Personal, Tips

Ibu Makin Jago Jadi Penulis? Begini Langkah Mewujudkannya

Menulis adalah kegiatan yang biasa kita lakukan apalagi di era digital ini. Tua, muda sudah biasa kan nulis status di media sosial, terutama ibu-ibu yang native sama beberapa media sosial seperti  facebook, instagram dan twitter. Seringkali kita memposting beragam konten disertai dengan caption yang menarik, mulai dari apa yang kita rasakan dan pikirkan, hingga konten jualan.

Menulis status di media sosial sudah biasa ya, tapi kalau menulis terus dapat cuan, itu yang luar biasa. Emang bisa ya tulisan kita menghasilkan cuan? Jawabannya bisa banget kalau kita mau bertekad menjadi penulis. Ditambah lagi profesi menjadi penulis ini tidak pandang usia, termasuk buat ibu-ibu yang pengen banget makin jago jadi penulis.

Lalu bagaimana caranya ibu makin jago jadi penulis? Apa saja sih senjata perang yang dibutuhkan? Yuk, kita intip apa saja yang ibu butuhkan biar makin jago.

Mau Belajar dan Berdaya

Menulis adalah bagian dari kegiatan literasi. Agar tulisan ibu lebih berisi, ibu harus mau banyak belajar dari beragam sumber. Di era digital ini, banyak program kelas menulis yang tersedia di berabagai platform. Salah  satu platform yang menyediakan program intensif untuk ibu penulis adalaha Ibu Punya Mimpi. Ibu Punya Mimpi adalah salah satu wadah untuk individu khususnya ibu-ibu yang ingin comeback berkarya dengan minat yang dipilih, mulai dari pebisnis, content creator, hingga penulis.

Biasanya, pasca menjadi ibu khususnya ibu baru, seringkali ada rasa bingung hingga lost dalam menata mimpi. Nah, Ibu Punya Mimpi hadir menjawab kebutuhan ibu-ibu yang merasa bingung mau memulai berkarya dari mana. Ibu Punya Mimpi punya banyak program yang bisa membantu ibu-ibu untuk berani bermimpi dan mewujudkan mimpi tersebut.

Nah, bagi ibu-ibu yang passionate dalam dunia kepenulisan, Ibu Punya Mimpi punya program kece badai buat ibu-ibu yang ingin comeback menjadi penulis. Nama programnya Comeback Journey Ibu Penulis. Dalam program ini, ibu akan mendapat pendampingan dari ibu-ibu penulis handal selama 4 bulan untuk mewujudkan mimpi ibu sebagai penulis.

Program Comeback Ibu Penulis ini sangat komprehensif. Ibu tidak hanya dibekali kemampuan menulis, namun dibantu untuk mengenali diri terlebih dahulu. Jadi, dalam program ini ibu akan mendapat program minibootcamp Kembali Mengenal Diri yang dipandu psikolog handal yakni Ibu Fathya Artha Utami. Buat ibu-ibu yang merasa lost, di sesi ini ibu akan diajak bercengkrama dengan diri sendiri untuk menemukan value yang sesuai dengan diri ibu.

Setelah mulai mengenal diri, ada banyak hal lain yang bisa kita dapat dari program Comeback Journey Ibu Penulis, mulai dari mempersiapkan dan menyusun strategi, hingga membangun karir ibu sebagai penulis jago. Beberapa materi yang ibu dapat meliputi, self branding, copywriting, creative writing, mengenal SEO,  dan mencari pekerjaan sebagai freelance writer. Nah, lengkap banget kan bu program Comeback Journey Ibu Penulis ini.

Selain itu, ibu tidak hanya mendapat ilmu, namun memperoleh banyak inspirasi dan relasi dari ibu-ibu penulis lainnya. Metode belajarnya pun sangat fleksibel karena menggunakan metode self-paced. Ibu akan memperoleh materi berupa video yang bisa ditonton kapan dan dimana saja. Metode ini sangat efektif bagi ibu-ibu yang banyak kesibukan dan sulit menentukan jam pasti untuk belajar secara intensif. Program sebagus ini punya biaya yang terjangkau dan bisa dicicil setiap bulannya lho bu. Jadi, ibu bisa belajar dan berkembang tanpa membuat kantong jebol.

Memperkaya Literasi

Membaca dan menulis itu udah satu paket ya bu. Kayak makan tanpa sambal itu nggak enak. Banyak membaca bisa memperkaya insight ibu dalam menulis. Dengan membaca ibu juga bisa menambah suku perbendaharaan kata. Tapi,  urusan baca membaca ini kadang agak tricky juga ya bu ibu. Mungkin ibu berpikir “saya harus baca buku apa ya?.” Kalau kata Bu Puty sih soal buku bacaan, ibu bebas membaca apa saja yang ibu suka.

Tapi, kalau ibu sudah mengenal diri dan tahu topik apa yang ibu suka dan kuasai, pasti akan lebih mudah memilih buku bacaan. Misal nih ibu suka menulis tentang dunia parenting, ibu bisa mulai memperbanyak membaca buku parenting yang dapat membantu memperkaya literasi ibu tentang dunia parenting. Itulah poin penting yang disampaikan oleh Bu Puty dalam sesi Bedah Buku Empowered Me (Mother Empowers).

Nah, perihal membaca kadang ada juga nih ibu-ibu yang terkendala soal waktu karena kesibukan ibu mengurus anak dan tugas lainnya. Tenang aja bu, di era digital ini, banyak alternatif bacaan, salah satunya audiobook yang tersedia di berbagai platform. Mendengar audiobook ini barangkali bisa menjawab kegalauan ibu-ibu yang ingin membaca sambil multitasking nih. Jadi, ibu bisa mendengar audiobook sambil nyuapin anak, nemenin maen anak, ngelonin anak, bahkan sambil bebersih rumah.

Selain itu, membaca beragam artikel juga membantu ibu untuk mengenali gaya bahasa dalam menulis. Tapi, melimpahnya informasi di dunia internet menuntut ibu untuk lebih selektif dalam memilih artikel. Pastikan artikel yang ibu baca itu valid dan terpercaya agar terhindar dari hoax yang merajalela di dunia maya. Dengan lebih selektif memilih bacaan, ibu juga bisa terhindar dari yang namanya junk reading.

Literasi Finansial adalah Koentji Mewujudkan Mimpi

Apalagi sih senjata perang biar makin jago jadi penulis? Selain jago menulis, tak lengkap rasanya kalau ibu tidak jago mengatur keuangan. Kok bisa? Apa hubungannya?

Menjadi penulis pasti punya banyak mimpi untuk terus maju dan belajar menjadi lebih baik lagi. Tentunya dibutuhkan beberapa langkah dalam memanajemen mimpi, salah satunya melalui manajemen keuangan.

Nah, buat ibu-ibu yang sudah berhasil jadi penulis bisa juga nih ikutan 5 Cara Jago Mengatur Keuangan Untuk Ibu Freelancer yang ditulis oleh Ibu Feby Azrian. Dalam artikel yang ditulis oleh Ibu Feby, ada beberapa cara mengatur keuangan yang juga bisa diterapkan oleh ibu freelance writer.  Apa saja caranya, yuk kita intip sekilas :

  1. Buat rencana prioritas pengeluaran tahunan
  2. Memisahkan rekening bisnis dan pribadi
  3. Tertib membayar pajak
  4. Menyediakan dana darurat
  5. Memulai investasi

Nah, dari cara-cara itu akan lebih lengkap rasanya kalo ibu juga punya aplikasi pendukung semacam fintech untuk mengatur keuangan ibu. Saat ini, banyak sekali aplikasi fintech yang tersedia di Play Store atau App Store. Aplikasi fintech ini seolah menjawab kebutuhan masyarakat dalam kegiatan transaksi di era digital yang cenderung menggunakan metode cashless. Salah satu fintech yang punya fitur lengkap adalah aplikasi dari Bank Jago.

Nah, untuk menikmati produk keuangan dari Bank Jago, ibu cukup install aplikasi Jago di Play Store atau App Store. Setelah terinstall, ibu bisa langsung membuat akun Jago dengan dengan cara yang sederhana dan cepat tanpa perlu keluar rumah. Ibu hanya cukup menyiapkan kartu identitas dan berkas lainnya yang dibutuhkan tanpa perlu rempong fotokopi. Jadi lebih efisien dan hemat biaya bu.

Image

Kalau sudah punya akun, ibu bisa menikmati fitur-fitur yang tersedia di aplikasi Jago. Fitur Kantong adalah yang paling
unik dari aplikasi Jago. Melalui fitur Kantong ini, ibu bisa bisa membuat banyak kantong selain dari Kantong Utama. Nah, ibu juga bisa memberikan nama salah satu kantong dengan nama sesuka ibu, misalnya diberi nama Tabungan Mimpi untuk kantong yang ibu gunakan untuk mewujudkan beberapa goal impian ibu.

Misalnya sebagai penulis ibu butuh perangkat seperti laptop atau tablet dan kegiatan pengembangan potensi diri sebagai modal awal merintis karir sebagai penulis. Tentunya modal itu membutuhkan biaya. Nah, melalui kantong yang ibu namai sebagai Tabungan Mimpi, ibu bisa menargetkan tabungan yang ibu butuhkan untuk kepentingan modal dalam meniti karir sebagai penulis.

Keunggulan lain dari kantong yang ibu buat adalah bisa menarget berapa nominal yang dibutuhkan untuk mewujudkan impian ibu.
Kemudian, ibu juga bisa mengatur jangka waktu ibu menabung untuk impian ibu tersebut. Agar ibu tidak lupa menabung, ibu juga bisa mengaktifkan mode autosave sehingga Tabungan Mimpi ibu bisa otomatis bertambah dari saldo Kantong Utama ibu. Menarik bukan?

Image

Nah, buat ibu-ibu yang ingin makin jago jadi penulis dengan sejuta mimpi, ibu bisa coba pakai aplikasi Jago ini.  Keunggulan lainnya ibu juga bisa budgeting dengan praktis, nggak ribet cin, karena akun Jago ibu bisa diintegrasikan dengan rekening ibu di bank-bank konvensional serta e-wallet. Cuan demi cuan yang ibu hasilkan dari menulis juga bisa disimpan dalam aplikasi Jago karena aplikasi ini sudah terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sehingga aman dan terpercaya.

Standar
Review Film

Sexy Killers : Himbauan, Keraguan dan Harapan

https://geotimes.co.id/opini/setelah-nonton-film-sexy-killer-haruskah-golput/
Sumber Gambar :
https://geotimes.co.id/opini/setelah-nonton-film-sexy-killer-haruskah-golput/

Besok masa depan Indonesia untuk 5 tahun ke depan akan ditentukan. Sepanjang perjalanan menuju 17 April 2019, Indonesia diwarnai banyak tragedi dan berita menghebohkan. Puncaknya dua minggu menjelang PEMILU 2019 dilaksanakan, muncul pemutaran film dokumenter berjudul Sexy Killers. Sesuai dengan judulnya, film ini mengangkat isu-isu seksi terkait lingkungan wa bil khusus “aktor bisnis pertambangan dan dampak pertambangan terhadap lingkungan fisik dan sosial.” Film dokumenter ini sangat berani dengan rinci mengurai jaringan bisnis tambang di Indonesia yang memiliki kaitan antara elit politik satu dengan yang lainnya. Namun, seperti film pada umumnya, film bukan sekedar gambar bergerak, film selalu punya pesan yang disampaikan kepada penontonnya. Tapi, setiap kesimpulan dan hikmah yang dipetik oleh penonton tentu berbeda. Film ini bahkan berhasil menuai respon beragam dari para netijen yang sudah menonton.

Ada orang yang berkomentar bahwa dibalik pemutaran film yang dirilis mulai 5 April 2019 ini memiliki tujuan mengajak masyarakat untuk golput saja karena dua pasangan capres-cawapres tersebut punya andil dalam melanggengkan pertambangan batu bara di Indonesia. Ada pula yang mengatakan bahwa film ini mengandung nilai-nilai marxist dan terlalu kiri, sehingga orang khawatir. Sebelum saya lanjutkan, saya hanya berpesan kepada orang yang parno sama hal-hal berbau kiri, jangan melulu parno sama kiri karena dianggap identik dengan faham komunis. Jika tidak ada yang punya faham marxist, maka orang tidak akan sadar kalau dirinya sedang ditindas, jika tidak ada faham kiri orang akan menyerah begitu saja tanpa melawan. Kemudian, ada pula yang berprasangka bahwa pembuat film tersebut merupakan orang yang anti negara, penganut state-anarchism (saya pernah dengar tapi saya belum faham).

Di luar prasangka yang berbau kontra pemerintah, ada pula netijen yang menonton justru punya pilihan presiden dan tidak berniat golput. Beberapa komentar yang saya baca, para netijen yang sudah menonton film ini justru mendapat pencerahan untuk memilih salah satu capres dengan membandingkan kadar dosa dari kedua capres tersebut. Coba deh kalian sering-sering baca komentar netijen terkait film ini, bagus untuk direnungkan. Itu menunjukkan bahwa hikmah, persepsi dan konklusi yang dicerna dan diterima oleh para penonton film sangat beragam, sama beragamnya dengan kehidupan masyarakat di negara +62 kita tercinta. Bagi saya, film ini mengandung pesan yang lengkap tidak hanya untuk aktor pertambangan, namun juga untuk kita sebagai konsumen listrik dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin hal yang kurang sebenarnya film ini terlalu banyak mengupas satu sisi dari perspektif rakyat yang tertindas, sehingga para penonton lebih cenderung mengingat penderitaan dan kejahatan elit politik. Jika saja dalam film ini menyajikan data atau infografis terkait pengelolaan energi ramah lingkungan dari negara lain, mungkin film ini juga akan lebih kaya pengetahuan terkait energi alternatif pengganti PLTU. Hal ini juga sekaligus akan menjadi pesan penting bagi pemerintahan selanjutnya agar mulai mempertimbangkan inovasi-inovasi energi terbarukan.

Film Sexy Killers ini sepertinya berhasil memancing emosi penonton apalagi pilpres sudah sangat dekat, tidak ada kata “Belanda masih jauh.” Wajar film ini berhasil menggoyahkan keyakinan beberapa penonton yang sudah menetapkan capres-cawapres yang akan dipilih. Tapi sebenarnya apakah prasangka netijen soal film ini benar? Bicara benar atau salah itu kembali pada perspektif masing-masing. Tapi percayalah, segala sesuatu memiliki sisi positif dan negatif, termasuk film Sexy Killers yang dibuat dengan apik ini. Kita bisa belajar dari mana saja, karena kita bisa mempelajari sisi positif dari segala hal. Hal inilah yang seharusnya kita tanamkan agar kita tidak dibutakan fanatisme belaka. So, ada beberapa pesan dari film ini yang kemudian saya simpulkan sendiri. Silahkan dibaca jika itu penting, tapi harapan saya tulisan saya ini bermanfaat.

Himbauan

Diawali dengan adegan pasangan yang sedang berbulan madu di sebuah kamar hotel dengan segala fasilitas yang ada, terutama akses listrik yang memadai, pembukaan film ini berhasil menyadarkan penonton bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita telah banyak mengkonsumsi listrik dimana sumber energinya berasal dari PLTU yang berbahan bakar batu bara. Dalam adegan awal, dirincikan berapa watt konsumsi listrik yang digunakan sehari-hari untuk mencharge handphone, laptop, kemudian menyalakan AC (kalau yang punya), lampu dan masih banyak penggunaan listrik lainnya. Nikmatnya akses listrik tersebut berbanding terbalik dengan nasib masyarakat yang tinggal dekat dengan PLTU dan pertambangan batu bara. Mereka yang tinggal dekat dengan tambang batu bara harus rela kehilangan tanah untuk berkebun sebagai mata pencaharian utama hingga kehilangan tempat tinggal untuk kepentingan pertambangan tersebut. Hal ini sama dengan orang yang tinggal dekat dengan PLTU yang kehilangan hak hidup sehat dan aman. Mereka yang sudah bertahun-tahun hidup di tanah tersebut harus rela berbagi dengan polusi udara yang ditimbulkan oleh PLTU.

Dari sinilah sebenarnya ada pesan dan himbauan agar kita sebagai konsumen listrik lebih hemat lagi dalam menggunakan listrik karena dibalik nikmatnya listrik dan penerangan yang berlimpah, ada darah yang dikorbankan oleh saudara kita yang tinggal dekat pertambangan dan PLTU. Disisi lain, ini adalah himbauan bagi pemilik usaha pertambangan agar bertanggung jawab dan mematuhi prosedur AMDAL dalam menjalankan usaha pertambangan agar tidak merugikan warga setempat. Bekas galian tambang batu bara yang meninggalkan kubangan air nan luas hendaknya segera direklamasi sesuai aturan yang berlaku agar tidak ada lagi korban jiwa yang tenggelam dalam lubang besar bekas galian tambang tersebut. Hal ini juga menghimbau agar pemerintah daerah hingga pusat lebih tegas lagi dalam menindak perusahaan tambang yang tidak mentaati prosedur yang berlaku.

“Kita telah mengambil banyak dari alam, maka seharusnya kita juga banyak mengembalikan apa yang telah kita ambil dari alam, karena ibu pertiwi kita bukan untuk digerogoti, tapi dilindungi dan dihidupi. Jika tak mampu mengembalikan, maka cari solusi pengganti atau kita harus lebih berhemat lagi. Jika tidak mau alam kita lestari, maka kita dan alam ini akan mati bersama-sama ditelan bumi”

Keraguan

Selanjutnya dalam film ini ada bagian yang menguraikan siapa saja aktor dibalik mega bisnis pertambangan tersebut, siapa lagi kalau bukan para elit politik kita tercinta. Elit politik yang menjadi aktor dari bisnis pertambangan tersebut memiliki keterkaitan dengan dua kubu capres-cawapres yang akan dipilih pada tanggal 17 April 2019. Selain aktor bisnis pertambangan, dalam film ini juga ditampilkan bagaimana respon Pak Jokowi dan Pak Prabowo dalam menanggapi dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas pertambangan. Dalam debat presiden yang bertema energi, lingkungan hidup, baik Pak Jokowi maupun Pak Prabowo tidak memberikan jawaban yang memuaskan bahkan cenderung tidak ada inovasi dan solusi sama sekali. Hal ini tentu mengundang kritik keras dari para aktivis lingkungan dan HAM, karena terkait pertambangan dan dampaknya tidak jauh dengan pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan. Kritik keras semakin deras ketika kedua kubu menganggap konflik dan masalah sosial lain akibat pertambangan sudah selesai, padahal faktanya masih banyak rakyat yang belum mendapat keadilan. Pada bagian inilah film tersebut mampu menimbulkan keraguan para penonton terhadap masa depan Indonesia jika dipegang oleh salah satu paslon presiden-wapres baik kubu 01 dan 02.

Dari pemaparan jaringan bisnis tambang batu bara yang berkaitan dengan kedua capres tersebut, para penonton jadi kesal bahkan ada netijen yang berkomentar jika memilih salah satu capres baik itu 01 maupun 02 sama halnya dengan memakan buah simalakama. Hal ini tentu karena masyarakat menganggap baik kubu 01 atau 02, masing-masing ada kepentingan elit yang pada akhirnya menyengsarakan rakyat, khususnya rakyat kismin. Tapi ragu itu bukan masalah lho gaess. Ragu itu perlu agar kita stay waras dan bisa mengkritisi presiden yang terpilih.

Harapan

Lalu apa yang kalian harapkan dari pemerintah ini? Film ini bagi saya juga menanamkan pada diri kita agar pemerintahan yang akan datang lebih tegas dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul akibat aktivitas pertambangan. Melalui film yang menyita banyak perhatian ini, kita harusnya berharap agar pemerintah menjadikan film ini sebagai bahan instropeksi (kalau mau sih) agar ke depannya mulai dari pemerintah daerah hingga pusat semakin baik lagi. Hal yang paling penting, siapapun presidennya nanti semoga lebih serius lagi menangani masalah lingkungan ini, khususnya terkait pertambangan dan dampaknya. Selain menyelesaikan masalah yang ditimbulkan pertambangan, semoga pemerintah lebih sering mengucurkan dana penelitian bagi para ilmuwan di Indonesia untuk meneliti inovasi energi terbarukan, karena akan amat sangat percuma jika negeri ini punya sejuta sarjana tanpa sarana pra sarana yang memadai. Melalui film ini, ada harapan bahwa kaum muda mulai peduli terhadap isu lingkungan yang sering terabaikan. Saya yakin sih, bakal banyak inovasi baru terkait bidang energi yang akan dipikirkan oleh para millenial yang idealnya bisa bekerjasama dengan generasi sebelumnya. Ya biar saling belajar lah ya, agar tidak ada gap terlalu lebar antara millenial dan generasi old. Selain itu, karena kasus HAM dari masa ke masa belum usai, mari kita menuntut keadilan untuk kasus HAM lagi dan lagi, semoga ada titik terang ya, minimal kasus penyiraman terhadap Novel Baswedan segera diusut lah ya kalau kasus HAM masa lalu masih terlalu berat, keburu basi soalnya, udah banyak kasus HAM yang numpuk dan njamur.

Ada Pesan dari Saya, Khusus Buat Para Fanatik

Bagi para fanatik baik itu fanatik sama 01 maupun 02, kalian harus menerima kenyataan bahwa capres-cawapres kalian bukanlah dewa. Mereka manusia biasa yang punya celah dan dosa yang harus ditebus. Kalian harus menerima fakta bahwa mereka yang kelak memimpin negara ini juga menentukan setiap proyek besar yang akan dieksekusi. Jadi jangan menutup mata dan pikiran karena siapapun yang terpilih menjadi presiden baik itu pilihanmu atau bukan, presiden terpilihlah yang akan kita dukung sekaligus kita kritisi bersama segala kebijakannya. Kalau baik didukung kalau salah ya diluruskan, itulah gunanya kalian bebas bicara, mengkritik hingga demo berjilid-jilid. Bayangkan kalau kalian ngoceh ngalor ngidul mengkritik pemerintah pada zaman orde baru, palingan nama kalian sekarang sudah jadi kenangan karena sudah “didor” duluan.

Kemudian bagi kalian yang fanatik golput, silahkan kalau mau golput, itu hak kalian. Tapi, masalah pertambangan ini bukan satu-satunya masalah yang ada di Indonesia. Indonesia itu keras dan kompleks permasalahannya, tidak bisa selesai dalam sekejap. Dan yang terpenting masalah pertambangan ini jangan terfokus menyalahkan pemerintah pusat atau presidennya langsung, tapi selidiki juga kinerja dan akuntabilitas pemerintah daerahnya. Jangan apa-apa yang disalahkan pemerintah pusat semata. Persis banget kayak temen saya yang fanatik sama pihak oposisi yang kerap menyalahkan presiden langsung setiap ada permasalahan, bahkan kena denda BPJS aja yang disalahkan presidennya. Kalau dari film ini, sudah jelas ya dari judulnya “Sexy Killers,” di belakangnya ada huruf “S” itu menunjukkan plural, jamak (ada banyak), jadi pembunuhnya tidak tunggal, bukan cuman presiden satu-satunya pembunuh rakyat di sekitar pertambangan dan PLTU. Duh…. sudahlah saya capek ngetiknya, padahal ya belum tentu ada yang baca. Besok PEMILU gaess, tentukan pilihanmu, mau golput silahkan, tapi saya rasa negara kita masih butuh presiden meskipun elite politik kita memang sangat susah dipercaya, tapi ya mau gimana lagi? Buat yang muslim bisalah habis sholat kirim Al-Fatihah buat elit politik kita biar semakin punya hati nurani, nggak korupsi, lebih adil dan amanah. Akhiru kata, selamat berpesta demokrasi, semoga Indonesia semakin baik dan maju lagi.

Standar
Review Film

Pengabdi Setan : Horor Klasik Nggak Berisik

Bulan September tahun 2017 ini merupakan bulan horor yang paling saya tunggu karena ada film horor yang paling saya tunggu. Film apa sih? Apakah film G30S yang langganan ramai setiap bulan September? Oh tentu bukan dong. Bukannya saya tidak mau menonton film  G30S sebagai film ‘sejarah’ berdarah tersebut, namun terlebih karena saya sudah pernah menonton dan saya cukup trauma sekaligus ada rasa mengganjal di hati. Jangan mikir macam-macam lho ya tentang saya, entar mikirnya saya golongan ita itu. Cukup simpel, saya tidak kuat menonton film berat dengan durasi waktu panjang. So, saya memutuskan untuk menonton film horor yang nggak kalah legend dalam sejarah perfilman horor Indonesia, yakni remake film Pengabdi Setan tahun 1980. 

Film Pengabdi Setan tahun 1980 disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra. Kok saya bisa tau film Pengabdi Setan lawas yang rilis jauh sebelum ibu bapak saya juga belum tentu menikah yang artinya saya lahir ke dunia pun masih tanda tanya. Terus darimana saya tau film itu? Ya nonton di youtube dong gengs. Kalau kamu penasaran kenapa film Pengabdi Setan tahun 1980 sempat menjadi salah satu film horor seram pada masanya, nggak ada salahnya lho buat nonton yang versi lawas, biar apa sih? Biar afdol lah ya, soalnya kan Pengabdi Setan lawas  juga termasuk film legend. 

Nah…apa bedanya sih Pengabdi Setan 80 dengan Pengabdi Setan 17 garapan sutradara handal om Joko Anwar? Makanya kayak yang saya bilang tadi, coba deh tonton yang versi lawas. Untuk perbandingan tingkat keseraman sih relatif ya buat masing-masing individu. Kalau buat Joko Anwar Pengabdi Setan 80 itu seram sehingga mengilhami dirinya meremake film tersebut, tapu belum tentu seram untuk orang lain. Tapi, tentu unsur horor baik Pengabdi Setan 80 maupun Pengabdi Setan 17 cukup ciamik, unik dan klasik. Nah, buat saat ini saya hanya mereview film Pengabdi Setan 17 garapan Om Joko Anwar. Kenapa saya Cuma mereview remake Pengabdi Setan? Karena saya pengennya ngreview yang remake dan saya akui remake film Pengabdi Setan ini luar biasa kece bagi saya pecinta film horor.

Trailernya aja udah kece

Pengabdi Setan 17 yang saat ini sedang ramai di bioskop memang berhasil melampaui keberhasilan Pengabdi Setan 80 tanpa terlepas dari film aslinya. Meskipun film Pengabdi Setan 17 merupakan remake film Pengabdi Setan 80, namun kisah di dalam Pengabdi Setan 17 cukup menarik dan otentik. Setting tempat dan waktu dalam Pengabdi Setan 17 diselaraskan dengan Pengabdi Setan lawas, yakni sama-sama tahun 1980. Meskipun remake Pengabdi Setan tersebut diproduksi era modern saat ini, unsur klasik dalam film Pengabdi Setan 17 sangat pas dan berhasil menciptakan nuansa klasik. Segala detail mulai lokasi, make up, tata busana, serta interior rumah untuk film Pengabdi Setan 17 sangat mendukung nuansa lawas khas tahun 80-an. 

Setting yang mendukung juga dilengkapi dengan sinematografi yang ciamik nggak hanya dari segi kualitas, detail gambar, tapi juga sound, musik dan detail lainnya yang saling bersinergi. Ini nih yang bikin Pengabdi Setan 17 bener-bener horor beneran dan nggak asal-asalan. Pengabdi Setan 17 berhasil menghidupkan arwah film horor Indonesia yang saat ini sedang lesu. Pengabdi Setan 17 patut diacungi jempol karena tidak hanya menyuguhkan suara menegangkan yang identik dengan film horor namun juga cerita yang berkesan bagi para penonton. Inilah yang membuat Pengabdi Setan 17 sebagai film horor klasik yang nggak berisik. Film Pengabdi Setan 17 tidak hanya mengandalkan irama menegangkan untuk memancing emosi penonton, tapi juga menyuguhkan drama keluarga yang mengharukan sekaligus mencipatakan rasa penasaran tentang sejarah keluarga Pengabdi Setan tersebut. So, ini film horor berisi yang nggak berisik baik cuma berisik suara menegangkan atau berisik suara  ‘desahan’ nggak jelas yang kerap mewarnai film horor Indonesia belakangan ini.

Ikon horor Pengabdi Setan 17 dengan Pengabdi Setan 80 tidak jauh berbeda, masih sama-masa memfokuskan pada hantu Ibu. Kisah tentang sang Ibu sebagai ikon horor utama dalam film ini merupakan bagian misteri film ini. Kehadiran Ibu yang bersekutu dengan “The Harvester”sekte penyembah setan tentu berbeda dengan Ibu yang ada di Pengabdi Setan lawas. Namun, unsur percaya kepada hal-hal gaib masih khas sekali dengan orang-orang Indonesia bahkan mirip kisah Timun Mas. Pasalnya dalam kisah Timun Mas ada ibu yang datang ke gua untuk meminta anak karena ia tidak bisa memiliki keturunan. Walhasil, keinginan ibu tersebut dikabulkan oleh buto ijo dengan memberinya timun mas yang berisi bayi. Buto Ijo tidak mengabulkan secara cuma-Cuma melainkan akan meminta kembali Timun Mas ketika menginjak usia 17 tahun. Kisah ibu Timun Mas yang meminta pertolongan kepada buto ijo mirip dengan kisah Ibu dalam Pengabdi Setan yang ternyata bergabung dengan The Harvester agar memperoleh keturunan. Hadirnya “The Harvester” sebagai sekte penyembah setan tersebut memberi warna horor baru di Indonesia yang kerap mengangkat kisah hantu balas dendam. Inilah yang membuat film Pengabdi Setan 17 cukup orisinil dan khas Indonesia. Tidak hanya kisahnya yang lokal banget, hantu-hantu yang mewarnai Pengabdi Setan 17 juga Indonesia banget. 

Munculnya squad pocong serta mayat hidup mengenakan payung hitam juga berhasil memancing ketegangan penonton. Bagi saya bagian ini cukup mengingatkan memori saya tentang kisah hantu payung hitam pada masa kecil yang kerap dilontarkan oleh orang-orang tua di sekitar saya. Ini nih zombie versi Indonesia, pocong abiiiisss!!! Bagi saya takutnya nyata karena hantunya lokal banget. Selain itu, berbeda dengan Pengabdi Setan lawas yang diakhiri dengan menangnya ustad melawan ilmu hitam, dalam Pengabdi Setan 17 ini sang ustad justru mati terbunuh oleh kawanan pocong yang diantaranya adalah anaknya sendiri. Dari sini kita bisa tahu bahwa keimanan sang ustad tergoyahkan oleh kesedihan akibat ditinggal mati anaknya sehingga pak ustad tidak dapat melawan squad pocong tersebut. So, untuk menebalkan keimanan, kita tidak boleh larut dalam kesedihan berlebihan. Iman saja tidak cukup, perlu menguatkan hati untuk menebalkan iman. 

Meskipun film Pengabdi Setan 17 bisa dibilang sebagai film horor Indonesia terseram sepanjang tahun 2017, film ini tidak melulu mencekam kok. Ada unsur humor ringan yang dihadirkan melalui tokoh Ian dan Bondi dua anak kecil dari sang Ibu yang cukup menggemaskan dan mengundang tawa dengan tingkah lucu dan polosnya. Adegan drama juga berhasil dibangkitkan oleh Rini dan Tony sebagai kakak dari Bondy dan Ian yang ekstra sabar menjaga keutuhan kasih sayang keluarga sejak meninggalnya sang Ibu. Drama keluarga yang berhasil membangkitkan emosi penonton tersebut tidak terlepas dari kemampuan akting para pemain yang nggak bisa diremehkan. 

Film Pengabdi Setan 17 ini memang dibintangi oleh para bintang papan atas yang kemampuan aktingnya tidak diragukan lagi. Ada Tara Basro (Rini), Bront Palarae (Bapak), Dimas Aditya (Hendra), Endy Arfian (Tony), Nasar Annuz (Bondi), M.Adhiyat (Ian) dan masih banyak lagi. Peran Ibu yang berhasil menakuti penonton diperankan oleh artis multitalenta dari Bali, yakni Ayu Laksmi. Para pemain tersebut berhasil membangun chemistry dengan baik sehingga peran yang dimainkan sangat pas dan natural. That’s why film Pengabdi Setan 17 recommended banget buat para pecinta film horor. 

Film horor Pengabdi Setan 17 ini diakhiri dengan cerita yang cukup meninggalkan tanda tanya, karena pada akhir cerita justru anggota The Harvester yang diperankan artis papan atas sekelas Fachri Albar dan Asmara Abigail baru muncul. Tapi banyak pesan yang bisa ditangkap serta diintrepetasikan oleh penonton. Semoga ada sekuelnya ya. Bagi yang belum nonton nggak ada salahnya merogoh kocek 25rb-40rb buat nonton di bioskop. Kenapa sih harus nonton di bioskop? Karena biasanya film Indonesia yang bagus-bagus gitu susah beredarnya di internet, itu artinya bakal susah download filmnya, kalaupun ada pasti versi CAM. Lagian dapet banget feelnya kalo kalian nonton film Pengabdi Setan 17 di bioskop. Kalian nggak cuma terhibur oleh filmya tapi juga tingkah polah para penonton di bioskop yang lucu dan seru. 

Standar
Tak Berkategori

Gila Medsos! Lupa Diri

Tulisan ini tidak berniat nyinggung siapa-siapa, termasuk pengguna media sosial (medsos), karena saya juga penggunanya. Tulisan ini hanya renungan pagi hari yang diposting siang hari. Tulisan ini merupakan salah satu introspeksi diri dan tentang orang-orang dalam kehidupan saya dari kecil hingga saat ini. Khususnya terkait media komunikasi. Saya belajar dari tindakan mereka yang pernah mengisi memori saya. Saya juga belajar dari fenomena sosial yang ada di dunia maya saat ini. Tulisan ini ditulis secara spontan. Mohon maaf kalau ada yang tersinggung, mohon senyum tersungging saja. Silahkan jika ada yang marah hubungi lewat inbox fb, sms, line, wa atau bbm. Kritik dan saran silahkan disampaikan. Terima kasih yang mau membaca dan silahkan menikmati hidup ini dengan senyum, sabar, syukur dan keep strong!.

Babak Instropeksi

Kuliah kemarin salah satu dosen saya mengatakan bahwa teknologi yang canggih serta bergelimang ilmu pengetahuan yang bermanfaat pun pada saatnya dapat membinasakan umat manusia itu sendiri. Pembantaian NAZI dan peristiwa peperangan dunia dahulu kala serta penggunaan senjata biologi pun bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan punya sisi sadis jika tidak dimanfaatkan dengan bijak. Kita semua hampir tidak manusiawi menjalani hidup di dunia maya dan nyata.

Paling sederhana smartphone atau gadget pun merubah kehidupan kita. Semua aktifitas kita bisa dipantau lewat linimasa media sosial. “Just take out your smartphone then you’re ready to publish your daily activities!”. Dalam sekejap orang tahu aktifitasmu. Saya saja yang sedang demam saat ini masih sempat ngeblog. Bahkan aktifitas kawinmu dengan lawan jenis ato sesama jenis bisa kamu umumkan tanpa harus menunggu mendeklarasikan lewat pernikahan. Bayangkan saja, kalau jaman sebelum ada smartphone, pesta pernikahan merupakan salah satu media untuk menyatakan (tanpa mengatakan) “woi nanti malem gue mau bikin anak ato besok gue mau bikin anak sepuasnya!”. Semua orang tahu kalau mereka yang sudah menikah pasti melakukan hubungan intim tanpa harus ditanya meskipun belum tentu benar. Sekarang, tanpa harus menikah pun setiap orang bebas melakukan aksi intim atau sekedar bermesraan dengan pasangan yang kemudian diupload di media sosial hingga kemudian memunculkan berbagai respon dari netizen yang memiliki beragam level kenyinyiran.

That’s why media sosial sebuah produk ilmu pengetahuan teknologi mutakhir bisa membuat orang menjadi seenaknya dan agak tidak manusiawi. Kita seolah robot yang terhipnotis internet dengan media sosialnya. Kita seenaknya udel mempublikasi hal-hal yang menyinggung tanpa mau tahu apa yang terjadi sebenarnya di dunia nyata dan tentunya tanpa peduli perasaan orang lain. Permusuhan muncul dimana-mana akibat penggunaan yang tidak bijak, bahkan cenderung tampak sakit. Banyak yang menelan mentah informasi yang sarat provokatif apalagi ketika menjelang pesta politik. Kita bahkan bisa membenci seseorang tanpa mengenal apalagi mengerti seseorang hanya dari postingan dan segala berita yang kita terima lewat media sosial.

Kehadiran media sosial memang sangat membantu menghubungkan kerabat atau teman yang terpisah jarak jauh. Selain itu, internet beserta media sosial membantu orang-orang memperkaya informasi dan ilmu pengetahuan dari berbagai belahan dunia tanpa harus merogoh kocek, murah meriah. Disisi lain, media sosial bisa menjauhkan yang dekat pula karena terlalu asik di dunia maya.

Arus informasi semakin tidak terkendali bahkan membingungkan pembaca. Kita semua mulai meragukan orang di sekitar kita dan mempertanyakan kebenaran berbagai berita yang diterima. Lalu, bagaimana kalau semua berita yang kita terima adalah kebohongan semata? Bagaimana kalau semua ini bagian dari drama para penguasa? Bahkan kita sendiri sebenarnya tahu bahwa kita hidup dalam panggung sandiwara.

Semua orang bebas bermain peran dan mengendalikan peran diri di depan umum. Kita semua ada dalam ruang dramaturgi seperti yang dijelaskan oleh Erving Goffman mengenai managemen kesan lewat front and back stage. Kita semua tidak tahu kehidupan seseorang di back stage-nya (belakang panggung) seperti apa. Kita hanya tahu kehidupan seseorang lewat front stage-nya (depan panggung), sedangkan misteri yang sebenarnya ada di balik layar yang kita tidak mudah masuk. Persis seperti lagu Panggung Sandiwara yang dibawakan Achmad Albar.

Media sosial dan internet menguasai ruang kehidupan kita. Ruang publik dan privasi semakin kabur dan banyak ambiguitas muncul dimana-mana dan berujung salah faham dimana-mana. Budaya nyiyir mulai dari nyinyir kasar hingga nyinyir santun yang biasa diperagakan para politisi yang ingin menang pilkada pun menyebar di lingkungan kita seakan mendapat pembenaran. Kita mencontoh apa yang kita lihat, kita percaya begitu saja dengan apa yang kita baca di media online. Buku-buku di perpustakaanpun bahkan tampak norak dan tidak kekinian.

Saya sendiri kadang terbawa euforia media sosial saat ini, sampai akhirnya saya mencapai titik jenuh dari lalu lintas media online. Hebat nian teknologi jaman sekarang, sebagian besar orang dengan cepat menerima berbagai informasi. Lalu, apakah semakin canggih media komunikasi membuat kita sering menghubungi kerabat kita? Tidak bukan? Apalagi ketika kerabat kita tidak memakai smartphone dengan beragam media sosialnya. Justru yang ada kita sibuk berselancar di dunia maya, bukan menjalin komunikasi dengan keluarga sendiri. Wong saya juga gitu kok, sampai hubungan saya dengan keluarga saya radak kaku, kecuali dengan orang tua saya.

Saya selalu ingat masa-masa dimana orang-orang mengantri di Wartel, termasuk saya salah satu konsumennya. Dulu waktu saya di pondok pesantren, Wartel adalah salah satu tempat yang berharga bagi saya. Saya rela mengantri panjang demi bilang “Halo” kepada orang tua saya. Di dalam bilik KBU Wartel saya bisa menelpon orang tua saya, berkeluh kesah, melepas rindu hingga menangis-nangis merengek ingin bertemu, meskipun dikejar rasa was-was karena tarif telepon terus berjalan yang cenderung mahal serta harus bergantian dengan antrian lain.

Saya juga harus rela menunggu telepon dari orang tua saya di depan kantor pengurus pondok karena banyak orang tua santriwati yang menelpon lewat telepon pengurus. Sambungan telepon tentunya sangat sibuk dan berebutan masuk bak telepon undian kuis di televisi. Saya selalu menunggu dengan harap-harap cemas di jendela kantor pengurus apabila ada telepon berdering di kantor pengurus. Tidak jarang saya harus menunggu lama hingga hampir mendekati jam batas waktu terima telepon hanya karena ada salah satu santriwati yang sangat lama menelpon sampai berurai air mata. Itu adalah masa-masa dimana KOMUNIKASI itu MAHAL dan bertatap muka dengan orang yang kita sayangi sangat BERHARGA daripada harga smartphone yang kita punya, apalagi kalau smartphone Cina sudah tidak ada harganya dengan rasa rindu terhadap keluarga.

Buruh Migran, Telepon Uwak (Bude) dan Perjuangan

Bicara tentang media telekomunikasi, yang paling membekas di benak saya adalah kisah buruh migran dan telepon uwak saya. Kebetulan waktu saya kecil, uwak saya termasuk orang yang sukses. Dengan usaha toko kelontongnya, uwak saya bisa membiayai kebutuhan hidup keluarganya. Uwak saya bahkan punya dua telepon rumah dimana pada saat itu telepon adalah benda mahal bagi orang di desa, termasuk bagi orang tua saya yang waktu itu belum sukses.Pada waktu itu di kampung saya hanya ada 2 atau 3 orang yang punya telepon rumah, salah satunya uwak saya ini.

Lingkungan sekitar saya mayoritas bekerja sebagai buruh migran, khususnya TKW atau TKI yang bekerja di luar negeri. Kebetulan suami uwak saya (pakde) saya waktu itu juga sedang bekerja sebagai TKI, menjadi sopir di Arab. Ya, semua orang saat ini (zaman smartphone) sepertinya sudah tahu kalau Indramayu adalah salah satu wilayah yang banyak mengirimkan TKI keluar negeri. Wilayah kelahiran saya juga sering dihina oleh netizen di media sosial  setiap ada berita tentang kriminal dan lain sebagainya. Saya sering dianggap rendah ketika ada orang yang tahu kalau saya berasal dari Indramayu. Kalau saya dari Indramayu memang kenapa? Apakah anda mau menghina saya hanya karena anda mengenal Indramayu sebagai gudang PSK (Pekerja Seks Komersial)?. Apakah anda hanya bisa menghina tanpa membina? Apakah anda hanya bisa tersenyum licik? Ya, saya sih sabar saja, mereka tidak tahu kondisi Indramayu mengapa bisa sampai terjadi fenomena seperti itu karena mereka mungkin tidak punya waktu untuk memahaminya. Bagi mereka cukup tahu dari media sosial saja.

Pada waktu itu banyak  tetangga saya yang bekerja di Arab Saudi. Kebayangkan gimana jauhnya jarak yang memisahkan antara tetangga saya di luar negeri sana dengan keluarganya di Indonesia? Waktu itu saya belum mengerti suka duka para TKI ini, yang saya tahu setiap mereka pulang pasti membawa banyak baju gamis berkilau serta aneka jajan dan cokelat. Bagi saya itu hal yang menyenangkan dan saya sempat iri dengan teman-teman saya yang orang tuanya bekerja sebagai TKI di Arab karena punya banyak cokelat dan pakaian bagus. Saking irinya saya sempat menyuruh ibu saya untuk bekerja sebagai TKW di Arab agar saya punya banyak permen, cokelat, pakaian bagus dan rumah yang bagus. Ibu saya tentu tidak mau dan menjelaskan bagaimana bekerja sebagai TKI itu susah dan sering mengalami penyiksaan. Ibu saya enggan meninggalkan keluarga dan sering prihatin pada anak-anak yang ditinggal pergi sebagai TKI. Namun, ibu saya memahami mengapa mereka harus pergi bekerja sebagai buruh migran. Ibu saya selalu mengatakan kalau kita harus bersyukur dengan kondisi yang ada.

Ibu saya bilang, buruh migran itu suka duka ditampung sendiri, jauh dari keluarga dan alat komunikasi sangat terbatas, gimana kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka? Tentu tidak mudah memberikan kabar tentang kondisinya di luar negeri sana. Para buruh migran yang bertahan dengan segala keterbatasan termasuk keterbatasan ekonomi adalah sosok yang kuat (itu dulu, tidak tahu lagi kalau sekarang). Itulah mengapa kita tidak boleh iri dan mengeluh dalam segala kondisinya.

Para buruh migran di luar negeri sering menelpon ke Indonesia melalui nomer telepon uwak saya. Akhirnya rumah uwak saya sering didatangi oleh para tetangga yang menunggu telepon dari anak, saudara hingga ibu yang ingin melepas keluh kesah dan rindu yang memuncak terhadap keluarganya. Saya sering disuruh uwak saya memanggil salah satu tetangga yang mendapat telepon dari kerabatnya yang bekerja sebagai buruh migran. Dengan segera tetangga-tetangga saya pergi ke rumah uwak saya dan bertelepon ria dengan kerabatnya di luar negeri. Kebayangkan berapa mahalnya tarif telepon internasional? Maka dari itu uwak saya sering kecipratan hadiah dari para TKI yang pulang kampung karena sangat berjasa untuk urusan telekomunikasi. Saya sempat iri juga dengan sepupu saya (anak uwak) karena sering dapat jajan dan pakaian dari tetangga saya yang jadi TKI.

Sekarang bukan itu yang terpikir di benak saya. Saya terpikir kalau dulu bagaimana dan apa yang terjadi dengan nasib TKI yang sering disiksa sedangkan alat komunikasi sangat terbatas? Kalau sekarang banyak TKI yang sudah pegang smartphone dan aktif di media sosial baik fb, line, ig, wa. Semua keluh kesah dan tindakan penganiyaan hingga human trafficking (perdagangan manusia) pun mudah dilacak berkat media sosial. Lalu bagaimana dengan nasib TKI zaman dulu? Kita sendiri sudah tahu bahwa tindakan kekerasan yang dialami oleh para TKI bukan terjadi sekali dan baru-baru ini saja, tapi sudah dari dulu sering terjadi, hanya saja waktu itu teknologi komunikasi belum secanggih saat ini. Itulah mengapa KOMUNIKASI itu MAHAL! Gunakan media sosial sebijak mungkin.

Media Sosial dan Kejamnya Mulut Manusia

Apa yang terjadi saat ini, bagi saya sangat menyayat hati jika dibandingkan dulu. Media komunikasi begitu canggihnya dan membuat saya takjub. Melalui media sosial kita bisa menciptakan suatu hubungan sekaligus menghancurkan suatu hubungan. Melalui media sosial orang-orang berjarak dekat pun tidak perlu saling bertemu untuk saling tahu kabar. Hanya lewat media sosial kita semua bisa saling bertukar informasi, komunikasi, bahkan bisa jadian dan putus lewat media sosial.

Cukup lewat media sosial saja kita tahu kondisi orang tampak baik-baik saja, padahal tidak ada yang paling baik selain bertatap muka langsung. Dengan bertatap muka kita bisa menciptakan komunikasi yang natural dan mengalir. Kita bisa memahami lebih banyak emosi yang dirasakan masing-masing, karena sesungguhnya emoticon di media sosial menutupi kondisi sebenarnya. Berbeda dengan ekspresi muka dan tatapan mata secara langsung. Gesture tubuh dan mimik tidak pernah berhasil menutup penuh apa yang ingin kita sembunyikan.

Dewasa ini jangan heran jika ada beberapa orang berkenalan lewat media sosial kemudian ketika bertemu merasa kecewa karena orang yang kita temui tidak seperti yang diharapkan baik dari segi fisik maupun kepribadian. Inilah salah satu sisi sadis dari media sosial. Lebih parah lagi berita-berita yang bertebaran di media sosial sangat mengerikan dari yang kita bayangkan.

Lihat saja kemarin hari di Kota Malang digegerkan adanya bayi hasil hubungan luar nikah yang dibunuh oleh salah satu mbak-mbak mahasiswi perguruan tinggi ternama. Dalam sekejap berita tersebar kemana-mana di media sosial dan dalam sekejap pula para netizen dengan pedas menghujat sang pelaku tanpa mempertimbangkan kondisi psikologi si mbak mahasiswi.

Bagaimanapun tindakan pembunuhan serta hamil di luar nikah dalam budaya kita memang sangat tidak dibenarkan. Namun, ada sisi yang sering kita lupakan, yakni “Bagaimana itu bisa terjadi pada si mbak?”. Tidak! Netizen tidak butuh itu. Netizen hanya butuh berita dan cerita-cerita heboh untuk dibaca layaknya berita provokatif menjelang PILKADA. Inilah mengapa media sosial saat ini jahat, terlebih lagi penggunanya. Narasi berita terkadang cenderung memojokkan.

Kasus yang dialami si mbak mahasiswi itu reda seketika tanpa menunggu seminggu lamanya, berbeda dengan berita politik yang sarat kampanye. Lalu bagaimana nasib si mbak mahasiswi ini? Pasti si mbak butuh waktu yang  lama untuk membangun rasa percaya diri menghadapi kenyataan bahwa semua orang tahu kalau ia seorang kriminal. Banyak netizen membanjiri instagram si mbak dengan komentar pedas bahkan mirisnya ada komentar temannya yang tidak mengakui si mbak sebagai temannya, ditambah lagi ada yang promosi produk di Ig si mbak diantara komentar pedas netizen.

Si mbak juga harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang membuat ia bunting tidak tampak batang hidungnya. Jangankan menampakkan diri, disorot di berita saja tidak? Mengapa bisa begitu? Apakah selalu perempuan yang disalahkan? Lagi-lagi si mbak harus menerima kenyataan pahit bahwa pacarnya bukan sosok yang bertanggung jawab (potong aja tititnya mbak!), bahkan teman-temannya pun tidak menganggap si mbak sebagai teman lagi.

Mungkin itu adalah salah satu faktor yang melatar belakangi si mbak menutupi kehamilan sekaligus membinasakan si jabang bayi. Si mbak sudah tidak punya orang yang peduli dengannya, terlebih orang di sekitarnya yang sama-sama mahasiswa (beradab, terdidik, terpelajar). Kemana teman-temannya? Mungkin teman-teman mbak lebih memilih sibuk memperhatikan gosip di akun instagram lambenyinyir, lambelamis, makrumpita, serta lambe-lambe lainnya. Nggak kaget kalau teman embak jadi ikut nyiyirin si mbak. Atau teman-teman si mbak sibuk memposting aktifitasnya di media sosial.

Sejatinya teman memberikan ruang dan waktu untuk berbagi cerita serta melindungi dan menasehati temannya jika berbuat salah. Jika sudah terlanjur berbuat apakah lantas menghujat? Apalagi menghujat lewat media sosial. Sejatinya si teman memberikan dukungan moral agar si mbak dapat kuat menerima konsekuensi yang dihadapi dan kuat menjalani sanksi yang berlaku, tapi si teman malah enggan mengaku berteman dengan si mbak. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Mungkin ini salah satu efek bahwa kita semua takut kalau nama baik kita tercemar hanya karena teman kita melakukan kesalahan fatal. Disisi lain, kita jadi pintar menghujat karena sudah terbiasa di media sosial yang begitu adanya. Nyiyir seolah menjadi salah satu senjata untuk penyinyir lainnya. Lah piye nggak nyinyir? Wong junjungan kita atau publik figur sekelas pejabat, politisi, akademisi atau para intelektual kita aja suka nyinyir santun.Ya nggak heran kalau kita terkadang ikut nyinyir juga. Tapi tolonglah itu lambe dijaga!

Lalu bagaimana dengan si media? Tanyakan kepada wartawannya mengapa mereka harus begitu? Semua berita selalu sama dan jarang yang bersifat investigasi. Mungkin karena menuruti tuntutan pasar dan berita investigasi itu mahal serta memakan waktu lama. Ya, kalau berita online kan sifatnya yang sederhana-sederhana saja tanpa banyak ivestigasi. Toh yang penting perusahaan media tidak ketinggalan memberitakan suatu kabar yang sedang trend, asal portal onlinenya nggak kosong ajalah. Mungkin itu yang sedang terjadi. Mereka tidak mengurusi dampak yang terjadi pada pembacanya, mau gelut kek, pukul-pukulan kek, bunuh-bunuhan kek, musuhan kek, bukan urusan mereka. Yang penting bisa nulis berita dan dapet duit, urusan beres!.

Banyak fenomena mengerikan di media sosial. Tindakan paling mengerikan adalah ketika seorang almarhum bapak-bapak melakukan aksi gantung diri secara live di FB hingga tersebar dengan cepat di berbagai media sosial. Mengapa bisa terjadi? Orang lain tidak akan peduli, mereka hanya ingin melihat adegan nekat saja. Mungkin ini adalah salah satu bentuk berkurangnya waktu dan ruang terbuka untuk saling bertatap muka dan bercerita. Kita terlalu sibuk menuruti tuntutan hidup dan menjadi budak sekaligus penyanggah kapitalisme. Maka dari itu, ada baiknya kita berusaha tidak egois. Jangan sampai orang-orang di sekitar kita mengalami banyak tekanan sendiri hingga melakukan tindakan fatal lainnya. Saatnya kita peduli sesama tanpa memandang golongan dan hubungan. Lets we talk to each others and be a good listener for each other!

Sayangi orang terdekatmu (dekat jarak maupun hubungan)!

Standar
Membaca Film, Tak Berkategori

Review Film The Hundred Foot Journey (Tentang Makanan, Jiwa, Rasa dan Budaya)

Hasil gambar

Dunia hiburan layar lebar selalu kaya akan cerita, entah itu cerita yang menarik ataupun tidak menarik. India adalah salah satu negara yang berusaha menandingi Hollywood dengan dunia Bollywood. Hal ini pula yang membuat India terus menjadi salah satu negara yang produktif dalam menciptakan film. Sebagaian besar masyarakat sangat mengenal film India yang penuh tarian dan drama seperti halnya drama Indonesia. Hampir semua film India selalu diselingi nyanyian dan tarian tradisional baik sedih maupun senang. Sebagian orang Indonesia juga menyukai film India meskipun durasi filmya sangat panjang, tidak seperti film pada umumnya. Disisi lain, sebagian orang Indonesia justru tidak meyukai film India karena ciri khas yang melekat dalam film India tersebut, yakni terlalu banyak tarian dan nyanyian.

Meskipun tarian dan nyanyian serta ekstra drama sangat melekat pada film India, namun dewasa ini film India terus berkembang dengan kreatifitasnya masing-masing. Para sineas film India sepertinya semakin progresif, kreatif dan inspiratif. Saat ini banyak film India yang bertema politik internasional, terorisme yang khas dan masalah sosial lainnya. Film India dewasa ini tidak melulu tentang cinta penuh drama. Namun, apapun tema filmnya, para sineas film India tentu patut mendapat 5 bintang karena selalu menyelipkan nilai kearifan lokal India dalam setiap filmnya. Sebagai contohnya adalah film The Hundred Foot Journey yang menurut saya begitu kaya dan hidup seperti nilai filmnya.

The Hundred Foot Journey merupakan salah satu film drama India-Prancis yang dikemas dengan apik.  Bagi pecinta berat film India, jangan berharap dalam film ini terdapat tarian dan nyanyian seperti film India pada umumnya. Meskipun begitu, penonton tidak akan menyesal menontonnya karena alur cerita dalam film ini cukup menarik. Banyak adegan lucu dan mengesalkan dalam film ini. Setting wilayahnya juga bukan di India melainkan di Perancis. Pemandangan indah juga cukup mewarnai film ini. Musik India memang terdapat dalam film ini, namun tidak secara khusus diputar melainkan sebagai backsound atau bagian dari alur cerita. Saat ini sudah banyak film India yang bersetting di Eropa dan Amerika. Para pemainnya juga tidak semua orang India. Dalam film The Hundred Foot Journey ini kita akan melihat akting dari aktris India dan Perancis. Sebenarnya film ini tidak sepenuhnya India juga tidak sepenuhnya non-India karena memang tokoh utamanya adalah Keluarga Kadam dari India yang tinggal di Negara Perancis. Saya pribadi sebenarnya tidak tahu apa yang disebut film India, apakah harus pemerannya orang India semua atau film tersebut berlatar budaya India.

“A recipe has no soul. You must bring soul to the recipe as the cook” -Thomas Keller-

Kalimat di atas merupakan kutipan yang menggambarkan inti pokok dari cerita film The Hundred Foot Journey. Film ini bercerita tentang Keluarga Kadam yang berjuang untuk bertahan setelah mengalami kehancuran akibat penyerangan massa pada saat terjadi pemilihan kepala daerah di tempat asalnya. Akibat penyerangan tersebut, kediaman Keluarga Kadam beserta restoran kebanggaan Keluarga Kadam hancur dilalap api, bahkan Nyonya Kadam juga wafat akibat tragedi tersebut. Setelah tragedi tersebut, Keluarga Kadam pindah ke London bersama. Namun, Keluarga Kadam tidak bertahan lama di London karena bagi mereka kota tersebut tidak memiliki jiwa dalam dunia kuliner. Kemudian, Keluarga Kadam pindah ke Perancis dengan alasan bahw kuliner dan bahan makanan di Perancis memiliki jiwa. Keluarga Kadam tidak melalui jalan yang mulus untuk pindah ke Perancis. Banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh keluarganya ketika polisi imigrasi menanyakan data keluarga serta alasan kepindahan Keluarga Kadam dari London.

Setelah mengurus administrasi, Keluarga Kadam tinggal di St.Antonio,Perancis yang asri, ramai namun menenangkan. Keluarga Kadam berniat membuka restoran di tempat barunya tersebut, meskipun tepat di seberang tempat tinggal mereka terdapat restoran terkenal dan terbaik di kota tersebut. Meskipun begitu, Tuan Kadam tetap bersikukuh untuk menjalankan usaha restorannya dengan gaya India. Anak-anak Tuan Kadam tentunya merasa bahwa usaha yang dilakukan akan sia-sia. Hal ini tentunya disebabkan latar belakang budaya masyarakat Perancis yang sangat berbeda. Mulai dari gaya hidup, nilai budaya hingga selera makan masyarakat Perancis sangat berbeda dengan orang India. Meskipun anak-anak keberatan dengan keputusan ayahnya yang keras kepala tersebut, namun Tuan Kadam tetap bersikeras menjalankan rerstoran India yang kemudian diberi nama Mansion Mumbai. Tuan Kadam berpegang teguh pada keyakinannya bahwa orang Perancis tidak mau memakan makanan India karena mereka belum pernah mencoba sehingga belum tahu rasanya. Oleh karena itu, restoran India harus dijalankan agar orang Perancis tahu cita rasa India.

Berkat tekad keras Tuan Kadam, akhirnya Mansion Mumbai dapat berdiri meskipun diawali dengan penuh lika liku serta persaingan ketat  dengan restoran Madam Mallory’s milik Ny. Mallory, restoran terbaik yang berada tepat di seberang Mansion Mumbai. Segala strategi dilakukan Tuan Kadam untuk menarik perhatian konsumen. Sebagai permulaan, Tuan Kadam sekeluarga menyebarkan pamflet pembukaan Mansion Mumbai agar banyak orang Perancis yang mau datang. Strategi lain untuk menarik perhatian pengunjung adalah dengan menyuruh seluruh anggota keluarga Tuan Kadam mengenakan pakaian tradisional India dan berdiri di depan gerbang. Tuan Kadam juga tidak lupa menyalakan musik India dengan keras. Tentunya kondisi yang terjadi di Mumbai Mansion berbeda dengan restoran milik Ny.Mallory yang dianggap sangat classy. Pada hari pertama, Mansion Mumbai sulit mendapat pengunjung, namun Tuan Kadam tetap tidak menyerah. Pada akhirnya banyak pengunjung berdatangan ke Mansion Mumbai. Sebagian warga St.Antonio, Perancis menganggap restoran Mansion Mumbai seperti pesta pernikahan, karena terlalu ramai dengan suara musik serta lampu yang berkelap-kelip. Meskipun yang terjadi di Mansion Mumbai dianggap aneh dan baru, namun usaha Keluarga Kadam mampu bertahan dan berjalan sesuai yang diharapkan.

100 Kaki untu 100 Rasa

Perbedaan antara restoran milik Ny.Mallory dengan restoran Mansion Mumbai tidak hanya sekedar perbedaan cita rasa dan selera makanan, namun juga nilai-nilai budaya yang berlaku. Kedua restoran yang sangat berbeda tersebut berseberangan dan jaraknya hanya 100 kaki. Kondisi tersebut yang membuat persaingan antara kedua restoran semakin meningkat, apalagi sifat Ny.Mallory dan Tuan Kadam yang sama-sama keras kepala dan ambisius. Ny.Mallory sendiri sebenarnya orang yang sangat demokratis, menghargai kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan. Meskipun warga negara Perancis terkenal rasis, seperti halnya lirik lagu yang terdapat dalam lagu nasional Perancis, namun Ny.Mallory tidak ingin menjadi orang Perancis yang seperti itu. Dalam lagu nasional Perancis yang berjudul La Marseilaise terdapat lirik lagu yang terjemahannya sebagai berikut,

“Untuk berperang, para warga negara, bentuk batalion kalian,

Mari kita berbaris, semoga darah mereka yang  tidak murni mengalir di tanah kita”

Penggalan lirik lagu tersebut dinyanyikan oleh Jean-Pierre, salah satu chef dari restoran milik Ny.Mallory.  Sebelumnya terjadi insiden pembakaran terhadap Mansion Mumbai. Ny.Mallory mengetahui bahwa insiden tersebut merupakan ulah dari anak buahnya. Keesokan harinya Ny.Mallory mengumpulkan semua staffnya dan memberikan wejangan sekaligus peringatan bagi seluruh staff restoran tersebut. Pada saat itu pula Ny.Mallory menyuruh Jean-Pierre menyanyikan lagu La Marseilaise untuk menyudutkannya. Ny.Mallory menegaskan bahwa lirik lagu tersebut merupakan cara hidup orang Perancis. Darah yang tidak murni tidak layak untuk hidup di Perancis. Namun, Ny.Mallory menegaskan bahwa ada cara lain untuk menjadi orang Perancis, yakni dengan menghargai kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan. Pernyataan Ny.Mallory tersebut sempat ditentang oleh Jean-Pierre. Melihat sikap Jean-Pierre tersebur Ny.Mallory menegaskan bahw ia membayar chef untuk memasak, membuat makanan yang baik, nikmat dan indah, bukan untuk membunuh dan  merusak. Akhirnya Ny.Mallory memecat Pierre pada saat itu juga.

Sikap Ny.Mallory merupakan bentuk idealisme serta sikap profesional sebagai pelaku kuliner. Tidak hanya itu, Ny.Mallory sangat mengapresiasi ketrampilan Hassan salah satu anak dari Tuan Kadam yang sangat mahir memasak. Pada awalnya Ny.Mallory enggan memuji ketrampilan Hassan. Namun, berkat omelet buatan Hassan, Ny.Mallory akhirnya luluh juga. Ny.Mallory memang terbiasa menguji seseorang yang ingin bergabung dengan restorannya dengan memasak omelet. Omelet memang masakan yang sangat sederhana. Namun, mungkin dari kesederhanaan tersebut banyak orang menganggap remeh cara membuat omelet. Padahal, apapun resepnya, berapapun tingkat kemudahan dan kesulitan memasak, yang penting adalah bagaimana orang tersebut menghargai dan menghormati makanan sekaligus menghargai orang yang diberikan makanan. Berkat resep omelet buatan Hassan, akhirnya Ny.Mallory memberi kesempatan kepada Hassan untuk bekerja sekaligus belajar lebih banyak resep di restorannya. Ketrampilan Hassan memadukan rasa membuat Ny.Mallory bangga, bahkan mulai terjalin hubungan yang baik antara Ny.Mallory dengan keluarga Tuan Kadam. Restoran milik Ny.Mallory semakin kaya rasa dan dinamis semenjak Hassan bergabung dengannya.

Hassan dan Jiwa Rempah-rempah      

“Untuk memasak kamu harus membunuh, kau membuat roh, kau membunuh untuk membuat roh, jiwa yang hidup di setiap bahan masakan”

Begitulah kalimat yang diucapkan Ny.Kadam kepada Hassan. Hassan mengingat betul bahwa dalam memasak perlu adanya jiwa, dan jiwa tersebut adalah rasa dari makanan itu sendiri. Hassan belajar banyak tentang cara merasakan resep masakan. Rempah-rempah merupakan kekuatan penting dalam memasak. Sesuai dengan kebudayaan India, cita rasa kuliner India sangat erat kaitannya dengan aneka rempah-rempah nan kuat. Rempah andalan yang digunakan Keluarga Kadam adalah kapulaga, garam marsala, jintan dan masih banyak lagi. Semuanya diracik sempurna agar makanan yang disajikan memiliki jiwa. Bahan makanan yang dipilih juga harus benar-benar sesuai sehingga makanan tersebut memiliki kesan yang baik.

Sebagian orang tahu bahwa India sangat lekat dengan masakan kari nan kental. Dalam film ini juga penonton dapat melihat kari. Lebih jauh lagu, dalam film ini penonton akan melihat bagaimana masakan tersebut diracik. Film ini menunjukkan bagaimana Hassan sebagai nahkoda Mansion Mumbai mampu menciptakan eksperimen-eksperimen cita rasa baru dalam dunia kuliner. Berbekal rempah-rempah dari India Hassan menjadi koki hebat, progresif dan dinamis. Hassan membuktikan bahwa resep klasik yang berumur 200 tahunan dapat dimodifikasi tanpa harus merusak cita rasa yang berkelas. Hassan menunjukkan bahwa perubahan dan perkembangan resep yang lama bukanlah hal yang buruk, justru memperkaya cita rasa makanan. Berkat upaya Hassan tersebut pula Ny.Mallory percaya pada Hassan dan sangat mengapresiasi keahliannya tersebut. Hassan yang merupakan pemuda biasa mampu menunjukkan bahwa ia tidak hanya mampu memberikan bintang kepada restoran milik Ny.Mallory, namun juga mampu menjadi bintang yang hebat di dunia internasional.

Kesuksesan Hassan tidak diperoleh dari dunia akademik, namun belajar dari keluarga. Bagi Hassan, ibunya adalah guru kehidupannya dan restoran keluarga yang dimilikinya merupakan sekolahnya. Melalui banyak pengalaman dan pelajaran yang didapat dari keluarganya, Hassan mampu berkarir di dunia kuliner internasional. Hassan yang sempat berguru kepada Ny.Mallory mampu menjadi seorang chef dunia terkenal. Hassan mampu menguasai gastronomi serta mampu mengangkat derajat Keluarga Kadam di Perancis. Berkat prestasi yang diraih Hassan, restoran milik Ny.Mallory juga terus mendapatkan bintang dari pengamat kuliner Negara Perancis. Dari sinilah kebersamaan antara Ny.Mallory dan keluarga Tuan Kadam tumbuh. Berkat kebersamaan tersebut tidak hanya prestasi gemilang yang dapat diraih dari kedua pemilik restoran tersebut, namun perpaduan cita rasa Perancis dan India yang mampu disatukan oleh rempah-rempah ajaib yang diracik oleh Hassan.

Film The Hundred Foot Journey mengajarkan kepada kita bahwa perlu adanya keseimbangan dalam segala hal untuk menciptakan sesuatu yang menakjubkan. Makanan bukan sekedar makanan. Melalui makanan seseorang dapat mengingat cerita atau kenangan. Melalui makanan pula seseorang dapat terus berkembang, dinamis dan terus berkreasi. Sesuatu yang sangat berbeda dapat disatukan melalui pembuktian, upaya untuk melebur agar mendapatkan suatu kesetaraan. Hal ini yang membuat film The Hundred Foot Journey begitu kaya nilai positif. Kita memang bersaing dalam kehidupan, namun masih ada cara yang sehat untuk bersaing dan tetap bertahan, bahkan dapat membuat saingan kita sebagai partner yang hebat. Film The Hundred Foot Journey tidak hanya tentang makanan dan restoran, namun juga ideologi yang terbangun antara kedua restoran yang berbeda. Melalui film ini kita akan tahu betapa pentingnya saling menghargai dan menghormati perbedaan. Perbedaan dapat membuat seseorang menjadi kuat karena dapat menjadi hubungan yang saling melengkapi.

Standar
Ketik-ketik, Membaca Film, Sosial Budaya

Squad Penonton Indonesia II

3 Srikandi dan Olimpiade  = Tontonan Juara

Hasil gambar

Maskot Olimpiade Rio 2016

Ada momen kebersamaan di depan televisi dari masyarakat Indonesia ketika olimpiade mulai tayang, terlebih lagi jika yang sedang berkompetisi adalah atlet Indonesia. Siapa sih bangsa Indonesia yang nggak bangga dan antusias melihat atlet Indonesia berkompetisi untuk negaranya sendiri? Ini adalah salah satu tontonan yang tidak setiap hari ditayangkan tapi mampu menyatukan selera masyarakat Indonesia, termasuk selera anggota keluarga anda. Anggaplah sikap ini salah satu bentuk nasionalisme kita terhadap perjuangan atlet Indonesia untuk mengharumkan bangsa.

Menonton olimpiade membuat sebagian bangsa Indonesia peduli terhadap perjuangan para atlet Indonesia. Inilah masa jaya dunia olahraga Indonesia. Jauh sebelumnya banyak lika-liku yang harus dihadapi para atlet untuk berkarir di kancah internasional. Tidak heran jika sebagian bangsa Indonesia sangat antusias melihat performa para atlet Indonesia.

Jauh sebelumnya, dunia olahraga sering tersandung masalah politik  dalam kubu organisasi olahraga. Contohya permasalahan PSSI serta masalah politik internasional yang turut mempengaruhi perjalanan para atlet Indonesia pada tahun 1980. Konflik dan masalah politik internasional sempat menghambat kesempatan atlet Indonesia untuk mengikuti olimpiade di Moskwa. Perjalanan para atlet di Indonesia tentu tidak mudah.

Profesi sebagai atlet merupakan profesi yang hebat sekaligus diremehkan dalam kehidupan masyarakat. Pada momen tertentu, khususnya dalam hal kompetisi olahraga atlet memiliki kedudukan tinggi dan diagung-agungkan oleh bangsa Indonesia. Disisi lain, fenomena masyarakat yang menganggap profesi atlet tidak menjanjikan seperti halnya PNS (Pegawai Negeri Sipil) terkadang masih menghantui. Atlet terkadang sering diremehkan karena pola penghasilan dan pekerjaan meraka dianggap tidak seperti pegawai kantoran. Di masyarakat kita ini, bekerja di kantor selalu dianggap terhormat dan bergengsi. Fenomena seperti ini bisa dilihat dalam film-film bertema perjuangan para atlet Indonesia.  Salah satu atlet yang perjalanan karirnya terkena dampak permasalahan politik adalah Donal Pandiangan.

Donald Pandiangan merupakan salah satu atlet panahan Indonesia yang gagal berangkat ke Moskwa untuk berkompetisi dalam olimpiade tahun 1980 akibat masalah politik internasional. Setelah peristiwa tersebut, Donald yang dikenal sebagai Robin Hood Indonesia kemudian menghilang dari dunia olahraga dan sempat bekerja di bengkel kecil.Kemudian, pada tahun 1988 Donald kembali ke dunia olahraga panahan sebagai pelatih regu panahan putri. Yana, Lilies dan Suma merupakan tiga atlet didikannya yang berhasil meraih medali perak pada Olimpiade Seoul.  Perjuangan Donald dan ketiga atlet panahan didikannya tersebut diceritakan dengan apik dalam film biografi 3 Srikandi.

Hasil gambar

Karakter dalam film biografi 3 Srikandi

Dalam film 3 Srikandi, Nurfitriyana (Yana) salah satu atlet panahan dari Jakarta harus berdebat hebat dengan ayahnya karena pilihan Yana yang bersikukuh untuk menjadi atlet panahan. Ayahnya tidak mengizinkannya untuk menjadi atlet karena bagi ayahnya aktivitas sebagai atlet dapat menghalangi Yana untuk menyandang gelar sarjana. Ayahnya ingin Yana menjadi sarjana hebat, akademisi terpandang, bukan menjadi atlet Indonesia yang nasibnya kadang tidak jelas dan membuang-buang waktu.

Kisah kedua juga dialami oleh Kusuma (Suma) sebagai atlet panahan dari Ujung Pandang. Suma harus menghidupi keluarganya yang kondisi ekonominya serba terbatas. Perjuangan Suma untuk menjadi bagian dari atlet panahan beregu putri harus diwarnai konflik dengan ayahnya yang bekerja sebagai PNS. Ayahnya meminta Suma untuk menjadi PNS daripada menjadi atlet yang buang-buang uang dan waktu. Memang pada saat itu, kebutuhan para atlet lebih banyak ditanggung dengan dana pribadi para atlet tersebut, termasuk kebutuhan peralatan olahraga.

Berbeda dengan Yana dan Suma, masalah yang dihadapi Lilies berhubungan dengan kisah asmara. Lililes seorang atlet panahan dari Surabaya menjalin kasih dengan atlet karate dari Surabaya. Kedua 0rang tua Lilies merupakan pasangan atlet, bahkan ibunya juga merupakan atlet panahan. Meskipun Lilies berasal dari keluarga atlet, namun ibunya tidak mau jika Lilies berjodoh dengan atlet juga. Hal ini disebabkan karena ibunya merasakan kesulitan ekonomi selama membina rumah tangga dengan pasangannya yang sesama atlet. Ibunya berpikir meskipun Lilies menjadi atlet, namun sebaiknya suami dari Lilies harus berasal dari profesi yang berbeda atau berprofesi sebagai pengusaha agar kehidupan Lilies tidak sulit seperti orang tuanya kelak.

Dari kisah singkat ketiga atlet panahan tersebut, terlihat bahwa perjalanan atlet Indonesia bukanlah hal yang mudah. Banyak pertentangan yang dihadapi hingga akhirnya mampu membuktikan bahwa menjadi atlet bukanlah profesi yang dianggap remeh. Saat ini kita perlu bersyukur bahwa dunia olahraga Indonesia mampu berkembang menjadi lebih baik. Kita mampu melihat atlet Indonesia sudah sering berkompetisi di dunia internasional.

Tahun ini, tepat ketika Indonesia menginjak usia kemerdekaan yang ke-71, Indonesia mendapatkan kado terindah, yakni medali emas yang berhasil diperoleh oleh Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir dalam cabang olahraga bulu tangkis tim ganda campuran melawan negara tetangga Malaysia. Kemenangan tersebut tentunya disambut meriah oleh bangsa Indonesia bertepatan dengan HUT RI tahun 2016. Inilah yang disebut bahwa Olimpiade merupakan tontonan juara. Melalui olimpiade kita tidak hanya mengapresiasi para atlet saja, namun juga menghargai sekaligus belajar lebih banyak bagaimana cara mengharumkan negara dengan caranya masing-masing.

Hasil gambar

Pose Hits Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir Ketika Meraih Medali Emas Pada Olimpiade Rio 2016

Perjuangan atlet Indonesia dalam dunia olahraga bukanlah drama juga bukan genre film action superhero. That’s the real life, bagian dari sejarah Indonesia yang patut dikenang, diapresiasi dan patut menjadi teladan. Kita tidak seharusnya memandang rendah suatu profesi selama hal tersebut baik dijalani dan tidak mengganggu orang lain. Ada banyak kebaikan yang dapat diperoleh dari siapa saja, karena setiap orang punya pengalaman yang berbeda-beda. Menonton olimpiade memang tidak semenarik menonton film drama atau film fiksi lainnya. Inilah yang membuat olimpiade begitu dinanti oleh para penonton dari penjuru negara di dunia, khususnya ketika atlet kebanggaan negara sedang berjuang untuk negaranya, termasuk Indonesia. Meskipun Indonesia merupakan pecinta drama aliran keras, namun olimpiade tetap tidak kehilangan penonton setia.

Drama Cinta Indonesia vs Superhero Amerika

Ada banyak masyarakat kita yang lebih memilih tema film cinta-cintaan daripada tema lainnya. Seperti contohnya adalah pemutaran film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) yang membuat antrian bioskop membludak sepanjang hari. Dimana-mana ramai membicarakan AADC 2. Bahkan banyak pula anak tahun ‘millenium’ yang ikut mengantri menonton AADC 2 meskipun sekuel film pertamanya diputar tahun 90-an. Film AADC 2 terbukti mampu mengalahkan jumlah penonton film Captain America yang kebetulan tayang bersamaan.

Hasil gambar

Pada saat AADC 2 tayang di Kota Malang, hampir semua bioskop dipadati penonton yang rela mengantri di bioskop dari jam 08.00 WIB demi tiket AADC 2. Akibat banyaknya penonton AADC 2 tersebut, empat studio di bioskop Mandala 21 Plaza Malang seharian penuh menayangkan film AADC 2, bahkan film Captain America yang awalnya diputar di bioskop Mandala Plaza ditiadakan dan dialihkan ke bioskop 21 Dieng Plaza. Berkat tingginya animo penonton terhadap film AADC 2, banyak bioskop yang memutar film AADC 2 di bioskop hingga dua minggu lebih. Film Captain America yang digadang-gadang pecinta film Hollywood di Indonesia tetap kalah telak jumlahnya dengan AADC 2. Padahal dua film bergengsi ini sama-sama dibintangi artis papan atas, bahkan media promosinya juga sama dan dilakukan jauh-jauh hari sebelum kedua film tersebut rilis bersama.

Hasil gambar

So, antara film AADC 2 yang notabene film drama romantis Indonesia tetap lebih jaya daripada Civil War besutan Amerika yang bergenre action dan superhero. Terlihat sekali bahwa pilihan penonton terhadap film Indonesia selalu dilihat dari genre filmya, namun akan berbeda dengan film Hollywood bergenre action dan superhero yang cenderung selalu mendapat perhatian dari penonton Indonesia. Seperti yang saya singgung sebelumnya, penonton bioskop atau penikmat hiburan film di Indonesia lebih menyukai genre film action dari luar negeri karena memang tampilan visualnya lebih canggih dan terlihat menakjubkan setiap akting pemerannya. Namun, jika dibandingkan dengan film drama cinta sekelas AADC 2, film superhero akan luluh seperti halnya alur cerita superhero yang luluh pada kekasihnya dalam film. Indonesia juara dramanya! Padahal, fyi menurut saya film AADC 2 kisahnya biasa saja dan mudah ditebak. Khas banget dengan cerita film percintaan Indonesia yang akhirnya kembali pada cinta pertama. Mudah ditebak, ibaratnya dalam film AADC 2 itu seperti “Disapa atau di-Hai mantan dikit, rusak hati sebelanga”. AADC 2 dari segi visual menang latar belakang tempatnya yang menampilkan eksotisme Kota Wisata Yogyakarta. Semua orang yang bergerak di bidang industri kreatif dan kuliner di Jogja dimunculkan dalam film tersebut. Jadi, bukan sekedar film, tapi ada unsur promosi tempat-tempat menarik juga.

Selain itu, banyak sponsor besar yang mensponsori film AADC 2 tersebut hingga akhirnya sukses besar penayangannya. Mulai dari media sosial LINE hingga perusahaan gadget ternama juga ikut mensponsori film AADC 2 tersebut. Tidak heran jika promosi film AADC 2 terus berjalan selama setahun sebelum akhirnya film tersebut ditayangkan di bioskop tanah air. Selama masa-masa promosi tersebut, khalayak ramai Indonesia khususnya para anak muda sangat tidak sabar menunggu kelanjutan film AADC 2 selama 9 Purnama berlalu. Juara bikin penasaran! Demikian terlihat sekali kisah cinta tidak pernah kehabisan tempat di masyarakat Indonesia.  Tidak heran media massa di Indonesia baik cetak maupun elektronik dipenuhi dengan berbagai konten kisah cinta yang mendramatisir. Tidak hanya mengangkat kisah cinta yang indah dalam hiburan layar kaca, namun juga diangkat dalam program reality show “Katakan P*t*s” yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta saat ini. Meskipun reality show tersebut terkesan settingan, namun banyak yang suka menontonnya, bahkan dari berbagai kalangan menyukai program tersebut.

Bagi anak muda yang sudah jemu dengan program hiburan yang terlalu mendramatisir, mereka bisa mencari sumber hiburan dari internet, menonton hiburan yang disukai secara live streaming hingga mendowload film yang disukai secara cuma-cuma. Hal itupun hanya dapat dilakukan masyarakat yang accesable dengan media internet, terus yang nggak bisa akses gimana? Ya tetep nonton Uttaran aja sambil ngedumel sendiri di depan televisi. Daebak….!

FYI, Drama Korea juga juara di Indonesia. Selain pemainnya cantik-cantik dan ganteng-ganteng, jalan cerintanya nggak melulu tentang cinta-cintaan lebay, ada kasus yang selalu diangkat dalam kisah drama tersebut. Nggak heran kalau kehadiran Drama Korea tersebut bak tuyul, tidak terlihat tapi banyak penikmat.  Maksud dari tidak terlihat tersebut adalah karena drama korea masih jarang diputar di layar kaca layaknya serial India. Kira-kira kalian termasuk Squad yang mana nih? Apakah kalian Squad Campuran?

Standar
Ketik-ketik, Membaca Film, Sosial Budaya

Squad Indonesia Part I

Squad Penonton, HUT RI-71 dan  Selebrasi Kemenangan Olimpiade Rio 2016

Bulan Agustus merupakan salah satu bulan sakral bagi seluruh bangsa Indonesia karena ada si 17 Agustus yang selalu disambut meriah oleh bangsa Indonesia dari berbagai generasi dan beragam suku bangsa. Ada banyak cara untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI dan ada banyak cerita setiap tahunnya yang mewarnai perjalanan Negara Republik Indonesia hingga mencapai usia ke-71. Khusus tahun ini, tepat pada bulan Agustus beberapa putra putri bangsa Indonesia kembali berkompetisi di luar negeri untuk mengikuti Olimpiade Rio 2016. Olimpiade merupakan momen yang sangat digadang-gadang oleh masyarakat Indonesia. Banyak dukungan yang mengalir kepada para atlet khususnya pada olahraga cabang bulu tangkis yang sudah menjadi cabang olahraga primadona Indonesia.

Saat ini bangsa Indonesia sering mengikuti olimpiade olahraga. Para atlet kita juga merupakan pahlawan Indonesia karena berhasil mengharumkan nama bangsa sekaligus dapat menjadi inspirasi anak bangsa. Jauh sebelum atlet Indonesia berkiprah di kancah olahraga Internasional, perjalanan para atlet Indonesia tidak mudah. Salah satu contohnya perjalanan atlet cabang panahan pada Olimpiade Seoul ke-24 di Korea Selatan. Kita bisa melihat kisah tiga atlet panahan beregu putri Indonesia yakni Nurfitriyana Saiman, Kususma Wardhani dan Lilies Handayani yang berhasil meraih medali olimpiade untuk yang pertama kalinya pada tahun 1988. Meskipun hanya meraih medali perak, namun sumbangsih mereka sangat berarti bagi dunia olahraga Indonesia yang sempat surut di kancah internasional akibat masalah politik internasional pada tahun 1980. Kisah tiga atlet panahan tersebut kemudian terangkum dalam film 3 Srikandi yang rilis pada tanggal 4 Agustus 2016.

3 Srikandi vs Suicide Squad       

https://movie.co.id/wp-content/uploads/2015/05/Poster-film-3-Srikandi-1.jpg                            

Pada bulan Agustus 2016 ini, selain ramai olimpiade dunia industri hiburan juga sedang diramaikan oleh kehadiran film yang dinanti-nanti penggemar film, yakni Suicide Squad. Film Suicide Squad berhasil menyedot banyak penonton di Indonesia untuk berbondong-bondong datang ke bioskop tanah air. Sama halnya dengan film 3 Srikandi, film Suicide Squad juga rilis pada tanggal 4 Agustus 2016. Kedua film ini harus bersaing di Indonesia. Kalau film 3 Srikandi merupakan film Indonesia yang menceritakan tentang tim panahan beregu putri maka film Suicide Squad merupakan film Hollywood yang juga bercerita tentang squad atau tim pahlawan super Amerika  yang antihero DC Comics. Kedua film dari negara yang berbeda harus bertarung di ranah industri hiburan Indonesia. Baik 3 Srikandi maupun Suicide Squad sama-sama dibintangi oleh artis papan atas negaranya masing-masing. Reza Rahardian, Bunga Citra Lestari, Tara Basro dan Chelsea Islan merupakan jajaran artis papan atas Indonesia yang berhasil memainkan peran mereka dalam film 3 Srikandi. Akting para tokoh di 3 Srikandi tersebut sudah tidak dapat diragukan lagi karena memang memiliki kualitas peran yang baik. Sedangkan di Suicide Squad dibintangi oleh Will Smith, Jared Leto, Margot Robbie, Joel Kinnaman, Viola Davis dan masih banyak aktor dan aktris hollywood papan atas lainnya. Para bintang Suicide Squad begitu dikenal di negara asalnya sekaligus di Indonesia yang memang banyak penggemar film-film hollywood.

https://i0.wp.com/www.fuse.tv/image/5772d075c352150525000019/816/545/homepage-suicide-squad-poster-the-complete-guide-to-suicide-squad.jpg

Film 3 Srikandi dan Suicide Squad cukup memperkaya pilihan film bioskop. Kedua film tersebut sama-sama memiliki visi misi, yakni bertarung dengan lawannya masing-masing dalam alur cerita film. Di dunia nyata, animo masyarakat terhadap film juga ternyata cukup terasa perbedaannya. Antrian film di bioskop cukup panjang dan ramai. Banyak masyarakat yang datang ke bioskop untuk menonton film Suicide Squad. Bahkan sangking banyaknya, penayangan film Suicide Squad diputar empat kali sehari di bioskop sedangkan film lainnya hanya 1-3 kali saja. Salah satu contohnya di Dinoyo Cineplex. Dinoyo Cineplex merupakan bioskop yang sangat baru di Kota Malang, namun banyak masyarakat yang berbondong-bondong ke bioskop apalagi ketika Suicide Squad diputar. Studio yang menayangkan Suicide Squad dipadati penonton, sedangkan studio yang memutar film 3 Srikandi hanya berjumlah sekitar selusin saja. Jumlah yang sangat drastis antara kedua film tersebut. Jelas saja untuk memperoleh keuntungan tersebut tentunya pihak bioskop lebih memperbanyak frekuensi pemutaran film Suicide Squad daripada 3 Srikandi yang hanya tayang 2 kali. Inilah salah satu gambaran kompetisi yang terjadi di Indonesia selain dari meriahnya Olimpiade Rio 2016.

Squad TV Antena vs Squad TV Kabel

Film-film nasional boleh saja kalah jumlah penonton, namun sebenarnya masih memiliki kualitas yang bagus. Ada beberapa faktor yang membuat film Indonesia terkadang kehilangan penggemar, khususnya film-film yang bergenre biografi pahlawan, perjuangan, pendidikan serta film-film sarat nilai positif lainnya. Jika banyak penonton yang menganggap film hollywood lebih keren karena teknologi perfilmannya 10x lebih canggih daripada film di Indonesia, itu memang fakta yang tidak dipungkiri. Namun ada hal lain yang juga mempengaruhi animo masyarakat Indonesia terhadap hiburan perfilman Indonesia. Masyarakat Indonesia lebih cenderung memilih sebagai masyarakat televisi dimana dengan tontonan televisi masyarakat kita ini tidak perlu merogoh kocek untuk menghibur diri dan keluarga. Tidak perlu pula meninggalkan rumah dan bisa menikmati hiburan sepuasnya.

Bicara tentang masyarakat televisi, maka ada dua sisi yang berbeda dari masyarakat kita. Dulu sebagian orang hampir tahu program yang melegenda di Indonesia, yakni Dunia Dalam Berita. Bagi yang lahir sebelum dan pada saat tahun 90-an mungkin masih ingat program legend tersebut. Hal tersebut disebabkan karena perkembangan teknologi serta arus media televisi belum semeriah saat ini. Pada awalnya masyarakat dapat menonton televisi hanya dengan beberapa stasiun televisi. Kemudian, semakin berkembangnya stasiun televisi baik nasional maupun swasta mampu memberikan masyarakat tontonan yang lebih variatif lagi. Masyarakat mulai gandrung dengan sinetron yang panjang episodenya sampai melebihi cerita dari negeri 1001 malam (cerita negeri 1001 malam aja nggak panjang kok).

Dahulu, penanyangan sinetron diputar seminggu sekali tiap judulnya, kemudian saat ini berkembang menjadi setiap hari alias striping. Judul sinetron mulai dari Tersanjung, Tersayang, Terhormat hingga sinetron yang serba Ter-keteran mulai mewarnai hiburan televisi sejak tahun 90-an. Kemudian,  mulai tahun 2011-an berganti dengan sinetron serba anak puber yang pacaran mulu di sekolah, manunsia setengah hewan, setengah siluman, manusia setengah-setengah hingga serial India. Tayangan India di Indonesia memang mengalami pasang surut, namun saat ini serial India sedang mengalami masa jayanya di Indonesia, bahkan ada stasiun televisi swasta Indonesia yang menayangkan serial India sebanyak 4x sehari dengan 4 judul yang berbeda disertai durasi episode yang panjang tiap judulnya. Inilah gambaran masyarakat TV Antena yang dimaksud. Masyarakat kita ini punya selera hiburan yang sangat dramatis meskipun alur cerita bisa ditebak sampai 1000x lebih oleh penontonnya. Masyarakat kita terkadang ada pula yang mengaku bosan namun tetap menikmati tayangan yang ada. Masyarakat TV Antena seolah sudah terhipnotis oleh tayangan yang ada hingga anak-anak kecilpun tak berdaya terkena pengaruhnya.

Hasil gambar

Sinetron legend yang tayang seminggu sekali hingga 1000 episode

Berbeda antena mungkin juga berbeda tontonan dan selera. Bagi masyarakat TV Kabel (Yang pake parabola gitu, macam Indovision), akses hiburan yang diperoleh lebih variatif lagi. Tidak hanya tontonan nasional namun hiburan mancanegarapun mudah diakses dan dikonsumsi bersama keluarga. Bagi masyarakat TV Kabel, khususnya anak-anak kota, sinetron yang ditonton bukan produk Indonesia, namun TV Series luar yang memang sangat variatif genrenya. Meskipun TV Series dan sinetron sama-sama tayangan seri atau bersambung, namun TV Series memiliki alur cerita yang kadang tidak terduga. Ada aspek cerita lain yang sering diangkat TV Series dan tidak melulu tentang drama yang menguras air mata. Masyarakat TV Kabel dapat mengatasi kebosanan terhadap tayangan Indonesia yang cenderung dramatis karena punya banyak pilihan program. Hal ini tentunya menimbulkan selera yang berbeda dengan masyarakat TV Antena. Masyarakat TV Kabel tentunya akan mengiyakan kehebatan cerita TV Series daripada sinetron yang membosankan. Disini pula yaang menimbulkan sebagian animo masyarakat terhadap dunia hiburan layar kaca termasuk layar lebar di Indonesia. Cikal bakal ditinggalkannya film Indonesia dapat muncul dari kebiasaan tontonan sehari-hari.

 

Hasil gambar

Dua serial yang ngehits setiap hari setiap malam

Hadirnya TV Kabel memang dapat membuat penontonnya lebih mudah mengakses program luar. Ada banyak channel televisi yang menayangkan program ilmu pengetahuan pula. Inilah yang menjadi salah satu nilai plus TV Kabel. Selain itu, terdapat pula channel yang khusus menayangkan program anak-anak, sehingga orang tua tidak khawatir jika anak-anaknya yang masih kecil menonton televisi yang sesuai dengan usia si anak tersebut. Para orang tua tidak perlu menunggu dan susah-susah mencari program anak-anak, karena channel tersebut setiap saat menayangkan program khusus anak-anak. Meskipun TV Kabel memperkaya pilihan hiburan televisi, namun tetap saja semua kembali kepada sikap pengguna TV Kabel.

Image

GOT salah satu TV Series yang dapat ditonton lewat TV Kabel

Fenomena di desa saya,  dahulu TV Kabel yang lekat dengan parabola masih mengandung nilai prestise. Dahulu, orang-orang yang memiliki parabola dianggap sebagai orang kaya. Jelas, secara harga parabola lebih mahal daripada antena biasa, selain itu bagi pengguna TV Kabel akan dikenakan biaya setiap bulannya, otomatis membutuhkan banyak biaya pengeluaran. Selain itu, meskipun TV Kabel unggul jumlah stasiun televisi daripada televisi antena biasa, tetap saja jika penggunanya menyukai serial drama, maka program yang terus diputar tetap saja drama, malahan si pemilik lebih jelas melihat air mata dalam serial drama sekelas Uttaran. Si anak juga akan mengikuti apa yang ditonton orang tuanya, bahkan cenderung menikmatinya, akhihrnya banyak anak-anak yang masih kecil ngomongin cinta-cintaan lawan jenis. Mungkin para orang tua harus lebih bijak lagi menyikapi tersedianya beragam program TV Kabel, bukan mungkin ding, tapi ada baiknya para orang tua lebih bijak dan tidak egois.

Image

Ngehits di anak muda kekinian

Permasalahan kedua, anak-anak zaman sekarang memang minim tontonan seusianya. Tontonan anak-anak kebanyakan diputar pada pagi hari dimana si anak memiliki waktu yang sangat terbatas. Anak-anak harus pergi sekolah pada pagi hari hingga siang hari. Sedangkan tayangan program anak-anak seperti Doraemon, Spoongebob, Dora, serta kartun dan animasi lainnya justru tayang pada jam-jam sekolah. Pada saat si anak pulang ke rumah, program yang sedang tayang di televisi justru film drama yang cenderung berkisah tentang perempuan perusak rumah tangga orang, reality show penuh drama dan berlanjut serial drama hingga malam hari. Maka dari itu, anak-anak tetap tidak memperoleh hiburan seusianya, karena memang tayangan anak-anak seusianya sudah terlewat. Sehebat-hebatnya stasiun televisi memberikan kode kategori tontonan, tetap saja anak-anak accesable terhadap program televisi murah meriah tersebut. Demikian apalah arti kategori jika pada akhirnya penontonnya bercampur baur. Sepertinya hanya program olahraga yang aman untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga.

Standar
Ketik-ketik, Personal

Full Day School = Full of Bla bla bla

ac

Setelah ramai reshuffle menteri yang berjilid-jilid ini dilantik akhirnya ramai pula berbagai wacana, salah satunya wacana kebijakan pendidikan yang baru-baru ini keluar dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru kita saat ini, yakni Bapak Muhadjir Effendy. Pak Muhadjir hendak memberlakukan sistem full day school di sekolah dasar dan menengah baik sekolah negeri maupun swasta. Meskipun kabar yang beredar bahwa kebijakan tersebut kemungkinan dapat dibatalkan jika ada rasa keberatan dari masyarakat, namun wacana kebijakan full day school tersebut sudah sempat meramaikan jagat Indonesia. Kebijakan yang dikeluarkan Pak Muhadjir ini dianggap merupakan suatu gebrakan baru meskipun sejujurnya bagi saya pribadi full day school bukan hal yang baru.

Saya adalah salah satu alumni dari sekolah yang sempat menerapkan sistem full day school, meskipun sejujurnya dari lubuk hati dan realita yang ada sangat tidak efektif. Tentunya ketika saat ini santer terdengar kabar wacana pemberlakuan full day school, saya cukup mengernyitkan dahi. Bukan saya sok tahu, sok bijak, sok pintar atau sok sok yang lainnya, saya juga bukan tenaga pendidik atau siswa lagi, tapi karena saya pernah mengalami sekaligus saya juga anak dari tenaga pendidik jadi saya mau omong. Bagi saya, sistem full day school harus benar-benar matang konsepnya. Hal ini mengingat bahwa banyak pihak yang terlibat dan banyak hal-hal yang dipertimbangkan. Meskipun tujuan dari full day school yang diutarakan oleh Pak Muhadjir sebagai media belajar pendidikan karakter dan budi pekerti dari para guru, namun ada aspek-aspek lain yang perlu dipertimbangkan. Sebenarnya, karakter dan budi pekerti seperti apa yang diinginkan oleh Pak Mendikbud?

Bicara mengenai pendidikan karakter, menurut saya pendidikan karakter tidak melulu didapat dari bangku sekolah. Dalam kehidupan masyarakat yang beragam, tentunya pola asuh anak berbeda-beda. Jangankan tiap daerah dengan kebudayaan yang berbeda, tiap rumah, tiap keluarga punya cara yang berbeda tentunya sesuai dengan kondisi keluarga itu juga. Bagi Pak Muhadjir, full day school dapat membantu para orang tua murid dalam mendidik dan belajar selama para orang tua sibuk bekerja hingga sore hari. Pertanyaannya kerja seperti apa? Saya setuju dengan salah satu postingan milik Dhandhy Dwi Laksono yang mengaitkan full day school dengan pola kerja masyarakat di Indonesia.

Coba kita simak, khususnya yang dari desa kayak saya. Waktu saya duduk di bangku MI (SD dah bagi yang nggak ngerti), saya punya teman dari beragam latar belakang keluarga, mulai dari pedagang, petani, anak TKW dan lainnya. Teman-teman saya ini pada punya adik yang masih kecil. Biasanya, teman saya ini setelah pulang sekolah membantu ibunya ngemong(mengasuh)  si adek sementara orang tuanya sibuk kerja di sawah, jaga warung hingga sibuk kerja di luar negeri. Tidak jarang teman-teman saya ini membantu orang tuanya bekerja di sawah atau sekedar berdagang kecil-kecilan untuk membantu menambah penghasilan orang tuanya. Saya masih ingat sekali pernah bermain dengan salah satu teman saya, namanya Alfiyah. Saya pernah ikut dia bantu mengumpulkan eceng gondok di sawah hingga dua karung hanya untuk mendapatkan uang Rp2000 dari dua karung tadi untuk membantu orang tuanya, apalagi ketika ibunya sudah tiada. See, mereka saat ini tumbuh jadi anak pekerja keras dan peduli terhadap keluarga. Mereka pintar ngramut anak kecil, sepupu saya juga pekerja keras dan saat ini ketika sudah bekerja di pabrikpun masih suka berbagi daripada orang-orang ‘berdasi’ yang sudah terjerat korupsi. Apakah mengasuh adik, membantu pekerjaan orang tua di rumah bukan salah satu bentuk pendidikan karakter?

Saya bisa buktikan bahwa full day school dapat mengorbankan banyak hal. Pertama tentunya hubungan keluarga. Ketika si anak lebih banyak beraktifitas di luar rumah, sampai di rumah capek, kadang bisa uring-uringan sama emak bapaknya, mengerjakan hal yang lainnya yang dianggap remeh tapi bermanfaatpun jadi enggan, contoh nyapu rumah, bantu masak dan sebagainya, jadilah anak manja, malesan. Kedua, keluarga tenaga pendidik itu sendiri sudah pasti sangat dikorbankan. Saya bukan bicara omong kosong, tapi saya bicara sebagai anak dari tenaga pendidik. Ibu bapak saya seorang guru, nggak perlu full day school pun sudah sibuk nggak ketulungan. Bapak ibu saya berusaha bersikap profesional sebagai guru, bahkan hari raya kemarin pun ibu saya sempat-sempatnya memikirkan salah satu anak didiknya yang nilainya tiba-tiba merosot semenjak ditinggalkan ibunya ke luar negeri sebagai TKW. Perhatian guru kepada muridnya nggak sekedar di sekolah saja, nggak sekedar waktu sekolah saja. Kalau boleh jujur, ibu bapak saya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengabdi kepada sekolah, bahkan saya yang anak kandung sekaligus anak satu-satunya jarang punya waktu untuk saling berbagi cerita, jalan-jalan keluarga atau apalah, bahkan foto bareng keluarga inti aja nggak sempet, syukur-syukur punya foto keluarga inti pas wisuda (udah Alhamdulillah). Sampai saya duduk di bangku SMP hingga kuliah, orang tua saya tidak pernah tahu banyak dan mendetail masalah apa saja yang pernah saya alami di sekolah. Teman-teman saya lebih banyak tahu dan mengerti permasalahan yang pernah saya alami daripada orang tua saya. Saya bukannya menyalahkan orang tua saya, saya sangat memakluminya meskipun tidak jarang saya mengalami titik jenuh dengan kondisi tersebut. Untungnya saya tidak melampiaskannya pada hal-hal yang negatif. Saya tahu bahwa kebijakan dunia pendidikan sering berubah-rubah, makanya bapak ibu saya sering sibuk di sekolah daripada di rumah.

Apa yang saya ceritakan tersebut hanya untuk sebuah gambaran bahwa banyak hal yang dikorbankan ketika hendak memberlakukan kebijakan, termasuk full day school. Oleh karena itu harus benar-benar ditinjau lagi sebelum benar-benar mengimplementasikan full day school tersebut. Ketiga, kalau full day school diberlakukan, tentunya mahal dong, bakal butuh banyak biaya lagi entah untuk gaji/honor tambahan guru atau biaya untuk menggunakan jasa tutor khusus kelas tambahan tersebut. Duit lagi ujung-ujungnya, kepala sekolah puyeng lagi ngurus anggaran, rapat inilah itulah, kelar hidup bapak gue nggak pulang-pulang ke rumah, sekalian aja bapak saya tidur di sekolah, untung anaknya sekarang udah gede. Kadang saya mikir, bapak ibu saya kerja jadi guru apa buruh pabrik? Kerja di sekolah apa pabrik? Kok sering lembur? Institusi pendidikan atau industri sebenarnya? Orang tua saya udah dipusingkan kurikulum inilah itulah, sampai emak saya kurus. Emak bapak saya itu guru tahun 90-an, usianya sekarang udah 40an. Orang tua saya dari desa, kebijakan ini itu bikin riweh otak. Bapak ibu saya bisa jadi guru yang baik aja bekal dari Rp30.000 awalnya. Mereka berkembang dari sistem pendidikan yang sederhana, nggak ribet kayak sekarang birokrasinya yang diutak atik terus kebijakannya. Berubah-rubah kebijakan bikin orang tua mikir bolak balik, keluarganya dikorbanin juga pak haji….

Saya mengerti zaman sudah berubah, tapi jangan sampai membuat suatu kebijakan pendidikan yang seperti bunglon. Hal ini mengingat bahwa pendidikan punya pengaruh yang menyeluruh dan dilakukan sehari-hari, berkelanjutan. Masa’ iya pak kalah sama tagline salah satu produk minyak di televisi “buat anak kok coba-coba!”. Lebih baik dikoreksi lagi apa yang kurang dari sistem pendidikan di Inonesia dan diperbaiki dulu sebelum menambah atau merubah suatu kebijakan baru. Dimatangkan dulu lah intinya sih gitu.

Saya pernah kuwalahan ketika saya full day school, padahal cuma sampai jam 15.00 WIB, apalagi ini yang sampai jam 17.00 WIB? Yakin deh nggak efektif. Toh sudah ada ekskul yang menjadi pelengkap kebutuhan siswa untuk pengembangan bakat dan minat. Kalau anak SD, sudah umumnya mereka dapat jatah bermain pak. Lagi seneng-senengnya main, takutnya kebanyakan serius jadi tua sebelum waktunya. Mungkin iya, untuk anak-anak yang sekolah di kota-kota metropolitan masih agak sesuai dengan misi  membantu orang tua dalam mendidik anak, tapi gimana dengan yang beda wilayah dan lingkungan dengan yang di kota-kota itu.

Mengenai pendidikan karakter, sepinter-pinternya anak, sesering-seringnya anak di sekolah yakin deh karakter mah balik ke individu masing-masing. Lah wong yang doyan sekolah aja banyak yang doyan ngibul dan korupsi kok?. Bapak menteri mungkin resah mengenai pendidikan karakter akibat banyaknya cabe-cabean dan terong-terongan. Nah itu yang perlu dicermati lagi, darimana itu jenis bocah kok bisa tumbuh subur di Indonesia. Banyak yang menganggap munculnya bocah berkarakter cabe-cabean itu akibat dari pengaruh tontonan di televisi. Nah ini yang menarik dan perlu dicermati. Jam tayang acara-acara yang dianggap kurang mendidik justru banyak yang tayang pada saat jam-jam di luar sekolah, yakni mulai pukul 18.00-22.00 WIB hampir semuanya sinetron dan acara-acara lainnya yang punya rating tinggi tayang dan ditonton sekeluarga hingga se-RT. Nggak sekalian aja pak diberlakukan sekolah malam? Kayaknya Pak Mendikbud perlu intens menyambangi komisi penyiaran ya pak. Tentunya, pendekatan dengan orang tua murid sangat penting. Hal ini agar terjalin komunikasi yang baik antara wali murid degan tenaga pendidik agar proses belajar bisa dijalankan bersama dan tidak saling menghakimi jika ada kesalah fahaman atau kekurangan dalam proses belajar. Pak Mendikbud tentunya tahu mengenai kasus ‘cubit-cubitan’ di sekolah yang berakhir di meja hijau. Mungkin pak mendikbud perlu mencermati juga masalah ini kenapa hal sesepele itu bisa masuk ranah hukum. Saya dulu malah pernah dipukul bapak saya sendiri pakai pegangan cikrak ketika saya melakukan kesalahan di kelas, bahkan jumlah pukulannya lebih banyak daripada yang diterima teman-teman kelas lainnya meskipun kesalahannya sama. Saya dan teman-teman saya tidak sampai lapor polisi, jangankan lapor polisi, lapor orang tuapun tidak. Itu semata-mata karena orang tua kami sudah percaya dan ada komunikasi yang baik antara wali murid dan dewan guru.

Saya dulu sempat ngajar di salah satu SMA negeri di Kota Malang menggantikan sementara salah satu guru Sosiologi yang berhalangan hadir selama empat kali pertemuan dalam  waktu dua minggu. Ketika sudah lewat pukul 13.00 WIB, banyak murid-murid yang sudah mulai kelelahan dan sudah tidak fokus lagi. Di kelas sebelah tempat saya mengajar malah ada anak-anak yang asyik main game lewat laptop lengkap dengan stick gamenya, udah kayak di rental PS (Play Station) deh pak. Ternyata meskipun tempatnya sekolah, tetap saja accesable dengan media hiburan, apalagi anak-anak sudah pada pegang gadget. Kondisi belajar di atas jam 12.00 WIB benar-benar tidak kondusif, bahkan banyak guru yang sudah terlihat lelah dan banyak kelas kosong alias tidak ada guru. Jadi begitulah pak kondisinya anak-anak kalau disuruh belajar terus. Saya juga pernah jadi siswa pak, yakin deh belajar terus itu bikin otak spaneng. Saya yakin tujuan bapak memberlakukan sistem full day school itu untuk kebaikan anak bangsa. Tapi, alangkah lebih baiknya dipertimbangkan masak-masak atau bapak bikin gebrakan lainnya yang lebih efektif. Semoga bapak menjadi menteri pendidikan yang lebih baik., saya sangat berharap banyak perubahan yang lebih baik dari bapak. Amin….

Standar
Ketik-ketik

New Stage: Yang Susah Dijawab Lebaran Kali Ini

Image

(Tulisan Nggak Serius tapi Serius)

Kalau tahun kemaren, saya sempet baca tweet dari Raditya Dika yang tulisannya “Jadi siapa yang Lebaran kemarin dijodohin sama anaknya teman orang tua?”. Nah, kalo sekarang, banyak banget bermunculan pertanyaan hitz yang nggak jauh-jauh dari urusan masa depan, ditambah lagi tahun ini banyak banget undangan buat foto-foto di pelaminan bareng temen yang nikah.

Sibuk apa?

Kapan nikah?

Udah punya pacar?

 

Tiga pertanyaan diatas adalah pertanyaan tiga teratas dari pertanyaan-pertanyaan lainnya yang jarang ditanyakan ketika masa-masa lebaran seperti ini. Well, sebenernya pertanyaan-pertanyaan itu bukan pertanyaan baru yang muncul di masyarakat. Tapi, karena saat ini saya menyandang status baru, yakni sebagai sarjana, lajang meskipun punya pasangan (Alhamdulillah akhirnya dapet pasangan juga lebaran kali ini), sudah berumur alias kepala dua dan terlalu banyak undangan pernikahan daripada lebaran tahun sebelumnya, so rasanya pertanyaan Kapan Nikah? Udah Punya Pacar? dan Sibuk Apa? Menjadi pertanyaan paling sering muncul dan menghantui. I think thats so creepy, lebih menyeramkan daripada Valak hantu yang lagi ngehits dimana-mana (lama-lama Valak juga ditanyain pertanyaan-pertanyaan itu, biar ngibrit). Kalau ketemu Valak, coba aja tanyain kapan nikah? pasti langsung masuk lukisan lagi, nggak berani keluar.

“Kapan Nikah? dan Sibuk Apa?” sebenernya punya hubungan yang berkaitan. Tingkat kesibukan atau pilihan kesibukan bisa jadi menentukan waktu pernikahan anda. Saya tidak akan bicara kalau orang yang sangat sibuk maka orang tersebut akan memilih untuk menunda pernikahan lebih lama lagi. Saya pikir setiap orang punya jenis kesibukan masing-masing. Tidak ada orang yang benar-benar nganggur dan tidak selamanya orang yang menikah muda khususnya kaum perempuan menikah karena tidak memiliki kesibukan atau pekerjaan. Saya pikir, jenis kesibukan pula yang dapat berpengaruh terhadap keputusan untuk menikah. Kesibukan yang kita miliki merupakan apa yang kita pilih dan direncanakan bahkan bisa saja tidak direncanakan. Saya akan lebih banyak bicara tentang perempuan.

Banyak orang bilang kalau menjadi perempuan tidak seberat laki-laki, karena kehidupan perempuan pada akhirnya ditanggung oleh laki-laki. Perempuan dianggap tidak perlu bekerja terlalu keras karena tugas perempuan adalah melakukan pekerjaan domestik (rumah tangga). Ya, saya tidak akan bicara banyak tentang sejarah pemikiran tersebut. Walaupun perempuan memiliki potensi waktu yang lebih cepat untuk menikah daripada laki-laki dan saya rasa semua orang tahu betul bahwa pernikahan itu sangat sakral, perlu dipikirkan matang (kecuali yang Cuma niat coba-coba) dan tidak semudah melontarkan pertanyaan “Kapan Nikah?”.

Pertanyaan “Kapan nikah?” memang sering dan mudah dilontarkan kepada para lajang yang sudah berumur kepala dua. Namun, untuk menjawab pertanyaan pendek tersebut butuh waktu serta pertimbangan, apalagi yang sudah memiliki pasangan. Coba aja kita lihat salah satu contoh pertanyaan beranak yang muncul sebagai berikut:

“Sudah punya pacar?” (Pertanyaan awal)

“Sudah, alhamdulillah” (Kalau jawabannya punya pasangan)

“Kapan nikah?” (Ini nih pertanyaan klimaks)

“Nantilah kalau sudah waktunya, doanya aja” (Jawabannya emang sesuai dengan kondisi hubungan, kalau jawab dengan target takut meleset juga, ujung-ujungnya jadi gosip sedesa kalo nggak jadi, baru ngrencanain aja gosip bocor kemana-mana, ribet ya tong!)

“Ngapain pacaran lama-lama, nanti banyak dosa lho” (Nah lho? Nggak jarang juga yang akhirnya ditambah-tambahin nilai agama)

Aduh biyuuung!! Setiap orang tahu bahwa pernikahan itu sangat mulia dan pacaran sangat diharamkan dalam ajaran Islam apalagi sekelas Negara Indonesia yang mayoritas masyarakatnya muslim (meskipun pada prakteknya tidak, ya soal ketaatan itu urusan masing-masing ya). So, wajar kalau pada akhirnya sering banget dikaitkan dengan dosa-dosa agar orang yang pacaran segera menikah untuk menghindari zina. Tapi, menikah itu tidak sesimple urusan menghindari zina atau tidak sesederhana tidur diranjang bersama pasangan anda hanya karena kita sudah memiliki SIM (Surat Izin Meniduri) alias Surat Nikah. Lebih jauh lagi, kehidupan setelah bangun dari ranjang itu adalah tantangan kita untuk dipikirkan dan dihadapi bersama. So, kita perlu keyakinan penuh sebelum memutuskan untuk menikah. Intinya, nikah itu baik bagi orang yang sudah siap.

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan dikerjakan sebelum memutuskan untuk menikah. Saat ini, perempuan memiliki banyak pilihan. Perempuan bisa memilih untuk berkarir dahulu, mengenyam pendidikan setinggi-tingginya sebelum menikah atau segera menikah. Semua pilihan tersebut merupakan jawaban yang perlu dipertimbangkan dan dijelaskan dalam tempo yang tidak singkat. Meskipun saat ini perempuan sudah memiliki banyak pilihan, namun perempuan juga idealnya harus menyusun planning yang sistematis untuk masa depannya.

Bagi yang sudah memiliki pasangan, semuanya harus dibicarakan secara terbuka dan dipikirkan bersama (kalau hubungannya emang niat serius). Menikah bukan kesepakatan sendiri, namun kesepakatan bersama dengan pasangan. Hal ini pula yang membuat pernikahan tidak semudah datang ke KUA dengan uang Rp60.000 (kata teman saya) dan keluar membawa surat nikah. Seperti yang kita tahu, menikah bukan hanya menyatukan dua orang yang berpasangan, tapi juga dua keluarga dari kedua belah pihak. So, semuanya benar-benar butuh waktu. Bagi yang sudah memiliki pasangan saja punya banyak halangan dan rintangan, bagaimana kalau yang ditanya belum punya pasangan?

Bagi perempuan yang sudah memasuki usia kepala dua dan belum memiliki pasangan, pertanyaan-pertanyaan tadi juga sama dilematisnya. Kalau di desa, nggak jarang jadi omongan bahkan sering diindikasikan bakal jadi perawan tua. Ada rasa gelisah yang muncul ketika di usia tersebut masih belum memiliki pasangan sedangkan banyak perempuan seusianya sudah menikah dan mempunyai anak (untung belum cucu). Belum lagi kadang orang tua juga punya keinginan agar anak perempuannya segera menikah. Pasti nyesek dong, apalagi kalau dilangkahin sama yang lebih muda-muda, sekelas SMP pula. Alamak, banyak kali lah tetek bengek yang dipikirin ini!.

Ini tulisan yang nggak serius tapi serius. Tulisan ini bukan bertujuan untuk menjustifikasi, tapi hanya untuk memberikan gambaran yang terjadi pada masyarakat kita. Kenapa saya bilang nggak serius? Soalnya ini tulisan nggak pake teori tinggi-tinggi, so saya berharap pembaca (yang baca dan minat baca aja sih Hehehehe) nggak pusing mikir sesuatu yang terlalu serius, karena persoalan yang akan saya tulis merupakan sesuatu yang serius dalam hidup kita. Ini Cuma mukadimah sekaligus gambaran salah satu fenomena lebaran tahun ini yang saya hadapi. Selanjutnya, saya akan membahas beberapa cerita para perempuan yang hendak menikah, sudah menikah, gagal menikah, bertahan untuk tidak menikah dulu dan lain sebagainya. Tulisan tersebut akan saya tulis bukan untuk memprovokasi atau meghakimi, namun hanya memberikan gambaran fenomena tentang pernikahan yang mungkin dapat menjadi media berbagi dan menginspirasi. Tunggu ya tulisan selanjutnya, lagi ngumpulin data, doain dapet haasil yang baik.

NB: Beberapa materi tulisan ini berdasarkan testimoni awal dari berbagai responden

Silahkan kritik sarannya, mangga, saya mah terbuka orangnya, kalau ada salah-salah maaf lahir batin, saya mah lagi belajar

Standar
Personal, Sosial Budaya

“Ngalay Berkah atau Ngalap Berkah Suroan” di Gunung Kawi (Fieldnote atau Fieldtrip)

DSC_0063

Tim Rea Reo Pasca Ngalay Berkah Gunung Kawi

Malam 1 Suro tahun ini, saya dan tim Rea Reo Antropologi 2011 disertai Cak Roy dosen Antropologi Agama kami tercinta pergi ngalay ke Gunung Kawi. Kami pergi ke Gunung Kawi bersama-sama dari kampus UB tercinta untuk ikut serta malam Suro sambil meneliti kegiatan-kegiatan yang ada di Gunung Kawi. Saya dan tim Rea Reo berangkat dari kampus sekitar jam setengah delapanan dan sampai di Wisata Religi Gunung Kawi sekitar jam sembilanan kalo tidak salah, saya lupa jamnya, karena saya sangat menikmati perjalanan malam menuju Gunung Kawi. Untuk akses masuk ke Gunung Kawi, setiap pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp3000,-. Di pintu masuk kami disambut dengan tulisan “Selamat Datang di Wisata Religi Gunung Kawi”. Tulisan tersebut sama khasnya dengan tulisan di makam-makam orang yang berpengaruh, seperti yang ada di makam-makam Walisongo. Setelah masuk, kami langsung memarkir kendaraan motor kami dan mengurus data STNK masing-masing motor di Pos Jaga Parkir. Selain biaya masuk, ternyata untuk parkir juga dikenakan biaya sebesar  Rp2000,-.  Setelah selesai mengurus parkir kendaraan, saya dan tim Rea Reo tidak langsung naik ke atas , kami memilih  santai-santai terlebih dahulu di areal parkir dan warung di sekitarnya.

Kondisi di areal parkir belum begitu ramai pada waktu itu, namun sudah lumayan banyak kendaraan yang terparkir disana. Tidak hanya sepeda motor saja yang terparkir disana, namun banyak pula mobil yang sudah terparkir disana. Banyak orang tua dan muda datang ke Gunung Kawi, bahkan terlihat bersama rombongan bis. Kondisi parkiran tidak jauh berbeda dengan tempat parkir di makam-makam para wali, selalu ada bis rombongan para peziarah atau pengunjung lebih tepatnya, karena saya yakin kedatangan para pengunjung tersebut tidak semua dan tidak murni untuk berziarah. Para pengunjung tersebut ada yang datang bersama keluarga dengan membawa anak-anaknya yang masih kecil. Melihat para pengunjung yang datang bersama keluarga masing-masing, dalam pikiran saya kunjungan tersebut tidak murni untuk berziarah ke Makam Mbah Jugo yang menjadi jujukan para pengunjung untuk ngalap berkah di Gunung Kawi, namun sudah terkesan seperti tamasya, hal ini sesuai dengan tulisan yang tertera sebagai “Wisata Religi Gunung Kawi”. Saya melihat pengunjung yang turun dari mobil pribadi seperti mobil Xenia, APV, dan mobil pribadi lainnya sering kali yang saya lihat orang bermata sipit yang identik dengan etnis Cina.

Kemudian, saya, Lutfi dan Cahyo pergi mencari kamar mandi, karena kami ingin buang air kecil, namun ketika kami menuju WC umum, ternyata WC umum tersebut sudah tidak berfungsi. Kondisi WC umum gelap, banyak sarang laba-laba, jadi berasa di tempat angker kayak yang di film-film horor, ditambah tidak ada air dan sangat kotor. Sepertinya WC tersebut memang tidak terurus dan sudah lama tidak dipakai. Melihat kondisi WC seperti itu, muncul pikiran dibenak saya, kenapa WC umum di tempat seramai ini tidak berfungsi dan tidak terurus? Padahal WC umum merupakan salah satu fasilitas umum yang sangat dibutuhkan di tempat yang ramai dikunjungi orang. Setelah saya, Lutfi dan Cahyo melihat kondisi WC seperti itu, kami pun sejenak merasa bingung untuk mencari WC lainnya kali-kali aja masih ada WC lagi. Akhirnya, kami memutuskan bertanya WC atau kamar mandi umum lain kepada warga di sekitar rumah yang tidak jauh dari WC umum tadi. Kami bertanya kepada seorang ibu-ibu yang kebetulan sedang ada di luar rumah, kemudian ibu-ibu tersebut mengarahkan kami untuk pergi ke kamar mandi rumah warga yang juga memiliki warung. Pintu rumah orang yang dimaksud ibu tersebut masih tertutup, kami pun sempat merasa canggung, apakah benar rumah itu yang dimaksud oleh ibu tadi? Kami pun mencoba memastikannya lagi kepada ibu tersebut, namun sepertinya ibu tersebut mengerti kebingungan kami, dan dengan segera ibu tersebut menyerukan ke arah rumah tersebut “Ini, ada yang mau numpang ke kamar mandi!” ibu tersebut juga tidak lupa memanggil nama pemilik rumah tersebut, namun saya lupa saya siapa nama yang disebut oleh ibu tersebut, yang saya ingat Cuma kata “Ini ada yang mau numpang ke kamar mandi!”. Ibu tersebut juga menyuruh kami untuk mengetuk pintu rumahnya saja. Lalu, Cahyo segera mengetuk pintu dengan pelan dan dengan segera pemilik rumah pun membukakan pintu dan mempersilahkan kami ke belakang menuju kamar mandi.

Di rumah tersebut terdapat tiga kamar mandi yang berdampingan. Penerangan di sekitar kamar mandi termasuk di kamar mandi terkesan remang-remang, karena hanya dari lampu pijar cahaya kuning redup. Sepertinya kamar mandi tersebut sudah terbiasa dipakai untuk umum, karena ibu-ibu tadi juga langsung mengarahkan kami ke rumah tersebut. Dari kondisi kamar mandi juga tidak ada alat mandi yang biasa tersedia di kamar mandi, tidak ada peralatan sikat gigi yang biasanya tersedia di kamar mandi sebagaimana lazimnya kamar mandi pribadi. Mungkin juga WC umum yang tidak berfungsi tadi disebabkan karena ada rumah-rumah atau warung makan yang menyediakan fasilitas kamar mandi umum, atau bisa jadi kamar mandi umum dijadikan lahan usaha untuk fasilitas para pengunjung yang dapat mendapatkan banyak keuntungan juga. Seperti yang terjadi di tempat-tempat ziarah, salah satunya di areal Makam Gus Dur, banyak usaha ponten umum atau kamar mandi umum yang berdiri dimana-mana sebagai lahan usaha untuk meraih keuntungan dari para peziarah.

Saya baru tahu kalau rumah yang kamar mandinya kami tumpangi tersebut warung makan. Waktu itu warung makan tersebut tutup, saya baru tahu ketika masuk, soalnya pas sebelum masuk, kondisi warung masih tutup, jadi saya tidak tahu isi warungnya, namun ketika saya sudah masuk, saya baru tahu kalau itu warung makan. Setelah selesai keluar dari kamar mandi, saya melihat hidangan yang tersaji di meja saji, sepertinya makanan tersebut baru matang, karena kondisinya masih utuh, masih terlihat fresh lah istilahnya, meskipun itu bukan masakan sayur melainkan oreg tempe. Di warung tersebut juga terdapat kursi-kursi dan meja makan yang masih tertata rapi. Sepertinya warung tersebut baru akan buka nanti malam, mungkin sekitar jam 22.00 ke atas, toh memang kondisi di luar warung masih lengang. Sepertinya memang kondisi Gunung Kawi akan terasa ramai kalau sudah jam 22.00 WIB ke atas, seperti yang dikatakan dosen saya bahwa Gunung Kawi biasanya ramai di malam Suro mulai jam setengah dua belasn akan lebih ramai. Jadi semakin menjelang dini hari semakin ramai pengunjung yang berdatangan.

Setelah selesai dari kamar mandi, saya, Cahyo dan Lutfi mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah, namun bapak yang tadi menyambut kami tidak ada, yang ada anak perempuan kecil sekitar umur 10 tahunan ya mungkin juga anak bapak tadi yang sedang menonton TV. Sepertinya anak kecil tersebut sudah terbiasa dengan kondisi malam yang ramai di sekitar rumahnya, buktinya anak perempuan tersebut masih belum tidur dan asyik nonton TV. Karena bapak tadi tidak ada, jadi kami berterima kasih kepada anak tersebut dan pamit keluar. Setelah itu, kami ikut bergabung dengan teman-teman yang daritadi sudah asyik bercengkrama di areal pintu masuk parkir dan warung di seberang parkir. Saya merasa lapar, saya pun ikut duduk-duduk di warung seberang parkir bersama teman-teman yang lebih dulu disana. Ternayata teman-teman disana sudah memesan Mie Sedap Cup terlebih dahulu, saya juga langsung memesan mie tersebut. Setelah selesai makan-makan mie bersama teman-teman, saya kembali bergabung dengan teman-teman yang sedang duduk-duduk ngobrol di pintu masuk parkir. Tidak lama kemudian, dosen kami mengajak kami semua naik untuk meneruskan perjalanan menuju pesarean tempat orang-orang ngalap berkah.

 

Mendaki Pasar Gunung Kawi

Saya dan teman-teman mulai naik untuk masuk ke areal jalan menuju pesarean Mbah Jugo yang menjadi jujukan para pengunjung di Gunung Kawi. Sebelum masuk jalan menuju pesarean, saya melihat jendela bergambar Yesus cukup besar sehingga tampak jelas di mata. Ternyata memang jendela tersebut merupakan gereja yang berdiri di desa tersebut. Desa di Gunung Kawi memang didominasi oleh orang Islam dan Kristen, mereka hidup bercampur baur meskipun berbeda keyakinan, bahkan pesarean Gunung Kawi seolah-olah menjadi alat pemersatu solidaritas di antara mereka. Memasuki jalan menuju pesarean, kondisi jalan sudah mulai terlihat ramai oleh hingar bingar aktivitas para pengunjung yang berjalan kaki. Seperti tempat-tempat ziarah biasanya, sepanjang jalan menuju pesarean atau petilasan orang-orang yang dimuliakan layaknya wali atau leluhur bersama selalu akrab dengan namanya orang-orang berjualan, layaknya pasar yang menjadi pelengkap wisata religi tersebut. Di sebelah kanan kiri jalan terdapat banyak orang berjualan aksesoris khas Cina, selain itu banyak pula wisma atau penginapan yang berdiri di kiri kanan jalan. Aksesoris yang dijual mayoritas pernak pernik berbau Cina, bahkan penginapan di sekitar Gunung Kawi juga dihiasi dengan ornamen-ornamen Cina. Terdapat guci-guci ornamen Cina dan kaligrafi ayat Al-Qur’an juga yang dijual disana. Jadi aksesoris atau pernak pernik dari segala kepercayaan atau agama ada disana, ada kalung salib dari batu giok yang berwarna hijau, dan kalung berlfalkan Allah juga ada, meskipun lebih banyak bermotif dewa-dewa Cina.

Nama-nama penginapan di Gunung Kawi juga bermacam-macam, yang saya hafal ada hotel bernama “Roro” hotel. Di pintu masuk hotel tersebut terdapat dua patung perempuan seperti dayang-dayang di keraton yang menggunakan kemben dengan posisi tangan yang menyimbolkan selamat datang kepada para pengunjung yang menginap di hotel yang minimalis tersebut. Di tengah-tengah antara kedua patung tersebut terdapat lukisan yang terdapat gambar naganya. Ornamen yang saya lihat tersebut menurut saya merupakan perpaduan budaya Jawa dan Cina. Kemudian, saya juga sempat melihat toko yang menjual minuman keras, saya melihat tumpukan bir Bintang di samping toko tersebut, sepertinya itu merupakan hal biasa meskipun itu areal jalan menuju pesarean. Pokoknya jalan di bagian ujung agak ke tengah yang dijajakkan itu berbau duniawi menurut saya, jadi kesannya masih profan, masih banyak penjual aksesoris, penginapan, tempat miras, tempat billiyard, bahkan ada pula orang-orang yang asik bermain undian, yakni bertaruh mengundi untuk mendapatkan handphone. Adapun handphone yang diundi tersebut terdapat 3 handphone dengan 3 jenis handphone juga, yakni Nokia, Blackberry dan handphone Cina. Sepertinya handphone yang dijadikan taruhan bervariasi kelasnya, mulai dari handphone kualitas rendah seperti hanphone Cina, hingga smartphone seperti Blackberry. Sepertinya orang-orang juga sudah sangat akrab dengan tiga jenis handphone yang sudah lama menguasai pasar gadget Indonesia.

Semakin ke tengah, saya menemukan pertunjukan wayang, dari yang megah yang ditampilkan di tempat luas seperti padepokan yang khusus untuk acara tahunan hingga pentas wayang sederhana yang ditampilkan di rumah-rumah sebagai tontonan atau hiburan untuk para tamu atau pengunjung. Di sekitar tempat-tempat pementasan wayang tersebut selalu ada tempat semacam loket pendaftaran bagi warga yang ingin mendaftarkan acara selamaetan atau nyadran. Disana juga terdapat tarif-tarif yang sudah ditentukan untuk acara-acara yang bisa diselenggarakan dengan media wayang tersebut. Nominal harga tarif yang tersedia beraneka ragam, mulai dari yang standar hingga belasan juta tersedia disana, sesuai dengan skala dan jenis selametan dan nyadrannya.

Mengundi Nasib di Ciam Si

Semakin ke atas semakin dekat pula pintu masuk menuju pesarean, dan disana juga semakin banyak orang yang menjual bunga, dupa dan perlengkapan ziarah lainnya. Di sana juga terdapat tempat untuk meramal nasib yang disebut dengan Ciam Si. Saya dan teman-teman menyempatkan untuk datang kesitu dan mencoba ikut berpartisipasi dengan pengunjung yang sedang asyik mengundi nasib melalui stik kayu yang dikocok-kocok. Kondisi Ciam Si sangat ramai, penuh orang-orang yang berjubel mengantri dan berebut tabung bambu yang berisi stik kayu yang bertuliskan nomer ramalan tersebut. Saya dan teman-teman pada awalnya merasa bingung dengan prosedur atau alur yang harus dilalui pada saat masuk Ciam Si, apalagi ketika itu ada orang yang sedang mengantri, hanya duduk-duduk, ada yang mengocok kayu, ada yang menggoyang-goyangkan tabung bambu di atas dupa dan ada yang melemparkan uang ke tempat yang sudah disediakan. Akhirnya saya mencoba bertanya kepada salah satu pengunjung tentang alur untuk mendapatkan stik kayu tersebut. Ibu-ibu pengunjung Ciam Si yang saya tanyakan tadi menjelaskan alurnya kepada saya. Ternyata untuk mendapatkan stik kayu tersebut saya harus mengambil stik kayu ke petugas Ciam Si di meja depan dan membayar uang, entah berapa karena sepertinya uang yang diberikan tersebut sukarela. Ibu tadi sepertinya orang Madura, atau orang Pendalungan, karena aksen bicaranya masih kentara dengan Madura, meskipun menggunakan bahasa Indonesia. Disana banyak pula ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak muda yang bicara dengan menggunakan bahasa Madura dan bicara bahasa Indonesia dengan aksen Madura yang masih kentara.

Setelah saya faham alurnya, saya pun mengantri untuk mendapatkan stik bambu tadi. Setelah saya mendapatkan stik kayu yang ditempatkan di dalam tabung bambu, saya menggoyang-goyangkan tabung bambu di atas dupa sambil memanjatkan doa dan tak lupa saya memberikan uang ala kadarnya saja. Setelah selesai berdoa, saya mengocok tabung bambu tadi dan dua stik kayu terjatuh dari tabung, kemudian saya mengambil dua stik kayu yang jatuh tadi dan melihat nomer yang tertera pada kayu tersebut. Ternyata saya mendapat No.27 dan No.31. Kemudian saya langsung menyetorkan dua stik kayu yang saya dapat tadi kepada petugas dan dengan segera petugas tersebut memberikan dua kertas kecil berwarna pink kepada saya. Kertas tersebut ternyata berisi ramalan tentang masa depan saya, kemudian saya membaca hasil ramalan No.27 yang bertuliskan sebagai berikut :

Harta dan uang bakal jadi beruntungan

Itu perkara tinggal baik tiada usaha jadi suatu kenang-kenangan.

Kau tunggulah dengan kesabaran fikiran ingatan bikin kelapangan.

Depan kau menunggu keamanan rumah tangga selamat tiada halangan.

Begitulah isi ramalan No.27 milik saya. Saya bisa memahami apa maksud dari ramalan tersebut, bahwa pada intinya harta dan uang akan menjadi keberuntungan jika saya mau berusaha dengan sungguh-sungguh, disertai dengan kesabaran dan kelapangan, selain itu saya akan mendapati kehidupan rumah tangga yang baik. Saya mengamini saja hasil ramalan tersebut, apalagi hasil ramalan tersebut baik untuk saya. Memang sebenarnya sudah umum sekali orang yang beruntung atau sukses itu adalah orang yang mau berusaha bersungguh-sungguh, jadi tulisan ramalan tersebut juga bersifat nasehat atau petuah, dimana ada anjuran untuk berusaha agar mencapai kesuksesan yang tidak sekedar harapan yang menggantung saja.

Kemudian, saya melanjutkan membaca hasil ramalan di kertas No.30 yang bertuliskan sebagai berikut :

Buah delima warna biru-biru punya tanaman.

Kau yang pergi dapatkan tempat yang nyaman.

Kembang yang mekar kandung buah di itu jaman.

Alamat rejeki berada didepannya pintu tinggal aman.

Hasil ramalan yang kedua juga berisi hal yang positif, saya mengamini kembali dan semoga yang tertulis pada dua kertas yang saya peroleh tadi kelak menjadi kenyataan (Amiiiin…). Bahasa dalam kalimat yang ada di kertas ramalan tersebut memang cukup aneh susunan katanya, bahkan ada yang seperti pantun atau gurindam saja, tapi kebetulan kertas hasil ramalan milik saya mudah untuk difahami, tidak seperti milik Romdan yang susah difahami, saya lupa waktu itu apa bunyi kalimatnya, saya hanya mengingat sekilas bahwa bunyinya kurang lebih berhenti mengejar-ngejar dan memaksa jodoh atau apalah, pasti nanti ketemu jodohnya, pada intinya hasil ramalan milik Romdan seperti itu.

Dua kertas yang saya peroleh tadi, lebih cenderung berisi tentang perkiraan rejeki yang akan diperoleh kelak. Mungkin banyak pula para pengunjung yang mendapatkan ramalan mengenai perolehan rejeki dan berharap akan mendapatkan rejeki yang melimpah, apalagi Gunung Kawi merupakan salah satu tempat yang dipercaya dapat memberikan keberuntungan, bahkan konon banyak yang mencari pesugihan di Gunung Kawi. Namun, mungkin banyak pula orang-orang yang ingin mengetahui jodohnya kelak dan berharap mendapat jodoh yang baik. Memang sepertinya jodoh dan rejeki sudah menjadi dua komponen yang saling berkaitan dan sangat diharapkan oleh orang-orang, apalagi bagi orang-orang yang sudah dewasa, sudah matang untuk membina rumah tangga. Toh memang siapa juga sih yang tidak mau memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia dan sejahtera lahir bathinnya, pasti setiap orang mengharapkannya.

Setelah selesai dari Ciam Si dan berhasil keluar dari kerumunan ramai tersebut, saya dan Lutfi duduk-duduk di samping loket pendaftaran slametan dan nyadran. Disana terdapat papan tulisan tarif yang sangat fantastis untuk setiap macam penyelenggaraan selametan dan nyadran, mulai dari yang standar hingga 5 juta rupiah. Melihat tarif yang tinggi tersebut terbayang di pikiran saya bagaimana melimpahnya tempat ini. Uang yang dibayarkan oleh orang-orang yang mengadakan acara di Gunung Kawi pasti bisa menjadikan Gunung Kawi tetap terjaga bahkan bisa digunakan untuk renovasi atau biaya perawatan wisata religi Gunung Kawi, sehingga kondisi pesarean pun terpelihara dengan baik. Sepertinya uang sudah memainkan peran di wisata religi ini, bahkan sudah ada patokan-patokan harganya sendiri yang variatif. Sudah ada klasifikasi modal yang dibutuhkan untuk mengadakan acara-acara tertentu, itu menandakan bahwa komersialisasi sudah mulai masuk, bahkan ke ranah slametan sekalipun yang dianggap sakral dan transedental. Entah seperti apa detail dari instrumen ritual slametan dan nyadran tersebut, yang jelas nominal harga yang dijadikan kebijakan tarif tersebut cukup fantastis.

Masuk Pesarean

Kemudian saya, Lutfi dan Cahyo mulai masuk areal pesarean. Di pintu masuk pesarean terdapat tulisan larangan untuk mengambil gambar di areal pesarean, akhirnya Cahyo mengurungkan niatnya untuk mengambil foto di areal pesarean tersebut meskipun di pintu masuk ada beberapa pemuda yang asyik berfoto-foto ria. Saya, Lutfi dan Cahyo mengitari areal pesarean terlebih dahulu, mengamati kondisi di sekitar pesarean. Disana banyak pohon yang mengelilingi pesarean, kondisinya pun sudah ramai dengan pengunjung yang mengitari pesarean. Ada yang berdoa di depan pintu masuk, ada yang berdoa di sekitar dinding-dinding belakang pesarean, bahkan ada yang menggelar tikar duduk-duduk dan tidur bersama keluarganya. Orang-orang berdoa dengan berbagai cara, sesuai dengan keyakinannya masing-masing yang menyamakan adalah instrumen media doanya, yakni membawa bunga dan kemenyan atau dupa. Saya, Lutfi dan Cahyo juga mencoba untuk masuk ke pesarean, namun karena kami tidak membawa bunga dan kemenyan dan bunga, akhirnya kami kembali keluar pesarean untuk membeli bunga dan kemenyan.

Kami membeli bunga dan kemenyan di dekat pintu masuk pesarean. Harga bunga dan kemenyan tadi 10rb per bungkusnya, cukup mahal juga sih, tapi ya apa boleh buat, mungkin memang harga yang layak untuk di tempat-tempat wisata seperti itu. Sudah wajar sih patokan harga tinggi untuk para wisatawan, toh memang mereka berjualan disana untuk memperoleh keuntungan dari usahanya. Secara prinsip ekonomi sah-sah saja, tapi yang namanya bunga yang bisa dibawa sendiri dari rumah atau bisa diperoleh gratis sudah mengalami komersialisasi. Banyak orang-orang yang memilih membeli bunga disana daripada membawa sendiri dari rumah, toh disini jadi terlihat seperti proses penyeragaman secara tidak langsung. Karena, takaran bunga dan kemenyannya sama pula dengan takaran bunga dan kemenyan yang dijual oleh penjual lainnya. Keberadaan penjual bunga dan kemenyan tersebut sepertinya secara tidak langsung menimbulkan keharusan untuk membelinya disana, mengingat bahwa orang-orang yang masuk ke ruang pesarean sepertinya tidak afdol kalau tidak membawa bunga dan kemenyan tersebut.

Setelah membeli bunga dan kemenyan, saya, Cahyo dan Lutfi segera kembali masuk ke areal pesarean. Sebelum masuk ke pesarean, saya berdoa terlebih dahulu di depan pintu masuk pesarean, saya mencoba meniru saja apa yang dilakukan oleh para pengunjung lainnya. Saya berdoa di samping kedua bapak-bapak yang berdoa dengan caranya masing-masing. Bapak-bapak yang berdiri tepat di samping saya berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya ke atas, ya cara orang Islam berdoa lah gampangannya, ya memang karena bapak tersebut orang Islam, sambil memejamkan mata bapak tersebut berdiri berdoa dengan khusyuk tanpa menghiraukan kondisi sekitar yang ramai sekitar beberapa detik. Kemudian, tepat di samping bapak beragama Islam tersebut berdiri bapak-bapak yang sepertinya beragama Kristen yang tengah berdiri berdoa pula seperti bapak Islam tadi. Bapak Kristen itu juga memanjatkan doa dengan menelungkupkan kedua tangannya dengan khusyuk. Saya yang mencoba berdoa di samping mereka berdua cukup bingung juga, karena ini untuk yang pertama kalinya saya berziarah dan berdoa di tempat orang-orang yang berbeda-beda keyakinannya. Saya cukup terkesima dengan keanekaragaman cara berdoa mereka, rasanya indah sekali melihat perbedaan yang berdiri berdampingan, sampai saya sendiri lupa berdoa dengan khusyuk, saya malah asyik mengamati mereka berdua, bahkan mereka berdua tidak merasa terganggu dengan kondisi yang berbeda tersebut, malah mereka terlihat benar-benar menghayati doa mereka seolah-olah menyelami doa dan wisata spritualnya masing-masing. Saya sendiri malah asyik memikirkan tentang mereka berdua, bukan fokus kepada yang Maha Atas, bahkan saya tidak lama-lama berdoa seperti mereka, karena saya merasa canggung juga, mungkin karena saya juga belum terbiasa. Entah sebenarnya orang-orang yang berdoa tersebut benar-benar khusyuk atau tidak, yang pasti saya hanya terkesima melihat gerak gerik mereka.

Setelah selesai berdoa di depan pintu masuk pesarean tadi, saya, Lutfi dan Cahyo meletakkan sandal dengan rapi di samping pintu masuk. Di samping pintu masuk tersebut berdiri seorang penjaga pesarean dengan gagah, menggunakan baju khas orang Jawa lengkap dengan blangkonnya. Penjaga tersebut dengan gagah berdiri mengawasi kondisi sekitar, saya kembali merasa bingung sekaligus terlena kondisi yang ramai, sehingg saya yang masih mengenakan sandal tidak sengaja menginjak keset pesarean, sampai saya sempat ditegur penjaga tadi dengan wajahnya yang tegas. Saya pun segera minta maaf dan menghindari keset tersebut dan meletakkan sandal dengan rapi. Kemudian saya segera masuk dan duduk bergabung dengan para pengunjung lainnya yang sudah terlebih dahulu duduk bersimpuh disana. Pemandangan doa yang beraneka ragam saya temui lagi di dalam ruang tersebut, saya pun mulai terbiasa dengan kondisi tersebut dan bisa berdoa lebih tenang daripada sebelumnya.

Sambil menunggu maju ke depan memberikan kemenyan dan bunga kepada juri kunci di depan sana, saya sesekali terus memanjatkan doa sambil mengamati dan mendengarkan kondisi di sekitar ruang pesarean tersebut. Banyak orang Cina, orang Madura dan Jawa bercampur baur disana. Tepat di depan saya ada rombongan keluarga yang duduk berdampingan memanjatkan doa sambil menunggu giliran ke depan sama seperti yang sedang saya lakukan. Ibu di depan saya itu menarik anak laki-laki yang sepertinya berumur sekitar 20 tahunan untuk tetap duduk di sampingnya dan turut berdoa. Namun, sepertinya anak laki-laki tersebut terlihat enggan dan malas mengikuti anjuran ibunya tersebut, entah alasannya apa, tapi dari raut wajah pemuda tersebut terlihat kalau ia hanya ikut-ikut keluarganya saja. Wajah pemuda tersebut tidak sumringah dan terkesan malas-malasan, namun sepertinya ada yang aneh pula dari cara gerak kakinya, sepertinya pemuda tersebut sedang sakit. Lutfi sendiri berbisik di telinga saya dan berpendapat kalau sepertinya pemuda tersebut mengalami sakit dan diajak kesini untuk berdoa agar mendapatkan kesembuhan, namun sepertinya pemuda tersebut tidak mau. Ya itu sih hanya perkiraan kami saja, yang pasti raut wajah pemuda tersebut lemas dan enggan sekali mengikuti ritual doa-doa tersebut.

Di ruang pesarean tersebut juga terdengar suara ahli kunci yang memberikan wejangan kepada keluarga yang sepertinya akan membuka usaha. Saya mengetahuinya dari kalimat-kalimat yang diucapkan ahli kunci tersebut dengan lantang yang intinya menyangkut tentang usaha dan rejeki yang akan didirikan oleh keluarga siapa gitu, lupa saya namanya.Orang yang minta didoakan oleh juru kunci tersebut, ternyata orang Cina yang datang sekeluarga dengan membawa baskom yang berisi bunga dan kemenyan yang saya sempat lihat tadi. Rupanya keluarga tersebut akan membuka usaha, kalau tidak salah usaha resturan, saya lupa apa usahanya, yang pasti initinya mereka akan membuka usaha. Mereka meminta doa dan petunjuk hari baik untuk membuka usaha agar usahanya tersebut tetap diberikan kelancaran rejeki.

Kemudian saya dan para pengunjung yang lainnya terus bergeser maju ke depan, sampai akhirnya saya mendekati ahli kunci. Bau kemenyan dan bunga juga semakin menyengat, aktivitas ahli kunci juga terlihat jelas. Ada dua ahli kunci yang bertugas mengambil bunga dan kemenyan dari para pengunjung dan memberikan dua bungkusan kepada para pengunjung. Para pengunjung juga tidak lupa menyerahkan dua kantong berwarna kuning dan merah kepada ahli kunci, agar kantong tersebut diisi masing-masing dua bungkusan yang diberikan ahli kunci tadi. Pada waktu itu saya juga tidak mengerti apa isi bungkusan yang diberikan kepada para pengunjung tadi, namun ketika giliran saya yang mendapatkannya, saya mencoba mencari tahu apa isi bungkusan yang saya dapat dari ahli kunci pesarean Mbah Jugo tadi. Setelah selesai dari ahli kunci, saya tidak langsung keluar dari ruang pesarean, saya duduk-duduk sebentar sambil menunggu teman-teman saya lainnya keluar. Saya mengamati kondisi ruangan sekitar lagi, kali ini saya mengamati benda-benda yang terdapat di ruang tersebut. Di ruangan tersebut terdapat jam-jam besar yang berdiri berjejeran di samping dinding-dinding ruang pesarean.

Jam-jam tersebut tapi tidak berjalan atau mati, tidak ada yang hidup, kecuali dua jam yang hidup dipajang di depan. Saya juga tidak begitu mengerti kenapa jam-jam tadi tidak hidup, hanya dua jam saja. Saya malah berpikir, jangan-jangan jam-jam tersebut tidak dihidupkan untuk pengiritan, atau agar tidak mengganggu kekhusyukan berdoa pengunjung dalam ruangan, karena memang jam tersebut sewaktu-waktu akan mengeluarkan suara dentingan jam yang keras. Apalagi jam-jam tersebut merupakan jam lemari besar, bukan jam dinding. Jam-jam tersebut merupakan sumbangan dari para pengunjung yang sudah meraih keuntungan dan kesuksesan berkat doanya di Gunung Kawi yang terkabul. Meskipun Mbah Jugo bukan orang Kristen, namun di pesarean tersebut orang-orang dari berbagai kepercayaan bebas berdoa dengan caranya masing-masing. Orang Islam disana memang mayoritas Islam kejawen yang masih terbiasa dengan tradisi berdoa dengan menggunakan kemenyan dan bunga. Kondisi seperti ini tidak akan ditemui di makam para wali dimanapun tempatnya.

Kemudian, saya dan Lutfi keluar dari ruang pesarean dan duduk-duduk sebentar di sekitar pohon Dewandaru. Kondisi di luar pesarean semakin ramai, orang-orang yang duduk-duduk dan tidur di sekitar pohon Dewandaru tersebut juga semakin banyak. Konon katanya, orang yang kejatuhan buah Dewandaru akan mendapatkan rejeki atau keberuntungan nantinya, sehingga banyak yang berdiam diri di bawah pohon tersebut. Kemudian saya dan Lutfi memutuskan untuk keluar dari areal pesarean dan duduk di sekitar pintu masuk areal pesarean. Kami memutuskan untuk duduk di dekat pos informasi pesarean Gunung Kawi dan kami mencoba berbincang-bincang dengan petugas pos informasi yang bernama Pak Anut. Kami duduk-duduk tidak begitu lama, Pak Anut juga terlihat sibuk mondar mandir dengan temannya. Namun, kami juga sempat bercengkrama mengenai aktivitas di Gunung Kawi, bahkan tanpa banyak bertanya, Pak Anut bercerita sendiri tentang sedikit sejarah Gunung Kawi dan Mbah Jugo tersebut.

Pak Anut menceritakan bahwa Mbah Jugo merupakan keturunan Pangeran Diponegoro yang memiliki peran dalam menyebarkan agama Islam di Gunung Kawi serta mempersatukan umat Islam dan Kristen di Gunung Kawi. Pak Anut juga menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat di Gunung Kawi tetap tentram meskipun berbeda agama, bahkan saling membantu dalam setiap acara keagamaan masing-masing. Pak Anut menceritakan bahwa setiap orang Kristen merayakan hari besar seperti Natal, Paskah, Kenaikan Isa Al-Masih di gereja dan acara-acara lainnya, orang-orang Islam turut serta membantu persiapan kelengakapan acara, bahkan sering diundang pula, begitupun sebaliknya. Orang Kristen juga turut serta dalam kegiatan keagamaan orang Islam, hanya sekedar membantu-bantu dan menghormati saja. Saya sempat menanyakan tentang para peziarah yang datang ke Gunung Kawi, karena saya merasa sering menjumpai orang Madura ikut meramaikan suasana Gunung Kawi. Menanggapi pertanyaan saya, Pak Anut menjelaskan bahwa setiap malam Jumat dan malam Minggu, banyak peziarah yang datang, khususnya orang-orang Madura dari Jember, Situbondo dan Bondowoso. Saya juga tidak lupa menanyakan tentang isi bungkusan yang belum sempat saya buka yang diberikan oleh ahli kunci tadi. Pak Anut mengatakan bahwa isi bungkusan tersebut berisi bunga dan kemenyan. Kemenyan tersebut disimpan agar doa-doa yang dipanjatkan terkabul, kemudian bungkusan bunga tersebut bisa diletakkan di toko atau di atas pintu untuk kelancaran rejeki, begitu yang dijelaskan Pak Anut kepada saya mengenai bungkusan yang diberikan ahli kunci tersebut.

Ternyata yang saya lakukan sama seperti barter kemenyan dan bunga milik saya dengan kemenyan dan bunga dari ahli kunci yang sudah diberikan doa. Disini sudah terlihat sistem patronase dimana ahli kunci menjadi seseorang yang dimuliakan yang dipercaya untuk memberikan doa-doa dan menjadi perantara untuk menyampaikan doa-doa para pengunjung agar terkabul. Sebenarnya, saya membeli bunga dan kemenyan sama saja dengan membeli doa dari ahli kunci tadi. Jadi dalam urusan doa mendoakan sudah ada unsur kapital dan komersial. Tapi, orang-orang yang berkunjung kesana sepertinya tidak berpikir panjang tentang masalah kalkulasi dana tersebut, yang terpenting mereka bisa mendapatkan berkah dari pesarean Mbah Jugo tersebut.

Setelah berbincang-bincang, saya dan Lutfi berjalan kembali dan bertemu dengan teman-teman lainnya, kamipun bergabung dan berjalan bersama-sama.  Kemudian saya, Lutfi dan Tyas pergi untuk mencari tempat meramal melalui garis tangan, namun ketika ditemui ternyata tempat tersebut sudah tutup. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi makan saja dan kami memutuskan untuk pergi ke warung sate untuk makan sate kelinci yang dihargai Rp 18.000 per porsinya. Kami menunggu sate kelinci tersebut cukup lama sekali, bahkan hampir setengah jaman, namun kami tetap menikmati saja sambil ngobrol-ngobrol. Di depan warung sate tersebut ada penjual kaset VCD dangdut yang ramai oleh para pembeli. Tidak lupa juga musik dangdut koplo terdengar dari stan penjual kaset VCD tersebut, para pembeli yang berhenti di stan tersebut terlihat menikmati tayangan dangdut koplo yang terpampang di televisi. Ketika kami sedang asyik menuggu sate kelinci, ada pengamen yang menghampiri kami. Pengamen tersebut datang bertiga atau berempat, saya lupa, yang saya ingat mereka bermata sipit semua, menandakan kalau mereka etnis Cina. Untuk yang pertama kalinya saya melihat pengamen dari pemuda etnis Cina, kami pun memberikan uang selayaknya saja. Setelah lama menunggu, akhirnya sate kelinci tersebut tersaji dan kami langsung menyantapnya.

Setelah selesai makan, kami kembali berjalan ke atas lagi dan bertemu teman-teman di tempat aksesoris. Rupanya mereka sedang asyik meilihat-lihat dan memilih aksesoris yang mayoritas kalung dan gelang yang terbuat dari batu giok dan tiruan batu giok. Ibu-ibu yang menjual aksesoris tersebut sangat ramah kepada kami, sehingga kami bisa bertanya-tanya dengan nyaman mengenai aksesoris dan kisaran harganya. Harga kalung batu giok asli dihargai Rp 30.000 dan untuk yang palsu hanya dihargai Rp 10.000 saja. Saya tidak yakini kalau kalung tersebut benar-benar asli, karena harganya terlalu murah, tapi ya sudahlah. Saya tertarik untuk membelinya, namun saya tidak membawa uang banyak.  Ternyata Zella membelikan saya kalung tersebut secara Cuma-Cuma, saya pun sangat berterima kasih kepada Zella atas hadiah kalung giok tersebut. Ibu penjual kalung tersebut mengatakan bahwa kalung batu giok tersebut melambangkan keselamatan, istilahnya seperti jimat pelindung diri bagi pemakainya. Setelah kami selesai membeli aksesoris, kami turun ke bawah bersama-sama.

Tidur di Emperan

Hari semakin larut dan memasuki dini hari, kondisi jalanan semakin ramai, bahkan semakin banyak orang yang tidur di emperan ruko dan rumah-rumah warga. Banyak pemuda pemudi yang asyik bercengkrama dan duduk-duduk di samping jalan, tertawa bersama dan sesekali menggoda orang-orang yang sedang berjalan melintas di depan mereka. Kemudian, kami memilih duduk beristirahat menunggu pagi di emperan rumah orang. Sepertinya pemilik rumah tidak terganggu dengan kondisi seperti ini, sudah terbiasa dengan kondisi orang-orang yang numpang tidur di emperan rumahnya. Sebagian teman lainnya ada yang turun ke bawah entah kemana. Semakin malam semakin menuju pagi udara semakin dingin menusuk tulang. Teman-teman yang sedari tadi bercanda sudah banyak yang memutuskan untuk mengambil tempat masing-masing untuk tidur. Karena tempat sudah tidak cukup, saya memutuskan untuk turun menyusul sendiri teman-teman yang tadi turun. Saya menghubungi Lutfi yang tadi juga ikut turun dengan teman-teman agar saya bisa menemukan keberadaan mereka dan ikut bergabung dengan mereka. Ternyata mereka tidur agak jauh dari lokasi parkiran tadi, mereka tidur di emperan toko. Masih banyak para pemuda yang ikut tidur pula di emperan. Saya dan teman-teman pun tidur dengan alas ala kadarnya saja, meskipun kondisi sangat dingin. Kami tidak peduli seperti apa dinginnya, yang penting bisa tidur melepas lelah sejenak meskipun tak nyenyak.

Ketika azan Subuh mulai berkumandang, kami semua bangun dan siap-siap berkumpul di parkiran bersama teman-teman yang lainnya untuk bersiap pulang. Setelah berkumpul di parkiran, kami diabsen satu per satu agar tidak ada teman yang ketinggalan. Kondisi pagi itu masih tetap ramai pengunjung dan para pemuda yang masih tertidur di emperan, mungkin mereka memutuskan untuk melanjutkan agenda acara Suroan selanjutnya yang akan diselenggarakan di Gunung Kawi. Setelah dirasa sudah lengkap semua, teman-teman menyalakan motor masing-masing dan segera bergegas berjalan keluar dari areal parkiran untuk kembali pulang ke Malang. Kami pun kembali ke Malang dengan selamat dan membawa pengalaman serta kesan masing-masing tentang Ngalay Berkah di Gunung Kawi bersama orang-orang yang Ngalap Berkah.

Ada emosi keagamaan dan histeria tersendiri yang saya jumpai disana dari perilaku para pengunjung disana. Keberadaan Gunung Kawi dengan segala mitos yang ada mampu menarik energi spritual orang-orang yang percaya terhadap kesakralan pesarean Mbah Jugo tersebut, baik dari agama Islam maupun Kristen berbaur menjadi satu dengan caranya masing-masing. Mereka yang datang mungkin terbawa massa, entah mereka datang karena benar-benar percaya atau hanya sekedar ikut-ikutan saja, namun yang pasti ada unsur emosi keagamaan yang sedikit atau banyak membawa mereka ke Gunung Kawi. Puncak histerianya mereka sampai rela tidur semalaman bahkan berdiam diri di bawah pohon Dewandaru hanya mengharapkan keberuntungan yang konon akan jatuh dari pohon Dewandaru tersebut.

Gambaran orang Cina yang juga berharap keuntungan di Gunung Kawi juga mencerminkan bahwa orang Cina sangat mengutamakan keuntungan dalam berbisnis. Keluar dari pandangan mencari keuntungan lewat Gunung Kawi, orang Cina memang pandai berbisnis dan mampu menguasai perekonomian. Namun, jika bercermin dari kegiatan mencari keuntungan di Gunung Kawi, kebanyakan yang saya amati doa yang diharapkan oleh orang Cina tersebut merujuk pada keberuntungan usaha bisnis, seperti doa-doa yang diserukan oleh ahli kunci kepada keluarga Cina yang akan membuka usaha tadi yang saya dengar dengan jelas di ruang pesarean. Demikian sepenggal cerita semalam yang saya alami di Gunung Kawi.

NB: Foto-foto berkaitan dengan catatan perjalanan ini banyak yang hilang, entah kemana.

Standar