Lompat ke isi

Baruna

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Baruna
Dewa langit, hukum alam, kebenaran, air, dan sihir (Hindu Kuno)
Dewa air dan perairan (Itihasa-Purana)
Anggota Dikpala dan 12 Aditya
Image
Nama lain
  • Sindhu
  • Samudra
  • Ratnākara
Genderpria
AfiliasiHindu Kuno: Asura, Dewa
Itihasa-Purana: Dewa
Arahbarat
Kediamansamudra
PlanetNeptunus[1]
PustakaWeda, Purana, Itihasa
MantraOṃ jala bimbāya vidmahe
nīla puruṣāya dhīmahi tanno varuṇaḥ pracodayāt.
Oṃ Varunāya Namaḥ
SenjataPasa, Barunastra, Gandiwa
WahanaMakara
Dewa/dewi terkaitJhulelal
KepercayaanHindu
Keluarga
Orang tua
IstriVersi Itihasa-Purana:
AnakVersi Itihasa-Purana
Padanan
NordikNjörðr
RomawiNeptune
YunaniPoseidon

Baruna atau Waruna (Dewanagari: वरुण; ,IAST: Varuṇa, वरुण) adalah salah satu dewa dalam agama Hindu. Dalam agama Weda atau kepercayaan Hindu Kuno, dia dipandang sebagai dewa yang mahakuasa, pemimpin para asura, dan menguasai langit dan hukum alam yang disebut reta. Pada perkembangan agama Weda selanjutnya, saat periode Itihasa-Purana (masa ketika pustaka sejarah dan legenda Hindu menjamur di masyarakat), perannya bergeser menjadi penguasa perairan, dan posisinya sebagai pemimpin serta pemegang kewenangan akhirnya berubah menjadi dikpala yang menjaga arah barat.

Dalam sastra Tamil, Baruna disebutkan dalam karya Tolkāppiyam dengan nama Kadalon (Tamil: கடலோன், romanized: Kaṭalōṉ), dewa lautan dan hujan,[5] dan akhirnya dipuja pula sebagai dewa dalam Jainisme.[6][7] Dalam Buddhisme di Jepang, Baruna dikenal sebagai Suiten (水天, terj. har. "Dewa Air") dan menjadi salah satu anggota Dua belas dewa (Jūniten).[8][9][10]

Kepercayaan

[sunting | sunting sumber]

Baruna merupakan salah satu dewa dalam panteon agama Hindu Kuno yang masih bertahan hingga kini, dan mengalami pergeseran peran yang signifikan dari periode Weda hingga periode Hindu Purana. Dalam kepercayaan Hindu Kuno atau Weda Kuno, Baruna diyakini sebagai dewa yang mahakuasa, menguasai langit dan memegang kewenangan atas hukum alam. Dia juga disebut sebagai raja para asura, yang memperoleh status sebagai dewa, berperan sebagai pemimpin para Aditya, suatu kelompok dewa surgawi. Baruna memegang teguh kebenaran dan hukum reta, yaitu hukum semesta dan moral, sehingga dipuja sebagai hakim penegak hukum yang mahatahu, dengan bintang-bintang sebagai simbol dari pengawasannya atau mata-mata darinya. Dia seringkali disebut bersamaan dengan Mitra, dan menjadi dewa bagi aspek gaib dan spekulatif dari kekuasaan, mengawasi hubungan antara para dewa dengan manusia.[11][12][13][14]

Dalam transisi dari zaman Weda Kuno ke zaman berikutnya, ranah kekuasaan Baruna bergeser dari langit ke perairan. Mula-mula dia dipuja sebagai dewa perairan surgawi, menandai fase awal dari pergeseran perannya. Pada zaman perkembangan Itihasa-Purana, peran Baruna berganti menjadi penguasa segala perairan, mengatur samudra, sungai, dan danau. Dia disebut berkedudukan di istana bawah air―sebagaimana Poseidon dalam mitologi Yunani―dan diiringi dengan para dewi sungai seperti Gangga dan Yamuna. Supremasi Baruna pada zaman sebelumnya akhirnya tiada, dan dia menempati posisi sebagai dikpala (penjaga mata angin) yang menjaga arah barat.

Baruna digambarkan sebagai pria muda, mengendarai (makhluk mirip buaya), membawa pasa (jerat atau laso) dan kendi.[11][8][12] Dia juga digambarkan memiliki banyak istri dan anak. Di antara anak-anaknya, yang terkemuka ialah Resi Wasista dan Agastya.[11] Salah satu istrinya bernama Barunani, dewi lautan, yang tinggal di istana mutiara. Oleh orang bijaksana, Baruna juga disebut sebagai Dewa langit, penguasa seluruh perairan, yang menguasai seluruh sifat yang berbentuk air, dan dewa yang menguasai hukum alam (reta). Baruna juga merupakan hakim yang menghakimi manusia, setan, iblis, bahkan para dewa jika mereka melakukan suatu kesalahan. Sebagai salah satu dewa terkuat, Baruna sangat ditakuti oleh kaum Asura. Bahkan sesama dewa enggan untuk memancing amarahnya.

Dalam kitab Weda, Dewa Baruna sebagai penguasa hukum alam amat sering dipuja, antara lain sebagai Dewa pelindung.

Mantra untuk Dewa Baruna:

Agnum su tubhyam varuna svadhavo,
hrdi stoma upasritas cid astu sam nah kseme sam u yoge no astu,
yuyam pata svastibhih sada nah
Arti
Semoga pujaan ini berkesan pada-Mu, O Waruna yang bebas
Semoga kami selamat dalam beristirahat, semoga kami selamat dalam bekerja
Lindungilah kami dengan berkahmu

Nama lain

[sunting | sunting sumber]
  • Jalapati (penguasa air)
  • Pracheta (yang bijaksana)
  • Yadapati ( Raja binatang laut)
  • Ambhuraja (Raja awan)
  • Pasi (yang membawa jaring)

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Planetary Linguistics". 2007-12-17. Diarsipkan dari asli tanggal 17 December 2007. Diakses tanggal 2025-01-28.
  2. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :2
  3. G.V.Tagare (1958). Brahmanda Purana – English Translation – Part 3 of 5. hlm. 794.
  4. www.wisdomlib.org (2017-10-09). "Stuta, Stutā: 5 definitions". www.wisdomlib.org. Diakses tanggal 2020-01-15.
  5. Journal of Tamil Studies (dalam bahasa Inggris). International Institute of Tamil Studies. 1969. hlm. 131.
  6. Sehdev Kumar (2001). A Thousand Petalled Lotus: Jain Temples of Rajasthan : Architecture & Iconography. Abhinav Publications. hlm. 18. ISBN 978-81-7017-348-9.
  7. Kristi L. Wiley (2009). The A to Z of Jainism. Scarecrow. hlm. 248. ISBN 978-0-8108-6821-2.
  8. 1 2 Adrian Snodgrass (1992). The Symbolism of the Stupa. Motilal Banarsidass. hlm. 120–122 with footnotes. ISBN 978-81-208-0781-5.
  9. "Kyoto National Museum". Kyoto National Museum (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-17.
  10. "JAANUS / juuniten 十二天". www.aisf.or.jp. Atsumi International Scholarship Foundation. Diakses tanggal 2025-05-17.
  11. 1 2 3 George Mason Williams (2003). Handbook of Hindu Mythology. ABC-CLIO. hlm. 294. ISBN 978-1-57607-106-9.
  12. 1 2 James G. Lochtefeld (2002). The Illustrated Encyclopedia of Hinduism: N-Z. The Rosen Publishing Group. hlm. 741. ISBN 978-0-8239-3180-4.
  13. Dalal, Roshen (2010). Hinduism: An Alphabetical Guide. Penguin Books India. ISBN 9780143414216.
  14. Bauer, Susan Wise (2007). The History of the Ancient World: From the Earliest Accounts to the Fall of Rome (Edisi 1st). New York: W. W. Norton. hlm. 265. ISBN 978-0-393-05974-8.