masuk dalam nominasi Best Actor pada penghargaan yang sama.</p><p>Sebagaimana lazimnya sebuah adaptasi, tidak banyak perubahan besar yang dilakukan dalam alur cerita <em>Once We Were Us</em>. Film ini menceritakan tentang Eun-ho (Kyo-hwan) dan Jeong-won (Ga-young) yang bertemu secara tidak sengaja dalam sebuah bus.</p><p>Dari pertemuan tidak sengaja tersebut cerita kemudian bergulir hingga keduanya menjalin hubungan sebagai pasangan yang saling mendukung satu sama lain, dan sampai pada satu titik hubungan tersebut tidak bisa dilanjutkan karena mimpi masing-masing yang berbeda.</p><p>Seperti kata pepatah, <em>don’t judge a book by its cover</em>. Meski secara cerita kemasan film ini adalah tentang hubungan romantis, jangan tertipu tampak luarnya. <em>Once We Were Us</em> adalah sebuah cerita tentang bagaimana hubungan dihancurkan realita kehidupan, dan dipaksa tunduk pada fakta bahwa cinta saja tak cukup untuk bertahan hidup.</p><iframe src="https://cdn.embedly.com/widgets/media.html?src=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fembed%2F9pP_Rl3go8k%3Ffeature%3Doembed&amp;display_name=YouTube&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3D9pP_Rl3go8k&amp;image=https%3A%2F%2Fi.ytimg.com%2Fvi%2F9pP_Rl3go8k%2Fhqdefault.jpg&amp;type=text%2Fhtml&amp;schema=youtube" width="854" height="480" frameborder="0" scrolling="no"><a href="https://medium.com/media/ea023c981185a9e1c8fa42191dcf71bf/href">https://medium.com/media/ea023c981185a9e1c8fa42191dcf71bf/href</a></iframe><p>Sebagai yang sudah menyaksikan kedua film tersebut, baik versi original maupun versi adaptasi, ada perbedaan mencolok yang ditonjolkan. Dalam versi original alurnya dibuat linear, dan kebalikannya terjadi pada versi Korea Selatan yang menggunakan alur maju mundur. Walau begitu, penggunaan <em>color grading</em> hitam putih sebagai penanda bahwa cerita sedang berada di <em>timeline</em> saat ini, dan <em>grading</em> berwarna sebagai penanda cerita pada masa silam, tetap dipertahankan.</p><p>Juga yang menarik adalah bahwa secara cerita, <em>Once We Were Us</em> ini sangat realistis. Sering terjadi di sekitar kita, atau mungkin terjadi pada orang-orang yang kita kenal.</p><p>Tentang pasangan yang bermimpi bersama, namun hubungannya perlahan memudar karena tak bisa satu suara pada apa yang <a href="https://www.youtube.com/watch?v=qQDaxjLReck">Perunggu sampaikan dalam Ini Abadi; tentang mimpi yang berkecukupan.</a> Dan menjadi unik karena tidak banyak film dari trope “film anjing” yang menjadikan faktor ekonomi sebagai tokoh antagonis.</p><p>Pada akhirnya, <em>Once We Were Us</em> mengingatkan kita bahwa patah hati yang paling dalam tidak selalu hadir dalam bentuk pengkhianatan. Yang lebih pahit adalah kenyataan bahwa akan lebih baik apabila mimpi tak dikejar bersama, akan menyimpan gores luka paling dalam yang membekas selamanya.</p><p><strong><em>Suka dengan apa yang kamu baca di atas?</em></strong></p><p><em>Kalau kamu tertarik, saya juga menulis tentang sepakbola yang kamu bisa baca </em><a href="https://substack.com/@recentlyfinishd"><em>lewat tautan berikut</em></a><em>. Atau, kamu juga bisa dukung saya dengan traktir cendol </em><a href="https://trakteer.id/recentlyfinishd/tip"><em>disini</em></a><em>.</em></p><p><strong><em>Terima kasih telah membaca sampai akhir!</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5430ec47a206" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/maratonton/tentang-mimpi-berkecukupan-5430ec47a206">Tentang Mimpi Berkecukupan</a> was originally published in <a href="https://medium.com/maratonton">Maratonton</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Para Bek yang Bertahan]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/para-bek-yang-bertahan-0585393d3483?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0585393d3483</guid>
            <category><![CDATA[novel]]></category>
            <category><![CDATA[fiksi]]></category>
            <category><![CDATA[mei]]></category>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <category><![CDATA[ulasan-buku]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luqman Mohammad]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 25 May 2026 14:00:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-25T14:00:22.431Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Ulasan Novel Bek (Mahfud Ikhwan, 2024)</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/650/1*P7C2k9kVPNCCAunHGJj0dQ.avif" /><figcaption><a href="https://www.gramedia.com/products/bek-sebuah-novel">Cover Bek (Source: Gramedia)</a></figcaption></figure><blockquote>“Kenapa ingin jadi bek? Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Apakah setiap keinginan harus dijelaskan?”</blockquote><p><strong><em>Bek</em></strong>, novel karya <strong>Mahfud Ikhwan</strong> yang terbit pada tahun 2024, resmi jadi karya terbaru dari Mahfud yang saya selesaikan. Sebelumnya saya sudah menamatkan dua karyanya yang lain, kumpulan esai <strong><em>Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop Lainnya</em></strong> dan novel roman <strong><em>Kambing dan Hujan</em></strong>.</p><p>Secara umum, apa yang saya dapatkan pada karya-karya Mahfud sebelumnya — yang sudah saya baca — masih nampak pada <strong><em>Bek</em></strong>. Salah satu yang khas adalah latar belakang cerita masih berkisar tentang kehidupan di desa kecil di pesisir utara Jawa Timur. Jika pada <strong><em>Kambing dan Hujan</em></strong> kita bertemu dengan desa Tegal Centong, maka di <strong><em>Bek</em></strong> desa Lerok yang jadi pusat inti cerita.</p><p><a href="https://medium.com/booknotations/kambing-dan-hujan-sebuah-roman-16dc944e2cb8">Kambing dan Hujan: Sebuah Roman. Ulasan novel Kambing dan Hujan: Sebuah… | by Luqman Mohammad | Booknotations | Medium</a></p><p><strong><em>Bek</em></strong> membawa kita bertemu dengan Isnan, seorang anak yang menggandrungi sepakbola. Kecintaan Isnan pada sepakbola turun dari ayahnya yang gemar mendengarkan siaran pandangan mata sepakbola dari RRI Surabaya.</p><p>Selayaknya anak yang gandrung dengan sepakbola, Isnan juga keranjingan bermain sepakbola. Pinggir lapangan, halaman madrasah, koridor sekolah. Istirahat siang, bahkan menjelang petang; semua waktu dan tempat dihajar Isnan demi kesempatannya bermain sepakbola. Isnan makin menggila demi sepakbola listrik masuk desa Lerok, kisaran tahun 1994, dan pada saat yang bersamaan Piala Dunia 1994 digelar di Amerika Serikat.</p><p>Sayangnya seiring berjalannya waktu dan kondisi keluarga yang memaksa, membuat Isnan haru perlahan berjalan menjauhi sepakbola. Dimulai ketika ayahnya, Tarmidi, pergi ke Malaysia untuk merantau. Disusul kakaknya, Ulid, yang pergi ke Malaysia sekeluarnya dari pesantren dan harus rela untuk tidak kuliah.</p><p>Isnan pun secara literal berperan sebagai bek: menjadi lelaki tertua di rumah yang harus menjaga ibu dan dua adiknya. Sampai pada akhirnya Isnan harus benar-benar menjaga kedua adiknya ketika ibunya juga memutuskan merantau ke Malaysia.</p><p>Elemen paling menarik dari <strong><em>Bek</em></strong> sebetulnya adalah bagaimana Mahfud bercerita. Ia mengisahkan semua tokoh-tokohnya dengan tidak tergesa-gesa. Bagaimana Isnan dibuat tumbuh, jatuh cinta, sakit hati, hingga akhirnya jatuh cinta lagi dengan sepakbola dengan detail yang runtut.</p><p>Pertumbuhan Isnan dengan sepakbola juga selaras dengan pertumbuhan hidupnya yang berubah sejak kakaknya, Ulid, pindah ke Malaysia untuk menggantikan ayah mereka, Tarmidi, yang dipulangkan dari Malaysia karena menjadi imigran gelap.</p><p>Di sisi lain, <strong><em>Bek</em></strong> juga mengungkap aspek sosiologis kehidupan masyarakat pada era 90-an yang menambah latar belakang cerita dengan baik. Bagaimana ayah, ibu, dan kakak Isnan hanyalah sebagian kecil dari warga desa Lerok yang merantau ke Malaysia. Tidak heran, mengingat pada tahun-tahun tersebut, <a href="https://komnasperempuan.go.id/file-manager/frontend/Buruh%20Migran%20Indonesia%20:%20Penyiksaan%20Sistematis%20Di%20Dalam%20Dan%20Luar%20Negeri?ref=IkltVjVTakZqTWxa11908ca83158d83484cbc1ece8d788fc27bNVNXcHZhVm96Vm14ak0xRnBURU5LYldGWGVHeGliVVowV2xOSk5rbHFaRzFOVkZreVdrUk9hMHhVV214T2VsRjBUa1JWZUU1RE1XbE9iVlUxVEZSQmVscEhUbWhaVkVwcVdWUkthMDFwTlZGU1JWbHBURU5LYTFsWVVteFlNMHBzWTFoV2JHTXpVV2xQYVVsNVRVUkpNVXhVUlhoTVZFRTFTVVJCTTA5cVFUTlBhbEV5U1dsM2FWcFlhSGRoV0Vwb1pFZHNkbUpwU1RaSmFrbDNUV3BWZEUxVVJYUk5SR3RuVFVSbk5rMUVZelpPUkZscFpsRTlQU0k9Ig%3D%3D">tercatat lebih dari 300 ribu buruh migran Indonesia pergi ke Malaysia untuk mengadu nasib</a>.</p><p>Bukan hanya menyinggung soal buruh migran, <strong><em>Bek</em></strong> juga menceritakan tentang pertandingan sepakbola antar kampung (tarkam) yang kerap disusupi dengan kepentingan-kepentingan para pemangku desa yang kadang tak berkaitan dengan sepakbola. Soal pemain bayaran yang kadang muncul entah dari mana rimbanya, soal budaya tiap desa yang berbeda-beda. Ini juga jadi poin penting pada cerita Isnan yang membuatnya sakit hati pada sepakbola bertahun lamanya.</p><p>Pada akhirnya, saya membaca <strong><em>Bek</em></strong> ini sebagai sebuah <em>spinoff</em> dari novel pertama Mahfud, <strong><em>Ulid</em></strong>. Meski saya belum membaca novel tersebut, namun mengingat nama Ulid pada <strong><em>Bek</em></strong> diceritakan sebagai kakak dari Isnan dan jadi salah satu tokoh sentral cerita, mudah menebak bahwa ini adalah sebuah <strong><em>spinoff</em></strong> tidak resmi milik Mahfud.</p><p>Dan melalui <strong><em>Bek</em></strong> kita memahami bahwa hidup akan terus berjalan dengan segala dinamikanya yang tak pasti; selayaknya sebuah pertandingan sepakbola.</p><p>Setelah episode penuh ketidakpastian dan perpisahan dengan sepakbola yang tidak menyenangkan, Isnan tetap bertahan, secara literal dan figuratif, hingga bisa menemukan jalannya kembali ke sepakbola. Sepakbola yang menjaga dan merawat Isnan selayaknya orang tua, ketika orang tua Isnan yang sebenarnya terlalu jauh untuk bisa melaksanakannya.</p><p><strong><em>Suka dengan apa yang kamu baca di atas?</em></strong></p><p><em>Kalau kamu tertarik, saya juga menulis tentang sepakbola yang kamu bisa baca </em><a href="https://substack.com/@recentlyfinishd"><em>lewat tautan berikut</em></a><em>. Atau, kamu juga bisa dukung saya dengan traktir cendol </em><a href="https://trakteer.id/recentlyfinishd/tip"><em>disini</em></a><em>.</em></p><p><strong><em>Terima kasih telah membaca sampai akhir!</em></strong></p><p><strong><em>Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!</em></strong></p><p><a href="https://medium.com/booknotations/submission-guideline-booknotations-d90244b86340">Submission Guideline —  Booknotations</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0585393d3483" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/para-bek-yang-bertahan-0585393d3483">Para Bek yang Bertahan</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pada Hari Kedelapan]]></title>
            <link>https://medium.com/meja-sajak/pada-hari-kedelapan-373e60f89913?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/373e60f89913</guid>
            <category><![CDATA[flash-fiction]]></category>
            <category><![CDATA[meja-sajak]]></category>
            <category><![CDATA[fiksi]]></category>
            <category><![CDATA[cerpen-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[cerita-mini]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luqman Mohammad]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 24 May 2026 14:04:52 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-24T15:43:46.933Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Hari-hari yang masih sama seperti kemarin</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*k2ea7rqgpFsnhIQReyOQrA.jpeg" /><figcaption><a href="https://commons.wikimedia.org/wiki/Category:Monk_by_the_Sea_by_Caspar_David_Friedrich#/media/File:Friedrich,_Caspar_David_-_M%C3%B6nch_am_Meer_-_Alte_Nationalgalerie_in_Berlin.jpg/2">Friedrich, Caspar David — Mönch am Meer — Alte Nationalgalerie in Berlin. (Sc: Wikimedia)</a></figcaption></figure><p>Hari ini tepat hari kedelapan sejak Gus terakhir mengisi perutnya, terhitung dari bercak kecoklatan sisa darah yang tergores di dinding kamarnya. Makin hari bergeser, makin menguning warna bercaknya; makin menegaskan bahwa kamarnya sudah lama berhenti terasa seperti kamar.</p><p>Apabila mau disebut gudang pun masih terdengar agak sopan. Cat tembok berwarna biru muda banyak mengelupas pada sisi dekat jendela. Jamur berkerumun di dekat kasurnya, kasur busa yang makin tipis di atas dipan kayu berwarna cokelat pudar.</p><p>Bagi Gus, hari ini masih sama seperti kemarin. Tidak ada yang berbeda. Sudah lebih dari seperempat abad usianya, tapi Gus merasa hidupnya makin tak bergerak, sama seperti badannya yang tergelimpang diam sejak pagi tadi.</p><p>Dikatakan hidupnya sudah selesai, mungkin tidak begitu, kalau berkaca pada pandangan orang lain. Namun bagi Gus, hidup sudah selesai sejak kesialan terakhir yang menimpanya. Pasalnya, Gus tahu bahwa episode sialnya bagai horison laut selatan Jawa yang hampir tak ada ujungnya.</p><p>Bahkan episode sialnya sudah dimulai sebelum ia menghembus napas di Bumi. Ayahnya sudah hilang rimbanya ketika Gus masih berbentuk fetus, dan Gus tak pernah tahu seperti apa wajahnya. Pernah suatu ketika ia bertanya pada ibunya dan meminta bertemu, yang dijawab dengan ketus, “<em>Kalau aku tahu di mana batang hidungnya, ia pasti sudah mati di tanganku sebelum kau bertemu dengannya!</em>”</p><p>Hingga pada akhirnya ibunya juga melangkah pergi, keluar dari hidup Gus, ketika Gus menjejak usia 15 tahun. Tanpa rencana, tanpa berita. Tetangganya, Mbok Sahi, yang memberitahu Gus bahwa ibunya pergi dari rumah dengan menggendong sebuah tas besar — yang mungkin berisi pakaian yang sebetulnya sudah tak layak guna — dijemput motor yang suara knalpotnya lebih nyaring dari teriakan bocah kala petang menjelang.</p><p>Tak pernah Gus tahu di mana rimba ibunya. Tak juga ada sanak saudara yang datang menjemput — yang ia juga tak pernah tahu wujudnya. Satu-satunya malaikat yang kasat mata adalah Mbok Sahi, yang sudah menganggap Gus sebagai cucunya sendiri.</p><p>Setiap hari, dua hingga tiga kali adanya, mbok Sahi bertandang ratusan meter ke rumah Gus dengan membawa sajian ala kadarnya. Kadang nasi jagung dengan sayur ubi dan ikan asin. Kadang nasi polos tanpa lauk, hanya sup berisi wortel dan kacang panjang sisa kemarin yang jadi penolong.</p><p>Dan kemudian Mbok Sahi pergi. Kali ini, Gus tahu. Karena Gus sudah cukup dewasa, 21 tahun usianya, dan mungkin sudah ia sadari sejak jauh hari. Mbok Sahi sakit keras — yang kata orang pintar namanya sakit kuning. Gus paham, karena Mbok Sahi makin tua makin kekuningan, macam daun pepaya yang terkena jamur. <em>Sama-sama sakit, toh, pikir Gus.</em></p><p>Hingga akhirnya Gus benar-benar hidup seperti seorang serigala yang terusir dari kawanan. Seorang diri. Masih beruntung Gus dibantu Wakid, anak dari Mbok Sahi, yang mampu meyakinkan bosnya, Lek Jati — yang punya usaha pengepulan rongsok — untuk memberikan pekerjaan bagi Gus.</p><p>“Masih muda, jangankan cuma ngurusi rongsok. Disuruh <em>mbongkar</em> gunung juga pasti kuat,” promosi Wakid ketika pertama kali membawa Gus bertemu Lek Jati.</p><p><em>“Yo</em> kalau gitu coba suruh <em>mbongkari</em> gunung.”</p><p>Gus cuma bisa tersenyum ketika Lek Jati akhirnya menerimanya sebagai salah satu karyawannya. Hari-harinya kemudian berjalan berbeda. Gunungan botol plastik yang dihimpit kumpulan kardus seolah jadi makanan sehari-hari. Dan setidaknya setiap hari, ia sungguhan bisa makan.</p><p>Meski pada akhirnya, kebahagiaan Gus soal jatah makannya setiap hari hilang pada hari keenam belas. Lek Jati beranggapan Gus tak terlalu cekatan dalam bekerja. Gus tahu, karena hampir setiap hari Lek Jati berbicara dengan urat nadi yang menonjol di leher ketika melihat hasil kerja Gus.</p><p>“Sudah Gus, besok tak usah ke sini lagi. Kerjamu kalah cepat sama Kadi,” sungut Lek Jati pada sore harinya, ketika matahari menyembur gemerlap sinar senja kekuningan dari balik tumpukan botol kaca. Kadi, bocah berumur lima tahun dengan kaus kusam berwarna merah-biru bertuliskan Messi di punggungnya, hanya melongo kebingungan ketika namanya disebut.</p><p><em>“Nggih</em>, Lek. <em>Nyuwun pangapunten</em> kalau merepotkan.”</p><p><em>“Yo</em> merepotkan, jelas!”</p><p><em>“Ngapuntenne</em>, Lek.” Gus cuma tertunduk menatapi kakinya yang hitam pada sela-sela jari.</p><p><em>“Yowes</em> sana pergi, ini jatahmu hari ini. Anggap saja sebagai pelajaran.”</p><p>Tangan Lek Jati menyodorkan uang puluhan ribu sebagai upah hari keenam belas Gus bekerja; hari terakhir ia bekerja dengan botol plastik yang dipapah gunungan kardus. Gus pulang dengan bahu terjuntai dan pikiran yang tak keruan, sampai akhirnya Wakid menepuk pundaknya. Gus hanya membalasnya dengan anggukan pelan, tanpa sepatah kata, hingga mereka berpisah di ujung jalan.</p><p>Dan betapa pelajaran yang mahal bagi Gus, karena setelahnya hidup yang ia jalani jua tak jelas rimbanya. Mencoba mencari makan dengan apa yang ia bisa, tak ada yang ia bisa. Sampai akhirnya ia bertemu kesialan dalam hidupnya, episode ke sekian.</p><p>Gus yang mencoba mencari makan dengan menjual botol-botol bekas yang dikumpulkannya dari tempat sampah dan pinggiran jalan, tak sempat menyadari laju kencang motor dari arah berlawanan. Suara memekik dari kejauhan itu tenggelam begitu saja, dan dalam sepersekian detik Gus tak sempat menghindar. Tubuhnya yang kurus terbalut kaus kumal berwarna merah pudar terlempar, menghantam tiang provider internet yang dijejali iklan.</p><p>Sekian jam Gus tak sadarkan diri. Ketika matanya terbuka, ia mendapati dirinya berada dalam ruangan berdinding putih dengan lampu yang berpendar. Gus berpikir, ia pasti berada di rumah sakit — sebab akhirat tentu tak punya poster tentang urutan keselamatan pasien — atau kelambu berwarna hijau seperti nasi bungkus daun jati yang ia makan dua hari lalu. Dugaan itu terkonfirmasi ketika seorang perawat berseragam hijau menghampirinya.</p><p>“Mas, lukanya tidak seberapa parah, tapi dokter mau memastikan lewat pemeriksaan lebih lanjut,” sang perawat berbicara sekelebat sambil menulis beberapa poin pada papan kertas yang dibawanya. “Nanti bisa ke ruang sebelah untuk ambil surat rujukan, ya.”</p><p>Sejurus kemudian Gus berpikir: uang dari mana? Untuk mengisi perut besok saja ia tak yakin. Maka keluarlah kalimat yang ia hafalkan betul, kalimat penuh kepura-puraan yang sudah lama ia akrabi di lidahnya.</p><p><em>“Nggih</em>, bu.”</p><p>Nyatanya Gus tak langsung beranjak ke ruang sebelah. Ketika kepalanya tak lagi pengar, kakinya mengayun turun pelan dari brankar dan berjalan berjingkat. Kaki kanan menyusul yang kiri, menapak di atas sandal yang masih menyisakan berkas cokelat darah sisa tabrakan tadi.</p><p>Gus tak pergi ke ruang sebelah seperti yang dipesankan perawat. Tergopoh ia berjalan dengan langkah yang sedikit menahan perih, keluar dari rumah sakit, dan pulang ke rumah yang entah apa.</p><p>Ketika langit menghitam dan bintang berpendar pada rasinya, hidung Gus tak berhenti mengucurkan darah segar. Tak ada satu pun asupan nutrisi yang melewati tenggorokannya, tak juga obat yang membantu meredakan sisa rasa sakitnya. Mungkin hidung yang berdarah adalah bentuk mekanisme pertahanan tubuh atas rasa sakit yang ia tahan-tahan.</p><p>Hari berjalan hingga hari kedelapan tiba. Ia bertahan hidup dengan air putih dan singkong sisa pemberian Wakid yang menemuinya pada hari ketiga terakhir bekerja di tempat Lek Jati. Hidungnya masih terus berdarah, dan kepalanya pengar kembali sejak tiga hari terakhir. Ingatan sekelebat soal episode-episode sial yang sudah ia lalui muncul kembali. Ia tak ingin ada episode baru, ketika darah kecoklatan kembali mengucur dari hidungnya yang pesek berbentuk jambu air.</p><p>Maka ketika Maut datang menghampiri Gus di depan pintu kamarnya, ia tidak berpikir dua kali untuk ikut pergi. Meski Gus bingung — maut tak seperti apa yang ia bayangkan dari buku-buku yang dibaca semasa duduk di bangku sekolahan. Maut datang mengenakan kemeja cerah bermotif bunga berwarna merah dan hijau yang ditutup blazer berwarna kuning, ditambah kacamata hitam yang mencolok serta celana cokelat ketat yang harganya tak seberapa itu.</p><p>“Sudah makan?” Maut memecah hening di kamar.</p><p>Satu pertanyaan yang meyakinkan Gus untuk segera ikut. Tidak ada lagi tempat baginya di sini, ia rasa. Tidak di kamarnya, tidak di rumahnya. Tidak di mana pun.</p><p><strong><em>Suka dengan apa yang kamu baca di atas?</em></strong></p><p><em>Kalau kamu tertarik, saya juga menulis tentang sepakbola yang kamu bisa baca </em><a href="https://substack.com/@recentlyfinishd"><em>lewat tautan berikut</em></a><em>. Atau, kamu juga bisa dukung saya dengan traktir cendol </em><a href="https://trakteer.id/recentlyfinishd/tip"><em>disini</em></a><em>.</em></p><p><strong><em>Terima kasih telah membaca sampai akhir!</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=373e60f89913" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/meja-sajak/pada-hari-kedelapan-373e60f89913">Pada Hari Kedelapan</a> was originally published in <a href="https://medium.com/meja-sajak">Meja Sajak</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Di Antara Nama]]></title>
            <link>https://medium.com/meja-sajak/di-antara-nama-2371b8ba0586?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2371b8ba0586</guid>
            <category><![CDATA[cerita-mini]]></category>
            <category><![CDATA[meja-sajak]]></category>
            <category><![CDATA[death]]></category>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[hidup]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luqman Mohammad]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 08 May 2026 12:00:25 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-08T12:00:25.424Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Nama-nama yang beredar dalam kepala, menahan dari melakukan hal yang sama</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*CQJt0LqYmGjvgGulfPI4DA.jpeg" /><figcaption>Edvard Munch,<em> Melancholy</em>, 1892, National Gallery, Oslo, Norway. (<a href="https://www.dailyartmagazine.com/the-saddest-paintings-in-art-history/">Source</a>)</figcaption></figure><p>Di ujung pikirannya, ia tahu bahwa hal tersebut tinggal dan menetap di sana. Berkontemplasi tentang ya atau tidak, tentang mereka yang akan tinggal, juga tentang cara yang harus ia lakukan. Yang memberatkan, justru ketika mengingat mereka yang telah mendahuluinya.</p><p>Lantaran ia tak ingin seperti Kurt. Pertama, mereka sama sekali tak serupa. Yang mereka bagi bersama hanyalah sinisme tentang dunia, yang menelanjangi melalui selera dan opini dalam bentuk berbeda. Ia juga tahu bahwa Kurt adalah orang yang butuh ditolong, berbeda dengan yang orang-orang sering katakan. Meski ia tahu bahwa perkara menumpahkan isi kepala secara harfiah, mungkin adalah satu bentuk pertolongan yang bisa Kurt lakukan bagi dirinya sendiri.</p><p>Ia juga tak rela disandingkan dengan Ian, karena ia takut ketinggian — tak seperti Ian. Mirip dengan John, Ian juga jenius dalam versi yang lebih muram. Keduanya sama-sama berantakan, sama-sama dikhianati oleh pikirannya sendiri. Bedanya, mungkin John tak seberuntung Ian.</p><p>Mungkin dengan Chris, ia masih sedikit mengenalnya. Satu-satunya yang tak pernah ia duga. Jangan pula membawa-bawa Jim. Ia tak pernah mengenal Jim; ia hanya tahu puisinya, itupun yang dihafalnya bisa dihitung dengan jari.</p><p>Kalau Elliott, barangkali ia masih mengerti. Tentang suara-suara yang berisik di kepala. Tentang ketidakmauan melakukan hal yang tak disukai, yang enggan dilakukan meski dibayar sekalipun. Dan entah, andaikan ia memiliki luka yang sama di perut seperti Elliott, ia akan kian merasa bisa memahami Elliott.</p><p>Oh, Jeff.</p><p>Satu-satunya yang benar-benar beririsan dengannya adalah Jeff. Bagaimana tidak? Mereka akan bicara tentang potensi-potensi yang tak terpenuhi, mimpi yang belum bisa diwujudkan, serta akhir yang tak pernah bisa diterangkan. Satu yang masih menyangkut dalam pikirannya, apa rasanya berenang dengan pakaian yang utuh? <em>Too young to hold on; too old to just break free and run.</em> Mungkin hanya itulah yang akan ia kenang dari Jeff, sampai akhir nanti.</p><p>Tapi mungkin ini adalah saat yang tepat untuk ia sadar apa yang Fyodor pernah tulis. Fyodor, oh Fyodor. Maha benar tulisanmu atas orang-orang sepertinya, ia rasa, yang menari dengan lara dalam kepala. Semakin kita sadar, semakin kita menyadari penderitaan, dan akibatnya, semakin sedikit ruang untuk kebahagiaan naif.</p><p>Mungkin inilah yang membuat hal tersebut tinggal dan menetap di ujung kepalanya; tidak ada kebahagiaan semu karena ini semua berakar dari penderitaannya.</p><p><strong><em>Suka dengan apa yang kamu baca di atas?</em></strong></p><p><em>Kalau kamu tertarik, saya juga menulis tentang sepakbola yang kamu bisa baca </em><a href="https://substack.com/@recentlyfinishd"><em>lewat tautan berikut</em></a><em>. Atau, kamu juga bisa dukung saya dengan traktir cendol </em><a href="https://trakteer.id/recentlyfinishd/tip"><em>disini</em></a><em>.</em></p><p><strong><em>Terima kasih telah membaca sampai akhir!</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2371b8ba0586" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/meja-sajak/di-antara-nama-2371b8ba0586">Di Antara Nama</a> was originally published in <a href="https://medium.com/meja-sajak">Meja Sajak</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Cerita dari Mereka yang Tersita Tanah Airnya]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/cerita-dari-mereka-yang-tersita-tanah-airnya-e3eb68aba10a?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e3eb68aba10a</guid>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <category><![CDATA[review-buku]]></category>
            <category><![CDATA[politik]]></category>
            <category><![CDATA[mei]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luqman Mohammad]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 05 May 2026 06:58:00 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-07T08:18:56.537Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Yang saya makin pahami setelah menyelesaikan buku “Tanah Air yang Hilang” karya Martin Aleida.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/650/1*HL2Ee_ErXpo-ePa2pfbspQ.avif" /><figcaption>Cover buku Tanah Air yang Hilang, courtesy: Gramedia</figcaption></figure><p>Orang-orang bilang, politik tidak menentukan apa-apa. Politik tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, karena pada akhirnya <em>we are the one who will decide our life ourselves</em>. “Siapapun yang akan terpilih, nasib kita ya begini-begini saja,” <em>or so they say</em>.</p><p><strong>Padahal</strong>, sejak negara ini berdiri, politik selalu punya andil dalam menentukan arah kehidupan seluruh warga negaranya.</p><p>Setidaknya, inilah yang saya semakin saya yakini setelah menyelesaikan buku Martin Aleida, <strong>“<em>Tanah Air yang Hilang</em>”</strong>.</p><p>Menceritakan tentang eksil Indonesia yang hidup di luar negeri; mereka yang direnggut hak-haknya, keluarganya, tanah airnya, bahkan masa depannya, sebagai akibat dari dampak politik yang terjadi pada era Orde Baru mulai tahun 1965 silam. Dampak politik tersebut — <em>a sliding door moment, you could say </em>— merubah trajektori hidup mereka hingga menjadi eksil yang sama sekali tak mereka inginkan.</p><p>Buat yang belum tahu, eksil adalah mereka yang kehilangan tanah airnya. Gus Dur bilang, eksil adalah orang-orang “klayaban” yang tinggal di negara barat; bukan sebagai diaspora, melainkan sebagai orang asing yang telah dirampas dan berujung hilangnya kewarganegaraannya.</p><iframe src="https://cdn.embedly.com/widgets/media.html?src=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fembed%2FkMlbwDZGeQw%3Ffeature%3Doembed&amp;display_name=YouTube&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3DkMlbwDZGeQw&amp;image=https%3A%2F%2Fi.ytimg.com%2Fvi%2FkMlbwDZGeQw%2Fhqdefault.jpg&amp;type=text%2Fhtml&amp;schema=youtube" width="854" height="480" frameborder="0" scrolling="no"><a href="https://medium.com/media/9d7ffba0ba676c035b00a1530b0518c7/href">https://medium.com/media/9d7ffba0ba676c035b00a1530b0518c7/href</a></iframe><p>Ditulis pada tahun 2016, <strong>“Tanah Air yang Hilang”</strong> menceritakan tentang 19 cerita utama yang menjadi subbab dalam buku ini. Dengan menemui para eksil di Berlin, Amsterdam, Paris, hingga Sofia dan Tirana, pada usianya yang tak lagi muda Martin menyusun buku ini dalam bentuk transkrip wawancara kecuali satu yang dituliskan dalam bentuk cerita fiksi.</p><p>Kita diajak berkunjung ke Berlin untuk menemui Waruno Mahdi, seorang sarjana kimia lulusan Moskow yang bekerja pada salah satu institut lembaga penelitian Jerman yang terpandang, Max Planck Gesellschaft.</p><p>Ada juga cerita tentang Sunarto, seorang sarjana teknik industri tekstil lulusan Dresden, yang berakhir menjadi supir taksi di Berlin.</p><p>Soejono Soegeng Pangestu, seorang mantan anggota Palang Merah Indonesia yang diberangkatkan untuk belajar Hubungan Internasional di Praha dan menetap di sana setelah paspornya dicabut.</p><p>Kita juga diajak bertemu Ketut Rahendra di Amsterdam, seorang yang belajar di Kuba dan sempat bertemu Fidel Castro, namun menjadi veteran Perang Vietnam karena terpaksa oleh keadaan.</p><p>Menjadi eksil sendiri bukanlah kemauan dari mereka. Situasi politik — yang lagi-lagi berujung pada Orde Baru sebagai penyebab utama dan terbesar — membuat para eksil ini tak punya pilihan selain kehilangan kewarganegaraannya.</p><p>Dalam buku ini pun turut diceritakan kejadian Gerakan 30 September yang menjadi pemicu perubahan besar tersebut. Memang harus diakui, terdapat beberapa nama yang terafiliasi dengan PKI meskipun sebagai anggota yang tidak aktif secara langsung. Namun, proses mereka menjadi eksil dimulai ketika delegasi PKI di Peking pecah menjadi faksi sebagai akibat dari tarik-menarik antara Peking dan Moskow.</p><p>Tak hanya itu, pergantian pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru turut berdampak pada kehidupan eksil di luar negeri. Mulai dari <em>screening </em>yang diadakan oleh KBRI di negara-negara luar terhadap para mahasiswa untuk mengakui pemerintahan Soeharto, dimana mereka yang tidak menjawab atau tidak setuju lantas dicap komunis dan dicabut paspornya.</p><p>Pada akhirnya, seperti yang sudah-sudah setelah membaca buku sejarah Indonesia, <strong><em>“Tanah Air yang Hilang”</em></strong> ini membuat kita berandai-andai: apabila negara ini tak terlalu naif menyingkirkan satu generasi terdidik di luar negeri, sudah sampai di mana kita sekarang?</p><p>Tak hanya itu, miris dan mengiris hati mengingat bahwa mereka (dan para korban kejahatan Orde Baru lainnya, secara garis besar) kehilangan keluarga, masa depan, dan kehidupan, yang tak bisa diungkapkan bahkan berpuluh tahun hingga saat ini.</p><p><strong><em>Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!</em></strong></p><p><a href="https://medium.com/booknotations/submission-guideline-booknotations-d90244b86340">Submission Guideline —  Booknotations</a></p><p><strong><em>Suka dengan apa yang kamu baca di atas?</em></strong></p><p><em>Kalau kamu tertarik, saya juga menulis tentang sepakbola yang kamu bisa baca </em><a href="https://substack.com/@recentlyfinishd"><em>lewat tautan berikut</em></a><em>. Atau, kamu juga bisa dukung saya dengan traktir cendol </em><a href="https://trakteer.id/recentlyfinishd/tip"><em>disini</em></a><em>.</em></p><p><strong><em>Terima kasih telah membaca sampai akhir!</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e3eb68aba10a" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/cerita-dari-mereka-yang-tersita-tanah-airnya-e3eb68aba10a">Cerita dari Mereka yang Tersita Tanah Airnya</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[On Becoming Distant]]></title>
            <link>https://recentlyfinished.medium.com/on-becoming-distant-e462205624f8?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e462205624f8</guid>
            <category><![CDATA[heartbreak]]></category>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[musings]]></category>
            <category><![CDATA[romance]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luqman Mohammad]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 04 May 2026 15:05:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-05T04:43:51.459Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>A reflection on what we could become.</h4><figure><img alt="Jean-Honoré Fragonard, The Bolt (Le Verrou). Est. 1771–1778" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*9W3Linsspzg9GtErZd1EuQ.jpeg" /><figcaption>Jean-Honoré Fragonard, The Bolt (Le Verrou). Est. 1770–1777</figcaption></figure><p>Do you still remember those movies we watched together?</p><p>About a man who was fascinated by a woman he met on a train in France, and it turned out the feelings were mutual, they decided to spend the night together in Vienna? We dreamed of that scenario, oh how we wish, how we wish we could reenact the exact scene once we had the opportunity to board a train from Westbahnhof Station.</p><p>We watched it in late July, in the late afternoon on a Sunday, and the sun was too shy to set. It was raining that day, but you didn’t seem to mind. Your turquoise blazer was drenched when we left, yet it fluttered like a leaf in the evening breeze.</p><p>Or about a man who was so devastated by being dumped by his girlfriend that he decided to erase his memory altogether?</p><p>We wished we would never have to experience that, over a strawberry chocolate ice cream without peanuts that we shared. We agreed that it was a horror movie without a jumpscare, or even a ghost showing their existence.</p><p>I still keep our instant photo from that day, 7 October 2019; its cheap cover yellowing with creases on the sides, tucked under an e-money card in the brown leather wallet you bought me for my 20th birthday.</p><p>We used to call it a date. Nothing much, not that special for others, yet it was meaningful for us.</p><p>Because we shared the memory, the ones that we may not want to forget, but that will be erased over time. Like the drawing on the brown wet sand beach that you drew for me. I never got to delete the photo of it from my phone, but eventually, when my phone storage notification called upon me.</p><p>Now that we’re distant, I still wish you everything good. That you’ll be ready when the groom calls your name at the altar. That you don’t cry when your father reads the speech you prepared. That you won’t be mad if your bridesmaid comes late for the photo session.</p><p>After all, I will still be here, cheering you from afar as if I never left. Like how I cheered you from that creaky brown door of room 3C on the third floor when you were ready to defend your thesis, watching you in your black-and-white suit with a red ribbon tied around your long black hair.</p><p>I wish you well, from here, now as a stranger.</p><p><strong><em>Suka dengan apa yang kamu baca di atas?</em></strong></p><p><em>Kalau kamu tertarik, saya juga menulis tentang sepakbola yang kamu bisa baca </em><a href="https://substack.com/@recentlyfinishd"><em>lewat tautan berikut</em></a><em>. Atau, kamu juga bisa dukung saya dengan traktir cendol </em><a href="https://trakteer.id/recentlyfinishd/tip"><em>disini</em></a><em>.</em></p><p><strong><em>Terima kasih telah membaca sampai akhir!</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e462205624f8" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mencari Alasan Tentang Mengapa Saya Menulis]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/mencari-alasan-tentang-mengapa-saya-menulis-1723142d4a46?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1723142d4a46</guid>
            <category><![CDATA[review-buku]]></category>
            <category><![CDATA[esai]]></category>
            <category><![CDATA[rekomendasi-buku]]></category>
            <category><![CDATA[nonfiksi]]></category>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luqman Mohammad]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 26 Feb 2026 07:02:17 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-05T03:16:58.382Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Hal-hal yang menarik selepas membaca kumpulan esai dari George Orwell, “Why I Write”</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/653/1*ftBWF2JDshitNtaYlzBAYA.jpeg" /><figcaption>Cover dari “Why I Write”, cr. Amazon</figcaption></figure><p>Menulis adalah sebuah proses yang panjang. Umumnya bagi para penulis, ketika sudah menemukan satu gaya penulisan yang oke, maka dengan alamiah akan muncul perasaan tentang banyaknya kekurangan pada tulisan yang telah dibuat sebelumnya. Ini adalah sebuah perasaan yang bebas budaya, bebas bahasa, dan <em>timeless</em>, karena pada dasarnya perasaan tersebut bukanlah sebuah hal baru.</p><p>Itulah salah satu hal yang saya dapatkan dari kumpulan esai George Orwell, <em>“Why I Write”</em>. Sebenarnya selain esai titular tersebut, ada 3 esai lain yaitu <em>“The Lion and the Unicorn”</em>, <em>“A Hanging”</em>, dan <em>“Politics and the English Language”</em>. Namun saya lebih tertarik untuk mengelaborasi sedikit tentang esai yang disebut pertama. Utamanya karena selama ini sudah banyak membaca buku-bukunya Orwell, sehingga menarik untuk mengetahui mengapa tulisan-tulisannya tidak pernah lepas dari nuansa politis.</p><p>Orwell juga menambahkan mengenai empat motif yang ia temukan dari para penulis. <em>Sheer egoism</em>, yang berarti keinginan untuk terlihat cerdas, dianggap pintar, atau ingin dibicarakan ketika kelak sang penulis sudah tiada. Kemudian <em>aesthetic enthusiasm</em>, tentang keinginan untuk menulis keindahan yang bisa disaksikan mata dan ditulis dengan persepsi sang penulis dalam kata-katanya sendiri.</p><p>Ada juga <em>historical impulse</em>, yaitu keinginan untuk menulis sesuatu apa adanya atau mengungkapkan fakta yang akan berguna bagi masa depan. Terakhir, <em>political purpose </em>— menulis secara “politis”; untuk mengubah tatanan dunia (secara harfiah), mendorong ide-ide yang bisa merubah orang lain bahkan masyarakat agar menjadi lebih baik.</p><p>Dari empat motif tadi, kita bisa tahu bahwa Orwell menulis karena <em>historical impulse</em> dan <em>political purpose</em>. Dengan latar belakangnya yang pernah bergabung dengan Korps Kepolisian di Burma, hidup dalam kemiskinan di London dan Paris, hingga mencoba bergabung dalam Perang Sipil di Spanyol, kita akhirnya paham bahwa hal-hal tersebut menjadi faktor besar yang mempengaruhi karir kepenulisan Orwell.</p><p>Dan menurut Orwell, setiap tulisan yang dibuat harusnya bertujuan untuk mengekspos fakta yang belum diketahui orang lain, atau membongkar kebohongan yang orang lain buat. Karena sejatinya semua tulisan tergantung pada sudut pandang dan kehidupan penulisnya; tidak ada tulisan yang bebas dari bias politik.</p><p>Pada akhirnya, esai <em>“Why I Write”</em> milik Orwell ini bisa menjadi medium refleksi bagi siapapun yang sedang mendalami karir di dunia kepenulisan, atau bahkan bagi mereka yang sekedar senang menulis. Sangat berguna dalam memetakan lagi tujuan utama dalam menulis, tepat seperti judulnya: <strong>mengapa saya menulis?</strong></p><p><strong><em>Suka dengan apa yang kamu baca di atas?</em></strong></p><p><em>Kalau kamu tertarik, saya juga menulis tentang sepakbola yang kamu bisa baca </em><a href="https://substack.com/@recentlyfinishd"><em>lewat tautan berikut</em></a><em>. Atau, kamu juga bisa dukung saya dengan traktir cendol </em><a href="https://trakteer.id/recentlyfinishd/tip"><em>disini</em></a><em>.</em></p><p><strong><em>Terima kasih telah membaca sampai akhir!</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1723142d4a46" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/mencari-alasan-tentang-mengapa-saya-menulis-1723142d4a46">Mencari Alasan Tentang Mengapa Saya Menulis</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[And They Said, “Ada titik-titik di ujung doa”]]></title>
            <link>https://recentlyfinished.medium.com/and-they-said-ada-titik-titik-di-ujung-doa-77bfbff6a728?source=rss-b7b12765a36a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/77bfbff6a728</guid>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[musings]]></category>
            <category><![CDATA[grief]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luqman Mohammad]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 17 Feb 2026 02:49:57 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-05T03:18:55.139Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>This is a TikTok post, in a written piece. Just don’t ask why.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Ahp3lqHRssrMxKSc4b-OXw.jpeg" /></figure><p>You know, there’s a TikTok trend nowadays using the song from Sal Priadi, a not-so-new singer. He has been around when you were still around. He’s great. Has a few great songs. Doubt you’d knew him, though.</p><p>But the trend, using his song called “Ada titik-titik di ujung doa,” made everyone jumps on it, sharing their last convos with their departed ones. I never had the last conversation, though. Wondering how I could participate in the trend is a meaningless task.</p><p>Because I realize I never had one. In hindsight, I was never over the fact that I was not there for you. On your last day. In your last breaths. Never mind a conversation — I never got a word of goodbye. Never knew what you went through on that day. It was your pain that I knew from a video call. A sound of your forever spouse weeping, asking you to wake up. And eventually, a voice call in the middle of the night. She called me, still weeping. You were gone without a word.</p><p>But I still keep your last photograph ever taken. It was June 2021. Then I got yours again, before the burial. August 2021. Covered in plastic. Never wanted to see you that way. Still keeping the photos in case I ever forget. But I know, deep down, that I won’t.</p><p>Well, it’s been a while.</p><p>How long was it? Four, five years, almost. There are a few things that I would say to you, had you sat in front of me right now. Alas, here we are, so I think this piece will do. And eventually make its way to you.</p><p>One thing that I regret about not having you around nowadays stems from the realization of how hard life is. Or not being closer to you as I grow older. Had I known. Had I realized. Had I understood how hard adulthood would be, I might have been better with a few virtues and wisdom from you.</p><p>I’m also wondering how you would be, had you still been here by today. Would you live well with your long-term disease? Would you take a surprise trip to meet your grandchildren? Would you give me advice on being a parent and facing adulthood? Would you still talk to me? Would you want to?</p><p>You were supposed to be 65 years old this month. You could be 1,000 years old, for all I care. But you decided to be everlasting. And here I am, still missing you just like how you left — without a word. I’m keeping it all close in my heart.</p><p><strong><em>Suka dengan apa yang kamu baca di atas?</em></strong></p><p><em>Kalau kamu tertarik, saya juga menulis tentang sepakbola yang kamu bisa baca </em><a href="https://substack.com/@recentlyfinishd"><em>lewat tautan berikut</em></a><em>. Atau, kamu juga bisa dukung saya dengan traktir cendol </em><a href="https://trakteer.id/recentlyfinishd/tip"><em>disini</em></a><em>.</em></p><p><strong><em>Terima kasih telah membaca sampai akhir!</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=77bfbff6a728" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>