Lompat ke isi

Augustus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Augustus
Princeps
Gambar ini menampilkan patung Augustus dari Prima Porta, sebuah potret seluruh tubuh Kaisar Romawi Augustus. Ia digambarkan mengenakan baju zirah yang menampilkan kisah salah satu pencapaian diplomatiknya serta seekor kerub kecil dan lumba-lumba di kaki kanannya.
Augustus dari Prima Porta, sebuah patung marmer Romawi yang dibuat ca 15 M (berdasarkan naskah asli perunggu dari ca 20 SM), ditemukan di Villa Livia, kini berada di Museum Vatikan[1]
Kaisar Romawi
Berkuasa16 Januari 27 SM – 19 Agustus 14 M
PenerusTiberius
KelahiranGaius Octavius
23 September 63 SM
Roma, Italia
Kematian19 Agustus 14 M (usia 75)
Nola, Italia
Pemakaman
Pasangan
Anak
Nama takhta
Imperator Caesar Augustus
DinastiJulio-Claudian
Ayah
IbuAtia
Pekerjaan
Karier militer
PihakRepublik Romawi
Kekaisaran Romawi
Masa dinas43–25 SM
Pertempuran/perang

Augustus (lahir dengan nama Gaius Octavius; 23 September 63 SM – 19 Agustus 14 M), juga dikenal sebagai Octavianus (Latin: Octavianus), adalah pendiri Kekaisaran Romawi, yang berkuasa sebagai Kaisar Romawi pertama dari tahun 27 SM hingga kematiannya pada tahun 14 M.[a] Masa pemerintahan Augustus mengawali sebuah kultus kekaisaran dan era perdamaian kekaisaran (Pax Romana atau Pax Augusta) di mana dunia Romawi sebagian besar bebas dari konflik bersenjata. Principatus, sebuah gaya pemerintahan di mana kaisar menunjukkan kepatuhan nominal kepada Senat,[3] didirikan pada masa pemerintahannya dan berlangsung hingga Krisis Abad Ketiga.

Octavianus lahir dalam sebuah cabang equites (golongan ksatria) dari kaum plebeius gens Octavia. Menyusul pembunuhan terhadap Julius Caesar pada tahun 44 SM, Octavianus disebut dalam wasiat Caesar sebagai ahli waris utamanya. Mewarisi harta benda Caesar dan menyandang namanya, Octavianus berjuang demi mendapatkan loyalitas legiun Caesar. Ia, Marcus Antonius, dan Marcus Lepidus membentuk sebuah rezim triumvirat untuk membalaskan dendam mereka kepada para pembunuh Caesar. Menyusul kemenangan mereka pada Pertempuran Philippi tahun 42 SM, triumvirat tersebut membagi Republik Romawi di antara mereka sendiri dan memerintah sebagai otokrat de facto. Triumvirat tersebut pada akhirnya terpecah oleh persaingan ambisi para anggotanya; Lepidus tersingkir pada tahun 36 SM dan Antonius dikalahkan oleh komandan angkatan laut Octavianus, Marcus Agrippa, dalam Pertempuran Actium pada tahun 31 SM. Antonius dan istrinya Kleopatra, ratu Ptolemaik dari Mesir, bunuh diri saat invasi Octavianus ke Mesir, yang kemudian menjadi properti pribadi Octavianus.

Pascapembubaran triumvirat, Augustus mencapai kesepakatan dengan elit Romawi yang tersisa: ia akan memulihkan fasad republik yang bebas, yang berpusat pada Senat, magistrat eksekutif, dan majelis legislatif. Namun, kendalinya atas militer bermakna bahwa ia mempertahankan kekuasaan otokratis yang divalidasi melalui penunjukannya sebagai panglima tertinggi sebagian besar tentara Romawi, sekaligus mengambil alih kekuasaan tribunat dan penyensoran. Ambiguitas serupa terlihat pada nama-nama pilihannya, penolakan tersirat terhadap gelar monarki di mana ia menyebut dirinya princeps ('warga negara pertama'), yang disandingkan dengan penerimaan nama Augustus ('yang dimuliakan'). Senat juga memberinya gelar pater patriae (terj. har.'bapak tanah air'), dan menamai bulan Agustus dengan namanya.

Augustus secara dramatis memperluas kekaisaran, mencaplok Mesir, Dalmatia, Pannonia, Noricum, dan Raetia, memperluas wilayah kekuasaan di Afrika, serta menuntaskan penaklukan Hispania. Akan tetapi, ekspansionismenya mengalami kemunduran besar di Germania. Di luar perbatasan, ia mengamankan kekaisaran dengan wilayah penyangga berupa negara klien dan merundingkan perjanjian damai dengan Kekaisaran Parthia serta Kerajaan Kush. Ia mereformasi sistem perpajakan dan mata uang Romawi, mengembangkan jaringan jalan dengan sistem kurir resmi, membentuk tentara profesional tetap, mendirikan Garda Praetoria serta polisi resmi dan dinas pemadam kebakaran untuk Roma, serta merenovasi sebagian besar kota selama masa pemerintahannya. Augustus meninggal pada tahun 14 M di usia 75 tahun karena sebab alami. Rumor yang berlanjut, yang agak diperkuat oleh kematian-kematian dalam keluarga kekaisaran, mengklaim bahwa istrinya, Livia, meracuninya. Ia digantikan sebagai kaisar oleh putra angkatnya Tiberius, putra Livia dan mantan suami dari satu-satunya anak kandung Augustus, Julia.

Sebagai konsekuensi dari adat istiadat Romawi, masyarakat, dan preferensi pribadi, Augustus (/ɔːˈɡʌstəs/) dikenal dengan banyak nama sepanjang hidupnya:[4]

  • Gaius Octavius:[5] (Latin: [ˈɡaːiʊs ɔkˈtaːwiʊs]). Menurut Suetonius, cognomen Thurinus (Latin: [tʰuːˈriːnʊs], 'dari Thurii') ditambahkan ke nama lahirnya saat ia masih balita pada tahun 60 SM.[6][b] Kemudian, setelah ia mengambil nama Caesar, saingannya Marcus Antonius merujuknya sebagai Thurinus untuk merendahkannya.[8][c] Marcus Junius Brutus, salah satu pembunuh Julius Caesar, menyebut Octavianus sebagai Octavius, menolak klaim Octavianus atas adopsi testamenter.[10]
  • Gaius Julius Caesar:[11] Setelah diadopsi oleh Julius Caesar pada saat kematian Caesar di tahun 44 SM, ia mengambil nomen dan cognomen Caesar.[12] Ia sering dibedakan oleh para sejarawan dari ayah angkatnya dengan penambahan Octavianus (Latin: [ɔktaːwiˈaːnʊs]) di belakang namanya,[13] yang menandakan bahwa ia adalah mantan anggota gens Octavia sesuai dengan konvensi penamaan Romawi. Tidak ada bukti bahwa Augustus sendiri yang melakukan ini,[14] meskipun Cicero dan beberapa orang sezamannya memanggilnya Gaius Octavius,[15] Gaius Julius Caesar Octavianus,[16] serta "Caesar muda".[10] Dalam bahasa Inggris ia terutama dikenal dengan bentuk Inggris Octavian untuk periode antara 44 dan 27 SM.[17]
  • Imperator Caesar ('Panglima Tertinggi Caesar'):[18] Koin-koin dan prasasti awal Octavianus semuanya merujuk padanya hanya sebagai Gaius Caesar, namun pada tahun 38 SM ia telah mengganti Gaius dengan gelar kemenangan imperator ('panglima').[19] [d] Penggunaan imperator menandakan hubungan permanen dengan tradisi kemenangan Romawi.[20][e] Garis keturunan keluarga barunya akan melanjutkan penggunaan nama Caesar, sebuah cognomen untuk satu cabang keluarga Julia, dan pada akhirnya ini akan membentuk gelar kekaisaran standar.[22] Kadang-kadang julukan divi filius atau divi Iuli(i) filius 'putra dari Julius yang ilahi' disertakan, yang menyinggung pendewaan Julius Caesar pada tahun 42 SM.[23]
  • Imperator Caesar Augustus:[24] Pada 16 Januari 27 SM, sebagai pengakuan atas pencapaiannya yang dirasakan,[25] Senat menganugerahinya gelar kehormatan Augustus (Latin: [au̯ˈɡʊstʊs]), 'yang dimuliakan'.[26][f] Para sejarawan menggunakan nama ini untuk merujuk padanya dari tahun 27 SM hingga kematiannya pada tahun 14 M.[27] Nama ini terkadang ditulis sebagai Augustus Caesar.[28]

Kehidupan awal

[sunting | sunting sumber]
Image
Sebuah potret Romawi yang dipahat dan diidealkan yang menampilkan Octavianus muda sebagai seorang remaja, kemungkinan dibuat secara anumerta atau ketika ia sudah jauh lebih tua, kini berada di Museum Vatikan[29]

Octavianus lahir dengan nama Gaius Octavius di Roma pada 23 September 63 SM.[30][g] Keluarga dari pihak ayahnya berasal dari kota Velitrae (Velletri modern) milik bangsa Volsci,[33] sekitar 40 kilometer (25 mi) di sebelah tenggara kota tersebut.[34] Ia dilahirkan di Kepala Lembu (Ox Head), sebuah properti kecil di Bukit Palatine, sangat dekat dengan Forum Romawi.[35] Di masa kecilnya, ia mungkin menerima cognomen "Thurinus" untuk memperingati kemenangan ayahnya di Thurii atas sekelompok budak pemberontak yang merupakan pengikut Spartacus.[36] Sejarah Romawi kurang membahas masa kecil Octavianus. Beberapa rincian tentang pengasuhan Octavianus dari otobiografinya yang kini telah hilang dilestarikan oleh Suetonius,[37] sementara sebagian besar informasi tersimpan dalam biografi yang disusun oleh Nicolaus dari Damaskus sekitar tahun 20 SM yang hanya bertahan sebagian dalam kutipan Bizantium abad ke-10.[38]

Octavianus dibesarkan selama setidaknya sebagian masa kecilnya di kota kelahiran ayahnya, Velitrae.[39] Ayah Octavianus, yang juga bernama Gaius Octavius, berasal dari keluarga equites (golongan ksatria) yang cukup kaya dari gens Octavia.[40][h] Kakek buyut Octavianus dari pihak ayah, Octavius, adalah seorang tribunus militer di Sisilia selama Perang Punisia Kedua. Kakeknya adalah seorang bankir. Ayahnya menapaki jenjang Cursus honorum sebagai quaestor ca73, aedile ca64, dan praetor pada 61 SM,[42] sebelum diangkat menjadi gubernur prokonsuler Makedonia,[43] di mana ia diproklamasikan sebagai imperator atas kemenangannya melawan suku Trakia Bessi di perbatasannya.[44] Ibunya, Atia, adalah keponakan Julius Caesar.[45]

Image
Denarius dari tahun 44 SM, menampilkan Julius Caesar di sisi depan dan dewi Venus di sisi belakang koin. Keterangan: CAESAR IMP. M. / L. AEMILIVS BVCA

Octavianus berusia empat tahun ketika ayahnya meninggal pada tahun 59 SM,[46] atau pada 58 SM.[47][i] Pada tahun 58 SM, ibunya Atia menikah dengan mantan gubernur Suriah, Lucius Marcius Philippus.[48] Philippus berasal dari keluarga terkemuka di Roma dan terpilih sebagai konsul pada tahun 56 SM.[49] Menurut sejarawan Karl Galinsky, sebagai ayah tiri Octavianus, Philippus berperan sebagai panutan dalam cara menavigasi perairan politik yang bermasalah dengan hati-hati sembari menjaga kekayaan pribadinya.[50] Octavianus sebagian dibesarkan oleh neneknya, Julia, saudara perempuan Julius Caesar.[51] Ketika Julia meninggal pada 52 atau 51 SM, Octavianus menyampaikan pidato pemakaman untuk neneknya.[52][j]

Octavianus mengenyam pendidikan dalam membaca, menulis, berhitung, dan bahasa Yunani oleh seorang tutor budak Yunani bernama Sphaerus, yang kemudian dimerdekakan oleh Octavianus dan dihormati dengan pemakaman kenegaraan pada tahun 40 SM.[55][k] Sebagai seorang remaja, ia belajar filsafat di bawah bimbingan Areios dari Aleksandria dan Athenodorus dari Tarsus, retorika Latin di bawah Marcus Epidius, serta retorika Yunani di bawah Apollodorus dari Pergamon.[58] Pada tahun 48 atau 47 SM Octavianus mengenakan toga virilis ('toga kedewasaan').[59][l] Atas permintaan Caesar untuk mengisi posisi imamat yang ditinggalkan kosong oleh Lucius Domitius Ahenobarbus (setelah ia tewas di Pharsalus),[64] Octavianus terpilih menjadi anggota Kolegium Pontifex pada 47 SM.[65] Tahun berikutnya ia ditugaskan untuk memimpin permainan Yunani yang dipentaskan untuk menghormati Kuil Venus Genetrix, yang dibangun oleh Julius Caesar.[66]

Pada 63 SM Julius Caesar menjadi pontifex maximus, kepala Kolegium Pontifex, yang memungkinkannya membangun pengaruh politik dan pada akhirnya membentuk apa yang disebut 'triumvirat pertama' bersama negarawan Pompeius dan Marcus Licinius Crassus pada 60 SM.[67] Aliansi informal ini, yang menggantikan namun tidak menangguhkan konstitusi Roma, telah runtuh pada saat Caesar menyeberangi Rubicon pada 11 Januari 49 SM dan memicu perang saudara yang berkepanjangan.[68][m] Pada akhir 47 SM, Octavianus ingin bergabung dengan staf Caesar untuk kampanyenya di Afrika namun mengalah ketika ibunya Atia memprotes karena kesehatannya yang buruk.[70] Memperlakukannya layaknya seorang putra, Caesar meminta Octavianus berjalan di samping kereta perangnya selama triumph (parade kemenangan) merayakan kampanye tersebut, dan menganugerahinya dekorasi militer seolah-olah ia hadir dalam perang tersebut.[71] Pada 45 SM Octavianus melakukan perjalanan ke Hispania untuk bergabung dengan kampanye Caesar selama pertempuran melawan sisa-sisa pasukan Gnaeus Pompeius Magnus yang Muda (putra Pompeius),[72] meyakinkan ibunya Atia untuk tidak ikut bersamanya meskipun ibunya mengkhawatirkan kesehatan fisiknya yang rapuh.[73][n] Sekembalinya ke Roma dari Hispania pada bulan Oktober 45 SM,[75] Caesar menitipkan surat wasiat baru kepada para Perawan Vesta (menyusunnya saat berada di vilanya di Labici),[76] yang menunjuk Octavianus sebagai penerima manfaat utama dan ahli waris utamanya pada 13 September 45 SM.[77][o]

Naik ke tampuk kekuasaan

[sunting | sunting sumber]

Ahli waris Caesar

[sunting | sunting sumber]
Image
Kematian Caesar karya Vincenzo Camuccini, 1805, Galleria Nazionale d'Arte Moderna, Roma

Pada tahun 44 SM, Octavianus sedang belajar dan menjalani pelatihan militer di Apollonia, Illyria, ketika Julius Caesar diangkat sebagai dictator perpetuo ('diktator seumur hidup') pertama Roma pada bulan Februari,[84][p] dan kemudian dibunuh pada Ides of March (15 Maret).[87] Octavianus berkonsultasi dengan perwira militer setia Caesar yang ditempatkan di Makedonia untuk meminta nasihat mengenai tindakan yang harus diambil, dan akhirnya memutuskan untuk berlayar ke Italia guna memastikan apakah ia memiliki peluang politik atau keamanan yang potensial. [88] Caesar tidak memiliki anak sah yang masih hidup menurut hukum Romawi.[89] [q] Karena tidak memiliki putra, wasiat Caesar menjadikan Octavianus sebagai ahli waris utamanya dengan syarat ia menyandang nama diktator yang telah wafat itu.[90] Setelah mendarat di Lupiae dekat Brundisium di Italia selatan,[91] Octavianus menerima salinan wasiat tersebut, yang menjadikannya ahli waris atas tiga perempat harta benda Caesar.[92][r] Ayah tiri Octavianus, Philippus, menyarankannya untuk tidak menerima wasiat Caesar dan hidup dengan tenang saja, sementara Atia—yang sering campur tangan dalam urusan Octavianus muda—menyerahkan pilihan penting ini kepada putranya, yang pada akhirnya menerimanya pada 8 Mei 44 SM.[95]

Menerima warisan tersebut dengan menghadap praetor urbanus,[96] Octavianus mengaku bahwa ia diadopsi sebagai putra Caesar, sebuah klaim yang secara hukum meragukan namun secara politik sangat kuat, dan mengambil nama paman buyutnya, Gaius Julius Caesar.[97] Warga negara Romawi yang diadopsi ke dalam keluarga baru biasanya tetap mempertahankan nomen lama mereka dalam bentuk cognomen (misalnya Octavianus bagi seseorang yang sebelumnya adalah Octavius, Aemilianus bagi seseorang yang sebelumnya adalah Aemilius). Tidak ada bukti bahwa Octavianus sendiri menggunakan nama Octavianus, karena ia berusaha menampilkan dirinya lebih dekat sebagai putra Caesar;[98] akan tetapi beberapa orang sezamannya memang merujuknya sebagai Octavianus, seperti Cicero dan ayah tirinya Philippus.[99] Sejarawan biasanya merujuk pada Caesar baru ini sebagai 'Octavianus' selama periode antara adopsinya dan penggunaan nama Augustus pada tahun 27 SM,[100] untuk menghindari kebingungan antara diktator yang telah wafat itu dengan ahli warisnya.[101]

Octavianus tidak dapat mengandalkan dananya yang terbatas untuk berhasil masuk ke eselon atas hierarki politik Romawi.[102] Setelah sambutan hangat dari para prajurit Caesar di Brundisium,[103] Octavianus menuntut sebagian dana yang dialokasikan oleh Caesar untuk rencana perang melawan Kekaisaran Parthia di Timur Tengah.[104] Jumlahnya mencapai 700 juta sestertius yang disimpan di Brundisium, pangkalan di Italia untuk operasi militer di timur.[105] Penyelidikan senat di kemudian hari terhadap hilangnya dana publik tersebut tidak mengambil tindakan apa pun terhadap Octavianus karena ia kemudian menggunakan uang itu untuk menggalang pasukan melawan musuh Senat, Marcus Antonius.[106] Octavianus melakukan langkah berani lainnya pada tahun 44 SM ketika, tanpa izin resmi, ia mengambil alih upeti tahunan yang dikirim dari provinsi Asia milik Romawi di Timur Dekat menuju Italia.[107]

Octavianus mulai memperkuat pasukan pribadinya dengan para veteran legiuner Caesar dan dengan pasukan yang ditunjuk untuk perang Parthia, menggalang dukungan dengan menekankan statusnya sebagai ahli waris Caesar.[108] Dalam perjalanannya menuju Roma melintasi Italia, kehadiran Octavianus dan dana yang baru diperolehnya menarik banyak orang, memenangkan hati mantan veteran Caesar yang ditempatkan di Campania.[109] Menjelang Juni, ia telah mengumpulkan pasukan yang terdiri dari 3.000 veteran setia, membayar setiap orang bonus sebesar 500 denarii,[110] yang nilainya lebih dari gaji yang diperoleh seorang prajurit legiuner setelah dua tahun bertugas.[111]

Meningkatnya ketegangan

[sunting | sunting sumber]
Image
Sebuah patung dada Augustus sebagai Octavianus yang lebih muda, bertarikh ca30 SM. Museum Capitolini, Roma

Setibanya di Roma pada 6 Mei 44 SM,[112] Octavianus mendapati konsul Marcus Antonius, mantan rekan Caesar, berada dalam gencatan senjata yang rapuh dengan para pembunuh sang diktator. Mereka telah diberikan amnesti umum pada 17 Maret dalam sebuah kesepakatan bahwa mereka akan menghormati jabatan magistrat yang telah ditetapkan dan hukum yang disahkan oleh Caesar demi menghindari gejolak politik akibat pembatalan aturan-aturan tersebut.[113] Segera setelahnya, Antonius berhasil mengusir sebagian besar dari mereka keluar dari Roma dengan pidato pemakaman yang berapi-api untuk Caesar, yang memicu opini publik untuk menentang para pembunuh tersebut.[114]

Marcus Antonius sedang menggalang dukungan politik, namun Octavianus masih memiliki kesempatan untuk menyainginya sebagai anggota terkemuka dari faksi pendukung Caesar. Antonius telah kehilangan dukungan dari banyak orang Romawi dan pendukung Caesar ketika ia awalnya menentang usulan untuk mengangkat Caesar ke status ilahi.[115] Antonius menolak menyerahkan uang yang menjadi hak Octavianus sebagai ahli waris Caesar, mungkin dengan alasan bahwa butuh waktu untuk memisahkannya dari dana negara,[116] namun juga sebagai tindakan untuk menunda Octavianus melaksanakan ketentuan populer dalam wasiat Caesar yang menjanjikan pembagian 300 sestertius per kapita kepada kaum pleb kota Roma.[117] Sebagai konsul, Antonius menghalangi majelis curia untuk mendengarkan petisi Octavianus guna mengesahkan dugaan adopsinya oleh Caesar,[118] upaya Octavianus untuk mengembalikan takhta emas Caesar agar dapat dilihat publik pada permainan yang dipentaskan pada bulan April dan Juni, serta upaya Octavianus agar Caesar didewakan secara formal setelah sebuah komet terlihat pada bulan Juli selama permainan untuk menghormati Caesar (dan Venus) yang secara luas ditafsirkan sebagai tanda keilahiannya.[119] Meskipun Antonius melakukan taktik menghalang-halangi, selama permainan kemenangan Caesar, Octavianus mampu mendistribusikan sebagian dana dari wasiat Caesar dan menggabungkannya dengan keuangan pribadi lainnya untuk menutupi setengah dari pembayaran yang dijanjikan kepada kaum pleb, yang meningkatkan popularitasnya sekaligus merusak popularitas Antonius.[120]

Selama musim panas tahun 44 SM, Octavianus memenangkan dukungan para veteran Caesar dan juga menyatukan tujuan dengan para senator—banyak di antaranya adalah mantan pendukung Caesar—yang menganggap Antonius sebagai ancaman bagi negara.[121] Antonius memerintahkan para liktor untuk menyeret Octavianus keluar dari sidang dengar pendapat mengenai pengembalian properti pribadi yang disita oleh Caesar pada tahun 49 SM, setelah itu Octavianus mengklaim bahwa Antonius mengancam nyawanya sebagai balasan karena telah memastikan kaum pleb menerima hak mereka. Para veteran Caesar kemudian meyakinkan Antonius untuk berekonsiliasi secara terbuka dengan Octavianus di Kuil Jupiter Optimus Maximus.[120] Menyusul upaya rekonsiliasi yang gagal ini, maklumat Antonius yang memicu perang terhadap Brutus dan Cassius mengasingkannya dari kaum Caesarian moderat di Senat, yang takut akan perang saudara baru.[122] Pada bulan September, Marcus Tullius Cicero, yang kini menjadi sekutu politik Octavianus, mulai menyerang Antonius dalam serangkaian pidato yang menggambarkannya sebagai ancaman bagi tatanan republik.[123]

Konflik pertama dengan Antonius

[sunting | sunting sumber]
Image
Patung dada era Flavia yang secara tradisional diidentifikasi sebagai Marcus Antonius, Museum Vatikan

Dengan opini di Roma yang berbalik melawannya dan tahun kekuasaan konsulernya yang mendekati akhir, Antonius berusaha mengesahkan sebuah plebisit yang akan memberinya jabatan gubernur prokonsul atas provinsi strategis Gallia Cisalpina di Italia utara, alih-alih provinsi Makedonia. [124] Sementara itu, Octavianus membangun pasukan pribadi di Italia dengan merekrut para veteran Caesar,[125] dan pada awal November memasuki Roma dengan kekuatan pribadi ini untuk menantang Antonius.[126] Namun, mereka meninggalkan kota itu tak lama kemudian,[127] dikarenakan beberapa veteran memilih berhenti setelah menyadari bahwa mereka terlibat dalam pertikaian sesama Caesarian, bukan kampanye balas dendam terhadap para pembunuh Caesar.[128] Meskipun demikian, pada 28 November Octavianus memenangkan dua legiun Antonius dengan tawaran keuntungan moneter yang menggiurkan.[129]

Menghadapi pasukan Octavianus yang besar dan cakap, Antonius melihat bahaya jika tetap tinggal di Roma dan, demi kelegaan Senat, ia meninggalkan Roma menuju Gallia Cisalpina,[130] yang akan diserahkan kepadanya pada 1 Januari 43 SM.[131] Namun, provinsi tersebut sebelumnya telah ditugaskan kepada Decimus Junius Brutus Albinus, salah satu pembunuh Caesar, yang kini menolak untuk menyerah kepada Antonius.[132] Antonius mengepungnya di Mutina,[133] dan menolak resolusi yang disahkan oleh Senat untuk menghentikan pertempuran. Senat tidak memiliki tentara untuk menegakkan resolusi mereka. Hal ini memberikan peluang bagi Octavianus, yang sudah diketahui memiliki angkatan bersenjata.[134] Cicero juga membela Octavianus dari ejekan Antonius tentang kurangnya garis keturunan bangsawan Octavianus dan tindakannya meniru nama Julius Caesar.[135][s]

Image
Patung dada Marcus Tullius Cicero, abad ke-1 M, Museum Capitolini, Roma

Atas desakan Cicero, Senat melantik Octavianus sebagai senator pada 1 Januari 43 SM, namun ia juga diberi kekuasaan untuk memberikan suara bersama para mantan konsul dan kemampuan untuk mencalonkan diri dalam pemilihan jabatan pada usia yang lebih muda dari biasanya.[137] Selain itu, Octavianus dianugerahi imperium pro praetore, yang melegitimasi komandonya, dan dikirim untuk membebaskan pengepungan bersama Hirtius dan Pansa (para konsul untuk tahun 43 SM).[138] Ia memegang fasces pada 7 Januari,[21] tanggal yang kemudian ia peringati sebagai awal karier publiknya.[139] Pasukan Antonius dikalahkan pada pertempuran Forum Gallorum (14 April) dan Mutina (21 April), memaksa Antonius mundur ke Gallia Transalpina. Namun, kedua konsul tewas, meninggalkan Octavianus sebagai pemegang komando tunggal atas tentara mereka.[140] Kemenangan-kemenangan ini memberinya aklamasi pertama sebagai imperator, gelar yang dikhususkan bagi para komandan yang menang.[141]

Senat melimpahkan jauh lebih banyak penghargaan kepada Decimus Brutus daripada kepada Octavianus karena mengalahkan Antonius, kemudian berusaha menyerahkan komando legiun konsuler kepada Decimus Brutus.[142] Sebagai tanggapan, Octavianus tetap berada di Lembah Po dan menolak membantu serangan lebih lanjut terhadap Antonius.[143] Pada bulan Juli, sebuah delegasi centurion yang dikirim oleh Octavianus memasuki Roma dan menuntut jabatan konsul yang dibiarkan kosong oleh Hirtius dan Pansa,[144] dengan Cicero sebagai usulan rekan konsul,[145] serta agar dekrit yang menyatakan Antonius sebagai musuh publik dicabut.[143] Ketika hal ini ditolak, ia berbaris menuju kota dengan delapan legiun.[146] Ia tidak menghadapi perlawanan militer di Roma dan pada 19 Agustus 43 SM terpilih sebagai konsul bersama kerabatnya Quintus Pedius sebagai rekan konsul.[147]

Pedius mengesahkan undang-undang yang membentuk sebuah pengadilan khusus; hanya dalam satu hari dengan Octavianus sebagai presiden, pengadilan tersebut mengadili, memvonis, dan menjatuhkan hukuman pengasingan kepada para pembunuh Caesar dan terduga sekutu mereka secara in absentia.[148][t] Octavianus juga membujuk majelis curia agar dirinya diadrogasi (diadopsi secara penuh) ke dalam keluarga Caesar, yang meresmikan klaim adopsi testamenternya yang meragukan secara hukum.[150] Sementara itu, Antonius membentuk aliansi dengan Marcus Aemilius Lepidus, yang saat itu menjabat gubernur Gallia Narbonensis.[151] Sebagai sesama Caesarian, Lepidus dicap oleh Senat sebagai musuh publik karena bergabung dengan Antonius.[152] Saat Octavianus berbaris ke utara untuk memerangi Decimus Brutus dan bertemu dengan Antonius, Pedius meyakinkan Senat untuk mencabut undang-undang yang mencap Antonius dan Lepidus sebagai pelanggar hukum.[153] Ibu Octavianus, Atia, meninggal dunia pada suatu waktu sebelum ia secara resmi bersekutu dengan Antonius dan Lepidus pada bulan November, dengan tidak ada yang diketahui tentang kematiannya kecuali bahwa sebagai konsul, Octavianus mengatur upacara pemakaman umum yang mewah untuknya.[154]

Triumvirat Kedua

[sunting | sunting sumber]

Proskripsi

[sunting | sunting sumber]
Image
Aureus yang memuat potret Marcus Antonius (kiri) dan Octavianus (kanan), dikeluarkan pada tahun 41 SM untuk merayakan pembentukan Triumvirat Kedua. Kedua sisi memuat tulisan III vir rpc, yang berarti 'Tiga Pria untuk Pengaturan Republik'. Keterangan: m ant imp aug[u] iiivir rpc m barbat[v] q p / caesar imp pont iiivir rpc.[156][157]

Dalam sebuah pertemuan di dekat Bononia pada bulan Oktober 43 SM, Octavianus, Antonius, dan Lepidus menyusun rencana untuk membentuk triumvirat, yang seolah-olah bertujuan untuk menata kembali republik.[158] Kesepakatan mereka, yang disahkan oleh hukum untuk jangka waktu lima tahun, kemudian diberlakukan melalui lex Titia, yang disahkan oleh tribunus Publius Titius pada 27 November tahun itu.[159] Triumvirat tersebut, tidak seperti "triumvirat pertama" Caesar, Pompeius, dan Crassus yang tidak resmi, adalah sebuah jabatan formal; jabatan ini memberikan kekuasaan konsuler kepada ketiga pria tersebut, hak untuk menunjuk magistrat, dan mengizinkan pembagian provinsi di antara mereka sendiri yang tidak berada di bawah kendali liberatores di timur. [160][w] Octavianus sebelumnya telah bertunangan dengan Servilia, putri Publius Servilius Isauricus, namun kemudian bertunangan dengan Claudia, putri tiri Antonius, sebuah aliansi pernikahan yang dimaksudkan untuk memperkuat persatuan politik resmi mereka.[163] Octavianus juga menyerahkan jabatan konsul kepada sekutu politik Antonius, Publius Ventidius.[164][x]

Para triumvir kemudian memulai proskripsi, di mana sekitar 300 orang ditargetkan sebagai pelanggar hukum, yang terbagi rata antara senator dan equestrians (golongan ksatria).[167] Ribuan lainnya disita harta bendanya.[y] Sejarawan Romawi kontemporer memberikan laporan yang saling bertentangan mengenai triumvir mana yang paling bertanggung jawab atas proskripsi dan pembunuhan tersebut.[171] Namun, sumber-sumber tersebut sepakat bahwa pemberlakuan proskripsi adalah cara bagi ketiga faksi untuk menyingkirkan musuh-musuh politik.[172][z] Plutarkhos menggambarkan proskripsi tersebut sebagai pertukaran teman dan keluarga yang kejam dan saling menjatuhkan di antara Antonius, Lepidus, dan Octavianus.[173] Sebagai contoh, Octavianus mengizinkan proskripsi terhadap sekutunya Cicero,[177] Antonius terhadap paman dari pihak ibunya Lucius Julius Caesar (konsul tahun 64 SM), dan Lepidus terhadap saudaranya Paullus.[178] Plutarkhos bersikeras bahwa Octavianus membela Cicero pada awalnya sebelum menyerah pada haus darah Antonius, namun sejarawan Patricia Southern berpendapat bahwa Octavianus memiliki motifnya sendiri untuk membiarkan Cicero dibunuh.[179][aa]

Proskripsi tersebut sebagian didorong oleh kebutuhan untuk mengumpulkan uang guna membayar gaji pasukan mereka untuk konflik mendatang melawan para pembunuh Caesar, Marcus Junius Brutus dan Gaius Cassius Longinus, namun tujuan utamanya adalah penyingkiran saingan masa perang.[181] Hadiah untuk penangkapan mereka memberikan insentif bagi orang Romawi untuk menangkap mereka yang diproskripsi, sementara harta benda mereka yang ditangkap disita oleh para triumvir.[182] Namun, uang yang terkumpul tidak mencukupi, mungkin karena sedikitnya penawar untuk properti korban proskripsi.[183] Para triumvir kemudian memperkenalkan serangkaian pajak baru untuk mendanai perang mereka. Mereka memberlakukan kembali pajak properti (yang ditangguhkan sejak 167 SM) dan menciptakan pungutan baru atas budak, sebelum juga menuntut penilaian properti untuk pajak terhadap wanita kaya yang kemudian dikurangi setelah adanya protes publik oleh para wanita di Roma.[184]

Pertempuran Philippi dan pembagian wilayah

[sunting | sunting sumber]
Image
Sebuah denarius yang dicetak ca18 SM. Sisi depan: CAESAR AVGVSTVS; sisi belakang: komet bersinar delapan dengan ekor ke atas; DIVVS IVLIV[S], "Julius yang ilahi".

Pada 1 Januari 42 SM, dengan Lepidus menjabat sebagai konsul,[185] Senat secara anumerta mengakui Julius Caesar sebagai dewa negara Romawi, divus Iulius. Octavianus mampu memajukan perjuangannya dengan menekankan fakta bahwa ia adalah divi filius ('Putra dari Yang Ilahi').[186] Antonius dan Octavianus kemudian mengirim dua puluh delapan legiun melalui laut untuk menghadapi tentara Brutus dan Cassius, yang telah membangun basis kekuatan mereka di Yunani dan provinsi-provinsi timur.[187] Setelah dua pertempuran di Philippi di Makedonia pada bulan Oktober 42 SM, tentara Caesarian meraih kemenangan sementara Brutus dan Cassius bunuh diri. [188][ab]

Marcus Antonius menggunakan pertempuran Philippi sebagai sarana untuk meremehkan Octavianus, karena kedua pertempuran tersebut dimenangkan secara telak dengan menggunakan pasukan Antonius. Selain mengklaim bertanggung jawab atas kedua kemenangan tersebut, Antonius mencap Octavianus sebagai pengecut karena menyerahkan kendali militer langsungnya kepada Marcus Vipsanius Agrippa.[191] Octavianus terbaring sakit selama pertempuran pertama,[192] diduga menyingkirkan dirinya sendiri dari komando atas perkemahan sesuai saran dokternya,[193] namun berhasil merebut perkemahan Brutus selama pertempuran kedua.[194] Galinsky menegaskan bahwa Octavianus menyelamatkan muka dari rasa malu ini dengan memerintahkan agar mayat Brutus dipenggal,[195] meskipun Goldsworthy mengatakan tidak jelas siapa yang memberikan perintah ini.[196] Sisa-sisa jenazah tersebut dikirim kembali ke Roma untuk dipertontonkan kepada publik, namun hilang dalam badai di laut sebelum sempat tiba.[197]

Image
Kepala marmer pahatan triumvir Octavianus yang diperkirakan berasal dari masa Pertempuran Philippi pada tahun 42 SM, Museum Arkeologi Spoleto

Pascapertempuran Philippi, pengaturan wilayah baru dibuat di antara para anggota triumvirat. Lepidus dicurigai oleh Octavianus dan Antonius berkolusi dengan Sextus Pompeius,[198] putra Pompeius dan jenderal pemberontak yang telah diberi komando atas seluruh garis pantai Mediterania oleh Senat anti-Caesarian pada tahun 43 SM.[199][ac] Gallia Cisalpina digabungkan dengan Italia dan diserahkan kepada Octavianus bersama dengan provinsi Hispania Citerior dan Hispania Ulterior yang harus dilepaskan oleh Lepidus.[200] Antonius melakukan perjalanan ke timur menuju Mesir di mana ia bersekutu dengan Ratu Kleopatra, seorang penguasa klien Romawi, mantan kekasih Julius Caesar, dan ibu dari putra Caesar, Caesarion.[201] Selain provinsi-provinsi timur, Antonius juga mengambil Gallia Narbonensis dari Lepidus, dan telah menguasai Gallia Comata.[202] Lepidus ditinggalkan dengan provinsi Afrika, terhambat oleh langkah Antonius yang menyerahkan Hispania kepada Octavianus. [203]

Octavianus diserahi keputusan untuk menentukan lokasi di Italia guna memukimkan puluhan ribu veteran kampanye Afrika dan Makedonia, yang telah dijanjikan oleh para triumvir untuk dibebastugaskan.[204][ad] Mereka yang bertempur di pihak republik bersama Brutus dan Cassius dapat dengan mudah bersekutu dengan lawan politik Octavianus jika tidak ditenangkan, dan mereka juga membutuhkan tanah.[208] Tidak ada lagi tanah yang dikuasai pemerintah untuk dialokasikan sebagai pemukiman bagi tentara mereka, sehingga Octavianus memilih untuk memicu permusuhan banyak warga negara Romawi dengan menyita tanah mereka, daripada memicu permusuhan banyak tentara Romawi yang dapat melakukan perlawanan besar terhadapnya di jantung kota Roma.[209] Sebanyak delapan belas kota Romawi terdampak oleh pemukiman baru ini, dengan seluruh populasi diusir atau setidaknya mengalami penggusuran sebagian.[210]

Perang Perusia, aliansi pernikahan, dan Perjanjian Brundisium

[sunting | sunting sumber]
Image
Aureus Romawi yang memuat potret Marcus Antonius (kiri) dan Octavianus (kanan), dikeluarkan untuk merayakan rekonsiliasi mereka pada Oktober 40 SM
Image
Kleopatra dan Marcus Antonius masing-masing pada sisi depan dan belakang tetradrachm perak yang dicetak di percetakan uang Antiokhia pada 36 SM, dengan legenda Yunani

Terdapat ketidakpuasan yang meluas terhadap Octavianus atas pemukiman prajuritnya ini, dan hal tersebut mendorong banyak orang untuk berhimpun di sisi Lucius Antonius, saudara laki-laki Marcus Antonius yang didukung oleh mayoritas di Senat.[211] Sementara itu, Octavianus mengajukan perceraian dari Claudia, putri istri Antonius, Fulvia, dan suami pertamanya Publius Clodius Pulcher. Ia mengembalikan Claudia kepada ibunya, dengan mengklaim bahwa pernikahan mereka tidak pernah disempurnakan.[212] Fulvia memutuskan untuk mengambil tindakan. Bersama dengan Lucius Antonius, ia menggalang pasukan di Italia untuk memperjuangkan hak-hak Antonius melawan Octavianus,[213] dan Lucius Antonius bahkan sempat merebut Roma, memaksa Lepidus dan kedua legiunnya melarikan diri dari kota tersebut.[214] Namun, Lucius dan Fulvia melakukan perjudian politik dan militer dalam menentang Octavianus, karena tentara Romawi masih bergantung pada para triumvir untuk gaji mereka.[215] Lucius dan sekutunya berakhir dalam pengepungan defensif di Perusia, di mana Octavianus memaksa mereka menyerah pada Februari 40 SM.[216]

Lucius dan pasukannya diampuni karena kekerabatannya dengan Antonius, orang kuat di Timur, sementara Fulvia melarikan diri ke pengasingan di Sicyon, Yunani.[217] Ia meninggal tak lama kemudian,[218] dengan kesalahan atas pemberontakan tersebut dengan mudah ditimpakan kepadanya alih-alih kepada Lucius.[219] Namun, Octavianus tidak menunjukkan belas kasihan bagi massa sekutu yang setia kepada Lucius. Pada 15 Maret, hari peringatan pembunuhan Julius Caesar, ia memerintahkan 300 senator dan ekuestrian Romawi dieksekusi karena bersekutu dengan Lucius.[220][ae] Perusia juga dijarah dan dibakar,[222] meskipun tidak jelas apakah pasukan Octavianus atau penduduk setempat yang menyalakan api.[221] Peristiwa berdarah ini menodai reputasi Octavianus dan dikritik oleh banyak orang, seperti penyair zaman Augustus Sextus Propertius.[223]

Sextus Pompeius menegaskan kendali atas basis kekuasaannya di Sisilia sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai dengan triumvirat pada 40 SM,[224] dan memperoleh kendali atas Sardinia dan Korsika pada 39 SM.[225] Baik Antonius maupun Octavianus bersaing untuk mendapatkan aliansi dengan Pompeius.[226] Octavianus berhasil menjalin aliansi sementara pada 40 SM ketika ia menikahi Scribonia, saudara perempuan (atau putri) dari ayah mertua Pompeius Lucius Scribonius Libo (sehingga merupakan bibi dari istri Sextus Pompeius).[227] Scribonia melahirkan satu-satunya anak kandung Octavianus, Julia, pada hari yang sama ketika ia menceraikannya untuk menikahi Livia Drusilla, sedikit lebih dari setahun setelah pernikahan mereka.[228] Hubungan asmara Octavianus dengan Livia juga dimulai saat Livia sudah menikah dan sedang hamil.[229]

Saat berada di Mesir, Antonius terlibat asmara dengan Kleopatra dan telah memperanakkan dua orang anak bersamanya.[230][af] Provinsi-provinsi Gallia milik Antonius juga jatuh ke tangan Octavianus setelah kematian legatus Antonius, Quintus Fufius Calenus, pada 40 SM.[233] Sadar akan hubungannya yang memburuk dengan Octavianus, Antonius meninggalkan Kleopatra; ia berlayar ke Italia pada 40 SM dengan pasukan besar untuk menentang Octavianus, dan mengepung Brundisium. Namun, konflik baru ini terbukti tidak dapat dipertahankan bagi Octavianus maupun Antonius. Para centurion mereka, yang telah menjadi figur penting secara politik, menolak untuk bertempur karena alasan perjuangan sesama Caesarian, sementara legiun di bawah komando mereka pun mengikuti langkah tersebut.[234] Sementara itu, di Sikyon, istri Antonius, Fulvia, meninggal karena penyakit mendadak,[235] tak lama setelah Antonius bertemu dengannya.[218] Kematian Fulvia dan pemberontakan para centurion mereka memungkinkan kedua triumvir yang tersisa untuk melakukan rekonsiliasi.[236]

Pada musim gugur tahun 40, Octavianus dan Antonius menyetujui Perjanjian Brundisium, yang menetapkan Lepidus tetap di Afrika, Antonius di Timur, dan Octavianus di Barat. [237] Semenanjung Italia dibiarkan terbuka bagi semua pihak untuk perekrutan prajurit, namun pada kenyataannya ketentuan ini tidak berguna bagi Antonius di Timur.[238] Octavianus berada dalam posisi negosiasi yang lebih kuat karena masalah yang harus dihadapi Antonius di timur dengan serbuan Parthia ke Asia Kecil.[239] Untuk semakin mempererat hubungan aliansi dengan Antonius, Octavianus menikahkan saudara perempuannya, Octavia Minor, dengan Antonius pada akhir 40 SM.[240]

Perang dengan Sextus Pompeius dan pengasingan Lepidus

[sunting | sunting sumber]
Image
Sebuah denarius milik Sextus Pompeius, dicetak atas kemenangannya melawan armada Octavianus. Sisi depan: tempat ia mengalahkan Octavianus, Pharus di Messina dihiasi dengan patung Neptunus; di depannya terdapat galai yang dihiasi dengan aquila, tongkat kerajaan & trisula; MAG. PIVS IMP. ITER. Sisi belakang, monster Scylla, dengan tubuh bagian atas anjing dan ekor ikan, mengacungkan kemudi kapal sebagai gada. Keterangan: PRAEF[ECTUS] CLAS[SIS] ET ORAE MARIT[IMAE] EX S. C.

Sextus Pompeius mengancam Octavianus di Italia dengan menahan pengiriman gandum melalui Laut Tengah ke semenanjung tersebut.[241] Putra Pompeius sendiri ditugaskan sebagai komandan angkatan laut dalam upaya untuk menyebabkan kelaparan yang meluas di Italia.[242] Kendali Pompeius atas laut mendorongnya untuk mengambil nama Neptuni filius ('putra Neptunus').[243] Sebelum pertempuran Philippi, Octavianus telah mengirim Salvidienus Rufus dengan armada angkatan laut untuk mengusir Sextus Pompeius dari Sisilia, namun tidak berhasil, sehingga para triumvir mengakui kekuasaannya atas laut melalui Perjanjian Brundisium pada tahun 40 SM.[244] Namun, ketika Sextus Pompeius melanjutkan blokadenya, massa yang kelaparan dan marah di Roma menyalahkan Octavianus dan Antonius serta menyerang mereka pada awal 39 SM; pasukan Antonius menyelamatkan Octavianus dan membubarkan massa.[245] Kesepakatan damai sementara lainnya dicapai pada tahun 39 SM melalui Pakta Misenum. Blokade terhadap Italia dicabut setelah Octavianus memberikan Sardinia, Korsika, Sisilia, dan Peloponnesos kepada Pompeius, serta menjamin posisinya di masa depan dalam jabatan konsul. [246][ag]

Kesepakatan wilayah antara triumvirat dan Sextus Pompeius mulai runtuh setelah Octavianus menceraikan Scribonia dan menikahi Livia pada 17 Januari 38 SM.[252] Setelah Antonius menolak menyerahkan Peloponnesos, Pompeius memblokir pasokan makanan Roma, yang menyebabkan kerusuhan di sana.[253] Komandan angkatan laut Pompeius, Menas, mengkhianatinya dengan menyerahkan tiga legiun kepada Octavianus,[254] serta Korsika dan Sardinia.[255] Namun, armada laut Octavianus dikalahkan di Cumae.[254] Octavianus kekurangan sumber daya untuk menghadapi Pompeius sendirian, sehingga kesepakatan dicapai dengan perpanjangan triumvirat untuk periode lima tahun lagi yang dimulai pada 37 SM.[256]

Dalam mendukung Octavianus, Antonius berharap mendapatkan dukungan untuk kampanyenya sendiri melawan Kekaisaran Parthia, berhasrat untuk membalas dendam atas kekalahan Roma di Carrhae pada 53 SM.[257] Dalam sebuah perjanjian yang dicapai di Tarentum pada pertengahan 37 SM,[258] Antonius menyediakan 120 kapal untuk digunakan Octavianus melawan Pompeius,[259] sementara Octavianus harus mengirimkan 20.000 legiuner kepada Antonius untuk digunakan melawan Parthia. Dua tahun kemudian Octavianus hanya mengirimkan sepersepuluh dari jumlah yang dijanjikan, yang dipandang Antonius sebagai provokasi yang disengaja.[260] Sementara itu, Agrippa ditugaskan untuk membuat pelabuhan buatan Portus Julius di dekat Cumae dengan menggabungkan danau Lucrinus dan Avernus untuk pelatihan dan pembuatan kapal armada laut Octavianus. [261]

Image
Denarius dari tahun 42 SM yang menggambarkan Marcus Aemilius Lepidus; inskripsinya berbunyi III v(ir) r(ei) p(ublicae) c(onstituendae) Lepidus pont(ifex) max(imus) ('Triumvir untuk pengaturan republik, Lepidus, Pontifex maximus')

Octavianus dan Lepidus melancarkan operasi gabungan melawan Sextus di Sisilia pada 36 SM.[262] Octavianus mengalami kemunduran besar, termasuk hilangnya armada karena kapal karam di Sisilia, dibantu oleh satu-satunya pendamping Marcus Valerius Messalla Corvinus.[263] Namun, armada laut Sextus Pompeius melarikan diri dari pertempuran melawan Agrippa di Mylae pada bulan Agustus,[264] dan hampir seluruhnya dihancurkan pada tanggal 3 September oleh Agrippa pada pertempuran laut Naulochus. [265] Sextus melarikan diri ke timur dengan sisa pasukannya, di mana ia ditangkap dan dieksekusi di Miletus oleh Antonius atau salah satu legatusnya pada 35 SM.[266]

Ketika Lepidus dan Octavianus menerima penyerahan pasukan Pompeius, Lepidus berusaha mengklaim Sisilia untuk dirinya sendiri dan memerintahkan Octavianus pergi. Akan tetapi, pasukan Lepidus meninggalkannya dan membelot ke Octavianus karena mereka lelah berperang dan tergiur oleh janji uang dari Octavianus.[267] Mereka juga secara efektif dikepung oleh pasukan Octavianus di Sisilia.[268] Lepidus menyerah kepada Octavianus dan diizinkan untuk mempertahankan jabatan pontifex maximus, namun dikeluarkan dari Triumvirat dan diasingkan ke sebuah vila di Tanjung Circei di Italia. [269] Kekuasaan Romawi kemudian dibagi antara Octavianus di Barat dan Antonius di Timur. Octavianus menjamin warga Roma atas hak properti mereka, memukimkan prajuritnya yang telah dibebastugaskan di luar Italia,[270] dan mengembalikan 30.000 budak kepada mantan pemilik Romawi mereka setelah mereka melarikan diri untuk bergabung dengan angkatan darat dan angkatan laut Pompeius.[271] Octavianus meminta Senat memberinya, istrinya, dan saudara perempuannya kekebalan tribun, atau sacrosanctitas, guna menjamin keselamatannya sendiri serta keselamatan Livia dan Octavia begitu ia kembali ke Roma.[272]

Setelah mengalahkan Pompeius, Kampanye militer Octavianus di Illyricum dari tahun 35–33 SM memastikan ketundukan suku Iapodes dan Dalmatae (di wilayah yang sekarang disebut Kroasia). Konflik ini memungkinkannya untuk mengembalikan panji-panji militer yang sebelumnya hilang oleh Aulus Gabinius, yang kemudian disimpan Octavianus di Porticus Octavia.[273] Selama kampanye pertama, Octavianus menghancurkan Segesta (Siscia modern) dan terluka akibat runtuhnya tanjakan pengepungan ketika ia mengepung Metulum (di sepanjang Sungai Kolpa). [274] Upaya ini dipuji di Senat, meskipun Octavianus menunda perayaan kemenangan (triumph) atas keberhasilannya,[275] dan baru belakangan mengakui kontribusi komandan Agrippa dan Statilius Taurus.[276] Meskipun demikian, jenderal Octavianus maupun Antonius merayakan triumph selama dekade 30-an SM,[277][ah] seperti jenderal Antonius, Publius Ventidius, yang dianugerahi triumph karena mempertahankan Suriah Romawi pada 38 SM dari invasi Pacorus I dari Parthia.[278]

Perang dengan Antonius dan Kleopatra

[sunting | sunting sumber]
Image
Antony and Cleopatra, karya Lawrence Alma-Tadema, dilukis tahun 1885

Pada tahun 36 SM, Octavianus menggunakan siasat politik untuk membuat dirinya terlihat kurang otokratis dan Antonius lebih terlihat sebagai penjahat dengan menyatakan bahwa perang saudara akan segera berakhir dan bahwa ia akan mundur sebagai triumvir—jika saja Antonius bersedia melakukan hal yang sama. Antonius menolak.[279] Kampanye Parthia Antonius pada tahun 36 SM berubah menjadi bencana, yang menodai citranya sebagai seorang pemimpin. [280] Sebanyak 2.000 legiuner yang dikirim oleh Octavianus kepada Antonius, yang bepergian bersama istrinya Octavia, hampir tidak cukup untuk memulihkan kekuatannya yang hilang.[281] Di sisi lain, Kleopatra, dengan kekayaannya yang sangat besar, dapat memulihkan tentara Antonius ke kekuatan penuh.[282] Antonius sudah terlibat hubungan asmara dengan Kleopatra, dengan anak ketiga mereka Ptolemaios Philadelphos lahir pada 36 SM,[283] sehingga pada tahun 35 SM ia memutuskan untuk memulangkan Octavia ke Roma.[284] Octavianus menggunakan hal ini untuk menyebarkan propaganda yang menyiratkan bahwa Antonius menjadi kurang Romawi, menolak pasangan sah Romawinya yang ia sakiti sembari lebih memilih ratu asing sebagai kekasihnya.[285]

Pasukan Romawi merebut Kerajaan Armenia pada 34 SM,[286] dan Antonius menjadikan putranya Alexander Helios sebagai penguasa Armenia.[287] Kleopatra mengambil gelar "Ratu dari Segala Raja" dan putranya Caesarion dinobatkan sebagai Raja dari Segala Raja dan rekan penguasa,[288] tindakan yang digunakan Octavianus untuk meyakinkan Senat bahwa Antonius memiliki ambisi untuk mengurangi keunggulan Roma. [289] Octavianus menjadi konsul sekali lagi pada 1 Januari 33 SM, dan ia membuka sesi Senat berikutnya dengan serangan keras terhadap pemberian gelar dan wilayah oleh Antonius kepada kerabat dan ratunya, yang kemudian dikenal sebagai Donasi Aleksandria.[290]

Pada awal 32 SM, di tengah perang propaganda yang intens antara dirinya dan Octavianus, Antonius secara terbuka mengumumkan berakhirnya pernikahannya dengan Octavia.[291] Konsul baru Gaius Sosius dan Gnaeus Domitius Ahenobarbus adalah loyalis Antonius yang mengancam akan mencabut otoritas triumvirat Octavianus.[292][ai] Hal ini mendorong Octavianus untuk memasuki gedung Senat dengan penjaga bersenjata di mana ia berpidato menuduh Antonius dan Sosius melakukan kesalahan, sebuah taktik intimidasi yang meyakinkan sebagian besar senator dan kedua konsul untuk melarikan diri dari Roma dan membelot ke Antonius.[297] Namun, Octavianus menerima dua pembelot kunci dari pihak Antonius pada musim gugur 32 SM: Munatius Plancus dan Marcus Titius.[298] Para pembelot ini memberi Octavianus informasi yang ia butuhkan untuk mengonfirmasi kepada Senat semua tuduhan yang ia buat terhadap Antonius.[299] Octavianus secara paksa memasuki kuil Perawan Vesta dan menyita surat wasiat rahasia Antonius, yang segera ia publikasikan. Surat wasiat itu akan memberikan wilayah-wilayah taklukan Romawi sebagai kerajaan bagi putra-putranya untuk diperintah dan menunjuk Aleksandria sebagai lokasi makam bagi dirinya dan ratunya. [300] Octavianus menunjukkan kesetiaannya kepada Roma dengan membangun mausoleumnya di Campus Martius.[301] Ia juga menentang klausul dalam wasiat Antonius yang mengakui Caesarion sebagai ahli waris sejati Julius Caesar.[302][aj]

Image
Pertempuran Actium, karya Laureys a Castro, dilukis tahun 1672 Museum Maritim Nasional, London

Pada akhir 32 SM, Senat secara resmi mencabut jabatan konsul Antonius yang ditugaskan untuk tahun berikutnya dan menyatakan perang terhadap rezim Kleopatra di Mesir.[304][ak] Mengikuti masa jabatan dua konsul suffectus untuk akhir 32 SM,[307] Octavianus memiliki kedudukan hukum untuk melakukan perang melawan Antonius dengan terpilih sebagai konsul untuk tahun 31 SM.[308] Ia mempertahankan otoritasnya sebagai triumvir meskipun masa jabatannya telah resmi berakhir pada akhir 33 SM.[309] Ia menggunakan kekuasaan darurat (tumultus) agar orang-orang usia militer di seluruh Republik bersumpah setia kepadanya sebagai mandat untuk mengambil alih kepemimpinan.[310]

Pada awal 31 SM, Antonius dan Kleopatra ditempatkan sementara di Yunani ketika Octavianus memperoleh kemenangan awal: angkatan laut berhasil mengangkut pasukan melintasi Laut Adriatik di bawah komando Agrippa.[311] Agrippa memutus kekuatan utama Antonius dan Kleopatra dari rute pasokan mereka di Laut Ionia,[312] sementara Octavianus mendarat di Toryne di Epirus,[313] di seberang pulau Yunani Kerkyra (Korfu modern), dan berbaris ke selatan. [314] Terjebak di darat dan laut, para pembelot dari tentara Antonius melarikan diri ke sisi Octavianus setiap hari sementara pasukan Octavianus cukup nyaman untuk melakukan persiapan.[315]

Image
Lukisan dinding Romawi dari pertengahan abad ke-1 SM di Rumah Marcus Fabius Rufus, Pompeii, ini kemungkinan besar merupakan penggambaran Kleopatra VII dari Mesir Ptolemaik sebagai Venus Genetrix, dengan putranya Caesarion sebagai Cupid, yang penampilannya mirip dengan patung Kleopatra yang kini telah hilang yang didirikan oleh Julius Caesar di Kuil Venus Genetrix (di dalam Forum Caesar). Pemiliknya menembok ruangan dengan lukisan ini, kemungkinan besar sebagai reaksi langsung terhadap eksekusi Caesarion atas perintah Augustus pada tahun 30 SM, ketika penggambaran artistik Caesarion akan dianggap sebagai masalah sensitif bagi rezim yang berkuasa.[316]

Armada Antonius berlayar melalui teluk Actium di sepanjang Teluk Amvrakia di Yunani barat dalam upaya terakhir yang putus asa untuk membebaskan diri dari blokade angkatan laut.[317] Di sanalah armada Antonius menghadapi armada Octavianus, yang dipimpin oleh komandannya Agrippa dan Gaius Sosius dalam Pertempuran Actium pada 2 September 31 SM. [318] Kleopatra dan bagian armadanya mundur di awal pertempuran dan kemudian bergabung dengan Antonius;[319] pasukannya yang tersisa diselamatkan dalam upaya terakhir oleh armada Kleopatra yang telah menunggu di dekatnya.[320] Semua pasukan Antonius di dekatnya di darat menyerah kepada Octavianus setelah awalnya mencoba mundur melalui Makedonia.[321][al] Berbagai penguasa klien yang memihak Antonius kini juga membelot ke Octavianus,[323] seperti Herodes yang Agung dari Yudea, yang bertemu Octavianus di Rhodes dan membantu memasok pasukan Octavianus di Ptolemais di Fenisia selama perjalanan mereka ke Mesir.[324] Octavianus kemudian mendirikan sebuah kota baru—Nikopolis ('kota kemenangan')—di dekat lokasi pertempuran di Actium, di mana permainan digelar setiap empat tahun untuk menghormati kemenangannya.[325]

Setahun kemudian, Octavianus mengalahkan pasukan mereka di Aleksandria pada 1 Agustus 30 SM—setelah itu Antonius dan Kleopatra bunuh diri.[326] Antonius menjatuhkan diri pada pedangnya sendiri dan diduga dibawa oleh tentaranya kembali ke makam Kleopatra di mana ia meninggal dalam pelukannya.[327] Setelah bertemu dengan Octavianus dan menolak untuk diarak dalam sebuah triumph di Roma,[328] Kleopatra bunuh diri dengan racun, bertentangan dengan kepercayaan populer bahwa ia digigit oleh seekor ular asp.[329] Octavianus telah memanfaatkan posisinya sebagai ahli waris Caesar untuk memajukan karier politiknya sendiri, dan ia sangat menyadari bahaya membiarkan orang lain melakukan hal yang sama.[330] Ia mengikuti nasihat filsuf Yunani Arius Didymus bahwa hanya ada ruang di dunia untuk satu Caesar,[331] dan oleh karena itu memerintahkan Caesarion untuk dibunuh.[332] Ia juga memerintahkan putra Antonius, Marcus Antonius Antyllus dibunuh,[333] namun mengampuni Iullus Antonius dan anak-anak Kleopatra yang diperanakkan oleh Antonius. [334] Octavianus sebelumnya menunjukkan sedikit belas kasihan kepada musuh yang menyerah dan bertindak dengan cara yang terbukti tidak populer di mata rakyat Romawi, namun ia mengampuni banyak lawannya setelah Pertempuran Actium.[330] Ia juga memastikan bahwa Kleopatra dimakamkan dengan layak di samping Antonius di makam mereka.[335] Setelah Octavia mengatur pernikahan putri Kleopatra Cleopatra Selene II dengan Juba II dari Numidia, Kaisar Augustus menunjuk pasangan ini sebagai penguasa bersama yang baru di Mauretania pada 25 SM.[336]

Penguasa tunggal Roma

[sunting | sunting sumber]
Image
Augustus sebagai Firaun Romawi dalam ukiran batu bergaya Mesir di Kuil Kalabsha di Nubia; Augustus sering digambarkan dalam seni Mesir sedang melakukan pengorbanan kepada dewa-dewi Mesir.[337]

Kendali atas Mesir

[sunting | sunting sumber]

Penaklukan Mesir Ptolemaik meringankan utang finansial yang ditanggung Octavianus selama perang saudara.[338] Ia mengendalikan Mesir Romawi secara langsung, melarang para Senator Romawi bepergian ke sana, dan menunjuk gubernur dari golongan equites Cornelius Gallus untuk mengawasi administrasinya dan perpajakan yang sangat menguntungkan.[339] Saat berada di Aleksandria pada 30 SM, Octavianus mengunjungi makam Aleksander Agung, raja penakluk yang ia tiru dan ia asosiasikan dengan dirinya melalui potret artistik yang serupa.[340][am] Penaklukan Octavianus atas Mesir Ptolemaik mengakhiri Periode Helenistik yang diprakarsai oleh Aleksander.[341] Hal ini juga memicu pembentukan budaya Timur Yunani dan Barat Latin di Mediterania dan jenis monarki universal kosmopolitan yang didukung oleh Aleksander, walaupun kini berpusat di Roma. [342]

Octavianus kelak menjadi kaisar Romawi pertama sebagai Augustus dan juga firaun Romawi pertama di Mesir, meskipun ia tidak mengikuti ritus penobatan Mesir atau pemujaan terhadap Banteng Apis,[343] dan ia tidak pernah bepergian ke Mesir lagi setelah 30 SM.[344][an] Sebelum kembali ke Roma, Octavianus menghabiskan musim dingin tahun 30 SM di pulau Yunani Samos.[347] Pada Agustus 29 SM, Octavianus dianugerahi tiga triumph (parade kemenangan) di Roma atas kemenangan masing-masing di Illyria, Yunani, dan Mesir.[348] Octavianus dan Agrippa terpilih sebagai konsul untuk tahun 28 SM,[349] yang diberi kekuasaan tertentu sensor tetapi bukan jabatannya itu sendiri, yakni untuk tugas melakukan sensus Roma.[350]

Principatus

[sunting | sunting sumber]
Image
Lukisan fresko di dalam Rumah Augustus, yang diduga namun belum diverifikasi sebagai kediamannya di Bukit Palatine selama masa pemerintahannya sebagai kaisar[351]

Pasca-Actium dan kekalahan Antonius serta Kleopatra, Octavianus berada dalam posisi untuk memerintah seluruh republik di bawah principatus tidak resmi—dengan dirinya sebagai princeps ('warga negara terkemuka'[352][ao])—yang dicapainya melalui peningkatan kekuasaan secara bertahap.[358] Ia melakukannya dengan mengambil hati Senat dan rakyat sembari menjunjung tinggi tradisi republik Roma, mempertahankan penampilan yang dikurasi dengan cermat bahwa ia tidak bercita-cita menjadi diktator atau monarki.[359] Istilah princeps sebelumnya diterapkan pada anggota bangsawan Romawi yang membedakan diri mereka dalam pengabdian kepada Republik, dan Octavianus mengadopsi gelar ini sebagai bagian dari citra yang ia bangun sebagai pemulih Republik.[360]

Bertahun-tahun perang saudara telah membuat Roma berada dalam keadaan nyaris tanpa hukum,[361] namun republik tidak siap menerima kendali Octavianus sebagai seorang despot. Pada saat yang sama, Octavianus tidak dapat melepaskan kekuasaannya tanpa memicu risiko perang saudara lebih lanjut.[362] Senat dan rakyat Roma menginginkan kembalinya stabilitas, legalitas tradisional, kesopanan, dan jaminan akan pemilihan umum bebas, yang setidaknya secara nama akan dilaksanakan di bawah Octavianus, yang akan segera menjadi princeps Augustus. [363][ap]

Sejarawan Adrian Goldsworthy menekankan bahwa Augustus tidak memiliki rancangan yang direncanakan dengan cermat dalam membentuk rezim principatus ini, yang sama sekali tidak terelakkan, dan sangat bergantung pada kebetulan, eksperimen, improvisasi, dan coba-coba (trial-by-error).[365] Dalam karyanya "Caesar Augustus: A Call to Order", sejarawan T. P. Wiseman berpendapat bahwa, mengingat penerimaan yang sangat positif terhadap Augustus dalam sumber-sumber Romawi kontemporer, Augustus tidak boleh dipandang sebagai perebut kekuasaan yang melanggar hukum yang menutupi niat monarki atau keinginan otokratisnya.[366] Southern menduga bahwa Octavianus setidaknya perlu menjaga penampilan terikat oleh batas masa jabatan untuk jabatan konsul dan jabatan lainnya: "Octavianus mungkin mengingat dengan sangat jelas bahwa Caesar tidak bertahan lebih dari beberapa minggu setelah menerima penunjukan sebagai dictator perpetuo".[367]

Kesepakatan pertama

[sunting | sunting sumber]

Pada 13 Januari 27 SM, Octavianus membuat pertunjukan dengan mengembalikan kekuasaan penuh kepada Senat dan melepaskan kendalinya atas provinsi-provinsi Romawi beserta tentaranya.[368] Namun, di bawah jabatan konsulnya, Senat memiliki sedikit kekuasaan dalam memprakarsai legislasi melalui pengajuan rancangan undang-undang untuk diperdebatkan di senat. Octavianus tidak lagi memegang kendali langsung atas provinsi-provinsi dan tentaranya, namun ia tetap mempertahankan loyalitas para prajurit aktif maupun veteran. Karier banyak klien dan pengikut bergantung pada patronasenya, karena kekuatan finansialnya tak tertandingi di Republik Romawi.[369] Sejarawan Werner Eck dan Sarolta Takács menyatakan bahwa:

Jumlah kekuasaannya pertama-tama berasal dari berbagai wewenang jabatan yang didelegasikan kepadanya oleh Senat dan rakyat, kedua dari kekayaan pribadi yang sangat besar, dan ketiga dari banyaknya hubungan patron-klien yang ia bangun dengan individu dan kelompok di seluruh Kekaisaran. Semua itu jika digabungkan membentuk dasar dari auctoritas-nya, yang ia sendiri tekankan sebagai fondasi tindakan politiknya.[370]

Sebagian besar masyarakat menyadari sumber daya keuangan sangat besar yang dikuasai Octavianus. Ia gagal mendorong cukup banyak senator untuk membiayai pembangunan dan pemeliharaan jaringan jalan di Italia pada 20 SM, namun ia memikul tanggung jawab langsung atas proyek tersebut. Hal ini dipublikasikan pada mata uang Romawi yang diterbitkan pada 16 SM, setelah ia menyumbangkan uang dalam jumlah besar ke aerarium Saturni, perbendaharaan publik.[371]

Image
Octavianus sebagai seorang magistrat. Kepala marmer patung ini dibuat ca30–20 SM, tubuhnya dipahat pada abad ke-2 M (Louvre, Paris)

Akan tetapi, menurut sejarawan H. H. Scullard, kekuasaan Octavianus didasarkan pada penggunaan "kekuatan militer yang dominan dan... sanksi tertinggi dari otoritasnya adalah kekuatan, betapapun fakta itu disamarkan".[372] Senat mengusulkan kepada Octavianus, sang pemenang perang saudara Roma, agar ia sekali lagi memegang komando atas provinsi-provinsi. Usulan Senat tersebut merupakan ratifikasi atas kekuasaan ekstra-konstitusional Octavianus. Melalui Senat, Octavianus mampu melanjutkan penampilan konstitusi yang seolah masih berfungsi. Berpura-pura enggan, pada 16 Januari 27 SM ia menerima tanggung jawab selama sepuluh tahun untuk mengawasi provinsi-provinsi yang dianggap kacau.[373] Provinsi-provinsi yang diserahkan kepada Augustus selama periode sepuluh tahun tersebut mencakup sebagian besar dunia Romawi yang telah ditaklukkan, termasuk seluruh Hispania dan Galia, Suriah, Kilikia, Siprus, dan Mesir.[374] Terlebih lagi, komando atas provinsi-provinsi ini memberi Octavianus kendali atas mayoritas legiun Roma.[375]

Octavianus menjadi tokoh politik paling kuat di kota Roma dan di sebagian besar provinsinya, namun ia tidak memonopoli kekuasaan politik dan militer.[376] Senat masih mengendalikan Afrika Utara, penghasil gandum regional yang penting, serta Illyria dan Makedonia, dua wilayah strategis dengan beberapa legiun.[377] Namun, Senat hanya mengendalikan lima atau enam legiun yang didistribusikan di antara tiga prokonsul senatorial, dibandingkan dengan dua puluh legiun di bawah kendali Octavianus, dan kendali mereka atas wilayah-wilayah ini tidak memberikan tantangan politik atau militer apa pun bagi Octavianus.[378] Kendali Senat atas beberapa provinsi Romawi membantu mempertahankan fasad republik bagi principatus yang otokratis.[379]

Sementara Octavianus bertindak sebagai konsul di Roma, ia mengirim para senator ke provinsi-provinsi di bawah komandonya sebagai perwakilannya untuk mengelola urusan provinsi dan memastikan perintahnya dilaksanakan. Provinsi-provinsi yang tidak berada di bawah kendali Octavianus diawasi oleh gubernur yang dipilih oleh Senat.[380] Namun, berdasarkan imperium maius-nya, Augustus yang berkuasa di kemudian hari mengeluarkan instruksi dan dekrit tidak hanya kepada legatusnya sendiri tetapi juga kepada prokonsul independen yang memerintah provinsi publik yang secara nominal berada di bawah kendali senatorial.[381] Kendali Octavianus atas keseluruhan provinsi bahkan mengikuti preseden era Republik untuk tujuan terbatas mengamankan perdamaian dan menciptakan stabilitas. Sebagai contoh, Pompeius pernah diberi tingkat komando serupa di seluruh dunia Romawi.[382] Pompeius diberi batas waktu untuk otoritas prokonsuler luar biasa yang mencakup para legatus yang bertanggung jawab kepadanya, bukan kepada Senat, selama kampanyenya melawan bajak laut Mediterania pada 67 SM dan Perang Mithridates Ketiga berikutnya melawan Mithridates VI dari Pontus.[383]

Perubahan menjadi Augustus

[sunting | sunting sumber]
Image
Aureus dicetak ca13 M, bertanda: Caesar Augustus Divi F Pater Patriae

Pada 16 Januari 27 SM[388] Senat memberikan Octavianus gelar baru augustus.[389][aq] Augustus, dari bahasa Latin augere 'meningkatkan',[393] dapat diterjemahkan sebagai "yang termasyhur",[394] "luhur",[395] atau "yang dimuliakan".[396][ar] Itu adalah gelar otoritas keagamaan alih-alih politik, dan itu menunjukkan bahwa Octavianus kini mendekati keilahian.[399] Namanya, Augustus, juga lebih disukai daripada Romulus, nama sebelumnya yang ia gayakan untuk dirinya sendiri yang merujuk pada kisah pendiri legendaris Roma, yang melambangkan pendirian kedua Roma.[400] Gelar Romulus diasosiasikan terlalu kuat dengan gagasan monarki dan kerajaan, sebuah citra yang coba dihindari Octavianus.[400] Senat juga mengukuhkan posisinya sebagai princeps senatus ('pemimpin Senat'), anggota Senat dengan preseden tertinggi.[401] Gelar kehormatan augustus diwarisi oleh kaisar-kaisar Romawi masa depan, menjadi gelar utama de facto kaisar,[402] dan pada akhir abad ke-2 menjadi gelar kaisar senior, sedangkan mitra juniornya diberi gelar Caesar.[403]

Augustus menggayakan dirinya sebagai Imperator Caesar divi filius ('Panglima Caesar putra dari yang didewakan').[404][as] Dengan gelar ini, ia membanggakan hubungan kekeluargaannya dengan Julius Caesar yang didewakan, dan penggunaan imperator menandakan hubungan permanen dengan tradisi kemenangan Romawi.[405][at] Ia mengubah Caesar, sebuah cognomen untuk satu cabang keluarga Julia, menjadi garis keturunan keluarga baru yang dimulai darinya.[405]

Image
Lengkungan Augustus di Rimini (Ariminum), didedikasikan untuk Augustus oleh Senat pada 27 SM, adalah salah satu pelengkung kemenangan tertua yang terpelihara di Italia.[406]

Augustus diberi hak untuk menggantung corona civica ('mahkota sipil') di atas pintunya dan menghiasi tiang pintunya dengan daun salam.[377] Namun, ia menolak memamerkan lambang kekuasaan seperti memegang tongkat kerajaan, mengenakan diadem, atau mengenakan mahkota emas dan toga ungu pendahulunya Julius Caesar.[407] Jika ia menolak untuk menyimbolkan kekuasaannya dengan mengenakan dan membawa barang-barang ini pada dirinya, Senat tetap menganugerahinya dengan perisai emas yang dipajang di ruang pertemuan Curia, bertuliskan virtus, pietas, clementia, iustitia ('keberanian, kesalehan, pengampunan, dan keadilan').[408] Augustus juga tidak merasa perlu tinggal di Roma untuk mempertahankan kekuasaan dan hak istimewa ini. Sebagai contoh, ia berangkat ke Galia pada musim panas 27 SM,[409] dan dari tahun 26 hingga 24 SM memerintah Kekaisaran dari Tarraco di Hispania Romawi, mengawasi kampanye militer di semenanjung Iberia hingga ia kembali ke Roma.[410]

Kesepakatan kedua

[sunting | sunting sumber]
Image
Potret Augustus menampilkan sang kaisar dengan fitur wajah yang diidealkan.

Menjelang 23 SM, beberapa implikasi non-republik mulai tampak jelas terkait kesepakatan tahun 27 SM. Tindakan Augustus mempertahankan jabatan konsul tahunan menarik perhatian pada dominasi de facto-nya atas sistem politik Romawi dan memangkas separuh kesempatan bagi orang lain untuk mencapai apa yang secara nominal masih merupakan posisi tertinggi di negara Romawi.[411] Lebih jauh lagi, ia menimbulkan masalah politik karena keinginannya agar keponakannya, Marcus Claudius Marcellus, mengikuti jejaknya dan pada akhirnya mengambil alih principatus pada gilirannya,[412][au] yang mengasingkan tiga pendukung terbesarnya: Agrippa, Maecenas, dan Livia.[413] Ia menunjuk seorang republikan ternama, Calpurnius Piso (yang pernah bertempur melawan Julius Caesar dan mendukung Cassius serta Brutus[414]) sebagai rekan konsul pada 23 SM, setelah pilihan awalnya Aulus Terentius Varro Murena meninggal secara tak terduga.[415]

Pengunduran diri dari jabatan konsul

[sunting | sunting sumber]

Pada akhir musim semi, Augustus menderita sakit parah dan di ranjang kematiannya membuat pengaturan yang akan memastikan kelangsungan principatus dalam bentuk tertentu,[416] sembari meredakan kecurigaan para senator akan sikap anti-republiknya. Augustus bersiap untuk menyerahkan cincin meteraianya kepada jenderal favoritnya, Agrippa. Namun, Augustus menyerahkan seluruh dokumen resminya, laporan keuangan publik, dan wewenang atas pasukan yang terdaftar di provinsi-provinsi kepada rekan konsulnya, Piso, sementara keponakan yang konon disukai Augustus, Marcellus, pulang dengan tangan hampa.[417] Hal ini mengejutkan banyak orang yang percaya bahwa Augustus akan menunjuk seorang ahli waris untuk posisinya sebagai kaisar tidak resmi.[418]

Augustus hanya mewariskan properti dan harta benda kepada ahli waris yang ditunjuknya, karena sistem pewarisan kekaisaran yang dilembagakan secara jelas akan memicu perlawanan dan permusuhan di kalangan orang Romawi yang berjiwa republik dan takut akan monarki.[419] Terkait dengan principatus, tampak jelas bagi Augustus bahwa Marcellus belum siap untuk mengambil alih posisinya.[420] Meskipun demikian, dengan memberikan cincin meteraianya kepada Agrippa, Augustus bermaksud memberi isyarat kepada legiun bahwa Agrippa akan menjadi penerusnya dan bahwa mereka harus terus mematuhi Agrippa, terlepas dari prosedur konstitusional.[421]

Image
Kameo Blacas yang memperlihatkan Augustus mengenakan gorgoneion pada kameo sardoniks tiga lapis, dan mengenakan diadem yang ditambahkan selama Abad Pertengahan,[422] dan karya seni asli bertarikh 20–50 M

Segera setelah serangan penyakitnya mereda, Augustus melepaskan jabatan konsulnya. Satu-satunya masa lain di mana Augustus menjabat sebagai konsul adalah pada tahun 5 dan 2 SM,[423] kedua kesempatan tersebut untuk memperkenalkan cucu-cucunya ke dalam kehidupan publik.[414] Ini adalah siasat cerdik Augustus; berhenti menjabat sebagai salah satu dari dua konsul yang dipilih setiap tahun memberi peluang lebih baik bagi senator yang berambisi untuk mencapai posisi konsuler, sekaligus memungkinkan Augustus untuk menjalankan patronase yang lebih luas di dalam kelas senatorial.[424] Meskipun Augustus telah mengundurkan diri sebagai konsul, ia berhasrat untuk mempertahankan imperium konsulernya tidak hanya di provinsi-provinsinya tetapi di seluruh kekaisaran. Keinginan ini, serta peristiwa Marcus Primus, menyebabkan kompromi kedua antara dirinya dan Senat yang dikenal sebagai kesepakatan kedua.[425]

Peristiwa Marcus Primus

[sunting | sunting sumber]

Setelah Augustus melepaskan jabatan konsul tahunan, ia tidak lagi berada dalam posisi resmi untuk memerintah negara. Namun, posisi dominannya tetap tidak berubah atas provinsi-provinsi 'kekaisaran' di mana ia masih menjadi prokonsul.[426] Ketika ia menjabat sebagai konsul setiap tahunnya, ia memiliki kekuasaan untuk mengintervensi urusan prokonsul provinsi lain yang ditunjuk oleh Senat di seluruh kekaisaran, apabila ia anggap perlu.[427]

Masalah kedua kemudian muncul yang menunjukkan perlunya kesepakatan kedua dalam apa yang dikenal sebagai "peristiwa Marcus Primus".[428] Pada akhir 24 atau awal 23 SM, tuduhan diajukan terhadap Marcus Primus, mantan prokonsul (gubernur) Makedonia, karena mengobarkan perang tanpa persetujuan sebelumnya dari Senat terhadap kerajaan Odrysia di Trakia, yang rajanya adalah sekutu Romawi. [429] Ia dibela oleh Lucius Licinius Varro Murena yang mengatakan dalam persidangan bahwa kliennya telah menerima instruksi khusus dari Augustus yang memerintahkannya untuk menyerang negara klien tersebut.[430] Kemudian, Primus bersaksi bahwa perintah itu datang dari Marcellus yang baru saja meninggal.[431] Perintah semacam itu, jika benar diberikan, akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak prerogatif Senat berdasarkan kesepakatan tahun 27 SM dan setelahnya—yaitu, sebelum Augustus dianugerahi imperium proconsulare maius—mengingat Makedonia adalah provinsi senatorial di bawah yurisdiksi Senat, bukan provinsi kekaisaran di bawah otoritas Augustus. Tindakan semacam itu akan merobek lapisan luar restorasi republik yang dipromosikan oleh Augustus, dan mengungkap penipuan bahwa ia hanyalah warga negara pertama, yang pertama di antara yang sederajat.[432] Lebih buruk lagi, keterlibatan Marcellus memberikan bukti bahwa kebijakan Augustus adalah menjadikan pemuda itu mengambil tempatnya sebagai princeps, melembagakan suatu bentuk monarki—tuduhan yang sudah sering dilontarkan.[420]

Image
Augustus sebagai Jupiter, memegang tongkat kerajaan dan bola dunia (paruh pertama abad ke-1 M)

Situasinya begitu serius hingga Augustus hadir di persidangan meskipun ia tidak dipanggil sebagai saksi. Di bawah sumpah, Augustus menyatakan bahwa ia tidak memberikan perintah seperti itu.[433] Murena tidak mempercayai kesaksian Augustus dan membenci upayanya untuk mengacaukan persidangan dengan menggunakan auctoritas-nya. Ia dengan kasar menuntut untuk mengetahui mengapa Augustus muncul di persidangan padahal ia tidak dipanggil; Augustus menjawab bahwa ia datang demi kepentingan publik.[434] Meskipun Primus dinyatakan bersalah, beberapa juri memberikan suara untuk membebaskannya, yang berarti tidak semua orang mempercayai kesaksian Augustus, sebuah penghinaan bagi 'Sang Agung'.[435]

Otoritas prokonsuler yang lebih besar

[sunting | sunting sumber]

Kesepakatan kedua diselesaikan sebagian untuk meredakan kebingungan dan memformalkan otoritas hukum Augustus untuk mengintervensi di provinsi-provinsi senatorial. Senat memberikan Augustus suatu bentuk imperium proconsulare ('kekuasaan prokonsuler') umum yang berlaku di seluruh kekaisaran, tidak hanya di provinsi-provinsinya. Selain itu, Senat meningkatkan imperium prokonsuler Augustus menjadi imperium proconsulare maius ('kekuasaan prokonsuler yang lebih besar'). Bentuk imperium prokonsuler ini berlaku di seluruh kekaisaran dan pada dasarnya memberi Augustus kekuasaan konstitusional yang lebih tinggi daripada semua prokonsul lainnya. [425] Augustus tetap tinggal di Roma selama proses pembaruan dan memberikan sumbangan mewah kepada para veteran untuk mendapatkan dukungan mereka, sehingga memastikan status proconsular imperium maius-nya diperbarui pada 13 SM.[436]

Kekuasaan tambahan

[sunting | sunting sumber]
Image
Potret Augustus. Kameo sardoniks; dudukan perak berlapis emas dengan mutiara, safir, dan manik-manik kaca merah, abad ke-16/17.
Image
Kepala patung Via Labicana Augustus yang menggambarkan sang kaisar sebagai pontifex maximus, karya seni Romawi dari periode Augustus akhir, dekade terakhir abad ke-1 SM

Kekuasaan tribunus

[sunting | sunting sumber]

Selama kesepakatan kedua, Augustus juga dianugerahi kekuasaan seorang tribunus (tribunicia potestas) seumur hidup, meskipun bukan gelar resmi tribunus.[437] Selama beberapa tahun, Augustus telah dianugerahi tribunicia sacrosanctitas, yakni kekebalan yang diberikan kepada seorang tribunus plebis. Sekarang ia memutuskan untuk mengambil kekuasaan penuh jabatan magistrat tersebut, yang diperbarui setiap tahun, untuk selamanya.[438] Secara hukum, jabatan ini tertutup bagi kaum patrisian, status yang diperoleh Augustus beberapa tahun sebelumnya ketika diadopsi oleh Julius Caesar.[424] Kekuasaan ini mengizinkannya untuk memanggil Senat dan rakyat sesuai kehendaknya dan mengajukan urusan di hadapan mereka, memveto tindakan Majelis maupun Senat, memimpin pemilihan umum, dan berbicara pertama kali pada setiap pertemuan.[439] Juga termasuk dalam otoritas tribunus Augustus adalah kekuasaan yang biasanya dikhususkan untuk sensor Romawi; ini mencakup hak untuk mengawasi moral publik dan meneliti undang-undang guna memastikan bahwa aturan tersebut demi kepentingan umum, serta kemampuan untuk mengadakan sensus dan menentukan keanggotaan Senat.[440]

Kekuasaan sensor

[sunting | sunting sumber]

Dengan kekuasaan seorang sensor, Augustus menyerukan nilai-nilai patriotisme Romawi dengan melarang semua pakaian kecuali toga klasik saat memasuki Forum.[441] Tidak ada preseden dalam sistem Romawi untuk menggabungkan kekuasaan tribunus dan sensor ke dalam satu posisi, dan Augustus juga tidak pernah terpilih untuk jabatan sensor.[442] Julius Caesar pernah diberi kekuasaan serupa, di mana ia ditugaskan untuk mengawasi moral negara. Namun, posisi ini tidak meluas hingga kemampuan sensor untuk mengadakan sensus dan menentukan daftar anggota Senat. Jabatan tribunus plebis mulai kehilangan gengsinya karena penumpukan kekuasaan tribunus pada Augustus, sehingga ia memulihkan kembali pentingnya jabatan tersebut dengan menjadikannya penunjukan wajib bagi setiap plebeian yang menginginkan jabatan praetor.[443]

Imperium atas kota Roma

[sunting | sunting sumber]

Augustus diberi imperium tunggal di dalam kota Roma selain juga diberi imperium maius prokonsuler dan otoritas tribunus seumur hidup.[444] Secara tradisional, prokonsul (gubernur provinsi Romawi) kehilangan imperium prokonsuler mereka ketika melintasi Pomerium—batas suci Roma—dan memasuki kota. Dalam situasi ini, Augustus akan memiliki kekuasaan sebagai bagian dari otoritas tribunusnya, namun imperium konstitusionalnya di dalam Pomerium akan lebih rendah daripada konsul yang sedang menjabat, yang berarti bahwa ketika ia berada di kota, ia mungkin bukan magistrat konstitusional dengan otoritas tertinggi. Berkat prestise atau auctoritas-nya, keinginannya biasanya akan dipatuhi, namun mungkin akan ada beberapa kesulitan. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan ini, Senat memutuskan bahwa imperium proconsulare maius (kekuasaan prokonsuler superior) Augustus tidak boleh kadaluwarsa ketika ia berada di dalam tembok kota. Semua angkatan bersenjata di kota yang sebelumnya berada di bawah kendali praetor urbanus dan konsul, kini ditempatkan di bawah otoritas tunggal Augustus.[445]

Triumph Romawi

[sunting | sunting sumber]

Penghargaan diberikan kepada Augustus untuk setiap kemenangan militer Romawi setelah kesepakatan kedua,[446] karena mayoritas tentara Roma ditempatkan di provinsi kekaisaran yang dikomandoi oleh Augustus melalui legatus yang merupakan wakil princeps di provinsi-provinsi tersebut.[447] Lebih jauh lagi, jika pertempuran terjadi di provinsi senatorial, imperium maius prokonsuler Augustus mengizinkannya untuk mengambil alih komando (atau penghargaan) atas kemenangan militer besar apa pun.[448] Dengan sedikit pengecualian, Augustus adalah satu-satunya individu yang dapat menerima triumph,[449] sebuah tradisi yang dimulai oleh Romulus, raja pertama Roma dan jenderal pertama yang merayakan triumph. [447] Licinius Crassus (cucu dari sang triumvir) dianugerahi triumph atas kemenangannya di Trakia melawan suku Jermanik Bastarnae pada 29–27 SM, namun ditolak untuk mendapatkan kehormatan tradisional lainnya.[446] Karena merayakan kemenangannya melawan suku Garamantes di Libya Romawi pada 19 SM, Cornelius Balbus adalah orang terakhir di luar keluarga Augustus yang menerima triumph.[450] Agrippa dianugerahi triumph atas kemenangannya di Spanyol pada 19 SM namun ia menolak untuk merayakannya.[451][av] Tiberius, anak tiri tertua Augustus dari Livia, menerima triumph pada 7 SM atas kemenangannya di Germania pada 8 SM,[453] dan sekali lagi atas kemenangan di Illyria (Pannonia) pada 9 M,[454] yang dirayakan pada 12 M.[455] Untuk kampanye tersebut, rekan komandannya Germanicus Julius Caesar justru dianugerahi ornamenta triumphalia ('tanda kehormatan triumph'), jabatan praetor, dan kemampuan untuk menjadi kandidat konsul meskipun usianya masih muda.[454]

Diplomasi

[sunting | sunting sumber]

Augustus menerima utusan dari tempat sejauh India,[456] dan istananya menampung orang-orang buangan politik dari tempat sejauh utara Kepulauan Britania dengan kepala suku Dubnovellaunus dan Tincomarus.[457][aw] Kedutaan asing biasanya datang kepada Augustus secara langsung alih-alih kepada Senat,[459] meskipun Augustus berhati-hati untuk menunjukkan rasa hormat kepada Senat dalam kasus-kasus tertentu. Sebagai contoh, ketika bangsa Parthia mengirim duta besar kepada Augustus pada 20 SM, ia merujuk mereka ke Senat, namun Senat mengirim mereka kembali kepada Augustus agar mereka dapat bernegosiasi semata-mata dengannya.[460] Petisi kepada Augustus dari provinsi dan kotamadya semi-otonom ditangani serupa dengan kedutaan negara klien Romawi dan negara asing, yang bepergian ke istana kaisar saat pemerintahannya berpindah ke lokasi berbeda di seluruh Kekaisaran.[461] Pada tahun 8 M, Augustus yang sudah lanjut usia menyerahkan pekerjaan melelahkan dalam mengelola kedutaan asing kepada tiga mantan konsul, memberi mereka kekuasaan untuk membuat semua keputusan yang tidak memerlukan perdebatan serius di Senat atau pengawasan oleh kaisar.[462]

Konspirasi, gelar, dan pembagian kekuasaan

[sunting | sunting sumber]
Image
Sebuah patung kolosal Augustus dari Augusteum di Herculaneum, dalam posisi duduk dan mengenakan mahkota laurel

Kelangkaan pangan di Roma pada tahun 22 SM memicu kepanikan yang meluas, di mana banyak kaum pleb perkotaan mendesak Augustus untuk mengambil kekuasaan diktatorial guna menangani krisis tersebut secara pribadi. Setelah pertunjukan penolakan yang teatrikal di hadapan Senat, Augustus akhirnya menerima wewenang atas pasokan gandum Roma melalui penggunaan imperium prokonsulernya yang sudah ada, dan mengakhiri krisis tersebut dengan segera.[436] Baru pada tahun 8 M, krisis pangan semacam ini mendorong Augustus untuk menetapkan seorang praefectus annonae, prefek permanen yang bertugas mengadakan pasokan pangan bagi Roma.[463]

Ada beberapa pihak yang prihatin dengan perluasan kekuasaan yang diberikan kepada Augustus melalui kesepakatan kedua, dan hal ini memuncak dengan munculnya konspirasi Fannius Caepio.[428] Beberapa waktu sebelum 1 September 22 SM, seseorang bernama Castricius memberi Augustus informasi mengenai konspirasi yang dipimpin oleh Fannius Caepio.[464] Murena, konsul blak-blakan yang membela Primus dalam peristiwa Marcus Primus, disebut-sebut sebagai salah satu konspirator. Para konspirator diadili secara in absentia dengan Tiberius bertindak sebagai jaksa penuntut; juri menyatakan mereka bersalah, namun itu bukanlah putusan yang bulat.[465] Semua terdakwa dijatuhi hukuman mati karena pengkhianatan dan dieksekusi segera setelah mereka ditangkap—tanpa pernah memberikan kesaksian untuk pembelaan diri mereka.[466] Augustus memastikan bahwa fasad pemerintahan Republik terus berlanjut dengan menutup-nutupi peristiwa tersebut secara efektif.[467]

Pada 19 SM, Senat memberikan Augustus bentuk imperium konsuler umum, yang kemungkinan adalah imperium consulare maius, seperti kekuasaan prokonsuler yang ia terima pada 23 SM. Seperti otoritas tribunusnya, kekuasaan konsuler adalah contoh lain dari perolehan kekuasaan dari jabatan yang sebenarnya tidak ia pegang.[468] Selain itu, Augustus diizinkan mengenakan lambang konsul di depan umum dan di hadapan Senat,[445] serta duduk di kursi simbolis di antara kedua konsul dan memegang fasces, lambang otoritas konsuler.[469] Hal ini tampaknya menenangkan rakyat; terlepas dari apakah Augustus adalah seorang konsul atau bukan, yang penting adalah ia tampil sebagai konsul di hadapan rakyat dan dapat menjalankan kekuasaan konsuler jika diperlukan. Pada 6 Maret 12 SM, setelah kematian Lepidus, ia juga mengambil alih posisi pontifex maximus, imam besar dari kolegium pontifex, posisi paling penting dalam agama Romawi.[470][ax] Pada 5 Februari 2 SM, Augustus juga diberi gelar pater patriae ('bapak tanah air'), yang kemudian dituliskan di berbagai tempat di Roma seperti di ruang Senat di Forum Romanum.[473]

Image
Patung dada Augustus mengenakan Mahkota Sipil, di Glyptothek, München

Dalam hal stabilitas konstitusional principatus, sejarawan Ronald Syme menulis bahwa jika Augustus meninggal karena sebab alami atau menjadi korban pembunuhan, Roma dapat mengalami putaran perang saudara lainnya, mengingat memori publik akan Pharsalus, Ides of March, proskripsi, Philippi, dan Actium.[474] Kemungkinan selama dekade 20-an SM dan pastinya menjelang 18 SM,[475] imperium prokonsuler dianugerahkan kepada Agrippa selama lima tahun, serupa dengan kekuasaan Augustus, demi mencapai stabilitas konstitusional ini. Sifat pasti dari pemberian tersebut tidak pasti namun kemungkinan mencakup provinsi-provinsi kekaisaran Augustus, timur dan barat, mungkin tanpa otoritas atas provinsi-provinsi Senat.[476] Seperti Augustus, Agrippa juga dianugerahi kekuasaan tribunat.[477]

Perang dan ekspansi

[sunting | sunting sumber]

Menjelang 13 M, Augustus membanggakan 21 peristiwa di mana pasukannya memproklamirkannya sebagai imperator setelah pertempuran yang sukses.[478] Hampir seluruh bab keempat dalam memoar pencapaiannya yang dirilis untuk publik, yang dikenal sebagai Res Gestae, didedikasikan untuk kemenangan militer dan kehormatannya.[479] Augustus juga mempromosikan cita-cita peradaban Romawi yang unggul dengan tugas memerintah dunia (sejauh yang diketahui orang Romawi), sebuah sentimen yang diwujudkan dalam kata-kata yang dikaitkan oleh penyair kontemporer Virgil kepada leluhur legendaris Augustus: tu regere imperio populos, Romane, memento ('Wahai orang Romawi, ingatlah untuk memerintah bangsa-bangsa di Bumi dengan wibawa!').[441] Dorongan untuk ekspansionisme tampaknya menonjol di semua kelas di Roma, dan hal ini diberikan sanksi ilahi oleh Jupiter dalam Buku 1 Aeneid karya Virgil, di mana Jupiter menjanjikan Roma imperium sine fine ('kedaulatan tanpa akhir'). [480][ay]

Menjelang akhir masa pemerintahannya, tentara Augustus telah menaklukkan Hispania utara (Spanyol dan Portugal modern) dan wilayah Alpen di Raetia dan Noricum (Swiss, Bayern, Austria, Slovenia modern), Illyricum dan Pannonia (Albania, Kroasia, Hungaria, Serbia modern, dll.), serta telah memperluas perbatasan Africa Proconsularis ke arah timur dan selatan.[482] Yudea ditambahkan ke provinsi Suriah ketika Augustus menggulingkan Herodes Arkhelaus, penerus raja klien Herodes yang Agung.[483] Setelah Suriah diserahkan kepada Augustus oleh Senat pada 27 SM, wilayah itu awalnya diperintah oleh para legatus di bawah Agrippa,[484] dan kemudian oleh seorang prefek tinggi dari golongan equites, alih-alih oleh seorang prokonsul atau legatus Augustus (sangat mirip dengan Mesir setelah Antonius).[482] Pada 6 M, seorang gubernur equites juga ditunjuk di Sardinia setelah serangan bajak laut mengharuskan kehadiran pasukan yang ditempatkan di sana. [485]

Image
Patung dada Tiberius, seorang komandan militer sukses di bawah Augustus yang ditunjuk sebagai ahli waris dan penerusnya

Tidak ada upaya militer yang diperlukan pada 25 SM ketika Galatia (bagian dari Turki modern) diubah menjadi provinsi Romawi tak lama setelah Amyntas dari Galatia dibunuh oleh janda yang menuntut balas dari seorang pangeran Homonada yang terbunuh.[486] Suku-suku pemberontak Asturias dan Cantabria di Spanyol masa kini akhirnya ditumpas pada 19 SM oleh Agrippa, dan wilayah tersebut jatuh ke dalam provinsi Hispania dan Lusitania.[487] Wilayah ini terbukti menjadi aset utama dalam pendanaan kampanye militer masa depan Augustus, karena kaya akan deposit mineral yang dapat dikembangkan dalam proyek pertambangan Romawi, terutama deposit emas yang sangat kaya di Las Médulas. [488]

Menaklukkan masyarakat Alpen pada 15 SM setelah kekalahan telak Marcus Lollius pada 17/16 SM adalah kemenangan penting lainnya bagi Roma,[489][az] karena hal itu menyediakan penyangga wilayah yang besar antara warga Romawi di Italia dan musuh-musuh Roma di Germania di utara.[490] Horace mendedikasikan sebuah ode untuk kemenangan tersebut, sementara monumen Trofi Augustus dibangun di La Turbie dekat Monako untuk menghormati peristiwa itu.[491] Penaklukan wilayah Alpen juga melayani serangan berikutnya pada 12 SM, ketika Tiberius memulai serangan terhadap suku-suku Pannonia di Illyricum, dan saudaranya Nero Claudius Drusus bergerak melawan suku-suku Jermanik di Rhineland timur. Kedua kampanye tersebut sukses, karena pasukan Drusus mencapai Sungai Elbe pada 9 SM—meskipun ia meninggal tak lama kemudian akibat cedera yang diderita karena jatuh dari kudanya. [492] Tiberius bergegas dari Italia ke Jerman untuk melihat Drusus tepat sebelum ia meninggal,[493] dan mengawal jenazah saudaranya kembali ke Roma,[494] di mana ia dan Augustus memberikan pidato pemakaman (eulogi) untuk Drusus.[495] Setelah suku-suku Illyria memberontak di Illyricum pada 6 M, pemberontakan mereka ditumpas oleh pasukan di bawah pimpinan Tiberius dan Germanicus pada 9 M.[496] Ini adalah satu-satunya pemberontakan besar di dalam wilayah provinsi Romawi sejak Augustus menjadi kaisar, dan pada titik ini ia telah mengurangi jumlah tentara Romawi tetap dari sekitar 500.000 prajurit selama perang saudara menjadi 300.000 prajurit yang digunakan terutama untuk penaklukan asing.[497]

Untuk melindungi wilayah timur Roma dari Kekaisaran Parthia, Augustus mengandalkan negara-negara klien di timur untuk bertindak sebagai penyangga wilayah dan daerah yang dapat menggalang pasukan mereka sendiri untuk pertahanan. Demi memastikan keamanan sayap timur kekaisaran, Augustus menempatkan tentara Romawi di Suriah, sementara anak tirinya yang cakap, Tiberius, bernegosiasi dengan Parthia sebagai diplomat Roma untuk wilayah Timur.[498] Tiberius kemudian mengembalikan Tigranes V ke takhta Kerajaan Armenia pada 20 SM, secara pribadi menempatkan mahkota di kepalanya dan menggantikan saudaranya Artavasdes IV sebagai raja.[499]

Bisa dibilang pencapaian diplomatik terbesar Augustus adalah bernegosiasi dengan Phraates IV dari Parthia pada 20 SM untuk pengembalian panji-panji pertempuran yang hilang oleh Crassus dalam Pertempuran Carrhae, sebuah kemenangan simbolis dan pendorong moral yang besar bagi Roma.[500] Eck dan Takács mengklaim bahwa ini adalah kekecewaan besar bagi orang Romawi yang ingin membalas kekalahan Crassus dengan cara militer.[501] Namun, Augustus menggunakan pengembalian panji-panji tersebut sebagai propaganda yang melambangkan ketundukan Parthia kepada Roma. [502] Peristiwa itu dirayakan dalam seni seperti desain pelat dada pada patung Augustus dari Prima Porta dan dalam monumen seperti Kuil Mars Ultor ('Mars sang Penuntut Balas') yang dibangun untuk menampung panji-panji tersebut.[503] Setelah Phraates V dari Parthia berhasil memisahkan Armenia dari kendali Romawi, Augustus mengirim cucunya Gaius Caesar dengan pasukan ke Suriah pada 1 SM, melancarkan kampanye tekanan diplomatik yang pada 2 M meyakinkan Phraates V untuk menyerah pada tuntutan Romawi.[504]

Image
Der siegreich vordringende Hermann (Hermann yang Maju Menang), penggambaran Pertempuran Hutan Teutoburg, oleh Peter Janssen, 1873

Parthia menimbulkan ancaman bagi Roma di Asia Barat, namun kekhawatiran yang lebih mendesak adalah garis depan di sepanjang sungai Rhein dan Donau.[505] Sebelum pertempuran terakhir dengan Antonius, kampanye Octavianus melawan suku-suku di Dalmatia adalah langkah pertama dalam memperluas kekuasaan Romawi ke Donau.[506] Kemenangan dalam pertempuran tidak selalu merupakan kesuksesan permanen, karena wilayah yang baru ditaklukkan terus-menerus direbut kembali oleh musuh-musuh Roma di Germania.[505] Contoh utama kekalahan Romawi dalam pertempuran adalah Pertempuran Hutan Teutoburg pada 9 M, di mana tiga legiun penuh yang dipimpin oleh Publius Quinctilius Varus dihancurkan oleh Arminius, pemimpin suku Cherusci, seorang warga negara Romawi dan sekutu Romawi yang tampak. [507] Augustus membalas dengan mengirim Tiberius dan Drusus ke Rhineland untuk menenangkannya pada 10 M dan 11 M, dan kampanye ini cukup berhasil.[508] Namun, Augustus menasihati Tiberius untuk tidak melakukan penaklukan lebih lanjut setelah kekalahan di Teutoburg,[509] dan Romawi menghentikan ekspansi ke Jerman di luar Rhein.[510] Augustus meratapi kekalahan tersebut,[511] namun hal itu diabaikan sepenuhnya dalam Res Gestae-nya, yang hanya menyatakan bahwa ia menenangkan Germania hingga ke muara Elbe.[512][ba] Di bawah penerus Augustus, Tiberius, jenderal Romawi Germanicus memanfaatkan perang saudara Cherusci antara Arminius dan Segestes; pada Pertempuran Idistaviso tahun 16 M, ia mengalahkan Arminius.[514]

Image
Muziris di Kerajaan Chera di India Selatan, sebagaimana ditunjukkan dalam Tabula Peutingeriana, dengan penggambaran kuil Augustus (Templum Augusti)

Roma juga mengalami kekalahan di selatan di Arabia Felix melawan Kerajaan Saba (di Yaman modern). Pada 26 SM Augustus memerintahkan Gaius Aelius Gallus, prefek Mesir, untuk menginvasi Arabia Selatan dengan pasukan Romawi yang didukung oleh pasukan tambahan Yahudi dan Arab Nabatea.[515] Mereka bertujuan menaklukkan kaum Saba atau memaksa mereka menerima status negara klien agar Roma dapat memperoleh bagian dari perdagangan yang menguntungkan dengan India.[516] Pasukan Romawi mengepung Marib, [517] namun mundur ke Hijaz (di bawah kendali sekutu Kerajaan Nabath) setelah kekurangan persediaan air.[518] Southern menyarankan bahwa kampanye ini mungkin merupakan bagian dari serangan dua arah yang gagal untuk mengapit Kekaisaran Parthia, mengingat bagaimana Augustus mendorong Tiridates II dari Parthia untuk menginvasi Mesopotamia dan merebut kembali takhtanya pada tahun yang sama.[519]

Gaius Petronius, yang menggantikan Aelius Gallus sebagai prefek Mesir, diperintahkan oleh Augustus untuk menginvasi Aethiopia,[520] setelah Ratu Amanirenas dari Kerajaan Kush (di Sudan modern) menginvasi Mesir Romawi pada 24 SM dan menjarah Aswan dan Philae.[521] Romawi melakukan serangan balik, menjarah Napata di Nubia sebelum menarik diri,[522] namun Amanirenas menginvasi Mesir Romawi lagi pada 22 SM dan mengancam Primis (Qasr Ibrim modern). [523] Petronius memperkuat pertahanannya dan menahan serangan orang Kush, setelah itu Amanirenas mengirim diplomat untuk menegosiasikan perjanjian damai yang menguntungkan dengan Augustus saat ia berada di pulau Samos.[524] Perjanjian tersebut menetapkan Maharraqa sebagai perbatasan baru dengan Kush (sebelumnya ditetapkan di Aswan),[525] dan mengurangi jumlah upeti Romawi yang dikumpulkan dari Kush.[484] Perjanjian ini juga menjamin hubungan dagang yang damai antara Mesir Romawi dan Nubia selama tiga abad berikutnya.[526] Roma memiliki nasib yang lebih baik di sebelah barat di Maghreb Afrika Utara, di mana Cossus Cornelius Lentulus memadamkan pemberontakan suku Gaetuli melawan penguasa klien Mauritania milik Roma, Juba II, pada 6 M.[485]

Kematian dan suksesi

[sunting | sunting sumber]

Penyakit Augustus pada tahun 23 SM dan perjuangannya seumur hidup melawan masalah kesehatan membawa persoalan suksesi ke garis depan masalah politik dan publik.[527][bb] Untuk memastikan stabilitas, ia perlu menunjuk seorang ahli waris bagi posisinya yang unik dalam masyarakat dan pemerintahan Romawi. Hal ini harus dicapai dengan cara-cara kecil, tidak dramatis, dan bertahap yang tidak memicu ketakutan senat akan monarki. Jika seseorang akan menggantikan posisi kekuasaan tidak resmi Augustus, ia harus mendapatkannya melalui kelebihan-kelebihannya sendiri yang terbukti secara publik.[529]

Pencarian ahli waris

[sunting | sunting sumber]
Image
Image
Image
Kiri: Patung dada Romawi dari Julia Mayor, putri Augustus dan istri Marcellus, kemudian Marcus Agrippa, dan kemudian Tiberius, disimpan di Musée Saint-Raymond, Prancis
Tengah: Patung dada Romawi dari Livia, istri Augustus, ibu dari Tiberius dan Nero Claudius Drusus, Musée Saint-Raymond, Prancis
Kanan: Patung dada Romawi dari Marcus Vipsanius Agrippa, menantu dan orang kepercayaan Augustus, suami Julia, Museum Louvre, Paris, Prancis

Beberapa sejarawan masa Augustus berpendapat bahwa indikasi mengarah pada putra saudara perempuannya, Marcellus, yang dengan cepat dinikahkan dengan putri Augustus, Julia Mayor.[530] Sejarawan lain membantah hal ini karena isi wasiat Augustus yang dibacakan dengan lantang di hadapan Senat saat ia sakit parah pada 23 SM. Wasiat tersebut menunjukkan preferensi kepada Marcus Agrippa,[531] yang merupakan orang kedua Augustus dan bisa dibilang satu-satunya rekannya yang dapat mengendalikan legiun dan menyatukan kekaisaran.[532]

Setelah kematian Marcellus pada 23 SM, Augustus menikahkan putrinya Julia dengan Agrippa pada 21 SM.[533] Pernikahan ini menghasilkan lima orang anak, tiga putra dan dua putri: Gaius Caesar, Lucius Caesar, Vipsania Julia, Agrippina, dan Agrippa Postumus, dinamai demikian karena ia lahir setelah Marcus Agrippa meninggal. [534] Pada 18 SM (dan mungkin juga sebelumnya),[475] Agrippa diberi masa jabatan lima tahun untuk mengelola separuh bagian timur kekaisaran dengan imperium seorang prokonsul dan tribunicia potestas yang sama dengan yang diberikan kepada Augustus (meskipun tidak melampaui otoritas Augustus),[535] dengan pusat pemerintahannya ditempatkan di Samos di Laut Aegea bagian timur.[536] Pemberian kekuasaan ini menunjukkan dukungan Augustus kepada Agrippa,[537] dan mengecewakan sebagian senator dari aristokrasi lama,[538] namun mungkin menenangkan beberapa anggota partai Caesarian dengan mengizinkan salah satu anggotanya berbagi sejumlah besar kekuasaan dengan Augustus.[539]

Niat Augustus menjadi jelas untuk menjadikan cucunya Gaius dan Lucius sebagai ahli warisnya ketika ia mengadopsi mereka sebagai anak-anaknya sendiri.[540] Ia mengambil jabatan konsul pada 5 SM dan 2 SM agar ia dapat secara pribadi mengantarkan mereka ke dalam karier politik masing-masing.[541] Gaius dinominasikan untuk jabatan konsul tahun 1 M setelah mengabdi dalam imamat hingga usia 21 tahun, ditunda dari 6 SM ketika pada usia 14 tahun ia terpilih sebagai konsul namun dianggap oleh Augustus terlalu muda untuk menjabat.[542][bc] Lucius meninggal sebelum masa jabatan konsul yang ditunjuknya.[544] Augustus juga menunjukkan keberpihakan kepada anak-anak tirinya, anak-anak Livia dari pernikahan pertamanya, Nero Claudius Drusus Germanicus (selanjutnya disebut Drusus) dan Tiberius Claudius (selanjutnya disebut Tiberius), dengan memberi mereka komando militer dan jabatan publik, meskipun tampak lebih menyukai Drusus.[545] Setelah Agrippa meninggal pada 12 SM, Tiberius diperintahkan untuk menceraikan istrinya sendiri, Vipsania Agrippina, dan menikahi putri janda Augustus, Julia, segera setelah masa berkabung untuk Agrippa berakhir.[546] Pernikahan Drusus dengan keponakan Augustus, Antonia, dianggap sebagai hubungan yang tak terpisahkan, sedangkan Vipsania, putri mendiang Agrippa dari pernikahan pertamanya, dianggap kurang penting.[547]

Tiberius, ahli waris Augustus

[sunting | sunting sumber]
Image
Gemma Augustea, sardoniks dua lapis yang menggambarkan Augustus duduk di sebelah dewi Roma, dengan Augustus disamakan dengan Jupiter saat ia memandang sosok yang mengendarai kereta perang (kemungkinan ahli warisnya Tiberius yang sedang merayakan triumph atas kemenangan di Germania), 9–12 M, Museum Kunsthistorisches, Wina[548]

Tiberius berbagi kekuasaan tribunus Augustus sejak 6 SM namun tak lama kemudian pensiun, dilaporkan tidak menginginkan peran lebih lanjut dalam politik sementara ia mengasingkan diri ke Rhodes.[549] Tidak ada alasan spesifik yang diketahui atas kepergiannya, meskipun hal itu bisa jadi merupakan kombinasi berbagai alasan, termasuk pernikahan yang gagal dengan Julia,[550] yang pada 2 SM diasingkan ke pulau Pandateria (Ventotene modern) oleh Augustus karena melakukan perzinahan.[551] Alasan lain yang mungkin adalah rasa iri dan tersingkir atas keberpihakan Augustus yang tampak jelas terhadap Gaius dan Lucius yang lebih muda.[552] Gaius dan Lucius bergabung dengan kolegium imam pada usia dini, ditampilkan kepada penonton dengan cara yang lebih disukai, dan diperkenalkan kepada tentara di Galia.[553]

Setelah kematian Lucius dan Gaius masing-masing pada 2 M dan 4 M, serta kematian saudaranya Drusus sebelumnya (9 SM), Tiberius dipanggil kembali ke Roma pada Juni 4 M, di mana ia diadopsi oleh Augustus dengan syarat ia, pada gilirannya, mengadopsi keponakannya Germanicus.[554] Hal ini melanjutkan tradisi menghadirkan setidaknya dua generasi ahli waris.[555] Pada 4 M Tiberius juga dianugerahi kekuasaan tribunus dan prokonsul, utusan dari raja-raja asing harus memberikan penghormatan kepadanya, dan ia akhirnya dianugerahi sebuah triumph.[556] Pada Oktober 12 M, Tiberius dianugerahi imperium prokonsuler atas seluruh kekaisaran dan bukan hanya separuh barat tempat ia berkampanye di Germania,[557] dan pada 13 M ia dianugerahi tingkat imperium yang setara dengan Augustus untuk masa jabatan sepuluh tahun.[558]

Image
Augustus yang didewakan melayang di atas Tiberius dan anggota Julio-Claudian lainnya dalam Kameo Agung Prancis, abad ke-1 M

Satu-satunya kandidat lain yang mungkin sebagai ahli waris adalah Agrippa Postumus. Namun, ia telah diasingkan oleh Augustus ke Sorrento pada 6 M dan kemudian ke Planasia pada 7 M.[559] Pengasingannya dipermanenkan oleh dekrit senat,[560] dan Augustus secara resmi tidak mengakuinya karena kurangnya karakter yang baik dan dugaan keterlibatannya dalam sebuah konspirasi.[561] Sejarawan Erich S. Gruen mencatat berbagai sumber kontemporer yang menyatakan Agrippa Postumus adalah "pemuda vulgar, brutal dan kasar, serta berkarakter bejat".[560] Setelah Tiberius menggantikan Augustus, kemungkinan besar dialah yang memerintahkan Agrippa dibunuh di pengasingan.[562]

Kematian Augustus

[sunting | sunting sumber]

Pada 19 Agustus 14 M, Augustus meninggal dunia saat mengunjungi Nola, tempat di mana ayahnya juga meninggal.[563] Baik Tacitus maupun Cassius Dio menulis bahwa Livia dikabarkan menjadi penyebab kematian Augustus dengan meracuni buah ara segar. Elemen ini muncul dalam banyak karya fiksi sejarah modern yang berkaitan dengan kehidupan Augustus, namun beberapa sejarawan memandangnya sebagai rekayasa sensasional yang dibuat oleh mereka yang mendukung Postumus sebagai pewaris, atau musuh politik Tiberius lainnya. Livia telah lama menjadi sasaran rumor keracunan serupa demi kepentingan putranya, yang sebagian besar atau seluruhnya kemungkinan besar tidak benar.[564] Alternatifnya, ada kemungkinan bahwa Livia memang menyediakan buah ara beracun (ia memang membudidayakan varietas buah ara yang dinamai menurut namanya dan konon disukai Augustus), namun melakukannya sebagai sarana bunuh diri yang dibantu, bukan pembunuhan.[565] Kesehatan Augustus telah menurun pada bulan-bulan menjelang kematiannya, dan ia telah membuat persiapan yang signifikan untuk peralihan kekuasaan yang mulus, setelah akhirnya dengan berat hati menetapkan Tiberius sebagai pilihan pewarisnya.[566] Kemungkinan besar Augustus tidak diharapkan untuk kembali hidup-hidup dari Nola, tetapi tampaknya kesehatannya membaik sesampainya di sana; oleh karena itu dispekulasikan bahwa Augustus dan Livia bersekongkol untuk mengakhiri hidupnya pada waktu yang telah diperkirakan, setelah berkomitmen pada suksesi Tiberius, agar tidak membahayakan transisi kekuasaan tersebut.[565]

Image
Mausoleum Augustus yang telah dipugar, 2021

Kata-kata terakhir Augustus yang terkenal adalah, "Sudahkah aku memainkan peranku dengan baik? Kalau begitu bertepuk tanganlah saat aku keluar" (Acta est fabula, plaudite)—merujuk pada sandiwara dan otoritas kerajaan yang ia tampilkan sebagai kaisar.[567] Sebuah prosesi pemakaman besar-besaran mengiringi jenazah Augustus dari Nola ke Roma, dan semua bisnis publik maupun swasta tutup pada hari pemakamannya.[568] Tiberius dan putranya Drusus menyampaikan pidato pemakaman (eulogi) sambil berdiri di atas dua rostra.[569] Jenazah Augustus dimasukkan ke dalam peti mati dan dikremasi di atas tumpukan kayu di dekat mausoleumnya.[570]

Pendewaan

[sunting | sunting sumber]

Pada 17 September 14 M, Augustus diproklamasikan oleh Senat telah bergabung dengan para dewa dan ayah angkatnya Julius Caesar sebagai anggota panteon Romawi.[571][bd] Orang-orang di provinsi timur Roma telah memujanya sebagai dewa yang hidup sejak kemenangannya di Actium.[574] Bahkan terdapat pemujaan terbatas terhadapnya sebagai dewa yang hidup di beberapa provinsi barat Roma, terutama di Lugdunum (Lyon modern, Prancis) dan Oppidum Ubiorum (Kalkar modern, Jerman),[be] namun tidak di Roma itu sendiri di mana klaim semacam itu sangat tabu selama masa pemerintahannya. Hanya genius-nya (roh atau sifat ilahi umum) yang diizinkan untuk dipuja di sana.[575]

Sejarawan D. C. A. Shotter menyatakan bahwa kebijakan Augustus yang lebih mengutamakan garis keluarga Julian daripada Claudian mungkin memberi alasan yang cukup bagi Tiberius untuk menunjukkan penghinaan terbuka terhadap Augustus setelah kematiannya; namun sebaliknya, Tiberius selalu cepat menegur mereka yang mengkritik Augustus.[576] Shotter menyarankan bahwa pendewaan Augustus mewajibkan Tiberius untuk menekan kebencian terbuka apa pun yang mungkin ia pendam, ditambah dengan sikap Tiberius yang "sangat konservatif" terhadap agama.[577] Selain itu, sejarawan R. Shaw-Smith menunjuk pada surat-surat Augustus kepada Tiberius yang menunjukkan kasih sayang terhadap Tiberius dan penghargaan tinggi atas jasa-jasa militernya.[578] Shotter menyatakan bahwa Tiberius memfokuskan kemarahan dan kritiknya pada Gaius Asinius Gallus (karena menikahi Vipsania setelah Augustus memaksa Tiberius menceraikannya), serta terhadap dua Caesar muda, Gaius dan Lucius—alih-alih kepada Augustus, arsitek sebenarnya dari perceraian dan penurunan pangkat kekaisarannya.[577]

Image
Image
Kiri: Augustus dalam ukiran tembaga karya Giovanni Battista Cavalieri; dari buku Romanorum Imperatorum effigies (1583), disimpan di Perpustakaan Kota Trento (Italia)
Kanan: Dari Très Riches Heures du Duc de Berry (1412–1416), Perawan Maria dan Kanak-kanak Yesus (atas), nabiah Sibyl Tivoli (kiri bawah) dan Augustus (kanan bawah). Rupa Augustus diambil dari rupa Kaisar Bizantium Manuel II Palaiologos.[579]

Tinjauan umum

[sunting | sunting sumber]

Augustus menciptakan sebuah rezim yang memelihara perdamaian dan kemakmuran relatif di Timur Yunani dan Barat Latin selama dua abad,[580] memulai Pax Romana (atau Pax Augusta) yang tersohor,[581] meskipun Galinsky menegaskan bahwa mitos "Zaman Keemasan" Augustus mengaburkan tantangan politik rumit yang harus dihadapi Augustus selama masa pemerintahannya.[582] Rezimnya meletakkan dasar-dasar konsep monarki universal di Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) dan Kekaisaran Romawi Suci hingga pembubaran mereka masing-masing pada tahun 1453 dan 1806.[583] Masa pemerintahan Augustus dipandang baik oleh orang-orang Romawi di kemudian hari, yang diwujudkan dalam harapan formal Senat kepada setiap kaisar setelah Trajan agar mereka "menjadi lebih beruntung daripada Augustus dan lebih baik daripada Trajan".[584] Citra positif secara keseluruhan ini juga terbantu oleh para penerusnya yang meniru banyak kebijakan dan bentuk promosi diri Augustus, yang oleh penelitian modern disebut ‘imitatio Augusti’.[585]

Nama keluarga adopsi Augustus, Caesar, dan gelarnya augustus menjadi gelar permanen bagi para penguasa Kekaisaran Romawi selama empat belas abad setelah kematiannya, digunakan baik di Roma maupun Konstantinopel setelah masa pemerintahan Konstantinus Agung dan pembagian Kekaisaran Romawi.[586] Nama adopsinya Caesar membentuk akar kata dari gelar kerajaan di kemudian hari seperti kaiser dalam bahasa Jerman dan czar dalam bahasa Rusia.[587] Gelarnya civilis princeps lebih disukai oleh para kaisar selama tiga abad hingga mereka mengadopsi gelar domini ('tuan'), dimulai dengan Diokletianus.[588] Nama adopsinya Imperator ('jenderal yang menang') berfungsi sebagai akar etimologis dari kata 'kaisar' (emperor), meskipun kata tersebut tidak memiliki konotasi ini semasa hidup Augustus.[589]

Image
Kameo Romawi Augustus di tengah-tengah Salib Lothair abad pertengahan, disimpan di Perbendaharaan Katedral Aachen

Karya tulis

[sunting | sunting sumber]

Augustus menyusun sebuah catatan mengenai pencapaian-pencapaiannya, Res Gestae Divi Augusti, untuk dituliskan pada perunggu di depan mausoleumnya.[590] Salinan teks tersebut dipahatkan di seluruh kekaisaran setelah kematiannya.[591] Inskripsi dalam bahasa Latin tersebut menampilkan terjemahan dalam bahasa Yunani di sebelahnya, dan dipahatkan pada banyak bangunan umum seperti kuil di Ankara yang dijuluki Monumentum Ancyranum, serta disebut sebagai "ratu prasasti" oleh sejarawan Theodor Mommsen. [592] Res Gestae adalah satu-satunya karya besar Augustus yang masih bertahan, meskipun ia juga diketahui pernah menggubah puisi berjudul "Sicily", "Epiphanus", dan "Ajax", sebuah otobiografi sebanyak 13 buku, sebuah risalah filsafat, dan bantahan tertulis terhadap Eulogi Cato karya Brutus.[593] Sejarawan dapat menganalisis kutipan surat-surat yang ditulis oleh Augustus, yang tersimpan dalam berbagai karya purbakala yang mengungkapkan fakta atau petunjuk tambahan mengenai kehidupan pribadinya.[594] Penyair Martial melestarikan sebuah puisi yang kasar secara seksual yang diduga ditulis oleh Octavianus selama Perang Perusia, yang mengolok-olok Glaphyra, Antonius, dan Fulvia.[595][bf]

Dalam Res Gestae-nya, Augustus mendefinisikan perdamaian relatif yang dibangun oleh pemerintahannya sebagai pakta yang "lahir dari kemenangan" (parta victoriis pax),[598] sebuah perdamaian yang mengakhiri perang saudara Romawi yang membawa bencana.[599] Hal ini memastikan orang-orang Romawi dan bangsa-bangsa taklukan di dalam Kekaisaran mereka menjunjung tinggi pakta sosial yang kohesif: pihak yang ditaklukkan akan melepaskan kedaulatan mereka dan membayar pajak sebagai imbalan atas pelestarian adat istiadat asli mereka, stabilitas ekonomi, keamanan, dan perlindungan yang diberikan kepada mereka oleh Roma.[598] Tema perdamaian yang berakar pada penaklukan ini juga ditampilkan secara menonjol dalam karya seni visual era Augustus.[600] Dengan membanggakan banyaknya penaklukan yang dilakukannya, Res Gestae Augustus menekankan kode kehormatan yang sama yang ditemukan dalam inskripsi pemakaman Republik seperti milik keluarga Scipio, sebuah elemen kunci dalam meningkatkan reputasi politik keluarga Romawi.[601]

Image
Koin Kerajaan Himyar di Semenanjung Arab bagian selatan, tiruan dari koin Augustus, abad ke-1 M

Institusi yang bertahan lama

[sunting | sunting sumber]
Image
Patung Augustus di Monte Solaro di pulau Capri di Campania, Italia

Kota Roma mengalami transformasi menyeluruh di bawah pemerintahan Augustus, dengan pelembagaan pertama pasukan kepolisian Roma, pasukan pemadam kebakaran, dan pembentukan praefectus ('prefek kota') sebagai jabatan permanen.[602] Didirikan pada tahun 6 M dan didasarkan pada dinas pemadam kebakaran sebelumnya (namun tidak memadai) yang dibentuk pada 22 SM dan 7 SM (iterasi pertama terdiri dari budak milik Senator Marcus Egnatius Rufus),[603] vigiles adalah gabungan pemadam kebakaran dan pasukan polisi yang dibagi menjadi kohor-kohor yang masing-masing terdiri dari 500 hingga 1.000 orang, dengan tujuh unit yang ditugaskan ke empat belas sektor kota yang terbagi.[602] Seorang praefectus vigilum ('prefek penjaga') ditugaskan memimpin vigiles,[604] sedangkan pejabat vicomagistri sebelumnya bertanggung jawab atas setiap distrik setelah kebakaran tahun 7 SM.[605] Augustus juga mampu menciptakan tentara tetap untuk Kekaisaran Romawi,[606] yang ditetapkan pada ukuran 28 legiun yang terdiri dari sekitar 170.000 prajurit,[607] berkurang dari 60 legiun pada akhir perang saudara Republik di tahun 30 SM.[608] Ini didukung oleh banyak unit auxilia yang masing-masing terdiri dari 500 prajurit non-warga negara, yang sering kali direkrut dari daerah-daerah yang baru ditaklukkan.[609]

Dengan keuangannya yang menjamin pemeliharaan jalan di seluruh Italia, Augustus memasang sistem kurir resmi berupa pos estafet yang diawasi oleh seorang perwira militer yang dikenal sebagai praefectus vehiculorum. [610] Selain munculnya komunikasi yang lebih cepat di antara pemerintahan Italia, pembangunan jalannya yang ekstensif di seluruh Italia juga memungkinkan tentara Roma untuk bergerak dengan cepat dan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh negeri.[611] Pada tahun 6 Augustus mendirikan aerarium militare, menyumbangkan 170 juta sestertius ke perbendaharaan militer baru yang menunjang baik prajurit aktif maupun pensiunan.[612]

Salah satu institusi Augustus yang paling bertahan lama adalah pembentukan Garda Praetoria pada 27 SM,[613] yang dikomandoi oleh prefek praetoria setelah jabatan ini diciptakan oleh Augustus pada 2 SM.[614] Awalnya merupakan unit pengawal pribadi di medan perang, praetoria berevolusi menjadi pengawal kekaisaran sekaligus kekuatan politik yang penting di Roma. [615] Mereka memiliki kekuasaan untuk mengintimidasi Senat, mengangkat kaisar baru, dan menggulingkan kaisar yang tidak mereka sukai. Kaisar terakhir yang mereka layani adalah Maxentius, karena Konstantinus I-lah yang membubarkan mereka pada awal abad ke-4 dan menghancurkan barak mereka, Castra Praetoria.[616]

Reformasi pendapatan

[sunting | sunting sumber]
Image
Aureus Octavianus, ca30 SM, British Museum

Reformasi pendapatan publik Augustus memiliki dampak besar pada keberhasilan Kekaisaran selanjutnya. Augustus membawa bagian yang jauh lebih besar dari basis lahan Kekaisaran yang diperluas di bawah perpajakan langsung dan konsisten dari Roma, alih-alih memungut upeti yang bervariasi, terputus-putus, dan agak sewenang-wenang dari setiap provinsi lokal seperti pada masa Republik. Reformasi ini sangat meningkatkan pendapatan bersih Roma dari akuisisi teritorialnya, menstabilkan alirannya, dan mengatur hubungan keuangan antara Roma dan provinsi-provinsi. Hal ini juga menghindari memicu kebencian provinsi dengan setiap pemerasan upeti baru yang sewenang-wenang.[617]

Ukuran perpajakan pada masa pemerintahan Augustus ditentukan oleh sensus penduduk, dengan kuota tetap untuk setiap provinsi. Warga negara Roma dan Italia membayar pajak tidak langsung, sementara pajak langsung dipungut dari provinsi-provinsi. Pajak tidak langsung mencakup pajak 4% atas harga budak, pajak 1% atas barang yang dijual di lelang, dan pajak 5% atas warisan harta benda yang bernilai lebih dari 100.000 sestertius oleh orang selain kerabat terdekat.[618]

Reformasi yang sama pentingnya adalah penghapusan pemborongan pajak swasta, yang digantikan oleh penagih pajak pegawai negeri yang digaji. Kontraktor swasta yang memungut pajak untuk Negara adalah norma di era Republik. Beberapa dari mereka cukup kuat untuk memengaruhi jumlah suara bagi orang-orang yang mencalonkan diri untuk jabatan di Roma. Para pemborong pajak ini, yang disebut publicani, terkenal karena penjarahan mereka, kekayaan pribadi yang besar, dan hak untuk memajaki daerah setempat.[617] Karena protes dari golongan equites, konsul suffectus untuk tahun 9 M memodifikasi dan meringankan hukuman dalam Lex Papia Poppaea yang memengaruhi warisan harta benda oleh individu yang membujang, belum menikah, atau tidak memiliki anak, meskipun undang-undang tersebut terus menghasilkan pendapatan dengan properti almarhum yang disita oleh negara.[619]

Penggunaan sewa tanah Mesir yang sangat besar untuk membiayai operasi Kekaisaran dihasilkan dari penaklukan Augustus atas Mesir dan peralihan ke bentuk pemerintahan Romawi.[620] Karena wilayah tersebut secara efektif dianggap sebagai properti pribadi Augustus alih-alih sebagai provinsi Kekaisaran, wilayah itu menjadi bagian dari patrimonium setiap kaisar yang menggantikannya.[621] Alih-alih legatus atau prokonsul, Augustus menunjuk seorang prefek dari kelas equites untuk mengelola Mesir dan memelihara pelabuhan-pelabuhannya yang menguntungkan.[622] Posisi ini menjadi pencapaian politik tertinggi bagi setiap equites selain menjadi Prefek Garda Praetoria.[623] Lahan pertanian Mesir yang sangat produktif menghasilkan pendapatan luar biasa yang tersedia bagi Augustus dan para penerusnya untuk membiayai pekerjaan umum dan ekspedisi militer.[624] Emas dan perak yang ditemukan di perbendaharaan kerajaan Ptolemaik dilebur untuk mencetak koin.[340] Dalam wasiatnya, Augustus meninggalkan uang kepada anggota keluarganya seperti istrinya Livia tetapi juga 43 juta sestertius kepada Rakyat Romawi, 1.000 sestertius untuk setiap praetorian, 500 sestertius untuk setiap prajurit di kohor perkotaan, dan 300 sestertius untuk setiap prajurit legiuner.[625]

Bulan Agustus

[sunting | sunting sumber]

Bulan Agustus (Latin: Augustus) dinamai menurut Augustus pada tahun 8 SM.[626] Sebelum masanya bulan tersebut disebut Sextilis (atau Sextilus), dinamai demikian karena merupakan bulan keenam dalam Kalender Romawi asli,[627] yang didasarkan pada siklus bulan.[628] Sextilis, bulan kedelapan dalam Kalender Julius yang ditetapkan oleh Julius Caesar, yang didasarkan pada siklus matahari, dipilih oleh Augustus karena merupakan bulan di mana ia pertama kali menjabat sebagai konsul dan memenangkan berbagai kemenangan.[629] Sebagai perbandingan, bulan Juli (Latin: Iulius) dinamai menurut ayah angkatnya Julius Caesar,[630] satu-satunya bulan lain dalam kalender Romawi yang dinamai menurut negarawan Romawi.[631]

Proyek pembangunan

[sunting | sunting sumber]
Image
Image
Kiri: Pahatan relief di sisi selatan Ara Pacis ('Altar Perdamaian') di Roma yang menampilkan anggota keluarga kekaisaran yang tidak teridentifikasi, didedikasikan untuk Pax Romana, didekritkan oleh Senat Romawi pada 13 SM, dan diselesaikan pada 30 Januari 9 SM dengan Augustus menghadiri upacara peresmiannya[632]
Kanan: Tropaeum Alpium (Trofi Augustus), sebuah monumen kemenangan yang dibangun oleh Augustus di La Turbie, Prancis (dekat Monako) untuk menghormati penaklukan Romawi atas Raetia dan Alpen[633]

Di ranjang kematiannya, Augustus membual bahwa ia mengubah Roma dari kota batu bata menjadi kota marmer.[634] Marmer dapat ditemukan pada bangunan-bangunan Roma sebelum Augustus, namun marmer tidak digunakan secara luas sebagai bahan bangunan di Roma hingga masa pemerintahan Augustus.[635] Hal ini tidak berlaku bagi daerah kumuh Subura, yang masih sama reyot dan rentan kebakaran seperti sebelumnya. Namun, ia meninggalkan jejak pada topografi monumental pusat kota, serta di Campus Martius dengan Ara Pacis (Altar Perdamaian) dan jam matahari monumental, yang gnomon pusatnya adalah obelisk yang diambil dari Mesir.[636] Patung relief yang menghiasi Ara Pacis secara visual melengkapi catatan tertulis tentang kemenangan Augustus dalam Res Gestae. Reliefnya menggambarkan arak-arakan kekaisaran para praetorian, perawan Vesta, dan warga Roma.[637]

Gaya arsitektur Ordo Korintus yang berasal dari Yunani kuno adalah gaya arsitektur dominan di zaman Augustus dan fase kekaisaran Roma. Suetonius pernah berkomentar bahwa Roma tidak layak menyandang status sebagai ibu kota kekaisaran, namun Augustus dan Agrippa bertekad untuk mematahkan sentimen ini. Mereka melakukannya dengan mengubah penampilan Roma berdasarkan model Yunani Klasik.[635]

Image
Kuil Augustus dan Livia di Vienne, Prancis, akhir abad ke-1 SM

Augustus bertanggung jawab atas pendirian Kuil Caesar, Kuil Jupiter Tonans, Kuil Apollo Palatinus, dan Pemandian Agrippa, serta Forum Augustus dengan Kuil Mars Ultor-nya. Proyek-proyek lain didorong olehnya, seperti Teater Balbus, dan pembangunan Pantheon oleh Agrippa, atau didanai olehnya atas nama orang lain, seringkali kerabatnya (misalnya Porticus Octaviae, Teater Marcellus). Bahkan Mausoleum Augustus-nya dibangun sebelum kematiannya untuk menampung anggota keluarganya.[638] Untuk merayakan kemenangannya di Pertempuran Actium, Pelengkung Augustus dibangun pada 29 SM di dekat pintu masuk Kuil Castor dan Pollux, dan diperlebar pada 19 SM untuk mencakup desain tiga pelengkung.[639] Augustus jarang menyebut Julius Caesar dalam Res Gestae, namun ia menyelesaikan proyek konstruksi yang diprakarsai olehnya, seperti Curia Julia (tempat pertemuan Senat), Forum Caesar, dan Kuil Venus Genetrix (membiarkan patung Kleopatra di dalamnya tetap ada).[640] Ia juga membangun kembali Basilica Aemilia pada 2 SM (sebelumnya terbakar dalam kebakaran tahun 35 SM).[641]

Pekerjaan umum

[sunting | sunting sumber]

Augustus menugaskan Agrippa untuk bertanggung jawab atas pasokan air Roma, sanitasi, sistem drainase, pemandian umum, dan perbaikan jalan.[642] Setelah kematian Agrippa pada 12 SM, solusi harus ditemukan untuk memelihara sistem pasokan air Roma.[643] Hal ini terjadi karena sistem tersebut diawasi oleh Agrippa ketika ia menjabat sebagai aedile pada 33 SM,[644] dan bahkan didanai olehnya setelah itu ketika ia menjadi warga negara biasa yang membayar dengan biaya sendiri.[645] Pada 33 SM Agrippa membangun saluran air Aqua Julia, bersama dengan sistern dan menara air baru.[646] Pada 12 SM, Augustus mengatur sistem di mana Senat menunjuk tiga anggotanya sebagai komisaris utama yang bertanggung jawab atas pasokan air dan untuk memastikan bahwa akuaduk Roma tidak rusak.[645]

Pada era Augustus akhir, komisi lima senator yang disebut curatores locorum publicorum iudicandorum ('Pengawas Properti Publik') ditugaskan untuk memelihara gedung-gedung publik dan kuil-kuil kultus negara.[645] Augustus membentuk kelompok senatorial curatores viarum ('pengawas jalan') untuk pemeliharaan jalan; komisi senatorial ini bekerja sama dengan pejabat lokal dan kontraktor untuk mengatur perbaikan rutin.[610] Augustus memperbaiki semua jembatan di Roma kecuali jembatan Milvian dan Minucian, serta mengaspal Via Flaminia antara Roma dan Ariminum.[647]

Image
Sudut cubiculum bawah di Rumah Augustus di Bukit Palatine di Roma, dengan fresko gaya Pompeii kedua

Kediaman resmi Augustus adalah Domus Augusti ('Rumah Augustus') di Bukit Palatine, meskipun identifikasinya tidak pasti.[648] Menurut Suetonius rumah tersebut agak sederhana,[649] namun jika rumah tersebut diidentifikasi secara arkeologis dengan rumah Carettoni di sebelah barat kuil Palatine Apollo, kediaman Augustus akan jauh lebih besar dan lebih mewah daripada yang diakui oleh sumber-sumber sastra.[650][bg] Galinsky menegaskan bahwa bukan suatu kebetulan jika Augustus sering ditampilkan pada mata uang mengenakan mahkota sipil dengan hiasan daun salam yang sangat diasosiasikan dengan Apollo, setelah mendedikasikan kuil ini untuk Apollo di dekat rumahnya pada 28 SM.[652][bh] Southern bersikeras bahwa Octavianus membangun kuil di dekat rumahnya untuk menghormati Diana, saudari kembar Apollo, yang diyakini telah membantunya secara ilahi dalam kemenangannya pada Pertempuran Naulochus tahun 36 SM.[653] Domus Augusti juga terletak di dekat Casa Romuli ('Rumah Romulus'), tempat tinggal yang diklaim sebagai milik pendiri legendaris Roma, Romulus.[654] Southern berpendapat bahwa Augustus sangat ingin menekankan hubungannya dengan Romulus.[653] Rumah Livia juga terletak di dekatnya, diidentifikasi dengan inskripsi pada pipa air timah, meskipun tidak jelas apakah istri Augustus menempati kediaman tersebut sebelum kematiannya.[655]

Di luar Roma, Augustus memiliki tiga vila pedesaan, yang tidak mewah menurut standar kontemporer tetapi memiliki taman hias.[656] Augustus membangun istana Palazzo a Mare di pulau Capri,[657] di mana ia menampung koleksi fosil yang cukup besar dan apa yang mungkin merupakan tulang dinosaurus (disebut sebagai 'tulang raksasa').[658] Di Villa Giulia di pulau Ventotene, tempat Augustus mengasingkan putrinya Julia, ia membangun sistem pemanas sentral hypocaust yang canggih untuk dua bak mandi besar dan bak mandi air panas caldarium.[659] Rumah keluarga Augustus adalah sebuah vila yang terletak di Nola, tempat ia dan ayahnya meninggal.[660] Kediaman ini mungkin adalah vila yang ditemukan di Somma Vesuviana.[661]

Analisis kritis

[sunting | sunting sumber]
Image
Kepala berkerudung Augustus, abad ke-1 SM, Museum Arkeologi Nasional Marche

Sejarawan Eck dan Takács menegaskan bahwa gesekan perang saudara terhadap oligarki Republik lama dan panjangnya masa pemerintahan Augustus harus dilihat sebagai faktor utama yang berkontribusi dalam transformasi negara Romawi menjadi monarki de facto.[662][bi] Pengalaman, kesabaran, kebijaksanaan, dan kecerdasan politik Augustus juga memainkan peranannya. Ia bertanggung jawab untuk membentuk tentara profesional tetap yang ditempatkan di sepanjang perbatasan, prinsip dinasti suksesi kekaisaran, dan memperindah ibu kota dengan biaya kaisar. Warisan utama Augustus adalah perdamaian dan kemakmuran yang dinikmati Kekaisaran selama dua abad berikutnya di bawah sistem yang ia mulai. Setiap kaisar Roma mengadopsi namanya, Caesar Augustus, yang secara bertahap kehilangan karakternya sebagai nama dan akhirnya menjadi sebuah gelar.[662]

Sejarawan Walter Eder berpendapat bahwa, meskipun Augustus adalah individu yang paling berkuasa di Kekaisaran Romawi, ia ingin mewujudkan semangat kebajikan dan norma Republik. Ia juga ingin mengatasi kekhawatiran kaum pleb dan orang awam. Ia mencapai hal ini melalui berbagai cara kemurahan hati dan pengurangan kemewahan yang berlebihan. Pada tahun 29 SM, Augustus memberikan masing-masing 400 sestertius (setara dengan sepersepuluh pon emas Romawi) kepada 250.000 warga negara, masing-masing 1.000 sestertius kepada 120.000 veteran di koloni, dan menghabiskan 700 juta sestertius untuk membeli tanah bagi para prajuritnya untuk bermukim.[664] Ia juga memugar 82 kuil yang berbeda untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap panteon dewa-dewi Romawi.[664] Pada 28 SM, ia melebur 80 patung perak yang didirikan menyerupai dirinya dan untuk menghormatinya, sebagai upaya untuk tampil hemat dan sederhana.[664]

Namun, atas pemerintahannya di Roma dan pembentukan principatus, Augustus juga telah menjadi sasaran kritik sepanjang zaman. Ahli hukum Romawi kontemporer Marcus Antistius Labeo, yang menyukai masa-masa kebebasan republik pra-Augustus di mana ia dilahirkan, secara terbuka mengkritik rezim Augustus. Di awal Annals-nya, Tacitus menulis bahwa Augustus dengan licik telah mengubah Roma Republik menjadi posisi perbudakan. Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa, dengan kematian Augustus dan sumpah setia kepada Tiberius, rakyat Roma menukar satu pemilik budak dengan pemilik budak lainnya.[665]

Image
Virgil membacakan Aeneid di hadapan Augustus, Livia dan Octavia, karya Jean-Auguste-Dominique Ingres, 1812, Musée des Augustins

Perdebatan masih terjadi di kalangan akademisi modern mengenai sejauh mana Augustus menggunakan penyensoran kritik atau mengizinkan kebebasan berpendapat di Kekaisarannya, meskipun konsensusnya adalah bahwa ia terus-menerus melakukan promosi diri.[666] Sebagai triumvir Octavianus, ia menghancurkan semua catatan publik yang berasal dari Ides of March 44 SM hingga kekalahan Sextus Pompeius pada 36 SM, sebuah langkah politik yang nyaman baginya yang tampaknya sejalan dengan sentimen populer untuk membersihkan kenangan menyakitkan tentang proskripsi.[667] Penyair era Augustus Virgil dan Horace memuji Augustus sebagai pembela Roma, penegak keadilan moral, dan individu yang memikul beban tanggung jawab dalam mempertahankan kekaisaran.[668] Octavianus adalah pelindung Virgil ketika Virgil menulis Eclogues-nya, yang mengekspresikan pandangan tidak puas dari para petani dan pemilik tanah yang miskin selama masa triumvirat.[669] Namun Augustus bertanggung jawab atas pengasingan penyair Ovidius pada ca8 M dan pelarangan karya sastranya.[670] Ovidius menyatakan bahwa ini adalah pembalasan karena menulis puisi dan membuat kesalahan, mungkin menjadi saksi skandal seksual yang melibatkan Julia Mayor (putri Augustus) atau Julia Minor (cucu perempuan Augustus).[671]

Tacitus berkeyakinan bahwa kaisar Nerva (bertakhta 96–98) berhasil "memadukan dua gagasan yang sebelumnya asing, principatus dan kebebasan".[672] Sejarawan abad ke-3 Cassius Dio mengakui Augustus sebagai penguasa yang baik dan moderat, namun seperti kebanyakan sejarawan lain setelah kematian Augustus, Dio memandang Augustus sebagai seorang otokrat.[665] Penyair abad ke-1 Marcus Annaeus Lucanus berpendapat bahwa kemenangan Caesar atas Pompeius dan jatuhnya Cato yang Muda pada 46 SM menandai berakhirnya kebebasan tradisional di Roma. Sejarawan Chester Starr menulis tentang penghindaran Annaeus Lucanus dalam mengkritik Augustus: "mungkin Augustus adalah sosok yang terlalu sakral untuk dituduh secara langsung".[672]

Pandangan tentang Augustus bervariasi selama periode modern awal. Penulis Anglo-Irlandia Jonathan Swift, dalam karyanya tahun 1701 Discourse on the Contests and Dissentions in Athens and Rome, mengkritik Augustus karena menanamkan tirani atas Roma, dan menyamakan apa yang ia yakini sebagai monarki konstitusional Britania Raya yang berbudi luhur dengan Republik Roma yang bermoral pada abad ke-2 SM. Dalam kritiknya terhadap Augustus, laksamana dan sejarawan Skotlandia Thomas Gordon membandingkan Augustus dengan tiran puritan Oliver Cromwell.[673] Thomas Gordon dan filsuf politik Prancis Montesquieu sama-sama berkomentar bahwa Augustus adalah seorang pengecut dalam pertempuran,[674] dugaan kepengecutannya juga diisyaratkan dengan kuat oleh penulis drama Inggris Shakespeare dalam penggambarannya tentang 'Caesar' (Augustus) dalam drama tahun 1607 Antony and Cleopatra.[675] Dalam karyanya tahun 1753 Memoirs of the Court of Augustus, sarjana Skotlandia Thomas Blackwell menganggap Augustus sebagai penguasa Machiavellian, "perebut kekuasaan yang haus darah dan pendendam", "jahat dan tidak berharga", "berjiwa kerdil", dan seorang "tiran".[674] Namun, selama abad ke-19 Augustus dipandang baik sebagai tokoh yang membawa stabilitas, kemakmuran, dan perdamaian setelah periode penuh gejolak yang disebabkan oleh Republik yang gagal.[676]

Image
Patung dada Chiaramonti Caesar, potret anumerta Julius Caesar dari marmer, 44–30 SM, Museo Pio-Clementino, Museum Vatikan

Sikap tentang Augustus bergeser sekali lagi selama abad ke-20,[676] karena kesarjanaan selama pergolakan fasisme dan Perang Dunia II pada 1930-an dan 1940-an umumnya memiliki pandangan negatif tentang perebutan kekuasaan negara oleh Augustus.[677] Masa-masa yang lebih damai selanjutnya telah menyebabkan fokus yang lebih besar pada seni dan sastra yang dihasilkan di zaman Augustus.[678] Ronald Syme, yang memicu perdebatan dengan menerbitkan buku kontroversial saat itu The Roman Revolution (1939) pada awal Perang Dunia II, mengakui iklim politik yang memengaruhi penelitiannya,[679] menolak apropriasi fasis atas Romawi kuno sembari memeriksa penyalahgunaan terminologi politik dan bahasa yang menipu yang digunakan oleh rezim totaliter.[680] Goldsworthy memperingatkan bahwa, meskipun Benito Mussolini menjuluki dirinya sebagai Il Duce mengikuti dux Augustus, godaan umum untuk membandingkan Augustus dengan dia atau Hitler dan Stalin adalah anakronistik dan tidak akurat. Ia menyoroti bagaimana Augustus tidak lebih kejam daripada "panglima perang lainnya" bahkan ketika mempertimbangkan proskripsi mematikan terhadap para pesaingnya, beberapa di antaranya telah diampuni oleh Julius Caesar sebelum mengkhianatinya, fakta yang sangat ditekankan oleh para triumvir.[681]

The Roman Revolution tidak beredar di benua Eropa hingga penerbitan revisinya pada tahun 1952,[682] namun buku ini dan karya-karya lain oleh Syme meninggalkan dampak besar pada kesarjanaan di dunia berbahasa Inggris dan pandangannya tentang Augustus khususnya.[683] Syme memandang Octavianus sebagai "pemuda yang sakit-sakitan dan jahat," dan apa yang disebut "partai Augustus" sebagai entitas yang agak analog dengan sindikat kejahatan modern.[684] Syme mengkritik beberapa akademisi karena mengaitkan berbagai pencapaian politik yang diprakarsai oleh Julius Caesar kepada Octavianus, penerimaan mereka yang mudah terhadap propaganda Augustan tentang Marcus Antonius, dan pandangan Augustus sebagai organisator dan pembawa damai yang tanpa cela.[685] Goldsworthy sebagian besar setuju dengan Syme, namun berpendapat bahwa ia "sangat dermawan dalam penilaiannya terhadap Antonius dan sengaja bersikap keras dalam komentarnya tentang para pendukung Augustus, terutama mayoritas yang berasal dari luar aristokrasi mapan."[681] Goldsworthy juga mempermasalahkan gagasan yang sering diulang di akademisi bahwa Augustus berusaha menjauhkan diri dari Julius Caesar sebagai manusia dan diktator ketika merangkul Caesar yang didewakan, dengan mengklaim tidak ada bukti eksplisit untuk hal tersebut.[686] Southern berpendapat bahwa hal ini secara implisit dibuktikan oleh penggambaran sastra Augustan tentang Julius Caesar sebagai dewa sementara jarang menyebutkan tindakan-tindakannya sebagai diktator, dan bahwa Octavianus-Augustus seiring waktu kurang menekankan pada Divus Julius dan lebih pada perannya sendiri sebagai princeps.[687]

Penggambaran budaya

[sunting | sunting sumber]

Penampilan fisik dan citra resmi

[sunting | sunting sumber]
Image
Image
Kiri: Kepala Meroë Augustus dari perunggu, digali dari sebuah kuil Nubia di Meroë di Kerajaan Kush (Sudan modern), diambil sebagai trofi perang selama invasi Mesir Romawi oleh Ratu Amanirenas, bertarikh 27–25 SM[688]
Kanan: Kepala faience Augustus, awal abad ke-1 M, Museo degli Argenti, Firenze

Dalam The Twelve Caesars, sejarawan Romawi Suetonius menyajikan biografi Augustus dan menulis tentang penampilannya.[bj] Menurut Goldsworthy, deskripsi warna rambut dalam sumber-sumber Romawi kuno sulit ditafsirkan, dan komentar Suetonius bahwa rambut ikal Augustus cenderung keemasan (subflavum) bisa berarti "sedikit pirang" atau "sekadar berarti cokelat alih-alih hitam".[689] Analisis ilmiah terhadap jejak cat yang ditemukan pada patung-patung resminya menunjukkan bahwa ia kemungkinan besar memiliki rambut cokelat muda alami.[690] Mengingat deskripsi Suetonius, diperkirakan tinggi badan Octavius-Augustus sekitar 5 kaki 9 inci, dan karena sadar akan posturnya yang pendek, ia mungkin mengenakan sol sepatu yang ditinggikan agar tampak lebih tinggi.[689]

Di antara yang paling terkenal dari banyak potret Augustus yang masih ada adalah Patung Prima Porta, [691] relief pahatannya di Ara Pacis (Altar Perdamaian),[692] dan pahatan Via Labicana Augustus, yang terakhir menggambarkannya dalam perannya sebagai pontifex maximus. [693] Potret kameo yang menonjol meliputi Kameo Blacas dan Gemma Augustea.[694] Citra resmi Augustus dikontrol dengan sangat ketat dan diidealkan, yang mengambil dari tradisi potret Helenistik alih-alih tradisi realisme dalam potret Romawi. Arkeolog Susan Walker dan ahli numismatik Andrew Burnett menegaskan bahwa Octavianus pertama kali muncul pada koin saat berusia 19 tahun, dan sejak ca29 SM "ledakan jumlah potret Augustus membuktikan kampanye propaganda terpadu yang bertujuan mendominasi semua aspek kehidupan sipil, agama, ekonomi, dan militer dengan sosok Augustus".[695] Citra-citra awal menggambarkan seorang pria muda dan, meskipun ada perubahan bertahap, citranya tetap awet muda hingga ia meninggal di usia tujuh puluhan,[696] yang pada saat itu memiliki "aura keagungan abadi yang berjarak", menurut ahli klasik R. R. R. Smith.[697]

Potret individu yang masih hidup yang dipersonalisasi pertama kali diperkenalkan pada koin Romawi oleh Julius Caesar pada tahun 40-an SM, dan citra Augustus pada koin mungkin merupakan salah satu cara ia meniru ayah angkatnya.[698] Southern bersikeras bahwa masih belum jelas siapa sebenarnya yang mengendalikan citra dan legenda yang terlihat pada koin, atau bagaimana hal itu dipersepsikan sepenuhnya oleh orang-orang di seluruh Kekaisaran, meskipun mungkin saja Augustus secara pribadi mendiktekan bagaimana potret-potret ini muncul.[699] Goldsworthy mencatat bagaimana nama dan citra Augustus menjadi universal pada mata uang di seluruh Kekaisaran, dan bagaimana 'Caesar' yang disebutkan oleh nabi Yesus dalam Perjanjian Baru yang merujuk pada sosok di koin perak yang digunakan oleh orang Yahudi dan lainnya untuk membayar pajak kemungkinan besar adalah Augustus, bukan Tiberius.[700]

Karya seni visual pascaklasik

[sunting | sunting sumber]
Image
Zaman Augustus, Kelahiran Kristus, ca 1852–1854, oleh Jean-Léon Gérôme, Musée de Picardie

Augustus juga telah digambarkan dalam berbagai karya seni setelah masa antikuitas klasik. Pada tahun 1765 pelukis Prancis Charles-André van Loo ditugaskan oleh Louis XV untuk membuat lukisan yang menggambarkan Augustus menutup gerbang Kuil Janus di Forum Romawi, sebuah tindakan simbolis yang menandakan bahwa Roma berada dalam kedamaian. Meskipun Louis XV tidak menyukai lukisan ini dan lukisan kebajikan monarki lainnya, serta memindahkannya dari pondok berburu kerajaannya, sejarawan Mary Beard berpendapat bahwa lukisan van Loo berfungsi sebagai "latar belakang yang sesuai" selama penandatanganan Traktat Amiens tahun 1802 selama Perang Napoleon.[701] Napoleon III menugaskan pelukis Prancis Jean-Léon Gérôme untuk membuat lukisan berjudul Zaman Augustus, Kelahiran Kristus (ca 1852–1854), yang memadukan elemen klasik dan gotik serta menggambarkan Augustus di atas mimbar kekaisaran di atas adegan kelahiran, menyandingkan kelahiran Yesus dengan perdamaian yang dibawa oleh pemerintahan Augustus. Lukisan ini dipamerkan di Paris pada Pameran dunia Exposition Universelle 1855.[702]

Teater, film, seri televisi, dan novel

[sunting | sunting sumber]

Menurut sejarawan Adrian Goldsworthy, Augustus tidak dikenal secara luas seperti paman buyutnya Julius Caesar dan sering dikesampingkan sebagai karakter minor atau penjahat yang murung dalam drama teater, film, dan novel, menghubungkan hal ini dengan fakta bahwa William Shakespeare tidak pernah menulis sebuah drama yang berpusat di sekitarnya.[703] Drama Shakespeare tahun 1599 Julius Caesar menampilkan karakter Octavius, dan Augustus dinamai sebagai Caesar dalam drama tahun 1607 Antony and Cleopatra, di mana ia berperan sebagai antitesis bagi Antonius sebagai musuh yang lemah, pengecut, dan manipulatif.[675] Goldsworthy mengklaim pandangan ini didasarkan pada sumber primer kuno yang mencerminkan perang propaganda yang terjadi antara Antonius dan Octavianus, dan juga dimanifestasikan dalam penampilan dingin aktor Roddy McDowall sebagai Octavianus dalam film tahun 1963 Cleopatra.[703] Novel fiksi sejarah tahun 1934 I, Claudius karya Robert Graves dan seri televisi tahun 1976 berikutnya menggambarkan Augustus tua dalam sudut pandang yang jauh lebih simpatik saat ia dikalahkan secara taktik oleh istrinya yang pembunuh, Livia, meskipun ia hanya berperan sebagai karakter pendukung.[704]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. Tanggal masa kekuasaannya adalah tanggal kontemporer; Augustus hidup di bawah dua sistem kalender, yakni Republik Romawi hingga 45 SM dan Julius setelah 45 SM. Akibat penyimpangan dari maksud Julius Caesar, Augustus menyelesaikan pemulihan kalender Julius pada Maret 4 M dan korespondensi antara kalender Julius proleptik dan kalender yang digunakan di Roma tidak dapat dipastikan sebelum tahun 8 SM.[2]
  2. Cassius Dio justru memberinya nama Caepias, yang mungkin merupakan perubahan dari Scaptia, nama suku kelahiran Octavius.[7]
  3. Sejarawan Patricia Southern berpendapat bahwa "Marcus Antonius biasa menghina Octavianus dengan memanggilnya orang Thurii, menegaskan bahwa kakek buyutnya memiliki usaha pembuatan tali atau pabrik tali di Thurii, dan Suetonius melaporkan adanya grafiti di dasar patung perunggu Augustus yang menyiratkan bahwa ayahnya adalah seorang pedagang perunggu. Keterkaitan dengan aktivitas kelas bawah seperti pembuatan tali dan perdagangan perunggu tentu saja mencemarkan leluhur Octavianus, karena reputasi para senator bergantung pada fakta bahwa mereka tidak pernah mengotori tangan mereka dengan terlibat dalam pekerjaan, yang sebenarnya dilarang".[9]
  4. Karl Galinsky mengklaim perubahan nama ini berdasarkan gelar imperator terjadi pada tahun 40 SM,[10] alih-alih 38 SM.
  5. Ia pertama kali diproklamasikan sebagai imperator pada 16 April 43 SM, setelah Pertempuran Forum Gallorum.[21]
  6. Untuk terjemahan serupa, lihat (Eder 2005, hlm. 13), yang menerjemahkan nama Augustus sebagai "Yang Dimuliakan" (The Revered One).
  7. Anne-Marie Lewis menulis bahwa terdapat perdebatan akademis mengenai tanggal lahir Octavianus yang tepat.[31] Bukti bahwa kelahiran tersebut terjadi pada tanggal 22 September didasarkan pada pernyataan para sejarawan seperti Suetonius dan Velleius Paterculus, meskipun Cassius Dio menegaskan bahwa peristiwa itu terjadi pada tanggal 23 September, dan kebingungan juga timbul akibat transisi penggunaan Kalender Romawi Republik awal ke penggunaan Kalender Julius semasa hidup Octavianus. Karl Galinsky juga menyoroti perdebatan mengenai tanggal 23 September versus 22 September sebagai tanggal kelahirannya.[32]
  8. Mengenai keluarga mereka, Suetonius menulis: "Ada banyak indikasi bahwa keluarga Octavianus pada masa lampau adalah keluarga terpandang di Velitrae; karena tidak hanya sebuah jalan di bagian kota yang paling sering dikunjungi sejak lama dinamai Octavianus, tetapi sebuah altar juga diperlihatkan di sana, yang ditahbiskan oleh seorang Octavius. Orang ini adalah pemimpin dalam perang dengan kota tetangga..."[41]
  9. (Luc 2024, hlm. 133) memberikan dua tanggal, 59 dan 58 SM, sementara (Shotter 2005, hlm. 1–2) mengatakan 58 SM saja, dan (Chisholm & Ferguson 1981, hlm. 23), (Southern 2014, hlm. 7, 9), serta (Galinsky 2012, hlm. xv) mengatakan 59 SM.
  10. Patricia Southern menambahkan bahwa langkah tersebut membawa konotasi politik bagi Octavianus: "Ketika neneknya Julia meninggal, ia menyampaikan pidato pemakaman untuknya, mungkin saat berusia sekitar 11 tahun. Itu adalah penampilan publik pertamanya. Isi pidato yang disampaikan Octavius tidak diketahui; isinya tidak harus sepenuhnya akurat, karena tujuan utamanya adalah pengagungan keluarga. Ia pasti tahu, atau diberi tahu pada saat itu, bahwa Caesar juga pernah membuat pidato pemakaman serupa untuk bibinya sendiri Julia, istri Gaius Marius, dan ia melakukannya pada saat hubungan dengan Marius sangat tidak sehat, jika tidak benar-benar mematikan. Pidato pemakaman sama besarnya sebagai gestur politik maupun tindakan kesalehan".[53]
    Adrian Goldsworthy sependapat mengenai pentingnya pidato tersebut secara politik, meskipun ia mengatakan pidato itu disampaikan pada tahun 51 SM ketika Octavianus berusia 12 tahun, dan tidak menyebutkan Gaius Marius.[54]
  11. Karl Galinsky mengklaim bahwa Octavianus dididik oleh Sphaerus di rumah tangga Lucius Marcius Philippus,[56] sedangkan Adrian Goldsworthy mengklaim Octavianus dididik oleh Sphaerus di rumah tangga orang tua Atia.[57]
  12. Karl Galinsky mengklaim bahwa ini terjadi pada 48 SM,[60] dan Patricia Southern mengklaim kejadiannya selama 47 SM.[61] Southern menjelaskan perbedaan di antara sumber-sumber primer mengenai usia di mana Octavianus mengenakan toga virilis: "Di Roma, Octavius mengenakan toga virilis pada 18 Oktober, di usia 15 tahun...Kedewasaan adalah upacara publik yang formal, di mana anak laki-laki menanggalkan toga praetexta yang menandai masa muda mereka, dan secara resmi terdaftar sebagai warga negara dewasa. Usia normalnya adalah 17 tahun, yang juga merupakan usia dimulainya dinas militer, dan usia legal di mana seorang pria dapat dituntut. Pada awal Kekaisaran, penurunan usia penggunaan toga virilis dianggap sebagai tanda kehormatan, dan cucu-cucu Augustus, Gaius dan Lucius, mengenakannya pada usia yang sama dengan Octavius, yakni 15 tahun. Nicolaus dari Damaskus menyebutkan usia Octavius baru 14 tahun ketika upacara itu berlangsung, tetapi bukti dari Suetonius menentang hal ini".[62]
    Adrian Goldsworthy juga mengatakan bahwa Octavianus mengganti toga praetexta-nya dengan toga virilis pada 18 Oktober 47 SM, meskipun ia mengklarifikasi bahwa "Octavius sudah melewati ulang tahun keenam belasnya beberapa minggu", bukan 15 tahun menurut Southern.[63]
  13. Patricia Southern menegaskan bahwa "apa yang disebut 'triumvirat pertama', yang menggambarkan kesepakatan yang dibuat pada 60/59 SM" antara para negarawan Republik terkemuka "Gnaeus Pompeius Magnus, Gaius Julius Caesar, dan Marcus Licinius Crassus," bukanlah istilah yang akan dikenali oleh ketiga orang ini, dan hanyalah aliansi informal. Southern bersikeras bahwa itu adalah "istilah modern yang nyaman yang berasal dari analogi dengan aliansi yang muncul kemudian,"[69] yaitu apa yang disebut 'triumvirat kedua'.
    Southern menjelaskan lebih lanjut: "pengaturan awal tahun 60 SM ini adalah penggabungan kepentingan yang tidak resmi, tidak disetujui oleh hukum, dan para pesertanya tidak diberi gelar tresviri, maupun istilah modern yang tidak gramatikal 'triumvir'. Mereka sama sekali tidak memberikan gelar korporat pada diri mereka sendiri, tetapi asosiasi mereka dijuluki oleh rakyat Roma sebagai Monster Berkepala Tiga".[69]
  14. Pada 46 SM, Atia mengizinkan Octavianus untuk bergabung dengan Caesar di Hispania, di mana ia berencana untuk melawan sisa-sisa pasukan Pompeius, mendiang musuh Caesar, namun Octavianus jatuh sakit dan tidak dapat melakukan perjalanan.[74]
  15. Adrian Goldsworthy memberikan tanggal yang berbeda untuk penyusunan wasiat Julius Caesar, menulis bahwa itu terjadi pada 15 September 45 SM.[78]
    Octavianus tidak ditunjuk sebagai magister equitum, bertentangan dengan Theodor Mommsen.[79][80] Gelar tersebut mungkin berasal dari pencampuradukan dalam bahasa Yunani antara magister equitum dan praefectus urbi.[81] Lihat pula:
    • Schmitthenner, Walter (1973). Oktavian und das Testament Caesars (dalam bahasa Jerman) (Edisi 2nd). Munich: C. H. Beck.
    • Gesche, H. (1973). "Hat Caesar den Octavian zum Magister equitum designiert? (Ein Beitrag zur Beurteilung der Adoption Octavians durch Caesar)". Historia (dalam bahasa Jerman). 22 (3): 468–478., mengutip Plinius yang Tua (NH 7.147).
    Gesche tidak setuju dengan Walter Schmitthenner. Schmitthenner berpendapat bahwa Octavianus yang berusia 16 tahun terlalu muda untuk menjabat sebagai magister equitum, dan bahwa hal ini dicampuradukkan dengan perannya sebagai praefectus urbi selama Feriae Latinae. Gesche, yang disetujui oleh Ernst Badian, berpendapat bahwa penunjukan Octavianus ke jabatan magister equitum dijelaskan dengan cukup jelas dalam bahasa Latin oleh Plinius yang Tua, dan dengan demikian ia tampaknya tidak bingung dengan terminologi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.[82] Patricia Southern berpendapat bahwa status Octavianus yang secara politik bukan siapa-siapa di Roma tak lama setelah pembunuhan Caesar melemahkan gagasan bahwa ia pernah menjabat di kantor bergengsi magister equitum.[83]
  16. Sebagaimana dicatat oleh Adrian Goldsworthy, dengan satu-satunya pengecualian pada Sulla, yang pernah menjabat berbagai masa jabatan terpilih sebagai diktator, Caesar terpilih untuk menjabat sebagai diktator dengan masa jabatan panjang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia terpilih sebagai diktator selama beberapa hari pada tahun 49 SM untuk menangani pemilihan konsul. Ia kembali terpilih sebagai diktator pada tahun 48 SM dengan masa jabatan satu tahun (dua kali lebih lama dari masa jabatan normal). Pada tahun 46 SM ia terpilih untuk masa jabatan sepuluh tahun sebagai diktator.[85] Ia akhirnya diangkat menjadi dictator perpetuo ('diktator seumur hidup') pada bulan Februari 44 SM, namun dibunuh sebulan kemudian pada Ides of March.[86]
  17. Putrinya Julia telah meninggal pada tahun 54 SM; putranya Caesarion dari Kleopatra tidak diakui oleh hukum Romawi dan tidak disebutkan dalam wasiatnya.[89]
  18. Quintus Pedius dan Lucius Pinarius adalah ahli waris yang tersisa, kemungkinan besar anak-anak dari kakak perempuan Caesar.[93] Berlawanan dengan Nicolaus Damascenus, 8.17–18, Octavianus tidak diadopsi oleh Caesar semasa hidup Caesar.[94]
  19. Dalam pembelaan terhadap Octavianus atas ejekan Marcus Antonius, Marcus Tullius Cicero menyatakan "kita tidak memiliki contoh kesalehan tradisional yang lebih cemerlang di antara para pemuda kita".[136]
  20. Undang-undang tersebut dikenal sebagai lex Pedia. Lihat pula Augustus, RGDA, 2: "Mereka yang membunuh ayahku, aku usir ke pengasingan, menghukum perbuatan mereka melalui proses hukum yang semestinya". Dekrit senat yang melarang penuntutan terhadap para pembunuh tiran dibatalkan oleh lex Pedia. Orang-orang seperti Sextus Pompeius yang tidak hadir di kota juga divonis bersalah, bahkan jika mereka tidak ada hubungannya dengan pembunuhan itu.[149]
  21. aug merujuk pada jabatan keagamaan augur, bukan gelar augustus yang diciptakan pada 27 SM.[155]
  22. Marcus Barbatius adalah seorang pencetak uang.[155]
  23. Karl Galinsky merangkum pengaturan politik ini sebagai berikut: "selama lima tahun ke depan mereka menjadi... tresviri rei publicae constituendae, triumvir yang bertugas, secara harfiah, 'menata kembali negara' (dari sanalah istilah 'konstitusi' kita berasal). Pada dasarnya, ini adalah kediktatoran rangkap tiga".[161]
    Adrian Goldsworthy menggambarkannya demikian: "Pada 43 SM Antonius, Lepidus dan Octavianus ditunjuk sebagai triumviri rei publicae constituendae (dewan tiga orang untuk merekonstitusi negara) oleh lex Titia yang diusulkan oleh seorang tribunus dan disahkan oleh Concilium plebis".[162]
    Patricia Southern menjelaskan bahwa "penggunaan gelar diktator adalah masalah sensitif, dan jabatan tersebut telah dihapuskan oleh Antonius segera setelah pembunuhan Caesar. Tidak bijaksana secara politik untuk memperkenalkan kembali konsep tersebut begitu cepat setelah kediktatoran dihapuskan".[69]
    Ia berpendapat bahwa "analogi terdekat untuk gelar yang diadopsi oleh Antonius, Octavianus, dan Lepidus justru berasal dari kediktatoran; baik Sulla maupun Caesar masing-masing pada gilirannya diangkat secara sah sebagai dictator rei publicae constituendae. Terminologi ini menunjukkan bahwa diktator Sulla dan diktator Caesar ditugaskan untuk merekonstitusi Republik. Dengan menggunakan formula yang hampir sama, para anggota aliansi baru ini diangkat sebagai Tresviri rei publicae constituendae, dengan kekuasaan yang dikonfirmasi selama lima tahun."[69]
    Southern kemudian mengklaim bahwa "di antara mereka, para triumvir memiliki kekuasaan dengan sifat diktatorial yang mencolok."[69]
    Southern menjelaskan bahwa Caesar dibunuh tak lama setelah menjadi dictator perptuo ('diktator seumur hidup'), sehingga para triumvir sangat ingin menghindari "gagasan yang menyedihkan" tentang kediktatoran abadi ini "dengan membatasi jabatan mereka pada masa jabatan lima tahun".[69]
  24. Selama sisa tahun 43 SM, Octavianus melepaskan posisinya sebagai konsul kepada Publius Ventidius, sekutu politik Antonius, sementara Quintus Pedius, yang meninggal karena sebab yang tidak diketahui selama proskripsi, digantikan oleh Gaius Carrinus, sekutu lain milik Antonius.[165] Konsul-konsul Caesarian yang bersekutu untuk tahun-tahun berikutnya, yakni 42, 41, dan 40 SM, juga ditunjuk pada saat ini, sementara sebagian besar posisi magistrat di Roma dan provinsi-provinsi barat diisi oleh orang-orang yang ditunjuk oleh para triumvir (provinsi-provinsi timur sebagian besar masih dikendalikan oleh para liberator, atau pembunuh Caesar).[166]
  25. Sumber-sumber kuno sangat berbeda mengenai berapa banyak orang yang ditargetkan. Hinard 1985, hlm. 266–269, meninjau bukti-buktinya. Plutarkhos dalam tiga kehidupan yang berbeda – Brutus (27.6), Cicero (46.2), dan Antony (20.2) – memberikan angka masing-masing 200, sedikit lebih dari 200, dan 300 orang. Livy, Periochae, 120.4, hanya menyebutkan 130 senator dan banyak equites lainnya. Florus, 2.16.3, menyebutkan 140 senator. Appian, Bella Civilia, 4.7, menyebutkan 17 nama pada awalnya sebelum, dalam dua putaran, 130 dan 150 lainnya ditambahkan. Appian, Bella Civilia, 4.5.7, juga memberikan total 300 senator dan sekitar 2.000 equites,[168] tetapi angka ini menggambarkan semua orang yang terbunuh atau disita propertinya antara tahun 43 dan perjanjian Misenum pada tahun 39.[169] Jumlah korban belum tentu sama dengan jumlah yang diproskripsi; angka yang diberikan dalam Orosius (6.18.10) telah rusak. Sekitar 160 dari mereka yang diproskripsi diketahui namanya.[170]
  26. Velleius Paterculus menegaskan bahwa Octavianus mencoba menghindari proskripsi terhadap para pejabat sedangkan Lepidus dan Antonius disalahkan karena memulainya.[173] Cassius Dio membela Octavianus dengan menyatakan bahwa ia berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin orang, sedangkan Antonius dan Lepidus, yang lebih tua dan terlibat dalam politik lebih lama, memiliki lebih banyak musuh yang harus dihadapi.[174] Klaim ini ditolak oleh Appian, yang bersikeras bahwa Octavianus memiliki kepentingan yang sama dengan Lepidus dan Antonius dalam membasmi musuh-musuhnya.[175] Suetonius mengatakan bahwa Octavianus awalnya enggan memproskripsi pejabat tetapi mengejar musuh-musuhnya dengan semangat yang lebih besar daripada triumvir lainnya.[176]
  27. Patricia Southern menulis bahwa "kebenaran yang tidak menyenangkan" adalah bahwa Octavianus memiliki "kepentingan pribadi" dalam menyingkirkan musuh politik, dan bahwa Cicero "mungkin pada gilirannya akan menyingkirkan [Octavianus] jika diperlukan." Southern menekankan fakta bahwa "Cicero tidak menyangkal bahwa ia pernah mengatakan pemuda itu [Octavianus] harus dipuji setinggi langit dan kemudian 'diabadikan' (dimatikan)." Southern melanjutkan dengan mengatakan bahwa Cicero dianugerahi triumph sebagai konsul pada 63 SM setelah "ia menjatuhkan hukuman mati pada Catilina dan rekan-rekannya," tanpa pengadilan yang panjang dan layak. Southern menjelaskan bahwa salah satu rekan tersebut "adalah ayah tiri Antonius, Lentulus Sura. Ini adalah kebijakan yang ditentang oleh Julius Caesar pada saat itu, dan tribunus Clodius membuat Cicero membayar mahal atas ketergesa-gesaannya dalam menghukum apa yang disebut konspirator Catilina. Octavianus mungkin tidak meratapi Cicero, meskipun jauh di kemudian hari, sebagai Augustus, ia mengakui kualitas hebat sang negarawan tersebut, ketika keadaan sudah aman untuk melakukannya".[180]
  28. Karl Galinsky mengklaim bahwa pertempuran tersebut terjadi dalam dua bagian pada tanggal 23 Oktober 42 SM, dengan pertempuran pertama berakhir dengan Cassius bunuh diri, dan sekali lagi pada pertengahan November tahun yang sama, dengan pertempuran kedua berakhir dengan Brutus bunuh diri.[161]
    Adrian Goldsworthy mengklaim pertempuran pertama terjadi pada 3 Oktober, [189], dan pertempuran kedua pada 23 Oktober 42 SM.[190]
  29. Diratifikasi pada 20 Maret 43 SM, Senat menganugerahi Sextus Pompeius jabatan praefectus classis et orae maritimae untuk angkatan laut Romawi, yang memberinya kendali atas seluruh wilayah pesisir Laut Tengah.[199]
  30. Karl Galinsky mendukung angka 60.000 veteran yang perlu dimukimkan di Italia dan provinsi-provinsi terdekat.[205] Klaus Bringmann menyarankan bahwa sekitar 50.000 hingga 60.000 veteran perlu dimukimkan di sana oleh Octavianus.[206] Patricia Southern menyampaikan bagaimana Appian mengklaim angkanya adalah 170.000 veteran, dan bahwa sejarawan Lawrence J. F. Keppie memperkirakan angka serendah 46.000 dalam karyanya Colonisation and Veteran Settlement in Italy, 47–14 B.C. (1983).[207]
  31. Sejarawan Adrian Goldsworthy menganggap peristiwa ini berpotensi berlebihan akibat rumor dan legenda yang tersimpan dalam sumber-sumber primer: "Rumor dan propaganda bermusuhan segera mengubah ini menjadi pembantaian mengerikan lainnya, dengan 300 warga terkemuka dikorbankan untuk arwah Julius Caesar – sebuah rekayasa yang tak diragukan lagi terinspirasi oleh pembunuhan tawanan Troya oleh Achilles pada pemakaman rekannya Patroclus dalam Iliad. Suetonius mengklaim bahwa permohonan belas kasihan dan alasan-alasan dijawab oleh sang triumvir muda dengan ucapan lakonik 'Dia harus mati' atau 'Kau harus mati' – moriendum esse dalam bahasa Latin. Namun secara keseluruhan, tindakan pembalasan tersebut terbatas. Para prajurit pemberontak diampuni, dan banyak yang tak diragukan lagi direkrut ke dalam legiun Caesar. Lucius Antonius tidak hanya dibiarkan tanpa cedera, tetapi juga dikirim untuk memerintah salah satu provinsi Spanyol".[221]
  32. Anak-anak Marcus Antonius dengan Kleopatra adalah si kembar Alexander Helios dan Cleopatra Selene II yang lahir pada 40 SM,[231] dan putra mereka Ptolemaios Philadelphos yang lahir pada 36 SM.[232]
  33. Menurut Patricia Southern, ketentuan lain dari Perjanjian Misenum mencakup posisi Sextus Pompeius sebagai konsul terpilih untuk tahun 38 SM (dengan Marcus Antonius ditugaskan sebagai konsul untuk tahun yang sama), diizinkan untuk bergabung dengan kolegium augur, dan diberi tanggung jawab untuk menjaga pasokan gandum Roma, namun ia tidak diizinkan menempatkan pasukannya di Italia Romawi.[247]
    Menurut Klaus Bringmann, Sextus Pompeius dijamin mendapatkan jabatan konsul untuk tahun 35 SM, dan diberi tanggung jawab untuk mengelola pasokan gandum ke Roma.[248]
    Baik Southern maupun Bringmann menceritakan bagaimana berbagai liberatores republikan yang diproskripsi diberi amnesti dan diizinkan kembali ke Roma.[249]
    Mengutip Appian (BCiv 5.73), sejarawan Kathryn Welch menyatakan bahwa Sextus Pompeius adalah konsul terpilih bersama Octavianus untuk tahun 33 SM.[250]
    Sejarawan Adrian Goldsworthy menyetujui klaim tentang Sisilia, Sardinia, Korsika, Peloponnesos, dan kolegium augur, namun mengatakan bahwa "putra Pompeius dijadwalkan menjadi konsul pada 33 SM dalam pemilihan yang dikendalikan oleh triumvirat".[251]
  34. Sebagai contoh, Statilius Taurus merayakan triumph pada tahun 34 SM dan kemudian membangun amfiteater batu pertama yang lengkap di Roma.[277]
  35. Patricia Southern menulis bahwa setelah konsul Gaius Sosius berpidato pada 1 Januari 32 SM mengecam Octavianus, sebuah tindakan yang diajukan oleh Sosius diveto oleh tribunus Nonius Balbus.[293] Tidak jelas apa isi undang-undang yang diveto ini secara tepat, namun Southern menyarankan kemungkinan besar itu adalah upaya untuk melucuti Octavianus dari semua kekuasaan triumviratnya, yang kini telah berakhir.[294]
    Adrian Goldsworthy mengonfirmasi rincian yang sama kecuali ia tidak mencantumkan nama tribunus Nonius Balbus dan tidak berspekulasi tentang isi veto seperti Southern.[295]
    Karl Galinsky menyebutkan veto tersebut dan secara lebih pasti menyatakan bahwa itu tentang kekuasaan triumvirat, namun seperti Goldsworthy ia tidak menyebutkan nama tribunus tersebut.[296]
  36. Patricia Southern mengklarifikasi pandangan umum Romawi mengenai wasiat Marcus Antonius dalam Donasi Aleksandria dan pandangan pribadi Octavianus, menulis bahwa "klausul yang paling memalukan, dari sudut pandang Romawi," adalah keinginan Antonius untuk dimakamkan di samping Ratunya Kleopatra di Aleksandria. Namun, menurut Southern, "klausul yang paling merusak, dari sudut pandang pribadi Octavianus," adalah fakta bahwa Antonius telah menunjuk anak-anak yang ia peranakkan dengan Kleopatra sebagai ahli warisnya, dan mengakui Caesarion sebagai ahli waris sejati Julius Caesar, bukan Octavianus. Southern menegaskan bahwa "ini menyegel surat kematian Caesarion, sejauh menyangkut Octavianus".[303]
  37. Sebagaimana ditunjukkan oleh sejarawan Duane W. Roller, Adrian Goldsworthy, Patricia Southern, dan Prudence Jones, perang dinyatakan secara khusus terhadap Kleopatra dan Kerajaan Ptolemaik-nya, bukan terhadap sesama warga negara Marcus Antonius. Hal ini lebih mudah dijual kepada Rakyat Romawi yang waspada terhadap perang saudara lebih lanjut di antara orang Romawi, namun dapat menerima perang melawan ratu asing yang menimbulkan ancaman nyata.[305] Selain itu, Roller menyoroti bagaimana dasar hukum perang didasarkan pada fakta bahwa Kleopatra secara ilegal mempersenjatai dan memasok pasukan kepada warga negara Romawi biasa, Antonius, yang otoritas triumviratnya saat itu secara teknis telah berakhir.[306]
  38. Setelah Actium, Octavianus kembali ke Italia untuk menyelesaikan urusan di sana dengan legiun yang sebelumnya berada di bawah Marcus Antonius, memastikan bahwa mereka tidak gelisah atau memberontak dengan mengirim mereka pada kampanye lain atau menonaktifkan mereka dengan pensiun tanah dan purnabakti. Hanya dalam waktu 30 hari setelah mendarat di Brundisium, Octavianus berangkat lagi ke timur, bepergian pertama ke Yunani, lalu ke Suriah, dan dari sana mengerahkan pasukannya ke Mesir Ptolemaik.[322]
  39. Menurut Galinsky, satu sumber primer kuno yang "penuh dengki" mengklaim bahwa Octavianus secara tidak sengaja mematahkan hidung jenazah Aleksander Agung di makamnya.[340]
  40. Sebagaimana dijelaskan oleh sejarawan Duane W. Roller, Augustus melarang ritus keagamaan Mesir di dalam batas kota Roma, namun seni dan arsitektur bergaya Mesir menyebar dalam berbagai bentuk ke Roma itu sendiri di bawah pemerintahan Augustus, terlihat pada bangunan-bangunan seperti makam piramida Gaius Cestius dari tahun 15 SM.[345]
    Mengomentari sebuah bagian xenofobik dalam puisi Virgil Aeneid tentang penaklukan Mesir oleh Octavianus, Adrian Goldsworthy berpendapat bahwa "Actium ini adalah kemenangan bagi nilai-nilai kebajikan dan tradisi Italia yang bersatu yang didukung oleh dewa-dewi yang baik dan dipimpin oleh putra Julius yang ilahi. Musuhnya adalah kekuatan kacau dari timur dengan dewa-dewa aneh mereka – Anubis yang berkepala jakal, dewa dunia bawah, dikhususkan penyebutannya meskipun Kleopatra dan leluhur Ptolemaik Yunani-nya tidak menunjukkan minat nyata pada kultus kuno semacam itu. Pihak yang benar telah memenangkan kemenangan telak dan perlu, yang mulia karena membawa janji perdamaian".[346]
  41. Dalam terjemahannya atas karya Tacitus, Annals, 1.1.1, sejarawan Klaus Bringmann lebih memilih istilah 'warga negara pertama' (first citizen) untuk bahasa Latin princeps yang digunakan untuk menggambarkan Augustus.[353]
    Demikian pula, sejarawan Karl Galinsky menyatakan tentang Augustus: "gelarnya bukanlah raja atau diktator melainkan princeps, warga negara pertama".[354]
    Sejarawan John Stuart Richardson lebih memilih istilah 'warga negara terkemuka' (leading citizen) sebagai terjemahan untuk princeps.[355]
    Werner Eck dan Sarolta Takács mendeskripsikan princeps sebagai "orang pertama atau utama dalam negara".[356]
    Adrian Goldsworthy memberikan dua terjemahan berbeda dari princeps: 'warga negara pertama' atau 'warga negara terkemuka'.[357]
  42. Adrian Goldsworthy menyoroti hal ini dengan contoh Senat di bawah konsul Octavianus yang mendekritkan bahwa pintu-pintu Kuil Janus harus ditutup pada 11 Januari 29 SM, sebuah ritual yang menyatakan bahwa Roma tidak lagi berperang, meskipun kampanye militer masih berlangsung di Gallia dan Hispania.[364]
  43. Sejarawan Duane W. Roller menulis bahwa Munatius Plancus bertanggung jawab tidak hanya untuk membangun Kuil Saturnus di Roma dan memimpin negosiasi diplomatik yang menjamin perdamaian dengan Parthia pada 20 SM, tetapi juga karena merekomendasikan gelar augustus kepada Octavianus pada 27 SM.[390]
    Sejarawan Werner Eck, Sarolta Takács, dan Adrian Goldsworthy mengklarifikasi bahwa Munatius Plancus mengajukan mosi di Senat untuk menghormati Octavianus,[391] dan mungkin bertindak atas instruksinya.[392]
  44. Sejarawan Adrian Goldsworthy mencatat bahwa gelar untuk augustus dalam bahasa Yunani Kuno adalah sebastos (Σεβαστός), yang ia terjemahkan sebagai 'yang terhormat' atau 'yang dimuliakan'.[397]
    Goldsworthy menjelaskan lebih lanjut: "Augustus membawa nuansa keagamaan yang kental dari tradisi Romawi dalam mencari bimbingan dan persetujuan ilahi melalui nubuatan. Ennius, penyair paling awal dan paling dihormati di Roma, berbicara tentang Kota yang didirikan dengan 'nubuatan agung' (august augury) dalam sebuah bagian yang sama familiarnya bagi orang Romawi seperti halnya kutipan Shakespeare yang paling terkenal bagi kita saat ini".[398]
  45. Adrian Goldsworthy menyertakan gelar 'Augustus' dalam nama lengkap kaisar, menuliskannya sebagai Imperator Caesar Augustus divi filius.[398]
  46. Ia pertama kali diproklamasikan sebagai imperator pada 16 April 43 SM, setelah Pertempuran Forum Gallorum.[21]
  47. Para perwira bertindak atas perintah Marcellus dan Augustus.[412]
  48. Marcus Vipsanius Agrippa juga menolak merayakan triumph selama masa jabatannya sebagai konsul tahun 37 SM pada masa triumvirat, setelah ia kembali dari Galia pada 38 SM. Sejarawan kuno mengklaim bahwa ini adalah langkah untuk menghindari sorotan terhadap kegagalan Octavianus baru-baru itu. Patricia Southern menyatakan bahwa sama mungkinnya "penolakan itu adalah bagian dari keinginan Octavianus untuk membatasi jumlah orang yang diizinkan mengadakan triumph hanya bagi anggota keluarga dekat. Jenderal yang berparade ke Capitol dengan pakaian kemenangan mereka mungkin saja mulai mengembangkan gagasan yang melampaui kedudukan mereka".[452]
  49. Sejarawan Romawi Florus mengklaim bahwa bangsa Seres yang memproduksi sutra, kemungkinan adalah Tiongkok Han, mengunjungi istana Augustus bersama utusan dari India. Namun, Augustus tidak menyebutkan Seres dalam Res Gestae-nya. Para sejarawan Tiongkok kuno tidak menyebutkan adanya upaya resmi oleh Dinasti Han untuk menjalin kontak dengan Roma (yang disebut sebagai Da Qin) sebelum tahun 97 M ketika komandan militer Ban Chao mengirim duta besarnya Gan Ying dalam misi diplomatik ke Roma, meskipun ia tidak pernah mencapai lebih jauh dari Teluk Persia di bawah kendali Parthia.[458]
  50. Tanggal tersebut disediakan oleh kalender bertulis.[471] Dio melaporkan ini di bawah tahun 13 SM, mungkin sebagai tahun kematian Lepidus.[472]
  51. Patricia Southern menulis bahwa konsep imperium sine fine ('kedaulatan tanpa akhir') ini baru mulai diragukan setelah kekalahan telak pada Pertempuran Hutan Teutoburg di tahun 9 M dan penarikan mundur dari Germania di luar Sungai Rhein, padahal sebelumnya Romawi telah menancapkan kekuasaan mereka hingga ke Sungai Elbe.[481]
  52. Patricia Southern menulis bahwa terdapat kampanye lanjutan di Alpen oleh Tiberius hingga tahun 6 SM.[451]
  53. Sejarawan Patricia Southern menulis bahwa "Tiberius memulihkan kerugian tersebut, tetap berada di Jerman selama dua tahun lagi, pada 10 M berjaga-jaga kalau-kalau anggota suku menembus ke Rhein dan pada 11 M berkampanye di dalam wilayah Jerman — tetapi tidak terlalu jauh. Augustus menulis dalam Res Gestae bahwa ia menenangkan Jerman hingga ke muara Elbe, mengabaikan kerugian pada tahun 9 M."[513]
    Southern mengisyaratkan bahwa "versi awal Res Gestae, yang disusun sebelum 9 M, mungkin akan menyatakan 'Saya menenangkan Jerman hingga ke Elbe,' tetapi setelah bencana Varus, klaim bahwa wilayah Jerman telah ditaklukkan dikurangi menjadi lebih sederhana 'hingga ke muara Elbe'.[513]
    Mengenai ambisi teritorial Augustus, Southern menulis tentang pendiriannya atas "sebuah altar di tepi utara" Sungai Elbe pada 1 M, dan "mungkin pada saat itu konsep imperium sine fine masih berlaku, tetapi apa pun niat awal Augustus, mimpi penaklukan telah pudar. Augustus tidak pernah pulih dari bencana Varian, dan memalingkan punggungnya dari ekspansi Kekaisaran. Ia konon melampiaskan perasaannya sesekali dengan berteriak keras, 'Quinctilius Varus, kembalikan legiunku! dan ia tentu menasihati Tiberius untuk tidak mencoba penaklukan lebih lanjut".[512]
  54. Adrian Goldsworthy mencatat perdebatan akademis yang sedang berlangsung mengenai sifat masalah kesehatan Augustus yang masih belum pasti. Beberapa ahli berpendapat bahwa penyakit itu bahkan dibuat-buat, atau bahwa kondisinya bersifat psikosomatis, namun apa pun masalahnya, hal itu memengaruhi karier politiknya secara substansial, termasuk keputusannya untuk mencari ahli waris.[528]
  55. Patricia Southern berpendapat bahwa Augustus mungkin sedang menguji reaksi publik terhadap kemenangan Gaius Caesar yang berusia 14 tahun dalam pemilihan sebagai konsul, dengan memintanya menunggu hingga berusia 21 tahun. Augustus bersikeras bahwa usia ini cukup pantas, karena Augustus telah menjadi konsul pada usia 19 tahun sebagai Octavianus, tepat sebelum membentuk triumvirat.[543]
  56. Julius Caesar dianugerahi kehormatan ilahi semasa hidupnya, namun pendewaan anumerta dan kultus Divus Julius baru didirikan setelah ratifikasi lex Rufrena pada 42 SM.[572] Klaim keturunan ilahi umum dipromosikan oleh keluarga aristokrat Romawi. Sebagai contoh, Julius Caesar mengklaim sebagai keturunan dewi Venus. Selama masa triumvirat, Marcus Antonius dipandang oleh banyak orang yang tinggal di provinsi timur sebagai sosok ilahi yang mirip dengan demigod Hercules, atau bahkan Dionisius. Octavianus dengan mudah mengklaim keturunan dari makhluk ilahi hanya dengan menjadi anak angkat Julius Caesar, di mana ingatan publik tentang kediktatoran Caesar perlahan dikaburkan oleh pemujaannya sebagai dewa yang dimuliakan, terutama pada saat sastra masa Augustus mapan.[573]
  57. Sejarawan Patricia Southern menulis bahwa "Di Roma dan wilayah barat, prosesnya berkembang lebih lambat. Roma adalah wilayah yang lebih sensitif, di mana memproklamirkan diri sebagai dewa bukanlah tindakan yang paling bijaksana."[574]
    Southern melanjutkan dengan menjelaskan bahwa "pemujaan Augustus sebagai dewa yang hidup tampaknya lebih dapat diterima di provinsi-provinsi barat daripada di Roma itu sendiri. Altar didedikasikan kepadanya sebagai dewa semasa hidupnya di beberapa provinsi."[574]
    Southern menegaskan bahwa "kuil-kuil didirikan untuk Augustus sendiri, dan bukan hanya untuk genius-nya saja," dan bahwa "provinsi-provinsi timur semuanya terbiasa dengan konsep ini, tetapi provinsi-provinsi barat adalah wilayah baru" bagi kepercayaan religius ini. Southern berpendapat bahwa untuk provinsi barat Roma, "kultus penguasa harus diciptakan di sana, dan terkonsentrasi di situs-situs tertentu. Di dua situs utama terdapat tempat suci terbuka dan altar tetapi tidak ada kuil yang sebenarnya; Altar Tiga Galia didirikan di Lugdunum, dan Altar Ubii di Cologne di tepi Rhein. Sebuah altar untuk Augustus didirikan di tepi utara Elbe pada 1 M, meskipun mungkin tidak bertahan lama setelah penarikan mundur dari Jerman."[575]
  58. Sejarawan Adrian Goldsworthy memberikan terjemahan bahasa Inggris, mengklarifikasi bahwa Glaphyra, seorang wanita bangsawan Anatolia dari Kapadokia, menjalin hubungan asmara dengan Marcus Antonius sebelum Antonius menjalin hubungan dengan ratu Mesir Ptolemaik Kleopatra, dan bahwa Manius adalah agen Antonius di Italia yang sebagian disalahkan karena menyebabkan Perang Perusia dengan Octavianus diadu melawan Fulvia dan Lucius Antonius.[596]
    Puisi tersebut diterjemahkan sebagai berikut: "Antonius menyetubuhi Glaphyra, jadi Fulvia sebagai balas dendam ingin meniduriku! Apa, haruskah aku menyetubuhi Fulvia? Lalu bagaimana jika Manius memohon padaku untuk menyodominya, haruskah aku melakukannya? Kurasa tidak, jika aku punya sedikit akal sehat. 'Bersetubuh atau bertarung,' katanya. Yah, kemaluanku lebih berharga bagiku daripada hidupku sendiri. Biarkan pertempuran dimulai!".[597]
  59. Menulis dalam ulasan buku Timothy Peter Wiseman The house of Augustus: a historical detective story (2019), Sandra Bingham, Pengajar Rekanan Ilmu Klasik di Universitas Edinburgh, berpendapat bahwa Wiseman "menawarkan alternatif terhadap pandangan-pandangan yang diterima ini, dengan alasan misalnya bahwa identifikasi Rumah Augustus tidak benar (Bab 2). Penilaian ulangnya terhadap bukti Kuil Apollo (Bab 8), terutama mengenai orientasinya, sangat meyakinkan".[651]
  60. Mengenai hubungan Octavianus-Augustus dengan dewa Apollo, Patricia Southern menulis bahwa mereka berbagi tanggal lahir yang sama yaitu 23 September, mengatakan bahwa tanggal ini memiliki "arti penting" bagi kaisar masa depan yang lahir sebagai Gaius Octavius pada 63 SM.[4]
  61. Sebagaimana ditulis Tacitus, generasi muda yang hidup pada 14 M tidak pernah mengenal bentuk pemerintahan lain selain principatus.[663]
  62. Suetonius, Augustus, 79, mendeskripsikan Augustus sebagai "sangat tampan dan luar biasa anggun di semua periode kehidupannya, meskipun ia sama sekali tidak memedulikan perhiasan pribadi. Ia sangat tidak peduli dengan penataan rambutnya, sehingga ia membiarkan beberapa tukang cukur bekerja terburu-buru pada saat yang bersamaan, dan perihal janggutnya, kadang ia memotongnya dan kadang mencukurnya, sementara pada saat yang sama ia akan membaca atau menulis sesuatu... Ia memiliki mata yang jernih dan cerah... Giginya jarang, kecil, dan tidak terawat; rambutnya agak ikal dan cenderung keemasan; alisnya menyatu. Telinganya berukuran sedang, dan hidungnya sedikit menonjol di bagian atas lalu membengkok sedikit ke dalam. Kulitnya antara gelap dan terang. Ia bertubuh pendek, meskipun Julius Marathus, orang yang dimerdekakannya dan penjaga catatan-catatannya, mengatakan bahwa tingginya lima kaki sembilan inci [dalam satuan modern, sedikit di bawah 17 m or 55 ft 9 in], tetapi hal ini tersamarkan oleh proporsi yang baik dan simetri sosoknya, dan hanya terlihat jika dibandingkan dengan orang yang lebih tinggi yang berdiri di sampingnya".

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Galinsky 2012, hlm. 75–76.
  2. Blackburn & Holford-Strevens 2003, hlm. 670–671.
  3. Richardson 2012, hlm. 225.
  4. 1 2 Southern 2014, hlm. 1.
  5. Southern 2014, hlm. 1; Goldsworthy 2014, hlm. 6, 88–89.
  6. Luke 2015, hlm. 242–266, namun berpendapat bahwa Octavius memilih nama tersebut untuk mengidentifikasi dirinya dengan pengamanan wilayah yang dilakukan ayahnya.
  7. Lindsay 2009, hlm. 89, mengutip Dio, 45.1.1.
  8. Fratantuono 2016, hlm. xviii–xix, 154–155 (catatan akhir 3, 6); Southern 2014, hlm. 3.
  9. Southern 2014, hlm. 3.
  10. 1 2 3 Galinsky 2012, hlm. 16.
  11. Southern 2014, hlm. 1; Goldsworthy 2014, hlm. 6–7, 88–89.
  12. Bringmann 2007, hlm. 283; Levick 2009, hlm. 209; Shotter 2005, hlm. 1; Goldsworthy 2014, hlm. 6.
  13. Bringmann 2007, hlm. 283; Goldsworthy 2014, hlm. 6.
  14. Fratantuono 2016, hlm. xviii–xix, 154–155 (catatan akhir 3); Goldsworthy 2014, hlm. 6–7.
  15. Southern 2014, hlm. 45.
  16. Bringmann 2007, hlm. 283; Galinsky 2012, hlm. 16.
  17. Shelton 1998, hlm. 58; Goldsworthy 2014, hlm. 6.
  18. Southern 2014, hlm. 34, 131; Goldsworthy 2014, hlm. 6.
  19. Hammond 1957; Syme 1958, hlm. 176, 179, 181–183, 185; Goldsworthy 2014, hlm. 6.
  20. Fishwick 2004, hlm. 250; Eck & Takács 2007, hlm. 57.
  21. 1 2 3 Fishwick 2004, hlm. 250.
  22. Eck & Takács 2007, hlm. 57.
  23. Syme 1958, hlm. 175, 179; Hammond 1957, hlm. 21; Galinsky 2012, hlm. 38, 66–67; Southern 2014, hlm. 50, 102, 131.
  24. Hammond 1957, hlm. 21, 55; Galinsky 2012, hlm. 66–67; Eck & Takács 2007, hlm. 57.
  25. Shotter 2005, hlm. 1.
  26. Bringmann 2007, hlm. 304, 307.
  27. Galinsky 2005, hlm. 7–8; Galinsky 2012, hlm. 16; Goldsworthy 2014, hlm. 6.
  28. Shotter 2005, hlm. 1; Rattini 2019.
  29. Southern 2014, hlm. 24, Fig. 1.3.
  30. Bringmann 2007, hlm. 283; Galinsky 2012, hlm. xv, 2–3; Lewis 2023, hlm. 21–23; Southern 2014, hlm. 1, 5; Eck & Takács 2007, hlm. 7.
  31. Lewis 2023, hlm. 21–23.
  32. Galinsky 2012, hlm. 2–3.
  33. Lewis 2023, hlm. 34–35; Goldsworthy 2014, hlm. 32; Suetonius, Augustus, 5–6.
  34. Shotter 2005, hlm. 1–2; Galinsky 2012, hlm. 2, 4–5; Southern 2014, hlm. 1.
  35. Lewis 2023, hlm. 21; Southern 2014, hlm. 5; Goldsworthy 2014, hlm. 32.
  36. Fratantuono 2016, hlm. xix; Southern 2014, hlm. 3; Goldsworthy 2014, hlm. 45; Luke 2015, hlm. 246 (menolak kisah dari Suetonius, Augustus, 7.1), 252–53 (justru berargumen bahwa Octavius saat itu berusaha mengasosiasikan dirinya dengan keberhasilan ayahnya dalam menenangkan Italia selatan).
  37. Galinsky 2012, hlm. 1–2; Goldsworthy 2014, hlm. 13–14, 20–21, 23, 68.
  38. Galinsky 2012, hlm. 1–2; Southern 2014, hlm. 2; Goldsworthy 2014, hlm. 13–14, 68.
  39. Galinsky 2012, hlm. 2, 5; Southern 2014, hlm. 5; Eck & Takács 2007, hlm. 6.
  40. Lewis 2023, hlm. 34; Shotter 2005, hlm. 1–2; Southern 2014, hlm. 1–3; Eck & Takács 2007, hlm. 6.
  41. Suetonius, Augustus, 1.
  42. Shotter 2005, hlm. 1–2; Luc 2024, hlm. 133; Southern 2014, hlm. 5–6; Goldsworthy 2014, hlm. 32–33, 35–37, 40–44.
  43. Galinsky 2012, hlm. 5; Southern 2014, hlm. 7; Eck & Takács 2007, hlm. 6.
  44. Goldsworthy 2014, hlm. 45; Eck & Takács 2007, hlm. 6; Richardson 2012, hlm. 5; Broughton 1952. Broughton mengutip elogium untuk Octavius, Templat:ILS inscription, secara menyeluruh.
  45. Shotter 2005, hlm. 1–2; Lewis 2023, hlm. 34; Rowell 1962, hlm. 14; Southern 2014, hlm. 7; Eck & Takács 2007, hlm. 6–7.
  46. Chisholm & Ferguson 1981, hlm. 23; Southern 2014, hlm. xv, 5–6; Goldsworthy 2014, hlm. 7, 9.
  47. Shotter 2005, hlm. 1–2; Luc 2024, hlm. 133.
  48. Galinsky 2012, hlm. 6; Shotter 2005, hlm. 2; Southern 2014, hlm. 3, 9; Eck & Takács 2007, hlm. 7.
  49. Galinsky 2012, hlm. 8; Southern 2014, hlm. 9; Eck & Takács 2007, hlm. 7.
  50. Galinsky 2012, hlm. 6, 8; Southern 2014, hlm. 10 (Patricia Southern sampai pada kesimpulan yang sama dengan Karl Galinsky, tanpa menyebutkan pelestarian kekayaan pribadi).
  51. Shotter 2005, hlm. 2; Galinsky 2012, hlm. 1, 14; Southern 2014, hlm. 5, 10; Goldsworthy 2014, hlm. 48.
  52. Shotter 2005, hlm. 2; Galinsky 2012, hlm. 1, 14; Southern 2014, hlm. 10; Goldsworthy 2014, hlm. 65–66.
  53. Southern 2014, hlm. 10.
  54. Goldsworthy 2014, hlm. 65–66.
  55. Galinsky 2012, hlm. 10; Goldsworthy 2014, hlm. 48, 544 ("Catatan" untuk Bab 3, catatan 4).
  56. Galinsky 2012, hlm. 10.
  57. Goldsworthy 2014, hlm. 48.
  58. Galinsky 2012, hlm. 10–11.
  59. Galinsky 2012, hlm. 9; Southern 2014, hlm. 23–24; Goldsworthy 2014, hlm. 67.
  60. Galinsky 2012, hlm. 9.
  61. Southern 2014, hlm. 23–24.
  62. Southern 2014, hlm. 24.
  63. Goldsworthy 2014, hlm. 67.
  64. Southern 2014, hlm. 25; Goldsworthy 2014, hlm. 67–68.
  65. Rowell 1962, hlm. 16; Galinsky 2012, hlm. 14; Southern 2014, hlm. 25; Goldsworthy 2014, hlm. 67–68.
  66. Rowell 1962, hlm. 16; Galinsky 2012, hlm. 14.
  67. Galinsky 2012, hlm. 7–8; Southern 2014, hlm. 8–9, 11–12, 91; Bringmann 2007, hlm. 229–231; Goldsworthy 2014, hlm. 20, 52–53.
  68. Galinsky 2012, hlm. 8, 14; Southern 2014, hlm. 11–23, 91; Bringmann 2007, hlm. 229–231, 249, 251–257; Goldsworthy 2014, hlm. 52–53, 58–62.
  69. 1 2 3 4 5 6 Southern 2014, hlm. 91.
  70. Galinsky 2012, hlm. 9; Southern 2014, hlm. 27.
  71. Galinsky 2012, hlm. 11; Southern 2014, hlm. 28; Goldsworthy 2014, hlm. 65, 73.
  72. Galinsky 2012, hlm. 9, 14; Southern 2014, hlm. 30–31; Goldsworthy 2014, hlm. 69–70, 87, 114.
  73. Galinsky 2012, hlm. 9, 14; Southern 2014, hlm. 30–31.
  74. Galinsky 2012, hlm. 9, 14; Goldsworthy 2014, hlm. 69–70, 87.
  75. Galinsky 2012, hlm. 14; Goldsworthy 2014, hlm. 86.
  76. Southern 2014, hlm. 33.
  77. Bringmann 2007, hlm. 283; Eck & Takács 2007, hlm. 8.
  78. Goldsworthy 2014, hlm. 86.
  79. Morstein-Marx, Robert (2021). Julius Caesar and the Roman People. Cambridge University Press. hlm. 491 n. 17. doi:10.1017/9781108943260. ISBN 978-1-108-83784-2. LCCN 2021024626. S2CID 242729962. Mommsen's restoration of Fasti Capit. Cons. sub anno 44, making Octavius magister equitum designatus for 44, has now been disproved by the newly published fragments of the Privernum Fasti.
  80. Zevi, Fausto; Cassola, Filippo (2016). "I Fasti di "Privernum"". Zeitschrift für Papyrologie und Epigraphik (dalam bahasa Italia). 197: 287–309. ISSN 0084-5388. JSTOR 43910005.
  81. Southern 2014, hlm. 26–27, 36–37, 44.
  82. Southern 2014, hlm. 36–37.
  83. Southern 2014, hlm. 44.
  84. Southern 2014, hlm. 49, 182; Goldsworthy 2014, hlm. 70, 74, 83–84, penjelasan mengenai studi dan pelatihan militer pada dua halaman terakhir.
  85. Goldsworthy 2014, hlm. 70.
  86. Southern 2014, hlm. 49, 182; Goldsworthy 2014, hlm. 70, 74, 78–79, 83–84.
  87. Eck & Takács 2003, hlm. 9; Southern 2014, hlm. xv, 11, 14–15, 80; Goldsworthy 2014, hlm. 36–37, 42–43.
  88. Eck & Takács 2003, hlm. 9; Goldsworthy 2014, hlm. 34, 42.
  89. 1 2 Roller 2010, hlm. 74; Burstein 2004, hlm. xxi, 21.
  90. Tatum 2024, hlm. 146, mencatat condicio nominis ferendi ("tindakan mengambil nama") Caesar "tidak boleh disalahartikan sebagai adopsi yang sebenarnya"; Lindsay 2009, hlm. 84–85, mencatat adopsi penuh melalui wasiat adalah "mustahil", 182ff.; Southern 2014, hlm. 37, menegaskan bahwa dalam wasiat Caesar, Octavianus berhak "jika ia menginginkannya, untuk menamai dirinya Gaius Julius Caesar Octavianus".; Syme 1988, hlm. 159.
  91. Southern 2014, hlm. 42–43; Galinsky 2012, hlm. 15; Eck & Takács 2007, hlm. 9–10.
  92. Lindsay 2009, hlm. 184–5, 186 n. 3 dan Southern 2014, hlm. 33–34, mengutip antara lain: Appian, Bella Civilia, 2.143; Cicero, Ad Atticum, 14.10.3; Dio, 44.35.2.3; Nicolaus Damascenus, 17.48. Lihat pula Tatum 2024, hlm. 130, Eck & Takács 2003, hlm. 9, Rowell 1962, hlm. 14, Galinsky 2012, hlm. 9–10, 15, dan Goldsworthy 2014, hlm. 86.
  93. Richardson 2012, hlm. 7.
  94. Lindsay 2009, hlm. 184–5.
  95. Galinsky 2012, hlm. xv, 9–10, 15; Southern 2014, hlm. 43; Bringmann 2007, hlm. 283, meski tanpa menyebutkan tanggal spesifik 8 Mei 44 SM; Goldsworthy 2014, hlm. 88, tanpa menyebutkan tanggal 8 Mei 44 SM.
  96. Lindsay 2009, hlm. 187–88, juga menolak klaim (Appian, Bella Civilia, 3.13–14) bahwa ia menghadap praetor sebagai putra Caesar.
  97. Tatum 2024, hlm. 146, menyebut klaim adopsi tersebut "sebuah kepalsuan yang transparan bagi siapa pun yang paham hukum Romawi"; Lindsay 2009, hlm. 183, mencatat konsensus bahwa adopsi tersebut meragukan secara hukum; Levick 2009, hlm. 209; Goldsworthy 2014, hlm. 87, merangkum perdebatan akademis: "Adopsi penuh semacam itu hanya dapat terjadi semasa sang ayah masih hidup dan tidak bisa dilakukan secara anumerta. Hal ini telah memicu perdebatan akademis yang berkepanjangan dan sangat teknis mengenai status apa sebenarnya yang diberikan wasiat Julius Caesar kepada Octavius".
  98. Fratantuono 2016, hlm. xviii–xix, 154–155 (n. 3); Mackay 2004, hlm. 160; Eck & Takács 2003, hlm. 10; Southern 2014, hlm. 20–21; Goldsworthy 2014, hlm. 37.
  99. Lindsay 2009, hlm. 89, mengutip antara lain Cicero, Ad Atticum, 14.12, 15.12, 16.8–9, 16.12, 16.14; Southern 2014, hlm. 45, mengutip Cicero, yang juga menunjukkan contoh ayah tirinya Philippus; Galinsky 2012, hlm. 16, hanya mencatat contoh Cicero; Goldsworthy 2014, hlm. 88–89, mencatat bagaimana "musuh-musuhnya memanggilnya Octavianus untuk menekankan bahwa keluarga aslinya tidak jelas," namun tanpa menyebutkan Philippus atau Cicero, sementara mencatat di hal. 110 bagaimana Cicero beralih dari merujuknya sebagai Octavius dan Octavianus menjadi Caesar setelah ia merekrut dua legiun yang sebelumnya setia kepada Antonius.
  100. Shelton 1998, hlm. 58; Goldsworthy 2014, hlm. 6, 89.
  101. Southern 1998, hlm. 21; Southern 2014, hlm. 37; Goldsworthy 2014, hlm. 6–7, 88–89.
  102. Eck & Takács 2003, hlm. 9-10.
  103. Rowell 1962, hlm. 19; Eck & Takács 2007, hlm. 9–10.
  104. Eck & Takács 2003, hlm. 9–10.
  105. Rowell 1962, hlm. 18.
  106. Rowell 1962, hlm. 19.
  107. Eck & Takács 2003, hlm. 10; Eder 2005, hlm. 18.
  108. Eck & Takács 2003, hlm. 9.
  109. Eck & Takács 2003, hlm. 10.
  110. Chisholm & Ferguson 1981, hlm. 24, 27; Goldsworthy 2014, hlm. 20.
  111. Goldsworthy 2014, hlm. 101.
  112. Eck & Takács 2003, hlm. 10.
  113. Bringmann 2007, hlm. 281–282; Galinsky 2012, hlm. 21–22; Goldsworthy 2014, hlm. 85–86; Southern 2014, hlm. 55–56.
  114. Eck & Takács 2003, hlm. 10; Bringmann 2007, hlm. 281–283, 285.
  115. Eck & Takács 2003, hlm. 11.
  116. Rawson 1994, hlm. 472, mengutip Appian, Bella Civilia, 3.94.
  117. Bringmann 2007, hlm. 283, 285.
  118. Lindsay 2009, hlm. 188. "Dia telah mendesak Antonius untuk sebuah lex curiata agar... dapat melegalkan posisinya sebagai putra Caesar"; Southern 2014, hlm. 62–63; Galinsky 2012, hlm. 22; Bringmann 2007, hlm. 285; Goldsworthy 2014, hlm. 98.
  119. Galinsky 2012, hlm. 21–24; Southern 2014, hlm. 57–59, 61–62; Bringmann 2007, hlm. 285–287; Goldsworthy 2014, hlm. 98–100.
  120. 1 2 Galinsky 2012, hlm. 25.
  121. Rawson 1994, hlm. 474–476; Galinsky 2012, hlm. 25–26; Bringmann 2007, hlm. 287.
  122. Rawson 1994, hlm. 474–476; Bringmann 2007, hlm. 286–287.
  123. Chisholm & Ferguson 1981, hlm. 26; Galinsky 2012, hlm. 30; Tatum 2024, hlm. 21, 26–27; Southern 2014, hlm. 159–60; Bringmann 2007, hlm. 45–55, 58–59, 67–70, 89–90; Goldsworthy 2014, hlm. 287.
  124. Eck & Takács 2003, hlm. 11–12; Galinsky 2012, hlm. 21; Southern 2014, hlm. 28; Bringmann 2007, hlm. 65; Goldsworthy 2014, hlm. 285–286.
  125. Syme 1939, hlm. 123–126; Eck & Takács 2003, hlm. 12; Southern 2014, hlm. 23; Bringmann 2007, hlm. 66–67; Goldsworthy 2014, hlm. 287.
  126. Galinsky 2012, hlm. 27–28; Southern 2014, hlm. 68; Bringmann 2007, hlm. 287; Goldsworthy 2014, hlm. 103–105.
  127. Bringmann 2007, hlm. 287; Goldsworthy 2014, hlm. 104–105.
  128. Galinsky 2012, hlm. 27–28; Southern 2014, hlm. 68; Goldsworthy 2014, hlm. 104–105.
  129. Syme 1939, hlm. 123–126; Eck & Takács 2003, hlm. 12; Galinsky 2012, hlm. 23; Southern 2014, hlm. 28; Bringmann 2007, hlm. 69; Goldsworthy 2014, hlm. 287.
  130. Rowell 1962, hlm. 23; Bringmann 2007, hlm. 287; Galinsky 2012, hlm. 28; Southern 2014, hlm. 66–69; Goldsworthy 2014, hlm. 109–111, 114–115.
  131. Rowell 1962, hlm. 23; Goldsworthy 2014, hlm. 111–112, 114–115.
  132. Galinsky 2012, hlm. 28–29; Southern 2014, hlm. 66–67, 71; Goldsworthy 2014, hlm. 114–115.
  133. Rowell 1962, hlm. 24; Southern 2014, hlm. 69; Bringmann 2007, hlm. 290–291; Goldsworthy 2014, hlm. 115.
  134. Eck & Takács 2003, hlm. 12; Goldsworthy 2014, hlm. 28–29.
  135. Chisholm & Ferguson 1981, hlm. 29.
  136. Chisholm & Ferguson 1981, hlm. 29.
  137. Eck & Takács 2003, hlm. 13; Galinsky 2012, hlm. 23; Southern 2014, hlm. 29; Bringmann 2007, hlm. 69–70.
  138. Eck & Takács 2003, hlm. 13; Galinsky 2012, hlm. 167; Southern 2014, hlm. 29–30; Bringmann 2007, hlm. 69–70; Goldsworthy 2014, hlm. 289–291.
  139. Rowell 1962, hlm. 24; Eck & Takács 2003, hlm. 13; Southern 2014, hlm. 160.
  140. Syme 1939, hlm. 173–174; Scullard 1982, hlm. 157; Galinsky 2012, hlm. 30; Southern 2014, hlm. 71–72; Bringmann 2007, hlm. 291; Goldsworthy 2014, hlm. 116–120.
  141. Fishwick 2004, hlm. 250; Southern 2014, hlm. 72.
  142. Rowell 1962, hlm. 26–27; Southern 2014, hlm. 72; Bringmann 2007, hlm. 291; Goldsworthy 2014, hlm. 121.
  143. 1 2 Rowell 1962, hlm. 27.
  144. Chisholm & Ferguson 1981, hlm. 32–33; Bringmann 2007, hlm. 74; Goldsworthy 2014, hlm. 292.
  145. Galinsky 2012, hlm. 30; Southern 2014, hlm. 74; Bringmann 2007, hlm. 292; Goldsworthy 2014, hlm. 122–123.
  146. Rowell 1962, hlm. 27; Southern 2014, hlm. 74; Goldsworthy 2014, hlm. 123–124.
  147. Eck & Takács 2003, hlm. 15; Galinsky 2012, hlm. 28; Southern 2014, hlm. 30–31; Bringmann 2007, hlm. 83–86; Goldsworthy 2014, hlm. 292.
  148. Welch 2014, hlm. 138–145, lebih memilih narasi Yunani (Appian, Bella Civilia, 3.95.392–3; Dio, 46.48.2–4) daripada versi Latin yang disederhanakan (terutama Augustus, RGDA, 2); Southern 2014, hlm. 88; Bringmann 2007, hlm. 292–293; Goldsworthy 2014, hlm. 124–125.
  149. Welch 2014, hlm. 138–39 (RGDA), 142–43; Goldsworthy 2014, hlm. 125.
  150. Lindsay 2009, hlm. xi, 84; Southern 2014, hlm. 87–88; Goldsworthy 2014, hlm. 124.
  151. Syme 1939, hlm. 176–186; Southern 2014, hlm. 79–80; Bringmann 2007, hlm. 292; Goldsworthy 2014, hlm. 121.
  152. Southern 2014, hlm. 79–80; Bringmann 2007, hlm. 292; Goldsworthy 2014, hlm. 121, 125.
  153. Southern 2014, hlm. 89–90; Bringmann 2007, hlm. 292; Goldsworthy 2014, hlm. 125.
  154. Southern 2014, hlm. 89; Goldsworthy 2014, hlm. 134.
  155. 1 2 Sear, David R. "Common Legend Abbreviations On Roman Coins". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 July 2007. Diakses tanggal 24 August 2007.
  156. Sear 2004, hlm. 89.
  157. Einaudi 2014.
  158. Eck & Takács 2003, hlm. 16; Burstein 2004, hlm. 42; Bringmann 2007, hlm. xxi, 21–22; Southern 2014, hlm. 295; Goldsworthy 2014, hlm. 90–92.
  159. Eck & Takács 2003, hlm. 16; Southern 2014, hlm. 24; Bringmann 2007, hlm. 97, 99; Goldsworthy 2014, hlm. 296.
  160. Scullard 1982, hlm. 163; Galinsky 2012, hlm. 42; Burstein 2004, hlm. xxi, 21–22; Eck & Takács 2003, hlm. 15; Bringmann 2007, hlm. 91–92, 99.
  161. 1 2 Galinsky 2012, hlm. 42.
  162. Goldsworthy 2014, hlm. 502.
  163. Galinsky 2012, hlm. 31, 40; Bringmann 2007, hlm. 295–296; Southern 2014, hlm. 93–94; Goldsworthy 2014, hlm. 134–135.
  164. Southern 2014, hlm. 93, 100; Goldsworthy 2014, hlm. 126–127.
  165. Southern 2014, hlm. 99–100; Goldsworthy 2014, hlm. 127–128.
  166. Southern 2014, hlm. 99–100.
  167. Hinard 1985, hlm. 269. « Au total... on trouve un chiffre d'environ 300 proscrits se répartissant également entre sénateurs et chevaliers. »; Southern 2014, hlm. 97–98, menunjukkan angka-angka bertentangan yang dilaporkan oleh Appian dan Livy, yang menyarankan angka 300 senator menurut Appian mungkin termasuk mereka yang melarikan diri dan angka 130 senator menurut Livy mungkin hanya mencakup mereka yang terbunuh
  168. Southern 2014, hlm. 97–98.
  169. Hinard 1985, hlm. 267–268. « Mais il n'est pas vraisemblable, compte tenu des chiffres que nous avons cru pouvoir établir pour la première proscription, que la seconde ait pu compter tant de victimes. »
  170. Hinard 1985, hlm. 275–292.
  171. Southern 2014, hlm. 94–95; Goldsworthy 2014, hlm. 131.
  172. Scott 1933, hlm. 19–20.
  173. 1 2 Scott 1933, hlm. 19.
  174. Scott 1933, hlm. 19; Southern 2014, hlm. 94.
  175. Scott 1933, hlm. 20.
  176. Scott 1933, hlm. 19–20; Southern 2014, hlm. 95; Goldsworthy 2014, hlm. 131.
  177. Galinsky 2012, hlm. 36–37; Bringmann 2007, hlm. 293; Southern 2014, hlm. 94–95, 99; Goldsworthy 2014, hlm. 130–131.
  178. Scott 1933, hlm. 19; Southern 2014, hlm. 98; Goldsworthy 2014, hlm. 129–130.
  179. Southern 2014, hlm. 73, 94–95.
  180. Southern 2014, hlm. 95.
  181. Galinsky 2012, hlm. 36, 42; Scullard 1982, hlm. 164; Southern 2014, hlm. 97, 100–101.
  182. Eck & Takács 2003, hlm. 16; Goldsworthy 2014, hlm. 96–97.
  183. Goldsworthy 2014, hlm. 133; Richardson 2012, hlm. 37.
  184. Richardson 2012, hlm. 37. Setelah protes yang dipimpin oleh Hortensia, pajak terhadap perempuan dikurangi secara signifikan. Southern 2014, hlm. 101 menyatakan bahwa daftar sekitar 1.400 wanita yang terdaftar untuk memberikan kontribusi kepada negara dikurangi menjadi sekitar 400 wanita setelah protes yang dipimpin oleh Hortensia, yang didukung oleh saudara perempuan Octavianus dan bahkan ibu Marcus Antonius.
    Lihat juga Goldsworthy 2014, hlm. 133–134 untuk deskripsi serupa mengenai usulan pajak terhadap 1.400 wanita kaya, protes Hortensia, dan pengurangan pajak yang dipungut dari hanya 400 wanita kaya.
    Tributum dan penangguhan sejak 167 SM: Burton 2012.
  185. Goldsworthy 2014, hlm. 134.
  186. Syme 1939, hlm. 202; Southern 2014, hlm. 101–102; Goldsworthy 2014, hlm. 134.
  187. Eck & Takács 2003, hlm. 17; Bringmann 2007, hlm. 80–82, 104; Goldsworthy 2014, hlm. 290, 297.
  188. Roller 2010, hlm. 75; Galinsky 2012, hlm. 42; Burstein 2004, hlm. xxi, 22–23; Southern 2014, hlm. 104–106; Bringmann 2007, hlm. 297; Goldsworthy 2014, hlm. 137–142.
  189. Goldsworthy 2014, hlm. 138–141.
  190. Goldsworthy 2014, hlm. 142.
  191. Eck & Takács 2003, hlm. 17–18.
  192. Southern 2014, hlm. 104, 106; Galinsky 2012, hlm. 32; Goldsworthy 2014, hlm. 136–137.
  193. Galinsky 2012, hlm. 32; Goldsworthy 2014, hlm. 141.
  194. Southern 2014, hlm. 106.
  195. Galinsky 2012, hlm. 32–33, 35, 42.
  196. Goldsworthy 2014, hlm. 142, mencatat Plutarkhos sebagai sumber utama yang mengklaim Octavianus memperlakukan sisa-sisa jenazah Brutus dengan tingkat penghormatan yang sama seperti Antonius.
  197. Galinsky 2012, hlm. 32–33, 35, 42; Goldsworthy 2014, hlm. 142.
  198. Bringmann 2007, hlm. 297; Southern 2014, hlm. 108; Goldsworthy 2014, hlm. 143–144.
  199. 1 2 Southern 2014, hlm. 82–83, Fig. 3.2; Goldsworthy 2014, hlm. 156–157.
  200. Southern 2014, hlm. 107–108; Bringmann 2007, hlm. 296–298; Eck & Takács 2003, hlm. 18.
  201. Eck & Takács 2003, hlm. 18; Burstein 2004, hlm. 4–5, 69–71, 74, 76–83; Southern 2014, hlm. xxi–xxii, 20–21, 23–25; Goldsworthy 2014, hlm. 63–64.
  202. Southern 2014, hlm. 108; Bringmann 2007, hlm. 296–297; Goldsworthy 2014, hlm. 127, 143–144, 153.
  203. Eck & Takács 2003, hlm. 18; Southern 2014, hlm. 76; Goldsworthy 2014, hlm. 108.
  204. Eck & Takács 2003, hlm. 18; Southern 2014, hlm. 42–43; Bringmann 2007, hlm. 108; Goldsworthy 2014, hlm. 298.
  205. Galinsky 2012, hlm. 42–43.
  206. Bringmann 2007, hlm. 298.
  207. Southern 2014, hlm. 108.
  208. Eck & Takács 2003, hlm. 18.
  209. Eck & Takács 2003, hlm. 18–19; Bringmann 2007, hlm. 108–109; Goldsworthy 2014, hlm. 298.
  210. Eck & Takács 2003, hlm. 19; Bringmann 2007, hlm. 42–43; Goldsworthy 2014, hlm. 298.
  211. Eck & Takács 2003, hlm. 19; Southern 2014, hlm. 43; Bringmann 2007, hlm. 109–111; Goldsworthy 2014, hlm. 298.
  212. Eck & Takács 2003, hlm. 19; Goldsworthy 2014, hlm. 40.
  213. Eck & Takács 2003, hlm. 19; Goldsworthy 2014, hlm. 36, 40, 43.
  214. Southern 2014, hlm. 111–112; Goldsworthy 2014, hlm. 145.
  215. Eck & Takács 2003, hlm. 19.
  216. Eck & Takács 2003, hlm. 19; Southern 2014, hlm. 36, 40, 43; Bringmann 2007, hlm. 112–113; Goldsworthy 2014, hlm. 298.
  217. Rowell 1962, hlm. 32; Southern 2014, hlm. 112–113, 129; Bringmann 2007, hlm. 298; Goldsworthy 2014, hlm. 146–147.
  218. 1 2 Southern 2014, hlm. 130; Goldsworthy 2014, hlm. 155.
  219. Galinsky 2012, hlm. 44.
  220. Eck & Takács 2003, hlm. 20; Southern 2014, hlm. 36; Goldsworthy 2014, hlm. 113.
  221. 1 2 Goldsworthy 2014, hlm. 146.
  222. Eck & Takács 2003, hlm. 20; Southern 2014, hlm. 32.
  223. Eck & Takács 2003, hlm. 20.
  224. Southern 2014, hlm. 82–83, 131, 133, Fig. 3.2.
  225. Scullard 1982, hlm. 162; Southern 2014, hlm. 133; Bringmann 2007, hlm. 299.
  226. Eck & Takács 2003, hlm. 20; Goldsworthy 2014, hlm. 130.
  227. Eck & Takács 2003, hlm. 20; Southern 2014, hlm. 40–41; Bringmann 2007, hlm. 123; Goldsworthy 2014, hlm. 299.
  228. Eck & Takács 2003, hlm. 20; Southern 2014, hlm. 41; Bringmann 2007, hlm. 123, 137–138.
  229. Galinsky 2012, hlm. 40–41; Southern 2014, hlm. 123, 137–138; Bringmann 2007, hlm. 299, yang menyebutkan Tiberius Claudius Nero menceraikan Livia Drusilla agar ia bisa menikahi Octavianus, namun tidak menyebutkan Livia sudah hamil saat menjalin hubungan dengan Octavianus.
  230. Eck & Takács 2003, hlm. 21; Roller 2010, hlm. 46; Burstein 2004, hlm. 83–84; Goldsworthy 2014, hlm. xxii, 25.
  231. Galinsky 2012, hlm. 46; Roller 2010, hlm. 83–84; Burstein 2004, hlm. xxii, 25; Goldsworthy 2014, hlm. 154, 181.
  232. Roller 2010, hlm. 96; Goldsworthy 2014, hlm. 181–182; Burstein 2004, hlm. xxii, 25–26.
  233. Bringmann 2007, hlm. 298; Goldsworthy 2014, hlm. 153.
  234. Eck & Takács 2003, hlm. 21; Galinsky 2012, hlm. 19; Southern 2014, hlm. 44; Bringmann 2007, hlm. 130, 132; Goldsworthy 2014, hlm. 298–299.
  235. Eck & Takács 2003, hlm. 21; Galinsky 2012, hlm. 19; Southern 2014, hlm. 44; Goldsworthy 2014, hlm. 130, 132.
  236. Eck & Takács 2003, hlm. 21; Galinsky 2012, hlm. 19; Southern 2014, hlm. 44; Goldsworthy 2014, hlm. 130–131.
  237. Eck & Takács 2003, hlm. 21; Southern 2014, hlm. 44; Bringmann 2007, hlm. 130–131; Burstein 2004, hlm. 299; Goldsworthy 2014, hlm. 25.
  238. Eck & Takács 2003, hlm. 21.
  239. Bringmann 2007, hlm. 299; Burstein 2004, hlm. 24–25; Goldsworthy 2014, hlm. 154.
  240. Eck & Takács 2003, hlm. 21; Southern 2014, hlm. 44; Bringmann 2007, hlm. 4, 132; Burstein 2004, hlm. 299; Goldsworthy 2014, hlm. 25.
  241. Eck & Takács 2003, hlm. 22; Southern 2014, hlm. 19; Bringmann 2007, hlm. 133–134; Goldsworthy 2014, hlm. 299.
  242. Eder 2005, hlm. 19.
  243. Eck & Takács 2003, hlm. 22.
  244. Southern 2014, hlm. 82 (Fig. 3.2), 104, 133.
  245. Goldsworthy 2014, hlm. 158–159.
  246. Eder 2005, hlm. 19; Eck & Takács 2003, hlm. 22; Southern 2014, hlm. 44; Bringmann 2007, hlm. 133–134, Figure 4.3; Goldsworthy 2014, hlm. 299.
  247. Southern 2014, hlm. 134.
  248. Bringmann 2007, hlm. 299.
  249. Bringmann 2007, hlm. 299; Southern 2014, hlm. 134.
  250. Welch 2002, hlm. 51.
  251. Goldsworthy 2014, hlm. 159.
  252. Eck & Takács 2003, hlm. 23.
  253. Southern 2014, hlm. 138–139.
  254. 1 2 Southern 2014, hlm. 139.
  255. Scullard 1982, hlm. 163; Eck & Takács 2003, hlm. 24.
  256. Scullard 1982, hlm. 163; Eck & Takács 2003, hlm. 24; Bringmann 2007, hlm. 139–140; Roller 2010, hlm. 299–300; Goldsworthy 2014, hlm. 89–90.
  257. Eck & Takács 2003, hlm. 24; Goldsworthy 2014, hlm. 89–90.
  258. Southern 2014, hlm. 139–140; Bringmann 2007, hlm. 299–300; Roller 2010, hlm. 89–90; Goldsworthy 2014, hlm. 166.
  259. Eck & Takács 2003, hlm. 25; Southern 2014, hlm. 46; Bringmann 2007, hlm. 139; Goldsworthy 2014, hlm. 299–300.
  260. Eck & Takács 2003, hlm. 25; Southern 2014, hlm. 46; Bringmann 2007, hlm. 139, 154; Burstein 2004, hlm. 299–300; Roller 2010, hlm. 27–28.
  261. Southern 2014, hlm. 141; Galinsky 2012, hlm. 45; Bringmann 2007, hlm. 299; Goldsworthy 2014, hlm. 166–167.
  262. Eck & Takács 2003, hlm. 25–26; Southern 2014, hlm. 38, 44–45; Bringmann 2007, hlm. 141; Goldsworthy 2014, hlm. 300.
  263. Southern 2014, hlm. 141–142; Goldsworthy 2014, hlm. 167–169.
  264. Southern 2014, hlm. 141–142; Bringmann 2007, hlm. 300; Goldsworthy 2014, hlm. 168.
  265. Galinsky 2012, hlm. 44–45; Eck & Takács 2003, hlm. 26; Bringmann 2007, hlm. 142, 145–146; Goldsworthy 2014, hlm. 300.
  266. Galinsky 2012, hlm. 47; Eck & Takács 2003, hlm. 26; Bringmann 2007, hlm. 142; Roller 2010, hlm. 300; Goldsworthy 2014, hlm. 98.
  267. Eck & Takács 2003, hlm. 26; Bringmann 2007, hlm. 142–143; Goldsworthy 2014, hlm. 300.
  268. Galinsky 2012, hlm. 38.
  269. Scullard 1982, hlm. 164; Eck & Takács 2003, hlm. 26; Southern 2014, hlm. 38; Bringmann 2007, hlm. 143, 146; Roller 2010, hlm. 300; Burstein 2004, hlm. 98; Goldsworthy 2014, hlm. 27.
  270. Eck & Takács 2003, hlm. 26–27; Bringmann 2007, hlm. 147.
  271. Eck & Takács 2003, hlm. 26–27.
  272. Eck & Takács 2003, hlm. 27–28.
  273. Southern 2014, hlm. 148–150; Goldsworthy 2014, hlm. 174–178.
  274. Southern 2014, hlm. 149; Goldsworthy 2014, hlm. 175–177.
  275. Southern 2014, hlm. 149–150, 154; Goldsworthy 2014, hlm. 177–178.
  276. Southern 2014, hlm. 149–150, 154.
  277. 1 2 Goldsworthy 2014, hlm. 178–179.
  278. Southern 2014, hlm. 150.
  279. Eder 2005, hlm. 20; Bringmann 2007, hlm. 300.
  280. Eck & Takács 2003, hlm. 29; Burstein 2004, hlm. 97–98; Southern 2014, hlm. 27–28; Goldsworthy 2014, hlm. 151, 153–154.
  281. Eck & Takács 2003, hlm. 29; Burstein 2004, hlm. 97–98; Southern 2014, hlm. 27–28.
  282. Eck & Takács 2003, hlm. 29–30; Southern 2014, hlm. 41, 46; Roller 2010, hlm. 151; Burstein 2004, hlm. 97.
  283. Roller 2010, hlm. 96; Burstein 2004, hlm. xxii, 25–26; Goldsworthy 2014, hlm. 181–182.
  284. Eck & Takács 2003, hlm. 29–30; Southern 2014, hlm. 41, 46; Roller 2010, hlm. 154; Burstein 2004, hlm. 5, 97–98; Goldsworthy 2014, hlm. 27–28.
  285. Eck & Takács 2003, hlm. 30; Southern 2014, hlm. 5, 98; Bringmann 2007, hlm. 153–154; Goldsworthy 2014, hlm. 301.
  286. Galinsky 2012, hlm. 46; Southern 2014, hlm. 151; Roller 2010, hlm. 99; Burstein 2004, hlm. xxii, 28; Goldsworthy 2014, hlm. 183–185.
  287. Eck & Takács 2003, hlm. 30; Roller 2010, hlm. 301; Burstein 2004, hlm. 99–100.
  288. Roller 2010, hlm. 99–100; Bringmann 2007, hlm. 301–302; Burstein 2004, hlm. xxii, 29; Southern 2014, hlm. 151; Goldsworthy 2014, hlm. 183–185.
  289. Eck & Takács 2003, hlm. 30; Southern 2014, hlm. 302; Goldsworthy 2014, hlm. 125–126, 152–154.
  290. Eck & Takács 2003, hlm. 31; Galinsky 2012, hlm. 302.
  291. Galinsky 2012, hlm. 47–48; Roller 2010, hlm. 135; Bringmann 2007, hlm. 303; Burstein 2004, hlm. xxii, 29; Southern 2014, hlm. 152–154.
  292. Galinsky 2012, hlm. 48–50; Southern 2014, hlm. 155, 157–158; Goldsworthy 2014, hlm. 186.
  293. Southern 2014, hlm. 158.
  294. Southern 2014, hlm. 155–158.
  295. Goldsworthy 2014, hlm. 186.
  296. Galinsky 2012, hlm. 48–50.
  297. Galinsky 2012, hlm. 48–50; Roller 2010, hlm. 134; Bringmann 2007, hlm. 303; Burstein 2004, hlm. 29–30; Southern 2014, hlm. 158; Goldsworthy 2014, hlm. 186.
  298. Eck & Takács 2003, hlm. 32–34; Bringmann 2007, hlm. 135; Southern 2014, hlm. 303; Goldsworthy 2014, hlm. 159.
  299. Eck & Takács 2003, hlm. 34; Bringmann 2007, hlm. 135; Galinsky 2012, hlm. 303; Southern 2014, hlm. 50; Goldsworthy 2014, hlm. 159.
  300. Eck & Takács 2003, hlm. 34–35; Roller 2010, hlm. 21–22; Galinsky 2012, hlm. 135–136; Burstein 2004, hlm. 50; Southern 2014, hlm. 29; Goldsworthy 2014, hlm. 159.
  301. Bringmann 2007, hlm. 303; Galinsky 2012, hlm. 59; Goldsworthy 2014, hlm. 187.
  302. Southern 2014, hlm. 125–126, 159; Bringmann 2007, hlm. 303; Roller 2010, hlm. 5, 136; Goldsworthy 2014, hlm. 185, 187.
  303. Southern 2014, hlm. 159.
  304. Eck & Takács 2003, hlm. 35; Roller 2010, hlm. 22; Galinsky 2012, hlm. 5, 136–137; Burstein 2004, hlm. 50; Southern 2014, hlm. xxii, 30; Goldsworthy 2014, hlm. 125–126, 160; Jones 2006, hlm. 188.
  305. Goldsworthy 2014, hlm. 188; Roller 2010, hlm. 136–137; Southern 2014, hlm. 125–126; Jones 2006, hlm. 147.
  306. Roller 2010, hlm. 136–137.
  307. Galinsky 2012, hlm. 51–52.
  308. Bringmann 2007, hlm. 303.
  309. Galinsky 2012, hlm. 51–52; Southern 2014, hlm. 155–157; Goldsworthy 2014, hlm. 186.
  310. Galinsky 2012, hlm. 51–52; Bringmann 2007, hlm. 303; Southern 2014, hlm. 157, 160–161; Goldsworthy 2014, hlm. 188.
  311. Eck & Takács 2003, hlm. 37; Bringmann 2007, hlm. 53; Goldsworthy 2014, hlm. 303–304.
  312. Galinsky 2012, hlm. 53–55.
  313. Goldsworthy 2014, hlm. 189.
  314. Eck & Takács 2003, hlm. 37; Goldsworthy 2014, hlm. 162.
  315. Eck & Takács 2003, hlm. 37; Galinsky 2012, hlm. 138; Southern 2014, hlm. 53–55; Goldsworthy 2014, hlm. 163.
  316. Roller 2010, hlm. 175; Walker 2008, hlm. 35, 42–44.
  317. Roller 2010, hlm. 137, 139; Galinsky 2012, hlm. 53–55; Bringmann 2007, hlm. 303–304; Goldsworthy 2014, hlm. 189–191.
  318. Eck & Takács 2003, hlm. 38; Galinsky 2012, hlm. 137, 139; Bringmann 2007, hlm. 31, 53–55; Burstein 2004, hlm. 303–304; Southern 2014, hlm. xxii, 30; Goldsworthy 2014, hlm. 163–164.
  319. Roller 2010, hlm. 139–140; Galinsky 2012, hlm. 55; Bringmann 2007, hlm. 304; Burstein 2004, hlm. 30–31; Southern 2014, hlm. 163–164; Goldsworthy 2014, hlm. 191.
  320. Eck & Takács 2003, hlm. 38–39.
  321. Galinsky 2012, hlm. 55; Bringmann 2007, hlm. 304; Burstein 2004, hlm. xxii–xxiii, 30–31; Southern 2014, hlm. 164–165; Goldsworthy 2014, hlm. 191.
  322. Southern 2014, hlm. 165–166; Goldsworthy 2014, hlm. 191–192.
  323. Roller 2010, hlm. 138–142, 144–145; Goldsworthy 2014, hlm. 192.
  324. Roller 2010, hlm. 138–142, 144–145.
  325. Bringmann 2007, hlm. 304; Burstein 2004, hlm. 30.
  326. Eck & Takács 2003, hlm. 39; Galinsky 2012, hlm. 145–148; Burstein 2004, hlm. 31, 55–56; Bringmann 2007, hlm. 31; Southern 2014, hlm. 304; Jones 2006, hlm. 166; Goldsworthy 2014, hlm. 184–186.
  327. Roller 2010, hlm. 145; Eck & Takács 2003, hlm. 39.
  328. Roller 2010, hlm. 146–147, 213, footnote 83; Galinsky 2012, hlm. 56; Bringmann 2007, hlm. 304; Burstein 2004, hlm. 31; Southern 2014, hlm. 173.
  329. Eck & Takács 2003, hlm. 39; Burstein 2004, hlm. 147–149; Southern 2014, hlm. 31–32.
  330. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 49.
  331. Roller 2010, hlm. 150; Jones 2006, hlm. 187.
  332. Roller 2010, hlm. 149–150, 153; Galinsky 2012, hlm. 56; Burstein 2004, hlm. xxiii, 32; Southern 2014, hlm. 63–64, 159, 173; Eck & Takács 2003, hlm. 49.
  333. Green 1990, hlm. 697; Scullard 1982, hlm. 171; Southern 2014, hlm. 173; Roller 2010, hlm. 150; Burstein 2004, hlm. 128; Goldsworthy 2014, hlm. 193.
  334. Roller 2010, hlm. 152–153; Burstein 2004, hlm. 32, 76–77, 131; Southern 2014, hlm. 132–133, 173.
  335. Roller 2010, hlm. 147; Burstein 2004, hlm. 65; Jones 2006, hlm. 194–195.
  336. Roller 2010, hlm. 153–154; Burstein 2004, hlm. 32, 76–77; Southern 2014, hlm. 173.
  337. Burstein 2004, hlm. 66.
  338. Galinsky 2012, hlm. 56; Southern 2014, hlm. 165, 173–174; Roller 2010, hlm. 151.
  339. Bringmann 2007, hlm. 304; Galinsky 2012, hlm. 56–58; Southern 2014, hlm. 165, 173–174, 184–185, 236; Roller 2010, hlm. 151; Eck & Takács 2007, hlm. 59–60.
  340. 1 2 3 Galinsky 2012, hlm. 56.
  341. Burstein 2004, hlm. xxiii, 1.
  342. Galinsky 2012, hlm. 59; Roller 2010, hlm. 151.
  343. Burstein 2004, hlm. 65–66.
  344. Roller 2010, hlm. 151.
  345. Roller 2010, hlm. 151–152.
  346. Goldsworthy 2014, hlm. 196.
  347. Galinsky 2012, hlm. 63, 80.
  348. Galinsky 2012, hlm. 72; Goldsworthy 2014, hlm. 199, 211–212.
  349. Goldsworthy 2014, hlm. 212–213; Eck & Takács 2003, hlm. 45.
  350. Goldsworthy 2014, hlm. 212–213.
  351. Southern 2014, hlm. 336; Galinsky 2012, hlm. 67–68; Wiseman 2022, hlm. 15–17.
  352. Richardson 2012, hlm. 89; Goldsworthy 2014, hlm. 7.
  353. Bringmann 2007, hlm. 304–305.
  354. Galinsky 2012, hlm. 70.
  355. Richardson 2012, hlm. 89.
  356. Eck & Takács 2007, hlm. 57–58.
  357. Goldsworthy 2014, hlm. 7.
  358. Bringmann 2007, hlm. 304–305; Gruen 2005, hlm. 34–35; Galinsky 2012, hlm. 70–71.
  359. Eder 2005, hlm. 24–25; Gruen 2005, hlm. 38–39; Galinsky 2012, hlm. 63, 70–74; Eck & Takács 2007, hlm. 57–58.
  360. Bringmann 2007, hlm. 305; Shotter 2005, hlm. 1; Galinsky 2012, hlm. 70–71.
  361. Eck & Takács 2003, hlm. 44–45; Goldsworthy 2014, hlm. 68–70.
  362. Eck & Takács 2003, hlm. 44–45.
  363. Eck & Takács 2003, hlm. 44–45; Goldsworthy 2014, hlm. 68–71.
  364. Goldsworthy 2014, hlm. 199–200.
  365. Goldsworthy 2014, hlm. 3–4.
  366. Westphal 2025.
  367. Southern 2014, hlm. 49, 182, kutipan berasal dari halaman terakhir.
  368. Bringmann 2007, hlm. 307, 317; Eck & Takács 2003, hlm. 45–50.
  369. Eck & Takács 2003, hlm. 45–50.
  370. Eck & Takács 2003, hlm. 113.
  371. Eck & Takács 2003, hlm. 80.
  372. Scullard 1982, hlm. 211.
  373. Eck & Takács 2003, hlm. 46; Galinsky 2012, hlm. 210.
  374. Eck & Takács 2003, hlm. 46.
  375. Gruen 2005, hlm. 34; Eck & Takács 2003, hlm. 47.
  376. Eder 2005, hlm. 24; Galinsky 2012, hlm. 66.
  377. 1 2 Eder 2005, hlm. 24.
  378. Eder 2005, hlm. 24–25; Scullard 1982, hlm. 211.
  379. Eder 2005, hlm. 24–25.
  380. Eck & Takács 2003, hlm. 47.
  381. Drogula 2015, hlm. 362; Southern 2014, hlm. 357–358.
  382. Eder 2005, hlm. 24–25; Southern 2014, hlm. 13–16.
  383. Southern 2014, hlm. 13–16, 358.
  384. Templat:AE = Templat:AE: XVIIKalendas Februariasc(omitialis) Imp(erator) Caesar [Augustus est a]ppell[a]tus ipso VII et Agrip[pa III co(n)s(ulibus)]
  385. Templat:CIL: [X]VII K(alendas) Febr(uarias) eo di[e Caesar Augustu]s appellatus est supplicatio Augusto
  386. Ovidius 587–590 Diarsipkan 8 June 2021 di Wayback Machine.: Id. [...] Populo provinciae redditae. Octaviano Augusti nomen datum
  387. Censorinus XXI.8 : quamvis ex ante diem XVI kal. Febr. imperator Caesar. Angkanya benar, tetapi penyusunan katanya tidak.
  388. Fasti Praenestini;[384]Feriale Cumanum.[385] Fasti karya Ovidius menyebutkan 13 Januari, tanggal yang sama di mana kekuasaan Senat "dipulihkan".[386] De die Natali dari abad ke-3 menyebutkan 17 Januari, sebuah kesalahan.[387]
  389. Eck & Takács 2007, hlm. 3, 50, 55–57; Galinsky 2012, hlm. 304-307; Goldsworthy 2014, hlm. 62, 66–67.
  390. Roller 2010, hlm. 152.
  391. Eck & Takács 2007, hlm. 56–57.
  392. Eck & Takács 2007, hlm. 56–57.
  393. Galinsky 2012, hlm. 66–67.
  394. Eck & Takács 2003, hlm. 55.
  395. Strothmann 2006.
  396. Bringmann 2007, hlm. 304; Galinsky 2012, hlm. 66–67, 71.
  397. Goldsworthy 2014, hlm. 287.
  398. 1 2 Goldsworthy 2014, hlm. 236.
  399. Eder 2005, hlm. 24; Galinsky 2012, hlm. 66–67; Goldsworthy 2014, hlm. 235–237.
  400. 1 2 Eck & Takács 2007, hlm. 55–57; Goldsworthy 2014, hlm. 67.
  401. Eck & Takács 2007, hlm. 155.
  402. Hammond 1957, hlm. 29–31; Strothmann 2006.
  403. Southern 2014, hlm. 358.
  404. Eck & Takács 2003, hlm. 50; Goldsworthy 2014, hlm. 66–67.
  405. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 50.
  406. "Arco d'Augusto" [Arch of Augustus]. riminiturismo.it (dalam bahasa Italia). 18 March 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2024. Diakses tanggal 16 January 2024.
  407. Eder 2005, hlm. 13.
  408. Eder 2005, hlm. 24; Eck & Takács 2003, hlm. 3; Goldsworthy 2014, hlm. 70.
  409. Galinsky 2012, hlm. 72, 80–81; Goldsworthy 2014, hlm. 238, 241.
  410. Galinsky 2012, hlm. 72, 80–81; Eck & Takács 2007, hlm. 127, 137, 151.
  411. Wells 1995, hlm. 51; Southern 2014, hlm. 182–183; Galinsky 2012, hlm. 72–73.
  412. 1 2 Southern 1998, hlm. 108; Eck & Takács 2003, hlm. 55.
  413. Holland 2005, hlm. 294.
  414. 1 2 Davies 2010, hlm. 259.
  415. Ando 2000, hlm. 140; Raaflaub & Samons 1993, hlm. 426; Galinsky 2012, hlm. 53.
  416. Southern 1998, hlm. 108; Holland 2005, hlm. 295.
  417. Eder 2005, hlm. 25; Eck & Takács 2003, hlm. 56.
  418. Gruen 2005, hlm. 38.
  419. Gruen 2005, hlm. 38–39.
  420. 1 2 Stern 2006, hlm. 23.
  421. Holland 2005, hlm. 294–295; Southern 1998, hlm. 108; Galinsky 2012, hlm. 74; Goldsworthy 2014, hlm. 265.
  422. Southern 2014, hlm. 320.
  423. Eck & Takács 2003, hlm. 56.
  424. 1 2 Gruen 2005, hlm. 36.
  425. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 57.
  426. Eck & Takács 2003, hlm. 56.
  427. Eck & Takács 2003, hlm. 56–57.
  428. 1 2 Southern 1998, hlm. 109; Holland 2005, hlm. 299.
  429. Wells 1995, hlm. 53; Galinsky 2012, hlm. 73.
  430. Southern 1998, hlm. 108.
  431. Holland 2005, hlm. 300.
  432. Southern 1998, hlm. 108; Galinsky 2012, hlm. 73–74.
  433. Syme 1939, hlm. 333; Galinsky 2012, hlm. 73–74.
  434. Syme 1939, hlm. 333; Holland 2005, hlm. 300; Southern 1998, hlm. 108; Galinsky 2012, hlm. 73–74.
  435. Wells 1995, hlm. 53; Raaflaub & Samons 1993, hlm. 426.
  436. 1 2 Eder 2005, hlm. 26.
  437. Galinsky 2012, hlm. 72–73; Eck & Takács 2003, hlm. 57.
  438. Gruen 2005, hlm. 36; Southern 2014, hlm. 143–145.
  439. Eder 2005, hlm. 26; Eck & Takács 2003, hlm. 57–58.
  440. Eck & Takács 2003, hlm. 59.
  441. 1 2 Eder 2005, hlm. 30.
  442. Bunson 1994, hlm. 80.
  443. Bunson 1994, hlm. 427.
  444. Galinsky 2012, hlm. 73.
  445. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 60.
  446. 1 2 Bringmann 2007, hlm. 317.
  447. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 61.
  448. Eck & Takács 2003, hlm. 61.
  449. Bringmann 2007, hlm. 317; Goldsworthy 2014, hlm. 305–306.
  450. Bringmann 2007, hlm. 317; Southern 2014, hlm. 236; Goldsworthy 2014, hlm. 305–306, 384.
  451. 1 2 Southern 2014, hlm. 236.
  452. Southern 2014, hlm. 140–141.
  453. Eck & Takács 2003, hlm. 117; Goldsworthy 2014, hlm. 236, 307.
  454. 1 2 Southern 2014, hlm. 236, 307; Goldsworthy 2014, hlm. 458.
  455. Goldsworthy 2014, hlm. 458.
  456. Southern 2014, hlm. 238; Goldsworthy 2014, hlm. 240; Eck & Takács 2007, hlm. 137.
  457. Southern 2014, hlm. 238; Goldsworthy 2014, hlm. 240.
  458. Kolb & Speidel 2017, hlm. 35.
  459. Southern 2014, hlm. 238; Eck & Takács 2007, hlm. 137.
  460. Southern 2014, hlm. 238.
  461. Goldsworthy 2014, hlm. 256, 297–300.
  462. Southern 2014, hlm. 298–299.
  463. Eck & Takács 2003, hlm. 78.
  464. Swan 2004, hlm. 241; Syme 1939, hlm. 483.
  465. Wells 1995, hlm. 53; Holland 2005, hlm. 301.
  466. Davies 2010, hlm. 260; Holland 2005, hlm. 301.
  467. Holland 2005, hlm. 301.
  468. Eck & Takács 2003, hlm. 60; Galinsky 2012, hlm. 43.
  469. Gruen 2005, hlm. 43; Galinsky 2012, hlm. 73.
  470. Bowersock 1990, hlm. 380; Southern 2014, hlm. 323.
  471. Bowersock 1990, hlm. 380.
  472. Bowersock 1990, hlm. 383; Eder 2005, hlm. 28.
  473. Mackay 2004, hlm. 186; Eck & Takács 2007, hlm. 3, 75–76.
  474. Syme 1939, hlm. 337–338.
  475. 1 2 Goldsworthy 2014, hlm. 322.
  476. Gruen 2005, hlm. 44; Eck & Takács 2003, hlm. 58; Syme 1939, hlm. 322.
  477. Syme 1939, hlm. 337–338; Gruen 2005, hlm. 44; Eck & Takács 2003, hlm. 58.
  478. Eck & Takács 2003, hlm. 93.
  479. Eck & Takács 2003, hlm. 93.
  480. Eck & Takács 2003, hlm. 95.
  481. Southern 2014, hlm. 309.
  482. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 94.
  483. Eck & Takács 2003, hlm. 94.
  484. 1 2 Southern 2014, hlm. 237.
  485. 1 2 Southern 2014, hlm. 306.
  486. Eck & Takács 2003, hlm. 94.
  487. Southern 2014, hlm. 236; Eck & Takács 2003, hlm. 97.
  488. Eck & Takács 2003, hlm. 97.
  489. Eck & Takács 2003, hlm. 98; Goldsworthy 2014, hlm. 235–236.
  490. Eck & Takács 2003, hlm. 98.
  491. Eck & Takács 2003, hlm. 98–99.
  492. Eck & Takács 2003, hlm. 99; Southern 2014, hlm. 373.
  493. Southern 2014, hlm. 267, 274–275.
  494. Bunson 1994, hlm. 416; Goldsworthy 2014, hlm. 373.
  495. Goldsworthy 2014, hlm. 373–374.
  496. Southern 2014, hlm. 306–307.
  497. Galinsky 2012, hlm. 71–72.
  498. Eck & Takács 2003, hlm. 96.
  499. Bunson 1994, hlm. 416; Southern 2014, hlm. 211.
  500. Bunson 1994, hlm. 416; Eck & Takács 2003, hlm. 96; Southern 2014, hlm. 96–97, 136–138.
  501. Eck & Takács 2003, hlm. 95–96.
  502. Brosius 2006, hlm. 97; Southern 2014, hlm. 211–212.
  503. Brosius 2006, hlm. 97; Bivar 1983, hlm. 66–67; Southern 2014, hlm. 212–213, Fig. 212, Fig. 213; Galinsky 2012, hlm. 75–76; Bringmann 2007, hlm. 317–319.
  504. Southern 2014, hlm. 285–286.
  505. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 96.
  506. Rowell 1962, hlm. 13.
  507. Eck & Takács 2003, hlm. 101–102; Galinsky 2012, hlm. 270, 307–308, 328; Goldsworthy 2014, hlm. xvii.
  508. Bunson 1994, hlm. 417; Southern 2014, hlm. 308–309; Goldsworthy 2014, hlm. 454–457.
  509. Southern 2014, hlm. 308–309; Goldsworthy 2014, hlm. 473.
  510. Bunson 1994, hlm. 417; Southern 2014, hlm. 270, 308–309, 328; Goldsworthy 2014, hlm. 473.
  511. Southern 2014, hlm. 308–309; Goldsworthy 2014, hlm. 454–455.
  512. 1 2 Southern 2014, hlm. 308–309.
  513. 1 2 Southern 2014, hlm. 308.
  514. Bunson 1994, hlm. 31.
  515. Bowersock 1983, hlm. 46; Goldsworthy 2014, hlm. 260–261; Southern 2014, hlm. 200–201, 211; Eck & Takács 2007, hlm. 136, 182.
  516. Bowersock 1983, hlm. 46–47; Goldsworthy 2014, hlm. 260–261.
  517. Bowersock 1983, hlm. 47–49; Goldsworthy 2014, hlm. 260–261; Eck & Takács 2007, hlm. 182.
  518. Bowersock 1983, hlm. 47–49; Goldsworthy 2014, hlm. 260–261.
  519. Southern 2014, hlm. 201, 211.
  520. Bowersock 1983, hlm. 46, 49 (catatan kaki 16); Goldsworthy 2014, hlm. 261, 297, 300; Eck & Takács 2007, hlm. 136, 182.
  521. Welsby 1996, hlm. 69; Southern 2014, hlm. 236.
  522. Welsby 1996, hlm. 69–70; Southern 2014, hlm. 236–237; Eck & Takács 2007, hlm. 182.
  523. Welsby 1996, hlm. 69–70; Southern 2014, hlm. 236–237.
  524. Welsby 1996, hlm. 68–70; Southern 2014, hlm. 237; Goldsworthy 2014, hlm. 300; Eck & Takács 2007, hlm. 137.
  525. Welsby 1996, hlm. 68–70.
  526. Welsby 1996, hlm. 70.
  527. Gruen 2005, hlm. 50; Goldsworthy 2014, hlm. 262–263.
  528. Goldsworthy 2014, hlm. 262–263.
  529. Gruen 2005, hlm. 50; Goldsworthy 2014, hlm. 262–265.
  530. Eck & Takács 2003, hlm. 114–115.
  531. Eck & Takács 2003, hlm. 115.
  532. Gruen 2005, hlm. 44; Goldsworthy 2014, hlm. 265.
  533. Gruen 2005, hlm. 44; Eck & Takács 2003, hlm. 58; Southern 2014, hlm. 321.
  534. Gruen 2005, hlm. 44; Eck & Takács 2003, hlm. 58; Goldsworthy 2014, hlm. 231–233, 293–294, 298, 304–306.
  535. Gruen 2005, hlm. 44; Eck & Takács 2003, hlm. 58.
  536. Gruen 2005, hlm. 44; Eck & Takács 2003, hlm. 58.
  537. Goldsworthy 2014, hlm. 321–322; Eck & Takács 2003, hlm. 58.
  538. Goldsworthy 2014, hlm. 321–322.
  539. Eck & Takács 2003, hlm. 58.
  540. Syme 1939, hlm. 416-417; Goldsworthy 2014, hlm. 322–323, 356, 359–360; Southern 2014, hlm. 232, 280.
  541. Scullard 1982, hlm. 217; Southern 2014, hlm. 280, 288.
  542. Syme 1939, hlm. 417; Southern 2014, hlm. 280, 288.
  543. Southern 2014, hlm. 280.
  544. Southern 2014, hlm. 288.
  545. Eck & Takács 2003, hlm. 116.
  546. Eck & Takács 2003, hlm. 116; Southern 2014, hlm. 203, 256, 263–264, 321, 361–362, 379.
  547. Eck & Takács 2003, hlm. 116.
  548. Southern 2014, hlm. 321, Fig. 9.4.
  549. Eck & Takács 2003, hlm. 117; Goldsworthy 2014, hlm. 46; Southern 2014, hlm. 427–429.
  550. Eck & Takács 2003, hlm. 117; Southern 2014, hlm. 46.
  551. Southern 2014, hlm. 123, 247–248, 281, 292.
  552. Eck & Takács 2003, hlm. 117–118; Southern 2014, hlm. 46–47.
  553. Eck & Takács 2003, hlm. 117–118.
  554. Eck & Takács 2003, hlm. 119; Goldsworthy 2014, hlm. 268–269, 293–294, 298.
  555. Eck & Takács 2003, hlm. 116.
  556. Eck & Takács 2003, hlm. 119–120.
  557. Goldsworthy 2014, hlm. 458, 471, halaman terakhir menunjukkan bahwa ketika Augustus meninggal, Tiberius masih memegang kekuasaan imperium dan tribunicia potestas.
  558. Eck & Takács 2003, hlm. 119–120; Southern 2014, hlm. 462.
  559. Southern 2014, hlm. 304.
  560. 1 2 Gruen 2005, hlm. 49.
  561. Gruen 2005, hlm. 49; Southern 2014, hlm. 304–306.
  562. Southern 2014, hlm. 306; Goldsworthy 2014, hlm. 472.
  563. Eck & Takács 2003, hlm. 123; Galinsky 2012, hlm. 310–311; Goldsworthy 2014, hlm. xvii.
  564. Eck & Takács 2003, hlm. 123; Goldsworthy 2014, hlm. 311.
  565. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 123.
  566. Eck & Takács 2003, hlm. 123; Goldsworthy 2014, hlm. 293–294, 298, 308–311, 317.
  567. Eck & Takács 2003, hlm. 123.
  568. Eck & Takács 2003, hlm. 123; Goldsworthy 2014, hlm. 318.
  569. Eck & Takács 2003, hlm. 124.
  570. Eck & Takács 2003, hlm. 124; Goldsworthy 2014, hlm. 318.
  571. Eck & Takács 2003, hlm. 124; Southern 2014, hlm. 471, dengan tanggal tepat 17 September.
  572. Southern 2014, hlm. 102.
  573. Southern 2014, hlm. 103.
  574. 1 2 3 Southern 2014, hlm. 323.
  575. 1 2 Southern 2014, hlm. 323–324.
  576. Shotter 1966, hlm. 210–212.
  577. 1 2 Shotter 1966, hlm. 211.
  578. Shaw-Smith 1971, hlm. 213.
  579. Setton 1976, hlm. 375.
  580. Galinsky 2005, hlm. 1, 6; Goldsworthy 2014, hlm. 1.
  581. Southern 2014, hlm. 274; Eck & Takács 2007, hlm. 123–124.
  582. Galinsky 2012, hlm. 84–85.
  583. Hammond 1965, hlm. 152.
  584. Galinsky 2012, hlm. xxiv.
  585. Brockkötter 2025, hlm. 495-498.
  586. Hammond 1957, hlm. 21–54; Shotter 2005, hlm. 1; Southern 2014, hlm. 358.
  587. Eck & Takács 2007, hlm. 57.
  588. Galinsky 2012, hlm. 78.
  589. Goldsworthy 2014, hlm. 6–7.
  590. Southern 2014, hlm. 341; Eck & Takács 2007, hlm. 1.
  591. Eck & Takács 2003, hlm. 1–2.
  592. Eck & Takács 2003, hlm. 2.
  593. Bunson 1994, hlm. 47.
  594. Bourne 1918, hlm. 53–66; Ohst 2023, hlm. 262-268; Shaw-Smith 1971, hlm. 213; Goldsworthy 2014, hlm. 417.
  595. Goldsworthy 2014, hlm. 151–152.
  596. Goldsworthy 2014, hlm. 151–152, 155, halaman terakhir membahas eksekusi Antonius terhadap Manius selama negosiasi di Brundisium, karena diduga memalsukan dokumen yang meyakinkan Lucius Antonius dan Fulvia untuk mengobarkan perang melawan Octavianus.
  597. Goldsworthy 2014, hlm. 151.
  598. 1 2 Galinsky 2012, hlm. 85.
  599. Galinsky 2012, hlm. 85; Eck & Takács 2007, hlm. 123–124.
  600. Galinsky 2012, hlm. 94–95.
  601. Bringmann 2007, hlm. 316.
  602. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 79.
  603. Southern 2014, hlm. 302–303.
  604. Bunson 1994, hlm. 345; Southern 2014, hlm. 303–304.
  605. Southern 2014, hlm. 302–304.
  606. Goldsworthy 2014, hlm. 248–251.
  607. Eck & Takács 2003, hlm. 85–87.
  608. Southern 2014, hlm. 349.
  609. Eck & Takács 2003, hlm. 86.
  610. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 81.
  611. Chisholm & Ferguson 1981, hlm. 122.
  612. Bunson 1994, hlm. 6.
  613. Bunson 1994, hlm. 341.
  614. Southern 2014, hlm. 250, 292–293.
  615. Bunson 1994, hlm. 341; Eck & Takács 2007, hlm. 54, 94.
  616. Bunson 1994, hlm. 341–342.
  617. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 83–84.
  618. Bunson 1994, hlm. 404.
  619. Goldsworthy 2014, hlm. 458–459; Southern 2014, hlm. 246–247, 310.
  620. Bunson 1994, hlm. 144; Southern 2014, hlm. 184–185; Galinsky 2012, hlm. 56, 58.
  621. Bunson 1994, hlm. 144–145; Southern 2014, hlm. 173–174, 184–185; Galinsky 2012, hlm. 56, 58; Goldsworthy 2014, hlm. 193.
  622. Bunson 1994, hlm. 145; Southern 2014, hlm. 185.
  623. Bunson 1994, hlm. 145; Southern 2014, hlm. 325–326.
  624. Bunson 1994, hlm. 144.
  625. Southern 2014, hlm. 317; Goldsworthy 2014, hlm. 469.
  626. Nothaft 2018, hlm. 122; Southern 2014, hlm. 86; Goldsworthy 2014, hlm. 2, 381–382; Hosch 2023.
  627. Nothaft 2018, hlm. 122; Southern 2014, hlm. 86; Goldsworthy 2014, hlm. 7, 381–382; Hosch 2023; British Museum 2017.
  628. Goldsworthy 2014, hlm. 72.
  629. Goldsworthy 2014, hlm. 72, 381–382.
  630. Nothaft 2018, hlm. 122; Southern 2014, hlm. 141; Goldsworthy 2014, hlm. 2, 381–382.
  631. British Museum 2017.
  632. Southern 2014, hlm. 341–344, Fig. A1.10 pada hal. 344; Goldsworthy 2014, hlm. 374.
  633. Eck & Takács 2007, hlm. 128–129.
  634. Bunson 1994, hlm. 34; Southern 2014, hlm. 331, mengutip Dio, 56.30.3, dan Suetonius, Augustus, 28.3.
  635. 1 2 Bunson 1994, hlm. 34.
  636. Eck & Takács 2003, hlm. 122; Goldsworthy 2014, hlm. 273, 331, 341–345, Fig. A1.8, Fig. A1.9, Fig. A1.10.
  637. Bunson 1994, hlm. 32.
  638. Eck & Takács 2003, hlm. 118–121.
  639. Bunson 1994, hlm. 34; Southern 2014, hlm. 334–336, Fig. A1.3.
  640. Southern 2014, hlm. 330–334, Fig. A1.1.
  641. Southern 2014, hlm. 333, Fig. A1.2.
  642. Southern 2014, hlm. 330, 345–346.
  643. Eck & Takács 2003, hlm. 79.
  644. Eck & Takács 2003, hlm. 79; Goldsworthy 2014, hlm. 146.
  645. 1 2 3 Eck & Takács 2003, hlm. 79.
  646. Goldsworthy 2014, hlm. 180.
  647. Southern 2014, hlm. 345; Goldsworthy 2014, hlm. 262.
  648. Southern 2014, hlm. 336; Galinsky 2012, hlm. 67–68; Goldsworthy 2014, hlm. 418.
  649. Richardson 1992, hlm. 117–18, mengutip Suetonius, Augustus, 72.1.
  650. Wiseman 2022, hlm. 15–17; Bingham 2021, hlm. 317–319.
  651. Bingham 2021, hlm. 318–319.
  652. Galinsky 2012, hlm. 67–68.
  653. 1 2 Southern 2014, hlm. 336.
  654. Galinsky 2012, hlm. 67–68, Peta 2, Gbr. 13; Southern 2014, hlm. 336.
  655. Goldsworthy 2014, hlm. 418.
  656. Goldsworthy 2014, hlm. 419.
  657. Ring, Salkin & La Boda 1996, hlm. 121.
  658. Goldsworthy 2014, hlm. 419, 464.
  659. Amici 2015, hlm. 658–663.
  660. Goldsworthy 2014, hlm. 32, 46, 465, 509; Southern 2014, hlm. 7, 310–311.
  661. Villa where Augustus probably died is unearthed. Associated Press (video). 16 November 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 27 October 2021. Diakses tanggal 9 April 2021.
  662. 1 2 Eck & Takács 2003, hlm. 124.
  663. Tacitus, I.3.
  664. 1 2 3 Eder 2005, hlm. 23.
  665. 1 2 Starr 1952, hlm. 5.
  666. Southern 2014, hlm. 319–320.
  667. Southern 2014, hlm. 96–97.
  668. Kelsall 1976, hlm. 120.
  669. Southern 2014, hlm. 146–147.
  670. Southern 2014, hlm. 305.
  671. Southern 2014, hlm. 305–306.
  672. 1 2 Starr 1952, hlm. 6.
  673. Kelsall 1976, hlm. 118.
  674. 1 2 Kelsall 1976, hlm. 119.
  675. 1 2 Goldsworthy 2014, hlm. 2.
  676. 1 2 Goldsworthy 2014, hlm. 8.
  677. Southern 2014, hlm. 319; Goldsworthy 2014, hlm. 8–9.
  678. Southern 2014, hlm. 319.
  679. Santangelo & Vitello 2025, hlm. 34–35, 41–42, 45–46.
  680. Santangelo & Vitello 2025, hlm. 34–35, 41–42, 44.
  681. 1 2 Goldsworthy 2014, hlm. 8–9.
  682. Santangelo & Vitello 2025, hlm. 45–46.
  683. Santangelo & Vitello 2025, hlm. 33–35, 45–46.
  684. Santangelo & Vitello 2025, hlm. 38–39, 44, 51.
  685. Santangelo & Vitello 2025, hlm. 38–44.
  686. Goldsworthy 2014, hlm. 10–11.
  687. Southern 2014, hlm. 103–104.
  688. Welsby 1996, hlm. 68; Southern 2014, hlm. 184, Fig. 5.7; Goldsworthy 2014, hlm. 300.
  689. 1 2 Goldsworthy 2014, hlm. 68.
  690. Panzanelli 2008, hlm. 116–117.
  691. Galinsky 2012, hlm. 75–76; Southern 2014, hlm. 212–213, Fig. 212, Fig. 213.
  692. Carter 1983, hlm. 29–30; Galinsky 2012, hlm. 94–95, 139; Southern 2014, hlm. 341; Goldsworthy 2014, hlm. 357–359.
  693. Carter 1983, hlm. 25.
  694. Southern 2014, hlm. 320–321; Carter 1983, hlm. 24; Galinsky 2012, hlm. 132–133.
  695. Walker & Burnett 1981, hlm. 1, 18, 25 (dikutip).
  696. Southern 2014, hlm. 322; Goldsworthy 2014, hlm. 256.
  697. Smith 1997, hlm. 186.
  698. Southern 2014, hlm. 177–178.
  699. Southern 2014, hlm. 322.
  700. Goldsworthy 2014, hlm. 287–288.
  701. Beard 2021, hlm. 216–217, Gambar 6.17.
  702. Beard 2021, hlm. 215–216, Gambar 6.16.
  703. 1 2 Goldsworthy 2014, hlm. 2–3.
  704. Goldsworthy 2014, hlm. 3.

Sumber kuno

[sunting | sunting sumber]
  • Appian. Bella civilia.
    • McGing, B. C. (2020). Appian: Roman History. Loeb Classical Library. Vol. IV–VI. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-99647-2.
    • White, Horace (1913–14). Loeb Classical Library – via LacusCurtius.
  • Augustus. Res Gestae Divi Augusti.
    • Cooley, Alison E. (2009). Res Gestae Divi Augusti: Text, Translation, and Commentary. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-84152-8.
    • Shipley, Frederick W. (1924). Loeb Classical Library – via LacusCurtius.
  • Dio. Historia Romana.
    • Cary, Earnest (1914–27). Loeb Classical Library – via LacusCurtius.

Sumber modern

[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]


Augustus
Lahir: 23 September 63 SM Meninggal: 19 Agustus 14 M
Gelar kebangsawanan
Jabatan baru Kaisar Romawi
27 SM – 14 M
Diteruskan oleh:
Tiberius
Jabatan politik
Didahului oleh:
C. Vibius Pansa Caetronianus
A. Hirtius
Konsul Romawi
43 SM (suffectus)
Bersama dengan: Q. Pedius
Diteruskan oleh:
M. Aemilius Lepidus
L. Munatius Plancus
Didahului oleh:
Paullus Aemilius Lepidus
M. Herennius Picens
Konsul Romawi II
33 SM
Bersama dengan: L. Volcatius Tullus
Diteruskan oleh:
Cn. Domitius Ahenobarbus
C. Sosius
Didahului oleh:
Cn. Domitius Ahenobarbus
C. Sosius
Konsul Romawi III–XI
31–23 SM
Bersama dengan: Marcus Antonius
M. Valerius Messalla Corvinus
M. Licinius Crassus
Sex. Appuleius
M. Agrippa
T. Statilius Taurus
M. Junius Silanus
C. Norbanus Flaccus
Cn. Calpurnius Piso
Diteruskan oleh:
M. Claudius Marcellus Aeserninus
L. Arruntius
Didahului oleh:
D. Laelius Balbus
C. Antistius Vetus
Konsul Romawi XII
5 SM
Bersama dengan: L. Cornelius Sulla
Diteruskan oleh:
C. Calvisius Sabinus
L. Passienus Rufus
Didahului oleh:
L. Cornelius Lentulus
M. Valerius Messalla Messallinus
Konsul Romawi XIII
2 SM
Bersama dengan: M. Plautius Silvanus
Diteruskan oleh:
Cossus Cornelius Lentulus
L. Calpurnius Piso
Jabatan keagamaan
Didahului oleh:
M. Aemilius Lepidus
Pontifex maximus
12 SM – 14 M
Diteruskan oleh:
Tiberius