
Tim Rea Reo Pasca Ngalay Berkah Gunung Kawi
Malam 1 Suro tahun ini, saya dan tim Rea Reo Antropologi 2011 disertai Cak Roy dosen Antropologi Agama kami tercinta pergi ngalay ke Gunung Kawi. Kami pergi ke Gunung Kawi bersama-sama dari kampus UB tercinta untuk ikut serta malam Suro sambil meneliti kegiatan-kegiatan yang ada di Gunung Kawi. Saya dan tim Rea Reo berangkat dari kampus sekitar jam setengah delapanan dan sampai di Wisata Religi Gunung Kawi sekitar jam sembilanan kalo tidak salah, saya lupa jamnya, karena saya sangat menikmati perjalanan malam menuju Gunung Kawi. Untuk akses masuk ke Gunung Kawi, setiap pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp3000,-. Di pintu masuk kami disambut dengan tulisan “Selamat Datang di Wisata Religi Gunung Kawi”. Tulisan tersebut sama khasnya dengan tulisan di makam-makam orang yang berpengaruh, seperti yang ada di makam-makam Walisongo. Setelah masuk, kami langsung memarkir kendaraan motor kami dan mengurus data STNK masing-masing motor di Pos Jaga Parkir. Selain biaya masuk, ternyata untuk parkir juga dikenakan biaya sebesar Rp2000,-. Setelah selesai mengurus parkir kendaraan, saya dan tim Rea Reo tidak langsung naik ke atas , kami memilih santai-santai terlebih dahulu di areal parkir dan warung di sekitarnya.
Kondisi di areal parkir belum begitu ramai pada waktu itu, namun sudah lumayan banyak kendaraan yang terparkir disana. Tidak hanya sepeda motor saja yang terparkir disana, namun banyak pula mobil yang sudah terparkir disana. Banyak orang tua dan muda datang ke Gunung Kawi, bahkan terlihat bersama rombongan bis. Kondisi parkiran tidak jauh berbeda dengan tempat parkir di makam-makam para wali, selalu ada bis rombongan para peziarah atau pengunjung lebih tepatnya, karena saya yakin kedatangan para pengunjung tersebut tidak semua dan tidak murni untuk berziarah. Para pengunjung tersebut ada yang datang bersama keluarga dengan membawa anak-anaknya yang masih kecil. Melihat para pengunjung yang datang bersama keluarga masing-masing, dalam pikiran saya kunjungan tersebut tidak murni untuk berziarah ke Makam Mbah Jugo yang menjadi jujukan para pengunjung untuk ngalap berkah di Gunung Kawi, namun sudah terkesan seperti tamasya, hal ini sesuai dengan tulisan yang tertera sebagai “Wisata Religi Gunung Kawi”. Saya melihat pengunjung yang turun dari mobil pribadi seperti mobil Xenia, APV, dan mobil pribadi lainnya sering kali yang saya lihat orang bermata sipit yang identik dengan etnis Cina.
Kemudian, saya, Lutfi dan Cahyo pergi mencari kamar mandi, karena kami ingin buang air kecil, namun ketika kami menuju WC umum, ternyata WC umum tersebut sudah tidak berfungsi. Kondisi WC umum gelap, banyak sarang laba-laba, jadi berasa di tempat angker kayak yang di film-film horor, ditambah tidak ada air dan sangat kotor. Sepertinya WC tersebut memang tidak terurus dan sudah lama tidak dipakai. Melihat kondisi WC seperti itu, muncul pikiran dibenak saya, kenapa WC umum di tempat seramai ini tidak berfungsi dan tidak terurus? Padahal WC umum merupakan salah satu fasilitas umum yang sangat dibutuhkan di tempat yang ramai dikunjungi orang. Setelah saya, Lutfi dan Cahyo melihat kondisi WC seperti itu, kami pun sejenak merasa bingung untuk mencari WC lainnya kali-kali aja masih ada WC lagi. Akhirnya, kami memutuskan bertanya WC atau kamar mandi umum lain kepada warga di sekitar rumah yang tidak jauh dari WC umum tadi. Kami bertanya kepada seorang ibu-ibu yang kebetulan sedang ada di luar rumah, kemudian ibu-ibu tersebut mengarahkan kami untuk pergi ke kamar mandi rumah warga yang juga memiliki warung. Pintu rumah orang yang dimaksud ibu tersebut masih tertutup, kami pun sempat merasa canggung, apakah benar rumah itu yang dimaksud oleh ibu tadi? Kami pun mencoba memastikannya lagi kepada ibu tersebut, namun sepertinya ibu tersebut mengerti kebingungan kami, dan dengan segera ibu tersebut menyerukan ke arah rumah tersebut “Ini, ada yang mau numpang ke kamar mandi!” ibu tersebut juga tidak lupa memanggil nama pemilik rumah tersebut, namun saya lupa saya siapa nama yang disebut oleh ibu tersebut, yang saya ingat Cuma kata “Ini ada yang mau numpang ke kamar mandi!”. Ibu tersebut juga menyuruh kami untuk mengetuk pintu rumahnya saja. Lalu, Cahyo segera mengetuk pintu dengan pelan dan dengan segera pemilik rumah pun membukakan pintu dan mempersilahkan kami ke belakang menuju kamar mandi.
Di rumah tersebut terdapat tiga kamar mandi yang berdampingan. Penerangan di sekitar kamar mandi termasuk di kamar mandi terkesan remang-remang, karena hanya dari lampu pijar cahaya kuning redup. Sepertinya kamar mandi tersebut sudah terbiasa dipakai untuk umum, karena ibu-ibu tadi juga langsung mengarahkan kami ke rumah tersebut. Dari kondisi kamar mandi juga tidak ada alat mandi yang biasa tersedia di kamar mandi, tidak ada peralatan sikat gigi yang biasanya tersedia di kamar mandi sebagaimana lazimnya kamar mandi pribadi. Mungkin juga WC umum yang tidak berfungsi tadi disebabkan karena ada rumah-rumah atau warung makan yang menyediakan fasilitas kamar mandi umum, atau bisa jadi kamar mandi umum dijadikan lahan usaha untuk fasilitas para pengunjung yang dapat mendapatkan banyak keuntungan juga. Seperti yang terjadi di tempat-tempat ziarah, salah satunya di areal Makam Gus Dur, banyak usaha ponten umum atau kamar mandi umum yang berdiri dimana-mana sebagai lahan usaha untuk meraih keuntungan dari para peziarah.
Saya baru tahu kalau rumah yang kamar mandinya kami tumpangi tersebut warung makan. Waktu itu warung makan tersebut tutup, saya baru tahu ketika masuk, soalnya pas sebelum masuk, kondisi warung masih tutup, jadi saya tidak tahu isi warungnya, namun ketika saya sudah masuk, saya baru tahu kalau itu warung makan. Setelah selesai keluar dari kamar mandi, saya melihat hidangan yang tersaji di meja saji, sepertinya makanan tersebut baru matang, karena kondisinya masih utuh, masih terlihat fresh lah istilahnya, meskipun itu bukan masakan sayur melainkan oreg tempe. Di warung tersebut juga terdapat kursi-kursi dan meja makan yang masih tertata rapi. Sepertinya warung tersebut baru akan buka nanti malam, mungkin sekitar jam 22.00 ke atas, toh memang kondisi di luar warung masih lengang. Sepertinya memang kondisi Gunung Kawi akan terasa ramai kalau sudah jam 22.00 WIB ke atas, seperti yang dikatakan dosen saya bahwa Gunung Kawi biasanya ramai di malam Suro mulai jam setengah dua belasn akan lebih ramai. Jadi semakin menjelang dini hari semakin ramai pengunjung yang berdatangan.
Setelah selesai dari kamar mandi, saya, Cahyo dan Lutfi mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah, namun bapak yang tadi menyambut kami tidak ada, yang ada anak perempuan kecil sekitar umur 10 tahunan ya mungkin juga anak bapak tadi yang sedang menonton TV. Sepertinya anak kecil tersebut sudah terbiasa dengan kondisi malam yang ramai di sekitar rumahnya, buktinya anak perempuan tersebut masih belum tidur dan asyik nonton TV. Karena bapak tadi tidak ada, jadi kami berterima kasih kepada anak tersebut dan pamit keluar. Setelah itu, kami ikut bergabung dengan teman-teman yang daritadi sudah asyik bercengkrama di areal pintu masuk parkir dan warung di seberang parkir. Saya merasa lapar, saya pun ikut duduk-duduk di warung seberang parkir bersama teman-teman yang lebih dulu disana. Ternayata teman-teman disana sudah memesan Mie Sedap Cup terlebih dahulu, saya juga langsung memesan mie tersebut. Setelah selesai makan-makan mie bersama teman-teman, saya kembali bergabung dengan teman-teman yang sedang duduk-duduk ngobrol di pintu masuk parkir. Tidak lama kemudian, dosen kami mengajak kami semua naik untuk meneruskan perjalanan menuju pesarean tempat orang-orang ngalap berkah.
Mendaki Pasar Gunung Kawi
Saya dan teman-teman mulai naik untuk masuk ke areal jalan menuju pesarean Mbah Jugo yang menjadi jujukan para pengunjung di Gunung Kawi. Sebelum masuk jalan menuju pesarean, saya melihat jendela bergambar Yesus cukup besar sehingga tampak jelas di mata. Ternyata memang jendela tersebut merupakan gereja yang berdiri di desa tersebut. Desa di Gunung Kawi memang didominasi oleh orang Islam dan Kristen, mereka hidup bercampur baur meskipun berbeda keyakinan, bahkan pesarean Gunung Kawi seolah-olah menjadi alat pemersatu solidaritas di antara mereka. Memasuki jalan menuju pesarean, kondisi jalan sudah mulai terlihat ramai oleh hingar bingar aktivitas para pengunjung yang berjalan kaki. Seperti tempat-tempat ziarah biasanya, sepanjang jalan menuju pesarean atau petilasan orang-orang yang dimuliakan layaknya wali atau leluhur bersama selalu akrab dengan namanya orang-orang berjualan, layaknya pasar yang menjadi pelengkap wisata religi tersebut. Di sebelah kanan kiri jalan terdapat banyak orang berjualan aksesoris khas Cina, selain itu banyak pula wisma atau penginapan yang berdiri di kiri kanan jalan. Aksesoris yang dijual mayoritas pernak pernik berbau Cina, bahkan penginapan di sekitar Gunung Kawi juga dihiasi dengan ornamen-ornamen Cina. Terdapat guci-guci ornamen Cina dan kaligrafi ayat Al-Qur’an juga yang dijual disana. Jadi aksesoris atau pernak pernik dari segala kepercayaan atau agama ada disana, ada kalung salib dari batu giok yang berwarna hijau, dan kalung berlfalkan Allah juga ada, meskipun lebih banyak bermotif dewa-dewa Cina.
Nama-nama penginapan di Gunung Kawi juga bermacam-macam, yang saya hafal ada hotel bernama “Roro” hotel. Di pintu masuk hotel tersebut terdapat dua patung perempuan seperti dayang-dayang di keraton yang menggunakan kemben dengan posisi tangan yang menyimbolkan selamat datang kepada para pengunjung yang menginap di hotel yang minimalis tersebut. Di tengah-tengah antara kedua patung tersebut terdapat lukisan yang terdapat gambar naganya. Ornamen yang saya lihat tersebut menurut saya merupakan perpaduan budaya Jawa dan Cina. Kemudian, saya juga sempat melihat toko yang menjual minuman keras, saya melihat tumpukan bir Bintang di samping toko tersebut, sepertinya itu merupakan hal biasa meskipun itu areal jalan menuju pesarean. Pokoknya jalan di bagian ujung agak ke tengah yang dijajakkan itu berbau duniawi menurut saya, jadi kesannya masih profan, masih banyak penjual aksesoris, penginapan, tempat miras, tempat billiyard, bahkan ada pula orang-orang yang asik bermain undian, yakni bertaruh mengundi untuk mendapatkan handphone. Adapun handphone yang diundi tersebut terdapat 3 handphone dengan 3 jenis handphone juga, yakni Nokia, Blackberry dan handphone Cina. Sepertinya handphone yang dijadikan taruhan bervariasi kelasnya, mulai dari handphone kualitas rendah seperti hanphone Cina, hingga smartphone seperti Blackberry. Sepertinya orang-orang juga sudah sangat akrab dengan tiga jenis handphone yang sudah lama menguasai pasar gadget Indonesia.
Semakin ke tengah, saya menemukan pertunjukan wayang, dari yang megah yang ditampilkan di tempat luas seperti padepokan yang khusus untuk acara tahunan hingga pentas wayang sederhana yang ditampilkan di rumah-rumah sebagai tontonan atau hiburan untuk para tamu atau pengunjung. Di sekitar tempat-tempat pementasan wayang tersebut selalu ada tempat semacam loket pendaftaran bagi warga yang ingin mendaftarkan acara selamaetan atau nyadran. Disana juga terdapat tarif-tarif yang sudah ditentukan untuk acara-acara yang bisa diselenggarakan dengan media wayang tersebut. Nominal harga tarif yang tersedia beraneka ragam, mulai dari yang standar hingga belasan juta tersedia disana, sesuai dengan skala dan jenis selametan dan nyadrannya.
Mengundi Nasib di Ciam Si
Semakin ke atas semakin dekat pula pintu masuk menuju pesarean, dan disana juga semakin banyak orang yang menjual bunga, dupa dan perlengkapan ziarah lainnya. Di sana juga terdapat tempat untuk meramal nasib yang disebut dengan Ciam Si. Saya dan teman-teman menyempatkan untuk datang kesitu dan mencoba ikut berpartisipasi dengan pengunjung yang sedang asyik mengundi nasib melalui stik kayu yang dikocok-kocok. Kondisi Ciam Si sangat ramai, penuh orang-orang yang berjubel mengantri dan berebut tabung bambu yang berisi stik kayu yang bertuliskan nomer ramalan tersebut. Saya dan teman-teman pada awalnya merasa bingung dengan prosedur atau alur yang harus dilalui pada saat masuk Ciam Si, apalagi ketika itu ada orang yang sedang mengantri, hanya duduk-duduk, ada yang mengocok kayu, ada yang menggoyang-goyangkan tabung bambu di atas dupa dan ada yang melemparkan uang ke tempat yang sudah disediakan. Akhirnya saya mencoba bertanya kepada salah satu pengunjung tentang alur untuk mendapatkan stik kayu tersebut. Ibu-ibu pengunjung Ciam Si yang saya tanyakan tadi menjelaskan alurnya kepada saya. Ternyata untuk mendapatkan stik kayu tersebut saya harus mengambil stik kayu ke petugas Ciam Si di meja depan dan membayar uang, entah berapa karena sepertinya uang yang diberikan tersebut sukarela. Ibu tadi sepertinya orang Madura, atau orang Pendalungan, karena aksen bicaranya masih kentara dengan Madura, meskipun menggunakan bahasa Indonesia. Disana banyak pula ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak muda yang bicara dengan menggunakan bahasa Madura dan bicara bahasa Indonesia dengan aksen Madura yang masih kentara.
Setelah saya faham alurnya, saya pun mengantri untuk mendapatkan stik bambu tadi. Setelah saya mendapatkan stik kayu yang ditempatkan di dalam tabung bambu, saya menggoyang-goyangkan tabung bambu di atas dupa sambil memanjatkan doa dan tak lupa saya memberikan uang ala kadarnya saja. Setelah selesai berdoa, saya mengocok tabung bambu tadi dan dua stik kayu terjatuh dari tabung, kemudian saya mengambil dua stik kayu yang jatuh tadi dan melihat nomer yang tertera pada kayu tersebut. Ternyata saya mendapat No.27 dan No.31. Kemudian saya langsung menyetorkan dua stik kayu yang saya dapat tadi kepada petugas dan dengan segera petugas tersebut memberikan dua kertas kecil berwarna pink kepada saya. Kertas tersebut ternyata berisi ramalan tentang masa depan saya, kemudian saya membaca hasil ramalan No.27 yang bertuliskan sebagai berikut :
Harta dan uang bakal jadi beruntungan
Itu perkara tinggal baik tiada usaha jadi suatu kenang-kenangan.
Kau tunggulah dengan kesabaran fikiran ingatan bikin kelapangan.
Depan kau menunggu keamanan rumah tangga selamat tiada halangan.
Begitulah isi ramalan No.27 milik saya. Saya bisa memahami apa maksud dari ramalan tersebut, bahwa pada intinya harta dan uang akan menjadi keberuntungan jika saya mau berusaha dengan sungguh-sungguh, disertai dengan kesabaran dan kelapangan, selain itu saya akan mendapati kehidupan rumah tangga yang baik. Saya mengamini saja hasil ramalan tersebut, apalagi hasil ramalan tersebut baik untuk saya. Memang sebenarnya sudah umum sekali orang yang beruntung atau sukses itu adalah orang yang mau berusaha bersungguh-sungguh, jadi tulisan ramalan tersebut juga bersifat nasehat atau petuah, dimana ada anjuran untuk berusaha agar mencapai kesuksesan yang tidak sekedar harapan yang menggantung saja.
Kemudian, saya melanjutkan membaca hasil ramalan di kertas No.30 yang bertuliskan sebagai berikut :
Buah delima warna biru-biru punya tanaman.
Kau yang pergi dapatkan tempat yang nyaman.
Kembang yang mekar kandung buah di itu jaman.
Alamat rejeki berada didepannya pintu tinggal aman.
Hasil ramalan yang kedua juga berisi hal yang positif, saya mengamini kembali dan semoga yang tertulis pada dua kertas yang saya peroleh tadi kelak menjadi kenyataan (Amiiiin…). Bahasa dalam kalimat yang ada di kertas ramalan tersebut memang cukup aneh susunan katanya, bahkan ada yang seperti pantun atau gurindam saja, tapi kebetulan kertas hasil ramalan milik saya mudah untuk difahami, tidak seperti milik Romdan yang susah difahami, saya lupa waktu itu apa bunyi kalimatnya, saya hanya mengingat sekilas bahwa bunyinya kurang lebih berhenti mengejar-ngejar dan memaksa jodoh atau apalah, pasti nanti ketemu jodohnya, pada intinya hasil ramalan milik Romdan seperti itu.
Dua kertas yang saya peroleh tadi, lebih cenderung berisi tentang perkiraan rejeki yang akan diperoleh kelak. Mungkin banyak pula para pengunjung yang mendapatkan ramalan mengenai perolehan rejeki dan berharap akan mendapatkan rejeki yang melimpah, apalagi Gunung Kawi merupakan salah satu tempat yang dipercaya dapat memberikan keberuntungan, bahkan konon banyak yang mencari pesugihan di Gunung Kawi. Namun, mungkin banyak pula orang-orang yang ingin mengetahui jodohnya kelak dan berharap mendapat jodoh yang baik. Memang sepertinya jodoh dan rejeki sudah menjadi dua komponen yang saling berkaitan dan sangat diharapkan oleh orang-orang, apalagi bagi orang-orang yang sudah dewasa, sudah matang untuk membina rumah tangga. Toh memang siapa juga sih yang tidak mau memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia dan sejahtera lahir bathinnya, pasti setiap orang mengharapkannya.
Setelah selesai dari Ciam Si dan berhasil keluar dari kerumunan ramai tersebut, saya dan Lutfi duduk-duduk di samping loket pendaftaran slametan dan nyadran. Disana terdapat papan tulisan tarif yang sangat fantastis untuk setiap macam penyelenggaraan selametan dan nyadran, mulai dari yang standar hingga 5 juta rupiah. Melihat tarif yang tinggi tersebut terbayang di pikiran saya bagaimana melimpahnya tempat ini. Uang yang dibayarkan oleh orang-orang yang mengadakan acara di Gunung Kawi pasti bisa menjadikan Gunung Kawi tetap terjaga bahkan bisa digunakan untuk renovasi atau biaya perawatan wisata religi Gunung Kawi, sehingga kondisi pesarean pun terpelihara dengan baik. Sepertinya uang sudah memainkan peran di wisata religi ini, bahkan sudah ada patokan-patokan harganya sendiri yang variatif. Sudah ada klasifikasi modal yang dibutuhkan untuk mengadakan acara-acara tertentu, itu menandakan bahwa komersialisasi sudah mulai masuk, bahkan ke ranah slametan sekalipun yang dianggap sakral dan transedental. Entah seperti apa detail dari instrumen ritual slametan dan nyadran tersebut, yang jelas nominal harga yang dijadikan kebijakan tarif tersebut cukup fantastis.
Masuk Pesarean
Kemudian saya, Lutfi dan Cahyo mulai masuk areal pesarean. Di pintu masuk pesarean terdapat tulisan larangan untuk mengambil gambar di areal pesarean, akhirnya Cahyo mengurungkan niatnya untuk mengambil foto di areal pesarean tersebut meskipun di pintu masuk ada beberapa pemuda yang asyik berfoto-foto ria. Saya, Lutfi dan Cahyo mengitari areal pesarean terlebih dahulu, mengamati kondisi di sekitar pesarean. Disana banyak pohon yang mengelilingi pesarean, kondisinya pun sudah ramai dengan pengunjung yang mengitari pesarean. Ada yang berdoa di depan pintu masuk, ada yang berdoa di sekitar dinding-dinding belakang pesarean, bahkan ada yang menggelar tikar duduk-duduk dan tidur bersama keluarganya. Orang-orang berdoa dengan berbagai cara, sesuai dengan keyakinannya masing-masing yang menyamakan adalah instrumen media doanya, yakni membawa bunga dan kemenyan atau dupa. Saya, Lutfi dan Cahyo juga mencoba untuk masuk ke pesarean, namun karena kami tidak membawa bunga dan kemenyan dan bunga, akhirnya kami kembali keluar pesarean untuk membeli bunga dan kemenyan.
Kami membeli bunga dan kemenyan di dekat pintu masuk pesarean. Harga bunga dan kemenyan tadi 10rb per bungkusnya, cukup mahal juga sih, tapi ya apa boleh buat, mungkin memang harga yang layak untuk di tempat-tempat wisata seperti itu. Sudah wajar sih patokan harga tinggi untuk para wisatawan, toh memang mereka berjualan disana untuk memperoleh keuntungan dari usahanya. Secara prinsip ekonomi sah-sah saja, tapi yang namanya bunga yang bisa dibawa sendiri dari rumah atau bisa diperoleh gratis sudah mengalami komersialisasi. Banyak orang-orang yang memilih membeli bunga disana daripada membawa sendiri dari rumah, toh disini jadi terlihat seperti proses penyeragaman secara tidak langsung. Karena, takaran bunga dan kemenyannya sama pula dengan takaran bunga dan kemenyan yang dijual oleh penjual lainnya. Keberadaan penjual bunga dan kemenyan tersebut sepertinya secara tidak langsung menimbulkan keharusan untuk membelinya disana, mengingat bahwa orang-orang yang masuk ke ruang pesarean sepertinya tidak afdol kalau tidak membawa bunga dan kemenyan tersebut.
Setelah membeli bunga dan kemenyan, saya, Cahyo dan Lutfi segera kembali masuk ke areal pesarean. Sebelum masuk ke pesarean, saya berdoa terlebih dahulu di depan pintu masuk pesarean, saya mencoba meniru saja apa yang dilakukan oleh para pengunjung lainnya. Saya berdoa di samping kedua bapak-bapak yang berdoa dengan caranya masing-masing. Bapak-bapak yang berdiri tepat di samping saya berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya ke atas, ya cara orang Islam berdoa lah gampangannya, ya memang karena bapak tersebut orang Islam, sambil memejamkan mata bapak tersebut berdiri berdoa dengan khusyuk tanpa menghiraukan kondisi sekitar yang ramai sekitar beberapa detik. Kemudian, tepat di samping bapak beragama Islam tersebut berdiri bapak-bapak yang sepertinya beragama Kristen yang tengah berdiri berdoa pula seperti bapak Islam tadi. Bapak Kristen itu juga memanjatkan doa dengan menelungkupkan kedua tangannya dengan khusyuk. Saya yang mencoba berdoa di samping mereka berdua cukup bingung juga, karena ini untuk yang pertama kalinya saya berziarah dan berdoa di tempat orang-orang yang berbeda-beda keyakinannya. Saya cukup terkesima dengan keanekaragaman cara berdoa mereka, rasanya indah sekali melihat perbedaan yang berdiri berdampingan, sampai saya sendiri lupa berdoa dengan khusyuk, saya malah asyik mengamati mereka berdua, bahkan mereka berdua tidak merasa terganggu dengan kondisi yang berbeda tersebut, malah mereka terlihat benar-benar menghayati doa mereka seolah-olah menyelami doa dan wisata spritualnya masing-masing. Saya sendiri malah asyik memikirkan tentang mereka berdua, bukan fokus kepada yang Maha Atas, bahkan saya tidak lama-lama berdoa seperti mereka, karena saya merasa canggung juga, mungkin karena saya juga belum terbiasa. Entah sebenarnya orang-orang yang berdoa tersebut benar-benar khusyuk atau tidak, yang pasti saya hanya terkesima melihat gerak gerik mereka.
Setelah selesai berdoa di depan pintu masuk pesarean tadi, saya, Lutfi dan Cahyo meletakkan sandal dengan rapi di samping pintu masuk. Di samping pintu masuk tersebut berdiri seorang penjaga pesarean dengan gagah, menggunakan baju khas orang Jawa lengkap dengan blangkonnya. Penjaga tersebut dengan gagah berdiri mengawasi kondisi sekitar, saya kembali merasa bingung sekaligus terlena kondisi yang ramai, sehingg saya yang masih mengenakan sandal tidak sengaja menginjak keset pesarean, sampai saya sempat ditegur penjaga tadi dengan wajahnya yang tegas. Saya pun segera minta maaf dan menghindari keset tersebut dan meletakkan sandal dengan rapi. Kemudian saya segera masuk dan duduk bergabung dengan para pengunjung lainnya yang sudah terlebih dahulu duduk bersimpuh disana. Pemandangan doa yang beraneka ragam saya temui lagi di dalam ruang tersebut, saya pun mulai terbiasa dengan kondisi tersebut dan bisa berdoa lebih tenang daripada sebelumnya.
Sambil menunggu maju ke depan memberikan kemenyan dan bunga kepada juri kunci di depan sana, saya sesekali terus memanjatkan doa sambil mengamati dan mendengarkan kondisi di sekitar ruang pesarean tersebut. Banyak orang Cina, orang Madura dan Jawa bercampur baur disana. Tepat di depan saya ada rombongan keluarga yang duduk berdampingan memanjatkan doa sambil menunggu giliran ke depan sama seperti yang sedang saya lakukan. Ibu di depan saya itu menarik anak laki-laki yang sepertinya berumur sekitar 20 tahunan untuk tetap duduk di sampingnya dan turut berdoa. Namun, sepertinya anak laki-laki tersebut terlihat enggan dan malas mengikuti anjuran ibunya tersebut, entah alasannya apa, tapi dari raut wajah pemuda tersebut terlihat kalau ia hanya ikut-ikut keluarganya saja. Wajah pemuda tersebut tidak sumringah dan terkesan malas-malasan, namun sepertinya ada yang aneh pula dari cara gerak kakinya, sepertinya pemuda tersebut sedang sakit. Lutfi sendiri berbisik di telinga saya dan berpendapat kalau sepertinya pemuda tersebut mengalami sakit dan diajak kesini untuk berdoa agar mendapatkan kesembuhan, namun sepertinya pemuda tersebut tidak mau. Ya itu sih hanya perkiraan kami saja, yang pasti raut wajah pemuda tersebut lemas dan enggan sekali mengikuti ritual doa-doa tersebut.
Di ruang pesarean tersebut juga terdengar suara ahli kunci yang memberikan wejangan kepada keluarga yang sepertinya akan membuka usaha. Saya mengetahuinya dari kalimat-kalimat yang diucapkan ahli kunci tersebut dengan lantang yang intinya menyangkut tentang usaha dan rejeki yang akan didirikan oleh keluarga siapa gitu, lupa saya namanya.Orang yang minta didoakan oleh juru kunci tersebut, ternyata orang Cina yang datang sekeluarga dengan membawa baskom yang berisi bunga dan kemenyan yang saya sempat lihat tadi. Rupanya keluarga tersebut akan membuka usaha, kalau tidak salah usaha resturan, saya lupa apa usahanya, yang pasti initinya mereka akan membuka usaha. Mereka meminta doa dan petunjuk hari baik untuk membuka usaha agar usahanya tersebut tetap diberikan kelancaran rejeki.
Kemudian saya dan para pengunjung yang lainnya terus bergeser maju ke depan, sampai akhirnya saya mendekati ahli kunci. Bau kemenyan dan bunga juga semakin menyengat, aktivitas ahli kunci juga terlihat jelas. Ada dua ahli kunci yang bertugas mengambil bunga dan kemenyan dari para pengunjung dan memberikan dua bungkusan kepada para pengunjung. Para pengunjung juga tidak lupa menyerahkan dua kantong berwarna kuning dan merah kepada ahli kunci, agar kantong tersebut diisi masing-masing dua bungkusan yang diberikan ahli kunci tadi. Pada waktu itu saya juga tidak mengerti apa isi bungkusan yang diberikan kepada para pengunjung tadi, namun ketika giliran saya yang mendapatkannya, saya mencoba mencari tahu apa isi bungkusan yang saya dapat dari ahli kunci pesarean Mbah Jugo tadi. Setelah selesai dari ahli kunci, saya tidak langsung keluar dari ruang pesarean, saya duduk-duduk sebentar sambil menunggu teman-teman saya lainnya keluar. Saya mengamati kondisi ruangan sekitar lagi, kali ini saya mengamati benda-benda yang terdapat di ruang tersebut. Di ruangan tersebut terdapat jam-jam besar yang berdiri berjejeran di samping dinding-dinding ruang pesarean.
Jam-jam tersebut tapi tidak berjalan atau mati, tidak ada yang hidup, kecuali dua jam yang hidup dipajang di depan. Saya juga tidak begitu mengerti kenapa jam-jam tadi tidak hidup, hanya dua jam saja. Saya malah berpikir, jangan-jangan jam-jam tersebut tidak dihidupkan untuk pengiritan, atau agar tidak mengganggu kekhusyukan berdoa pengunjung dalam ruangan, karena memang jam tersebut sewaktu-waktu akan mengeluarkan suara dentingan jam yang keras. Apalagi jam-jam tersebut merupakan jam lemari besar, bukan jam dinding. Jam-jam tersebut merupakan sumbangan dari para pengunjung yang sudah meraih keuntungan dan kesuksesan berkat doanya di Gunung Kawi yang terkabul. Meskipun Mbah Jugo bukan orang Kristen, namun di pesarean tersebut orang-orang dari berbagai kepercayaan bebas berdoa dengan caranya masing-masing. Orang Islam disana memang mayoritas Islam kejawen yang masih terbiasa dengan tradisi berdoa dengan menggunakan kemenyan dan bunga. Kondisi seperti ini tidak akan ditemui di makam para wali dimanapun tempatnya.
Kemudian, saya dan Lutfi keluar dari ruang pesarean dan duduk-duduk sebentar di sekitar pohon Dewandaru. Kondisi di luar pesarean semakin ramai, orang-orang yang duduk-duduk dan tidur di sekitar pohon Dewandaru tersebut juga semakin banyak. Konon katanya, orang yang kejatuhan buah Dewandaru akan mendapatkan rejeki atau keberuntungan nantinya, sehingga banyak yang berdiam diri di bawah pohon tersebut. Kemudian saya dan Lutfi memutuskan untuk keluar dari areal pesarean dan duduk di sekitar pintu masuk areal pesarean. Kami memutuskan untuk duduk di dekat pos informasi pesarean Gunung Kawi dan kami mencoba berbincang-bincang dengan petugas pos informasi yang bernama Pak Anut. Kami duduk-duduk tidak begitu lama, Pak Anut juga terlihat sibuk mondar mandir dengan temannya. Namun, kami juga sempat bercengkrama mengenai aktivitas di Gunung Kawi, bahkan tanpa banyak bertanya, Pak Anut bercerita sendiri tentang sedikit sejarah Gunung Kawi dan Mbah Jugo tersebut.
Pak Anut menceritakan bahwa Mbah Jugo merupakan keturunan Pangeran Diponegoro yang memiliki peran dalam menyebarkan agama Islam di Gunung Kawi serta mempersatukan umat Islam dan Kristen di Gunung Kawi. Pak Anut juga menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat di Gunung Kawi tetap tentram meskipun berbeda agama, bahkan saling membantu dalam setiap acara keagamaan masing-masing. Pak Anut menceritakan bahwa setiap orang Kristen merayakan hari besar seperti Natal, Paskah, Kenaikan Isa Al-Masih di gereja dan acara-acara lainnya, orang-orang Islam turut serta membantu persiapan kelengakapan acara, bahkan sering diundang pula, begitupun sebaliknya. Orang Kristen juga turut serta dalam kegiatan keagamaan orang Islam, hanya sekedar membantu-bantu dan menghormati saja. Saya sempat menanyakan tentang para peziarah yang datang ke Gunung Kawi, karena saya merasa sering menjumpai orang Madura ikut meramaikan suasana Gunung Kawi. Menanggapi pertanyaan saya, Pak Anut menjelaskan bahwa setiap malam Jumat dan malam Minggu, banyak peziarah yang datang, khususnya orang-orang Madura dari Jember, Situbondo dan Bondowoso. Saya juga tidak lupa menanyakan tentang isi bungkusan yang belum sempat saya buka yang diberikan oleh ahli kunci tadi. Pak Anut mengatakan bahwa isi bungkusan tersebut berisi bunga dan kemenyan. Kemenyan tersebut disimpan agar doa-doa yang dipanjatkan terkabul, kemudian bungkusan bunga tersebut bisa diletakkan di toko atau di atas pintu untuk kelancaran rejeki, begitu yang dijelaskan Pak Anut kepada saya mengenai bungkusan yang diberikan ahli kunci tersebut.
Ternyata yang saya lakukan sama seperti barter kemenyan dan bunga milik saya dengan kemenyan dan bunga dari ahli kunci yang sudah diberikan doa. Disini sudah terlihat sistem patronase dimana ahli kunci menjadi seseorang yang dimuliakan yang dipercaya untuk memberikan doa-doa dan menjadi perantara untuk menyampaikan doa-doa para pengunjung agar terkabul. Sebenarnya, saya membeli bunga dan kemenyan sama saja dengan membeli doa dari ahli kunci tadi. Jadi dalam urusan doa mendoakan sudah ada unsur kapital dan komersial. Tapi, orang-orang yang berkunjung kesana sepertinya tidak berpikir panjang tentang masalah kalkulasi dana tersebut, yang terpenting mereka bisa mendapatkan berkah dari pesarean Mbah Jugo tersebut.
Setelah berbincang-bincang, saya dan Lutfi berjalan kembali dan bertemu dengan teman-teman lainnya, kamipun bergabung dan berjalan bersama-sama. Kemudian saya, Lutfi dan Tyas pergi untuk mencari tempat meramal melalui garis tangan, namun ketika ditemui ternyata tempat tersebut sudah tutup. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi makan saja dan kami memutuskan untuk pergi ke warung sate untuk makan sate kelinci yang dihargai Rp 18.000 per porsinya. Kami menunggu sate kelinci tersebut cukup lama sekali, bahkan hampir setengah jaman, namun kami tetap menikmati saja sambil ngobrol-ngobrol. Di depan warung sate tersebut ada penjual kaset VCD dangdut yang ramai oleh para pembeli. Tidak lupa juga musik dangdut koplo terdengar dari stan penjual kaset VCD tersebut, para pembeli yang berhenti di stan tersebut terlihat menikmati tayangan dangdut koplo yang terpampang di televisi. Ketika kami sedang asyik menuggu sate kelinci, ada pengamen yang menghampiri kami. Pengamen tersebut datang bertiga atau berempat, saya lupa, yang saya ingat mereka bermata sipit semua, menandakan kalau mereka etnis Cina. Untuk yang pertama kalinya saya melihat pengamen dari pemuda etnis Cina, kami pun memberikan uang selayaknya saja. Setelah lama menunggu, akhirnya sate kelinci tersebut tersaji dan kami langsung menyantapnya.
Setelah selesai makan, kami kembali berjalan ke atas lagi dan bertemu teman-teman di tempat aksesoris. Rupanya mereka sedang asyik meilihat-lihat dan memilih aksesoris yang mayoritas kalung dan gelang yang terbuat dari batu giok dan tiruan batu giok. Ibu-ibu yang menjual aksesoris tersebut sangat ramah kepada kami, sehingga kami bisa bertanya-tanya dengan nyaman mengenai aksesoris dan kisaran harganya. Harga kalung batu giok asli dihargai Rp 30.000 dan untuk yang palsu hanya dihargai Rp 10.000 saja. Saya tidak yakini kalau kalung tersebut benar-benar asli, karena harganya terlalu murah, tapi ya sudahlah. Saya tertarik untuk membelinya, namun saya tidak membawa uang banyak. Ternyata Zella membelikan saya kalung tersebut secara Cuma-Cuma, saya pun sangat berterima kasih kepada Zella atas hadiah kalung giok tersebut. Ibu penjual kalung tersebut mengatakan bahwa kalung batu giok tersebut melambangkan keselamatan, istilahnya seperti jimat pelindung diri bagi pemakainya. Setelah kami selesai membeli aksesoris, kami turun ke bawah bersama-sama.
Tidur di Emperan
Hari semakin larut dan memasuki dini hari, kondisi jalanan semakin ramai, bahkan semakin banyak orang yang tidur di emperan ruko dan rumah-rumah warga. Banyak pemuda pemudi yang asyik bercengkrama dan duduk-duduk di samping jalan, tertawa bersama dan sesekali menggoda orang-orang yang sedang berjalan melintas di depan mereka. Kemudian, kami memilih duduk beristirahat menunggu pagi di emperan rumah orang. Sepertinya pemilik rumah tidak terganggu dengan kondisi seperti ini, sudah terbiasa dengan kondisi orang-orang yang numpang tidur di emperan rumahnya. Sebagian teman lainnya ada yang turun ke bawah entah kemana. Semakin malam semakin menuju pagi udara semakin dingin menusuk tulang. Teman-teman yang sedari tadi bercanda sudah banyak yang memutuskan untuk mengambil tempat masing-masing untuk tidur. Karena tempat sudah tidak cukup, saya memutuskan untuk turun menyusul sendiri teman-teman yang tadi turun. Saya menghubungi Lutfi yang tadi juga ikut turun dengan teman-teman agar saya bisa menemukan keberadaan mereka dan ikut bergabung dengan mereka. Ternyata mereka tidur agak jauh dari lokasi parkiran tadi, mereka tidur di emperan toko. Masih banyak para pemuda yang ikut tidur pula di emperan. Saya dan teman-teman pun tidur dengan alas ala kadarnya saja, meskipun kondisi sangat dingin. Kami tidak peduli seperti apa dinginnya, yang penting bisa tidur melepas lelah sejenak meskipun tak nyenyak.
Ketika azan Subuh mulai berkumandang, kami semua bangun dan siap-siap berkumpul di parkiran bersama teman-teman yang lainnya untuk bersiap pulang. Setelah berkumpul di parkiran, kami diabsen satu per satu agar tidak ada teman yang ketinggalan. Kondisi pagi itu masih tetap ramai pengunjung dan para pemuda yang masih tertidur di emperan, mungkin mereka memutuskan untuk melanjutkan agenda acara Suroan selanjutnya yang akan diselenggarakan di Gunung Kawi. Setelah dirasa sudah lengkap semua, teman-teman menyalakan motor masing-masing dan segera bergegas berjalan keluar dari areal parkiran untuk kembali pulang ke Malang. Kami pun kembali ke Malang dengan selamat dan membawa pengalaman serta kesan masing-masing tentang Ngalay Berkah di Gunung Kawi bersama orang-orang yang Ngalap Berkah.
Ada emosi keagamaan dan histeria tersendiri yang saya jumpai disana dari perilaku para pengunjung disana. Keberadaan Gunung Kawi dengan segala mitos yang ada mampu menarik energi spritual orang-orang yang percaya terhadap kesakralan pesarean Mbah Jugo tersebut, baik dari agama Islam maupun Kristen berbaur menjadi satu dengan caranya masing-masing. Mereka yang datang mungkin terbawa massa, entah mereka datang karena benar-benar percaya atau hanya sekedar ikut-ikutan saja, namun yang pasti ada unsur emosi keagamaan yang sedikit atau banyak membawa mereka ke Gunung Kawi. Puncak histerianya mereka sampai rela tidur semalaman bahkan berdiam diri di bawah pohon Dewandaru hanya mengharapkan keberuntungan yang konon akan jatuh dari pohon Dewandaru tersebut.
Gambaran orang Cina yang juga berharap keuntungan di Gunung Kawi juga mencerminkan bahwa orang Cina sangat mengutamakan keuntungan dalam berbisnis. Keluar dari pandangan mencari keuntungan lewat Gunung Kawi, orang Cina memang pandai berbisnis dan mampu menguasai perekonomian. Namun, jika bercermin dari kegiatan mencari keuntungan di Gunung Kawi, kebanyakan yang saya amati doa yang diharapkan oleh orang Cina tersebut merujuk pada keberuntungan usaha bisnis, seperti doa-doa yang diserukan oleh ahli kunci kepada keluarga Cina yang akan membuka usaha tadi yang saya dengar dengan jelas di ruang pesarean. Demikian sepenggal cerita semalam yang saya alami di Gunung Kawi.
NB: Foto-foto berkaitan dengan catatan perjalanan ini banyak yang hilang, entah kemana.