Ular kobra merupakan jenis ular berbisa dari Suku Elapidae. Ular ini disebut juga ular sendok, karena ia dapat menegakkan sekaligus memipihkan lehernya hingga melengkung seperti sendok. Bentuk seperti sendok ini akan ia tampilkan saat merasa terganggu atau terintimidasi dengan kehadiran musuh.
Di Indonesia terdapat dua jenis kobra yaitu kobra jawa (Naja sputarix) dan kobra sumatera (Naja sumatrana). Kobra sumatera persebarannya hanya di Sumatera dan Kalimantan.
Kobra jawa tersebar di Jawa, Bali, Lombok, Komodo, Rinca, Sumbawa, dan Flores. Jenis ini menyukai bentang alam berupa hutan terbuka, savana, persawahan, hingga pekarangan. Ukuran tubuhnya, rata-rata sekitar 1,3-1,8 meter. Saat bertelur, sang betina dapat menghasilkan 10-20 butir yang akan menetas 3-4 bulan. Biasanya, telu-telur tersebut diletakkan di lubang tanah atau di daun kering lembab.
Hampir semua jenis ular, termasuk induk kobra pada periode tertentu, akan meninggalkan telur-telurnya, hingga menetas sendiri. Begitu menetas, anakan kobra ini segera menyebar. Biasanya, telur akan menetas saat awal musim penghujan, yang merupakan siklus alami.
Kobra akan melumpuhkan mangsa dengan cara menggigit dan menyuntikkan bisa (venom) melalui taringnya. Racun ini dapat melumpuhkan saraf dan otot mangsanya hanya dalam hitungan menit. Mangsanya adalah tikus, kadal, katak dan ular.
Kobra jawa sangat agresif, sedikit gangguan langsung membuat postur waspada yaitu menegakkan kepala dan mengembangkan tudung. Jenis ini aktif siang maupun malam hari dan dapat menyemburkan racun sejauh dua meter.
Memahami karakter ular
Harus kita pahami, ular merupakan satwa melata (reptilia) yang sangat umum di sekitar kita. Sejauh ini, belum ada cara sederhana untuk mengenali ular berbisa maupun tidak. Beberapa jenis ular tidak berbisa bahkan memiliki penampakan morfologi sebagaimana ular berbisa. Begitu pula sebaliknya.
Namun, ada beberapa jenis ular berbisa tinggi atau sangat berbahaya yang dapat dikenali dari ciri khusus. Sebut saja dari ukuran, warna tubuh, pola, perilaku, atau bunyi-bunyian tertentu yang dikeluarkan saat posisinya terancam.
Umumnya, ular tidak dengan sengaja menyerang atau mematuk manusia. Pada kebanyakan kasus, gigitan ular merupakan reaksi atas kehadiran manusia yang dianggap sebagai ancaman.
Sebagian besar kejadian, ular akan menghindar atau diam bila bertemu manusia. Apabila terpaksa, biasanya ular memberi peringatan terlebih dahulu melalui suara, menaikkan badan, mengembangkan leher, atau menyemprotkan racun.
Jaga kebersihan
Untuk menghindari agar ular tidak masuk rumah kita, maka kebersihan rumah dan sekitar harus selalu dilakukan. Jangan biarkan sampah bekas makanan yang dapat mengundang tikus menumpuk di rumah, karena tikus mangsanya ular. Hindari juga tumpukan barang-barang bekas di dalam rumah dan bersihkan pekarangan dari timbunan daun kering ataupun material.
Bersihkan juga lantai dengan aroma menyegat karena ular sangan membanci benci bau tajam. Penting diingat, bila menemukan ular kobra di rumah, jangan tangani sendiri. Laporkan ke ahlinya atau juga petugas berwenang (Dinas Pemadam Kebakaran) yang memiliki pengetahuan menangani ular.
Jika terjadi kasus gigitan ular kobra, penanganannya dapat mengikuti petunjuk dari WHO (World Health Organization) tentang Managemen Kasus Gigitan Ular. Saat ini, antibisa kobra jawa sudah ada di Indonesia. Masyarakat dapat memastikan ketersediaannya di rumah sakit terdekat.