Mut
| Mut | |
|---|---|
Dewi para ratu | |
Dewi Mut digambarkan sebagai perempuan yang mengenakan mahkota ganda serta mahkota burung nasar, mengaitkannya dengan Nekhbet. | |
| Gender | wanita |
| Afiliasi | dewi |
| Hewan | burung nasar |
| Pemujaan | |
| Kepercayaan | agama Mesir Kuno |
| Etnis | bangsa Mesir |
| Daerah | Mesir |
| Pusat pemujaan | Thebes |
| Keluarga | |
| Orang tua | Tidak ada (menciptakan diri sendiri) |
| Suami | Amun |
| Anak | Khonsu dan Monthu (keduanya anak angkat) |
| ||||
| Mut | ||||
|---|---|---|---|---|
| Hieroglif Mesir |
Mut, yang berarti ibu dalam bahasa Mesir kuno,[1] adalah dewi ibu Mesir kuno dengan banyak aspek yang telah berubah selama seribu tahun budayanya. Pengucapan lainnya ialah Mout. Dia sering digambarkan sebagai hering putih. Dia termasuk dalam dewa penting, yang dihubungkan dengan air yang mana segalanya terlahir melalui partenogenesis. Dia juga digambarkan sebagai wanita dengan mahkota Mesir di kepalanya. Hukum di Mesir kerap kali menunjang penyembahannya dengan cara mereka sendiri untuk menekankan otoritas mereka dan hak untuk mengatur seluruh perkumpulan dengan Mut.
Mut (juga dikenal dengan ejaan Mout) adalah salah satu dewi utama dalam agama Mesir Kuno. Namanya berasal dari kata dalam bahasa Mesir Kuno yang berarti "ibu". Sesuai dengan arti namanya, Mut dipandang sebagai lambang keibuan, perlindungan, penciptaan, dan kekuasaan perempuan. Kedudukannya berkembang secara bertahap sepanjang sejarah Mesir Kuno. Dari dewi yang pada awalnya memiliki pemujaan terbatas, Mut kemudian menjadi salah satu tokoh terpenting dalam panteon Mesir, khususnya ketika kota Thebes tumbuh menjadi pusat politik dan keagamaan.[2]
Dalam tradisi keagamaan Mesir Kuno, Mut dikenal sebagai pasangan Amun, dewa utama Thebes, dan ibu dari Khonsu, dewa bulan. Ketiganya membentuk kelompok dewa yang disebut Triad Thebes. Hubungan ini membuat Mut tidak hanya dipandang sebagai seorang ibu secara simbolis, tetapi juga sebagai ibu ilahi yang menjaga keseimbangan keluarga, kerajaan, dan alam semesta. Para raja Mesir sering menghubungkan diri mereka dengan Mut untuk memperkuat legitimasi pemerintahan dan menggambarkan kekuasaan mereka sebagai bagian dari tatanan ilahi.[3]
Nama dan asal-usul
[sunting | sunting sumber]Nama Mut ditulis dalam hieroglif Mesir menggunakan lambang yang berhubungan dengan kata "ibu". Dalam beberapa sumber modern, namanya juga ditulis sebagai Mout atau Maut. Perbedaan penulisan tersebut terjadi karena bahasa Mesir Kuno tidak menuliskan huruf vokal secara lengkap. Oleh sebab itu, pengucapan asli banyak nama Mesir Kuno tidak dapat diketahui secara pasti, dan para ahli menggunakan bentuk pengucapan yang telah disepakati untuk mempermudah pembahasan.
Asal-usul pemujaan Mut belum dapat ditentukan secara pasti. Ia tampaknya belum menjadi dewi utama pada periode paling awal sejarah Mesir. Kedudukannya mulai meningkat ketika Thebes berkembang menjadi pusat pemerintahan, terutama pada masa Kerajaan Pertengahan dan Kerajaan Baru. Pada saat yang sama, Amun menjadi salah satu dewa paling berpengaruh di Mesir. Sebagai pasangan Amun, Mut memperoleh kedudukan yang semakin tinggi dan menggantikan beberapa dewi yang sebelumnya dikaitkan dengannya.
Salah satu dewi yang pernah dianggap sebagai pasangan Amun adalah Amaunet. Namun, ketika pemujaan Mut semakin berkembang, Mut secara bertahap mengambil peran yang lebih menonjol. Ia kemudian dipandang sebagai pasangan utama Amun dan ibu Khonsu. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa agama Mesir Kuno tidak bersifat tetap. Identitas, hubungan, dan fungsi suatu dewa dapat berubah sesuai dengan perkembangan politik, sosial, serta kebudayaan masyarakat.[4]
Peran sebagai dewi ibu
[sunting | sunting sumber]Sebagai dewi ibu, Mut melambangkan kekuatan yang melahirkan, memelihara, dan melindungi kehidupan. Meskipun disebut sebagai ibu, perannya tidak selalu dikaitkan dengan kelahiran biologis. Dalam beberapa tradisi, Mut dipercaya tidak memiliki orang tua dan muncul dengan sendirinya. Gagasan tersebut menempatkannya sebagai dewi pencipta yang memiliki kekuatan untuk menghasilkan kehidupan tanpa pasangan atau proses kelahiran biasa.[5]
Kepercayaan mengenai penciptaan diri ini berhubungan dengan gagasan Mesir Kuno tentang air purba. Sebelum dunia terbentuk, dipercaya terdapat lautan tanpa batas yang menjadi sumber pertama kehidupan. Dari keadaan purba tersebut, para dewa dan seluruh ciptaan mulai muncul. Mut kadang-kadang dikaitkan dengan kekuatan penciptaan itu karena sifat keibuannya dianggap telah ada sejak awal terbentuknya dunia.[6]
Mut juga dipahami sebagai ibu simbolis bagi para penguasa Mesir. Raja dapat digambarkan sebagai anak Mut yang berada di bawah perlindungannya. Hubungan ini memberikan makna politik terhadap pemujaannya. Apabila raja dianggap sebagai anak seorang dewi besar, kekuasaannya dapat dipandang sebagai sesuatu yang mendapat persetujuan para dewa.[7]
Sifat keibuan Mut tidak hanya bersifat lembut dan penuh kasih. Ia juga dapat menunjukkan kekuatan yang berbahaya ketika menjaga anak, raja, atau tatanan dunia. Pandangan tersebut sesuai dengan pemahaman masyarakat Mesir Kuno bahwa seorang dewi pelindung harus mampu memberikan kehidupan sekaligus menghancurkan segala sesuatu yang mengancamnya. Karena itu, Mut terkadang disamakan atau dihubungkan dengan dewi-dewi yang memiliki sifat keras, seperti Sekhmet.[8]
Penggambaran dan simbol
[sunting | sunting sumber]Dalam seni Mesir Kuno, Mut paling sering gambarkan sebagai seorang perempuan yang mengenakan gaun panjang. Di atas kepalanya terdapat mahkota ganda Mesir, yaitu gabungan mahkota putih Mesir Hulu dan mahkota merah Mesir Hilir. Mahkota tersebut merupakan simbol persatuan seluruh Mesir. Penggunaannya menunjukkan bahwa Mut dianggap memiliki kekuasaan yang mencakup seluruh wilayah kerajaan.[9]
Mut juga dapat membawa tongkat papirus dan simbol ankh. Ankh merupakan lambang kehidupan, sedangkan tongkat papirus dapat menunjukkan kekuasaan dan hubungannya dengan dunia ilahi. Dalam beberapa penggambaran, Mut mengenakan hiasan kepala berbentuk burung nasar. Burung ini menjadi salah satu simbol yang paling erat hubungannya dengan Mut dan dengan gagasan tentang keibuan di Mesir Kuno.[10]
Burung nasar dianggap sebagai lambang ibu yang melindungi anak-anaknya. Masyarakat Mesir pada masa itu tampaknya percaya bahwa semua burung nasar berjenis kelamin betina. Oleh karena itu, burung tersebut dipandang dapat berkembang biak tanpa pasangan jantan. Kepercayaan ini sesuai dengan gambaran Mut sebagai ibu pertama yang mampu menciptakan kehidupan dengan kekuatannya sendiri.[11]
Penggambaran Mut tidak selalu sama. Ia dapat ditampilkan sepenuhnya sebagai burung nasar, sebagai perempuan berkepala burung, atau sebagai perempuan dengan sayap terbentang. Sayap yang terbuka melambangkan perlindungan. Dalam bentuk tertentu, ia juga digambarkan dengan kepala singa betina. Bentuk tersebut menonjolkan sifatnya yang ganas dan kemampuannya menghukum musuh-musuh para dewa maupun raja.[12]
Mut kadang-kadang dihubungkan dengan uraeus, yaitu lambang ular kobra yang biasa dikenakan pada mahkota kerajaan. Ular kobra melambangkan perlindungan ilahi dan kemampuan menghancurkan musuh. Dengan menggabungkan lambang burung nasar, singa betina, dan ular kobra, Mut tampil sebagai dewi yang memiliki sifat keibuan sekaligus kekuasaan yang besar.[13]
Hubungan dengan Amun dan Khonsu
[sunting | sunting sumber]Hubungan Mut dengan Amun menjadi bagian penting dalam perkembangan pemujaannya. Amun pada awalnya merupakan dewa setempat di Thebes, tetapi kemudian menjadi dewa nasional ketika para penguasa dari wilayah tersebut berhasil menyatukan dan menguasai Mesir. Ia juga disatukan dengan Ra, dewa matahari, sehingga dikenal sebagai Amun-Ra. Ketika kedudukan Amun meningkat, Mut sebagai pasangannya turut memperoleh penghormatan yang lebih luas.[14]
Mut dan Amun memiliki seorang anak ilahi bernama Khonsu. Khonsu adalah dewa bulan yang dikaitkan dengan perjalanan waktu, penyembuhan, dan perjalanan malam. Amun, Mut, dan Khonsu membentuk Triad Thebes. Konsep tiga dewa dalam satu keluarga membantu masyarakat memahami hubungan antara penciptaan, perlindungan, keturunan, dan kelanjutan kehidupan.[15]
Dalam kelompok tersebut, Amun dapat dipandang sebagai ayah, Mut sebagai ibu, dan Khonsu sebagai anak. Namun, fungsi mereka tidak terbatas pada peran keluarga manusia. Mereka juga mewakili kekuatan kosmis dan kerajaan. Triad Thebes memperlihatkan bahwa keluarga kerajaan di dunia manusia dapat dipahami sebagai cerminan keluarga para dewa.[16]
Upacara-upacara keagamaan yang melibatkan ketiga dewa ini mempunyai arti penting bagi masyarakat dan pemerintahan. Patung suci mereka dapat dibawa keluar dari kuil dalam perayaan tertentu. Kehadiran patung tersebut memungkinkan masyarakat berhubungan dengan dewa melalui doa, persembahan, dan prosesi.[17]
Pusat pemujaan di Thebes
[sunting | sunting sumber]Pusat utama pemujaan Mut berada di Thebes, yang sekarang merupakan bagian dari kawasan Luxor. Kuilnya terletak di bagian selatan kompleks Karnak, di kawasan yang dikenal sebagai Kawasan Mut. Tempat suci tersebut merupakan salah satu bagian penting dari pusat keagamaan Karnak, meskipun letaknya terpisah dari kawasan utama yang didedikasikan kepada Amun.[18]
Di dalam kawasan Mut terdapat kuil, gerbang, bangunan tambahan, dan sebuah danau suci yang berbentuk menyerupai bulan sabit. Danau itu dikenal sebagai Isheru. Keberadaan danau suci memiliki fungsi keagamaan dan mungkin digunakan dalam upacara penyucian. Bentuknya juga dikaitkan dengan dewi-dewi bermata singa yang dipercaya memiliki kekuatan besar dan perlu ditenangkan melalui ritual.[19]
Kuil Mut dibangun, diperluas, dan dipugar oleh sejumlah penguasa dari masa yang berbeda. Hal ini memperlihatkan bahwa pemujaannya berlangsung dalam waktu yang panjang. Para penguasa memberikan persembahan, mendirikan patung, dan membangun bagian-bagian kuil untuk menunjukkan kesalehan serta hubungan mereka dengan sang dewi.[20]
Banyak patung Sekhmet ditemukan di sekitar kawasan Mut. Sekhmet adalah dewi berkepala singa yang berhubungan dengan perang, penyakit, penyembuhan, dan panas matahari. Banyaknya patung tersebut menunjukkan adanya hubungan erat antara Mut dan sifat berbahaya yang dimiliki dewi singa. Patung-patung itu kemungkinan digunakan dalam ritual untuk menenangkan kekuatan ilahi agar tidak membawa penyakit atau bencana.[21]
Pemujaan dan upacara keagamaan
[sunting | sunting sumber]Pemujaan kepada Mut dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti pemberian makanan, minuman, pakaian, dupa, perhiasan, dan benda-benda berharga. Persembahan tersebut tidak dipahami sebagai kebutuhan jasmani dewi seperti pada manusia, tetapi sebagai sarana menjaga hubungan antara dunia manusia dan dunia para dewa.[22]
Para imam bertanggung jawab merawat patung suci Mut yang ditempatkan di bagian paling dalam kuil. Patung itu diperlakukan sebagai tempat hadirnya kekuatan sang dewi. Setiap hari, patung dapat dibersihkan, diberi pakaian, dihias, dan menerima persembahan. Hanya orang tertentu yang diizinkan memasuki ruang paling suci, sedangkan masyarakat umum biasanya beribadah di bagian luar kuil.[23]
Mut juga dihormati melalui festival. Dalam perayaan tertentu, patungnya dibawa keluar dari ruang suci dan ditempatkan di atas perahu upacara. Perahu tersebut kemudian diarak atau dibawa melalui jalur yang menghubungkan kuil-kuil di Thebes. Prosesi semacam ini memperkuat hubungan antara Mut, Amun, Khonsu, raja, dan masyarakat.[24]
Festival keagamaan bukan hanya kegiatan spiritual. Perayaan tersebut juga memiliki fungsi sosial dan ekonomi. Banyak orang berkumpul, makanan dibagikan, barang diperdagangkan, dan kekuasaan kerajaan ditampilkan kepada masyarakat. Dengan demikian, pemujaan terhadap Mut menjadi bagian dari kehidupan politik dan sosial Mesir Kuno.[25]
Hubungan dengan kekuasaan kerajaan
[sunting | sunting sumber]Para penguasa Mesir mendukung pemujaan terhadap Mut untuk memperkuat kekuasaan mereka. Raja Mesir tidak hanya dianggap sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai penghubung antara manusia dan para dewa. Salah satu tugas utama raja adalah menjaga maat, yaitu tatanan, kebenaran, keadilan, dan keseimbangan kosmis.[26]
Dengan menggambarkan diri sebagai anak Mut, raja memperoleh perlindungan serta pengakuan ilahi. Hubungan ini dapat ditampilkan melalui relief kuil, prasasti, gelar kerajaan, dan upacara. Para penguasa juga membangun atau memperbaiki kuil Mut untuk menunjukkan bahwa mereka memenuhi kewajiban terhadap para dewa.[27]
Beberapa perempuan kerajaan memiliki hubungan khusus dengan pemujaan Mut. Ratu dapat disamakan dengan sang dewi karena keduanya menjalankan peran sebagai ibu dan pelindung keluarga kerajaan. Identifikasi tersebut juga menegaskan kedudukan perempuan dalam menjaga kesinambungan dinasti.[28]
Namun, dukungan kerajaan terhadap Mut tidak semata-mata bertujuan keagamaan. Kuil-kuil besar merupakan lembaga ekonomi yang menguasai tanah, tenaga kerja, ternak, hasil pertanian, dan berbagai kekayaan. Dukungan kepada kuil juga membantu penguasa membangun hubungan dengan para imam serta mengatur pusat-pusat kekuasaan di seluruh kerajaan.[29]
Penggabungan dengan dewi lain
[sunting | sunting sumber]Agama Mesir Kuno memungkinkan suatu dewa dihubungkan atau digabungkan dengan dewa lainnya. Proses ini disebut sinkretisme. Mut dapat disamakan dengan sejumlah dewi yang memiliki fungsi serupa, terutama dewi yang berhubungan dengan keibuan, kerajaan, langit, perlindungan, dan kekuatan matahari.[30]
Mut kadang-kadang dikaitkan dengan Hathor, dewi cinta, musik, kegembiraan, keibuan, dan langit. Ia juga dapat dihubungkan dengan Isis, yang dikenal sebagai ibu sekaligus pelindung raja. Hubungan ini tidak berarti bahwa Mut, Hathor, dan Isis selalu dianggap sebagai satu tokoh yang sama. Mereka tetap memiliki pusat pemujaan, mitos, dan lambang masing-masing, tetapi sifat mereka dapat saling bertumpang tindih.[3]
Hubungan Mut dengan Sekhmet menonjolkan sisi ganas dan protektifnya. Dalam bentuk gabungan tertentu, ia dapat disebut Mut-Sekhmet atau Mut-Wadjet-Bastet. Penggabungan tersebut memperlihatkan bahwa satu dewi dapat memiliki sifat keibuan, kerajaan, penyembuhan, perang, dan penghukuman sekaligus.[3]
Kemampuan untuk menggabungkan berbagai sifat ini merupakan salah satu ciri penting agama Mesir Kuno. Para dewa tidak selalu ditempatkan dalam kategori yang kaku. Identitas mereka dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan ritual, tradisi setempat, dan perubahan politik.[3]
Perkembangan pemujaan dan warisan
[sunting | sunting sumber]Pemujaan Mut mencapai kedudukan tinggi pada masa Kerajaan Baru, ketika Thebes menjadi pusat kekuasaan. Pada periode ini, Amun-Ra dan keluarganya memperoleh dukungan besar dari kerajaan. Kuil-kuil mereka menerima kekayaan, tanah, pekerja, dan persembahan dalam jumlah besar.[2]
Setelah pusat politik berpindah dan Mesir mengalami berbagai perubahan kekuasaan, pemujaan Mut tetap bertahan. Kuilnya terus digunakan serta dipugar oleh dinasti-dinasti berikutnya, termasuk pada masa kekuasaan penguasa asing. Hal tersebut menunjukkan bahwa identitas keagamaan Mesir tidak langsung menghilang ketika pemerintahan berganti.[1]
Pada masa Yunani dan Romawi, sejumlah dewa Mesir masih tetap dipuja, meskipun bentuk dan konteks pemujaannya berubah. Mut tidak menyebar seluas Isis, tetapi kedudukannya di Thebes tetap menjadi bagian penting dari tradisi setempat. Pemujaannya secara bertahap menurun ketika agama-agama lama kehilangan dukungan lembaga dan agama Kristen berkembang di Mesir.[5]
Pada masa modern, Mut menjadi objek kajian dalam bidang arkeologi, sejarah agama, epigrafi, dan sejarah seni. Penggalian di kawasan kuilnya menghasilkan patung, prasasti, relief, dan sisa bangunan yang membantu para ahli memahami perkembangan Thebes. Temuan tersebut juga memperlihatkan hubungan erat antara agama, kekuasaan kerajaan, ekonomi kuil, dan kedudukan perempuan dalam pemikiran Mesir Kuno.[2]
Mut tetap dikenal sebagai salah satu gambaran paling kuat mengenai keibuan dalam kebudayaan Mesir Kuno. Akan tetapi, makna keibuannya jauh lebih luas daripada peran merawat anak. Ia merupakan pencipta, pelindung, permaisuri ilahi, ibu raja, penjaga tatanan, dan kekuatan yang dapat menghukum musuh. Perpaduan antara kasih sayang dan kekuasaan inilah yang menjadikan Mut sebagai tokoh penting selama berabad-abad.[6]
Referensi atau pranala luar
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Velde, Herman te (2002). Mut. In D. B. Redford (Ed.), The ancient gods speak: A guide to Egyptian religion (pp. 238). New York: Oxford University Press, USA.
- 1 2 3 "Mut and Khonsu - Hypostyle". www.memphis.edu. Diakses tanggal 2026-10-06.
- 1 2 3 4 "Mut Temple". ARCE (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ "Mut | Description & Story | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-06.
- 1 2 "Mut Temple". ARCE (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-06.
- 1 2 "Mut and Khonsu - Hypostyle". www.memphis.edu. Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ global.oup.com https://global.oup.com/academic/product/egyptian-mythology-9780195170245. Diakses tanggal 2026-10-06.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ "The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt". wwnorton.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ Wilkinson, Richard H. (2017). The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt (dalam bahasa Inggris). Thames & Hudson. ISBN 978-0-500-28424-7.
- ↑ Wilkinson, Richard H. (2017). The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt (dalam bahasa Inggris). Thames & Hudson. ISBN 978-0-500-28424-7.
- ↑ Wilkinson, Richard H. (2017). The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt (dalam bahasa Inggris). Thames & Hudson. ISBN 978-0-500-28424-7.
- ↑ Wilkinson, Richard H. (2017). The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt (dalam bahasa Inggris). Thames & Hudson. ISBN 978-0-500-28424-7.
- ↑ Wilkinson, Richard H. (2017). The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt (dalam bahasa Inggris). Thames & Hudson. ISBN 978-0-500-28424-7.
- ↑ "The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt". wwnorton.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ "The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt". wwnorton.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ "The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt". wwnorton.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ "The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt". wwnorton.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ global.oup.com https://global.oup.com/academic/product/egyptian-mythology-9780195170245. Diakses tanggal 2026-10-06.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ global.oup.com https://global.oup.com/academic/product/egyptian-mythology-9780195170245. Diakses tanggal 2026-10-06.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ global.oup.com https://global.oup.com/academic/product/egyptian-mythology-9780195170245. Diakses tanggal 2026-10-06.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ global.oup.com https://global.oup.com/academic/product/egyptian-mythology-9780195170245. Diakses tanggal 2026-10-06.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ global.oup.com https://global.oup.com/academic/product/egyptian-mythology-9780195170245. Diakses tanggal 2026-10-06.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ global.oup.com https://global.oup.com/academic/product/egyptian-mythology-9780195170245. Diakses tanggal 2026-10-06.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ global.oup.com https://global.oup.com/academic/product/egyptian-mythology-9780195170245. Diakses tanggal 2026-10-06.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ global.oup.com https://global.oup.com/academic/product/egyptian-mythology-9780195170245. Diakses tanggal 2026-10-06.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ "Mut and Khonsu - Hypostyle". www.memphis.edu. Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ "Mut and Khonsu - Hypostyle". www.memphis.edu. Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ "Mut and Khonsu - Hypostyle". www.memphis.edu. Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ "Mut and Khonsu - Hypostyle". www.memphis.edu. Diakses tanggal 2026-10-06.
- ↑ "Mut Temple". ARCE (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-06.
- Mut Article on Pantheon.org Diarsipkan 2008-06-16 di Wayback Machine

![X1 [t] t](https://calendarstemplates.com/w/extensions/wikihiero/img/hiero_X1.png?f2a8c)


