10 tahun itu gak singkat, tapi rasanya seperti singkat karena sudah dijalani
“Xera bisa bantu ibuk ya, buat ngajarin olimpiade adik kelas kamu yang kelas 1? Ibuk lagi gak bisa ngajarinnya karena harus ngerjain yang lain. Hampir sama dengan olimpiade kamu dulu, anggap aja kamu sekalian ngasih motivasi buat adik kelas kamu.”
Xera waktu di kelas 3 SMP, tidak bisa menolak, lalu dia mengangguk secara perlahan. Gurunya tersenyum untuk itu. Yang ia bingung kan sekarang, apa bisa ia mengajari adik kelasnya itu
Xera sudah tiba untuk mengajar materi olimpiade ke adik kelasnya itu. Dan ia sekarang duduk dengan kaku di meja guru. Dengan adik kelas yang dari tadi menunduk entah memperhatikan apa. Sejak masuk belum ada pembicaraan sama sekali
Sekali dilihat saja, ia langsung tau sifat adik kelasnya, polos, anak kutu buku mungkin? yang jika tidak diajak berbicara, tidak akan mengeluarkan suaranya, namanya saja tidak tau. Kalau tidak bersuara dari sekarang, ini akan berakhir sia sia. Sebenarnya salah besar, gurunya menyuruh Xera menjadi pembimbing untuk olimpiade ini.
“Nama?”
“Ein kak”
“Yaudah Ein buka materi yang pertama dulu ya, baca aja sambil pahami dulu”
Mengangguk dan sampai jam latihan olim berakhir, tak ada satupun dari mereka bersuara. Xera menghela nafas kesal. Ia tak suka berada ada di posisi ini
Sampai Xera mengadu ke gurunya, sepertinya ia tak cocok untuk menjadi pembimbing, karena sifat nya yang tak bisa berbasa basi sedikit. Tapi guru memberikan ia motivasi untuk mengajak bicara perlahan, walaupun tak berbasa basi, setidaknya bisa membahas pelajaran bersama.
Cara itu cukup ampuh, Xera berusaha bersikap profesional dan mengajarkan Ein materi materi olim. Walaupun tidak bisa dibilang akrab, mereka sudah nyambung dalam berbagai pembahasan tentang pelajaran.
Ein itu polosnya minta ampun. Ia ramah ke semua orang dan mudah sekali tersenyum. Berbanding jauh dengan Xera yang notabennya cuek. Xera ingat saat ia menang juara 2 olim dan ia memberikan Xera coklat sebagai tanda terima kasih.
“Makasih ya kak, udah bantu aku buat olim, aku juara 2 berkat kakak”
Xera hanya tersenyum tipis menanggapi nya
“Maaf ya kak aku gak sengaja jatuhin”
“Makasih ya kak udah bantuin ...”
“Makasih ya kak ... “
“Selamat ya kak udah lulus, semangat buat SMA-nya”
Xera tersenyum mengingat tingkah Ein yang benar benar lugu itu. Tapi ya itu dulu sebelum Xera mengizinkan nya untuk masuk ke ranah pribadi nya dan sekarang....
Tidur nyenyak Xera terusik karena sinar cahaya mengenai matanya. Suara pintu terbuka terdengar dan
“HEI BANGUN HEI... Udah jam 8 nih, kerja kerja...”
Xera menggeliat, menyesuaikan cahaya lampu yang tepat mengenai matanya. Ia ingat meminta Ein untuk membangun kannya jam 8. Ia lembur tadi malam dan kepalanya sangat pusing sekarang. Tapi dia harus bangun dan duduk melihat Ein masih mengurusi kertas kertas yang berantakan akibat lembur semalam.
“Tidur mulu lo, kita harus ke kantor buruan”
“Gue lembur semalam, emangnya lo, jam 9 udah molor di kamar kayak anak bocah”
“Eh itu bukan anak bocah namanya, tapi berusaha memanfaatkan waktu istirahat dengan baik. Gak tau besok besok malah aku dikasih lembur kan”
“Bodo amat”
“Cepetan mandi, soalnya gak masak nih. Harus makan diluar”
“Biarin aja, Kivo katanya bakal beliin sarapan nanti”
Ein melenggang pergi keluar. Xera berusaha meregangkan tubuhnya yang lelah. Meraih hp nya untuk mengabari Kivo kalo ia akan bersiap, dan akan menunggu
Wait
Sekarang jam 06.38
Xera menoleh ke arah pintu tempat Ein pergi tadi dan mengepalkan tangannya
“EINNNNNNNNNNNNN”
Suara bel pintu terdengar, Ein yang berada di ruang tamu segera membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Xera mengajaknya tinggal bersama saat ia menjadi mahasiswa baru sekitar 4 tahun lalu di apartemen dengan 2 kamar tidur. Cukup sederhana untuk ukuran Xera yang terbilang mampu.
“Eh, kak Kivo. Udah datang, masuk kak. Kak Xera nya lagi siap siap di kamar”
“Katanya sih Xera gak langsung ke kantor, jam 10 an aja cuma ngantar bahan presentasi aja nanti. Ini mau ngambil kopiannya dulu biar dikasih cepat ke manajer”
“Oke, masuk aja dulu kak”
Kak Kivo, pacar nya kak Xera. Udah 3 tahun. Dari akhir masa kuliah. Orangnya perhatian banget dan ramah, beda banget sama Xera yang cueknya minta ampun, gak sih pengecualian kalo ke pacarnya, dan
“Eh ada kak Axel juga”
Hampir saja menutupi pintu, Axel muncul sambil tersenyum manis ke Ein. Kivo sampai ikut menoleh ke luar karena mendengar suara Ein yang lebih ekspresif. Kivo memaklumi anak muda yang lagi pdkt ceritanya, atau belum?
Axel ini adiknya Xera, mirip banget sama Xera karena bentuk mata sama garis rahangnya itu. Senyumannya manis banget kalo kata Ein.
“Iya ini disuruh mama datang ke sini ngasih barang Xera yang dirumah, minta bawain soalnya”
Ein tersenyum malu dan mempersilahkan Axel masuk.
Kivo melihat nya geleng geleng kepala.
Mereka berempat berkumpul di meja makan memakan sarapan yang dibelikan oleh Kivo.
“Yaudah nih proposal nya, nanti bilang aja ke manajer aku nyusul nya ke kantor aja, gak ke kafe dulu. Aku berangkat paling jam 10 an lah”
“Oke oke, kalo gitu aku duluan ya, di kantor aja nanti ketemunya. Bye bye semua”
Kivo pergi duluan setelah menyelesaikan sarapannya, tinggal Ein, Xera dan Axel disini.
“Berarti kami berdua dong perginya Ra?”
“Ngapain berdua?”
“Ya Lo gak ada”
“Naik bis sana, kantor kita sama Axel kan beda arah, manja banget minta dianterin”
Axel hanya tersenyum kecil melihat interaksi kakak dan sahabat nya itu.
“YAUDAH SIH BAWEL. Kalo gitu aku duluan ya kak Axel, Babay...”
“Oke hati hati”
“Two face banget”
“Biarin, wlee”
Pintu tertutup dan menyisakan kakak beradik. Xera memperhatikan Axel yang masih melihat ke arah pintu.
“Barangnya kan udah diterima, ngapain masih disini?”
“Yaa-”
“CEPAT TURUN KE BAWAH, ANTERIN EIN SANA..”
Axel terkejut melihat kakak nya tiba tiba marah.
“Tadi nyuruh dia naik bis?”
“Mana ada sih bis jam segini?”
“Iya ini mau turun”
“AWAS AJA YA ANAKNYA LECET”
Axel terkekeh kecil sebelum keluar dari apartemen itu.
Kantor tampak lebih sibuk hari ini, karena akan ada project besar. Semua karyawan sibuk menyiapkan segala sesuatu, berusaha memastikan agar tak ada kesalahan. Bukan hanya hari ini saja sebenarnya, dalam beberapa Minggu ini tampaknya akan lebih sibuk.
Sekarang sudah masuk jam makan siang, dan Ein yang biasanya kelihatan merecokinya, sekarang sedang tak ada, entah kemana dia. Sudah dicari ke kubikelnya dan tak ada juga.
Biasanya anak itu emang sok sibuk dengan mengganggu karyawan lain. Tak mungkin ia sibuk karena Ein terbilang masih junior disini.
Beda dengan Xera, ia sudah terbilang masuk ke deretan senior yang disegani karena profesional dalam bekerja.
“Permisi”
“Ya kak?”
“Lihat Ein gak?”
“Ein lagi ada tugas dari manajer di lantai 7 buat ngurus penelitian gitu. Katanya Ein dipilih buat yang jadi presentasi besok di kantor X Group, kak”
“Oh gitu ya,oke”
Xera pergi ke lantai 7 dan melihat suasana tenang disana. Wajar sih ini kan waktu makan siang. Ia tak sengaja melihat Ein sedang fokus dengan laptopnya. Sepertinya memang ada pekerjaan baru untuk dia. Seharusnya dia memang dikasih tanggung jawab kan agar tidak lontang lantung saja di kantor.
“Kelihatannya ambisius ya?”
Xera menoleh, dan menemukan Rendy, kepala manajer kantor kami.
“Siapa?”
“Waktu itu kamu rekomen Ein ke kami untuk projek ini, belum bisa dikasih sih, terbilang dia junior. Jadi kami milih dia buat presentasi aja dulu, awal aja, kalo berhasil disini kan bisa naik ke projek yang lain. kelihatan nya sih dia gugup tadi, bahkan sempat nolak juga, soalnya takut kaku nanti dan jadi gak berhasil. Tapi ya akhirnya pas ditanya beneran gak mau, dia malah keliatan ragu ragu. Kamu yakin dia bisa?”
“She would” ya Xera percaya Ein bisa.
Ein belum juga terdengar pulang. Sekarang sudah jam 10. Xera memutuskan duduk di kamarnya sambil menunggu Ein. Sebenarnya ia sudah sangat mengantuk, karena lembur kemaren. Ia bisa saja tertidur saat menunggu Ein. Untuk berjaga jaga ia sudah mengabari Axel untuk menjemput Ein jam berapapun dia pulang. Jadi setidaknya ia sedikit lebih tenang.
Ia tak ingin berharap sebenarnya menunggu. Besok ia ulang tahun, dan di tahun sebelumnya ia dan Ein selalu merayakan atau setidaknya mengucapkan pas jam 12. Tak ingin berharap sebenarnya, atau bisa saja Ein ingin memberikannya kejutan saat jam 12 nanti.
Bisa diakui tahun ini terbilang sibuk untuk mereka berdua. Ein sudah lulus kuliah dan sudah masuk ke ranah kerja. Bukan lagi mahasiswa yang masih bersantai sambil menunggu kapan ia wisuda. Jadi tak bisa diharapkan, melihat kondisi mereka yang sama sama lelah.
Lelah duduk, Xera memutuskan menunggu sambil berbaring dan memainkan hp nya. Sudah tak bisa lagi menahan kantuk, Xera tertidur.
*
Ini bukan pagi yang Xera inginkan. Apartemen nya sunyi. Seperti tidak ada orang lain selain dirinya disini. Hei, ini hari ulang tahunnya. Bukannya seharusnya ia mendapat kejutan ulang tahun dari sahabat terdekatnya itu. Biasanya sahabat nya itu akan berteriak dan memberikan ucapan selamat dan tidak akan berhenti menggoda Xera seharian penuh.
Tapi suasana apa ini. Xera kecewa? Jelas. Ia jadi tak semangat pergi ke kantor. Ia memutuskan untuk menelpon Axel menanyakan keberadaan Ein.
“Kamu yang nganterin Ein pulang kemaren?”
“Gak kak, aku sudah nelpon dia, tapi dia di rumah teman satu divisinya”
“Ngapain disana?”
“Aku masih rada kurang jelas juga sih, tapi setau aku tempat presentasi jadi diganti di Puncak. Jadi mereka harus siap siap dari malam tadi, pagi ini mau perginya”
“Kok dia gak ngabarin sih?”
“Aku malah mikir dia ngabarin kakak dulu”
“Yaudah deh...”
Xera menjauhkan telponnya dari telinga berniat mematikan telpon tapi tidak jadi karena masih mendengar suara Axel.
“Kak?”
“Ya?”
“Selamat ulang tahun ya, doa yang terbaik dari aku”
“Hmmmmmmm”
Telepon terputus. Ia mengecek ponselnya yang penuh dengan pesan. Kivo men spam nya dengan memberikan ucapan selamat ulang tahun dan doa nya untuk Xera.
Ein ternyata mengirim pesan ke dia.
Ein
Tempat presentasi jadi diganti masa? 😭 Aku harus ke puncak pagi pagi. Aku sempet pulang semalem dianterin Reyna, buat ambil baju sama perlengkapan lain. Mau pamit ke Xera, Xera nya udah tidur, jadi gak dibangunin deh, maaf ya ngabarinnya cuma pesan doang, aku pulang malam ya, bye Xera.
Xera memilih hanya membaca nya saja, dan pergi ke dapur untuk mengambil minuman di kulkas, dan,
Xera terperangah melihat apa saja isi kulkas, sebagai orang yang sama sama jarang di rumah, mereka jarang sekali membeli bahan makanan, karena jarang memasak di rumah, lebih memilih makan diluar dan pulang segera tidur setelahnya. Jadi mereka biasanya selalu membiarkan kosong dan hanya meletakkan beberapa minuman disana.
Tapi sekarang, kulkas itu sudah terisi setengah nya, dengan kue coklat kesukaan Xera, coklat, pancake dan ada kotak makanan yang diduga Xera akan disuruh Ein panasin untuk sarapannya hari ini.
Xera mengeluarkan kotak itu dan melihat ada surat diletakkan persis di atas kotak makan. Xera mengambilnya..
Dear My Lovely Sister
Happy birthday, selamat ulang tahun ya, yang keberapa ya... Hmmmm.. aku juga bahkan udah lupa.. hehehehe... Pokoknya selamat ulang tahun deh, semoga panjang umur, sehat selalu, sukses kerjaannya, langgeng hubungan nya. Pokoknya yang terbaik deh buat kakak kita satu ini. Sedih banget aku gak ada disana hari ini, biasanya selalu ngerayain dulu pasti bareng bareng. Tapi tiba tiba aja aku dipilih buat presentasi hari ini. Di puncak lagi, aku gak sempat buat apa apa Ra, cuma sempat beliin kamu kue, coklat sama pancake. Aku harus bawa bekal ke puncak, jadi aku masak sedikit deh. Sekalian buat kamu juga. Jangan lupa dipanasin dulu ya. Anggep aja deh kali ini gak ada yang ganggu. Cieeee.. pacaran deh hari ini seharian sama kak Kivo... Jangan jangan mau dilamar lagi. Aamiin in aja deh. Eh tapi jangan lupa Ama aku loh, deketin aku sama Adik mu yang manis itu. Kan kalo kita ipar iparan kan cocok tuh. Masa iya sampe sekarang masih sendiri sih aku Ra, jodohin kenapa? Eh tapi kak Axel punya pacar gak sih?🤔 Yaudah deh, have fun today for you... Semoga hari ini jadi yang terbaik. Kebahagiaan menyertai kamu Ra...love u my sister, dari Your besties yang cerewet ini..
Xera tersenyum membacanya, adiknya itu memang pemalu, yang sok asik setelahnya. Mengirim surat, memangnya ini tahun berapa. Pake acara mengirim Makanan segala, sogokan ceritanya, gak mempan.
Tapi usaha adiknya itu akan selalu ia terima, Xera tau gimana pekerjaan mereka sekarang sedikit merenggut waktu berkumpul. Jadi kali ini Xera akan maklumin itu. Jika ada lain kali, Xera pastikan akan memarahi CEO dan manajer kantornya karena sudah membuat mereka sibuk di hari ulangtahun nya ini. Iya kalo dia berani.
Hari ini berjalan seperti biasa. Xera dapat ucapan selamat dari karyawan kantornya. Mereka semua serempak memberikan hadiah untuk Xera. Xera menerimanya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Dengan ini saja Xera bahagia di hari ulangtahun nya.
Xera memperhatikan sekitar. Adiknya itu memang tak ada. Dia sedang sibuk bekerja di puncak. Ya lagipula kami akan bertemu malam nanti. Lebih baik Xera mengajak Kivo untuk berpacaran dibanding memikirkan dia.
Sepulang bekerja, Kivo mengajaknya dinner di restoran dan memberikan kejutan kecil, sambil bernyanyi di atas panggung. Xera tersenyum senang, itu memang sesederhana itu. Xera terkekeh kecil saat Kivo sedikit gugup awalnya. Xera menikmati hari ulang tahunnya dengan bahagia pastinya.
Mama, Papa, Axel, Alexa-kakaknya, dan Xila-Adik perempuannya dibawah Axel sudah memberikan ia ucapan selamat lewat telepon dan bahkan sudah mengirim hadiah.
Memasuki apartemennya, suasana hatinya bahagia hari ini. Ini sudah jam 9. Dia baru pulang dinner dengan Kivo dan bahkan Kivo sempat mengajaknya berkeliling di sekitar taman.
Ia bahkan diberikan keringanan pekerjaan karena berulang tahun hari ini. Kantornya memang seperti itu. Bahkan ikut memberikan hadiah ulang tahun. Tapi besok pasti pekerjaan akan lebih banyak lagi. Ya udahlah, seenggaknya hari ini baik baik saja kan.
Xera melirik jam 21.56. Ia sudah berbaring di tempat tidurnya berniat tidur. Tapi adiknya itu juga belum pulang. Memang hari ini semuanya berjalan dengan baik, tapi berbeda ya jika biasanya memang melakukan aktivitas bersama orang terdekat, tetep aja ada yang berasa kurang.
Xera memejamkan matanya untuk tidur. Selang 5 menit, ia masih dalam keadaan sadar, Xera mendengar pintu kamarnya terbuka,
“Udah tidur Ra?”
Gak ada jawaban dari Xera, saat Ein hampir menutup pintu,
“Masuk aja sini”
Xera kembali duduk dengan wajah mengantuknya, ia sudah hampir tertidur dan Ein baru pulang. Ein masuk dengan menenteng banyak kantong plastik. Kayaknya dia mentraktir. Atau sogokan lagi? Apa sogokan Ein hanya sebatas makanan saja?
Ein meletakkan semuanya di karpet dekat tempat tidur Xera. Dan ia duduk di pinggir tempat tidur.
“Gimana kerjaan?”
Ein menghela nafas kasar. Kelihatannya lelah.
“Ya lancar sih, tapi tadi gugup banget. Hampir aja kayak gagu gitu pas presentasi. Untung aja bisa”
Ein terus menunduk. Sikapnya ini mengingatkan nya dengan sikap Ein dulu, yang selalu menunduk saat bersama orang. Nostalgia lama. Mana Ein yang biasanya keliatan semangat itu. Dia ini aneh ya, bukannya senang karena kerjaan lancar, tapi ia keliatan tidak bersemangat.
“Abistu kenapa mukanya gitu? Bukannya lancar? Kok sepet gitu?”
“Capek aja”
“Dibiasain, baru awal aja nih, masih ada project lain lebih lagi dari ini”
“Iya iya”
Ein mulai deh memasang tampang merajuknya itu.
“Gimana hari ini?”
Ein balik bertanya sambil melihat ke arah Xera.
“Ya bagus, bahagia banget, soalnya lagi gak ada pengganggu gitu hari ini. Dikasih hadiah, diajakin dinner, ya happy lah ya”
Ein menyeringai, kakaknya ini sedang menjahili dia ternyata.
“Pantes aja sih gak ada nelpon aku sama sekali, chat aku yang tadi malam aja gak ada dibalas, di read doang”
Mereka sama sama tertawa setelah itu.
“Nonton yuk malam nih, bosan nih, aku beli popcorn masa tadi sama makanan, masalahnya aku belum makan abis siang tadi.”
“Gak capek apa?”
“Sekali kali, by the way aku libur sih besok.”
“Eeeee,, aku kerja besok”
“Ayolah Ra... Ya yaaa yaaaa...”
Xera akhirnya dengan enggan menyetujuinya. Ein membeli popcorn, minuman cola, mi ayam untuk nemenin mereka nonton malam ini.
Alih alih mengantuk, kami sama sama tertawa ngakak karena film yang lucu. Ein memilih film bergenre komedi untuk menghibur mereka alih alih memilih film drama yang katanya jadi favorit nya itu.
Ein tetap Ein, dia yang selalu membuat suasana apartemen ini hidup. Tawa nya dan senyum nya itu. Ya memang ini yang kurang.
Xera menatap Ein yang masih saja tertawa sambil memegang perutnya sendiri karena tertawa terlalu ngakak, sampai bahkan ada air mata di matanya.
Momen sederhana yang biasanya selalu mereka lakukan disaat salah satu dari mereka yang ulang tahun, cuma duduk melakukan kegiatan yang jarang dilakuin di hari biasanya, karena kondisi pekerjaan kami, status senior junior yang membuat sulit.
Xera memang bahagia sejak tadi, tapi sekarang kebahagiannya lebih lengkap lagi. Orang terdekat nya sudah ada di hari ulang tahun nya.
Tapi kalo diingat ingat gak ada ucapan selamat dari Ein, dia masuk dan hanya menanyakan bagaimana hari ini.
Anak pemalu. Disurat aja beraninya, pas ketemu mah mana ada...
Popcorn yang digenggamnya ditangannya pun banyak yang berjatuhan di tempat tisur Xera bahkan sampai ke bawah. Bisa dibilang kamar Xera sekarang berantakan.
Ein meletakkan sampah makanan nya dibawah dengan ucapan nya ke Xera setelah menonton akan dibersihkan.
Xera menggeleng kan kepalanya. Film sudah habis, tapi Ein masih saja tertawa, masih menghabiskan sisa tawanya. Xera sudah mulai membersihkan popcorn yang berserakan di tempat tidurnya.
Ein sudah mulai duduk. Saat berdiri, Xera menatapnya tajam
“Kenapa?”
“Gak ada hadiah gitu di hari ulang tahun?”
Ein menghela nafas dan menggeleng kan kepalanya.
“Ya ampun Ra, pagi tadi gue udah beliin makanan buat lo, abis tu malam ini juga gue beliin makanan. Masih kurang juga ternyata? Gak bisa apa itu disebut sebagai hadiah?”
“YA GAK BISALAH, itu gue anggap sebagai sogokan karena Lo gak ada pas pagi hari ulang tahun gue”
“Emang banyak mintak ya nih anak”
“Eh yang anak tu kamu, sadar gak sih yang lebih tua tuh siapa?”
“Hehehehe, udah tua ya ternyata”
Ein tertawa dan menutupi kepalanya dengan tangannya saat melihat Xera ingin memukul bantal ke arahnya.
“Enak aja,24 nih”
“24 ya masih, kirain udah 30”
Ein tergelak kencang saat Xera memukul bantal ke arahnya dengan kencang, Ein memang senang sekali menggoda Xera.
“Iya iya besok hadiahnya,udah ada tuh dikamar”
Xera masih menatapnya tajam.
“Yaudah mau istirahat dulu, Babay”
“Bistu, ini siapa yang beresin?”
Xera menunjuk kekacauan yang sudah terjadi di kamarnya akibat sampah makanan.
“Ya Lo lah”
“Kok gue?”
“Yang punya kamar siapa?”
Efek mengantuk atau bagaimana, Xera jadi sedikit linglung dan menatap Ein dengan tatapan polosnya.
”...gue”
“Yaudah...”
Xera terus memperhatikan Ein yang keluar sambil melambaikan tangannya dan segera menutup pintu.
Xera menghela nafas, adiknya satu itu, membuat kekacauan dan akan selalu membuat orang lain yang membersihkannya, walaupun tidak sepenuhnya dia juga sih, karena Xera sendiri juga ikut andil dalam sampah yang berserakan.
Niat memanjakan adiknya itu saat ulang tahun pupus sudah, Xera lebih memilih berganti niat menjadi mengerjai dia.
Xera memilih abai, dan tidur karena memang sudah mengantuk.
Xera bangun jam 7 dan meregangkan kepalanya. Ia masih ngantuk sebenarnya karena baru tidur jam 12 lewat tadi malam, tapi ya dia harus pergi bekerja.
Xera melihat kondisi kamarnya yang sudah bersih.
Diberesin juga akhirnya
Xera bersiap untuk bekerja. Saat melewati kamar Ein, dia memilih untuk membangun kan adiknya itu.
Tok tok tok
“Ein, bangun. Udah jam berapa nih, ke kantor gak?”
“Buka gak pintunya atau ...”
“Udah diluar Ra”
Xera cepat menoleh ke arah suara. Ein terkekeh melihatnya dari arah dapur yang posisinya dekat dengan kamarnya sambil melipat tangannya di dada.
“Apa Lo ketawa ketawa?”
“Masih pagi udah sepet aja tuh muka”
“BIARIN...”
“Judes banget, kok mau ya kak Kivo.. hahaha”
“Hari ini gak ke kantor, dirumah bersantai ria. Jadi aku mau lanjut tidur lagi, jangan bangunin aku, okeee?”
“IDC”
“International Data Corporation? Aku pernah dengar sih, kenapa tiba tiba bahas itu? Kantor kita mau kerja sama ya?”
“I DON'T CARE”
“Oalah, salah ya...”
Ein tergelak dan segera berlari ke kamarnya melihat Xera yang sudah mengepalkan tangannya dan bersiap mengambil barang di dekatnya untuk dilemparkan.
Gimana Xera gak kesal sepagi ini? Orang yang membuatnya kesal itu ada di sini.
Xera jadi tak berniat dan memilih pergi ke kantor segera. Tapi perhatiannya teralihkan dengan kotak diatas meja. Penasaran. Xera mengambil nya.
Seingat Xera, semua hadiah nya sudah dipindahkan ke kamar.
Dibukanya kotak itu. Ada mug warna putih bertuliskan nama nya. Xera ingat ia gak sengaja menjatuhkan mug kesayangan nya saat mencucinya kala itu. Xera tersenyum sambil menoleh ke arah pintu kamar adiknya itu.
“Selamat ulang tahun untuk calon kakak ipar!🤭, Gunakan hadiahnya setiap hari ya🤗”
Ya begitulah. Baru saja dibuat kesal, dan setelahnya tersenyum karena kekonyolannya. Kalo saja semua saudaranya dirumah seperti Ein, mungkin sudah pusing kepalanya.
Dia harus berangkat ke kantor sebelum terlambat, adiknya itu. Awas saja nanti.
Stay smile buat kalian semua
Thank you udah baca, ditunggu komentarnya yaa🤭