notmeani

Bonus

“Selesai juga akhirnya” Axel berhasil membereskan seluruh barang, pindahan dari Jogja ke Padang ternyata juga melelahkan.

“Hasilnya jadi mirip banget ya sama yang di mimpi itu?” Axel menoleh ke arah Ein yang baru saja datang dari luar.

Mereka sudah pindahan sejak 3 hari yang lalu, tapi karena barang mereka yang cukup banyak, jadi alhasil butuh waktu hingga sekarang baru selesai.

“Gak nyangka aja ya, sampe ke fase ini juga kita”

“Iyaa” mereka tersenyum bersama membayangkan apa yang sudah mereka lalui dari beberapa tahun lalu hingga kini setelah menikah.

Mereka memutuskan pindah ke Padang setelah menikah, Ein bercerita kota Padang adalah kota favoritnya, seperti punya khas tersendiri yang membuat Ein senang berada disana.

Sebenarnya mereka sudah tau kalo itu akan terjadi, tapi mereka tetap berbicara seperti apa yang takdir mau. Benar memang mereka seperti hanya diberi petunjuk untuk sampai kesini. Tak ada yang bisa diubah.

“Istirahat aja yuk, besok udah mau kerja lagi soalnya” Ein mengajak Axel untuk beristirahat karena mereka juga sudah lelah beres beres rumah yang bisa dibilang lumayan besar ini.

“Baru juga libur 1 hari Einnnn” Ein tak jadi berjalan ke kamar karena kaget mendengar cara bicara Axel yang tak biasa. Suara manja yang pernah keluar dari Axel dewasa, kali ini sudah ada di Axel masa sekarang. Ein benar benar tidak pernah mau percaya, sepertinya sifat Ein dewasa juga sudah mulai timbul. Ein menjadi lebih bisa mengekspresikan dirinya sendiri.

Seperti sekarang, ia terang terangan mengakui agak sedikit geli.

“Kamu beneran Axel?” Axel mengangguk dengan wajah yang diimut imutkan nya. “Aku gak peduli”.

Ein mengibaskan tangannya dan segera berlalu ke arah kamar.

“Einnnn”

“TERSERAH”

“yang bener aja sih Einnn”

Axel tertawa kencang karena merasa berhasil menjahili Ein. Ya hidup terus berjalan. Makin kenal kita, lebih terbuka lagi sifat kita. Bukannya itu bagus? Kita akan hidup tanpa topeng.

“Okeee, CUT. Makasih kerja kerasnya semuanya”

Tepuk tangan menggema di ruangan tengah rumah yang menjadi lokasi syuting hari terakhir “Fate”. Axel dan bahkan Ein yang baru keluar dari kamar pun juga ikut tersenyum sambil mengucapkan kata terima kasih nya kepada para kru dan staff.

Syuting sudah berakhir. Mereka hanya perlu menunggu film akan selesai diedit dan akan dimulainya promosi film.

Hanya ada Ein dan Axel sebagai Artist di hari terakhir syuting. Pemain lain sudah berpamitan duluan saat hari terakhir syuting mereka.

Ein dan Axel segera bergegas untuk mengganti baju sebelum akan pulang dan beristirahat.

Ein bertemu Axel di teras rumah, terlihat Axel seperti menunggu seseorang, mungkin manajer nya.

“Hai Axel” Axel segera menoleh saat Ein terang terangan menyapanya.

“Hai Ein”

“Makasih untuk kerja samanya”

“Aku makasih juga, seneng bisa kerja sama dengan kamu”

“Me too” mereka memberikan senyum terbaik di hari terakhir sebelum mereka bertemu untuk masa promosi.

“Oh chemistry nya udah bagus nih kayaknya” Sutradara mereka-Rendy datang memberikan mereka selamat dan sedikit menjahili 2 pemain utamanya.

“Biar lain kali mudah buat syutingnya kali kak” Axel terkekeh pelan menjawabnya.

“Lain kali? Mau banget ya syuting bareng lagi?”

“OHOOO” Axel tiba tiba menjadi terdiam bingung harus menjawab apa.

“Ehm, maksudnya ya kenapa gak kan? Iya ya kak?” Rendy yang ditatap hanya tersenyum menggoda melihat pasangan itu.

“Of course, let's make It happen” Ein tersenyum lebar, Rendy menggelengkan kepalanya karena melihat Ein yang terang terangan tampak tertarik dengan Axel. Sedangkan, Axel dibuat bingung dan kaku sekaligus karena tak bisa berkomentar apapun lagi.

“Bisa aja emang jodoh kan ya kak?”

Memang Ein versi nyata berbeda saat akting. Hati hati ke Ein versi nyata. Disaat sudah suka dengan seseorang, ia akan memastikan orang itu tau kalau ia menyukainya.

💞

REALLY END

(5/5) Second Meet

“Axel ada masalah apa?” Tanya Adit penasaran karena ia sama sekali tak ikut bergabung dengan teman temannya selama seminggu belakangan.

“Makanya ikut gabung, cewek mulu sih Lo” timpal Mike yang malah ditimpuk dengan kertas oleh Adit karena tak sadar dengan dirinya sendiri.

“Lagi ada masalah kerjaan, mungkin aja kantor nya lagi drop?” Kivo berusaha menjawab setaunya. Karena Axel pun tak sama sekali cerita dengan mereka tentang masalahnya.

“Susah sih emang, kuliah juga, ngurusin kantor juga. Boro boro kita yang masih punya waktu pacaran.”

“Axel tuh emang harus pacaran deh seenggaknya, biar ada kesibukan lain gitu kan. Gak stres gituloh jadinya. Malming, date atau gitulah. Jadi kan gak itu aja kerjaan dia, kuliah kerja kuliah kerja aja” Violy ikut menimpali ucapan pacarnya.

Tiba tiba perhatian mereka teralih ke arah paper bag di atas meja milik Axel.

“Punya siapa paper bag nya?” Mike yang lebih dulu penasaran.

“Tadi aku liat Axel sih yang bawak” Kivo menjawab karena ia melihat Axel menenteng paper bag itu dari kelas ke taman.

“Tumben banget dia bawa paper bag kecil gini, hadiah dari junior kah?” Mereka semua saling melirik kebingungan tanda tak tau.

“Diliatin banget masalahnya sama Axel tadi” Kivo menambahkan.

“WAHH, jangan jangan dari pacarnya kali, Axel mah mana pernah sampe megang hadiah dari juniornya, mentok mentok taro di tas” Mike berseru senang diikuti tatapan bingung dari yang lain. “Daripada penasaran, mending liat aja” Mike sudah berdiri dan hampir menuju ke tempat Axel duduk, tapi Kivo langsung berseru karena melihat Axel yang berlari ke arah mereka.

“Axel datang” Mereka berlima langsung segera pura pura mengerjakan sesuatu, Mike pun sampai berjongkok pura pura mencari barangnya yang hilang. Setelah datang tiba tiba, Axel segera pergi lagi secepat kilat bahkan tanpa menyapa kelima temannya hanya untuk mengambil paper bag yang sedari tadi dibuat penasaran oleh Mike. Kelimanya melongo melihat Axel berlari sangat cepat.

“Kenapa Axel?”

“Kayaknya Axel aneh deh hari ini”

💞

Axel kembali lagi ke fakultas Teknik setelah mengambil hadiah yang sudah disiapkannya untuk Ein. Sebelumnya, ia mengatur nafas terlebih dahulu karena berlari sangat kencang menempuh fakultas teknik-fakultas ekonomi-fakultas teknik yang berjarak kurang lebih 2 km.

Setelah dirasanya yakin keadaan nya sudah mulai membaik, Axel berjalan kembali ke arah ia bertemu Ein sebelumnya. Tapi, yang ia dapatkan malah tak ada. Sepi, hanya beberapa orang yang tak dikenalnya terlihat berbincang satu sama lain.

Ia jadi bingung dengan apa yang ia lakukan. Seharusnya ia mengajak Ein mengobrol terlebih dahulu atau setidaknya menanyakan kelas atau nama lengkap, tapi ia hanya meminta Ein untuk menunggu yang belum tentu juga akan diturutin oleh Ein.

“Tunggu disini bentar ya Ein”

Ein terlihat kaget karena pertemuan mereka yang mendadak. Ein masih menatap kosong ke arah Axel, tanpa sadar mengangguk saat Axel memintanya untuk menunggu. Axel yang telah mendapatkan respon, segera berlari kembali untuk mengambil hadiah yang akan diberikannya kepada Ein.

Axel seketika menyesal akan hal yang ia lakukan. Ia melirik ke arah paper bag yang dibawanya dan menurunkannya dengan kecewa. Axel hanya tersenyum sedih.

“He, ada Axel” Axel mendongak melihat Luna dan pacarnya-Aldo datang dari arah depannya. Jika boleh dikatakan Axel iri dengan teman temannya yang sudah memiliki pacar, ntahlah ia bingung juga. Kivo punya pacar, Violyn dan Kio langgeng sampai sekarang, lupakan Mike dan Adit yang memang masih ingin bermain.

Axel mulai sadar saat Luna dan Aldo sudah ada didepannya.

“Ngapain Axel kesini?” Tanya Luna penasaran karena jarak Ekonomi ke Teknik yang lumayan jauh.

“Tadi nyari adek-” Axel kebingungan sendiri dengan kata katanya. Luna dan Aldo yang masih menatap Axel ikut bingung karena reaksi Axel.

“Adek? Adek siapa?”

“Ehm, ehm, Violyn nyuruh aku ambil formulir gitu, sejenis itulah, apa yah, buat lomba kali ya? Atau apa ya?”

“Buat pendaftaran anggota sementara?”

“Nah iya itu” Axel merutuki dirinya sendiri karena bertingkah gugup seperti itu di depan pasangan ini yang pasti akan curiga.

Luna dan Aldo malah saling melirik. Mereka seolah paham apa yang terjadi dengan Axel sekarang. Seperti cowok yang ingin menemui gebetan atau pacarnya tapi malah malu mengakui di depan orang yang dikenalnya. Mereka juga ikut melirik paper bag yang berusaha disembunyikan oleh Axel di belakang tubuh nya. Mereka tersenyum.

“Cari siapa sih? Biar kami bantuin, mungkin aja kami kenal” Aldo berusaha tersenyum maklum dengan tingkah Axel agar Axel tak perlu ragu berbicara dengan mereka. Mereka sudah dekat layaknya teman karena sudah setahun lebih kenal karena Luna yang menjadi sekretaris BEM yang juga sering ngumpul bersama anggota inti membawa pacarnya.

“Cepetan, keburu kami berubah pikiran nih” Luna terkekeh melihat Axel yang ragu.

💞

“Tugas nya gak nyambung gitu gak sih Ein? Jadi bingung sendiri, mau nangis aja rasanya” Jesi merengek mengeluh karena tugas yang banyak dengan dalih menyalahkan tugas yang gak nyambung padahal ia sendiri yang tidak memperhatikan dosen berbicara di kelas.

Ein yang duduk di depannya tertawa pelan sambil meminum habis air botol yang dibawanya dari kost. Mereka sekarang sedang duduk di kantin fakultas teknik menunggu kelas berikutnya yang berlangsung setengah jam lagi.

“Nanti aja pikirin tugasnya, lagi istirahat juga. Mumet nih kalo tugas mulu” Ein berdialog sambil memperagakan tangannya di kepala seolah sedang pusing. “Beli makan aja yuk, traktir deh hari ini!”

Ein tersenyum lebar ke arah Jesi yang terkejut karena Ein yang tiba tiba akan mentraktir nya. Bukan hal yang biasa, karena mereka juga bukan tergolong orang kelas atas.

“BENERAN? IN-”

“suuuu” Ein meletakkan jarinya di depan mulutnya meminta Jesi berbicara pelan pelan. “Iya beneran, tapi aku sanggup nya cuma neraktir kamu aja, jadi diam diam aja ya, nanti gak enak yang lain denger, bangkrut nanti”

“Dalam rangka apa emang?” Jesi tetap masih penasaran dengan Ein yang masih saja tersenyum.

“Gak ada rangka apa apa, cuma lagi pengen aja, mau gak? sebelum berubah pikiran nih!”

“IYA MAU, MAKASIH EIN KU SAYANG” Jesi langsung berlonjak senang dan memainkan tangannya gemas di depan Ein. “Mau dipesenin apa nih?”

“Apa aja deh kali ini”

“Oke princess” Jesi langsung berlari ke arah penjual makanan di fakultas nya. Ia terlihat senang dari belakang karena hari ini uang jajannya akan ditabung. Ein yang melihatnya ikut tersenyum.

Hari ini ulang tahunnya, ia hanya ingin membahagiakan dirinya sendiri, ataupun orang yang dekat di sekitarnya. Agar tak terlalu berpikir tentang tugas nya yang masih banyak. Biarlah sehari ini aja dia menggunakan uang yang dia tabung selama ini. Ulang tahun juga setahun sekali. Nanti ia janji kepada dirinya sendiri akan menabung lagi.

Sembari menunggu, ia melihat kak Luna-seniornya di fakultas teknik memasuki kantin bersama teman temannya. Tersenyum cantik dan seolah memikat semua orang yang melihatnya. Ein tersenyum memikirkan masih ada orang seperti Luna, ia diberkati kecantikan dan kepintaran, bahkan dikenal cerdas di organisasi nya, tapi ia sama sekali tak sombong, bahkan sudah punya pacar.

Ein tak fokus karena melamun, ia bahkan tak sadar Luna berjalan ke arahnya. Makin dekat langkahnya, Ein baru tersentak karena Luna yang seperti tersenyum ke arah nya.

“Hai, Ein bukan?” Ternyata memang benar, seniornya menyapanya sambil tersenyum.

“Iya kak, ada apa ya kak?” Ein yang tiba tiba gugup berusaha tetap menjaga ketenangan nya di depan Luna. Ein tiba tiba bingung melihat Luna yang tersenyum makin lebar, seperti sedang mendapatkan sesuatu yang diincarnya.

“Kenal Axel kan ya? Ulang tahun hari ini?” Ein langsung tercengang. Ein baru sadar Luna adalah anggota BEM yang sama dengan Axel. Posisi mereka pun juga dekat, gak mungkin mereka tak saling mengenal. Luna berbicara dengan pelan agar orang orang disekitar mereka tak perlu mendengar nya. Terlihat beberapa orang mulai penasaran karena Senior cantik mereka mendatangi orang yang bahkan tidak terlalu dikenal di fakultas.

Ein hanya mengangguk ragu untuk tanggapan pertanyaan Luna.

“Kami kebetulan temennya Axel, dia gak terang terangan minta tolong sih, kami yang lebih ke nawarin. Dia bilang dia mau ngobrol aja sama kamu malam ini, kalo kamu gak sibuk banget, dia gak maksa kok. Dia minta ketemu di taman Deket kampus kita ini, yang biasanya banyak jual jajanan gitu pas malam jam 7, mau nyampain itu aja, sukses buat kalian” Ein balas tersenyum saat Luna tersenyum mengakhiri obrolan, Ein ragu dalam hatinya-

“Oh iya” Ein mendongak kembali ke arah Luna yang balik lagi ke arahnya. “Boleh tau akun ig kamu?”

“Buat apa kak?” Ein kebingungan karena tiba tiba ditanyakan akun Ig, apa Axel meminta nya juga?

“Jaga jaga aja mau follow kan biar lebih cepat akrab kalo seandainya kalian jadi pacaran” Ein dibuat tercengang sekali lagi dengan ucapan Luna, “bercanda” Luna tertawa sembari menyesuaikan suara tawanya agar tetap pelan. Ia tersenyum melihat semburat merah di wajah Ein karena merasa berhasil menggodanya. “Gak papa, biar akun BEM nanti follow kamu gitu, kan kamu anak kampus kita juga”

Ein lalu menyebutkan akun Ig nya, dan Luna segera berlalu pergi sambil memperhatikan hp nya, mungkin melihat akun nya? Ntahlah. Luna yang pergi dengan tersenyum meninggalkan banyak pertanyaan untuk orang orang yang melihat disana.

Ein masih bingung, apa yang kiranya akan dibicarakan Axel, apakah akan membahas tentang mimpi itu, kenapa bisa Axel mengingatnya, dia sudah percaya diri sekali berpikir Axel tak tau tentang mimpi itu. Ein berharap Axel juga sama sekali tak percaya. Ia menutup matanya dan berdoa pelan semoga doanya dikabulkan.

Tring

Notifikasi hp nya berbunyi. Ia meraih hp nya dan melihat ada pemberitahuan mengikuti kembali dari akun Ig BEM, dan ada DM pesan. Ein melihatnya dan tercengang untuk kesekian kalinya.

Disana terdapat poster editan selamat ulang tahun Ein, dan serta doa doanya yang sudah lengkap ada disana. Ein merasa terharu, berkaca kaca hanya melihat itu. Baginya itu sudah sangat cukup. Ia cukup terkejut Axel memberi tau ke mereka tentang ulang tahunnya, ia ingat memang Axel dewasa pernah menyebut tanggal lahirnya. Ia tersenyum kecil mengetahui Axel yang ingat itu.

From Ein: Makasih semuanya

From BEM_A****: Apa sih yang gak buat pacar ketua BEM kami😘

Upps🤭 Calon pacar maksudnya

Ein kali ini yakin ia akan terus dijahili jika benar benar akan berhubungan dengan Axel. Ini terasa salah. Ein menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya malu.

💞

Ein sudah datang 10 menit yang lalu, ia bersembunyi di pohon pohon dekat dari tempat janji. Ein bisa melihat Axel duduk di salah satu meja disana. Di taman tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan weekend.

Ein ragu untuk menghampiri. Bingung apa yang harus dikatakan saat bertemu atau obrolan yang akan mereka bahas selama pertemuan. Apa hanya ingin bertujuan mengatakan tidak ingin mengikuti takdir mimpi. Ein merasa jantungnya berdetak kencang, ntah karena khawatir atau merasa takut akan sesuatu.

Ein terus bolak balik di tempatnya. Masih bimbang.

💞

Axel menghela nafas kasar, memejamkan mata masih berharap Ein akan tetap datang malam ini. Sudah 30 menit berlalu ia duduk dan menunggu Ein di taman, tapi Ein bahkan belum menampakkan dirinya. Suasana taman tidak terlalu sepi, tidak terlalu ramai, mungkin cocok untuk dijadikan tempat bicara. Axel memilih tempat duduk di sudut yang diperkirakan tidak akan didengar orang lain.

Jantung Axel ikut berdetak kencang. Ia mengepalkan tangannya dan menggosokkannya di paha nya. Menggetarkan kaki nya tanda ia gugup.

Jika memang Ein pun tidak datang malam ini, Axel akan menemui Ein kembali di fakultas, mungkin meminta bantuan Luna kembali. Walaupun sebenarnya ia ragu itu akan merepotkan.

Tapi kecemasannya hilang saat melihat Ein berjalan pelan ke arahnya, terlihat ragu karena sangat pelan sekali jalannya. Tapi, Axel tersenyum lebar karena Ein akhirnya mau datang menemuinya.

“Hei” Ein menyapa lebih dulu saat tiba di depan Axel.

“Duduk dulu” Ein langsung duduk di depan Axel, Axel tersenyum lebar. “Familiar gak?”

Ein kaget saat ditanya seperti itu. Tapi akhirnya ia jadi teringat juga tentang mereka yang duduk di tempat yang hampir serupa dalam mimpi. Mimpi kan ya? Ein jadi familiar berbicara berdua membahas kecemasan Axel.

“Apa kabar?” Axel memecah keheningan karena sepertinya Ein masih terlihat ragu untuk berbicara.

“Ehm, baik kok. Axel gimana?”

“Baik juga” Axel benar benar tak bisa menyembunyikan senyumnya sedari tadi. “Mau pesen makanan? Biar aku yang traktir.”

“Gak usah, bayar sendiri sendiri aja” Ein menolak sopan saat Axel sudah mulai berdiri untuk memesan.

“Kan aku yang ngajak kesini, it's ok, aku yang bayar”

“Kalo gitu apa aja deh”

“Semuanya?”

“JANGAN JANGAN, ehm maksud aku itu kebanyakan. Yang gak terlalu berat aja” Ein segera melambaikan tangannya menolak karena Axel menawarkan membeli semuanya. Ein tak lupa kalo Axel orang yang cukup berada.

Axel segera berdiri dan memesan beberapa makanan dan minuman, sepertinya. Lalu segera kembali dengan senyuman yang masih terpasang di wajahnya. Setelah duduk kembali, Axel meraih 2 paper bag, paper bag yang besar dibukanya lebih dahulu.

Ein penasaran kira kira apa isinya, Axel mengeluarkan kotak besar dari sana dan mulai perlahan membuka kotak. Isinya kue berukuran persegi berwarna coklat yang dilengkapi kue macaron di atasnya, terlihat seperti kue mewah.

Ein dibuat bingung dengan apa yang Axel lakukan, dia tetap diam saat membuka kotak kue. Saat kotak selesai dilepas, ia meletakkan kotak masuk kembali ke paper bag dan meletakkan nya di bawah meja menyisakan paper bag berukuran kecil di meja.

Axel mulai menyalakan lilinnya dan menutup mata, apa yang dilakukan Axel membuat Ein total bingung. Axel seperti make a wish, apa Axel ulang tahun juga hari ini. Lalu dengan senyumannya, Axel membuka mata melihat Ein dan perlahan menyerahkannya ke Ein.

“Ulang tahun kan ya hari ini?” Ein mengangguk pelan. “Nih, make a wish dulu, tiup deh lilinnya.”

Ein tetap saja masih kebingungan, “kamu tadi ngapain?”

“Oh itu, mau bilang makasih harapan aku udah dikabulin karena kamu datang kesini” Ein tak bisa bohong, ia tak pernah biasa dengan sikap seseorang yang seperti ini. Hatinya seperti meleleh. Wajahnya pasti merah sekarang.

Axel masih tetap tersenyum dan mengarahkan Ein make a wish dan meniup lilinnya.

“Aku gak minta banyak tahun ini, hal terbaik dari mu adalah hal yang selalu aku nantikan”

Ein meniup lilinnya sambil tersenyum tulus ke arah Axel. “Makasih banyak ya Axel, kamu udah ingat ulang tahun aku, aku aja gak tau ulang tahun kamu”

“Axel dewasa emang sengaja ngasih tau aku buat ngerayain ultah kamu sama kamu. Mungkin itu kode kali ya, mereka dulu ketemu pas ultah kamu. Tapi-” mereka terdiam sebelum Axel kembali melanjutkan “Emang iya kamu gak tau ulang tahun aku? Kayaknya anak anak lain pada ngasih aku ucapan selamat deh tiap tahunnya, kamu gak mungkin gak kenal aku kan?”

Ein terdiam, bingung apa yang harus ia jawab. Bohong kalo ia menjawab tak mengenal Axel. Karena sejak awal masuk pun, ia sudah tau Axel ada disini. Ein menunduk dan terlihat ragu, menggosokkan kedua tangannya satu sama lain.

“Bukan gak tau-”

“Aku heran deh kenapa kamu gak nyamperin aku aja, biar kita bisa ketemu lebih cepat”

“Emang kamu percaya ya Axel sama mimpi itu? Itu kan cuma mimpi kan ya?”

Gantian, kali ini Axel yang terdiam. Melihat Ein dengan tatapan berbeda dari sebelumnya. Ein yang ditatap pun sadar ia salah berbicara.

“Setelah aku pikir-” Axel kembali berbicara setelah mereka diam 5 menit. “-aku lebih suka versi kamu yang ada di mimpi. Kamu yang ceria, ketawa dan selalu bisa buka topik baru. Aku gak kecewa ketemu versi kamu sekarang, dari awal kamu udah keliatan ragu Ein. Kamu gak percaya, itu kenapa aku disini sekarang, bicara sama kamu, ngeyakinin kamu.”

“Ngapain kamu ragu, Axel didepan kamu sekarang ini Axel yang kamu temui, benar benar kamu temui di 'sana'. Kamu bisa cerita disana, kenapa disini gak?”

Ein menunduk menahan tangisnya untuk keluar, ia tak bisa jika sudah seperti ini. Ia lemah jika orang disekitarnya kecewa akan sikapnya. Ia telah melakukan kesalahan lagi.

“Ein..” Axel memegang tangan Ein, meminta atensi sepenuhnya. Ein mendongak dengan tatapan berkaca kaca. Ein memutuskan tak ingin menangis, “takdir jodoh itu udah ada yang atur, pernah gak sih ngerasa kita belum pernah ketemu sebelumnya, tapi setelah itu ketemu dengan versi kita yang sudah nikah, ada pertanda apa?”

“Entah itu mimpi, dunia lain, ataupun masa depan, apa itu akan tetap selamanya atau hanya sebagai tempat persinggahan, selama aku sendir sekarang dan kamu-”

“sen-sendiri”

“Kamu juga sendiri, apa salahnya sih kita juga ikut ngecoba takdir dari yang kamu sebut mimpi itu, gak ada yang salah kan? Aku gak kecewa, aku lebih ke sedih karena seolah kamu nolak aku di hidup kamu.”

Ein tak bisa lagi menahan air matanya. Ia menunduk saat menyadari air matanya mulai jatuh.

“Lihat sini” Axel mengangkat wajah Ein agar sejajar dengannya, lalu dengan perlahan menghapus air mata Ein dengan jari nya. Menatap Ein dengan senyuman tulusnya.

Ein benar benar seperti sedang bermimpi bisa mendapatkan orang sebaik Axel, seperhatian Axel. Apa ia pantas untuk ini?

“Kita sepantes itu emang buat dapatin kebahagian, don't worry.” Axel sekali lagi memberikan Ein senyuman terbaiknya. “Jadi jawabannya?”

Ein mengangguk, air matanya kembali keluar saat melihat Axel yang tak bosan-bosan nya tersenyum.

“Kap-kapan makanan, hiks kapan makanan nya datang sih, hiks lama banget?” Axel tertawa kencang karena Ein yang makin menangis kencang karena terbawa suasana.

Sebenarnya Axel memang belum memesan makanan, ia tadi hanya berusaha mencari topik pembicaraan sambil berdiri. Axel jadi sedikit merasa bersalah sebenarnya, tapi ia akan mencoba menjelaskan ke Ein perlahan.

Axel memilih memotong kue nya terlebih dahulu untuk mengalihkan perhatian Ein, Ein masih berusaha menghentikan air matanya agar tidak keluar.

“Mau disuapin gak?”

Ein mendongak tersenyum dan menerima dengan senang hati, tersenyum dalam hatinya. Matanya masih merah karena menangis.

“Selamat ulang tahun, aku pernah dengar, jangan lupa bilang makasih ke teman hidup kita nanti, karena ia sudah dilahirkan untuk melengkapi hidup aku nantinya”

“Bukannya itu kata Axel dewasa ya?”

“Oh, iya ya?” Mereka berdua terkekeh pelan. Suasana disana mulai menjadi lebih hangat daripada sebelumnya. Wajah tersenyum yang memang selalu diharapkan untuk muncul sudah hadir. Berbuah dari perjuangan yang sudah dijanjikan untuk dilakukan sendiri terlebih dulu lalu akan dibantu dilengkapi bersama sama.

“Ada hadiah buat kamu, hadiahnya cantik gitu pas untuk perempuan yang senyumnya sangat manis, senyum terus yaa” Ein memukul Axel bercanda karena sedikit geli dengan gombalannya. Axel hanya tertawa sambil menunjukkan hadiahnya kepada Ein. Setelah ini Axel berjanji akan mentraktir Ein di tempat yang dia inginkan.

Bagi Ein, sudah cukup.

Bahagia sesederhana ini yang dia butuhkan. Ya ini baru awal. Benar kata Axel, entah sampai kapan ini berlangsung, setidaknya mereka harus menciptakan memori indah yang akan selalu mereka ingat bersama.

Mereka tertawa sambil mencoba menghidupkan hadiah kotak lampu. Axel tertawa karena lupa menyetel lagunya dan lagu lagu yang ada hanya lagu anak anak. Tapi ya oke lah. Cukup baik untuk malam yang indah.

💞

“Kan Axel beneran punya pacar”

“Itu baru ditembak namanya Mike”

“Iya iya Kivo” Mike memutar matanya malas.

Mike, Adit, Violyn, Kio, dan Kivo mengikuti Axel yang tampak buru buru keluar dari rapat BEM tadi sambil terus menenteng paper bag. Karena rasa penasaran Mike yang besar, Mike menarik paksa semua temannya mengikuti Axel dengan ucapan “takut Axel dalam bahaya”. Mereka akhirnya memilih bersembunyi di pohon yang tak jauh dari Axel dan Ein duduk. Memperhatikan dan mendengarkan dari awal mereka berbicara.

“Axel jadi so sweet banget, emang ya kalo udah ketemu yang klop tu pasti jadi gitu” Violyn tersenyum seperti membayangkan dirinya sendiri di posisi itu.

“Kayak aku kan, yank?” Kio menaik turunkan alisnya menggoda.

“HEEEEEE”

“sempat sempatnya lagi flirting depan kami”

“Dasar, Iri.” Violyn terang terangan memeluk Kio yang dibalas dengusan pelan dari Kivo, Mike, dan Adit.

“Bubar deh” Mike menarik Kivo dan Adit cepat cepat untuk berlari meninggalkan pasangan itu pulang sendiri.

“JANGAN DITINGGAL DONG” Violyn dan Kio juga berlari kencang menyusul. Tapi mobil yang dipakai berlima tadi sudah melaju pergi meninggalkan Kio dan Violyn di tengah jalan.

“Dasar mereka, Awas aja sama aku nanti” Violyn menunjuk ke arah melajunya mobil yang dikendarai Mike sebelumnya.

“Yaudah, naik taksi aja kita”

“Oke deh” Violyn menjawab lesu, tapi tetap menggandeng tangan pacarnya.

💞

END

(4/5) Real Life

“Hei Ein, Ein, EIN”

Ein terduduk secara tiba tiba setelah mendengar suara teriakan dan gerakan tangan seseorang di tangannya sendiri. Merasakan pusing karena tiba tiba duduk setelah tertidur, Ein memegangi kepalanya.

“Kamu ini, tadi nolak buat ikut katanya mau ngerjain tugas, ini pas ditinggal malah tidur sama tugasnya”

Itu suara kakaknya. Rein. Ia menoleh cepat ke arah Rein, dan mendapatkan tatapan marah dari kakak nya. Tak ada lagi mimpi bertemu Axel. Oke.

“Ngapain kamu menung kayak gitu?”

“Iya iya maaf kak Rein, tadi aku agak pusing gitu, makanya milih tidur bentar dibanding maksain buat lanjutin. Malah kebablasan tidurnya”

“Kalo gitu kan tadi enakan pergi aja keluar sama kakak”

“Iya iyaa, oh iya kak, udah jam berapa kak?” Tanya Ein penasaran karena berapa lama ia bermimpi tadi.

“Mau jam 4 udah, berdiri lagi, kakak ada bawain makanan” Rein melengos pergi keluar kamar Ein duluan karena sepertinya Ein masih harus mengumpulkan kesadarannya dulu setelah bangun tidur.

“Jam 4, kalo tidur jam 1 tadi. Udah mau 3 jam juga, aku percaya kok itu mimpi doang, gak usah dianggap serius deh. Masa iya mau percaya sama begituan.” Ein bergumam sendiri memikirkan mimpinya.

“Tapi nasihat dari Ein dewasa itu ada benarnya juga, ambil pelajaran aja dari mimpi itu. Yang lain gak usah di seriusin banget. Belum tentu juga Axel tuh ada di dunia.” Ein tidak percaya tentang semua hal yang terjadi di alam bawah sadarnya.

“EINNNN” Suara teriak kakaknya dari arah luar mengagetkan Ein yang masih merenungkan mimpi nya.

“Iya kak?”

“Cepat kesini, bantuin kakak beresin ini dulu”

“Iya iyaaa, ini mau keluar” Ein memutuskan untuk tak lagi ingin mengingat mimpinya, dan pergi keluar membantu kakaknya merapikan makanan yang dibawa.

💞

Axel terbangun dengan menutup mata nya menggunakan tangan karena cahaya lampu yang mengenai langsung matanya. Lampu di kamar Axel akan otomatis hidup saat malam hari. Axel melirik jam dinding di kamar nya, dan mendapatkan jam 7.15.

Mengucek matanya terlebih dahulu, Axel lalu menggeser tubuhnya ke arah bagian kepala ranjang, memposisikan dirinya duduk dengan menyender, memikirkan kembali tentang hal yang baru terjadi.

Axel percaya? Ya ia percaya. Walaupun sedikit ragu, tapi karena Axel versi dewasa tau tentang kejadian yang dialami nya tanpa ia ceritakan, ia jadi yakin mimpi itu adalah masa depannya.

Besok pagi dia sudah harus ke kampus untuk mendaftar masuk. Pilihan jurusan sudah harus ada di tangan. Malam ini harus jadi terakhir kali nya ia memikirkan jurusan yang akan ia masuki. Bisnis dan Kedokteran, Axel sudah lama ingin belajar kedokteran karena selalu tertarik saat melihat kakaknya Xera melakukan pekerjaan di rumah sakit.

Sudah lama Axel ingin belajar kedokteran dan ingin bekerja di rumah sakit menjadi dokter bedah. Tapi setelah hari ini, ia kembali ragu. Itu memang keinginan nya sejak lama, tapi dalam pelajaran pun ia juga bisa dibilang tak semampu itu. Ia harus belajar lebih keras lagi dari sebelumnya jika ingin masuk ke kedokteran.

Tapi bisnis membuatnya ragu, ia dekat dengan papa nya dan paham tentang apa yang selalu papa nya kerjakan saat masih hidup. Bahkan ia dan papa nya senang berbagi ide dan bertukar pikiran. Sedari dahulu, ia dan Alex (adik bungsu) memang paling dekat dengan papa nya. Ia selalu bermaksud menemani papa nya bekerja agar tidak sendirian, tapi karena itu ia jadi paham dan mengerti tentang bisnis.

Ia tak bisa bohong tentang itu. Ia jadi terbayang Axel versi dewasa dalam mimpinya menjadi lulusan sarjana manajemen bisnis. Apa ia harus memilih bisnis dan melanjutkan bisnis papanya?

💞

“Axel gak mau pi?” Tanya Alexa (Kakak pertama Axel) saat mereka sekeluarga ada di meja makan-minus Axel karena ia belum turun dari kamarnya.

“Ya, dia nolak. Papi gak bisa maksa kalo dia memang ngerasa belum mampu”

“Aku pikir Axel sebenarnya mampu, dia biasanya juga lebih sering bertukar pikiran dengan papa tentang kerjaan. Mungkin lebih ngerasa dia dapat tekanan langsung karena papa sama baru aja pergi. Sama juga kebeban karena aku sama kak Alexa, posisi nya kan dia ditengah” tambah Xera.

“Ya papi udah bilang juga ke dia kalo dia mampu. Tapi papi pikir reaksinya itu nolak”

“Papi gak bisa sementara handle dulu perusahaan papa seenggaknya sampe kit-”

Ucapan Xera berhenti karena Axel datang ke ruang makan sambil menggandeng tas. Dia duduk dengan semua orang disana melihat dia.

“Mau kemana Axel?” Tanya Bunda sambil tersenyum.

“Mau ke kampus bunda, buat ngisi formulir pendaftaran hari ini”

“Ehm, oh iya bunda sama papi kamu udah ngobrol juga, kami gak maksa kamu buat pilih manajemen, semua pilihan yang kamu pilih selama itu baik, kami bakal tetap dukung. Kamu mau ke kedokteran kan? Papa mama kamu dari awal udah nyiapin uang untuk masuk ke sana, juga buat adik adik kamu. Kakak kakak kamu juga bisa bantu nanti. Jadi jangan khawatir, kamu harus kerja langsung atau gimana.”

Axel terdiam awalnya, ia jadi ingat obrolan Ein dengannya.

Apapun pilihan kamu, didukung penuh, semoga pilihan Axel nanti bakal dapat yang terbaik.

“Aku juga udah mikirin sejak malam bunda papi, aku mutusin buat pilih manajemen”

“Hah?” Mereka disana kaget.

“Dadakan Axel?” Papi ikut bertanya.

“Gak, setelah aku pikir pikir manajemen oke juga di aku, ada Mike, Kivo, Kio, Adit sama Violyn juga disana. Lebih enak rame rame, dibanding kalo aku sendiri di kedokteran. Mereka aja kompak masuk manajemen, aku jadi ragu sendiri kalo masuk ke kedokteran, hehehe” Axel tertawa canggung, disaat yang lain diam.

“Alasan yang gak masuk akal” Xera membalas dengan tatapan tajam.

“Hey ya, aku yang punya alasan kok, kakak yang repot.” Axel jadi teringat Xera di masa depan. Jadi dia tersenyum mengingat nya, “oh iya, nanti kakak di masa depan lebih dekat ke aku loh, makanya baik baik, anak aku emang ganteng sih. Turunan aku soalnya” semua menatap Axel bingung, disaat Axel tertawa kencang tiba tiba.

“Yaudah deh, aku gak sarapan di rumah, nanti bareng sama yang lain aja, soalnya udah janjian juga, aku duluan ya, bunda papi”

Setelah mengucapkan salam, Axel segera pergi dan meninggalkan anggota keluarga yang masih terperangah dengan maksudnya.

“Gak jelas, kayaknya kebentur pas tidur deh”

💞

“Wahhh... Si playboy kita ini baru putus lagi ternyata”

“Huss... Jangan kencang kencang juga kali ngomong nya, kedengaran tau”

“Nyadar diri, padahal aku gak nyebut nama”

Mike sudah mulai mau mengangkat tangannya untuk bercanda memukul, tapi Violyn mengelak dan tertawa kencang karena berhasil menggoda Mike.

“Ketua BEM tolongin”

Mereka berenam baru saja dapat tempat duduk di kantin fakultas ekonomi. Selesai kelas mereka langsung kesini karena tak sempat sarapan, tadi pagi diburu waktu mengumpul tugas.

Mereka sekarang berada di tahun ke 2 kuliah. Sambil kuliah, Axel memutuskan masuk ke organisasi BEM, awalnya anggota, tapi baru baru ini di tahun ke dua dia sudah diangkat menjadi ketua BEM di kampusnya.

Axel dan teman temannya banyak dikenal seluruh mahasiswa kampus karena mereka berhasil mempresentasikan tugas project bisnis mewakili kampus mereka di bidang nasional. Bohong jika ada teman seangkatan atau lebih tua di atas mereka 3 tahun ada yang mengaku tidak mengenal mereka.

Mike dan Adit tak ayal dikenal playboy di fakultas ekonomi, seperti cowok badboy pada umumnya, berganti pacar dalam sekejap.

Kivo beda lagi, sudah punya pacar di fakultas psikologi. Sudah pacaran sejak tahun pertama kuliah, dan langgeng sampai sekarang.

Kio, jangan ditanya. Pacaran langgeng dengan Violyn dari zaman SMA.

Yang masih betah menjomblo, Axel. Idamannya kampus.

“Kalian tuh jangan mikirin diri kalian sendiri dong, cariin kek Axel pacar, ya Xel?” Cecar Violyn ke Mike dan Adit.

“Kalo Axel mah harus ditanyain dulu tipe nya gimana? Nanti asal cari, boro boro mau kenalan, ketemu aja mungkin gak mau. Tau sendiri tipe cewek kami lebih yang ke badgirl juga. Axel mah kayaknya 11 12 sama Kivo, sukanya yang baik baik, iya Xel?”

“Kayaknya temen kelas kita juga baik baik”

“Eeeeeehh”

“Gak gitu juga maksudnya”

Mereka semua berdebat membahas tipikal pacar Axel. Sedangkan Axel jadi mengingat kembali Ein. Sekarang mereka belum ada juga ketemu.

“Di foto waktu itu Ein udah ada pas wisuda aku, harusnya ya kami ketemu sebelum wisuda”

“Kalo seandainya Ein dibawah aku setahun, harusnya dia udah masuk kuliah sekarang, mungkin gak kalo kami satu kampus. Tapi aku gak tau jurusan dia apa. Gak sempet pula merhatiin dia waktu itu lulusan sarjana apa”

“Dipikir pikir bener sih kata Axel dewasa, Ein tuh manis. orang yang selalu berusaha cari topik pas lagi gak ada pembahasan. Walaupun kadang agak aneh juga, tapi seenggaknya ngehargai dia juga karena dia mau ngobrol duluan, susah sih itu”

Axel tersenyum sendiri mengingat Ein. Gak sadar teman temannya malah jadi berdebat mengenai tipe pacar Axel.

“Yang gimana Axel?”

“Yang manis”

Mereka berlima terperangah. Mereka sibuk membahas Axel akan lebih suka perempuan yang style nya gimana, tapi Axel malah menilai dari sudut pandang yang berbeda.

“HEEEEEEE” Axel segera tersadar saat teman temannya tertawa menggoda dia yang tanpa sadar mengatakan manis.

“Salah ngomong lagi”

“Emang kalian bahas apa tadi?”

“Ohoo, sampe gak tau kami bahas apa. Ada yang dipikirin ya?”

“Jangan jangan udah punya pacar lagi, kitanya gak dikasih tau”

“Wah, gak fair banget, kami soalnya mau pj Axel”

“PJ PJ PJ P-”

“YAAK, kalian salah paham. Siapa juga yang punya pacar, maksud aku tu dibanding semua tipe yang kalian bahas tuh, aku gak suka banyak yang ribet, manis aja udah cukup” Axel panik sibuk menenangkan mereka karena suara mereka yang terlalu keras bisa saja membuat orang memikirkan gosip yang lain nantinya.

“Uwoook, sejak kapan Axel jadi cheesy gini?” Mereka berlima tertawa kembali.

“Kalo mau manis suruh aja ceweknya makan banyak gula nanti”

“Diabetes yang ada, keburu gak mau Axel nya”

“HAHAHAHA” mereka tertawa kencang sampai orang orang di sekitar mereka melirik mereka penasaran.

“Bagus ya kalian ngeledek aku, awas aja-”

“Kak” Ucapan Axel terpotong oleh orang yang datang, “saya anggota BEM, tadi disuruh sama kak Luna (sekretaris BEM) buat manggil kakak untuk pembahasan tentang festival akhir tahun kampus kita”

“Oke oke, nanti aku kabarin Luna nya langsung, makasih ya”

“Iya kak” orang itu langsung pergi setelah berbicara. Axel langsung menoleh kembali ke arah teman temannya yang masih menahan tawa sambil pura pura fokus makan.

“Gak jelas” Axel menggerutu kesal karena sifat teman temannya.

💞

“Katanya kalo anak teknik tu dapat kerjanya cepat loh”

“Tergantung juga nilai kita gimananya”

“Udah ngomongin kerja aja, baru juga tahun pertama”

“Gak papa kali, buat persiapan”

Ein melirik sambil mendengarkan beberapa teman sekelasnya di sudut sedang membicarakan peluang kerja setelah lulus nanti. Ein hanya tersenyum tipis sambil mencoret isi buku nya untuk menghilangkan kebosanan.

Ein masuk kampus tahun ini dengan memilih jurusan teknik mesin. Niat dia dari awal jika bisa masuk ke kampus yang dia mau.

Kelas sudah mulai ramai, tapi dosen belum hadir karena ada sedikit masalah selama perjalanan ke kampus, jadi dosen bilang ke kami di grup chat kalo diminta berkenan menunggu sedikit lebih lama.

Gak ada yang keberatan sedikitpun, hanya menjawab baik pak. Rasanya balik lagi ke zaman SMA, masa nya jamkos.

“Eh Ein, udah milih baju belum buat festival akhir tahun kampus?” Itu Jesi, teman nya dari awal ospek sampai kelas sekarang. Jessi bingung melihat Ein yang malah menghitung jarinya.

“Masih ada 2 bulanan lagi, buru buru banget”

“Iya juga sih, excited aja soalnya, baru pertama kali”

“Ada apaan emang di festival?”

“Kalo kata senior ya, biasanya bakal ada kayak acara nyanyi gitu, panitia bakal buka kayak kios jualan gitu, nah yang intinya itu acara puncak, bakal ada acara mercon, kembang api gitu. Seru deh kayaknya”

“Gak ada lomba?”

“Biasanya sih gak ada, gak tau deh, kalo ketua BEM kita yang baru ini ngadain tema baru” Jesi menaikkan bahunya tanda tak tahu.

“Loh? Ketua BEM kita diganti?”

“Maksudnya masa BEM nya baru dimulai tahun ini juga. Yang acara aku sebutin tadi periode BEM sebelumnya.” Ein hanya mengangguk mengerti. “Oh ya Ein, ketua BEM kita itu ganteng loh, punya geng lagi kayaknya. Selalu berenam kalo pergi pergi”

“Oh ya?” Jesi mengangguk kan kepalanya semangat, lalu sibuk mencari sesuatu di hp nya, dan segera melihatkan Ein sebuah foto yang ada 6 orang didalamnya.

“Ketua BEM nya yang paling ujung sini” Jesi menunjuk ke arah paling kiri, Ein terperangah saat ia merasa mengenal ketua BEM. Wajahnya tak asing. “Ganteng sih, tapi kayak susah diraih, huhuhuhu”

“Itu bukannya Axel ya? Jadi kami sekampus gitu? Berpeluang besar banget gak sih buat ketemu, aku malah mikirnya Axel yang itu gak ada di dunia sini. Tapi yang bener aja kalo seandainya kami bener pacaran, pasti jadi menarik perhatian orang banget, kok ketua BEM pacaran sama cewek yang biasa aja, enggak enggak deh. Mimpi Ein, mimpi. Belum tentu juga Axel itu tau kamu”

💞

Suasana kampus pecah oleh suara musik. Hari ini puncak festival akhir tahun kampus. Meriah dan ramai oleh mahasiswa yang hadir. Semua mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul menjadi satu.

Axel sibuk berada di sekitar panggung untuk mengawasi jalannya acara. Ia berdiri disana agar yang butuh bantuan dia agar mudah ketemu. Banyak yang menghampiri Axel-rata rata perempuan angkatan, senior maupun junior memberikan coklat, hadiah, dan sebagainya. Axel tetap menghargai nya dan menerima nya dengan senyuman terima kasih.

Teman temannya yang juga anggota BEM kali ini menjadi panitia dan mereka sibuk menjaga kios masing masing. Acara tahun ini masih sama dengan tahun sebelumnya. Axel sang anggota yang lain belum mendapat ide baru. Mungkin jika ia masih menjadi ketua BEM tahun ketiga nanti, ia akan mencoba menentukan ide untuk festival akhir tahun.

Ein memilih berdiri di 1 kios paling sudut sambil membeli makanan. Ein melihat Axel disana sedang menerima dan meladeni setiap orang yang datang menghampiri nya, Ein jadi berkecil hati dan berusaha tetap memaksakan senyum nya.

Ein bingung, padahal ia sendiri yang meyakinkan dirinya sendiri itu cuma mimpi, Axel pun bahkan juga belum pasti akan kenal dia. Tapi rasanya kenapa ia jadi denial gini. Entahlah, Ein memilih menghindar berada di sekitar panggung dan lebih memilih menikmati acara dari jauh.

Saat acara puncak pun, Ein lebih memilih berdiri bersama Jesi dan teman sekelasnya yang lain melihat mercon yang sangat indah diatas sana yang dilakukan oleh semua anggota BEM.

Ein tersenyum tulus saat melihat Axel yang juga sedang tersenyum bersama anggota nya yang lain.

💞

Axel kelihatan melamun sejak tadi. Sekarang sedang kelas, dan Axel bahkan tidak memperhatikan penjelasan dosennya sedikit pun.

“Hei Axel, fokus coba. Lagi ngebahas tentang magang kita soalnya” Kivo berbisik untuk menyadarkan Axel. Axel mengangguk dan bergumam terima kasih pelan.

Mereka sudah masuk tahun ketiga semester 6, mereka sudah akan magang kali ini. Dosen memberikan petunjuk bagi yang mau mencari tempat magangnya sendiri dipersilahkan, tapi kalo yang belum tau, akan direkomendasi oleh dosen pembimbing masing masing.

Axel mencoba mengumpulkan fokusnya kembali, ia memikirkan masalah kantor baru baru ini dan ada hasil project yang gak sesuai ekspektasi. Ia melirik ke arah tas nya yang sedikit terbuka di bagian bawah meja. Ada satu kotak lampu kecil yang bisa bergerak saat lagunya diputar. Kotak lagu bukan sih namanya, tapi versi lampu. Entah ada apa, Axel membeli itu tiba tiba saat melihatnya sebelum berangkat kampus pagi ini, lagipula jika dipikir dia tak akan menggunakannya juga. Melihat itu, ia jadi memikirkan Ein. Tersenyum kecil karena mengingat Ein yang suka sekali tertawa.

Ia mengembalikan fokusnya lagi ke dosen, tapi tiba tiba salah fokus ke tanggal hari ini yang tertera di papan tulis. 7 Februari. Bukannya itu ulang tahun Ein? Berarti alam bawah sadarnya yang membawa Axel untuk membeli hadiah itu.

“Apa bakal ketemu Ein hari ini?”

💞

Axel dan teman temannya berkumpul di taman fakultas Ekonomi. Mereka sibuk membahas tentang rencana magang mereka di kantor papa Violyn, dan juga pengalihan tugas BEM sementara selama mereka magang.

Axel sibuk mencoret coret kertas di depannya, dia sama sekali tak mendengarkan apa yang dibicarakan teman temannya, hanya mengangguk jika dirasa perlu. Sambil terus melirik paper bag yang berisi hadiah di depannya.

Kivo sadar Axel tak fokus hari ini. Mulai memberikan kode ke teman temannya untuk melihat Axel. Mereka semua bingung melihat Axel yang seperti itu.

“Axel?”

“Ehm?”

“Ambil gih formulir buat anak anak yang mau jadi anggota BEM baru lagi ke Luna, Lo dari tadi kayaknya gak ada kerjaan banget, dibanding diam doang, enak berdiri jalan sana ke fakultas teknik”

“Iyaa” Axel langsung berdiri tanpa membantah ucapan Violyn.

Teman temannya menggelengkan kepala. Kalo Axel sudah ada masalah pasti diam saja dan milih mendam sendiri.

💞

“Pusing kepala aku rasanya. Kayaknya keluhan aku selalu ini deh sepanjang masa”

Ein menggerutu sepanjang jalan menuju kelas nya. Banyak sekali tugas dan ia ingin istirahat sehari saja di hari ulang tahunnya ini. Keluarganya menelpon Ein tadi pagi untuk mengucapi selamat ulang tahun, ya memang sebentar karena mereka semua sudah ada keperluan lagi.

Kalo teman kampusnya tidak sama sekali tahu hari ini ulang tahunnya termasuk Jesi. Biarlah menurut Ein, bukannya geer, tapi daripada heboh lebih baik tak ada yang tau.

Setelah kelas ia ingin makan di mall dan ingin membeli sesuatu yang ia inginkan sebagai hadiah untuk dirinya sendiri. Tapi setelah dipikir lagi, tugas untuk besok menumpuk. Jadi Ein harus mengurungkan keinginannya lagi kali ini.

“Bisa ditunda Ein, sabar sabar.” Ein sembari membuka-menutup matanya selama berjalan sambil menenangkan deru nafasnya.

“Oh iya dek, tau-”

“DEK ADEK KAMU PIK-”

“Ein?”

💞

TBC

(3/5) Meet Our Future

Bertemu orang yang mirip dengan kita itu sudah sangat asing dan pasti canggung. Rasanya seperti bercermin.

Itu yang dirasakan oleh Ein dan Axel sekarang, malah makin terasa canggung saat mereka disuruh duduk berhadap hadapan dengan versi dewasa mereka.

Axel versi dewasa sibuk memperhatikan dua orang yang terlihat lebih muda di depannya. Melihat suasana yang tegang begini, Axel berulang kali berusaha memberi kode kepada Ein di sebelahnya, tapi Ein malah sibuk beradu tatap dengan Ein yang lebih muda. Sedangkan Axel yang lebih muda penasaran apa yang terjadi dengan 2 Ein.

“Ekhem ekhem” deheman Axel dewasa membuat semua disana menoleh ke arahnya. “Wah, ini Ein versi umur berapa tahun ya, ternyata udah manis dari dulu ya” Axel tertawa berusaha memecah suasana di antara mereka, tapi tidak berhasil karena yang lain mendengus pelan.

“Aku tetap suami kamu loh Ein, jangan cemburu” Axel berbisik mendekat ke arah Ein, yang sebenarnya percuma karena 2 orang didepan mereka tetap mendengarnya.

“Tau, dia kan aku juga”

Axel dan Ein yang lebih muda terperangah melihat versi dewasa mereka sedang adu mulut. Apa benar saat mereka dewasa, sifat mereka bisa berubah penuh menjadi seperti itu.

“Sejak kapan aku jadi bisa galak gitu” ucap Ein dalam hati nya.

“Apa nanti pas aku dewasa bakal suka ngegodain istri sendiri kayak gitu” Ucap Axel dalam hati.

Mereka sama sama berkedik geli karena membayangkan masa depan.

“Ini fiks sih dunia lain, bukan masa depan.” Batin Ein

Ein dan Axel dewasa menoleh ke arah mereka secara tiba tiba, menatap mereka seperti yang lebih muda bersalah.

“Kalian ngapain ada disini?” Axel Dewasa bertanya ke Axel muda dengan nada tegas seperti dimainkan.

“Tiba tiba aja kami datang kesini dan kalian ada disini. Kami juga gak tau gimana cara balik ke tempat kami.”

“Awesome sih, ini mirip aku banget” Axel Dewasa mengaduh saat Ein Dewasa memukul lengan nya, walaupun sebenarnya tidak keras, mungkin lebih kaget karena pukulan tiba tiba.

“Itu kamu juga Axel, kamu gak bisa serius ya?” Ein dewasa sudah mulai tampak marah.

“Iya iya ini mau serius juga, kamu tuh jangan tegang gitu deh, akunya jadi ragu juga mau ngomong. Coba santai aja. kayak ketemu teman lama gitu kan”

“Aku bawaannya kesal aja tau kalo ngeliat aku dulu, culun banget”

Tiga di antara mereka terperangah karena ucapan Ein dewasa. Kedua Axel melirik ke arah Ein muda yang terlihat tidak marah, malah menundukkan wajah.

“Ish, kamu ini” Axel menegur istrinya agar bicara hati hati. Ein cuma mendengus mendengar teguran dari suaminya. Axel menggelengkan kepalanya dan beralih ke arah yang lebih muda.

“Kalo gitu enak kita cerita aja, ada masalah apa kalian baru baru ini mungkin, kami mungkin bisa ngasih saran sebagai orang yang pernah ngalamin, tapi tetap aja gak bisa ngasih tau kejadian secara menyeluruh, karena itu emang bakal jalan juga di kalian nanti, gimana kalo Axel aja dulu yang mulai?”

“Papa mama baru pergi Minggu lalu” Axel lebih muda mulai bercerita.

“coba aku tebak kamu sekarang lagi kebingungan buat milih masuk jurusan apa” Axel hanya mengangguk.

“Berat sih emang dulu pas aku juga ngambil keputusan. Tapi Axel pilih aja hal yang menurut kamu terbaik, tanya hati kecil kamu. Apa peluang dan resiko seandainya kamu milih itu. Hati hati, pilihan kamu juga bakal berpengaruh karena gara gara itu kamu bisa ketemu sama Ein, santai aja. Berpikir lebih jernih bakal buat kamu lebih paham tentang keadaan di sekitar kamu”

“Kalo Ein yang manis ini ada ap- iya iya aku becanda doang, hehehe” Axel berhenti menggoda Ein muda karena istrinya menatap tajam dirinya.

“Gak ada masalah kalo aku, cuma lagi capek aja karena ada tugas yang gak aku ngerti dan sampe 1 jam an pun belum ketemu juga jawabannya, gak ada juga orang yang bisa diajak cerita. Jadi rasanya sepi banget di rumah” Ein yang lebih muda menunduk, memainkan jarinya dibawah sana.

Axel dewasa memberikan kode istrinya untuk berbicara kepada versi yang lebih muda. Ein dewasa mengangguk.

“Kesiniin” Ein muda sedikit kebingungan, sampai Ein dewasa meraih tangan kanannya untuk digenggam di atas meja.

“Makin dewasa kita, tugas dan tanggung jawab kita makin banyak. Ein, kamu cuma perlu buka diri kamu ke sekitar. Aku pernah juga ngerasa ada di tempat yang sama. Tertutup dan seperti dikucilkan. Coba berbaur setidaknya 1-3 teman di sekitar kamu. Jangan pernah biasain diri kamu sendiri, kamu cuma akan tertekan saat ada masalah karena memilih untuk memendam masalah itu sendiri. Orang di sekitar kamu banyak yang peduli, pilihan kamu gimana cara kamu juga menerima mereka, gak semuanya memang bakal Deket sama kita, tapi seenggaknya kita bisa kenal baik sama mereka. Anak IPA pun kita, kita tetap makhluk sosial” Ein dewasa memberikan senyum tulusnya kepada Ein lebih muda. Dan tetap menggenggam tangan nya seolah memberikan semangat.

Axel ikut tersenyum, ia ikut berpikir kenapa ia tak bertemu dengan Ein lebih awal agar mereka bisa saling menyemangati dulu, mereka bertemu disaat suasana sudah mulai lebih baik.

“Semangat buat kalian berdua, Eh Axel kamu sama Ein bakal saling menyayangi nanti, falling in love sih kata aku. Tapi kalo seumuran kalian ini, masih muda banget buat bilang cinta, jadi ya gitu” Axel dan Ein dewasa terkekeh pelan.

“Kami bakal jadi pasangan nantinya?”

“Lihat kami dong, kami kan versi kalian di masa depan, kalian bakal punya anak yang lucu namanya Dave nanti”

“Ini bukan cuma mimpi atau dunia lain ya?”

Axel dan Ein dewasa saling melirik.

“Dunia lain itu gak ada, cuma ada satu dunia yang ada. Jarang orang bisa ngeliat masa depannya, kalian beruntung. Sekarang waktunya kalian berjuang dulu sendiri sendiri, nanti kalian akan ketemu seenggaknya disaat kalian sudah mantap dengan pilihan kalian masing masing.”

“Kami bakal ketemu dimana?” Axel dan Ein dewasa saling melirik kembali dan terkekeh pelan.

“Untuk sekarang itu rahasia, pasti nanti kalian bakal ketemu, satu yang kamu ingat Axel, Ein ulang tahun di tanggal 7 Februari. Kamu pernah bilang makasih karena Ein sudah dilahirkan, karena dia akan melengkapi kehidupan kamu nantinya. Kamu Axel milih tinggal di Padang gara gara ini kota favorit Ein loh, hehehe. Pokoknya semangat buat kalian. Semoga obrolan kita ini bisa jadiin kalian motivasi. Kita gak bakal ada sama kalian. Ini bukan mimpi, tapi ini harapan masa depan. Percaya aja ada kalanya kita akan bahagia setelah apa yang kita perjuangin”

Axel dan Ein dewasa saling melirik dan tersenyum tulus.

Axel dan Ein lebih muda juga saling melirik, tapi dengan tatapan ragu.

Mereka? Dimasa depan? Mereka gak percaya? Atau cuma salah satunya?

💞

TBC

(2/5) Talk

“2030 ternyata”

“Dan sekarang kita di Padang”

Ein dan Axel saling menoleh satu sama lain melihat sebuah spanduk di dekat perumahan milik pasangan Ein dan Axel yang lain.

Setelah kejadian terkejut tadi, akhirnya mereka berkenalan. Gak ada reaksi pasti dari mereka. Berpikir mungkin mereka hanya diajak untuk melihat keadaan mereka di dunia ini. Mereka memilih keluar dari rumah itu dan berkeliling di sekitar komplek.

“Hebat sih, bahkan orang orang juga gak bisa liat kita. Jangan jangan di dunia sihir lagi kita.” Ein berbicara sendiri dengan Axel yang memperhatikan bingung.

“Kayak magic gitu gak sih, jangan jangan bisa lagi” Ein terus berbicara dengan semangat ke arah Axel. Axel tetap diam.

“Coba ya.. ” Axel menatapnya bingung.

“Sims-” Ein terdiam setelah melihat ke arah Axel yang seperti menatap nya aneh. Ein jadi canggung sendiri. “Sims, ehmm Sim B maksudnya, hehehehe. Ada kan ya Sim B?”

“Yang paling sering dengar A sama C”

“Iya ya, ada AB sama O juga gak?”

“Itu golongan darah bukan?”

“Oh iya” Ein memalingkan wajahnya sambil tertawa canggung menggosok bagian belakang lehernya. Axel tetap dengan wajah datarnya. Buru buru Ein cari pengalihan topik baru.

“Kita ini di dunia lain gitu gak sih?”

“Parallel Universe maksudnya?”

“Parallel Universe? Apa tuh?”

“Ya dunia lain”

“Bahasa Inggrisnya?” Axel hanya mengangguk, “aku malah pikir bahasa Inggrisnya Other World”

Axel jadi tersenyum canggung dan ikut terkekeh bersama Ein.

“Maaf ya” Axel menoleh lagi ke arah Ein dengan tatapan bingung.

“Buat apa?”

“Aku agak aneh banget kelihatannya. Bingung soalnya mau bahas apa. Aku orangnya gini soalnya. Ngomong mulu”

“Santai aja. Aku juga minta maaf, reaksi yang bisa aku kasih cuma gitu aja. Dan makasih udah cari topik, aku juga agak bingung soalnya mau bahas apa. Mungkin kalo sama sama diam berasa jadi canggung banget”

Mereka tak merespon lagi, hanya mengangguk dan menghadap ke depan. Mereka mulai berjalan lagi melihat melihat area komplek yang bisa dibilang besar.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai ke luar komplek. Diluar komplek ramai, banyak yang menjual sarapan pagi dan ada juga yang menjual makanan ringan.

“Mau duduk?” Tawar Axel

Ein mengangguk menyetujui. Mereka memilih duduk di tempat jual bubur ayam. Kebetulan di paling sudut tidak ada yang menempati. Mereka juga tidak bisa dilihat oleh orang, jadi bisa nyaman ngobrol disana tanpa merasa terganggu.

Mereka duduk berhadap hadapan. Ein melirik ke arah penjual makanan di sana. “Enak enak sih kayaknya, sayang banget gak ada uang, gak bisa dilihat orang sih paling parahnya. Berarti kita gak bakal makan selama disini”

Axel tersenyum tipis melihat Ein sibuk menggerutu. Setelah merasa kecewa tidak bisa membeli, Ein melirik ke arah Axel. Melihat Axel sampai Axel merasa canggung sendiri karena ditatap seperti itu.

“Kamu kayak orang ada masalah deh Axel, ada apa?”

Axel menunduk sambil tersenyum tipis, “santai aja kalo mau cerita, disini juga bingung mau ngapain. Ntah sampai kapan disini, disini kita cuma bisa ngeliat satu sama lain, belum tentu juga kita ketemu nanti pas udah keluar dari dunia mimpi ini.”

“Gak ada masalah apa apa, mungkin lebih tepatnya lagi bingung aja buat keputusan”

Ein memperbaiki posisi duduknya untuk lebih tegak. Ein tak percaya Axel langsung bercerita.

“Kedua orang tua aku baru aja pergi, seminggu yang lalu sih. Sebelum aku bisa di sini, om aku bilang, aku bakal dapat bagian paling banyak dalam warisan, termasuk ngewarisin kantor papa juga, yang sebelumnya aku gak berminat di sana-”

“Wah, kaya dong” Axel menatap kaget ke arah Ein. Ein yang ditatap seperti itu jadi terdiam. “Maaf, aku gak bermaksud gitu, kalo kamu agak kurang nyaman buat cerita, jangan cerita ya.”

Axel tersenyum tipis, “menurut kamu jadi orang kaya itu enak ya?”

“Entahlah, tapi siapa sih yang bakal nolak kalo punya uang banyak? Mungkin kesannya aku kayak matre sih, tapi lebih ke gimana ya. Aku gak susah juga tapi kadang harus bisa pinter pinter buat nabung, jadi kalo pengen sesuatu kadang harus dilihat dulu bener bener penting gak buat aku. Kalo ada uang lebih, syukur syukur.”

“Kalo ngeliat dari sisi enaknya gitu, jadi orang kaya enak pasti. Gak perlu nahan nahan, kalo mau sesuatu tinggal beli. Aku juga sering kok baca cerita, malah orang kaya kadang ada aja masalahnya. Mulai dari fake Family, maksudnya kayak di depan orang lain kayak akur, tapi dibelakang gak akur. Atau ada juga orang deketin kita cuma gara gara uang.”

“Kalo Axel akur gak sama keluarganya?”

“Kami punya hubungan baik sejak dulu”

“you're really a lucky person”

Axel terpana sesaat, saat Ein melihatnya sebagai orang yang beruntung. Bahkan Axel sendiri tidak pernah memikirkan dirinya akan beruntung.

“Kayaknya gak pernah ada deh yang bilang gitu ke aku”

“Kan cara pandang orang beda beda”

“Emang kamu pandang nya gimana?” Axel bertanya sambil tersenyum heran karena Ein terlihat menggodanya.

“Dengan ehmmmm cinta mungkin?” Axel langsung menetralkan ekspresinya. Jujur ia kaget dengan ucapan Ein. Ein malah sibuk tertawa. Axel menyimpulkan Ein memang sedang bercanda.

“Aku gak bakal masukin itu ke hati ya”

“Iya iya Axel, becanda aku. Kok kaku banget sih?” Ein senang menjahili Axel, karena raut wajah Axel yang jadi datar kembali saat dijahili. “Eh, by the way kita seumuran?”

“Aku udah mau kuliah tahun ini”

“Kalo aku masih kelas 3 tahun ini. Berarti lebih tua setahun ya, mau dipanggil kakak?” Ein bertanya sambil menaik turunkan alisnya.

“Gak usah, panggil nama aja” Ein kembali terkekeh melihat Axel.

“Oh iya emang rencananya kuliah jurusan apa?” Ein memang sehebat itu, cepat sekali berganti topik setelah berhasil menjahili Axel.

“Kedokteran”

“Wah, hebat hebat. Kalo seandainya lanjutin kantor, pasti gak bakal jauh di manajemen bisnis deh. Dua duanya bagus kok.” Mereka kembali ke topik yang serius lagi. “Apapun pilihan kamu, didukung penuh, semoga pilihan Axel nanti bakal dapat yang terbaik.”

Ein mengangkat tangannya berdoa sambil tersenyum tulus ke Axel. Axel tak bisa tak membalas senyuman itu. Sudah seperti teman yang sudah lama kenal belum?

💞

Mereka kembali ke rumah Ein dan Axel versi dewasa. Sambil memilih duduk di bangku yang sudah disediakan pemilik rumah untuk bersantai di luar rumah. Mereka berdua punya dunia nya masing masing sambil melihat langit berdampingan.

“Huuu” Axel menoleh mendengar helaan nafas dari Ein yang ada di sampingnya.

“Kamu ngajak aku cerita-” Ein menoleh langsung ke Axel di sampingnya. “kamu sendiri gak ada cerita tentang masalah kamu”

Ein melirik ke arah kanan dan kiri mengecek halaman rumah. Axel melihatnya bingung karena ikut penasaran Ein melihat apa. Ein mendekat ke Axel di sampingnya dan berbisik pelan,

“Sebenarnya aku ngode dari tadi biar kamu nanyain” Ein mulai menjauh, dan Axel terperangah. Mereka akhirnya tertawa bersama.

“Pake ngode segala” Ein tertawa kencang sedangkan Axel malah mendengus karena tingkah Ein. Axel masih diam sampai tawa Ein mulai mereda.

“Gak ada masalah yang serius banget sih sebenarnya” Axel menoleh ke arah Ein saat sudah mulai bicara serius. Ein juga ikut menoleh ke arahnya.

“Biasalah tingkat akhir lagi masa capek capeknya. Cuma butuh temen ngobrol aja karena butuh rehat aja dari tugas. Seneng sih, ntah mimpi ada disini atau gak, seneng aja bisa dapet temen ngobrol disini”

“Keluarga kamu?”

“Aku bukan tipe yang broken home juga sih, mereka emang lagi sibuk di luar aja, aku juga udah diajak mereka sebenernya, tapi ya terlalu mentingin banget mau ngerjain tugas, jadinya ditinggal. Pas mumet, gak ada siapa siapa. Ya gitu deh”

“Gak punya pacar emang?”

“Hah?”

“Iya buat diajak telpon gitu?, Chatan mungkin?

“Ya kali, kayak aku gini ada pacar” Ein terkekeh pelan mendengar pertanyaan Axel.

“Kayak kamu gini tuh gimana?”

“Ya biasa aja. Gak cantik. Kata orang gak standar cantik perempuan sekarang lah.”

Axel terkekeh mendengar jawaban Ein.

“Kamu tu gak jelek loh”

“YAAA, Aku tersinggung loh kalo kamu ngomong gitu”

Mereka tertawa bersama, entah apa yang mereka tertawa kan. Tapi itu seperti lucu. Saling menjahili dan membalas satu sama lain.

“Ada saatnya nanti. Walaupun gak ngikutin standar cantik perempuan sekarang, kamu manis”

“Heeei, aku anggap itu pujian loh ya”

“YAA-”

“Kenapa?” Berencana marah sebelumnya, Axel mengurungkan niat setelahnya. Ntahlah Axel pun bingung pada dirinya sendiri. Ein kembali tertawa entah karena apa. Sepertinya Ein memang senang sekali tertawa.

Axel pikir ucapannya tadi sudah sangat tulus, Axel sempat urung mengatakan nya karena takut Ein akan geer atau salting, tapi ini malah berpikir ia seperti menjahilinya.

Apa semua orang di dekatnya tidak pernah memuji Ein, sampai ia sendiri minder dengan dirinya sendiri. Entahlah, terserah gimana cara dia nanggapin.

“Loh?”

Ein dan Axel menoleh bersamaan ke arah suara. Dan mereka terperangah karena Ein dan Axel versi dewasa ada disana dan melihat ke arah mereka dengan tatapan tidak percaya. Bukannya mereka tidak bisa dilihat di dunia itu?

💞

“Kamu sih Ein, udah aku bilang juga bilang aja ke kak Xera kita lagi di luar kota”

“Gak boleh bohong gitu Axel, kak Xera juga jarang datang kesini, kebetulan lagi kosong kan kerjaannya. Kangen juga keponakan nya. “

Axel dan Ein versi dewasa berjalan ke arah luar, sambil berdebat karena Xera menempeli Dave terus menerus sejak kemarin ia tiba.

“kak Xera kalo manjain Dave masalahnya gak main main. Dibeliin semua barang barang yang dipegang sama Dave”

“Gak selebay itu juga sih Axel”

Ein menggerutu karena Axel yang terlalu melebih lebihkan sikap kakak nya ke anak mereka.

“Awas aja sih dia kalo belum pulang juga sampe besok.”

“Emang mau diapain?”

“Ya gak ada sih, cuma diawasin aja.”

“Belum lagi bunda, papi, kak Ale-”

“Gawat sih kalo mereka dateng, kalo sampe aku tau mereka mau dateng, aku langsung bawa kamu sama Dave ngungsi.”

Axel bingung karena Ein mendadak diam. Apa ia salah ngomong, sepertinya itu topik biasa yang mereka bahas

“Kenapa Ein?”

“Lihat deh” Ein mengarahkan Axel melihat ke arah halaman rumah mereka.

“Itu siapa?”

Mereka mencoba jalan lebih dekat lagi ke arah halaman mendekati 2 orang yang duduk di halaman rumah mereka.

“Kayaknya aku kenal deh Ein”

“Loh?” Ein kaget saat melihat siapa orang yang duduk disana. Makin kaget saat 2 orang itu ikut menoleh ke arah mereka berdua.

💞

TBC

(1/5) First Meet

Jika masalah terus datang, dan kebahagiaan tak lagi di rasakan, apa yang harus dilakukan?

“Ini serius, papi?”

“Kamu pikir papi bercanda?”

“Aku juga baru mulai masuk kuliah pi, aku kayaknya belum mampu bisa ngambil itu”

“Papi milih kamu karena papi ngerasa kamu mampu, makanya dibanding 2 kakak kamu, papi lebih milih kamu”

“Bukannya ini gak adil buat kak Alexa dan kak Xera?”

“Papi sudah ngobrol sama mereka dan mereka setuju kalo kamu yang ambil”

Axel menghela nafas dan memalingkan wajah. Ia merasa kesal tapi tak tau pada siapa. Tak tau apa lagi yang mau dikatakannya, Axel segera memilih pergi tanpa memperhatikan papi nya dan pergi ke kamarnya sendiri.

Axel menghempaskan tubuhnya ke ranjang, menutup kedua matanya dengan sebelah tangannya. Ntah sudah berapa kali Axel menghela nafas hari ini.

Seminggu ini sudah sangat panjang untuk Axel. Axel tak bisa bohong pada dirinya sendiri kalo ia sedih dan rasanya ingin menangis kencang agar seluruh beban di dada nya terangkat. Kedua orang tua nya meninggal dalam kecelakaan mobil beruntun seminggu yang lalu. Kaget, jelas. Mereka merasa kehilangan kedua orang tua mereka dalam waktu sekaligus. Bunda (adik mama Axel) dan Papi (kakak mama Axel) datang ke rumah mereka setelah mendengar berita itu.

Axel ingin menangis kencang saat itu, saat kedua orang tua yang ia sayangi pergi untuk selamanya, tapi kedua kakak dan kedua adiknya juga menangis. Jika mereka semua menangis, siapa yang akan menguatkan mereka. Papi dan bunda nya pun sibuk meladeni orang yang datang melayat.

Axel tak bisa menangis hari itu, seolah air mata nya menolak untuk keluar. Ia sibuk membantu papi dan bunda nya mengurus segala sesuatu yang berkaitan, termasuk saat polisi datang ke tempat mereka, bahkan surat wasiat juga.

Axel mengaku kaget saat tau kantor papa diwarisi ke dia, dan seluruh uang yang dimiliki papa nya dibagi rata menjadi 5. Jika Axel mendapat hak waris sebagai pemimpin di kantor papa nya, ia harus masuk ke kuliah bisnis dan perlahan mempelajari nya. Sedangkan Axel sudah sempat berniat ingin masuk ke fakultas kedokteran. Ia hanya takut tak mampu.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Axel hanya ingin tidur sekarang dan berharap di esok hari ia lebih bisa berpikir jernih untuk memutuskan sesuatu.

💞

“Udah pagi ya, cepet banget rasanya”

Axel meregangkan tubuhnya dan mulai membuka mata sepenuhnya. Ia kini sadar ia tak berada di kamar nya. Posisi nya sekarang berbaring di sofa di tengah ruangan yang mendominasi putih dan banyak foto di dinding nya. Ruangan ini lebih terasa seperti studio foto.

Ini mimpi. Axel menghela nafas berpikir ia sangat kelelahan sampai sampai ia ditarik ke alam bawah sadar nya.

Axel mulai duduk dan melirik semua foto di sana. Semua fotonya terlihat aneh, ia seperti mengenal laki laki yang ada di setiap foto. Itu seperti dirinya, tapi versi dewasa dari dia sekarang.

Ada 1 perempuan yang tak ia kenal dan ada 1 bayi laki laki di tengah mereka. Ini seperti keluarga kecil. Tapi, ia berada di rumah siapa sekarang, dan ngapain dia ada disini?

Ada juga foto wisuda ia versi dewasa dan wisuda perempuan itu. Ia melihat jelas disana ia lulusan sarjana manajemen bisnis. Axel terkekeh pelan

“Apa ini seperti petunjuk?”

Dan ada foto ia menghadiri wisuda perempuan, dan perempuan juga menghadiri wisuda nya. Siapa perempuan itu? Axel melihat ada pintu di sana, dibanding penasaran, ia memilih keluar dari pintu itu.

Diluar pintu itu dibilang terlihat lebih sederhana, tapi elegan. Nuansa rumah nya bagus dan sepertinya ia akan nyaman tinggal disini. Ini memang terasa seperti vibes rumah miliknya.

Ia terus berjalan lurus sampai ia melihat perempuan yang ia lihat di foto sedang membereskan sarapan di meja makan.

Cantik, tapi mungkin lebih ke manis. Senyum nya-

Perempuan itu terus menggumamkan sebuah lagu, mungkin agar tak bosan di tempat yang masih kosong itu. Sampai,

“O, sarapan kita ternyata sudah siap nih”

Versi dia dewasa ada disana. Tersenyum bahagia menghampiri perempuan itu. Perempuan itu ikut menoleh ke arah suaminya? Mungkin?

“Kamu belum siap juga Axel? Masa iya libur lagi?”

Axel? Nama laki laki itu juga sama seperti nama nya. Kenapa bisa kebetulan?

“Aduh Ein, aku baru libur 1 hari, perut aku masih gak enak nih. Hari ini tuh tanggung udah. Kata orang harpitnas, besok udah weekend, dan aku juga udah terlanjur libur”

“Bukan harpitnas, tapi meliburkan diri namanya”

“Kan aku bos nya”

“Lama lama kamu yang aku pecat”

Mereka tertawa bersama setelahnya.

💞

Di sisi lain,

“Ini kenapa ngebingungin gini sih tugasnya”

Sangking kesalnya, Ein mencoret coret kertas yang ada di depannya. Dan segera membalikkan tubuhnya hingga terbaring di tumpukan tugasnya. Ein sudah masuk kelas 3 sekarang, tapi tugasnya berasa kayak skripsi. Kalo gini aja sudah mengeluh, lama lama bisa stres saat skripsi beneran.

Capek. Apa gak bisa tugas dikasih istirahat?

Ein, bukan cuma kamu yang dapat tugas, tapi seluruh teman satu sekolah kamu dapat. Kalo seandainya aja, mereka bisa ngerjain, kamu juga harus bisa ngerjain.

“Sabar sabar, pelan pelan aja pasti bakal ketemu jawabannya, maknai satu satu soalnya dan pasti bakal ketemu, oke”

Ein meraih pena nya kembali dan berencana mengerjakan tugas nya lagi. Mengatur nafas nya pelan pelan sambil membaca petunjuk soal, agar bisa menemukan jawabannya.

15 menit kemudian,

“Ini udah hampir setengah jam, udah baca petunjuk soal tetap aja gak ngerti. Kalo gini bisa stres lama lama. Kalo gitu istirahat dulu.”

Ein butuh obrolan pengalih perhatian. Ia segera berdiri dan keluar dari kamarnya.

“Oh iya ya”

Ein terlihat kecewa saat keluar. Suasana rumahnya sangat sepi. Ia lupa tak ada orang di rumah sekarang, hanya ia sendiri. Semuanya ada keperluan di luar. Ia menghela nafas sambil berusaha tersenyum maklum. Mungkin saat kuliah nanti, ia lebih milih buat nge kost, agar setidak nya punya teman untuk diajak bicara.

Setelahnya, ia kembali ke kamar dengan senyuman hambar, kembali meraih pena nya dan berusaha menyelesaikan tugasnya. Tapi, tatapannya kosong, ia benar benar butuh pengalih perhatian sekarang.

Ia meraih hp nya, dan berusaha mencari hiburan, tapi tak ada satupun yang menarik di matanya. Ia meletakkan hp jauh dari nya, lebih memilih untuk istirahat saja sambil menutup mata nya. Mungkin tidur sebentar nggak masalah.

💞

Telinga Ein berdenging tanpa sebab. Seperti ada suara gema di telinganya. Seingatnya, ia tak memakai headset sebelum tidur tadi.

Saat membuka matanya, yang Ein lihat bukan kamarnya, tapi sebuah taman? yang luas, dan ada kolam renangnya. Sejak kapan di rumahnya ada kolam renang?

Ia tidak dalam posisi berbaring di tumpukan kertasnya, malah berdiri menyaksikan nyamannya suasana di tempatnya sekarang.

Ini mimpi. Bahagia sekali. Jika di mimpi ia bisa mendapat kebahagiaan, ia akan senang berada di mimpi terus.

Kapan lagi bisa menikmati pemandangan air di kolam renang yang sangat tenang.

Tiba tiba suara dari dalam memecah konsentrasi nya. Ada suara seperti sendok jatuh. Berarti ada orang di dalam. Jelas sih ada orang, ini kan bukan rumahnya.

Tapi kan ini mimpi. Dibanding penasaran, Ein lebih memilih menggeser pintu untuk masuk ke dalam rumah. Ia berjalan masuk dengan ragu ragu sampai ia melihat perempuan sedang sibuk membereskan meja makan.

Tapi, yang aneh, perempuan itu terlihat seperti dia. Apa cuma kebetulan mirip. Versi dewasa nya sibuk mondar mandir dari arah dapur ke meja makan untuk menata sarapan, sepertinya. Kelihatan anggun, itu bukan dirinya sekali. Iya berarti cuma mirip.

Perempuan itu mulai menggumamkan lagu. Seperti dia memang, ia sangat menyukai seperti itu juga saat suasana kosong, agar tidak terasa terlalu sendirian.

Ia salah fokus melihat laki laki yang keluar dari sebuah ruangan, kamar mungkin? berjalan ke arah perempuan itu sambil tersenyum lebar.

“O, sarapan kita ternyata sudah siap nih”

Perempuan itu menoleh ke arah laki laki itu.

“Kamu belum siap juga Axel? Masa iya libur lagi?”

Nama laki laki itu Axel ternyata.

“Aduh Ein, aku baru libur 1 hari, perut aku masih gak enak nih. Hari ini tuh tanggung udah. Kata orang harpitnas, besok udah weekend, dan aku juga udah terlanjur libur”

Ein? Namanya disebut disana, tapi Axel itu malah menoleh ke arah perempuan itu. Namanya juga Ein. Kok bisa?

Apa ia masuk ke dunia lain? Terlalu banyak membaca cerita fiksi buat Ein suka berpikir tidak tidak. Apa mungkin ini masa depan?

“Bukan harpitnas, tapi meliburkan diri namanya”

“Kan aku bos nya”

“Lama lama kamu yang aku pecat”

Mereka tertawa bersama setelahnya.

Gak mungkin masa depan, kehidupan sebahagia ini, apa mungkin bisa ia dapatin. Iya ini kayaknya imajinasi mimpi karena Ein terlalu berharap dapat kebahagiaan. Atau mungkin kehidupan ia di dunia lain seperti ini? Bahagia sekali. Beruntung Ein di dunia ini.

“Eits, mana ada sih dunia lain di kehidupan nyata. Ya cuma khayalan. Khayalan Ein”

Pintu depan terbuka dan anak kecil mungkin kisaran umur 3 tahun berlari ke arah pasangan itu.

“Ayah Bunda”

Axel itu langsung meraih anak itu.

“Sudah punya anak juga lagi, mungkin umur mereka berdua udah 20 an kali ya, udah mau kepala 3 mungkin”

“Anak aybun udah pulang nih, dari mana tadi?”

Ada perempuan juga menyusul dibelakang anak kecil itu, Ein sama sekali tak kenal.

“Sama Aunty Xera tadi, diajak keliling sama jajan”

“Udah kenyang dong berarti, gak bisa makan sarapan bunda dong?”

“Kalo sarapan bunda masih bisa diterima, perutnya Dave masih ada yang kosong buat sarapan bunda”

Mereka semua tertawa melihat kelucuan anak itu. Namanya Dave. Lucu banget.

Axel memberikan Dave ke Ein, lalu berbicara ke Xera?

“Diajak Mulu keponakannya jajan”

“Yaudah sih, pake uang kakak juga, gak minta uang kamu tuh”

“Nikah makanya sana!”

“Kamu ini Axel, kakaknya digodain Mulu, ayo kak sarapan bareng”

Mereka berempat berkumpul di satu meja makan sambil berceloteh ria menanggapi Dave yang sangat aktif berbicara.

Ein menghela nafas. Jika kehidupan seindah itu, ia mau berada didalamnya seenggaknya untuk 1 hari. Itu aja udah cukup.

Saat pikirannya sudah lebih leluasa, Ein sadar ada orang yang memperhatikan nya dari arah samping kiri. Ia awalnya ragu, tapi perlahan menoleh kan kepalanya ke arah kiri.

Ein membulatkan matanya kaget. Itu seperti Axel dalam versi masih muda. Yang juga melihatnya dengan tatapan terkejut.

💞

TBC

Hanya ingin beristirahat setelah baru tidur jam 4, kini suara Handphone sudah mengganggu di pagi buta kayak gini. Siapa yang menelpon sepagi ini? Kalau bukan Rein-manajer Ein, Alan atau Dave-Adik Ein, mungkin...

“Halo?”

“Bangun...”

Merengek, “Sepagi ini?”

“Buka tirai kamar kamu, sekarang sudah tengah hari”

Mengecek jam, ternyata sudah lewat dari jam 12

“Oke, ini mau bangun kok”

“Harus sudah!”

“Iya iyaa...”

“Diman-”

Panggilan terputus secara sepihak. Sudah biasa memang, tidak basa basi dan to the point.

Menggerakkan badan, rasanya sangat lelah sekali, mengurus syuting kerjaan yang tiba tiba dipercepat dan sebulanan ini juga sibuk dengan persiapan pernikahan. Mengecek hp dan melihat sudah 25 missed call dari Axel dari Jam 9 tadi.

Hari ini kalau tidak salah, Axel dan saudaranya ada interview jam setengah 1. Mungkin itu kenapa harus buru buru membangunkan aku untuk memastikan aku menonton interview hari ini.

Sekitar 12 menit lagi akan dimulai dan aku masih mencuri kesempatan untuk memejamkan mata sedikit. Jika tidak karena suara dentingan pesan, mungkin aku sudah kembali tidur nyenyak.

From: Axel ❤️ Kamu pasti bakal tidur lagi, lebih baik berdiri dan segera BANGUN!!!

To: Axel ❤️ Iya iya, hari ini emang ada interview apa sih?

From: Axel ❤️ Aku mau on air sekarang!!!

To: Axel ❤️ Iya emang tentang apa, biar aku semangat dikit gitu loh mau nonton

To: Axel ❤️ Axel?

To: Axel ❤️ Hei?

To: Axel ❤️ Gak mau dibaca gitu pesannya?

To: Axel ❤️ Jawab topik nya aja sih!!

To: Axel ❤️ Kamu yaaa...

To: Axel ❤️ AKU GAK BAKAL NONTON

To: Axel ❤️ yaudahlahhh

To: Axel ❤️ Semangat aja kalo gitu...

Mungkin benar mereka memang bakal live. mandi dulu kali ya, seenggaknya kan tetap nonton juga. Bisa kali sejam-an lebih live nya. Nanti kalo ditanya apa aja yang dibicarain, jawab aja yang ditonton.

Hehehehe...


“Abis ini Alexa sama Alex lagi ya yang dapat job”

Suara MC memenuhi ruanhan tengah. Sepertinya sudah kelewatan beberapa segmen ngebahas kerjaan mereka berlima baru baru ini.

“Kalo Axel kan udah beda, bentar lagi mau nikah ya Axel?”

“Doain aja tahun ini”

Jawaban Axel membuat aku terkekeh pelan. Jadi ini yang Axel mau aku tonton. Kita lihat apa yang bakal dia bahas di depan kamera tentang hubungan kami.

“Gimana sih ceritanya, emang pacaran dulu atau mikir langsung nikah langsung cocok gitu?”

“Temenan dulu, pacaran abis itu ya mau serius juga jadi ngajakin dia nikah langsung”

“Pacarannya berapa lama?”

“Kami sempat putus nyambung sih, jadi susah aja ngitung berapa lamanya”

“Proses kenalnya gimana? Emang benar dari Alexa?”

“Antara iya atau gak sih, udah kenal duluan pas smp”

“Oalahhh, lama juga dong ya”

“Gak pernah sekelas sih, tapi kami seorganisasi. Baru kenal nya banget tu bisa dibilang kelas 3, karena kebetulan kami dapat 1 tim gitu di organisasi buat lomba. Emang susah soalnya anaknya social butterfly gitu, beda sama aku yang lebih gak suka sosialisasi sejak dulu. Deket juga karena 1 tim. Abis itu ya nyaman, ngerasa nyambung juga atleast pacaran dikelas 2 sma. Kebetulan 1 sekolah lagi, tapi emang gak pernah dapat 1 kelas. Putus pas mau kuliah, ketemu lagi sama kak Alexa abis itu dikenalin ke kami, jadi temenan lagi, pacaran lagi, yaudah sekarang mau nikah”

Satu studio terlihat tertawa bahkan MC, Alexa, Xera, Xila, Alex juga ikut tertawa.

“Emang ada yang lucu?”

“Kayak ragu gitu deh dari ucapan Axel, kayak mau buat skrip pertemuan aja.. hahahaha”

“Sebenarnya ceritanya bisa lebih lengkap lagi, tapi ya kayaknya disingkat aja sama kak Axel” Alex terlihat ikut menimpali.

“Kalo pandangan Alexa gimana, dulu waktu ngenalin Ein ke adik adik?”

“Ya yang biasa aja sih, awalnya gak langsung klop kayak sekarang. Dulu dulu juga masih adaptasi gitu sama Ein kan. Tapi dia kan emang anaknya mudah bergaul gitu, jadi sekali ngobrol langsung nyambung. Masih biasa aja sih dulu. Tapi agak kaget karena diantara kami berlima, cuma aku, Alex, sama Xila yang lumayan mudah lah buat berteman selagi nyambung. Kalo Xera sama Axel kan emang dari dulu agak kaku juga sama lebih ke cuek. Yang kagetnya pertama kali dikenalin, Axel malah langsung luwes gitu ngobrol sama Ein. Kayak mikir, wah ada angin apa nih. Soalnya kami kan gak tau menau dulu soal mantan Axel waktu SMA, cuma tau aja kalo dia pacaran, gak tau yang mana orangnya. Abis tu pas nanya ke dia, jawabnya udah kenal lama. Tapi yang pas sama Ein, Ein jawabnya pernah pacaran juga dulu. Kami kayak Oalah. Mikir cocok sih. Sampe akhirnya 2 bulanan juga mereka bilang mereka pacaran, ya kami bilang, yaudah kami support kok. Cocok juga gitu kan. Semenjak itu sih baru kami yang makin Deket banget sama Ein.”

“Lama banget udah berarti ya? Jalan 4 tahun dong?”

“Tapi mereka putus nyambung gitu, jadinya bingung juga berapa lama... Hahaha”

“Cepet juga temenan lagi 2 bulan, langsung pacaran lagi aja yaaa”

“Itu aja dia sempet nanya ke aku, Ein emang lagi Deket sama orang ya, kata dia gitu, aku bilang gak ada keliatan sih, ya gak tau juga. Baru beberapa hari setelah itu mereka bilang ke kami udah pacaran.”

“Tapi emang rawan sih, putus baik baik tu sebenarnya punya peluang besar buat balikan apalagi alasan putusnya buat kepentingan berdua biar gak nyakitin diri satu sama lain”

Mereka kembali tertawa sambil kembali menggoda Axel yang tampak diam saja. Hanya memberikan senyuman maklum kepada 2 saudaranya yang memang senang menggodanya.

“Emang apa sih yang disukai dari Ein, Axel?”

Pertanyaan dari MC buat aku tersenyum lebar, kira kira apa jawaban akan yang diberikan Axel, sebagai cowok yang jarang-gak pernah deh kayaknya muji seseorang secara terang terangan.

“Males mujinya, nanti anaknya kegeeran, skip aja ke pertanyaan yang lain.”

Semuanya kembali tertawa termasuk aku. Tau jika memang akan seperti ini.

“Dasar, Tsuny Dare”

Dia Axel, banyak orang bilang aku gak bakal betah dengan sikap Axel yang terlampau cuek, tapi entah kenapa itu jadi daya tarik dia sendiri. Walaupun sempat berulang kali berpikir gak mampu ataupun capek dengan Axel, di satu sisi ada sikap Axel yang buat aku nyaman. Kayak sosok melindungi dan memberikan kehangatan. Walaupun dengan caranya sendiri yang memang sedikit unik.

But, I Love Him.

Mungkin aku bakal cerita ke kalian, gimana aku bisa kenal Axel, si laki laki yang selalu duduk dibarisan kedua saat perkumpulan organisasi. Cerita dari Axel versi singkat dari pertemuan kami. Walaupun sebenarnya memang singkat, tapi itu sangat bermakna.

-🧡

Axel dan Ein dikabarkan akan menikah, kapan pacarannya?

Axel dan Ein dikabarkan sudah pacaran sejak lama, backstreet?

Idolanya akan menikah, fans : Mereka gak backstreet, kita aja yang gak mikir

Sempat dikabarkan pacaran dengan Alex, Alex : Kak Ein udah kayak kakak sendiri

Axel dan Ein menikah, nama Alexa terbawa karena disebut Mak comblang, beneran?

Bukan hal baru lagi, Anive-Fans A dan Xio-Fans Axel tau tentang kedekatan keluarga Ein dan Keluarga Axel.

Ein dan Alexa-Kakak pertama Axel pernah terlibat project model yang sama diawal debutnya Ein di dunia entertain. Tak dipungkiri kedekatan mereka terbawa sampai ke keluarga mereka.

Alexa mengaku di suatu wawancara mengenalkan Ein keseluruh adiknya dan menjadi dekat setelah pertemuan pertama. Bahkan Alexa mengaku Ein juga mengenalkan ia dan adik adiknya ke keluarganya.

4 tahun berselang, sampai detik itu juga para penggemar mereka tau hubungan mereka semua hanya sekedar hubungan pertemanan yang sangat dekat

Sering terlihat berlibur bersama, jalan jalan hingga keluar negeri dilakukan bersama. Tak ayal para penggemar menyukai interaksi pertemanan mereka.

Ein sempat dikabarkan pacaran dengan Alex-adik bungsu Axel karena terlihat sering keluar bersama dan mempostingnya di akun Instagram masing masing, tapi dibantah langsung oleh Alex dan mengaku menganggap Ein adalah kakak nya

Pacaran sama Ein?

Enggaklah, kak Ein udah kayak kakak sendiri. Kadang juga jarang sih jalan yang berdua aja, mentok mentok bareng Xila-Adik Axel. Lebih sering bertiga kalo jalan, karena kak Ein juga tipenya seru gitu buat diajak hangout bareng

Karena pernyataan itu, akibatnya penggemar benar benar menganggap kedekatan mereka layaknya keluarga. Tanpa penasaran tentang hubungan lainnya

Tak ada penggemar yang sama sekali menyangka tentang hubungan Ein dan Axel, karena jarangnya interaksi yang terlihat. Dan jika adapun lebih terlihat seperti percakapan biasa.

Beredarnya kabar ini, ternyata banyak yang mendukung hubungan Axel dan Ein karena dianggap serasi, nama Alexa dibawa karena disebut Mak comblang.

Diketahui Ein dan Alexa kenal lebih dulu, banyak yang berasumsi Alexa mengenalkan Axel dan Ein secara pribadi.

Berita ini seperti dipertegas Ein saat ia melakukan siaran langsung di Instagram nya, di sela sela melakukan live, ia membahas Anive dan Xio yang akan menjadi keluarga

Anive dan Xio siap siap bekeluarga juga gak sih jatuhnya... Hehehehe

Tak dijelaskan artinya, karena Ein tiba tiba mengalihkan pembicaraan langsung ke topik yang lain. Tapi para penggemar menganggap itu sebuah kode Ein mengiyakan tentang kabar rencana pernikahannya dengan Axel

10 tahun itu gak singkat, tapi rasanya seperti singkat karena sudah dijalani

“Xera bisa bantu ibuk ya, buat ngajarin olimpiade adik kelas kamu yang kelas 1? Ibuk lagi gak bisa ngajarinnya karena harus ngerjain yang lain. Hampir sama dengan olimpiade kamu dulu, anggap aja kamu sekalian ngasih motivasi buat adik kelas kamu.”

Xera waktu di kelas 3 SMP, tidak bisa menolak, lalu dia mengangguk secara perlahan. Gurunya tersenyum untuk itu. Yang ia bingung kan sekarang, apa bisa ia mengajari adik kelasnya itu

Xera sudah tiba untuk mengajar materi olimpiade ke adik kelasnya itu. Dan ia sekarang duduk dengan kaku di meja guru. Dengan adik kelas yang dari tadi menunduk entah memperhatikan apa. Sejak masuk belum ada pembicaraan sama sekali

Sekali dilihat saja, ia langsung tau sifat adik kelasnya, polos, anak kutu buku mungkin? yang jika tidak diajak berbicara, tidak akan mengeluarkan suaranya, namanya saja tidak tau. Kalau tidak bersuara dari sekarang, ini akan berakhir sia sia. Sebenarnya salah besar, gurunya menyuruh Xera menjadi pembimbing untuk olimpiade ini.

“Nama?”

“Ein kak”

“Yaudah Ein buka materi yang pertama dulu ya, baca aja sambil pahami dulu”

Mengangguk dan sampai jam latihan olim berakhir, tak ada satupun dari mereka bersuara. Xera menghela nafas kesal. Ia tak suka berada ada di posisi ini

Sampai Xera mengadu ke gurunya, sepertinya ia tak cocok untuk menjadi pembimbing, karena sifat nya yang tak bisa berbasa basi sedikit. Tapi guru memberikan ia motivasi untuk mengajak bicara perlahan, walaupun tak berbasa basi, setidaknya bisa membahas pelajaran bersama.

Cara itu cukup ampuh, Xera berusaha bersikap profesional dan mengajarkan Ein materi materi olim. Walaupun tidak bisa dibilang akrab, mereka sudah nyambung dalam berbagai pembahasan tentang pelajaran.

Ein itu polosnya minta ampun. Ia ramah ke semua orang dan mudah sekali tersenyum. Berbanding jauh dengan Xera yang notabennya cuek. Xera ingat saat ia menang juara 2 olim dan ia memberikan Xera coklat sebagai tanda terima kasih.

“Makasih ya kak, udah bantu aku buat olim, aku juara 2 berkat kakak”

Xera hanya tersenyum tipis menanggapi nya

“Maaf ya kak aku gak sengaja jatuhin”

“Makasih ya kak udah bantuin ...”

“Makasih ya kak ... “

“Selamat ya kak udah lulus, semangat buat SMA-nya”

Xera tersenyum mengingat tingkah Ein yang benar benar lugu itu. Tapi ya itu dulu sebelum Xera mengizinkan nya untuk masuk ke ranah pribadi nya dan sekarang....

Tidur nyenyak Xera terusik karena sinar cahaya mengenai matanya. Suara pintu terbuka terdengar dan

“HEI BANGUN HEI... Udah jam 8 nih, kerja kerja...”

Xera menggeliat, menyesuaikan cahaya lampu yang tepat mengenai matanya. Ia ingat meminta Ein untuk membangun kannya jam 8. Ia lembur tadi malam dan kepalanya sangat pusing sekarang. Tapi dia harus bangun dan duduk melihat Ein masih mengurusi kertas kertas yang berantakan akibat lembur semalam.

“Tidur mulu lo, kita harus ke kantor buruan”

“Gue lembur semalam, emangnya lo, jam 9 udah molor di kamar kayak anak bocah”

“Eh itu bukan anak bocah namanya, tapi berusaha memanfaatkan waktu istirahat dengan baik. Gak tau besok besok malah aku dikasih lembur kan”

“Bodo amat”

“Cepetan mandi, soalnya gak masak nih. Harus makan diluar”

“Biarin aja, Kivo katanya bakal beliin sarapan nanti”

Ein melenggang pergi keluar. Xera berusaha meregangkan tubuhnya yang lelah. Meraih hp nya untuk mengabari Kivo kalo ia akan bersiap, dan akan menunggu

Wait

Sekarang jam 06.38

Xera menoleh ke arah pintu tempat Ein pergi tadi dan mengepalkan tangannya

“EINNNNNNNNNNNNN”


Suara bel pintu terdengar, Ein yang berada di ruang tamu segera membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Xera mengajaknya tinggal bersama saat ia menjadi mahasiswa baru sekitar 4 tahun lalu di apartemen dengan 2 kamar tidur. Cukup sederhana untuk ukuran Xera yang terbilang mampu.

“Eh, kak Kivo. Udah datang, masuk kak. Kak Xera nya lagi siap siap di kamar”

“Katanya sih Xera gak langsung ke kantor, jam 10 an aja cuma ngantar bahan presentasi aja nanti. Ini mau ngambil kopiannya dulu biar dikasih cepat ke manajer”

“Oke, masuk aja dulu kak”

Kak Kivo, pacar nya kak Xera. Udah 3 tahun. Dari akhir masa kuliah. Orangnya perhatian banget dan ramah, beda banget sama Xera yang cueknya minta ampun, gak sih pengecualian kalo ke pacarnya, dan

“Eh ada kak Axel juga”

Hampir saja menutupi pintu, Axel muncul sambil tersenyum manis ke Ein. Kivo sampai ikut menoleh ke luar karena mendengar suara Ein yang lebih ekspresif. Kivo memaklumi anak muda yang lagi pdkt ceritanya, atau belum?

Axel ini adiknya Xera, mirip banget sama Xera karena bentuk mata sama garis rahangnya itu. Senyumannya manis banget kalo kata Ein.

“Iya ini disuruh mama datang ke sini ngasih barang Xera yang dirumah, minta bawain soalnya”

Ein tersenyum malu dan mempersilahkan Axel masuk.

Kivo melihat nya geleng geleng kepala.


Mereka berempat berkumpul di meja makan memakan sarapan yang dibelikan oleh Kivo.

“Yaudah nih proposal nya, nanti bilang aja ke manajer aku nyusul nya ke kantor aja, gak ke kafe dulu. Aku berangkat paling jam 10 an lah”

“Oke oke, kalo gitu aku duluan ya, di kantor aja nanti ketemunya. Bye bye semua”

Kivo pergi duluan setelah menyelesaikan sarapannya, tinggal Ein, Xera dan Axel disini.

“Berarti kami berdua dong perginya Ra?”

“Ngapain berdua?”

“Ya Lo gak ada”

“Naik bis sana, kantor kita sama Axel kan beda arah, manja banget minta dianterin”

Axel hanya tersenyum kecil melihat interaksi kakak dan sahabat nya itu.

“YAUDAH SIH BAWEL. Kalo gitu aku duluan ya kak Axel, Babay...”

“Oke hati hati”

“Two face banget”

“Biarin, wlee”

Pintu tertutup dan menyisakan kakak beradik. Xera memperhatikan Axel yang masih melihat ke arah pintu.

“Barangnya kan udah diterima, ngapain masih disini?”

“Yaa-”

“CEPAT TURUN KE BAWAH, ANTERIN EIN SANA..”

Axel terkejut melihat kakak nya tiba tiba marah.

“Tadi nyuruh dia naik bis?”

“Mana ada sih bis jam segini?”

“Iya ini mau turun”

“AWAS AJA YA ANAKNYA LECET”

Axel terkekeh kecil sebelum keluar dari apartemen itu.


Kantor tampak lebih sibuk hari ini, karena akan ada project besar. Semua karyawan sibuk menyiapkan segala sesuatu, berusaha memastikan agar tak ada kesalahan. Bukan hanya hari ini saja sebenarnya, dalam beberapa Minggu ini tampaknya akan lebih sibuk.

Sekarang sudah masuk jam makan siang, dan Ein yang biasanya kelihatan merecokinya, sekarang sedang tak ada, entah kemana dia. Sudah dicari ke kubikelnya dan tak ada juga.

Biasanya anak itu emang sok sibuk dengan mengganggu karyawan lain. Tak mungkin ia sibuk karena Ein terbilang masih junior disini.

Beda dengan Xera, ia sudah terbilang masuk ke deretan senior yang disegani karena profesional dalam bekerja.

“Permisi”

“Ya kak?”

“Lihat Ein gak?”

“Ein lagi ada tugas dari manajer di lantai 7 buat ngurus penelitian gitu. Katanya Ein dipilih buat yang jadi presentasi besok di kantor X Group, kak”

“Oh gitu ya,oke”

Xera pergi ke lantai 7 dan melihat suasana tenang disana. Wajar sih ini kan waktu makan siang. Ia tak sengaja melihat Ein sedang fokus dengan laptopnya. Sepertinya memang ada pekerjaan baru untuk dia. Seharusnya dia memang dikasih tanggung jawab kan agar tidak lontang lantung saja di kantor.

“Kelihatannya ambisius ya?”

Xera menoleh, dan menemukan Rendy, kepala manajer kantor kami.

“Siapa?”

“Waktu itu kamu rekomen Ein ke kami untuk projek ini, belum bisa dikasih sih, terbilang dia junior. Jadi kami milih dia buat presentasi aja dulu, awal aja, kalo berhasil disini kan bisa naik ke projek yang lain. kelihatan nya sih dia gugup tadi, bahkan sempat nolak juga, soalnya takut kaku nanti dan jadi gak berhasil. Tapi ya akhirnya pas ditanya beneran gak mau, dia malah keliatan ragu ragu. Kamu yakin dia bisa?”

“She would” ya Xera percaya Ein bisa.


Ein belum juga terdengar pulang. Sekarang sudah jam 10. Xera memutuskan duduk di kamarnya sambil menunggu Ein. Sebenarnya ia sudah sangat mengantuk, karena lembur kemaren. Ia bisa saja tertidur saat menunggu Ein. Untuk berjaga jaga ia sudah mengabari Axel untuk menjemput Ein jam berapapun dia pulang. Jadi setidaknya ia sedikit lebih tenang.

Ia tak ingin berharap sebenarnya menunggu. Besok ia ulang tahun, dan di tahun sebelumnya ia dan Ein selalu merayakan atau setidaknya mengucapkan pas jam 12. Tak ingin berharap sebenarnya, atau bisa saja Ein ingin memberikannya kejutan saat jam 12 nanti.

Bisa diakui tahun ini terbilang sibuk untuk mereka berdua. Ein sudah lulus kuliah dan sudah masuk ke ranah kerja. Bukan lagi mahasiswa yang masih bersantai sambil menunggu kapan ia wisuda. Jadi tak bisa diharapkan, melihat kondisi mereka yang sama sama lelah.

Lelah duduk, Xera memutuskan menunggu sambil berbaring dan memainkan hp nya. Sudah tak bisa lagi menahan kantuk, Xera tertidur.

*

Ini bukan pagi yang Xera inginkan. Apartemen nya sunyi. Seperti tidak ada orang lain selain dirinya disini. Hei, ini hari ulang tahunnya. Bukannya seharusnya ia mendapat kejutan ulang tahun dari sahabat terdekatnya itu. Biasanya sahabat nya itu akan berteriak dan memberikan ucapan selamat dan tidak akan berhenti menggoda Xera seharian penuh.

Tapi suasana apa ini. Xera kecewa? Jelas. Ia jadi tak semangat pergi ke kantor. Ia memutuskan untuk menelpon Axel menanyakan keberadaan Ein.

“Kamu yang nganterin Ein pulang kemaren?”

“Gak kak, aku sudah nelpon dia, tapi dia di rumah teman satu divisinya”

“Ngapain disana?”

“Aku masih rada kurang jelas juga sih, tapi setau aku tempat presentasi jadi diganti di Puncak. Jadi mereka harus siap siap dari malam tadi, pagi ini mau perginya”

“Kok dia gak ngabarin sih?”

“Aku malah mikir dia ngabarin kakak dulu”

“Yaudah deh...”

Xera menjauhkan telponnya dari telinga berniat mematikan telpon tapi tidak jadi karena masih mendengar suara Axel.

“Kak?”

“Ya?”

“Selamat ulang tahun ya, doa yang terbaik dari aku”

“Hmmmmmmm”

Telepon terputus. Ia mengecek ponselnya yang penuh dengan pesan. Kivo men spam nya dengan memberikan ucapan selamat ulang tahun dan doa nya untuk Xera.

Ein ternyata mengirim pesan ke dia.

Ein Tempat presentasi jadi diganti masa? 😭 Aku harus ke puncak pagi pagi. Aku sempet pulang semalem dianterin Reyna, buat ambil baju sama perlengkapan lain. Mau pamit ke Xera, Xera nya udah tidur, jadi gak dibangunin deh, maaf ya ngabarinnya cuma pesan doang, aku pulang malam ya, bye Xera.

Xera memilih hanya membaca nya saja, dan pergi ke dapur untuk mengambil minuman di kulkas, dan,

Xera terperangah melihat apa saja isi kulkas, sebagai orang yang sama sama jarang di rumah, mereka jarang sekali membeli bahan makanan, karena jarang memasak di rumah, lebih memilih makan diluar dan pulang segera tidur setelahnya. Jadi mereka biasanya selalu membiarkan kosong dan hanya meletakkan beberapa minuman disana.

Tapi sekarang, kulkas itu sudah terisi setengah nya, dengan kue coklat kesukaan Xera, coklat, pancake dan ada kotak makanan yang diduga Xera akan disuruh Ein panasin untuk sarapannya hari ini.

Xera mengeluarkan kotak itu dan melihat ada surat diletakkan persis di atas kotak makan. Xera mengambilnya..

Dear My Lovely Sister

Happy birthday, selamat ulang tahun ya, yang keberapa ya... Hmmmm.. aku juga bahkan udah lupa.. hehehehe... Pokoknya selamat ulang tahun deh, semoga panjang umur, sehat selalu, sukses kerjaannya, langgeng hubungan nya. Pokoknya yang terbaik deh buat kakak kita satu ini. Sedih banget aku gak ada disana hari ini, biasanya selalu ngerayain dulu pasti bareng bareng. Tapi tiba tiba aja aku dipilih buat presentasi hari ini. Di puncak lagi, aku gak sempat buat apa apa Ra, cuma sempat beliin kamu kue, coklat sama pancake. Aku harus bawa bekal ke puncak, jadi aku masak sedikit deh. Sekalian buat kamu juga. Jangan lupa dipanasin dulu ya. Anggep aja deh kali ini gak ada yang ganggu. Cieeee.. pacaran deh hari ini seharian sama kak Kivo... Jangan jangan mau dilamar lagi. Aamiin in aja deh. Eh tapi jangan lupa Ama aku loh, deketin aku sama Adik mu yang manis itu. Kan kalo kita ipar iparan kan cocok tuh. Masa iya sampe sekarang masih sendiri sih aku Ra, jodohin kenapa? Eh tapi kak Axel punya pacar gak sih?🤔 Yaudah deh, have fun today for you... Semoga hari ini jadi yang terbaik. Kebahagiaan menyertai kamu Ra...love u my sister, dari Your besties yang cerewet ini..

Xera tersenyum membacanya, adiknya itu memang pemalu, yang sok asik setelahnya. Mengirim surat, memangnya ini tahun berapa. Pake acara mengirim Makanan segala, sogokan ceritanya, gak mempan.

Tapi usaha adiknya itu akan selalu ia terima, Xera tau gimana pekerjaan mereka sekarang sedikit merenggut waktu berkumpul. Jadi kali ini Xera akan maklumin itu. Jika ada lain kali, Xera pastikan akan memarahi CEO dan manajer kantornya karena sudah membuat mereka sibuk di hari ulangtahun nya ini. Iya kalo dia berani.

Hari ini berjalan seperti biasa. Xera dapat ucapan selamat dari karyawan kantornya. Mereka semua serempak memberikan hadiah untuk Xera. Xera menerimanya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Dengan ini saja Xera bahagia di hari ulangtahun nya.

Xera memperhatikan sekitar. Adiknya itu memang tak ada. Dia sedang sibuk bekerja di puncak. Ya lagipula kami akan bertemu malam nanti. Lebih baik Xera mengajak Kivo untuk berpacaran dibanding memikirkan dia.

Sepulang bekerja, Kivo mengajaknya dinner di restoran dan memberikan kejutan kecil, sambil bernyanyi di atas panggung. Xera tersenyum senang, itu memang sesederhana itu. Xera terkekeh kecil saat Kivo sedikit gugup awalnya. Xera menikmati hari ulang tahunnya dengan bahagia pastinya.

Mama, Papa, Axel, Alexa-kakaknya, dan Xila-Adik perempuannya dibawah Axel sudah memberikan ia ucapan selamat lewat telepon dan bahkan sudah mengirim hadiah.

Memasuki apartemennya, suasana hatinya bahagia hari ini. Ini sudah jam 9. Dia baru pulang dinner dengan Kivo dan bahkan Kivo sempat mengajaknya berkeliling di sekitar taman.

Ia bahkan diberikan keringanan pekerjaan karena berulang tahun hari ini. Kantornya memang seperti itu. Bahkan ikut memberikan hadiah ulang tahun. Tapi besok pasti pekerjaan akan lebih banyak lagi. Ya udahlah, seenggaknya hari ini baik baik saja kan.

Xera melirik jam 21.56. Ia sudah berbaring di tempat tidurnya berniat tidur. Tapi adiknya itu juga belum pulang. Memang hari ini semuanya berjalan dengan baik, tapi berbeda ya jika biasanya memang melakukan aktivitas bersama orang terdekat, tetep aja ada yang berasa kurang.

Xera memejamkan matanya untuk tidur. Selang 5 menit, ia masih dalam keadaan sadar, Xera mendengar pintu kamarnya terbuka,

“Udah tidur Ra?”

Gak ada jawaban dari Xera, saat Ein hampir menutup pintu,

“Masuk aja sini”

Xera kembali duduk dengan wajah mengantuknya, ia sudah hampir tertidur dan Ein baru pulang. Ein masuk dengan menenteng banyak kantong plastik. Kayaknya dia mentraktir. Atau sogokan lagi? Apa sogokan Ein hanya sebatas makanan saja?

Ein meletakkan semuanya di karpet dekat tempat tidur Xera. Dan ia duduk di pinggir tempat tidur.

“Gimana kerjaan?”

Ein menghela nafas kasar. Kelihatannya lelah.

“Ya lancar sih, tapi tadi gugup banget. Hampir aja kayak gagu gitu pas presentasi. Untung aja bisa”

Ein terus menunduk. Sikapnya ini mengingatkan nya dengan sikap Ein dulu, yang selalu menunduk saat bersama orang. Nostalgia lama. Mana Ein yang biasanya keliatan semangat itu. Dia ini aneh ya, bukannya senang karena kerjaan lancar, tapi ia keliatan tidak bersemangat.

“Abistu kenapa mukanya gitu? Bukannya lancar? Kok sepet gitu?”

“Capek aja”

“Dibiasain, baru awal aja nih, masih ada project lain lebih lagi dari ini”

“Iya iya”

Ein mulai deh memasang tampang merajuknya itu.

“Gimana hari ini?”

Ein balik bertanya sambil melihat ke arah Xera.

“Ya bagus, bahagia banget, soalnya lagi gak ada pengganggu gitu hari ini. Dikasih hadiah, diajakin dinner, ya happy lah ya”

Ein menyeringai, kakaknya ini sedang menjahili dia ternyata.

“Pantes aja sih gak ada nelpon aku sama sekali, chat aku yang tadi malam aja gak ada dibalas, di read doang”

Mereka sama sama tertawa setelah itu.

“Nonton yuk malam nih, bosan nih, aku beli popcorn masa tadi sama makanan, masalahnya aku belum makan abis siang tadi.”

“Gak capek apa?”

“Sekali kali, by the way aku libur sih besok.”

“Eeeee,, aku kerja besok”

“Ayolah Ra... Ya yaaa yaaaa...”

Xera akhirnya dengan enggan menyetujuinya. Ein membeli popcorn, minuman cola, mi ayam untuk nemenin mereka nonton malam ini.

Alih alih mengantuk, kami sama sama tertawa ngakak karena film yang lucu. Ein memilih film bergenre komedi untuk menghibur mereka alih alih memilih film drama yang katanya jadi favorit nya itu.

Ein tetap Ein, dia yang selalu membuat suasana apartemen ini hidup. Tawa nya dan senyum nya itu. Ya memang ini yang kurang.

Xera menatap Ein yang masih saja tertawa sambil memegang perutnya sendiri karena tertawa terlalu ngakak, sampai bahkan ada air mata di matanya.

Momen sederhana yang biasanya selalu mereka lakukan disaat salah satu dari mereka yang ulang tahun, cuma duduk melakukan kegiatan yang jarang dilakuin di hari biasanya, karena kondisi pekerjaan kami, status senior junior yang membuat sulit.

Xera memang bahagia sejak tadi, tapi sekarang kebahagiannya lebih lengkap lagi. Orang terdekat nya sudah ada di hari ulang tahun nya.

Tapi kalo diingat ingat gak ada ucapan selamat dari Ein, dia masuk dan hanya menanyakan bagaimana hari ini.

Anak pemalu. Disurat aja beraninya, pas ketemu mah mana ada...

Popcorn yang digenggamnya ditangannya pun banyak yang berjatuhan di tempat tisur Xera bahkan sampai ke bawah. Bisa dibilang kamar Xera sekarang berantakan.

Ein meletakkan sampah makanan nya dibawah dengan ucapan nya ke Xera setelah menonton akan dibersihkan.

Xera menggeleng kan kepalanya. Film sudah habis, tapi Ein masih saja tertawa, masih menghabiskan sisa tawanya. Xera sudah mulai membersihkan popcorn yang berserakan di tempat tidurnya.

Ein sudah mulai duduk. Saat berdiri, Xera menatapnya tajam

“Kenapa?”

“Gak ada hadiah gitu di hari ulang tahun?”

Ein menghela nafas dan menggeleng kan kepalanya.

“Ya ampun Ra, pagi tadi gue udah beliin makanan buat lo, abis tu malam ini juga gue beliin makanan. Masih kurang juga ternyata? Gak bisa apa itu disebut sebagai hadiah?”

“YA GAK BISALAH, itu gue anggap sebagai sogokan karena Lo gak ada pas pagi hari ulang tahun gue”

“Emang banyak mintak ya nih anak”

“Eh yang anak tu kamu, sadar gak sih yang lebih tua tuh siapa?”

“Hehehehe, udah tua ya ternyata”

Ein tertawa dan menutupi kepalanya dengan tangannya saat melihat Xera ingin memukul bantal ke arahnya.

“Enak aja,24 nih”

“24 ya masih, kirain udah 30”

Ein tergelak kencang saat Xera memukul bantal ke arahnya dengan kencang, Ein memang senang sekali menggoda Xera.

“Iya iya besok hadiahnya,udah ada tuh dikamar”

Xera masih menatapnya tajam.

“Yaudah mau istirahat dulu, Babay”

“Bistu, ini siapa yang beresin?”

Xera menunjuk kekacauan yang sudah terjadi di kamarnya akibat sampah makanan.

“Ya Lo lah”

“Kok gue?”

“Yang punya kamar siapa?”

Efek mengantuk atau bagaimana, Xera jadi sedikit linglung dan menatap Ein dengan tatapan polosnya.

”...gue”

“Yaudah...”

Xera terus memperhatikan Ein yang keluar sambil melambaikan tangannya dan segera menutup pintu.

Xera menghela nafas, adiknya satu itu, membuat kekacauan dan akan selalu membuat orang lain yang membersihkannya, walaupun tidak sepenuhnya dia juga sih, karena Xera sendiri juga ikut andil dalam sampah yang berserakan.

Niat memanjakan adiknya itu saat ulang tahun pupus sudah, Xera lebih memilih berganti niat menjadi mengerjai dia.

Xera memilih abai, dan tidur karena memang sudah mengantuk.


Xera bangun jam 7 dan meregangkan kepalanya. Ia masih ngantuk sebenarnya karena baru tidur jam 12 lewat tadi malam, tapi ya dia harus pergi bekerja.

Xera melihat kondisi kamarnya yang sudah bersih.

Diberesin juga akhirnya

Xera bersiap untuk bekerja. Saat melewati kamar Ein, dia memilih untuk membangun kan adiknya itu.

Tok tok tok

“Ein, bangun. Udah jam berapa nih, ke kantor gak?”

“Buka gak pintunya atau ...”

“Udah diluar Ra”

Xera cepat menoleh ke arah suara. Ein terkekeh melihatnya dari arah dapur yang posisinya dekat dengan kamarnya sambil melipat tangannya di dada.

“Apa Lo ketawa ketawa?”

“Masih pagi udah sepet aja tuh muka”

“BIARIN...”

“Judes banget, kok mau ya kak Kivo.. hahaha” “Hari ini gak ke kantor, dirumah bersantai ria. Jadi aku mau lanjut tidur lagi, jangan bangunin aku, okeee?”

“IDC”

“International Data Corporation? Aku pernah dengar sih, kenapa tiba tiba bahas itu? Kantor kita mau kerja sama ya?”

“I DON'T CARE”

“Oalah, salah ya...”

Ein tergelak dan segera berlari ke kamarnya melihat Xera yang sudah mengepalkan tangannya dan bersiap mengambil barang di dekatnya untuk dilemparkan.

Gimana Xera gak kesal sepagi ini? Orang yang membuatnya kesal itu ada di sini.

Xera jadi tak berniat dan memilih pergi ke kantor segera. Tapi perhatiannya teralihkan dengan kotak diatas meja. Penasaran. Xera mengambil nya.

Seingat Xera, semua hadiah nya sudah dipindahkan ke kamar.

Dibukanya kotak itu. Ada mug warna putih bertuliskan nama nya. Xera ingat ia gak sengaja menjatuhkan mug kesayangan nya saat mencucinya kala itu. Xera tersenyum sambil menoleh ke arah pintu kamar adiknya itu.

“Selamat ulang tahun untuk calon kakak ipar!🤭, Gunakan hadiahnya setiap hari ya🤗”

Ya begitulah. Baru saja dibuat kesal, dan setelahnya tersenyum karena kekonyolannya. Kalo saja semua saudaranya dirumah seperti Ein, mungkin sudah pusing kepalanya.

Dia harus berangkat ke kantor sebelum terlambat, adiknya itu. Awas saja nanti.

Stay smile buat kalian semua

Thank you udah baca, ditunggu komentarnya yaa🤭

1 April 2021 17.00 Menghela nafas untuk sekian kalinya di hari ini. Lelah. Aku menutup pintu kamar dan meletakkan tas ku sembarangan di lantai. Langsung menghempaskan tubuhku di atas kasur. Menutup mataku dengan kedua tangan. Aku tak ingin menangis hari ini, tapi aku bisa merasakan air membasahi kedua telapak tangan ku.

Umurku sudah masuk 22 tahun. Semester ini sudah menjadi targetku lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana. Tapi di bulan ini dosen pembimbing ku sudah berulang kali menyuruh ku untuk merevisi bagian bab yang masih kurang. Rasanya ingin menyerah. Lelah sudah menangis setiap seperti ini. Aku tau ini akan ada. Tapi bukannya harusnya sudah biasa mahasiswa akhir semester selalu stres?

Mungkin tak masalah jika ada yang menemaniku, menjadi temanku bercerita. Tapi, disini tak ada seorang pun yang bisa diajak bicara. Orang tuaku sibuk dan aku tak memiliki saudara. 1 bulan yang lalu aku masih memiliki pacar. Kami sudah pacaran selama 3 tahun mulai dari awal masuk kuliah. Aku merasa kami cocok dan akan lanjut ke dalam hubungan serius. Tapi, tidak terjadi. Ia memutuskan ku sebulan lalu dengan alasan yang tak aku mengerti sama sekali,

aku kayaknya gak pantas buat kamu, kamu pantas dapat yang jauh lebih baik daripada aku

Bukankah itu alasan klise setiap cowok yang ingin putus secara baik baik. Aku masih tak mengerti kenapa ia minta putus tiba tiba, karena aku pikir hubungan kami masih baik baik saja sebelum putus. Walaupun, kami akhirnya sepakat untuk putus baik baik dan tetap menjadi teman baik. Tapi, susah bagi ku untuk menjadi biasa saja disaat aku masih memiliki perasaan untuk dia.

Memikirkan semua ini membuatku lelah. Aku menghela nafas sekali lagi. Aku berjanji pada diriku ini yang terakhir kalinya. Aku ingin istirahat barang sejenak saja tanpa memikirkan skripsi ataupun hubungan ku. Aku mulai memejamkan mata dan memutuskan untuk tidur.


Aku mengucek mataku saat terbangun dan mendapati hari telah malam. Mataku sepertinya bengkak akibat menangis sebelum tidur tadi. Aku ingat harus merevisi skripsi ku malam ini, tapi aku memilih tidak mengerjakan hari ini, “aku bisa memulainya besok”

Tring

Suara hp terdengar keras. Menggema di dalam rumah ku yang sepi ini, hanya ada aku dan bibi di rumah. Bibi pun pasti sudah berada di kamarnya sekarang.

Dengan malas, aku meraih tasku di lantai dan mencari letak hp. Saat mendapatkan nya, sekarang jam 21.08. Sudah terlalu malam untuk mandi. Melihat ada notifikasi di grup ANIVE. Aku tersenyum lesu. Karena sibuk beberapa hari ini, aku jadi tidak sempat membuka grup fanbase ini. Kali ini A sepertinya tidak menjadi penyemangat aku di waktu waktu seperti ini.

Sudah 500 lebih chat yang belum aku baca di grup ini. Saat membaca nya ternyata Anive sedang membahas cara pikir A yang realistis di video YouTube QnA nya. Aku baru ingat aku belum menonton nya. Tapi aku sedang malas hari ini. Melihat Anive lain yang heboh, aku jadi berpikir dua kali untuk tidak menonton nya. Tangan ku ragu ragu meng klik ikon YouTube, tapi akhirnya ke klik juga. Membuka bagian subscribtion. Aku tersenyum saat mengetahui hanya Youtube Channel A yang ada disana.

Ada 2 video yang belum kutonton. QnA dan Mission. Dilihat dari cover videonya, sepertinya A melakukan game dengan keluarga nya. Jika dipikir, melihat video misi akan membuatku tertawa nantinya dan bisa sedikit melupakan masalah hari ini. Tapi aku lebih memilih menggulir layar hp ku dan memilih video yang di upload 28 Maret 2021 ini. Aku pikir jika tidak bisa curhat, lebih baik mendengar A bercerita.

Aku menyamankan diriku dengan berbaring miring sambil fokus menatap layar hp. Tampak intro videonya sudah dimulai.

Hi... Welcome back to Oralue World

Hello Everyone... Everytwo, Everythree, four, five, six, seven, eight. One two three four five six seven eight

Suara tawa A mengalun dalam video. Di awal video A selalu saja bercanda saat intro nya. Aku ikut terkekeh kecil mendengar A tertawa.

Okeeee... Sesuai judul hari ini, aku bakal ngelakuin QnA setelah sekian lama... Kapan ya terakhir aku QnA...

Aku ikut berpikir saat melihat A dengan raut wajah lucu sedang berpikir sambil meletakkan tangan dibawah dagu nya. Kapan ya A QnA terakhir, setelah aku pikir, A jarang buat QnA di YouTube, dia lebih sering ngelakuin live sambil QnA penggemar secara langsung.

Entahlah kayaknya aku juga lupa...

Aku ikut tertawa melihat A tertawa. QnA berlangsung baik, banyak dari pertanyaan yang menanyakan kabar A, keluarga, bagaimana sekolahnya dan apa pekerjaan yang akan A lakukan selanjutnya. Apa akan ada Film baru atau lagu baru dalam waktu dekat. Sampai setidaknya aku berpikir topik pertanyaan sudah masuk ke bagian sensitif bagi aku.

A pernah nangis gak?

Ya pernahlah, gak mungkin gak. Pas lagi sedih nangis, pas ngupas bawang nangis... Hahahaha... Aku becanda kok, jarang sih aku ngupas bawang nangis, ntah kenapa ya...

Nangis tu wajar sih, jadi bagi aku kayaknya semua orang juga pernah nangis. Walaupun sebentar, netes air mata aja...

Gak papa nangis, kalo seandainya buat keadaan kalian bisa jadi lebih baik, daripada ditahan malah bikin stres.

A pernah ngeluh gak ngerjain tugas?

Pernah, kalo otak lagi mumet banget. Gak mau diajak kompromi. Pernah kalo lagi ngerasa capek banget, pasti bawaanya ngeluh. Apalagi udah masuk semester 4 kuliah gini, makin banyak aja tugas. Padahal ya aku masuk FK juga karena kemauan aku sendiri

Aku ingat banget waktu awal awal aku dapat beasiswa kuliah, itu awal akting aku naik, ya bisa dibilang mulai terkenal lah. Aku dari awal udah sreg mau masuk FK karena tertarik dan pengen belajar tentang kedokteran, tapi Axel berulang kali ingatin aku untuk mikirin ulang mau masuk apa. Axel bilang ke aku kenapa gak fokusin belajar tentang berbau film atau musik mungkin. Kan udah terlanjur kerja di bagian itu waktu itu. Aku sempat mikir awalnya, bilang “oh iya ya”. Tapi setelah mikir sehari full, aku bilang ke Axel lagi, aku tetap bakal ada di FK, karena aku fikir kalo aku fokus belajar akting atau musik, aku jadi bosan dan bisa bisa bakal gak ngelanjutin kerja ini lagi. Sia sia di tengah jalan gitu maksudnya

Seenggaknya kalo nanti aku udah bosan akting atau nyanyi, aku bisa aja kerja jadi dokter. Tapi kalo aku masuk jurusan perfilman, aku bosan. Masa iya mau ngulang kuliah lagi. Sia sia dong. Akhirnya Axel nyerahin pilihan nya semua ke aku. Dan sampe sekarang aku bertahan di FK

Sejarah aku ngeluh di FK gak ada habisnya setiap semester, Axel aja sampe tau. Baaaanyak banget yang harus dipelajarin. Capek pasti. Ngeluh apalagi, pengen berhenti aja kuliah rasanya, tapi gak bisa.

Makanya kadang aku kalo capek, lebih milih buat istirahat aja, gak maksain buat belajar atau ngerjain tugas lagi. Karena kalo udah mumet pun dipaksa belajar tetap aja malah hasil tugasnya jadi gak bagus.

Biasanya aku bakal nutup itu buku dan jauhin buku itu dari jarak pandang aku dan mutusin buat nonton film atau dengerin lagu. Atau gak milih buat tidur. Ya sesuka kalian aja, atau mau refreshing ke luar rumah, banyak lagi. Besoknya mau gak mau kita tetap harus ngerjain tugas itu dengan pikirin, kalian sudah istirahat kemaren

Aku tersenyum. Mungkin memang itu yang perlu dilakukan. Setidaknya sekarang aku sedang istirahat bukan.

Langgeng ya sama Axel, kuncinya apa?

Semua orang yang langgeng pasti bakal bilang kuncinya komunikasi, saling jujur, dan percaya satu sama lain. Dari aku itu sih, kalian tau aku open minded banget sama Axel, apa apa diceritain, aku hari ini makan apa pun diceritain... Hahahaha.. saking pengen memperlama waktu nelpon

Ribet gak sih ngejalanin hubungan sama Axel?

Pertanyaan yang diberikan sudah berkaitan dengan hubungan semua. Aku menjadi lesu. Mengetahui hubungan ku pun sudah putus di tengah jalan. Aku berharap hubungan A dan Axel selalu baik baik saja dan langgeng sampe nikah nanti.

Dibilang ribet gimana ya.... Gak juga sih, mungkin pengaruh udah kenal dari kecil juga kayaknya. Tapi ya diliat liat sebenarnya Axel tu bukan tipe aku... Ada lah yang sama, tapi ada juga yang bedanya

Kalo dilihat dari sudut pandang lain, aku gak menampik kalo perempuan yang udah kerja kayak aku ini, apalagi punya penghasilan sendiri yang sudah dibilang mampu memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus dinafkahi, aku sih lebih pilih cari cowok yang kerjanya biasa aja. Tapi tetap rajin kerja, gak kita juga yang keluar uang

Soalnya ngeliat aku yang udah sibuk kayak gini, aku pengen cari cowok yang bisa sewaktu waktu buat dia jadi rumah aku dan buat aku bosan dengan pekerjaan aku sekarang, jadiin dia prioritas utama. Tapi dengan dia yang jadwal kerja nya dibilang wajar juga

Kalo kalian tau, Axel sekarang udah jadi CEO, harusnya kalo dilihat, dia sibuk banget, sering lembur, dan jarang ada waktu buat ketemu aku, tapi kebetulan aja Axel milih sistem kerja yang bisa kerja lewat rumah dan lebih santai pastinya. Dan masa masa sekarang ini hubungan kami tetap aman dengan sistem gitu

Kadang aku kalo senggang nemenin Axel ke kantor, kadang juga aku harus keluar negeri buat syuting, biasanya dia nyempetin nemenin aku juga ke sana beberapa hari ngeliat kerjaan aku. Ya aku suka aja, kayak kami saling punya waktu buat satu sama lain. Kayak kerjaan tuh sekarang gak ganggu waktu ketemu atau nyantai kami

Kalo udah nikah nanti, aku bisa berhenti kerja. Kalo Axel berhenti kerja, ya gimana kami

Banyak orang mikir kalo perempuan yang derajat sosialnya tinggi, kaya lah ya bisa dibilang, sejenis CEO atau artis terkenal, pasangannya tuh harus sejenis itu juga, mereka mikirnya masa mau sih sama yang biasa aja

Deg. Perkataan A membuat aku tertohok. Aku mem pause video A. Segera duduk dan menyandarkan punggung di kepala tempat tidur. Kalo dipikir aku termasuk keturunan orang mampu. Sedangkan pacar aku bisa dibilang sederhana aja. Mungkin penjelasan A bisa membuat aku mengerti tentang mengapa kami putus. Aku memutuskan memutar lagi videonya dan fokus mendengarkan.

Aku agak kasar sih ngomongnya, tapi anggap aja perumpamaan ya. Kalo cowok kaya sama cewek biasa aja, itu udah biasa kita dengernya, walaupun nanti ada dibilang matre lah, tapi kalo ngomongin realistis, bukannya memang nanti pihak cowok juga yang nafkahin kita. Tapi kalo cewek kaya sama cowok biasa aja, emang ada sih pasti. Banyak juga kayaknya. Tapi untuk beberapa cowok yang hatinya tuh tulus sayang sama kita, kadang agak minder gitu sama ceweknya

Dia mungkin berulang kali ngerasa gak pantas tapi gak ada dibawa komunikasi. Contohnya aja semenjak aku kerja ini aja penghasilan aku kan udah dibilang lumayan, mampu lah untuk menuhin semua kebutuhan aku, Axel aja yang tipenya ngomong sama aku, bilang berulang kali ke aku untuk gak kerja terlalu keras. Axel yang kerjanya CEO aja dia bilang ke aku kalo dia ngerasa gak nyaman dengan itu, dia jadi ngerasa aku gak butuh dia lagi nantinya karena udah ada uang sendiri. Kayak Axel tuh mikirnya kok cewek kita lebih keras lagi kerjanya dari kita yang cowok. Makanya makin aku kerja, menurut dia, dia harus kerja 2 kali lebih keras dari aku biar seenggaknya penghasilan dia masih di atas aku. Beberapa cowok bakal mikir gitu. Tapi, ada juga mungkin yang biasa aja tentang itu. Ada juga yang cowok mikirnya ya biasalah zaman sekarang kan cewek kan bisa berkarir juga.

Tapi Axel tipenya yang agak minder tentang itu, makanya awal awal dia agak cemberut gitu ngeliat aku udah mulai terkenal di entertain, tapi yang aku suka dia ngomong sama aku, biar aku pun gak salah paham. Axel loh yang CEO, dia aja gitu.

Akhirnya aku tanya Axel enaknya gimana, biar gak miscom kan, Axel abis itu bilang ke aku ya gak papa, itu mimpi aku juga kan yak. Axel cuma bilang kerjanya jangan terlalu keras aja, sesuai yang Axel bilang dia maunya nanti abis nikah, uang yang aku hasilin sekarang simpan rapat rapat dan uang yang dipake cuma uangnya dia aja. Yaudah aku setuju, karena aku mikirnya biar Axel ngejalanin tugasnya ngenafkahin aku, berusaha ngehargai Axel sebagai kepala keluarga sama suami

Aku sama Axel enak karena posisi nya disini kami udah kenal lama, dari kecil yang masih sekolah, udah tau gimana awal awal kerja nya, bisa dibilang dari nol. Jadi komunikasi kami jalan sejauh ini. Kalo yang posisinya mereka baru kenal pas udah sama sama kerja kan agak bingung

Contoh aja nih ya Xera punya hubungan sama Kivo. Xera nih orang kan taunya dia CEO kan, kalo Kivo dia manajer aku. Banyak yang bilang kok Xera mau sama Kivo, kenapa gak cari yang sama sama CEO juga. Tapi dalam posisi ini mereka pure punya perasaan tulus satu sama lain. Mereka sadar posisi satu sama lain. Gak bisa disalahin memang kalo Kivo mikir pantas gak ya dia bareng sama Xera atau nanti bisa aja gak pas sudah nikah Xera nyesel punya pasangan kayak dia

Bagi aku ini tugasnya Xera lagi, resiko dia milih ngejalin hubungan dengan orang yang posisi nya gak sama dengan dia, dia yang harus coba ajak Kivo komunikasi tentang hubungan itu, ngeyakinin Kivo dia memang mau ngejalanin hubungan ini serius tanpa status sosial yang berarti. Biar Kivo bisa mutusin mau ikut perjuangin atau milih berhenti.

Beberapa cewek nganggap mereka bagian nunggu aja cowok perjuangin mereka abis itu kalo lanjut, bakal sama sama berjuang. Tapi kalo posisi Xera kayak gini, dari awal mau ngejalin hubungan bukan Kivo nya aja yang berjuang, tapi dua duanya sama sama coba. Kalo gak Kivo nya bisa mutusin buat mundur duluan.

Gak ada salahnya sih sebenarnya. Banyak juga kok sekarang cewek yang mulai ambil langkah duluan, mungkin nyapa cowok yang dia suka duluan atau dengan hal lain. Apalagi posisi Xera sebagai CEO menguntungkan bagi dia, mana ada CEO yang pemalu. Dia lebih mudah lagi ambil langkah dengan alasan pekerjaan mungkin. Gak ada pake malu malu, bahkan dia bisa pake cara nya sendiri.

Kalo menurut kalian sebagai cewek, cowok itu bisa buat kalian bahagia dengan cara mereka yang sederhana, bagi aku cowok itu pantas di perjuangin. Gak ada salahnya kan, belum tentu kita dapat lagi yang kayak dia. Apalagi bisa dibilang walaupun ada, kesempatan kedua jarang ada. Karena bahagia gak tentang uang aja.

Xera yang notabennya udah kerja keras dari awal 5 tahun tanpa berhenti. Sekarang dia pasti kalo memang pengen serius sama cowok pasti nyari cowok yang sayang sama dia dan bisa buat dia bahagia. Kalo cuma semerta merta pengen punya anak, nikah di umur 28, 29 bisa, abis tu punya anak. Kita sibuk ngurus anak kita, abis itu suami kita sibuk kerja lembur, mungkin kita gak peduli. Kalo kita bahagia dengan pernikahan itu, saling sayang, seenggaknya kita mengeluh kenapa dia sibuk kerja

Aku kalo seandainya sampe sekarang masih single pun, mungkin nyari cowok yang selalu ada buat aku

Aku juga udah bicara sama Axel, gimana pengennya aku abis nikah, gimana pengennya dia abis nikah. Kalo ada yang bertentangan tapi masih bisa ditoleransi kami masih bisa bicara lagi, tapi kalo udah mulai gak bisa, ya aku sudah sepakat sama Axel mungkin kalo pacaran kita bisa lanjut, tapi kalo naik ke jenjang lebih lagi, kemungkinan nya sulit karena apalagi nanti tinggalnya barengan kan, kalo gak ngerti satu sama lain ya susah. Gak jalan pasti. Walaupun masa pacarannya cocok

Ngerti menurut aku tuh ngerti nya tuh di komunikasiin, bukan yang misalnya cowok nya bilang aku lembur ya hari ini, ceweknya bilang iya, tapi dalam hati kayak kenapa sih lembur terus. Itu menurut aku belum bisa dibilang ngerti. Ngerti menurut aku, ya yang kalo kita kurang sreg sama lembur nya dia, langsung ngomong dan cowok itu seenggaknya tau posisi kita yang gak nyaman dengan itu. Jadi berusaha tau apa yang nyaman sama gak nyaman di kita. Itu baru ngerti bagi aku.

Ya mungkin kalian punya sudut pandang lain yang kalian aja yang tau. Kalo emang gak nyaman bisa aja kasih space di antara hubungan itu sedikit. Kayak aku sama Axel ngasih space dibagian kerjaan. Axel gak boleh ganggu kerjaan aku, Axel oke. Aku gak boleh ganggu kerjaan dia, aku oke. Kerjaan kita privasi masing masing. Yang mungkin bisa jadi rahasia juga untuk orang lain. Ya istilahnya bilang yang gak nyaman, jadi kita sama sama tau batasan satu sama lain. Wajar aja sih setiap pasangan walaupun suami istri juga ada batasan sedikit

Aku aja dulu yang sebelum kerja pernah berada di posisi aku ngerasa gak pantas buat Axel. Mikir kayaknya nanti gimana ya pandangan klien Axel pas tau pasangannya itu aku. Setara gak ya aku sama Axel. Pantas gak ya... Berulang kali ngomong gitu terus. Akhirnya aku komunikasiin sama Axel, awal awal Axel marah sama aku

Siapa pula mereka yang nentuin pantas gak nya hubungan kita, yang ngejalanin kan bukan mereka. Aku ngerti posisi di sana. Axel ngejelasin ke aku satu persatu dan berusaha yakinin aku kenapa aku yang dia pilih, jawabannya sederhana dan aku akhirnya mutusin buat gak perlu lagi mikir tentang itu dan jalanin hubungan semampu kami

Aku bahagia sama kamu, dengan cara kamu yang sederhana, tawa kamu, ngeliat kamu bahagia itu juga kebahagiaan aku, dan kamu selalu jadi prioritas utama aku

Baru baru ini di posisi yang sekarang di depan dia aku pernah mikir beda ya dengan dulu, apa aku bisa dibilang pantas sekarang. Dan Axel nyadar pas itu, dia cuma senyum maklumin aku. Tapi malamnya dia ngobrol sama aku. Aku kaget deh ternyata dia tau. Dia berusaha lagi yakinin aku untuk hubungan ini.

Ya intinya komunikasi, kalo marah bilang marah, kalo gak nyaman bilang, kalo nyaman gini bilang, jangan jaim aja kalo mau hubungan jalan terus, keluarin aja sifat asli kita, manja kita, jadi dia pun bisa prepare nanti pas sudah nikah, tau lah sifat asli kita

Jangan salah loh, Axel tu bukan CEO yang dingin atau tiba tiba romantis, dia tuh manja banget kalo lagi caper capernya sama gak romantis juga. Tapi, bisa dibilang kami seimbang sih. Dengan cara kami sendiri, senyaman nya kami. Yang gak perlu ngasih bunga, yang gak perlu kalo makan malam harus ada lilinnya. Makan kami itu ya makan aja... Hahahaha

Axel tuh ego nya tinggi, tapi kalo sama aku kalo lagi marah bertengkar juga kami, udah mulai gak bisa kekontrol, aku pernah tiba tiba nyelonong pergi aja. Nenangin diri. Prinsip kami boleh marah, boleh diam. Bentar aja tapi, abis tu diskusiin, jangan utamain siapa yang salah, diskusiin dulu kenapa kita banggain pendapat kita yang sempat beda. Bicarain mana yang lebih banyak resiko baik nya. Dapat hasilnya yaudah sama sama minta maaf aja. Jadi lebih plong gitu.

Axel tu bukannya gak pernah nangis, didepan keluarga aku, Abang aku boleh dia bersikap semuanya baik baik aja, tapi kalo didepan aku biasanya dia nangis sih, itu yang pengen aku harapin sebenarnya. Prinsip aku kalo pengen percaya sama orang, bukan aku aja yang butuh sandaran tapi aku pengen jadiin diri aku tempat sandaran juga, jadi ya saling melengkapi, bukan bilang baik baik aja tapi sebenarnya gak baik. Berarti dia belum percaya sepenuhnya sama kita. Itu nilai min bagi aku dalam hubungan.

Itu aja sih dari aku. Tapi ya balik lagi ke pandangan kalian masing masing, aku berusaha bersikap se realistis mungkin menurut pandangan aku. Kalo kalian punya pandangan sendiri, ya it's ok. Selama itu baik juga buat kalian. Jangan sekali kali egois aja dalam jalanin hubungan. Coba buat dengerin penjelasan pasangan sebelum ambil keputusan.

Aku sih gitu, kalo seandainya nih ya, tapi amit amit sih, Axel ketahuan selingkuh sama aku, aku gak bakal nunggu dia ngomong sama aku. Tapi aku langsung nanya ke dia kamu siang tadi jalan sama cewek lain ya, kalo bohong warning sudah hubungan kita, tapi kalo jujur aku bakal coba dengerin penjelasan dia dulu. Ya intinya gitu lah

Tapi sekali lagi, ini balik ke kalian ya. Aku cuma sharing pengalaman dari aku aja nih. Karena hubungan masing masing pasangan kan beda ngejalaninnya.

Okeeee... Yang ini kayaknya panjang banget jawabannya. Oke next pertanyaan lain deh kayaknya... Gimana kalo kita ngomongin project baru... Kalian berharap apa nih, film baru atau musik baru... Hehehehe... Gak bakal aku bocorin juga sih... Hahahaha...

Live itu akhirnya ku tonton sampai akhir. Aku tersenyum puas sekarang. Aku ngerti sekarang jawabannya. Kenapa hubungan aku berhenti tengah jalan. Setelah dipikir, aku baru sadar aku pernah menemukan kondisi pacar aku sendiri gak nyaman saat berada dalam acara keluarga aku. Aku mengerti jawabannya. Aku menepuk pelan bagian kepalaku

“Aku ini sebenarnya Anive beneran atau gak sih”

A akan selalu menjadi penyemangat aku disaat aku ada di titik terendah gini

Ralat yang awal, untung aja gak ada yang tau... Hehehe...

Aku tersenyum sangat lebar dan meletakkan hp di atas kasur dan berlari ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi bersiap untuk tidur.

“Kayaknya ada yang lupa deh...”

Aku berpikir apa yang aku lupakan, tapi ya sudahlah, kalo ingat nanti juga bakal tau lagi.

22.51 Aku menaikkan selimut sampai batas dada dan tersenyum. Setidaknya pikiran ku tenang hari ini. Sudah selesai istirahat hari ini, besok bakal ngelanjutin skripsi dan berpikir apa yang dilakukan selanjutnya untuk hubungan ini.

Aku ingin berjuang. Dia laki laki yang baik. Bahkan diawal bertemu dia sangat menghormati ku sebagai perempuan, selalu menanyakan apa yang tidak nyaman bagi aku. Harusnya aku juga melakukan hal yang sama. Mari kita lakukan besok.

Setelah 5 menit memejamkan mata, akhirnya aku sadar apa yang aku lupakan

“Oh iya, aku kan tadi mau nonton video A yang Mission”

“Besok aja deh ya A... Aku mau istirahat hari ini... Jangan ngambek ya... Thank you hari ini...”

Dari Kani

Ini cuma cerita fiksi, khayalan penulisnya ya readers...

A, Axel, Xera, Kivo, sama Anive itu cuma nama buatan dari penulis ya...

Jika hari ini buruk bagi kalian, berharaplah hari esok akan lebih baik- Dari Kani